PRIBUMISASI EKONOMI ISLAM

Perkembangan ekonomi Islam melalui fase yang panjang. Dalam perkembangan mutakhir, terdapat beberapa tren dalam pemikiran ekonomi Islam. Di antara tren-tren yang paling menonjol yang membahas ekonomi Islam adalah “Iqtishâdunâ” oleh Baqir as-Sadr, “The Economic System of Islam: A Discussion of Its Goals and Nature” oleh M. Umer Chapra, “Islamic Economics, Theory and Practice” oleh M. Abdul Mannan serta “Ekonomi Islam Mazhab Hamfara” oleh Dwi Condro Triono. Salah satu kritik tajam yang biasanya ditujukan kepada kajian Islam pada umumnya serta khususnya studi ekonomi Islam adalah persoalan metodologi dan pendekatan filsafat ilmu. Oleh karena itu, salah satu kecendrungan dari metodologi kajian ekonomi Islam di Indonesia yang ditawarkan adalah perlunya penerapan dari pendekatan filsafat ilmu. Dalam kaitan lain, para sarjana Indonesia kontemporer lebih cenderung menerapkan pendekatan filsafat di dalam semua kajian Islam, termasuk di dalam bidang Ekonomi Islam. (Asmuni Mth, 2012)

Pendekatan filosofis memiliki sifat keilmuan, insklusif serta terbuka. Kelebihan pendekatan ini untuk kajian bidang ekonomi Islam terdapat tiga hal; pertama, pencarian dan perumusan ide atau gagasan yang bersifat mendasar dalam berbagai persoalan; kedua, pengenalan dan pendalaman persoalan serta isu-isu fundamental dapat membentuk cara berfikir yang bersifat kritis dan ketiga, proses ini akan membentuk mentalitas dan sistem pemikiran yang mengutamakan kebebasan intelektual, sekaligus mempunyai sifat toleran terhadap pelbagai pandangan yang berbeda. Penekanan utama dari pendekatan ini adalah lebih diberikan kepada aspek metodologi dan proses berfikir lebih kritis-analitis dalam menangani sesuatu persoalan keilmuan, termasuk dalam bidang ekonomi Islam. Dalam studi ekonomi konvensional selama ini lebih menekankan pada “normativitas melampui historisitas”, artinya realitas historis harus tunduk pada ketentuan normatif yang terdapat dalam teks al-Qur’an dan Hadits.

Pendidikan pada level sarjana, magister serta doktoral sudah ada yang mengkaji tentang ekonomi Islam. Faktanya, nalar ekonomi Islam belum sepenuhnya bersemayam dalam kesadaran umat Islam. Hal ini dapat ditelisik melalui aspek studi keagamaan yang berkembang di pesantren, majelis taklim, madrasah diniyah serta pengajian informal yang berkembang. Padahal di lembaga pendidikan yang bersifat formal dan non-formal itu lah sesungguhnya nalar dan wawasan keislaman dibentuk. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi siapapun untuk peduli terhadap ekonomi Islam agar memberikan fokus ikhtiarnya kepada pribumisasi ekonomi Islam. Istilah ini dalam beberapa hal berbeda makna dengan istilah Gus Dur “Pribumisasi Islam”. Pribumisasi ekonomi Islam lebih bermakna kepada ikhtiar masif untuk mengedukasikan ekonomi Islam kepada umat Islam. Pribumisasi juga bermakna menyusun padanan berbahasa Indonesia seluruh bentuk akad dalam transaksi keuangan syariah, sehingga lebih akrab dan mudah dipahami.

Dalam pribumisasi ekonomi Islam, tergambar Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Allahl diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Dalam hal ini, pribumisasi bukan upaya untuk menghindari timbulnya perlawanan dari kekuatan-kekuatan budaya setempat, akan tetapi untuk mempertahankan budaya agar tidak hilang. Inti pribumisasi ekonomi Islam bukan upaya menghindari polarisasi antara agama dan budaya, sebab polarisasi memang tidak terhindarkan. Ekonomi Islam secara umum belum dipraktikkan dan belum banyak yang menjadikan adat-istiadat umat Islam. Hukum ekonomi Islam secara kelembagaan hanya dipraktikkan di lembaga perekonomian, secara hukum memang harus ada yang mengatur karena menyangkut hak-hak dan kepentingan banyak pihak dan dalam skala lebih besar. Sehingga positifisasi berangkat dari gejala institusionalisasi hukum ekonomi Islam yang secara adat belum banyak dipraktikkan oleh seluruh umat Islam.

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *