Rekayasa Sosial Rasulullah di Era Kontemporer

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah semua pahala amalnya kecuali 3 perkara: Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan orangtuanya dengan doa yang baik.” (HR Muslim dan Abu Hurairah)

Hadis ini sangat popular dikalangan masyarakat yang membawa banyak gerakan perubahan, motivasi berbuat baik dan sandaran yang religius. Namun yang banyak kita saksikan hadis ini cenderung dimaknai secara tekstual terutama pada generasi belakangan ini. Misalnya, poin pertama, “Amal Jariyah” pesan Rasulullah ini masih sering berputar pada pemaknaan yang sempit, yaitu sekedar pembangunan masjid, panti asuhan dan sebagainya. Poin kedua ilmu yang bermanfaat, hanya sering dimaknai sekedar mengajarkan ilmu yang kita punya. Poin ketiga anak shaleh yang mendo’akan orangtunya, sering dimaknai sungguh sangat sempit hanya seputar mengangkat tangan berdo’a untuk keselamatan orangtua di akhirat yang sering dilakukan secara formalitas setelah menunaikan shalat. Banyakan Da’I, Muballig maupun akademisi memang menyampaikannya hanya sebatas itu, sehingga perlombaan hanya gencar membangun masjid, membangun lembaga keagamaan, membagi ilmunya dan mengangkat tangan untuk berdo’a.
1. Amal Jariyah (Gerakan  Sosial)
Amal jariyah sering disempitkan pembahasannya hanya sampai berbuat baik berupa materi, yang biasanya untuk memotivasi membangun masjid, membangun panti asuhan, dan semacamnya. Maka muncul berbagai interpretasi yang bias dalam memaknai teks pesan Rasulullah tersebut. Banyak kita jumpai ahli maksiat kemudian membantu atau membangun masjid, panti asuhan, lembaga keagamaan lainnya dengan harapan ketika meninggal maka pahala amalnya bisa menolongnya. Sebenarnya tindakan demikian mulia, ketika disertai dengan iman, yang dibuktikan berhenti pada kemaksiatannya untuk mensucikan dirinya. Justru yang banyak kita saksikan, baik secara  langsung di sekitar kita, maupun di media, sikapnya berperan ganda. Di sisi lain dia maksiat, di sisi lain berbuat baik.

Dalam al-Qur’an selalu kita jumpai ayat iman dan amal selalu bergandengan, karena kunci keselamatan dunia-akhirat adalah keterpaduan iman dan amal. Misalnya QS. An-Nahl [16]: 97.

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”

Dalam ayat ini, Allah secara tegas membedakan antara amal dan iman kemudian merangkaikannya sebagai keterpaduan. Kenapa demikian? Karena manfaat iman itu ada pada amal, begitupun sebaliknya, amal (kebaikan sosial) yang dilakukan tanpa iman kepada Allah (mengikuti petunjuk-Nya), berpotensi membuat seseorang melakukan kesewenang-wenangan. Dalam negara kita, baik lembaga kenegaraan, keagamaan, maupun lembaga lainnya, sering kita jumpai pejabat yang memiskinkan ratusan bahkan ribuan orang yang dibunuh secara perlahan melalui tindakan korupsinya tanpa peduli, kemudian seolah-olah ingin mensucikan diri secara pintas melalui amal jariyah dengan cukup berpartisipasi maupun membangun lembaga keagamaan dengan materi. Tindakan demikian bertentangan dengan ajaran Islam yang memerintahkan kebaikan sosial yang didasari iman.

Pesan Rasulullah pada poin pertama ini yaitu amal jariyah, penulis lebih sepakat menekankan maknanya di era kontemporer ini yaitu “gerakan sosial”. Gerakan sosial ini contohnya membangun dan membentuk lembaga yang bergerak pada sosial masyarakat demi perubahan lebih baik, misalnya membentuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), lembaga pengawas untuk berbagai sektor, semua itu demi mengontrol, mencegah  dan mengatasi kemungkinan problem yang muncul demi kemaslahatan manusia. Tetapi ahir-ahir ini, jutru kita jumpai banyaknya pihak yang berusaha bahkan sudah menghancurkan lembaga-lembaga sosial ini dengan berbagai cara karena merasa terancam dan tidak bebas melakukan kejahatannya. Misalnya adanya usaha penghapusan KPK, merusak citra KPK, dan lembaga sosial lainnya yang bersifat mengontrol. Akhirnya, justru masjid berjamuran bahkan saling berdekatan dan megah, namun tidak mampu memberi efek positif pada masyarakat, dibuktikan semakin bertambahnya daftar kriminal dalam negeri ini. Pertanyaannya adalah, kenapa bisa demikian? Itu karena antusias iman yang tinggi, namun mengabaikan perhatian pada syarat utama yang membuktikan iman adalah kebaikan sosial, yang disebut amal.
2. Ilmu yang Bermanfaat (Gagasan)
Ilmu merupakan penopang terwujudnya amal yang merupakan buah dari iman. Sehingga kata Prof.Nurcholish Madjid,  bahwa hidup seorang muslim sejati itu, cukup iman, ilmu dan amal (Islam Doktrin dan Peradaban). Rekayasa Sosial Rasulullah pada langkah kedua ini mendorong umat manusia apalagi umat muslim untuk banyak berusaha belajar demi keluasan ilmunya. Memaksimalkan keseharian untuk banyak belajar dan membaca berbagai literature, buku serta berbagai sumber informasi pengetahuan lainnya. Begitupun juga memperbanyak dialektika pengalaman. Ilmu yang bermanfaat ini bukan sekedar mengajarkan seadanya yang kita miliki, namun lebih pada memberikan gagasan perubahan. Dorongan berilmu ini juga banyak kita jumpai dalam ayat al-Qur’an di antaranya QS. Al-Isra’ [17]: 36

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”

Setidaknya dalam ayat ini bisa dimaknai larangan Allah untuk bertaqlid tanpa dasar dan ilmu.  Apalagi terhadap orang yang berpendidikan, maka ditekankan adanya pengetahuan dalam melakukan sesuatu supaya lebih bermanfaat. Memunculkan gagasan-gagasan baru yang segar dan mengalir merupakan hal yang dianjurkan dalam Islam. Gagasan baru dan inovatif bisa keluar dari pikiran-pikiran seseorang yang berilmu. Tanpa ilmu yang matang akan melahirkan gagasan-gagasan yang kopy paste, taqlid buta. Hidup apa kata orang, berpikir apa kata orang, dan mengajarkan ilmu juga apa kata orang. Takut dianggap melenceng dari pendapat yang umum, inilah yang menjadi penyakit parah umat muslim kontemporer ini. Padahal produk pemikiran tokoh masa lampau yang merupakan contoh awal dealektika mereka terhadap zamannya tentu mereka berharap ada pengembangan dilakukan generasi setelahnya karena juga berbeda zaman dan situasinya. Keberanian memberikan gagasan perubahan yang baru dan inovatif, akan menyumbang tumbuh pesatnya ilmu pengetahuan, yang mewujudkan perubahan dan peradaban.
3. Anak Shaleh yang mendo’akan orangtuanya (Tokoh Besar)

Tahap ketiga perubahan sosial yang diajarkan Nabi Muhammad SAW., ini yaitu lahirnya anak shaleh. Anak shaleh yang penulis maksud bukanlah yang sekedar mengangkat tangan berdo’a untuk keselamatan orang tuanya. Dalam era kontemporer ini, redaksi hadis tersebut harus dimaknai lebih dinamis demi hadirnya Islam yang segar dengan mewujudkan duta-duta pembaharu yaitu “Tokoh Besar”. Ketika Langkah pertama dan kedua di atas sudah ditempuh, maka langkah ketiga ini yang dianjurkan Rasulullah akan memunculkan tokoh besar. Tokoh besar yang diharapkan di sini yaitu yang peka terhadap situasi kemanusiaan, terus berupaya melakukan  amal jariyah (kebaikan sosial), karena itu buah dari iman. Kemudian berilmu, berwawasan luas, jadi ahli, professional, memperhatikan kebaikan lingkungan, mejaga harga diri. Maka kebaikan yang kita lakukan, manusia di sekeliling kita bertanya itu anak siapa? Siapa orangtuanya?. Orangtua kita yang disanjung, dikenang, diingat kebaikannnya, diperbincangkan serta diteladani oleh orang lain meskipun sudah tiada, merupakan do’a untuk orangtua kita. Itulah makna, “Anak shaleh yang mendo’akan orangtuanya”. Demikianlah tahap strategi dan  rekayasa sosial yang diajarkan Rasulullah, semoga bisa dimaknai lebih dari yang penulis uraikan.
B

Biodata Penulis
Nama:Muhammad Hamsah, S.Pd.I
Jurusan: Konsentrasi Pendidikan Islam, FIAI MSI UII Yogyakarta 2015

No Hp: 085299222096
Email: muhammadhamsah27@yahoo.com
No. Rek BNI: 0354666794

Sukses

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal shalih), untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS al-Kahfi [18]: 107)

Hampir dapat dipastikan bahwa semua manusia ingin sukses. Ada yang begitu kuat menginginkannya, ada yang biasa-biasa saja. Diantara yang kuat inginnya tersebut ada yang gigih upayanya, ada pula yang biasa-biasa saja. Dari yang gigih upayanya itu, ada yang terus istiqāmah berjuang dan bangkit ketika jatuh, ada juga yang tersungkur tidak ma(mp)u bangun lagi. Intinya, semua orang ingin sukses namun masing-masing berbeda dalam menyikapi dan mengupayakan kesuksesan.

Ibarat sebuah bangunan, sukses berawal dari fondasi yang kokoh. Di atas fondasi itu, berdirilah tiang-tiang yang kemudian dikonstruksi sedemikian rupa menjadi bangunan. Bangunan tanpa fondasi akan segera runtuh. Sementara fondasi tanpa bangunan di atasnya tidak bermakna apa-apa. Keduanya saling melengkapi dan mengenapi, saling menopang dan menguatkan. Kebersatuan yang solid itulah yang selanjutnya menghadirkan kesuksesan. Sukses dalam arti yang sesungguhnya bukan yang ala kadarnya.

Setiap manusia telah memiliki modal untuk menjadi sukses. Masalahnya adalah bagaimana dia menggunakan modalitasnya untuk menjemput kesuksesan tersebut. Laksana jodoh, sukses itu ada di tangan Tuhan. Namun kalau tidak diambil, tidak dijemput, maka akan tetap di tangan Tuhan. Jadi, untuk sukses perlu usaha keras, tidak cukup hanya berpangku tangan. Kehidupan ini adalah modal yang tidak ternilai dari Allah. Kita diminta memaksimalkannya untuk meraih sukses.

