CARA MUDAH MEMAHAMI TAUHID

Tauhid secara bahasa Arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal.39).

Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal.39). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja. (Sumber: https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html)

Pembagian tauhid ke dalam tiga bagian diambil dari penelitian terhadap nash-nash al-Qur’an. Dari ayat-ayat tersebut, disimpulkan bahwa tauhid itu terbagi menjadi tiga bagian. Oleh karena itu, pembagian ini merupakan hakikat syari’at yang diambil dari Kitabullah, bukan suatu istilah yang diada-adakan oleh sebagian ulama tanpa dalil.
Pembagian ini sangat memudahkan pemahaman kaum muslimin tentang tauhid. Dengan memahami tiga bagian tauhid ini, seorang muslim memiliki tolok ukur yang jelas dan mudah tentang tauhid, apakah ia sudah termasuk seorang muwahhid (yang mentauhidkan Allah l), atau belum. Seorang awam atau anak kecil yang belum baligh pun akan dengan mudah memahaminya. Dari berbagai dalil yang bertebaran dalam al-Qur’an, as-Sunnah, dan atsar Salafush Shalih, para ulama membagi tauhid ke dalam tiga bagian,

Tauhîd Rubûbiyyah
Pertama, tauhid rubûbiyyah (mengesakan Allah l dalam perbuatan-Nya) adalah i’tiqad (keyakinan) yang mantap bahwa hanya Allah yang mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan dan mengatur semua urusan semua makhluk. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam semua itu. Hanya Allah Ta’ala saja yang mampu melakukannya.
Lawan dari tauhid rubûbiyyah adalah meyakini ada selain Allah l yang ikut mencipta, mengatur makhluk, atau melakukan perbuatan-perbuatan lainnya yang hanya dapat dilakukan oleh Allah l.
Di antara dalil-dalil tauhid rubûbiyyah adalah firman Allah l yang artinya,

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (Q.S. al-A’râf [7]: 54)

Firman-Nya juga yang artinya,

“Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kalian tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka mengapa kalian tidak bertaqwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka mengapa kalian masih tertipu?’” (Q.S. al-Mu’minûn [23]: 84-89)

KUNCI SUKSES DUNIA DAN AKHIRAT

Sebagai seorang Muslim, seseorang meyakini bahwa kebahagian, ketentraman, dan kesuksesan hidup akan terasa apabila dapat memposisikan diri sesuai dengan kehendak Allah. Begitu juga dengan kesengsaraan, kesedihan, dan kegagalan akan terasa apabila seseorang menempatkan dirinya jauh dari kehendak Allah.  Dalam al-Qur’an dan Hadits dikatakan bahwa orang yang menempatkan dirinya sesuai dengan kehendak Allah maka dia akan beruntung dan sukses, sebaiknya orang yang menjauhkan diri dari Allah dan mengotori dirinya dengan kemaksiatan maka dia telah menghancurkan dirinya dan dia akan gagal bahkan rugi. Dalam firman-Nya dikatakan:

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Q.S. Asy-Syam [91]: 9-10).

Seorang Muslim meyakini Firman Allah tersebut, bahwa yang dapat mengotori, menodai, dan merusak jiwa adalah segala bentuk perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah. Begitu juga sebaliknya, bahwa yang dapat membersihkan dan mensucikan, dan mesukseskan jiwa adalah segala kebaikan, ketaatan, dan amal shaleh kepada Allah. Lalu bagaimanakah cara agar diri seseorang itu selalu terjaga dari segala bentuk kerusakan dan kerugian sehingga dapat dikatakan suskses dunia akhirat? Menurut Syekh Abu Bakar jabir al-Jaza’ri dalam kitabnya Minhajul Muslim, yaitu diikat dan dibarengi dengan adab. Seperti sebelumnya telah dibahas mengenai pentingnya adab sesama Muslim agar persatuan dan keharmonisan serta silaturrahim tetap terjaga. Namun begitu juga dengan diri, harus ada adab terhadap diri sendiri, agar kehidupan dan jiwa merasa selalu berada dalam pengaawasan Allah.

Adab seorang muslim terhadap dirinya yang perlu diketahui serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar mencapai kesuksesan dunia akhirat setidaknya ada empat poin, yaitu:

  • Taubat

Taubat secara etimologis memiliki pengertian kembali. Dalam terminologi syariat Islam yang dimaksud dengan kembali adalah kembali dari perbuatan menjauhi Allah kepada perbuatan yang mendekatkan diri kepada-Nya. kemudian dalam pengertian yang lain, kata taubat mendapat tambahan kata nasuha (at-taubata an-Nashuha) atau sering dikenal dengan istilah taubat nasuha. Kata ini menurut Anas Ismail Abu Daud dalam kitabnya Dalilu As-Sailina, memiliki pengertian berhenti melakukan dosa sekarang, menyesali dosa yang telah dilakukan kemarin, dan bertekad sungguh-sungguh untuk tidak melakukannya lagi di kemudian hari. pendapat ini dipertegas oleh firman Allah yaitu:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”. (Q.S. At-Tahrim [66]: 8).

Firman Allah di atas menginformasikan kepada orang-orang yang beriman, kita ia berbuat kesalahan, hendaklah ia segera memohon ampun kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan atau perbuatan dosa tersebut. Rasulullah bertaubat seratus kali dalam sehari, sebagaimana sabdanya:

Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali”. (H.R. Muslim, no. 2702).

  • Muraqabah (Merasa diawasi).

Seorang Muslim harus meyakini bahwa Allah selalu mengawasi manusia tak terbatas oleh ruang dan waktu. Dengan demikian itu seseorang harus berhati-hati dan takut bila terjatuh dalam gelombang kemaksiatan dan dosa. Baik dalam kesendirian maupun dalam keadaan ramai, bahwa semua perbuatan diri selalu dilihat oleh Allah. Karena merasa diawasi, maka seseorang berusaha dan mencoba mebuat dirinya selalu bersama Allah melalui amalan-amalan dan ibadah yang tertuju semata-mata kepada-Nya, merasa damai dengan beribadah kepada-Nya, dan merasa tertekan serta gelisah bila melakukan maksiat kepada-Nya. hal ini sesuai dengan penjelasan Allah dalam firmn-Nya:

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun:. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 235).

“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu”. (Q.S. Al-Ahzab [33]: 52).

Oleh sebab itu siapapun di antara manusia, baik itu orang tua, anak, suami, istri, mahasiswa, dosen, tua dan muda, harus menyakini dan merasakan bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini selalu dalam pengawasan Allah, tak terkecuali juga diri kita. Maka dalam setiap perkataan, perbuatan, dan tingkah laku sehari-hari harus diatur dan dijaga sebaik mungkin supaya tidak mendatangkan murka Allah.

  • Muhasabah (Introspeksi diri).

Manusia hidup di dunia ini pada hakikatnya ingin hidup bahagia, baik bahagia dunia maupun bahagia akhirat. Banyak cara yang dilakukan untuk mendapatkan kebahagian, misalnya membina rumah tangga, mencari keturunan, dan bahkan juga berlomba-lomba mengumpulkan harta. Tetapi ada yang lebih penting dari semua itu, yakni meintrospeksi diri. Mengkaji dan menelaah sejauh mana perbuatan yang dilakukan dalm dunia fana ini, apakah bermanfaat untuk akhirat ataukah tidak sama sekali. Jika menjadi pengajar, harus intropeksi diri apakah sudah memberi teladan yang baik kepada para peserta didiknya? Jika menjadi pelajar, harus itropeksi diri apakah sudah menjadi pelajar sesungguhnya atau hanya pelajar mainan? Begitu juga dengan orang tua, harus intropeksi diri apakah sudah menjadi orang tua yang teladan bagi anak-anaknya ataukah belum? Untuk kehidupan akhirat, kita harus mengkaji ulang mengenai pembinaan terhadap diri apakah sudah banyak amal atau belum, semakin hari iman apakah semakin bertambah atau semakin berkurang. Begitu pentingnya untuk mengintrospeksi atau mengevaluasi diri, Allah I ingatkan dalam firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Hasyr [59]: 18).

