“IKHWAN” & “AKHWAT”

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

(QS. Al-Hujuraat [49]: 13).

Seorang kawan dekat yang aktivis dakwah di kampus bercerita tentang temannya yang mengaku belum pantas menjadi seorang ‘ikhwan’ karena belum memiliki ilmu agama yang cukup dan belum menjalankan ajaran agama dengan sempurna. Kawan saya bilang kalau dia ingin tertawa mendengar pengakuan temannya itu. Begitu juga saya. Ada juga kawan, seorang aktivis dakwah juga, yang menulis di sebuah blog bahwa dia merasa geli ketika mendengar teman-temannya sesama aktivis yang ngomong seperti ini: “dia itu rajin shalat tahajjud lho, padahal dia bukan ikhwan,” atau “dia itu meski bukan ikhwan, tapi pinter ngaji lho..”

Istilah ikhwan dan akhwat memang semakin populer saja sejak semangat dakwah di kampus-kampus, dari kampus yang besar sampai yang kecil, mengalami peningkatan yang amat pesat, terutama dalam sepuluh tahun terakhir ini. Entah bagaimana sejarah mulanya mereka yang aktivis dakwah harus menyebut dirinya ikhwan atau akhwat. Yang jelas, ternyata ada pergeseran makna kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam perjalanan penggunaannya.

Secara lughowi (bahasa) kata ‘ikhwan’ adalah bentuk jamak dari akhun, yang artinya saudara. Sedangkan akhwat adalah bentuk jamak dari ukhtun dengan arti yang sama. Saudara di sini bisa bermakna denotatif, yang berarti saudara kandung atau saudara se-pertalian darah, ataupun bermakna konotatif, yang berarti saudara dalam arti yang lebih luas. Misalnya saudara seiman, saudara seorganisasi, dst.

Barangkali, dari pemaknaan secara luas itulah mulanya istilah ikhwan dan akhwat (atau panggilan ‘akhi’ dan ‘ukhti’) dipakai di kalangan aktivis dakwah. Mungkin maksudnya adalah untuk mempertegas dan memperkuat pertalian saudara sesama muslim dan sesama aktivis. Allah SWT memang telah meniscayakan bahwa sesama mukmin adalah bersaudara (QS. Al-Hujuraat [49]: 10). Ikatan persaudaraan sesama muslim tentu akan sangat bermakna bagi seorang aktivis, apalagi ketika berada di lingkungan dan negara yang mayoritas warganya non-muslim. Tetapi, mengapa harus memakai istilah bahasa Arab dan apakah ada muatan ideologis di dalamnya ataukah hanya sekedar pilihan, tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Konon, para aktivis dakwah di negara-negara Barat saling memanggil koleganya dengan brother atau sister. Yang jelas, dengan mamakai bahasa apapun, jika pemaknaannya sebatas ‘saudara sesama muslim’ atau ‘sesama aktivis dakwah’, penggunaan panggilan ikhwan atau akhwat tidak menjadi masalah. Namun, ketika pemaknaannya bergeser lebih jauh, apalagi menyangkut prinsip dan akidah, tentu akan menjadi masalah.

Kembali kepada cerita kawan saya di atas. Berdasarkan pengakuan teman dari kawan saya itu, tampaknya memang ada pergeseran makna ikhwan dan akhwat di kalangan para aktivis. Menariknya lagi, sepertinya ada lebih dari satu pergeseran makna di sana; pertama, ikhwan dan akhwat (mulanya) adalah sebutan dan identitas untuk para aktivis dakwah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti bukan aktivis dakwah. Sampai di sini, istilah ikhwan dan akhwat hanyalah sebatas identitas atau atribut sosial yang mungkin tidak terlalu menimbulkan persoalan.

Kedua – dengan tetap melekatkan pemaknaan pertama – ikhwan dan akhwat adalah muslim yang baik, yang menjalankan ajaran agama dengan sebenar-benarnya, dan yang mendapat hidayah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti belum menjadi muslim yang baik. Pemaknaan ini adalah seperti yang dipahami oleh teman dari kawan saya di atas. Pemaknaan ini menjadi gawat jika tidak diklarifikasi, apalagi jika diikuti dengan atribut dan simbol-simbol tertentu. Misalnya, cara berpakaian, ikut jamaah tertentu, dst.

Perubahan Makna

Sebagai manusia, kita cenderung untuk menilai dan memaknai sesuatu dari apa yang tampak. Kita juga cenderung menilai sesuatu berdasarkan pola pemahaman semantik dan persepsi yang telah terbangun dalam kepala kita, yang kita yakini kebenarannya meskipun belum tentu benar (dalam psikologi kognitif ada istilah primary effect, hallo effect, fundamental attribution error dan confirmation bias untuk menjelaskan hal tersebut). Dengan mempelajari makna kata dan perubahannya, diharapkan bias-bias persepsi dan pemahaman bahasa bisa dihindari.

Dalam ilmu linguistik, makna sebuah kata bisa berubah dalam waktu yang relatif lama, terlebih kata serapan. Cabang linguistik yang mempelajari hal ini disebut semantik diakronis, yakni pengetahuan tentang makna kata serta perubahannya dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya perkembangan sosial-budaya, perkembangan pemakaian kata, pertukaran tanggapan indera, dan adanya asosiasi. Proses perubahan makna ikhwan dan akhwat di kalangan aktivis dakwah dapat dipahami dan dijelaskan dengan semantik diakronis ini.

Secara alami, perubahan makna kata memang pasti terjadi. Namun, kita sebenarnya bisa mengendalikan perubahan tersebut. Apalagi dalam komunitas masyarakat yang relatif kecil (komunitas gerakan dakwah, misalnya). Secara sederhana, misalnya, dengan menegaskan apa, mengapa dan bagaimana sebuah istilah digunakan.

Simbol dan Hakikat

Apa yang dapat kita pelajari dari bincang-bincang kita tentang pemakaian dan pemaknaan kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam tulisan ini? Bahwa bahasa, simbol, dan apapun yang tertangkap oleh indera, belum tentu menggambarkan hakikat yang sebenarnya dari apa dan siapa yang diekspresikan oleh bahasa atau simbol tersebut.

Simbol dan bahasa adalah apa yang tampak dan apa yang bisa ditangkap oleh indera, dan ia sangat terbatas. Sedangkan hakikat adalah apa yang ada dalam hati. Maka, untuk mengetahui hakikat seseorang, jangan hanya percaya pada simbol dan bahasa, akan tetapi kenalilah, selamilah lebih dalam apa dan siapa dibalik simbol dan bahasa tersebut. Itulah yang diajarkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa Abdullah bin Mas’ud ra. pernah diejek karena betisnya yang kecil (perhatikan kata ‘kecil’ dalam kalimat “betis yang kecil” yang mungkin dikonotasikan sebagai sesuatu yang jelek dan buruk). Sekonyong-konyong Rasulullah SAW. datang dan menegaskan bahwa kedua betis yang kurus itu di sisi Allah lebih berat daripada bukit Uhud. Bilal bin Rabah ra. adalah mantan budak yang berkulit hitam legam. Ia bahkan ragu-ragu untuk menyunting seorang perempuan. Akan tetapi, siapakah yang berani menyepelekannya? Ketika lamaran disampaikan, perempuan itu sampai menangis lantaran merasa dirinya tidak cukup pantas untuk mendampingi seorang shalih sekaliber sang mantan budak.

Maka dari itu Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati kamu. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

***

Penggunaan simbol, istilah, sebutan, label atau apapun untuk menegaskan identitas adalah hal yang lumrah dan sah. Namun jika simbol, istilah, sebutan, dan label itu kemudian digunakan untuk menentukan kadar hati dan iman seseorang, baik disengaja atau tidak, maka itu telah melampaui batas.