Konon, seorang pemuda mengeluh tidak punya modal untuk usaha. Seorang pengusaha sukses yang dicurhatinya kemudian bertanya padanya. “Satu dengkulmu (baca: lutut), boleh saya beli setengah milyar?” tanya pengusaha sukses itu. “Tentu tidak boleh, Tuan,” jawab pemuda. “Kalau begitu, berusalah! Dengan dua dengkulmu berarti Engkau punya modal 1 milyar!” perintahnya menyemangati. Sungguh, sejak lahir kita telah memiliki modal yang tiada ternilai dari Allah. Dua lutut saja 1 milyar, belum yang lain-lain.

Untuk menjadi sukses pertama-tama berangkat dari keyakinan. Mereka yang meyakini dirinya akan sukses maka sukses itu akan lebih dekat dengannya. Sementara mereka yang membayangkan sukses saja takut maka sukses pun akan takut mendekatinya. Benar bahwa banyak yang tidak menyangka akan sukses namun ternyata benar-benar sukses. Namun yang ideal adalah menjadi pribadi yang optimistis dan yakin sejak dalam hati. Allah telah memberi kita amanah hidup, itu artinya Allah percaya kita siap menjadi sukses.

Lalu apakah cukup hanya dengan keyakinan? Tentu saja tidak. Setelah yakin ada step-step penting yang harus dilalui. Kalau sekadar yakin maka manusia tidak ubahnya hanya menjadi “generasi wacana”. Generasi wacana, seperti diutarakan Prof. Rhenald Kasali, hanya sibuk berwacana namun tidak melakukan aksi nyata dan takut mengambil keputusan. Karenanya, keyakinan harus dibarengi dengan kegigihan dalam berbuat. Keyakinan juga menghantarkan kita pada pilihan-pilihan hidup yang tepat.

Bagi mereka yang sudah “nyaman” dengan prestasi di kampung halamannya mungkin takut bersaing di level yang lebih menantang. Namun pribadi sukses harus berani mengambil langkah yang visioner. Dunia tak selabar daun kelor, harus berani bersaing dan semangat tidak boleh kendor. Para alim telah mengajarkan kita. “Sāfir tajid ‘iwadhan ‘amman tufāriquhu!” Pergilah! Engkau akan mendapatkan ganti dari apa yang kau tinggalkan. Berani sukses berarti berani mencoba hal yang baru.

Dalam menuju sukses tersebut seringkali manusia harus jatuh-bangun. Namun yang harus disadari bahwa gagal karena bertindak jauh lebih baik daripada tidak pernah gagal karena enggan berbuat. Tidak penting seberapa sering Engkau terjatuh. Terpenting adalah seberapa mampu Engkau bangkit dari jatuhmu. Kaum bijak pandai menasihatkan, “Berhasil menyikapi kegagalan lebih baik daripaya gagal dalam menyikapi keberhasilan.” Orang sering bilang, hakikat kegagalan adalah sukses yang masih tertunda.

Sukses itu parameternya berbeda-beda. Kalau kita bertanya arti sukses (ma huwa sukses?) kepada banyak orang, pasti jawabannya bermacam-macam. Harus diingat bahwa sebagai seorang muslim terminal kehidupan ini bukan sebatas kematian. Namun ada “alam” yang lebih meneduhkan dan menjanjikan. Oleh karena itu, sudahkah (harapan) sukses kita itu berorientasi pada kebahagiaan di alam tersebut? Sementara doa yang kita panjatkan sangat jelas dan lugas. Bukan hanya hasanah di dunia tetapi juga hasanah di akhirat.

Kita ingat betul bagaimana Rasulullah mengakhiri hayatnya. Apa yang terucap terakhir kali dari lisannya yang begitu mulia? Dia tidak mengkhawatirkan putrinya. Juga tidak sedang merisaukan isteri-isterinya. Dia terus memikirkan umatnya dan itu adalah termasuk kita. “Ummatiy, ummatiy, ummatiy…,” ucapnya lirih. Rasulullah mengajarkan bahwa sukses itu kalau kita juga mampu menyukseskan orang lain, meng-hasanah-kan banyak pihak. Khairun an-nāsi anfa’uhum li an-nāsi

 

Sukses=Surga

Mulai awal Oktober 2015 ini, Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) meluncurkan Training Islamic Character Building (ICB) untuk mahasiswa baru. Training ini didesain untuk membentuk karakter mahasiswa baru UII. Materi training dirancang supaya lebih mudah dimengerti dan dipraktikkan oleh mahasiswa. Mulai dari Komitmen Tauhid, Komitmen Ibadah, Komitmen Akhlak, dan terakhir Komitmen Sukses.

Saya sendiri sepakat dengan penambahan “komitmen” di setiap materi. Komitmen itu juga berarti istiqāmah (kontinuitas). Mahasiswa UII diharapkan mampu mempertahankan tauhidnya, menjaga ibadah dan akhlaknya, serta terus mengobarkan semangat suksesnya. Selama 2 kali mendampingi Trainer “Komitmen Sukses”, Drs. H. Imam Mudjiono, M.Ag., saya merasa perlu berbagi inti materi tersebut lewat tulisan ini. Sebab, materi tersebut sangat relevan bagi setiap umat muslim.

Sukses dalam konteks religiusitas kita dapat dimaknai sebagai surga atau al-jannah. Pribadi yang sukses pada akhirnya adalah yang berhasil memasuki pintu surga. Sehebat apapun seseorang di dunia kalau tidak “sukses” di akhirat maka merugilah dia. Walaupun tetap untung masih bisa bahagia di dunia. Repotnya adalah kalau di dunia sengsara di akhirat menderita. Oleh karena itu, supaya “sukses”nya ganda alias double harus dipelajari bagaimana tips untuk meraihnya.

Beberapa ayat al-Qur’an, contohnya QS. al-Kahfi ayat 107 di atas, menggambarkan bahwa syarat sukses itu 2 (dua). Pertama adalah iman; percaya dan yakin. Dalam bahasa yang biasa dipopulerkan Pak Imam—begitu dia biasa disapa—, iman itu semisal dengan belief. Keimanan yang kuat mendasari kesuksesan manusia di akhirat nanti dan tentu saja di dunia. Kalau iman ini tidak dijaga maka umpama pergi naik pesawat, yang bersangkutan tidak memiliki tiketnya.

Kedua adalah amal shalih (berbuat baik). Amal shalih ini adalah buah dari keimanan. Sebagaimana uraian di atas bahwa iman (keyakinan) adalah fondasi dan amal shalih adalah bangunan di atasnya. Iman dan amal shalih saling mengisi dan menyempurnakan. Iman yang tidak diwujudkan dalam amal shalih ibarat pohon yang tidak berbuah. Sementara amal shalih yag tidak dilandasi iman akan sia-sia dan tertolak. Kedua hal ini yang harus menjadi pedoman dan pegangan hidup umat muslim.

Amal shalih dalam bahasa Pak Imam disebut dengan positive energy (energi positif). Amal shalih atau positive energy tersebut dengan dilandasi iman yang kuat harus ditujukan semata-mata untuk meraih keridhaan Allah. Kalau sudah demikian maka keduanya akan menghantarkan kita menuju surga-Nya Allah di akhirat sana. Keduanya harus dipelihara secara konsisten dan penuh komitmen. Sebab iman dan amal shalih tidak dinilai secara periodik dan parsial namun terus menerus sampai datangnya ajal.

Dalam firman-Nya Allah telah menegaskan. “Sungguh,” serunya, “orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal shalih), untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” Indah sekali janji Allah bagi hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih. Dengan iman, belief, keyakinan yang kuat dan amal shalih yang nyata serta berkesinambungan kita dapat “sukses” di hadapan Allah. Mereka yang iman dan amalnya baik pun sejatinya sudah sukses sejak di dunia.

 

Hasanah fi ad-Dārain

Sukses ialah dambaan setiap manusia. Lazimnya, yang mendamba mengupayakan apa yang didamba(kan)nya. Sukses dunia memang tidak salah namun sukses hakiki bukan semata duniawi kacamatanya. Sukses dunia itu mulia kalau mampu menghantarkan pada kesuksesan di akhirat nantinya. Dunia tempat menanam, di akhirat kita mengetam. Apapun bentuk sukses dunia harus dibenamkan, ditanam dalam-dalam, supaya yang hadir adalah katawadhuan. Hatta di akhirat kita raih sebenar-benar kesuksesan. Wallāhu a’lamu.

Samsul Zakaria, S.Sy.,

Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga,

Positioning Diri Dihadapan Allah SWT

“Barangsiapa yang menginfakkan dua pasang hartanya dijalan Allah maka dia akan dipanggil disurga, ‘wahai hamba Allah, ini adalah yang baik’. Barang siapa yan tergolong ahli sholat maka dia akan dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yang tergolong ahli sedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sebagian dari kita mungkin belum familiar dengan kata Positioning. Dalam ilmu manajemen Positioning adalah bagaimana produk/barang yang diciptakan memberikan kesan atau persepsi tertentu dibenak konsumen. Sebagai contoh jika kita menyebutkan suatu produk dengan merek A, maka kesan/persepsi kita terhadap produk tersebut adalah bagus, mahal, berkualitas baik dan lain sebagainya. Dengan kata lain produk tersebut dikenal sebagai apa. Lalu apa hubunganya positioning diri dihadapan Allah . Sebagai hamba Allah yang menjalankan segala bentuk aktivitas dan ibadah dimuka bumi ini, tentu saja tujuan akhir dari semua akivitas itu adalah ridho Allah . Selain itu setiap muslim juga ingin dikenali oleh Allah sebagai hambanya yang bertaqwa, karena dengan ketaqwaan itulah yang akan mengantarkan seorang hamba ke surgaNya Allah . Sebagaimana hadist yang telah disebutkan diatas bahwa setiap dari kita akan dipanggil dari pintu – pintu surga yang bermacam-macam sesuai dengan amal ibadah yang kita lakukan selama hidup di dunia ini. Jika selama hidup ini kita rajin berpuasa maka Allah akan panggil hambanya dari pintu surga Ar-Rayyun. Dimana surga ini dikhususkan bagi hambaNya yang rajin dan sungguh-sungguh berpuasa selama hidup dunia. Bagi mereka yang gemar bersedakah semata-mata karena Allah , maka Allah akan panggil hamba tesebut dari pintu sedekah.

Perlukah melakukan positioning diri dihadapan Allah?

Ya, tentu saja perlu. Sejenak coba kita kita renungkan, ingin dipanggil dari pintu manakah kita disurga kelak. Jangan sampai pintu neraka jahanam yang memanggil kita, Naudzubillah. Manusia adalah makhluk yang tak pernah luput dari dosa dan lupa, yang tak pernah lepas dari perbuatan dosa dan nista. Manusia juga terkadang tidak sempurna amal dan ibadahnya. Bahkan dari beberapa ibadah yang dilakukan masih terdapat kesalahan dan ketidaksempurnaan dalam menjalankannya. Kita sadar bahwa tidak semua ibadah dan amalan yang diperintakan Allah dan RasulNya dapat dilakukan dengan baik, terlebih lagi dilakukan dengan sempurna. Karena kita bukanlah nabi yang sempurna amal dan ibadahnya, bukan pula para sahabat yang begitu dekat kesempurnaan iman serta ibadah dan amalnya dimata Allah SWT. Tapi setidaknya dari amal dan ibadah yang kita lakukan ada satu yang benar-benar dan sungguh – sungguh dilakukan. Mungkin diantara kita masih tidak tepat waktu sholat 5 waktunya, masih suka riya ketika sedekah, masih jarang sekali tadarus Al-Quran dan lain sebagainya. Tapi minimal ada satu ibadah atau amalan yang kita coba persembahkan untuk Allah SWT dengan sebaik – baiknya. Bukan berarti menyepelekan ibadah – ibadah yang lain. Ibadah yang lain terutama yang wajib tetap harus dilaksanakan, karena jika tidak dikerjakan maka dosa yang akan kita diterima. Selain itu juga terus berupaya menjalankan segala bentuk perintah Allah dengan sebaik-baiknya.
Kembali lagi kepada positioning diri di hadapan Allah . Kembali lagi kita ingin dikenal oleh Allah sebagai hamba yang seperti apa. Apakah hamba yang ahli sedekah, hamba yang sholatnya terjaga, hamba yang tadarus Al- Qurannya sangat baik, atau hamba yang dikenal Allah sebagai hamba yang rajin Qiyamul lail nya. Jangan sampai kita dikenal oleh Allah sebagai hambanya yang gemar berbuat maksiat, yang gemar berdusta, yang suka membicarakan aib orang lain dan lain sebagainya. Jika diantara kita ingin dikenal oleh Allah sebagai orang yang sholatnya terjaga, maka mulai dari sekarang jaga sholat dengan tepat waktu dan berjamaah dimasjid. Jika diantara kita ingin dikenal oleh Allah sebagai hambanya yang ahli sedekah, maka mulai sekarang sedekahlah dengan rutin dan dengan sedekah yang terbaik yang semata-mata hanya mengharap ridho Allah Jika diantara kita ingin dikenal oleh sebagai ahli qiyamul lail, maka mulai sekarang bangunlah setiap hari disepertiga malam kemudian dirikanlah sholat semata-mata hanya kepada Allah . Sebagaimana hadist Nabi `

“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus disurga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi syaibah)

Pada jaman Rasulullah ada sahabat nabi yang selalu menjaga wudhu dan sholat 2 rokaat setelah berwudhu. Sahabat nabi tersebut adalah Bilal bin Rabbah. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah

“Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau amalkan dalam islam, karena aku sungguh telah mendengar gemerincing sandalmu ditengah-tengahku dalam surga.” Bilal berkata “ Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling kuharapkan disisiku, hanya aku tidaklah bersuci diwaktu malam atau siang, kecuali aku shalat bersama wudhu itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku.” (HR Bukhari).

Kisah yang kedua yaitu pada suatu ketika nabi sedang berkumpul dengan sahabatnya, nabi mengabarkan bahwa akan datang calon penghuni surga. Para sahabat terpukau melihat seorang sahabat yang beruntung tersebut. Kemudian ketika ditanyakan amalan apa yang membuatnya masuk kedalam surga. Sahabat tersebut menjawab bahwa dia memafkan kesalahan orang lain sebelum tidur.
Untuk dikenali oleh Allah sebagai hambaNya yang memiliki nilai lebih terhadap amal/ibadah yang dilakukan, maka amal dan ibadah yang dilakukan juga harus dengan sebenar – benarnya, harus rutin dilakukan terus menerus meskipun ibadah atau amal tersebut terlihat kecil, sebagaimana hadist Nabi

“ Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit” (HR. Muslim) dan yang paling penting ketika melakukan amalan/ibadah apapun ikhlas semata – mata karena Allah.

Amalan yang Paling Dicintai Allah

Membangun penilaian diri dihadapan Allah sebagai hambaNya yang bertaqwa, maka alangkah lebih baiknya setiap ibadah atau amalan yang dilakukan merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah . Karena dengan hal itu maka Allah yang Maha Mencintai akan lebih mencintai hamba tersebut. Lalu amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah . Sebagaimana hadist Nabi Muhammad `,

“ Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit”.

Hadist ini menjelaskan bahwa bukan amalan apa yang paling dicintai oleh Allah, tapi frekuensi dalam mengerjakan amalan tersebut. Sejatinya Allah menyukai semua amalan yang dilakukan hambanya, hanya saja Allah lebih menyukai amalan yang sering dilakukan meskipun kecil. Sebagai contoh ibadah sholat. Akan lebih baik dan sudah seharusnya dilakukan setiap hari pada waktunya, lebih baik lagi dengan berjamaah. Jika tidak dilakukan terus menerus maka akan terhitung dosa karena meninggalkan kewajiban dari Allah .
Hadist serta penjelasan diatas berkaitan dengan topik bagaimana membangun positioning diri dihadapan Allah . Salah satu cara membangun positioning/image diri dihadapan Allah adalah dengan menjalankan perintahnya. Tapi bukan hanya menjalankan sesekali melainkan terus menerus. Jika kita ingin dikenal oleh Allah sebagai hambanya yang ahli sedekah, maka bersedakahlah dengan sedekah terbaik. Jika tidak bisa dengan jumlah besar maka bisa dengan jumlah kecil yang rutin selama periode waktu tertentu. Jika kita ingin dikenal oleh Allah sebagai ahli qiyamul lail maka rutinkan untuk selalu mendirikan sholat disepertiga malam. Begitupun ibadah dan amalan yang lainnya.

Kesimpulan

Sebagai muslim yang taat kepada Allah sudah semestinya menjadikan Allah sebagai tujuan hidup ini. Salah satu strategi atau cara mencapai tujuan tersebut adalah dengan menempatkan diri (positioning) kita sebagaimana yang Allah sudah perintahkan didalam Al-quran. Menempatkan diri dengan cara menjalankan segala bentuk perintahnya dan menjauhi larangannya. Karena sejatinya kita tidak pernah mengetahui dari pintu amalan mana kita akan masuk kedalam surga. Dan sebaliknya dari pintu dosa mana kita akan dimasukan kedalam neraka. Oleh sebab itu persembahkan ibadah dan bentuk ketaqwaan lainnya kepada Allah dengan sebaik-baikinya. Hal ini juga mengajarkan kita untuk tidak meremehkan suatu bentuk ibadah atau amalan yang terlihat seolah-olah kecil tetapi ternyata mempunyai nilai yang besar di mata Allah . Begitupun sebaliknya jangan sampai kita meremahkan satu dosa kecil, karena boleh jadi dosa itu yang membawa kita masuk ke nerakanya Allah . Semua bentuk ibadah dan amalan itu bukan untuk Allah, bukan karena Allah SWT butuh dengan ibadah-ibadah yang hambanya lakukan, karena sejatinya Allah tidak membutuhkan apapun dari hambanya. Melainkan semua ibadah, amalan serta ketaqwaan yang selama hidup ini dilakukan maka akan kembali kepada orang yang mengerjakannya, baik itu berupa balasan di surga kelak ataupun balasan di dunia berupa rejeki, kesehatan, kemudahan dalam mengerjakan urusan dan lain sebaginya.

Ramadhan Achmad F
Fakultas Teknologi Industri

Untukmu yang Bermaksiat

۞وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

(QS. Ali Imran [3]: 133).

Marilah sejenak kita lupakan dunia, lalu merenungkan hidup ini. Mari kita lupakan sesaat segala hiruk pikuk dunia. Mari kita rasakan bahwa kaki kita masih berpijak di muka bumi ini, kita masih menghirup udara segar dengan nikmat dan gratis. Mari kita layangkan pandangan kepada segenap keindahan alam yang sanggup dinikmati oleh kedua mata kita. Lalu tengoklah orang-orang terdekat kita yang tertawa bahagia bersama kita. Maka kita akan segera menyadari betapa wajibnya kita bersyukur kepada Allah . Betapa syukur itu pun tak kan cukup sepadan dengan segala nikmat yang telah kita terima.

Tapi sungguh dunia begitu melenakan, sangat memabukkan, amat melupakan. Seakan gemerlap duniawi memaksa kita terlelap dari kesadaran iman, meninabobokan pada sikap menunda-nunda kebaikan, larut dalam dosa dan kemaksiatan. Serasa semua keindahan duniawi menjelma ibarat fatamorgana yang menyilaukan sekaligus menyesatkan mata. Dan tak sedikit orang yang tak sadar bahkan setelah usia mereka tinggal hitungan detik, naudzubillah.

Sungguh kebahagiaan hakiki terletak pada keimanan, bukan kesenangan duniawi, apalagi pada kemaksiatan. Sungguh, kenyamanan dan kesejahteraan terletak pada ketakwaan. Banyak orang yang mengetahui dan memahami di mana letak kebahagiaan yang sejati. Tapi dengan sepenuh kesengajaan ia mencarinya di tempat lain. Namun, lagi-lagi kita masih diberi kesempatan kedua, bahkan ketiga, keempat, dan seterusnya, untuk kembali ke tempat dimana kebahagiaan hakiki itu berada. Tak pernah ada kata terlambat untuk bertaubat, selagi hayat masih dikandung badan, senyampang nyawa masih berbalut raga. Meski tentu, soal bertaubat, lebih cepat lebih baik.

Sebuah Pengakuan

Setiap kita memiliki dosa, kesalahan dan kemaksiatan. Adakah di antara kita yang tidak bermaksiat kepada Allah dengan beragam jenis dosa dan kesalahan? Adakah di antara kita yang tidak melampui batas terhadap dirinya sendiri dengan terjerumus ke lembah kemaksiatan dan kehinaan? Sesungguhnya dosa dan kesalahan, kemaksiatan, dan kehinaan adalah sebuah gerbang yang setiap dari kita pernah memasukinya, sebuah samudera nan luas yang semua dari kita pernah mengarunginya, sebuah cawan yang masing-masing kita pernah meneguknya; setiap kita telah merasakannya. Tapi ada di antara kita yang menyedikitkan dan yang memperbanyaknya, Nabi  bersabda:

“Setiap anak Adam adalah pelaku kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang senantasa bertaubat.” (Shohih Jami’ Sunan At-Tirmidzi, karya Syaikh  al-Albani, no. 2029, dari Anas dengan sanad hasan)

Beliau  juga bersabda:

Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan benar-benar akan menciptakan suatu kaum yang mereka berbuat dosa, kemudian memohon ampunan kepada Allah, lalu Dia pun mengampuni mereka.” (Mukhtashar Shahih Muslim, No. 1922 dari hadits Abu Hurairah).

