Manusia Butuh Masalah

يَأَيُّهَاالنَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ اللهُ لَكَ تَبْتَغِى مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“1. Hai nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allâh halalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? dan Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS Al-Tahrim [66]: 11)

        Namanya manusia, tak luput dari apa yang disebut dengan dosa. Begitu juga para anbiyā’ wal mursalīn. Tapi permasalahannya bukanlah itu, akan tetapi bagaimana cara kita menanggapi atau menyikapi dosa yang kita perbuat. Bahkan, baginda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun pernah mendapatkan teguran dari Allâh, “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allâh menghalalkannya bagimu, kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Tahrīm [66]: 1 ). Ayat di atas merupakan salah satu peringatan Allâh kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

         Lantas, bagaimanakah cara Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam menanggapi hal tersebut? Apakah beliau depresi dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, mabuk-mabukan, main judi, berzina, tentu tidak. Ketika para  anbiyā’ wal mursalīn melakukan sebuah dosa maka yang mereka lakukan pertama kali adalah taubat dengan sebenar-benarnya taubat.

Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allâh dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allâh tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS al-Tahrīm [66]: 8).

          Suatu ketika seseorang mendapatkah sebuah musibah, maka ia harus memikirkan tiga hal. Pertama, apakah musibah tersebut diberikan ketika kita dalam keadaan saleh, maka itu disebut cobaan. Dalam arti kata, Allâh mau menguji iman orang tersebut, sampai dimana ketangguhan orang tersebut untuk beribadah kepada-Nya. Kedua, apakah musibah tersebut diberikan kepada kita pada saat berbuat maksiat, maka musibah tersebut bisa dikatakan teguran. Bartanda bahwa Allâh itu sayang kepada hamba-Nya. Allâh tak ingin kita jauh darinya, maka Ia berikan kita sebuah musibah sampai kita sadar akan kesalahan yang kita perbuat.

            Golongan terakhir yaitu orang yang senantiasa bermaksiat kepada Allâh, manusia yang lupa atas nikmat yang ia rasakan selama ini, manusia yang kufur akan semua yang telah ia peroleh. Apabila tipe orang yang seperti ini ditimpa musibah disebut azab. Azab hanya diberikan kepada orang yang syirik kepada-Nya, orang yang tak pernah ingat kepada-Nya, orang yang tak pernah mandi wajib selama hidupnya. Naudzubillāhi min dzālik. Semoga kita termasuk orang-orang yang disayangi-Nya. Amīn.

 

Masalah sudah Terjadi Semenjak Penciptaan Manusia

               Bukanlah menjadi suatu permasalahan, apabila seorang hamba melakukan dosa kepada Sang Pencipta. Begitu juga antara hamba dengan hamba, karena kesalahan adalah sunnatullah yang seharusnya terjadi pada manusia. Dari semenjak penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalam dan Hawa, bapak dan ibu moyang seluruh umat ini melakukan sebuah kesalahan dengan memakan buah khuldi, mereka mengikuti perintah syaithan yang terkutuk. Sifat manusia yang memang diciptakan oleh Allâh dengan penuh rasa penasaran, yang akhirnya diturunkanlah Nabi Adam ‘alaihissalam beserta tulang rusuknya – Hawa -  ke bumi.

            Tidak berhenti di situ, anaknya Qabil dan Habil juga melakukan dosa sesama makhluk cipta’an. Alkisah, suatu ketika Nabi Adam dipertemukan dengan Siti Hawa, mereka diberkahi beberapa anak. Anak pertamanya diberi nama Qabil dan disusul oleh adiknya Iqlima’ yang tak lama kemudian disusul oleh pasangan kembar kedua, Habil dan adiknya Luqaba’. Di bawah kasih sayang ibu dan ayahnya, mereka berkembang begitu besar. Seperti fitrahnya, anak laki-laki membantu ayahnya mencari nafkah. Qabil diberkahi oleh Allâh dengan tumbuh-tumbuhan, ia menanam beberapa macam tumbuhan, sedangkan Habil diberkahi oleh Allâh dengan berternak, ia berternak beberapa macam hewan ternak. Sedangkan anak perempuan membantu ibu.

       Sampai pada suatu hari Nabi Adam memutuskan untuk melakukan pernikahan silang, Qabil dengan Luqoba’ sedangkan Habil dengan Iqlima’, akan tetapi Qabil tak dapat menerima keputusan ayahnya, adiknya Iqlima’ jauh lebih cantik dibandingkan dengan Luqaba’. Nabi Adam ‘alahissalam meminta pertolongan atas terjadinya hal ini, sampai pada suatu ketika Nabi Adam memerintahkan untuk mereka berdua mengeluarkan korban dari hasil kerja mereka masing-masing. Pada awalnya, mereka berdua sangat puas dengan keputusan ayahnya, Habil mengeluarkan kambing terbaiknya, berbeda dengan Qabil, ia mengeluarkan sekarung gandum yang tak bagus.

       Waktu persembahan pun tiba, mereka semua berkumpul pada sebuah bukit untuk menyaksikan persembahan siapakah yang akan diterima. Tentu saja, persembahan dari Habil-lah yang diterima oleh Allâh, persembahan Habil yang dipilih dengan sebaik mungkin, sangat berbeda dengan Qabil. Semuanya sudah jelas, apa yang dilihat oleh Nabi Adam, dan Siti Hawa beserta anak-anaknya, bahwa Allâh telah memilih Habil untuk memilih dengan siapa ia harus menikah.

           Suatu ketika, Adam ingin meninggalkan rumah, ia menitipkan rumah dan keluarganya pada Qabil, karena Qabil anak pertamanya. Nabi Adam berpesan agar dapat menjaga rumah dengan sebaik-baiknya, menjaga ibu dan adiknya. Qabil menerima amanat ayahnya dengan senang hati dan berjanji akan berusaha sekuat mungkin. Janji itulah yang terdengar di telinga ayahnya, namun di dalam hatinya telah berniat busuk untuk berbuat jahat pada Habil, saudaranya sendiri. Menurut Qabil, inilah waktu yang pas untuk melampiaskan dendamnya, dengan bujukan syaithan ia mendatangi Habil dengan penuh rasa dengaki. Habil berusaha untuk menasihati kakaknya, sesekali Qabil menerima nasihatnya. Akan tetapi, bisikan syaithan lebih kuat, tanpa ia sadari, ia telah membunuh saudaranya sendiri. Inilah pembunuhan pertama manusia di muka bumi.

 

Cara Menanggapi Masalah

          Setiap manusia pasti mempunyai masalah dalam hidupnya, masalah bisa timbul kapan saja, masalah bisa berasal dari orang lain, teman, bahkan keluarga sendiri. Suatu ketika anda mendapatkan masalah, maka bersenanglah, karena orang-orang yang sukses bisa ada karena ia menyelesaikan sebuah permasalahan. Semakin besar ia menyelesaikan masalah, semakin kuat ia untuk mendapatkan kesuksesan dan kehidupan. Allâh tidak akan memberikan sebuah permasalahan kepada hamba-Nya melainkan sesuai dengan kemampuanya. Apabila seseorang telah berada pada titik terbawah dalam hidupnya, bersyukurlah, karena ia tak ada jalan lain kecuali naik kepada tempat yang lebih baik. Terkadang masalah yang diberikan Allâh kepada kita sangat banyak manfaatnya, akan tetapi kebanyakan kita tidak sabar untuk menemukan hikmah di balik itu semua.

           Positive thinking. Kata inilah yang harus kita miliki dalam jiwa maupun raga untuk menemukan hikmah-hikmah yang terkandung pada sebuah masalah. Bukan hanya kita yang mendapatkan masalah, akan tetapi setiap manusia, bahkan para anbiyā’ wal mursalīn juga mendapatkan masalah. Bahkan masalah yang mereka terima jauh lebih berat dari pada manusia-manusia biasa. Nabi Musa di lahirkan pada masa Fir’aun raja yang dzalim. Nabi Luth diberikan kepadanya kaum yang tidak normal keadaannya. Nabi Nuh diberikan anak yang kufur kepadanya. Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anak satu-satunya. Nabi Ayub diberikan penyakit sehingga ditinggalkan anak dan istri-istrinya. Nabi Yusuf dilahirkan sebagai adik yang dibenci kakak-kakaknya. Tapi, mereka menjalani semua itu dengan penuh rasa optimis dan yakin tentang takdir yang telah Allâh berikan kepadanya.

             Relax. Hadapilah permasalahan dalam hidup ini penuh dengan senyuman. Menyelesaikan masalah dengan tenang dan yakin terhadap apa yang kita kerjakan. Terkadang sebuah permasalahan bisa timbul dikarenakan perilaku yang buruk, gugup, ceroboh. Semua itu biasanya timbul karena tidak relax dalam melakukan sesuatu. Perasaaan relax menimbulkan ketenangan, hingga merespon ke otak dan menyebabkan kesenangan dalam melaksanakan sesuatu. Jika permasalahan yang kita dapatkan telah selesai, kita akan merasakan sesuatu yang tak bisa diukir dengan kata-kata. Kita akan merasakan kebahagiaan yang sangat di dalam hati, muka akan tampak lebih tenang.

            Tawakal. Apabila masalah datang secara terus-menerus, perhatikanlah pesan yang Allâh berikan kepada kita. Pasti ada permasalahan yang disembunyikan Allâh kepada kita. Timbulkan berfikir positif kepada setiap permasalahan yang datang, ciptakan perilaku relax kepada perilaku setiap kesulitan yang tiba. Setelah semua itu kita kuasai, bertawakAllâh kepada Allâh. Berdo’alah, “Ya Allâh berikanlah hamba-Mu ini yang terbaik bagi-Mu. Terkadang kami berpikir itu baik bagi kami padahal sangat buruk bagi-Mu. Terkadang itu buruk menurut kami padahal sangat baik bagi-Mu untuk kami. Berikanlah kami yang terbaik bagi-Mu untuk kami. Âmîn…Wallāhu a’lamu bi al-shawwāb.[]

 

Andi Musthafa Husain,

Santri Pon Pes UII

Lembar Jumat

One Comment → “Manusia Butuh Masalah”

  1. Bona aripangga 1 year ago   Balas

    Artikelnya bagus sekali

Leave a Reply