Akhirul kalam, saudara-saudara yang menggunakan istilah ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ , atau istilah apapun dari bahasa apapun, silahkan diteruskan. Apalagi kalau itu bisa memperkuat ikatan persaudaraan sesama, apalagi kalau itu menambah semangat Anda untuk berusaha menjadi muslim yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar Anda. Tapi harus diingat, sebelum menggunakan istilah tersebut, makna asli dan tujuan penggunaan istilah tersebut harus diketahui agar tidak terjadi pergeseran makna yang tidak benar.

Selanjutnya, mari kita kembalikan ukuran penilaian kita terhadap seseorang berdasarkan amaliah ibadah dan perilakunya sehari-hari, bukan pada aktif di organisasi apa orang itu, aktif di jamaah apa dia, orang mana dia, atau berasal dari suku apa. Tentu saja ukuran penilaian yang saya maksud di sini adalah sebatas ukuran baik dan tidak baik secara manusiawi, bukan sampai pada apakah orang itu termasuk golongan surga atau neraka, atau apakah orang itu bertakwa atau tidak. Karena hanya Allah Ta’ala semata Yang Tahu dan Yang Berhak.

Wallahu A’lam.

A.B. Eko Prasetyo

littleahmad_11@yahoo.co.id

Lembar Jumat

27 Comments → ““IKHWAN” & “AKHWAT””

  1. As Sundus 7 years ago   Balas

    setuju mas A.B… ikhwan dan akhwat itu tidak lebih dari sekedar sebutan. Yg ada hanya muslim dan muslimah.

  2. Ain 6 years ago   Balas

    saya pakai artikel ini untuk rujukan di tulisan saya di blog http://www.jurnalcahaya.multiply.com tentang Akhwat dan Ikhwan. baca-baca ya kalau lagi luang. trims

  3. sayauky 6 years ago   Balas

    assalamu alikum..

    akh.. anta minta inin copy pastenya artikel ini supaya bisa lebih bermanfaat bagi orang lain..
    jazakallah atas materinya. silaturahmi yah ke blog ana..
    assalamulaikum

  4. sayauky 6 years ago   Balas

    akh.. Ana minta izin copy pastenya artikel ini supaya bisa lebih bermanfaat bagi orang lain..
    jazakallah atas materinya. silaturahmi yah ke blog ana..
    assalamulaikum

  5. alrasikh 6 years ago   Balas

    silahkan di copy paste.. semoga bermanfaat

  6. Qudwatina Mumtazamah 6 years ago   Balas

    Assalamu’alaikum…
    Saya sepakat dengan artikel di atas. Buat apa kita menyandang gelar ikhwan atau akhwat, toh ujung-ujungnya kita masih saja berperilaku nggak jauh beda seperti “cowok or cewek”. Di dalam Qur’an hanya disebutkan muslim dan muslimat, atau mukmin dan mukminat…

  7. fORSIKA 6 years ago   Balas

    Assallmuallikum,,,
    saya pakai artikel ini ya Mas Eko,, soal isi dan tata bahsanya bagus,,
    satu coment saja ” ikhwan juga manusia tak ada beda kecuali takwanya kepada Allah”

  8. dindin 6 years ago   Balas

    assalamualikum….
    syukron ya akhi…artikel antum mengingatkan ane, bahwa semua orang yang mengaku dirinya muslim adalah juga akhi dan ukhti ane…^_^
    I would like to ask you permition to copy your artikel. jazakumullah…
    wassalam

  9. isti 6 years ago   Balas

    Assalamu’alaikum wr wb ….
    Untuk membiasakan penggunaan bahasa arab bagi saya tidak masalah sebutan ikhwan & akhwat digunakan bagi orang beriman ( Islam ) terkait harus ada syarat orangnya harus barjilbab,sholatnya khusu’,puasanya rajin,da’wahnya di kampus atau di organisasi rutin dsb bagian untuk semangat melaksanakan hal tsb.insyaalloh dengan sebutan ikhwan & akhwat promosi Islam akan cepat luas sampai ke pelosok dunia Allohu Akabar.

