MENGGAPAI KEMERDEKAAN HAKIKI

(Refleksi 63 Tahun Kemerdekaan RI)

Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika dia mengangkat nabi-nabi diantaramu, dan Dia menjadikanmu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-NYa kepada seseorangpun di antara umat-umat yang lain (yang semasa) denganmu.

(Q.S. Al-Maaidah [5]: 20)

Tanggal 17 Agutus 1945 silam naskah proklamasi dibacakan. Sorak-sorai kegembiraan bangsa Indonesia terdengar di seluruh penjuru nusantara bahkan seantero jagat raya. Bila kita hitung sampai saat ini, sudah 63 tahun bangsa Indonesia terlepas dari belenggu penjajah dan beberapa hari lagi bangsa Indonesia akan memeringati HUT kemerdekaannya yang ke-63.

Namun, seiring dengan diproklamirkannya kemerdekaan tersebut, keadaan bangsa ini belum menunjukkan kondisi bangsa yang merdeka. Dalam banyak aspek, bangsa ini masih belum sepenuhnya terlepas dari pangaruh dan kendali bangsa lain. Banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui bahwa produksi minyak nasional sebesar sekitar 1 juta barel/hari telah dikuasai oleh korporasi asing, banyak perusahaan-perusahaan besar nasional yang sudah jatuh ke tangan asing. Begitu juga dengan sektor telekomunikasi yang juga telah dikuasai asing seperti Indosat yang kini dimiliki oleh Temasek Holding, Singapura. Sementara itu 35% saham Telkomsel dan 98% saham Exelcomindo (operator XL) juga dimiliki oleh asing. Lebih dari itu banyak kebijakan-kebijakan strategis pemerintah Indonesia yang tidak terlepas dari campur tangan dan tekanan asing. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan merugikan kepentingan nasional Indonesia.

Realita yang terjadi menunjukkan bahwa baik dari aspek ekonomi, politik, hukum, psikologis, maupun sosial kebudayaan, Indonesia sejatinya belum bisa dikualifikasikan sebagai negara yang merdeka. Status kemerdekaan yang diperoleh hanya karena memang dulu seluruh negara di dunia menyaksikan Indonesia mampu mengusir dan memukul mundur para penjajah dari wilayahnya. Namun, akhir-akhir ini sejarah pahit yang pernah dialami bangsa ini nampaknya ber-reinkarnasi kembali dengan format yang berbeda dan cenderung lebih sistematis dan mematikan. Oleh karena itu saat ini kemerdekaan yang diperoleh Indonesia masih dipertanyakan, apakah Indonesia sudah memperoleh kemerdekaan yang hakiki?

Arti Kemerdekaan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata merdeka berarti bebas dari penghambaan dan penjajahan, juga berarti tidak terikat dan bebas dari tuntutan. Dengan kata lain leluasa dalam melakukan sesuatu dan  tidak bergantung kepada orang atau pihak lain. Jadi kemerdekaan ialah hal berdiri sendiri, terbebas dari belenggu dan tidak merasa tertekan dalam melakukan sesuatu, sehingga semua yang dikerjakan murni penjelmaan dari apa yang ada dalam hati dan pikiran tanpa ada tuntutan dan paksaan. Dengan demikian kemerdekaan dapat menghapus semua pengaruh dan tekanan yang akan membuatnya merasa terbatasi dalam melakukan sesuatu.

Quraish Shihab, dengan berangkat dari penafsiran surat al-Maaidah ayat 20 di atas, mendefinisikan kemerdekaan sebagai suatu kebebasan dari berbagai belenggu kehidupan baik yang internal maupun eksternal, yaitu yang berasal dari luar atau khalayak. Kebebasan di sini diartikan sebagai kemampuan untuk menjadi raja bagi diri sendiri yang dapat menguasai seluruh anggota badan. Jadi Alqur’an menuntut agar setiap manusia dapat menjadi pengusa dirinya sendiri untuk dapat keluar dari berbagai macam belenggu dunia.

Muhammad Rasyid Ridha, kalimat “ja’alakum mulukan” dalam ayat di atas yang diterjemahkan dengan ‘dia menjadikan kamu orang-orang merdeka’, adalah bahwa mereka dijadikan Allah ‘menguasai diri mereka masing-masing, bebas mengatur diri dan keluarga mereka, serta menikmati kesejahteraan setelah sebelumnya ditindas oleh Fir’aun yang membunuh anak-anak laki mereka dan membiarkan anak perempuan mereka hidup tertindas.’

Ayat di atas menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak luput dari nikmat Allah. Kemerdekaan merupakan salah satu nikmat-Nya yang terbesar yang harus dijaga dan dipertahankan, karena untuk mendapatkan suatu kemerdekaan diperlukan perjuangan yang cukup berat. Setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan suatu negara untuk bisa dikualifikasikan sebagai negara yang merdeka dalam arti yang sebenarnya. Pertama, harus benar-benar secara empiris mengusir dan menaklukkan penjajah yang menduduki wilyahnya. Indonesia mampu merealisasikannya dengan mengusir para penjajah dari wilayah NKRI. Kedua, mampu mempertahankan dan mengimplementasikan nilai-nilai kemerdekaan tersebut dalam setiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara secara berkesinambungan. Dalam hal ini Indonesia harus banyak melakukan introspeksi diri karena kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakatnya masih jauh dari nilai-nilai kemerdekaan dan belum bisa mempertahankan status kemerdekaannya secara utuh.