  • Mujahadah (melawan nafsu)

Seperti yang telah dibahas dalam ilmu filsafat, bahwa jiwa manusia dihiasi oleh tiga hal penting yang dengannya jasab dapat berfungsi. Tiga hal itu adalah hati, akal, dan nafsu. Hati menjadi pembenaran terhadap sesuatu yang bersifat naqliyah, kemudian akal menjadi motor dalam mencari kebenaran aqliyah. Kemudian nafsu adalah dorongan yang menghiasi jiwa manusia untuk terus melakukan sesuatu, jika yang diperbuat itu baik maka itulah nafsu al-Muthmainnah, dan apabila yang diperbuatkan itu buruk maka itulah nafsu mazhmumah. Namun kebanyakan nafsu hanya mendorong kepada kejelekan, keburukan, dan mengarah kepada dosa. Jika manusia melihat nafsu itu sangat membahayakan keberadaan diri, maka hendaklah membentengi dan dan melawannya.

Gangguan nafsu dalam jiwa terkadang hanya hal sepele, namun akibatnya sungguh merendahkan diri pelakunya. Sebuah contoh misalnya, nafsu malas, terlihat hanya hal biasa namun akibatnya sungguh luar biasa. Seorang kepala keluarga jika telah terkena nafsu malas maka tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah akan terbangkalai. Seorang pelajar apabila telah terjangkit nafsu malas maka proses pembeljarannya akan terganggu, jika telah terganggu maka akan membuat dirinya rugi dan jatuh dalam kebodohan. Nafsu memang cenderung kepada kesesatan kecuali yang telah diberi rahmat, dalam firman-Nya dikatakan:

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”. (Q.S. Yusuf [12]: 53).

Sebagai Muslim yang beriman kepada Allah I dan Rasul-Nya, hendaklah memiliki azam atau keingginan dan tekad yang kuat dalam menklukkan hawa nafsu agar tidak larut dalam tipu daya syaitan. Niat dan tekad yang kuat inilah adab yang mulia tehadap diri sendiri.

Mudah-mudahan kita semua dapat merealisasikan empat point adab terhadap diri sendiri tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Karena apabila adab-adab tersebut dapat terealissikan, maka yakinlah hidup ini akan tenang, tentram, dan sukses dunia akhirat. Manusia tidak bisa luput dari salah dan dosa, namun agar dosa dan salah itu lebur maka taubat adalah kuncinya. Kemudian dalam menjalankan kehidupan dunia ini, manusia selalu dihadapkan dengan fitnah-fitnah dunia. Untuk menangkal fitnah-ftnah itu, maka menghadirkan dan merasa diri selalu diawasi oleh Allah adalah bentengnya. Untuk mengetahui sudah baik atau buruknya diri kita, bukan dengan membandingkan dengan kehidupan orang lain. Namun yang perlu dilakukan adalah menilai, menghitung, dan menintrospeksi sendiri diri ini. Dan yang terakhir, tidaklah manusia dihadapkan dengan berbagai perperangan yang paling dahsyat, melainkan perang melawan hawa nafsu. Untuk itu, terus menerus bermujahadah melawannya merupakan perkara yang sangat mulia.

Cindra al-Fikali

 Mahasiswa PAI UII 14.

PETUNJUK AL-QUR’AN TENTANG DASAR-DASAR KEDOKTERAN

Segala puji bagi Allah  yang telah menunjukkan bagi manusia jalan keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Dengan hikmah-Nya, Allah menurunkan petunjuk yang membimbing manusia dalam segala aspek kehidupannya. Begitu sempurnanya agama Islam ini sehingga bukan hanya ibadah ritual saja yang diatur. Namun, interaksi antar makhluk, bahkan kehidupan individual makhluk pun dibimbing sedemikian rupa untuk kemaslahatan manusia.
Salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia ialah aspek kesehatan. Gangguan kesehatan amat menurunkan kualitas hidup manusia. Untuk itulah dibutuhkan panduan menjaga kesehatan bagi populasi manusia.
Al-Qur’anul karim sebagai kitab suci panduan hidup muslimin telah memuat panduan umum menjaga kesehatan. Seorang ulama pakar tafsir, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mencantumkan bab “Petunjuk al-Qur’an tentang Dasar-Dasar Kedokteran” dalam kitab Qawaidul Hisan.
Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan,

“Menjaga kesehatan dilakukan dengan tiga langkah: melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi kesehatan, menghindari aktivitas yang membahayakan kesehatan, dan menyingkirkan berbagai unsur yang dapat membahayakan kesehatan tubuh.”

Kemudian beliau menjelaskan beberapa dalil di dalam Al-Quran yang menunjukkan bimbingan dalam tiga langkah yang telah tercantum di atas.

Melakukan Aktivitas yang Bermanfaat Bagi Kesehatan
Allah berfirman (yang artinya),

“Makanlah dan minumlah oleh kalian, namun janganlah berlebih-lebihan,” (Q.S.al-A’râf [7]: 31). As-Sa’di menjelaskan bahwa Allah memberikan perintah bagi manusia untuk makan dan minum, dimana tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik tanpanya. Perintah yang umum ini menjelaskan bahwa mengkonsumsi makanan dan minuman -yang sesuai untuk manusia- bermanfaat dalam segala waktu dan keadaan.

Jika kita perluas pembahasan ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa salah satu cara penting menjaga kesehatan ialah melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi kesehatan. Selain makan dan minum, aktivitas penting lainnya misalnya olahraga dan istirahat sesuai kebutuhan.
Yang menarik, di akhir bab ini As-Sa’di menjelaskan,

“Demikianlah, segala amal yang Allah sebutkan di kitab-Nya, seperti jihad, shalat, puasa, haji, dan seluruh amalan termasuk berbuat baik kepada makhluk, meskipun tujuan terbesarnya ialah mencari ridha Allah mendekatkan diri kepada-Nya, mencari balasan-Nya, serta berbuat baik kepada hamba-Nya, sesungguhnya amal-amal tersebut dapat menyehatkan dan melatih tubuh, begitu pula melatih dan menenangkan jiwa, menyenangkan hati. Di dalam amal tersebut juga terdapat rahasia yang istimewa, yaitu menjaga dan meningkatkan kesehatan, serta menghilangkan sumber penyakit dari tubuh.”

Menghindari Aktivitas yang Membahayakan Kesehatan
Allah memperbolehkan orang yang sakit untuk bertayamum jika air wudhu membahayakan kesehatan. Allah juga melarang untuk “mencampakkan tangan kita ke dalam kebinasaan”. Termasuk di larangan ini ialah menggunakan segala zat yang membahayakan tubuh baik dari jenis makanan maupun obat-obatan tertentu. Di ayat ke 31 surat al-A’râf di atas terdapat larangan berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Bentuk berlebih-lebihan bisa dalam hal jumlahnya, dalam memilih makan-minum, waktu makan-minum, dan ini merupakan bentuk menghindari hal-hal yang membahayakan diri. Contoh penerapan lain dari pelajaran ini di antaranya menghindari rokok, minuman keras, serta narkoba, menghindari aktivitas yang berisiko tinggi seperti kebut-kebutan di jalan umum, perilaku seks bebas, dan lain-lain.

MENGGAPAI KETENANGAN HATI

Bismillâhi walhamdulillâh wash shalâtu was salâmu ‘ala rasûlillâh

Di era modern saat ini, sangat mudah bagi seseorang untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya dan apa yang menjadi keinginannya. Hampir semua hal pada zaman ini sangat mudah untuk diakses, sangat mudah untuk diraih, dan sangat mudah untuk dimiliki. Segala fasilitas untuk memuaskan hati dan nafsu tersebut telah terbentang luas di zaman teknologi seperti sekarang ini. Namun, apakah dengan tersedianya segala fasilitas tersebut mampu membawa seseorang untuk meraih ketenangan hati? Kelapangan hati? Dan kebahagiaan hati?, tidak selalu, jawabnya.