  10. toton 6 years ago   Balas

    maksih lo….siiip

  11. toton 6 years ago   Balas

    intinya sih sebutan gitu baik2 aja.tapi sekarang ni banyak yang mengaku2 jadi pergeseran makna nya pun sudah keliatan jelas.
    contohnya ngaku akhwat tapi pergaulannya masih kayak cewek2 pada umumnya. itu dia yang akan merusak agama ini .itu dia yang akan mempercepat proses kiamat.
    mas aq copi ya punya anda. silaturahmi dong ke blog gue

  12. DIDI Industri 6 years ago   Balas

    Assalamu’alaikum…
    Setuju banget mas EKO, gue suka gaya lho he….he…Orang sekarang emang sukanya ada-ada aja. Gitu aja kok repot.Salam buat pak Ucup ya….n buat mas eko juga biar tambah semangat.
    Wasalamu’alaikum

  13. Maghfur 6 years ago   Balas

    Reformasi Telah Mati PDF Cetak E-mail
    Friday, 25 July 2008

    Tabloid SUARA ISLAM EDISI 44, Tanggal 16 – 29 Mei 2008 M/10 – 23 Jumadil Awal 1429 H

    Wacana reformasi dan demokratisasi total, telah membius rakyat Indonesia dan menjelma menjadi kekuatan dahsyat menjelang Mei 1998. Gelombang reformasi pun menumbangkan rezim Soeharto yang telah berkuasa lebih 30 tahun. Kini perjalanan reformasi telah mencapai 10 tahun, sungguh mengerikan reformasi hanya membukukan kehancuran demi kehancuran bangsa ini.

    Bagaimana membaca secara konkrit dan obyektif hasil reformasi sepuluh tahun terakhir ini (Mei 1998-Mei 2008)? Apa yang terjadi sejak presiden Soeharto berhasil ditumbang-kan, hingga hari ini? Perjalanan era refor-masi ini niscaya amat dibanggakan para pelaku dan penyelenggara Negara, baik eksekutif, yudikatif, dan legislatif terdiri parlemen parpol dan politisi. Capaian-capaian ekonomi, sosial politik, perta-hanan dan keamanan selalu dilaporkan serba maju, meningkat dan membaik.

    Padahal fakta yang berlaku sebenar-nya justru diagonal terbalik. Misalnya pemerintah terus-menerus melaporkan kema-juan ekonomi, padahal yang terjadi kini bangsa Indonesia justru mengalami pun-cak krisis ekonomi yang telah berlangsung lebih 10 tahun terakhir ini. Angka kemis-kinan dan pengangguran terus-menerus meningkat. Harga-harga kebutuhan bahan pokok terus melejit tak terkendali bahkan bahan baku yang semakin mahal itu sulit dicari di pasaran dan bisa diperoleh dengan antre. Pemandangan antre minyak tanah, minyak goreng dan beras ini menjadi pemandangan set-back seperti setengah abad yang lalu di zaman orde lama.

    Menjadi Bius Memabukkan

    Setelah sepuluh tahun reformasi berlalu, hakikatnya bangsa Indonesia bisa mengambil pelajaran sangat faktual sepanjang perjalanan reformasi ini. Empat presiden (Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan kini Susilo Bam-bang Yudhoyono) pun telah silih berganti naik ke kursi kekuasaan dengan meng-usung sistem politik yang reformis, demokratis menggantikan rezim dikta-torial yang dijalankan presiden Soeharto lebih tiga dasawarsa. Tapi empat presiden ini ternyata tidak mampu mengenyahkan dan menyembuhkan penyakit kronis bernama: Krisis Multidimensi. Bahkan krisis ini berkobar menjadi-jadi.

    Walau kondisi bangsa Indonesia se-makin terpuruk, namun rakyat Indonesia terutama para penguasanya seringkali mendapat pujian dari negara-negara Barat. Indonesia disebut sebagai negara demokratis terbesar di dunia setelah AS dan India. Namun ironisnya Indonesia yang telah menjalankan kehidupan politik yang sangat demokratis itu, ekonomi Indonesia terus terpuruk. Angka-angka kemiskinan semakin membengkak jum-lahnya. Kemandirian bangsa di segala bidang mengalami kemerosotan yang sangat mengenaskan. Contoh paling nyata adalah ketidakmandirian bangsa di bidang pangan. Indonesia sebagai negara agraris dan maritim terbesar di dunia, kini (2008) rakyatnya bergejolak dalam krisis susul-menyusul, dimulai dengan krisis minyak goreng, beras, kedelai, minyak tanah. Indonesia yang dikenal terito-rialnya 70 persen terdiri lautan, sungguh ironis kini pun telah mengimpor garam. Inilah fakta ironis dan menyakitkan. Indonesia sebagai penghasil minyak bumi, rakyatnya setiap hari antre minyak tanah (kerosine) sekadar untuk men-dapatkan dua liter minyak.

    Rakyat Indonesia bagai terjebak dalam sistem demokrasi yang telah men-jeratnya dalam sistem Kapitalisme Global yang terus mengisapnya habis-habisan. Pemilihan presiden secara langsung (2004) telah menghasilkan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Lebih dari itu Pilkada Gubernur, bupati-walikota pun telah digelar di seluruh wilayah Indonesia dan menghasilkan belasan gubernur baru puluhan bupati-walikota (hampir mencapai seratus orang). Bahkan jika Pilkada kelak sudah digelar secara keseluruhan, maka catatan statistiknya hampir setiap hari akan di-gelar Pilkada di suatu daerah di Indonesia. Apa yang didapat setelah rakyat Indonesia kini dipimpin oleh presiden dan kepala daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat itu? Negatif. Inilah jawaban yang merata. Sementara penelitian sebuah koran nasional di ibukota menegaskan bahwa kepemimpinan baru hasil pilkada ternyata tidak mengubah prestasi yang dicapai kepala daerah sebelumnya yang dihasilkan dengan mekanisme lama (dipilih melalui DPRD).

    Praktek Pilkada yang sarat dengan politik uang, belum lagi ekses Pilkada dengan kerusuhan yang dikobarkan pihak yang kalah, telah menyurutkan optimisme Indonesia bisa melanjutkan model politik ini. Adalah PBNU melalui Ketua Umum Hasyim Muzadi menyentak dengan imbauannya agar Pilkada dihentikan di Indonesia dan kembali ke sistem lama.

    Membayangkan ekses Pilkada dengan politik uangnya memang mengerikan. Pusaran dan tarikannya telah mencip-takan politik uang yang membawa konsekuensi koruptif dan menghalalkan tujuan dengan segala cara. Biaya Pilkada bupati disebut-sebut sedikitnya Rp 200 milyar, sedangkan biaya untuk gubernur mencapai Rp 500 milyar.Pejabat baru yang terpilih niscaya akan mengem-balikan modal yang telah ia keluarkan karena sebagian justru diperoleh dari sumbangan dan utang. Model Pilkada langsung memang telah menyeret bangsa ini pada pusaran bahaya di masa dekat yang akan menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan rakyat Indonesia.