Reinkarnasi Sejarah Pahit Penjajahan

Sebagai sebuah bangsa yang merdeka, sudah seharusnya bangsa Indonesia memiliki jati diri dan kedaulatan di semua hal. Namun dalam banyak aspek, Indonesia kehilangan hal tersebut bahkan tidak jarang justru bergantung dan menggantungkan diri kepada negara lain. Bangsa ini belum mampu mempertahankan dan merefleksikan nilai-nilai kemerdekaan yang diperoleh pada tahun 1945 tersebut dalam praktek kehidupan pada semua aspek. Hal ini mengindikasikan telah terjadi reinkarnasi pengalaman pahit penjajahan yang menimpa negeri ini 64 tahun silam. Artinya, penjajahan tersebut lahir kembali  walaupun dengan format dan strategi yang berbeda.

Bentuk penjajahan yang gencar dilakukan bangsa asing akhir-akhir ini lebih berbentuk soft imperialsm dengan menggunakan strategi ghazwul fikri (perang pikiran/ intelektualitas). Mereka menjajah bangsa ini dengan memerangi ideologi dan pola pikir masyarakat Indonesia. Penjajahan yang dilakukan kini cenderung meninggalkan bentuk pendudukan fisik dan militer. Namun ia justru lebih berbahaya karena dilakukan secara lunak sehingga masyarakat Indonesia tidak mengetahui bahwa sebenarnya mereka sedang di jajah.

Di bidang ekonomi, bangsa kita telah kehilangan kedaulatan. Kekuatan-kekuatan korporasi asing telah mendikte perekonomian nasional seperti kebijakan perbankan, penanaman modal, perdagangan dan lain sebagainya. Di samping itu hampir seluruh perusahaan yang ada sudah menjadi milik asing. Dampaknya sangat terasa, apalagi di kalangan orang-orang yang lemah secara ekonomi seperti terjadinya krisis ekonomi yang diikuti melonjaknya harga bahan-bahan pokok.

Di bidang politik internasional bangsa kita juga masih dalam pengaruh bagsa lain. Sebagai contoh, pada saat sidang Dewan Keamanan PBB tentang sanksi terhadap Iran terkait program nuklirnya, dengan pengaruh dan tekanan dari Amerika Srikat, Indonesia mendukung resolusi tesebut, sehingga sempat menimbulkan gejolak politik di dalam negeri.

Di bidang kebudayaan, bangsa kita telah terkontaminasi oleh budaya-budaya asing khususnya budaya Barat. Bangsa kita sangat cepat dalam mengadopsi budaya-budaya asing tanpa melakukan pemfilteran yang ketat. Dan hasilnya tingkat moral dan integritas bangsa kita sangat rendah.

Dari realitas yang ada kita dapat menyimpulkan bahwa bangsa kita belum mendapatkan kemerdekaan yang hakiki. Karena pada dasarnya kehidupan sosial kita masih berada di bawah monitor bangsa asing yang secara diam-iam melakukan soft imperilism. Sebagai bentuk proteksi terhadap hal tersebut kita khususnya pemerintah harus selalu berhati-hati dan waspada dalam setiap mengambil kebijakan.

Dengan HUT kemerdekaan RI yang ke-63 ini, mari kita bulatkan tekad, satukan visi dan misi kita untuk membangun kembali bangsa ini dan menggapai kemerdekaan yang hakiki. Karena tujuan pendiri bangsa ini adalah untuk menciptakan bangsa ini merdeka lahir maupun batin guna menggapai kehidupan yang makmur dan sejahtera.  Kemerdekaan akan tercapai apabila kita semua melepaskan diri dari berbagai macam belenggu yang membuat kita terikat dan tidak bebas menentukan nasib kita sendiri. Dengan demikian kebebasan untuk berfikir menciptakan terobosan-terobosan baru dalam membangun bangsa ini akan murni dari kehendak dan keinginan kita tanpa ada campur tangan bangsa lain. Ini semuanya akan tercipta dengan adanya kekompakan dari seluruh kalangan mulai dari pemerintah hingga rakyat bersatu-padu menciptakan sebuah komitmen yang kokoh, percaya diri untuk tidak meminta bantuan apapun dari bangsa lain dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan kepada umatnya bahwa jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin dan apabila hari kemarin lebih baik dari hari ini, maka sesungguhnya mereka berada dalam kerugian yang sangat besar. Dahulu bangsa kita dengan semangat dan kekompakan yang tinggi telah berasil merebut kemerdekaan dari para penjajah. Maka apabila pada saat ini kita tidak mampu mengalahkan penjajahan yang dilakukan bangsa asing, sesungguhnya kita termasuk umat yang merugi. Semoga allah memberikan jalan dan pertolongan kepada bangsa ini agar mampu mengahadapi segala bentuk penjajahan dan mampu menjadi bangsa yang bermartabat dan mendapatkan ridhaNya.

Wallahu ’alam.

M. Imam Nasef

Mhs FH UII dan Santri Ponpes UII ‘07

Lembar Jumat

One Comment → “MENGGAPAI KEMERDEKAAN HAKIKI”

  1. mediabilhikmah 5 years ago   Balas

    Subhanallah. Nikmat Allah tiada terbilang …..

Leave a Reply