Kita banyak melihat seseorang yang dapat dikatakan memilki segalanya, memiliki harta yang melimpah ruah, memiliki keluarga yang utuh, memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat, memiliki kendaraan yang mewah, tempat tinggal yang luas, tanah yang banyak, serta tabungan deposito di mana-mana, akan tetapi hatinya tidak tenang, dadanya sempit, jiwanya gusar, pikirannya terombang-ambing tak tentu arah. Seperti itulah hakekatnya dunia, ia akan terus membuat seseorang merasa cemas dan gelisah.

Ibnu Qoyyim dalam kitabnya yang berjudul “Liasbab syaroh Assodri” (sebab-sebab lapangnya hati) menyebutkan bahwa “siapa saja yang jatuh cinta kepada selain Allah swt, maka dia akan disiksa dengannya”.

Beliau menjelaskan bahwa siapa yang mencintai kepada selain Allah swt (boleh jadi berupa wanita/pria, harta, kendaraan, tempat tinggal, kedudukan, dan lain-lain), maka Allah swt akan menyiksanya sebanyak 3 kali di dunia ini. Adapun siksaan tersebut antara lain, 1. Seseorang akan disiksa dengan sesuatu yang dicintainya itu sebelum ia mendapatkannya. Semakin besar keinginannya untuk mendapatkannya maka hatinya akan semakin tersiksa. Semakin ia membayang-bayangkan dan semakin ia rindu dengan apa yang ia inginkan itu, maka akan semakin tersiksa hatinya, semakin sempit dadanya karena hatinya tengah dirundung kerinduan yang mendalam dengan sesuatu yang belum ia dapatkan dan belum ia miliki. Hal ini tentu saja menyiksa dan menyesakkan dada. 2. Seseorang akan disiksa dengan sesuatu yang dicintainya saat ia memilikinya, yakni seseorang itu akan merasa cemas, was-was, dan takut kehilangan sesuatu yang dicintainya tersebut. Semakin besar cintanya maka akan semakin besar cemas dan ketakutannya akan kehilangan atau ditinggalkan dengan sesuatu yang dicintainya tersebut. Bahkan tak sedikit seseorang yang tidak bisa tidur 24 jam lantaran memikirkan seuatu yang dimilikinya tersebut. Hal inipun sangatlah amat menyiksa. 3. Jika apa yang dicintainya tersebut telah dimilikinya dan kemudian benar-benar dihilangkan dari sisinya, maka inilah siksaan yang ketiga, siksaan yang teramat amat menyiksa. tidak sedikit seseorang yang menjadi depresi, stres, bahkan gila karena kehilangan sesuatu yang amat dicintainya itu. Bagaimana tidak tersiksa, jika sesuatu itu telah diimpi-impikan sejak lama, mendapatkannyapun perlu perjuangan yang sangat berat, lalu saat telah memilikinya dirawat dan dipelihara dengan baik, dan yang lebih dari itu sudah terlalu banyak kenangan indah dan manis yang telah dilewati bersama, namun kemudian ia hilang, maka sungguh inilah puncak kesedihan dan tersiksanya hati seseorang. Namun perlu diketahui oleh setiap mukmin, bahwa memiliki dunia bukanlah hal yang terlarang, bukanlah dosa, bukanlan aib di sisi Allah swt. Akan tetapi yang yang Allah benci adalah tatkala seseorang itu mencintai dunia, sehingga hatinya bahagia tatkala dunia itu mendatanginya dan bersedih tatkala dunia itu menjauh darinya. Jadikanlah dunia itu sebatas di tanganmu tapi tidak di hatimu. Sehingga apapun keadaan yang menimpamu, kamu tetap dalam keadaan bersyukur dan bersabar.

PRIBUMISASI EKONOMI ISLAM

Perkembangan ekonomi Islam melalui fase yang panjang. Dalam perkembangan mutakhir, terdapat beberapa tren dalam pemikiran ekonomi Islam. Di antara tren-tren yang paling menonjol yang membahas ekonomi Islam adalah “Iqtishâdunâ” oleh Baqir as-Sadr, “The Economic System of Islam: A Discussion of Its Goals and Nature” oleh M. Umer Chapra, “Islamic Economics, Theory and Practice” oleh M. Abdul Mannan serta “Ekonomi Islam Mazhab Hamfara” oleh Dwi Condro Triono. Salah satu kritik tajam yang biasanya ditujukan kepada kajian Islam pada umumnya serta khususnya studi ekonomi Islam adalah persoalan metodologi dan pendekatan filsafat ilmu. Oleh karena itu, salah satu kecendrungan dari metodologi kajian ekonomi Islam di Indonesia yang ditawarkan adalah perlunya penerapan dari pendekatan filsafat ilmu. Dalam kaitan lain, para sarjana Indonesia kontemporer lebih cenderung menerapkan pendekatan filsafat di dalam semua kajian Islam, termasuk di dalam bidang Ekonomi Islam. (Asmuni Mth, 2012)

Pendekatan filosofis memiliki sifat keilmuan, insklusif serta terbuka. Kelebihan pendekatan ini untuk kajian bidang ekonomi Islam terdapat tiga hal; pertama, pencarian dan perumusan ide atau gagasan yang bersifat mendasar dalam berbagai persoalan; kedua, pengenalan dan pendalaman persoalan serta isu-isu fundamental dapat membentuk cara berfikir yang bersifat kritis dan ketiga, proses ini akan membentuk mentalitas dan sistem pemikiran yang mengutamakan kebebasan intelektual, sekaligus mempunyai sifat toleran terhadap pelbagai pandangan yang berbeda. Penekanan utama dari pendekatan ini adalah lebih diberikan kepada aspek metodologi dan proses berfikir lebih kritis-analitis dalam menangani sesuatu persoalan keilmuan, termasuk dalam bidang ekonomi Islam. Dalam studi ekonomi konvensional selama ini lebih menekankan pada “normativitas melampui historisitas”, artinya realitas historis harus tunduk pada ketentuan normatif yang terdapat dalam teks al-Qur’an dan Hadits.

Pendidikan pada level sarjana, magister serta doktoral sudah ada yang mengkaji tentang ekonomi Islam. Faktanya, nalar ekonomi Islam belum sepenuhnya bersemayam dalam kesadaran umat Islam. Hal ini dapat ditelisik melalui aspek studi keagamaan yang berkembang di pesantren, majelis taklim, madrasah diniyah serta pengajian informal yang berkembang. Padahal di lembaga pendidikan yang bersifat formal dan non-formal itu lah sesungguhnya nalar dan wawasan keislaman dibentuk. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi siapapun untuk peduli terhadap ekonomi Islam agar memberikan fokus ikhtiarnya kepada pribumisasi ekonomi Islam. Istilah ini dalam beberapa hal berbeda makna dengan istilah Gus Dur “Pribumisasi Islam”. Pribumisasi ekonomi Islam lebih bermakna kepada ikhtiar masif untuk mengedukasikan ekonomi Islam kepada umat Islam. Pribumisasi juga bermakna menyusun padanan berbahasa Indonesia seluruh bentuk akad dalam transaksi keuangan syariah, sehingga lebih akrab dan mudah dipahami.

Dalam pribumisasi ekonomi Islam, tergambar Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Allahl diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Dalam hal ini, pribumisasi bukan upaya untuk menghindari timbulnya perlawanan dari kekuatan-kekuatan budaya setempat, akan tetapi untuk mempertahankan budaya agar tidak hilang. Inti pribumisasi ekonomi Islam bukan upaya menghindari polarisasi antara agama dan budaya, sebab polarisasi memang tidak terhindarkan. Ekonomi Islam secara umum belum dipraktikkan dan belum banyak yang menjadikan adat-istiadat umat Islam. Hukum ekonomi Islam secara kelembagaan hanya dipraktikkan di lembaga perekonomian, secara hukum memang harus ada yang mengatur karena menyangkut hak-hak dan kepentingan banyak pihak dan dalam skala lebih besar. Sehingga positifisasi berangkat dari gejala institusionalisasi hukum ekonomi Islam yang secara adat belum banyak dipraktikkan oleh seluruh umat Islam.