    Model politik era reformasi ini secara pasti telah menempatkan partai politik menjadi “panglima”, sekaligus menerap-kan oligarki partai politik yang justru “membunuh” aspirasi di luar partai politik. Bersamaan dengan itu perfor-mance partai politik semakin terpuruk di mata rakyat secara luas. Hal ini karena perilaku politisi khususnya di parlemen yang amat koruptif dan tidak peduli kendati kritik bertubi-tubi diarahkan ke parlemen. Ratusan anggota parlemen daerah telah diadili dalam kasus-kasus korupsi, kini bahkan anggota DPR pusat pun mulai dijebloskan ke penjara KPK.

    Kini masyarakat luas dengan caranya sendiri “menolak” sistem yang ternyata justru membuat rakyat menderita. Pil-kada semakin banyak diikuti partisipan golput alias memboikot. Jumlah golput semakin membengkak mendekati angka 50 persen. Maraknya pendirian partai politik baru sebagai peserta Pemilu 2009, bukan mencerminkan meningkatnya gai-rah rakyat menyongsong Pemilu 2009, melainkan “kehebohan” orang-orang yang itu-itu juga dan selama ini selalu mengail di pusaran “bisnis partai”. Dipastikan partai-partai baru itu dibentuk oleh pengurus partai-partai gurem yang telah terpuruk sebelumnya. Eksistensi mereka sejatinya hanya “dagelan” yang sangat tidak lucu karena mempermainkan nasib bangsa Indonesia yang terus terpuruk.

    Pelajaran satu dekade perjalanan reformasi ini sejatinya amat gamblang dan mudah untuk disimpulkan. Agenda asing (Barat) telah mendikte perubahan yang kini terjadi di Indonesia dan terus terulur hingga hari ini. Dimulai dengan campur tangan IMF dengan berbagai formula yang dipaksakan menjelang dan awal reformasi dan justru menghancur-kan ekonomi negeri ini. Mulai pembekuan bank, pemaksaan swatanisasi BUMN, dengan menjual aset-aset strategis milik Negara.Pemretelan kekuasaan presiden dengan dibentuknya puluhan komisi-komisi, dan yang paling vital adalah pe-rubahan UUD 45 yang kini berubah 125 persen menjadi liberalistis. Konsep refor-masi seperti ini ternyata hanya menjadi “jembatan” menuju kehancuran bangsa Indonesia.

    Tepat di usia reformasi memasuki dekade pertama (Mei 2008), kondisi bangsa Indonesia di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono justru meng-alami kesulitan kehidupan yang kian menghimpit. Tekanan kehidupan sehari-hari menyebabkan semakin sering ter-dengar kabar keluarga-keluarga yang bunuh diri bersama-sama antara bapak-ibu dan anak-anaknya. Sangat menge-rikan. Kondisi semakin parah karena pemerintah “nekad” menaikkan BBM sampai 30 persen. Padahal ketika pemerintah menaikkan BBM 125 persen pada Oktober 2005, pemerintah tegas-tegas menjanjikan tidak akan menaikkan BBM sampai 2009. Kekacauan diprediksi bakal mengiringi kenaikan BBM sekitar Juni 2008 mendatang. Bahkan sejumlah politisi meyakini akan terjadi suasana yang kacau (chaos) disusul terjadi instabilitas negara.

    Yang jelas catatan dalam perhitungan statistik dengan kenaikan BBM Juni 2008, jumlah angka kemiskinan akan bertambah meroket sekitar 15,68 juta jiwa.Angka resmi pemerintah jumlah rakyat miskin mencapai selama ini adalah 16,85 persen atau 36,8 juta jiwa.dengan kenaikan BBM 30 persen ini akan mendorong inflasi 26,94 persen. Bisa dibayangkan rencana kenaikan BBM ini niscaya belaka akan menjebol seluruh daya tahan rakyat Indonesia.