Tidaklah semua itu melainkan sebagai bukti nyata bagi nama-nama Allah yang Indah dan sifat-sifatNya yang Tinggi. Dia adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat. Rahmat-Nya mendahului kemurkaan-Nya dan kesantunan-Nya lebih cepat daripada hukuman-Nya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut kita bertakwa kepada-Nya.
Wahai saudaraku seiman, Allah mengetahui bahwa banyak di antara kita tidaklah bermaksiat kepada-Nya karena lancang terhadap-Nya, bukan pula menganggap remeh terhadap keagungan-Nya, tidak juga karena merasa aman dari siksaan-Nya, bukan pula karena bersenang-senang dengan menyelisihi-Nya. Itu hanyalah disebabkan oleh jiwa kita yang lemah yang tergelincir, setan-setan terkutuk yang telah menyesatkan, dunia yang hina-dina yang telah bersolek untuk manusia, teman-teman buruk (akhlaknya) yang telah membantu dan teman-teman baik yang telah menjauh dari kita dan memisahkan diri.
Kita juga bukanlah orang-orang yang terpelihara dari perbuatan dosa (ma’shum), karena kema’shuman hanyalah bagi para Nabi dan Rasul yang telah dipilih oleh Allah . Barangsiapa selain Nabi dan Rasul mengklaim bahwa dirinya ma’shum, sungguh dia telah berbuat dusta yang besar dan menjadi sekutu setan yang terkutuk. Rasulullah  bersabda:

“Tidak seorang pun hamba mukmin melainkan dia memiliki dosa yang biasa dia kerjakan dari waktu ke waktu atau dosa yang dia tetapi yang tidak bisa dilepaskannya hingga dia berpisah dengan dunia. Sesungguhnya seorang mukmin diciptakan dalam kondisi selalu diuji, bertaubat, dan senantiasa lupa, ketika diingatkan maka dia pun ingat.” (Ash-Shahihah, karya Syaikh al-Albani, no. 2276, dari Ibnu Abbas).

Dosalah yang menyebabkan terhina di dunia dan mendapatkan siksa akhirat. Tidaklah keburukan mengepung seorang hamba, tidak pula sesuatu yang tidak dia sukai dia dapatkan, dan tidak juga musibah menimpanya melainkan disebabkan oleh dosa-dosanya. Allah  berfirman:

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. al-Ankabût [29]: 40).

Maka, tidak ada jalan lain yang harus ditempuh oleh seseorang yang telah melakukan dosa dan maksiat, kecuali bersegera untuk kembali kepada Allah dan bertaubat kepada Nya. Dalam risalah ini, akan diutarakan hal-hal yang harus dilakukan oleh seseorang yang bertaubat dengan berpedoman kepada Kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya.

Pertama, hendaknya kita meyakini sepenuhnya bahwa pintu taubat dan ampunan dari Allah senantiasa terbuka. Maka, adalah haram bagi seorang mukmin untuk berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah .

“Katakankanlah: ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Zumar [39]: 53).

Yakinkan dan katakan dalam hati, wahai Rabb meskipun dosa-dosa hamba begitu banyaknya, hamba mengetahui bahwa maaf-Mu lebih agung dan lebih tinggi. Wahai Rabbku, hamba berdoa kepada-Mu dengan penuh ketundukan seperti yang Engkau perintahkan. Tiada perantara hamba kepada-Mu selain pengharapan. Dan keindahan maaf-Mu, kemudian hamba benar-benar berserah diri kepada-Mu.

Ingatlah selalu apa yang disampaikan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits Qudsy: dari Anas , ia berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda:

“Allah  berfirman, ‘Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukanku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberi ampunan sepenuh bumi pula” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih).

Kedua, jika terlanjur berbuat maksiat, upayakan untuk tidak melakukannya secara terang-terangan dan tutuplah rapat-rapat kemaksiatan itu, segera hentikan perbuatan tersebut, lalu segeralah bertaubat dan tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut selamanya.

Pernahkah melihat orang-orang yang secara terang-terangan meremehkan panggilan shalat (adzan)? Atau melihat orang-orang nongkrong sambil minum-minuman keras di pinggir jalan? Atau, pernahkah Anda mendengar orang yang dengan bangga bercerita tentang perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya? Ketahuilah, itu adalah bentuk perbuatan terang-terangan dalam bermaksiat kepada Allah . Perbuatan demikian adalah dosa yang sangat tercela selain dosa dari kemaksiatan itu sendiri, karena dia telah meremehkan kebesaran Allah . Bahkan perbuatan ini dapat menutup pintu ampunan dari Allah . Rasulullah bersabda:

”Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa).”(HR. Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990).

Allah  juga mengancam pelaku perbuatan ini dengan siksa di dunia dan akhirat. Dia  berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui (Q.S. al-Nûr [24]: 19).

Ketiga, mengokohkan keimanan dengan memperbanyak belajar ilmu agama seraya menghadiri kajian-kajian ilmu, memperbanyak ibadah, mengisi setiap detik demi detik waktu yang dimilikinya dengan hal-hal yang bermanfaat serta mendatangkan ridha Allah , dan bergaul dengan kawan-kawan yang shalih. Menurut Ibn al-Qayyim rahimahullah, kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati adalah penangkal kemaksiatan, dan salah satu sebab diterimanya taubat. Karena salah satu syarat diterimanya taubat adalah tidak kembali mengulangi perbuatan dosa kemaksiatan yang telah dilakukan. Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat. Apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah. Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh dan ilmu tentang bagaimana agama mengajarkan cara mengokohkan keimanannya, maka sungguh dia telah keliru.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatNya kepada kita, sebab hanya dengan rahmat Allah sajalah kita akan mampu bertaubat dan menjauhi maksiat.

Wallahu a’lam bi al-shawwâb.

Musta’in Billah

MUTIARA HIKMAH

Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.)

Berbuat Baik Kepada Tetangga

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا

Artinya : “…….dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”.

(QS. An-Nisa [04]:36)

Suatu ketika, saat sedang lahapnya menyantap makan siang, tiba-tiba ada pengemis datang menghampiri. Apa yang akan kita lakukan? Apakah membiarkan pengemis tersebut menadahkan tangan disertai dengan rintihan suara meminta. Ataukah langsung memberi pengemis, tetapi dengan memperhitungkan jumlah uang yang akan diberikan. Ataukah langsung memberinya, tanpa mementingkan  nominal uang yang diberikan kepada pengemis tersebut. Dari ketiga opsi di atas, manakah yang menggambarkan diri kita?

 

Seberapa besar rasa peduli kita terhadap sesama manusia? Seberapa besar manfaat diri kita untuk orang lain? Serta berapa berartinya diri kita bagi orang lain? Dengan analogi di atas dan pertanyaan ini, bisa kita jadikan tolok ukur untuk mengetahui sejauh mana kepedulian, kemanfaatan dan keberartian diri kita terhadap orang lain. Untuk menguji hal tersebut, yaitu bisa diukur dari hal yang terkecil, misalnya dengan tetangga.

 

Siapakah yang dimaksud dengan tetangga? Tetangga adalah orang yg tempat tinggalnya (rumahnya) berdekatan; orang terdekat dalam kehidupan setelah keluarga. Tidaklah kita keluar dari rumah melainkan  melewati rumah-rumah tetangga. Di saat kita  membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil, maka tetanggalah orang pertama yang kita ketuk pintunya. Bahkan di saat kita tertimpa musibah, misalanya salah satu anggota keluarga ada yang meninggal dunia. Maka secara otomatis, tetangga itu akan datang untuk membantu dan mengurusi ini dan itu. Saat ini, seberapa dekatkah kita dengan tetangga?

 

Kedudukan tetangga di mata Islam sangat tinggi. Bahkan Rasulullah mengaitkan kesempurnaan keimanan seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir dengan sikap memuliakan tetangga, Rasulullah bersabda: “Siapasaja yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” (HR. al-Bukhari no. 6019, dari sahabat Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu)

 

Sungguh mulia dan besar kedudukan tetangga.  Allah memasukkannya di dalam sepuluh hak yang harus dipenuhi oleh seorang hamba sebagaimana firman Allah , artinya: “….. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa` [04]:36).

 

Berbagi dengan Tetangga 

Dalam keseharian beraktifitas tentu tidak terlepas dari tetangga. Entah itu untuk bertegur sapa, ngobrol atau bahkan meminjam barang yang tidak kita miliki, misalnya cangkul atau lain sebagainya. Dalam hal pinjam meminjam dalam kehidupan bertetangga merupakan hal yang lumrah, apalagi untuk meminjam barang tersebut dengan tujuan untuk  mengambil manfaat dari barang tersebut.

 

Bisa dibayangkan apabila tetangga yang kita kurang dermawan alias pelit. Jika kita perhatikan hadits Rasululullah : Dari Abu Zar , katanya: “Rasulullah bersabda: “Hai Abu Zar, jikalau engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan saling berjanjilah dengan tetangga-tetanggamu – untuk saling beri-memberikan”. (HR Muslim)

 

Dari hadits di atas jelaslah, bahwa adab dalam bertetangga adalah saling memberi. Dermawan serta tidak perhitungan ketika memberikan pertolongan terhadap tetangga yang membutuhkan. Mungkin disekeliling kita terdapat tetangga yang demikian, tetapi sebagai tetangga yang baik dan mengerti betul akan adab bertetangga tentu tidak selayaknya untuk membenci apalagi membuat merasa tidak nyaman untuknya, melainkan terus mengingatkan secara santun dan cara yang baik pula.

 

Dari hadits di atas, jelas kita dianjurkan untuk berbagi dengan tetangga, saling memberi makanan dan lain sebagainya. Selain itu, berbagi makanan dapat menambah akrab serta eratnya tali silaturahmi antar tetangga. Untuk itu ketika memiliki makanan yang lebih dianjurkan untuk berbagi dengan tetangga yang lebih dekat pintunya.

 

Dengan berbagi, itu menandakan bahwa kita peduli serta menjaga tali silaturahmi dengan tetangga. Rukun dalam bertetangga itu sangat dianjurkan seperti dalam sebuah syair tanpo waton (tanpa judul) : Kelawan konco, dulur lan tonggo, Kang padha rukun ojo dursilo…. Iku sunnahe rasul kang mulyo, nabi Muhammad panutan kito…”. 

 

Memberikan Kenyamanan 

Menyakiti tetangga adalah sebuah kejahatan yang sangat diharamkan dalam Islam. Diriwayatkan oleh Abu Syuraih, dari Rasulullah , “Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman. Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapa orang itu wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya.” (HR. Bukhari)

 

Memberi perlindungan bagi tetangga yang lain dari sesuatu hal, misalnya saja pencurian, penipuan dan lain sebagainya adalah anjuran Islam. Sudah jelas bahwa Rasulullah mengulang kalimatnya sampai tiga kali bagi siapa yang membuat rasa ketidaknyamanan bagi tetangganya. Untuk itu, ketika kita mengendari mobil, motor bahkan menyetel musik sebaiknya sekedarnya saja, bisa jadi ada tetangga yang merasa terganggu dengan suara gaduh tersebut.

 

Dikisahkan ada seorang âbid yang mempunyai tetangga non-muslim. Sang tetangga memiliki kamar mandi di atas rumahnya, dan bocor.  Sehingga air merembes masuk ke dalam rumah muslim tersebut. Setiap hari Ia selalu menadahi air yang berasal dari kamar mandi tetangganya dengan ember. Suatu ketika seorang âbid ini sakit parah, dan tetangga non-muslim pun menjenguknya. Ketika sang tetangga ini memasuki rumahnya, sang tetangga tahu bahwa air yang menetes itu berasal dari kamar mandinya. Ia pun bertanya, “air dari manakah ini”? sang  âbid pun mencoba mengalihkan pembicaraannya. Tetapi sang tetangga terus bertanya, air dari manakah ini yang anda tampung? Akhirnya  Ia menjawab, “Bahwa air itu adalah air rembesan dari kamar mandi Anda”.

 

Sang tetangga terus bertanya, “Berapa lama Anda menampungnya”?  sudah 18 tahun, jawab sang ‘abid. Kenapa anda tidak megadukannya padaku? Sang âbid menjawab : “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, anda adalah tetangga saya maka kewajiban saya adalah memuliakan anda“. Betapa terkejutnya sang tetangga itu, Ia merasa takjub dan akhirnya sang tetangga non-muslim tersebut masuk Islam. 

 

Penutup 

Dalam pergaulan sehari-hari tentu peran tetangga sangat penting, baik sebagai teman ngobrol, teman berbagi serta ladang untuk menuai pahala dari Allah . Beruntung jika memiliki tetangga yang baik, karena tetangga yang baik itu lebih mahal dari harga rumah atau tanah yang kita tempati, tetangga yang baik tidak ternilai harganya.

 

Rasulullah menganjurkan kita berdoa agar terhindar dari tetangga yang jahat. Karena memiliki tetangga yang jahat bisa menjadikan rasa tidak aman, bahkan seluruh kampung tersebut akan terkena dampaknya. Untuk itu maka ketika mencari rumah baru, yang harus diutamakan adalah mencari lingkungan (tetangga) yang baik lebih dahulu, atau dengan kata lain memilih tetangga sebelum memilih rumah.

 

Menjalani kehidupan bertetangga dengan baik dan saling menunaikan hak masing-masing merupakan suatu kebahagiaan dan tanda kebaikan sebuah masyarakat. Rasulullah   bersabda, “Ada empat perkara yang termasuk dari kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan ada empat perkara yang termasuk dari kesengsaraan; tetangga yang jelek, istri yang jahat (tidak shalihah), tunggangan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban)

 

Dalam hadits lain rasulullah bersabda,“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah mereka yang terbaik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang terbaik kepada tetangganya.”(HR. at-Tirmidzi) Marilah kita berbuat baik terhadap tetangga, serta memberikan hak-hak atasnya. Sebelum memasuki Bulan Ramadhan, mari cek kembali bagaimana hubungan kita dengan tetangga sekitar. Jika belum baik, tidak ada salahnya untuk diperbaiki. Jika sudah baik, silakan dipertahankan dan terus dijaga. Semoga kita termasuk orang-orang yang memuliakan tetangga. Amīn []

Amir

Belajar di UII

Mutiara Hikmah

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia.” (Adabud Dunyaa wad Diin, karya Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardiy, hal.48)

ISLAM DAN KHAZANAH KEILMUAN

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(QS. al-Mujâdilah [58]: 11)

Kata ilmu dalam bahasa arab berasal dari kataع-ل-م (‘ain-lam-mim) yang mana Ibnu Faris memaknainya dengan dampak sesuatu yang dapat membedakan dari yang lain. Tidak jauh berbeda dengannya, Raghib al-Ashfahani mengatakan bahwa ilmu adalah mengetahui hakikat akan sesuatu. Dalam al-Quran, dengan berbagai derivasinya kata ilmu terulang sebanyak 854 kali. Adapun derivasi tersebut dalam bentuk sebagai berikut; ‘alima , ya‘lamu, i‘lam , ‘allama , yu‘allimu, yata’allamu, ‘ilmun, ‘alim, a’lam, ma‘lum, ‘alamin, ‘alamat, ‘aliim, ‘allam dan mu‘allam. Namun, jika kita mengkhususkan pada kata “ilmu” dalam al-Qur’an ia terulang sebanyak 105 kali. Dengan jumlah sekian banyak menandakan bahwa al-Qur’an sangat mengutamakan kedudukan ilmu di dalamnya.

Dalam surat al-Zumâr ayat 9 Allah  telah membedakan antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Al-Zumar [39] : 9).

Dari ayat di atas jelas disebutkan bahwa orang-orang yang mengetahui (berilmu) tidak sama dengan orang-orang yang tidak mengetahui. Perbedaan antara keduannya akan sangat berpengaruh dalam tindakan sehari-hari. Akan terlihat jelas bagaimana cara orang-orang cerdas menyelesaikan masalah sangat berbeda dengan mereka yang ceroboh, tidak memikirkan implikasi dari apa yang telah dilakukannya. Orang yang berilmu tentu lebih futuristik dan visioner, yang telah memikirkan dampak dari perbuatan yang dilakukannya.

Keilmuan senantiasa akan membawa umat manusia kepada ketenteraman, akan membebaskannya dari keterbelengguan hidup karena ilmu sejatinya akan menyelesaikan permasalahan dengan bijak. Sebaliknya, kebodohan merupakan petaka terbesar bagi umat manusia. Ia akan merumitkan permasalahan yang ada karena ketidakcerdasan dalam menghadapinya.

Di lain tempat, Allah  juga mengangkat derajat orang-orang berilmu baik di bumi maupun di akhirat, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Mujadilah ayat 11 di atas.

Dari ayat ini juga sangat terang dikatakan bahwa orang-orang berilmu senantiasa memiliki derajat yang tinggi disisi Allah . Orang-orang berilmu menjadi orang yang terpandang didunia karena keilmuannya, mereka juga mendapat tempat tempat yang layak disisi Allah di akhirat kelak. Nabi juga bersabda: “Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” (HR. Muslim).

Sangat banyak dalil keagamaan yang yang menyatakan tentang keutamaan ilmu karena ia merupakan poros peradaban dan pusat kemajuan suatu umat. Hakikat ilmu sesungguhnya terletak pada solving problem-nya, ketika ilmu itu tidak bisa menyelesaikan problem umat dan problem kemanusiaan, maka ilmu tersebut tidak bisa dikatakan bermanfaat. Karena Allah menganugerahkan ilmu kepada manusia sebagai perangkat solving problem, agar manusia bisa menepis semua permasalahan yang menghambat kehidupannya.

Jika kita merenungi wahyu pertama (surah al-Alaq) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad , maka kita ketahui bahwa ayat tersebut berbicara tentang khazanah keilmuan. Sebagai wahyu pertama, khazanah keilmuan merupakan syarat mutlak untuk menguasai peradaban dunia. Dalam ayat ini Nabi Muhammad diperintahkan untuk belajar baca-tulis (iqra’ – qalam) sebelum menjadikan peradaban Islam yang menggetarkan dunia. Dengan keilmuan, Nabi Muhammad kemudian mencetak generasi sahabat sebagai generasi terbaik dalam sejarah yang ada dalam peradaban Islam. Tentunya ilmu di sini berkaitan erat dengan moralitas dan akhlaq karimah. Islam tidak memisahkan antara intelektualitas dan spiritualitas, karena keduanya saling berkaitan (intergrated-interconnected), saling menunjang satu dengan yang lainnya.

Ilmu juga dapat mengekalkan amal, pahalanya akan terus mengalir walaupun jasad telah dikubur karena selain sedekah jariyah dan anak yang shalih, ilmu yang bermanfaat juga termasuk dalam kategori amal yang pahalanya tidak terputus walau seseorang telah meninggal dunia. Dari pernyataan tersebut juga dapat dilihat bahwa ilmu tidak saja bermanfaat di dunia, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Dengan ilmu yang pernah diajarkan kepada orang lain, seseorang akan selalu memperoleh keuntungan darinya, selama ilmu itu bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, walaupun tidak lagi berada di alam dunia ini. Pahala-pahala kebaikan ini akan terus mengalir sebagai  pendongkrak amal kebaikan.

Dengan demikian, Islam adalah agama ilmu, ilmu kemaslahatan hidup di dunia maupun keselamatan akhirat. Namun seiring dengan pergeseran tujuan hidup manusia, motivasi menuntut ilmu pun mulai bergeser. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia mulai condong kepada ilmu duniawi dan menomor duakan, bahkan melupakan ilmu dien (agama). Padahal Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS. al-Rûm [30]: 7).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu dien Islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/428). Syaikh Abdurrahman ibn Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya.”

Maka dari itu, seorang Muslim hendaknya mampu menyeimbangkan proses belajar mereka akan ilmu-ilmu duniawi dan ilmu-ilmu akhirat, dan keduanya pun harus dijalani dengan penuh ketekunan dan kesungguhan. Maka, ingatlah apa yang difirmankan oleh Allah : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. al-Qashshash [28]: 77).

Fadhli Espece
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

DZULHIJJAH BULAN PENUH BERKAH

﴾وَالۡفَجۡرِۙ‏ ﴿۱﴾ وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ‏ ﴿۲

“Demi fajar, Dan malam yang sepuluh”( QS.Al-Fajr [89] : 1-2)

Segala karunia yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya berupa rahmat, ampunan, serta kasih sayang yang begitu besar. Sebagai seorang hamba, kita senantiasa mensyukuri atas segala karunia tersebut. Begitu besarnya wujud kasih sayang-Nya, kepada seluruh ciptaan-Nya, termasuk juga telah memberi keistimewaaan pada tempat dan waktu. Sehingga setiap hamba mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pahala yang lebih, pada keistimewaan yang terdapat pada tempat dan waktu tertentu yang telah Allah berikan, dan diperuntunkan bagi semua hamba-Nya.

Rasulullah , telah memberitahukan keistimewaan pada beberapa tempat seperti di masjid Nabawi dan masjidil Haram, Dimana beribadah di masjid Nabawi memiliki keutamaan seribu kali dibandingkan di tempat lain kecuali dengan di masjidil Haram, sedangkan beribadah dimasjidil Haram lebih utama seratus ribu kali dibandingkan ditempat lainya.