    Yang paling mengerikan adalah rezim Susilo Bambang Yudhoyono idem-ditto belaka dengan tiga presiden sebelumnya di era reformasi yakni tak bisa mengubah status utang Indonesia. Kini utang pemerintah seperti diumumkan Depkeu adalah AS$ 155,29 milyar terdiri pinjaman dengan perjanjian utang sebesar AS $ 63,34 milyar ditambah obligasi AS $ 90,95 milyar. Perjanjian utang sebesar itu diterapkan dengan rente ala ribawi yang sangat eksploitatif jauh dari adil dan dipaksakan para “penjajah” baru, rezim Kapitalis Global. Dengan bunga 8 persen setahun, pemerintah Indonesia setiap tahun harus membayar bunga sebesar AS$ 12,4 milyar atau sebesar Rp 114 trilyun. Padahal utangnya tak berubah alias tak berkurang satu dolar pun. Sungguh mengerikan nasib bangsa Indonesia di tangan rezim reformasi. Negara dan bangsa ini akan terus diseret ke jurang kehancuran oleh rezim refor-masi.

    Di bidang sosial keagamaan, kerusak-an seolah dibiarkan. Muncul aliran-aliran sesat. Reformasi yang mengagung-agung-kan HAM (hak asasi manusia) seperti memberi angin bagi upaya perusakan Islam. Di zaman Gus Dur, Baha’i dilegal-kan. Selanjutnya muncul ke permukaan aliran Salamullah-nya Lia Aminudin, Alqiyadah Al Islamiyah-nya Ahmad Moshadeq, Ahmadiyah, dan aliran-aliran sesat lokal lainnya. Pemerintah reformasi tak mampu melindungi umat dari penye-baran aliran sesat tersebut. Pemerintah hanya sekadar menyelesaikan persoalan ini secara hukum. Padahal ini bukan ranah hukum semata, tapi sudah menyangkut aqidah yang konsekuensinya dunia akhirat.

    Bersamaan dengan itu, kehidupan yang mengagungkan kebebasan tumbuh subur. Pornoaksi dan pornografi marak di mana-mana. Sampai-sampai kantor berita AP (Assosiate Press) dalam surveinya menyebut Indonesia sebagai surga pornografi terbesar kedua setelah Rusia. Undang-undang yang mengatur perilaku itu hingga kini tak keluar. Pembahasannya berlarut-larut. Ini kare-na pemerintah dan DPR lebih memen-tingkan kaum pemuja kebebasan dari-pada mayoritas penduduk Muslim. Lagi-lagi pemilik modal dan orang-orang yang punya link dengan asing yang mem-pengaruhi kekuasaan dan kebijakan ne-gara. Praktik tirani minoritas terhadap mayoritas sangat kasat mata.

    Dalam politik luar negeri, politik bebas aktif tak lagi menjadi acuan. Sejak reformasi Indonesia cenderung ke Ame-rika. Malah tahun lalu, mungkin karena takut dengan Amerika, Indonesia mendu-kung sanksi terhadap Iran dalam kasus pengembangan energi nuklir Iran. Peme-rintah dikecam habis umat Islam.

    Yang menyedihkan lagi, dalam kondisi susah, para penguasa dan wakil rakyat menunjukkan perilaku hedonis. Mereka seolah membiarkan rakyat tersiksa akibat krisis berkepanjangan. Malah dalam masa pemerintahan SBY sekarang, sempat-sempatnya dia membuat dan merekam lagu serta nonton film ramai-ramai.

    Di mana nurani mereka???

    Wallauhu’alam [aru syeif assad/mj/www.suara-islam.com]

  14. lelouch 5 years ago   Balas

    asalaamu’alaikum!!

    wahh…, ane setuju banget ama ini postingan.
    bener itu, yang namanya ‘akhwat’ ama ‘ikhwan’
    emang cuma sebutan biar lebih kuat ikatan silaturahim sesama umat Islam.

    So… jaga teruz tali silaturahimmm und ‘Keep Istiqomah!!!’

    wassalamu’alaikum!!!

    (Af1, itu blognya Ain dari link yang ditempelin di commentnya koq sulit dibuka ya?
    balaz yauw! Syukron!)