Begitu juga halnya dengan waktu, Allah juga telah memberikan keistimewaan pada waktu, seperti waktu yang mustajab untuk berdoa dan beribadah pada waktu sepertiga malam, antara adzan dan iqamah, pada hari jum’at dan lain sebagainya. Termasuk juga memberikan keistimewaaan pada hari-hari disetiap bulannya. Dalam Islam, kita mengetahui beberapa bulan diantaranya bulan Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah. Dari bulan-bulan tersebut terdapat keistimewaan pada tiap hari-harinya yang tidak terdapat pada bulan yang lain, seperti keistimewaan yang terdapat pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Allah telah berfirman dalam surah al-Fajr [89]: 2, “Dan malam yang sepuluh”. Adapun mengenai makna dari ayat tersebut, sebagian ulama menafsirkan malam yang sepuluh itu ialah malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, ada pula yang mengatakan sepuluh yang pertama dari bulan Muharram dan ada pula yang mengatakan malam sepuluh itu, ialah sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan makna sepuluh malam di bulan Dzulhijjah, dengan merujuk sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda, “Tiada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, para sahabat bertanya, ‘Tidak pula jihad di jalan Allah?’ Rasulullah menjawab, ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar dengan membawa jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali setelah itu “ (HR al-Bukhari).

Dalam Imam Ahmad dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda,“Yang sepuluh itu adalah sepuluh hari hari Idul Adha, yang ganjil adalah hari arafah, dan yang genap adalah hari nahar kerena hari nahar jatuh pada hari kesepuluh” (HR Ahmad). Dan masih ada beberapa hadits dari Rasulullah serta pendapat para ulama yang menyatakan tentang keutamaan sepuluh hari pertama dalam bulan Dzulhijjah.

 

Amalan di Bulan Dzulhijjah

Allah telah bersumpah dalam  surah al-Fajr [89] ayat 1-2, makna dari Allah bersumpah menandakan suatu yang sangat agung dan terdapat suatu keistimewaan yang begitu besar. Seperti pendapat Ibnu Katsir yang memberikan penjelasan bahwa malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah dengan demikian maka pada hari-hari tersebut terdapat keistimewaan yang sangat besar. Selain dari ayat tersebut terdapat beberapa hadits Rasullulah yang telah menyebutkan keistimewaan serta berkah di bulan Dzulhijjah, oleh karena itu sebagai seorang Muslim hendaklah kita juga memuliakan hari-hari tersebut. Dengan memperbaiki serta meningkatkan segala amal ibadah kita. Adapun amalan-amalan yang bisa kita lakukan di bulan Dzulhijjah seperti:

  1. Memperbanyak Berdzikir (mengingat Allah)
  2. Setiap waktu kita harus senantiasa meningkatkan kualitas ibadah kita, pada bulan Dzulhijjah ini kita pun perlu meningkatkannya dengan memperbanyak berdzikir: (takbir, tahmid, dan tahlil). Sebagaimana hadits Thabrani yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada hari-hari yang lebih besar disisi Allah dan tidak ada amalan yang lebih dicintai selain pada sepuluh hari itu. Maka perbanyaklah pada hari tersebut tahlil, takbir dan tahmid (HR Thabrani).

    Dalam riwayat Imam Ahmad, dari Umar, bahwa Nabi bersabda, “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan didalamnya dari pada sepuluh hari (Dzulhijjah ) ini , maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid” (HR Ahmad). Oleh kerena itu pada bulan Dzulhijjah ini kita senantiasa meningkatkan segala amal kebaikan kita dan memperbanyak berdzikir kepada Allah serta dianjurkan untuk  memperbanyak takbir pada saat malam Idul Adha tanggal 10 sampai selesainya hari tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah)

  3. Ibadah Haji dan Umrah
  4. Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan haji. Umat Islam diseluruh dunia pada saat ini sedang menunaikan ibadah haji. Allah berfirman, “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi,” (QS al-Baqarah [2]: 197), mengenai bulan yang dimaklumi untuk melaksanakan ibadah haji, jumhur ulama sepakat bahwa bulan musim haji adalah Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Selain itu ada sebuah hadits yang menyebutkan keutamaan umrah dan haji yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda, “Umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga“. (HR al-Bukhari).

  5. Puasa Sunnah 1-9 Dzulhijjah,
  6. Di bulan Dzulhijjah kita dianjurkan berpuasa di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah dari tanggal 1-9 Dzulhijjah, terlebih puasa sunnah pada tangal 9 Dzulhijjah, atau yang kita kenal dengan puasa Arafah. Para pendahulu kita (salafush shalih) biasa melakukan puasa tersebut bahkan lebih semangat dari melakukan puasa enam hari di bulan Syawal. “Rasulullah biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR Abu Daud no. 2437)

    Menurut para ulama bagi orang yang sedang tidak berada di Arafah untuk menunaikannya. Karena fadhilah yang begitu besar dari puasa tersebut, dapat menghapus dosa selama dua tahun, yaitu dosa setahun yang telah berlalu dan satu tahun yang akan datang Rasulullah bersabda, “Saya berharap kepada Allah agar dihapuskan dosa setahun sebelum dan setahun sesudahnya” (HR Muslim).

    Nabi sendiri juga tidak pernah meninggalkan puasa Arafah, ketika beliau memang sedang tidak dipadang Arafah, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Hafshah berkata; “Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu puasa Asyura, puasa arafah, puasa tiga hari setiap bulan, dan shalat dua raka’at sebelum shubuh.” (HR Ahmad)

  7. Menyembelih Qurban
  8. Bagi seorang Muslim pada bulan Dzulhijjah kita disyariatkan untuk menyembelih hewan qurban seperti sapi, kambing maupun unta yang dimulai pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah selesai shalat ‘id sampai dengan hari tasyrik yaitu pada tanggal 11,12,13 Dzulhijjah. Sebagai wujud pengorbanan yang kita lakukan dengan semata-mata hanyalah mengaharapkan ridha-Nya, Allah telah memerintahkan hambanya untuk berqurban sebagaimana firman-Nya, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqorbanlah (QS al-kautsar [108]: 2)

    Menurut Ibnu Katsirmakna dari perintah tersebut adalah “Sebagaimana kami telah memberikan kebaikan kepada mu yang sangat banyak, baik di dunia maupun di akhirat, maka beribadahlah kamu dengan ikhlas kepada Tuhan mu dan berkurbanlah, yaitu hendaklah kamu melaksanakan sholat wajib dan nafilah dengan ikhlas  begitu pula dengan korban mu, yaitu sembelihan kamu. Maka hendaklah kamu menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan tidak menyekutukan dengan yang lain”.

  9. Banyak Beramal Shalih.
  10. Berupa ibadah sunnah seperti shalat, sedekah, jihad, membaca al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya. Wa Allahu a’lam bi al-shawwab.[]

 

Norkholis
Mahaiswa UIN Sunan Kalijaga
Jurusan Ilmu al Quran dan Tafsir

HIJAB DALAM ISLAM

Dunia mode sedang diramaikan dengan istilah hijab stylish. Kehadiran mode ini menambah variasi aksesoris wanita agar terlihat cantik. Hijab stylish hadir dengan memadukan cara berpakaian Islam dengan gaya modern zaman sekarang yang serba glamour, Namun beberapa kalangan banyak berselisih pendapat tentang hal ini. Bolehkah seorang muslimah dalam Islam menggunakan hijab dengan model stylish seperti yang sedang diboomingkan? Bukankah wanita juga ingin terlihat cantik sehingga termasuk hal yang wajar jika wanita menggunakan mode seperti ini? Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang hal ini?

Islam merupakan agama yang memuliakan wanita. Seorang wanita diperintahkan untuk menutup aurat, menjaga diri dari pergaulan dan fitnah serta kemuliaan-kemuliaan lainnya. Mayoritas orang berpandangan bahwa dengan cara tersebut, Islam telah memboikot wanita padahal jika kita lihat zaman sekarang banyak sekali prostitusi-prostitusi dan pelecehan-pelecehan seksual yang menjerat wanita-wanita baik muslim atau tidak. Sebabnya adalah wanita tidak bisa menjaga diri dari ancaman yang ada. Padahal al-Qur’an sudah menawarkan kepada wanita kiat-kiat menjaga diri salah satunya adalah berhijab.

Dalam QS al-Nahl [16]: 90 Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah memerintahkan (kepadamu) untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia member pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa semua perkara yang dilarang oleh Allah     dalam Islam pastilah mengandung keburukan dan kerusakan, sebagaimana semua perkara yang diperintahkan-Nya pasti membawa manfaat. Oleh karenanya, setiap muslim yang beriman kepada Allah dan kebenaran agama-Nya wajib meyakini bahwa semua aturan yang ditetapkan Allah merupakan kemaslahatan, termasuk didalamnya yang berkaitan dengan pakaian dan perhiasan wanita muslimah adalah untuk kemaslahatan, kebaikan dan penjagaan bagi kesucian diri dan kehormatan.

Allah berfirman dalam surah al-Ahzab [33]: 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Ayat ini secara ringkas menjelaskan hikmah menggunakan jilbab bagi seorang wanita adalah agar mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Syaikh Abdurrahman al-Sa’di mengatakan bahwa wanita yang tidak memakai jilbab, boleh jadi orang akan menyangka ia bukan seorang wanita yang afifah (terjaga kehormatannya), sehingga orang yang ada penyakit di dalam hatinya (syahwat) akan mengganggu dan menyakiti wanita tersebut. Sehingga dengan menggunakan jilbab (yang sesuai syariat) akan mencegah (timbulnya) keinginan buruk terhadap diri wanita dari orang-orang yang mempunyai niat buruk. (Tafsirul Karimir-Rahman, hal. 489)

Dalam ayat lain pada QS al-Ahzab [33]: 53, “Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi) maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu al-Syaikh mengatakan bahwa tabir (hijab)  sebagai hati orang-orang beriman. Hal ini semata-mata untuk menghindari peluang fitnah antara laki-laki dan perempuan bukan mahram yang dapat menimbulkan kerusakan akibat keinginan buruk orang yang ada penyakit di dalam hatinya.

Selain itu, Allah dalam QS. al-Ahzab [33] ayat 33 berfirman, “Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (berhias) seperti kebiasaan wanita-wanita jahiliyah yang dahulu

Dari keempat ayat diatas Allah telah menjelaskan kiat-kiat wanita untuk selalu menjaga kesucian dan kehormatannya dari orang-orang yang memiliki penyakit dalam hatinya yaitu dengan cara berjilbab, berhijab dan tidak ber-tabarruj.