  15. ian 5 years ago   Balas

    asalaamu’alaikum

    mas saya minta izin catatannya buat referensi tulisan saya ya :D

    jazakallahu khoiron

    -ian-

  16. Susy R 4 years ago   Balas

    izin share ya..

  17. ryan 4 years ago   Balas

    Assalamualaikum !
    afwan.
    izin share y .
    jazzakumullah..
    wassalamualaikum !

  18. ueno kazuma 3 years ago   Balas

    assalamualaikum ..
    bener memang t’jd pergeseran makna, sampa saia m’cari apa arti sbnerna ikhwan dan akhwat .
    saia sih lbih senang memanggil menggunakan ‘Akhi’ atau ‘Ukhti’ krn makna na saudara dan lbih menegaskan sbagai orang Islam krn b’bahasa Arab drpd ‘Kamu’, ‘Anda’, atau mmanggil bhs yg smakna misal ‘kakak’, ‘adik’, ‘saudaraku’ .. rasa na jd kyk yg kaku . atau klo gaul Bro atau Sis jg rasa na nga sreg gtu..
    hanya saja untuk pmanggilan diri s’diri masi lbi enak m’gunakan kt saia .. hihihi

    Jazakallahu Kairan ..

  19. widodo 3 years ago   Balas

    Ijin, share, Gan

  20. aiz 2 years ago   Balas

    bagus blognya, izin share blog sy ya…

  21. aiz 2 years ago   Balas

    bagus blognya, izin share jg blog saya ya aiz-muslimah.blogspot.com

  22. ompriadi 2 years ago   Balas

    Ijin copy paste akhi….
    semoga bermanfaat bagi yang ihwan/akwat semua..!!!

  23. Rudyanto 1 year ago   Balas

    Assalamu’alaikum warahmatullahi ta’ala wabarakaatuhu…

    Alhamdulillah… Ana setuju dengan pendaptnya…

    “Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati kamu. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

    Jazakallah khairan katsiran …
    Wassalamu’alaikum

  24. reza 1 year ago   Balas

    setuju,,akhi ukhti ikhwan akhwat cuma perbedaan bahasa saja
    tidak bedanya dengan kamu saya dan mereka
    yang salah itu kalo udah berubah makna seperti yang ada di jelaskan di artikel ini,, terimakasih atas pencerahannya teman :)

Trackbacks For This Post

  1. Gombal Warning untuk Para Akhwat « sisintinggilamiring - 5 years ago

    [...] celana dasar, hehe), dan perempuan yang ngaji, kerudung lebar, ngomongnya halus, dst. Padahal, secara lughowi, Ikhwan/Akhwat artinya [...]

  2. Apa Ikhwan Itu Sih?? « Belajar & Berbagi Bersama - 3 years ago

    [...] Mungkin sahabat ada yang belum mengetahui makna Ikhwan itu sendiri. Dalam bahasa Indonesia, Ikhwan berarti saudara laki-laki, teman (artikata.com). Nah, jadi Ikhwan itu adalah saudara kita yang laki-laki. Dalam keseharian kita, mungkin ada beberapa pergeseran makna yang terjadi mengenai kata Ikhwan itu sendiri. Ikhwan cenderung dipakai untuk menunjukkan bahwa seorang laki-laki yang baik agamanya. Padahal, Ikhwan itu sendiri hanya sebutan untuk sudara laki-laki kita. Tentu saudara yang dimaksud ini bukan hanya saudara kandung, tetapi juga saudara laki-laki dalam ukhuwah kita (alrasikh.wordpress.com). [...]

  3. “IKHWAN” & “AKHWAT” | Meniti Jalan Sunnah - 2 years ago

    [...] Paste dari: http://alrasikh.wordpress.com LD_AddCustomAttr("AdOpt", "1"); LD_AddCustomAttr("Origin", "other"); [...]

Leave a Reply