Adapun kriteria hijab syar’i yang memenuhi syarat adalah:

  1. Menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan, merujuk kepada QS al-Ahzab [33]: 59 dan sabda Nabi kepada Asma’ binti Abu Bakar.
  2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan, merujuk kepada QS al-Nur [24]: 31 dan sabda Nabi mengenai tiga golongan yang termasuk orang-orang yang binasa.
  3. Kain harus tebal, tidak transparan, merujuk kepada hadits Shahih HR. al-Thabrani dalam Mu’jamus Shagrir (II/127-128)
  4. Longgar (tidak ketat), merujuk kepada hadits hasan HR. al-Dhiya al-Maqdisi dalam al-Ahadits al-Mukhtarah (IV/149, no 1365)
  5. Tidak menggunakan wewangian, merujuk kepada hadits hasan HR. Ahmad (IV/400,418)
  6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki, merujuk kepada hadits Sahih HR. Abu Dawud (no.4098)
  7. Tidak menyerupai pakaian wanita jahiliah sebab dalam syariat Islam telah ditetapkan bahwa kaum Muslim tidak boleh tasyabbuh (menyerupai) orang kafir baik dalam ibadah, hari raya, dan berpakain .
  8. Bukan Pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas), merujuk kepada hadits hasan HR. Abu Dawud (no. 4029) dan Ibnu Majah (no. 3607)
  9. Diutamakan berwarna gelap, merujuk kepada hadits shahih HR.Abu Dawud (no.4101) sebagian ulama membolehkan seorang Muslimah berpakain selain hitam akan tetapi digunakan bukan sebagai perhiasan. (Jilbab al-Mar-atil Muslimah hlm, 82-83)
  10. Tidak mengunakan pakaian yang terdapat makhluk yang bernyawa.

Apabila pakaian yang dikenakan telah memenuhi kriteria di atas maka telah disebut sebagai pakaian syar’i. Namun perlu diketahui bahwa penentuan kriteria pakaian muslimah merupakan kesepakatan dari para ulama. Ketentuannya akan terus berubah seiring perjalanan waktu dan pemahaman. Namun pada dasarnya kembali pada tujuan al-Qur’an memerintahkan seorang wanita untuk menggunakan hijab adalah agar wanita tersebut mudah dikenali dan tidak diganggu. Apabila dengan menggunakan potongan seperti rok dan baju muslim seorang wanita sudah bisa dikenali dan sesuai dengan syarat-syarat diatas maka pakaian tersebut telah disebut sebagai pakaian yang syar’i.

Jadi, tidak perlu berdebat tentang bagaimana seharusnya pakaian wanita yang sesuai syara’ karena semua yang kita lakukan dan diperintahkan oleh Allah mengandung unsur kemaslahatan yang baik, maka kembalilah pada tujuan seorang wanita memakai hijab, yaitu sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya yang memiliki manfaat menjaga diri dan kehormatannya untuk menghindari peluang fitnah dan menghindari orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya. Orang-orang beriman akan tahu bahwa segala kebenaran apapun itu hanya ditentukan oleh Allah bukan oleh seberapa pintar pengetahuan karena sesungguhnya pengetahuan Allah meliputi langit dan bumi.

Tujuan berhijab adalah menjaga kesucian diri bukan untuk menghias diri maka tanyakanlah dalam hati untuk apa kita berhijab? Zaman sekarang, koridor hijab sudah dijadikan mode yang bisa jadi mengajak muslimah untuk menghias diri bukan untuk mensucikan diri. Untuk menjawab hal ini saya mengajak semua para wanita untuk berpikir apa yang tersirat dalam hati masing-masing, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Ketika seorang berniat melakukan kebaikan pasti Allah menolongnya dan tidak mengabaikannya. Begitu sebaliknya, ketika seorang berniat kebaikan tetapi riya’ maka Allah tidak akan menolongnya kecuali ia mau bertaubat atas perbuatannya. Ya, jawabannya adalah tergantung niat. Ketika kita berniat menjaga kehormatan diri maka kita akan selalu berhati-hati dalam berperangai dan berpakaian, lain halnya jika tidak. Ketika wanita berniat untuk berhijab maka ia selalu istiqomah di jalanNya dan selalu mempelajara ilmu agama lain-Nya untuk mendukung niat tersebut. Hanya Allah Dzat yang maha tahu segala-galanya.

Lalu, apakah wanita tidak boleh mempercantik diri dalam Islam? Padahal wanita hakikatnya ingin tampil cantik?

Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Agama universal untuk semua umat dari semua zaman. Tentunya Islam sangat memahami seorang wanita yang memiliki hakikat dalam dirinya untuk tampil cantik. Islam tidak melarang wanita untuk tampil cantik, bahkan Islam menawarkan hal yang sangat mulia yaitu mempersilahkan wanita untuk bersolek di rumah suaminya. Begitu mulianya kan? Jika seorang wanita berhias di luar rumah selain untuk suami, hal yang paling ditakutkan adalah munculnya peluang fitnah dan membuka kesempatan kepada orang yang berpenyakit di dalam hatinya untuk melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Jadi tidak benar jika wanita dilarang berhias diri dalam Islam. Islam menawarkan hal yang begitu mulia untuk wanita.

Seperti halnya orang baik di dunia ini banyak sekali, tetapi yang menegakkan kebaikan yang sulit dicari. Mengapa? Karena nafsu dan emosi telah menguasai diri. Jangan takut berhijrah, terus belajar dan jangan cepat puas. Jika masih banyak perselisihan tentang fikih dalam batin, minta tolonglah kepada Allah untuk ditunjukkan dan digolongkan sebagai orang-orang mukmin, karena Allah lah Dzat yang maha menguasai kebenaran dan maha melihat apa yang tersembunyi dalam hati sekalipun.

Waallahu a’lam bi al-shawwâb.

Kanya Zatalini

OBAT HATI YA AL-QUR’AN!

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hari mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingat-
lah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS al-Ra’d [13]: 28)

Beberapa waktu yang lalu bulan Ramadhan telah meninggalkan kita, yang mana dalam bulan
tersebut banyak keistimewaan didalamnya. Diturunkannya al-Qur’an di bulan Ramadhan merupakan
salah satu bukti ke istimewaan bulan Ramadhan. Dibulan yang suci itu pula terbentuk sebuah kebiasaan
yang sangat menakjubkan, yaitu hampir setiap orang Muslim berlomba-lomba mengkhatamkan al-Qur’an
di bulan tersebut.
Sebab itu setiap waktu dan kesempatan selalu digunakan untuk membaca al-Qur’an. Dengan satu
keinginan dan tujuan yaitu agar sebelum lebaran tiba sudah khatam membaca al-Qur’annya. Walau
pastinya banyak godaan ketika menjalaninya bahkan semangat pun sering surut, perut lapar atau bahkan
kekenyangan sering menjadi kendala dan godaan.
Dalam prosesnya memang terkadang niat hati kita sering melenceng ketika membaca al-Qur’an,
apalagi ketika ada yang menanyakan “sudah berapa juz baca al-Qur’annya?”. Namun hal tersebut
merupakan hal yang lumrah terjadi karena itu merupakan proses pembelajaran bagi diri kita, asalkan kita
terus berusaha meluruskan niat awal yaitu mendapatkan ridha dari Allah  semata.
Hari demi hari pun berlalu, tak terasa sebulan telah kita lalui, takbir pun berkumandang di segala
penjuru. Tentu yang kita rasakan adalah kebahagiaan telah berhasil menjalankan ibadah puasa sebulan
lamanya. bahagia juga dirasakan karena dapat merayakan hari kemenangan dari segala yang telah kita
lakukan dan hadapi selama bulan Ramadhan berlangsung.

Setelah semua itu berlalu kita pun kembali pada kesibukan kita masing-masing seperti
sebelumnya, entah itu kerja, belajar, berkarya dan sebagainya. Disaat seperti ini lah kita sering terlupakan
pada kebiasaan yag telah kita lakoni selama sebulan disaat Ramadhan, seperti halnya membaca al-Qur’an
disetiap waktu dan tempat.

Ramadhan adalah Sekolah

Perlu kita sadari bersama bahwa bulan Ramadhan bukan hanya bulan yang istimewa, namun
mempunyai makna dan efek lebih dari sebuah kata tersebut. Kalau kita mencoba memikir lebih dalam
tentang bulan Ramadhan, disaat berlangsungnya bulan tersebut maka banyak amalan yang dilakukan
secara rutin, kemudian rutinitas tersebut menjadi sebuah kebiasaan.

Begitu pula disaat kita berada disebuah sekolah banyak kebiasan yang dilakukan secara
berulang-ulang saat mendidik kita selama berada disekolah tersebut. Tujuan dari itu semua tidak lain agar
kita menjadi terbiasa dengan apa yang di amalkan semasa bersekolah. Demikian dapat kita ibaratkan
bahwa bulan Ramadhan seperti sebuah sekolah.

Salah satu kebiasaan yang kita pelajari dan lakoni ketika Ramadhan yaitu membaca al-Qur’an.
Sehingga perlu kita jaga dan teruskan kebiasaan baik yang telah kita lakukan ketika Ramadhan beberapa
waktu yang lalu. Hal ini perlu terus kita ingat karena tidak sedikit dari kita ketika kembali kepada
kesibukannya diluar Ramadhan maka kita sering lupa dengan kebiasaan baik seperti membaca al-Qur’an.
Walau memang ada diantara kita yang sangat minim waktu kosong atau luangnya disetiap
harinya. Namun segalanya dapat disiasati ketika telah ada niat dan kemauan untuk melaksanakannya.
Salah satu tips bagi kita yang sangat sibuk, kita bisa mengambil sedikit waktu membaca al-Qur’an
sebelum shalat subuh atau sesudah shalat subuh karena pada waktu itu sangat baik untuk meningkatkan
konsentrasi dan menjernihkan pikiran.
Selanjutnya kalaupun kita terlalu tergesa-gesa di pagi hari atau tidak ada waktu luang, kita bisa
menggunakan waktu jam istirahat kerja atau ketika selesai shalat fardhu. Dan ada satu waktu lagi yang
sangat bagus yaitu ketika kita ingin tidur, mungkin bagi sebagian orang ini merupakan hal yang sulit tapi
kalau kita mencoba dan membiasakannya ini merupakan rutinitas yang menyenangkan dan menenangkan
bagi hati dan pikiran.

Berapa ayat pun yang dibaca tetap bernilai ibadah, bahkan satu huruf pun tetap bernilai
ibadah.

Abdullah bin Mas’ud  berkata: “Rasulullah  bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10
kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf
dan Miim satu huruf.” (HR Tirmidzi)

Akan lebih bagus lagi disetiap kesempatan kita dapat mendengarkan lantunan ayat suci al-Qur’an,
karena hal tersebut bukan hal yang mustahil di tengah perkembangan teknologi seperti saat ini.
Jadi pada intinya ketika takbir kemenangan berkumandang bukan berarti juga sebagai akhir kita
melakukan rutinitas atau amalan baik selesai atau berhenti sampai disitu saja. Namun itu merupakan garis
awal kita untuk melihat hasil dari pendidikan sekolah Ramadhan selama sebulan lamanya, yang mana hal
tersebut akan kembali diperbaiki di Ramadhan berikutnya.

Satu pesan penting yang perlu kita perhatikan lagi bagi kita yang belum mengkhatamkan al-
Qur’an ketika bulan Ramadhan bukan berarti kita gagal. Karena perlu kita ingat yang dinilai bukan berapa kali khatamnya namun niat dan seberapa banyak kita telah membaca al-Qur’an dan mengingat-Nya.

Manfaat Membaca Al-Qur’an

Sering kita dengar al-Qur’an adalah obat (terutama obat hati), al-Qur’an pun juga sebagai
tuntunan hidup. Namun pernahkah kita berusaha mencari lebih banyak apa saja manfaat dari al-Qur’an
ketika kita membacanya. Karena semakin banyak kita tahu akan kebaikan sesuatu maka kita akan menjadi
lebih cinta.

Lebih baik lagi kita mengamalkan apa yang terkandung dalam al-Qur’an agar dapat
membuktikan manfaat dari apa yang disampaikan di dalam al-Qur’an. Dengan cara memahaminya secara
detail dan rinci dari memahami bahasanya, cara bacanya sampai tafsirnya. Sungguh indah ketika kita
dapat menghayati setiap isinya dan mendengarkan setiap baitnya.
Untuk menambah motivasi kita, perlu kita ingat bahwa telah diriwayatkan oleh Muslim bahwa
dari Abi Umamah ,

Ia berkata: “aku mendengar Rasulullah  bersabda, ‘bacalah olehmu al-Qur’an,
sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya
(penghafalnya)”.

Selain itu banyak manfaat dari membaca al-Qur’an yang dapat kita dapatkan, beberapa darinya
yaitu:

1) Menjadi manusia yang baik. Sesuai dengan apa yang telah ditegaskan oleh Rasulullah  bahwa,
“Sebaik-baiknya kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan yang mengajarkannya (HR Bukhari).

2) Memberikan ketenangan dan kedamaian. Sebagaimana firman Allah  dalam surah al-Ra’d
ayat 28, yang artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hari mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingat-lah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS al-Ra’d [13]:
28).

3) Mendapatkan derajat yang lebih tinggi. Sesuai dengan hadits Rasulullah  yang berbunyi,
“Orang yang ahli dalam al-Qur’an akan bersama dengan para malaikat pencatat yang mulia lagi taat.
Dan orang yang terbata-bata membaca Al-Qur’an dan dia berusaha payah mempelajarinya, maka
baginya dua pahala.” (HR Bukhari)”.

4) Mendapatkan sakinah, rahmat, serta dinaungi para malaikat, yang mana hal-hal tersebut
berdasarkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, yang berbunyi, “tidaklah suatu kaum berkumpul
disuatu masjid-masjid Allah, mereka membaca al-Qur’an dan mempelajarinya kecuali akan turun kepada
mereka ketentraman, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-
nyebut mereka dihadapan makhluk yang ada disisi-Nya”

5) Mendapatkan syafa’at pada hari kiamat. Hal ini didasarkan kepada hadits Nabi  yang
diriwayatkan oleh Muslim yang berbunyi, “bacalah A-Qur’an! Sesungguhnya ia pada hari kiamat akan
datang memberikan syafa’at kepada pembacanya”(HR Muslim)

6) Membaca al-Qur’an bagaimanapun akan mendatangkan kebaikan. Aisyah meriwayatkan bahwa
Rasulullah  bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang
mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca al-Quran dan terbata-bata di
dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR Muslim).

Demikian beberapa manfaat yang akan kita dapatkan ketika kita terus dan terus membaca dan
mempelajari al-Qur’an tanpa henti. Oleh karena itu jangan berhenti sampai diakhir Ramadhan saja amalan
membaca al-Qur’an tersebut, namun di hari-hari biasa ini mari kita jadikan menjadi hari yang istimewa
pula dengan menghiasinya dengan membaca al-Qur’an.
Masih banyak manfaat dan keistimewaan dari para pembaca dan orang-orang yang mempelajari
al-Qur’an. Mari kita jadikan al-Qur’an menjadi ruh dalam diri kita, yang mana segala perkataannya dan
perbuatannya selalu berlandaskan dan didasari oleh al-Qur’an dan selalu menenteramkan hati.

Mari kita bersama-sama mempelajari al-Qur’an tanpa lihat batas umur dan waktu. Dimana ada
kemauan disana pasti ada jalan, semoga dengan sedikit tulisan ini kita dapat saling mengingatkan dan
menjadi orang yang lebih baik, amin ya Rabb.[]

Husnan Budiman
PAI FIAI UII

Mutiara Hikmah
Abdullah bin Abbas  berkata, “Allah telah menjamin bagi siapa yang mengikuti al-Qur’an, tidak akan
sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat”, kemudian beliau membaca ayat: (artinya) “Lalu barang
siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS Thâhâ [20]: 123)
(Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah).

MALAM LAILATUL QADAR

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ١  وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ٢  لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ ٣ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ ٤  سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ ٥

Sungguh Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan (lailatul qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar

(QS. al-Qadar [97]: 1-5).

Saat ini, satu hal yang paling layak kita syukuri adalah kenyataan bahwa kita masih diberi umur panjang oleh Allah . Sehingga kita masih bisa menikmati bulan Ramadhan di sisa sepuluh hari terakhir ini. Dengan nikmat tersebut, kita oleh Allah diberi kesempatan untuk terus memperbaiki amal ibadah dan, yang lebih membahagiakan lagi adalah kesempatan untuk  mendapatkan malam lailatul qadar. Adakah nikmat yang lebih besar dari hal tersebut saat ini, mengingat kelalaian dan dosa-dosa yang telah kita perbuat?

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa sepuluh malam atau sepertiga terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat yang sangat istimewa, penuh dengan rahmat yang tak terbatas dari Allah . Di dalamnya terdapat malam yang sangat mulia dan dirindukan oleh semua umat Muslim, yaitu malam lailatul qadar. Malam tersebut sangat istimewa karena nilai dari malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Akan tetapi, kebanyakan dari kaum Muslim sekedar hanya merindukan bertemu dengan malam lailatul qadar saja, namun tidak melakukan apa-apa. Salah satu penyebabnya barangkali adalah kurangnya ilmu dan pemahaman mereka mengenai apa dan bagaimana malam lailatul qadar tersebut, serta apa saja keutamaannya. Dalam tulisan ini, akan dijelaskan beberapa hal berkaitan dengan malam lailatul qadar.

Keutamaan Lailatul Qadar

Malam lailatul qadar adalah malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya. Di antara kemuliaan dan keistimewaan malam tersebut adalah:

Pertama, malam yang penuh berkah. Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan. Allah berfirman:

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ٣  فِيهَا يُفۡرَقُ كُلُّ أَمۡرٍ حَكِيمٍ ٤

Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (QS. al-Dukhân [44]: 3-4).

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan pada malam yang diberkahi. Malam yang diberkahi dalam ayat ini ditafsirkan sebagai malam lailatul qadar sebagaimana disebutkan pada surat al-Qadar. Allah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. (QS. Al Qadar [97]: 1).

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud dalam ayat pertama di atas dijelaskan dalam ayat selanjutnya: Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. al-Qadar [97] : 3-5).

Kedua, malam ditetapkannya takdir. Ibnu al-Jauzi dalam Zâd al-Masîr menyebutkan beberapa pendapat bahwa al-Qadar dalam ayat pertama surat al-Qadar tersebut dimaknai dengan kemuliaan karena pada saat itu diturunkan kitab yang penuh kemuliaan (al-Qur’an al-Karim), diturunkan rahmat dan turun pula malaikat yang mulia. Ibnu al-‘Arabi menyatakan bahwa makna lailatul qadar bisa jadi adalah malam penuh kemuliaan, bisa pula maknanya adalah malam penetapan takdir berdasarkan firman Allah (QS. al-Dukhân [44] ayat 4: Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, dimana maksud dari ayat ini adalah ditetapkannya takdir.

Dari keutamaan-keutamaan lailatul qadar di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa ketika kita mendapatkan lailatul qadar, maka ibadah yang kita amalkan pada malam itu bernilai lebih dari ibadah seribu bulan dan doa-doa serta keinginan-keinginan kita yang baik akan diijabah oleh Allah , dan bahkan takdir kita akan ditetapkan ulang (rewrite). Maka, jika kita benar-benar memahami keutamaan-keutamaan malam lailatul qadar ini sampai di kedalaman batin kita, niscaya kita tidak akan melewatkan sedetik pun waktu malam kita kecuali untuk beribadah kepada Allah .

Kapan Lailatul Qadar Terjadi?

Beberapa ulama berbeda pendapat tentang kapan terjadinya malam ‘lailatul qadar’ secara pasti. Namun, sebagian besar sepakat bahwa lailatul qadar terjadi di antara sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi : “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).

Di antara sepuluh hari terakhir tersebut, malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap untuk terjadinya lailatul qadar, sebagaimana sabda Nabi : “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).

Di antara sepuluh malam itu juga, pada tujuh malam yang terakhir lebih memungkinkan untuk terjadinya lailatul qadar, sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi bersabda: “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim).

Ada juga ulama yang berpendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana disampaikan oleh Ubay bin Ka’ab dalam sebuah riwayat. Namun pendapat yang paling kuat adalah sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah . Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah : “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari).

Hikmah dari dirahasiakannya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar bisa dibedakan mana orang yang benar-benar bersungguh-sungguh mencari ridha Allah dan mana yang sebaliknya. Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Selain itu juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya.

Bahkan Nabi Muhammad pun bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir tersebut dengan amalan-amalan ibadah melebihi ibadah di waktu-waktu lainnya. Sebagaimana disampaikan oleh istri beliau Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan: “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’, pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Apa yang dijelaskan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam riwayat di atas menunjukkan hal lain yang juga penting, bahwa lailatul qadar bukanlah anugerah dan nikmat yang instan. Jika kita perhatikan, kesungguhan Nabi bukan hanya di malam hari, tapi juga di keseluruhan hari di sepuluh malam terakhir, dengan memperbanyak ibadah seperti shalat, membaca al-Qur’an, dzikir, sedekah dan lain sebagainya. Yang diiringi dengan penekanan pada ibadah di malam hari dengan i’tikaf. Maka, jika kita mengharapkan lailatul qadar, kita mesti meneladani apa yang diamalkan oleh teladan kita Nabi Muhammad dengan memperbanyak dan meningkatkan amal ibadah apapun di siang dan malam hari, dan terutama memaksimalkan malam hari dengan i’tikaf di masjid. Semoga Allah memberi kita ma’unah dan taufiqNya agar kita mampu untuk berusaha sekuat tenaga meraih lailatul qadar. Âmîn.

 

AB Eko Prasetyo

 

MUTIARA HIKMAH

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah : “Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (artinya ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).”

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).