365 Catatan Berlalu (Menuju 2026): Antara Lalai atau Taubat
365 Catatan Berlalu (Menuju 2026): Antara Lalai atau Taubat
Nur Laelatul Qodariyah
Sahabat Al-Rasikh yang di berkaih Allâh ﷻ, tidak terasa waktu cepat berlalu. Hari-hari yang datang tidak bisa kita tunda dan pergi tanpa bisa diulang. Setiap pagi kita bangun dan setiap malam kita terlelap, rasanya baru saja kemarin kita menyaksikan pergantian tahun dan kini kita sudah berada di akhir tahun lagi. Waktu terus berjalan sementara catatan amal tidak berhenti. Tahun 2025 hampir berjalan dengan sepenuhnya. Sebanyak 365 hari Allâh ﷻ telah menitipkan hari dan waktu kepada kita.
Orang-orang mulai lalai dengan waktunya, berfikir bahwa masih ada waktu. Shalat ditunda, sedekah nunggu kaya. Giliran Ketika ada waktu libur kerjaanya cuma rebahan. Hal ini dimulai dengan menganggap sepele waktu dan juga rasa malas yang membandel. Menyepelekan waktu itu ibaratnya membuang benih-benih emas satu persatu, semakin banyak butiran-butiran yang di buang maka kesempatan mendapatkan gundukan emas akan terbuang sia-sia.
Dalam firman-Nya Allâh ﷻ, berkali-kali membicarakan soal waktu. Dimana pergerakan waktu itu sangat cepat, seperti kilat. apalagi di dunia, 1 hari di dunia bisa berbeda hitungannya di akhirat. Sedangkan rasa malas yang menghinggap di bagian tubuh perlahan-lahan akan menewaskan waktu dengan cepat bagaikan kilat, yang kita anggap kapas tapi jadi bencana besar bagi kita, karena salah satu penyakit yang harus kita lawan adalah penyakit malas. Karena Ketika rasa malas itu kita turuti, bagaimana kita akan sukses? dunia dan akhirat.
365 Hari: Antara Lalai, taat dan Taubat
Allâh ﷻ berfirman:
وَٱلْعَصْرِ. إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ. إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ.
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. (QS Al-Ashr [103]: 1-3).
Setiap manusia tidak luput dari yang namanya kesalahan dan dosa. Mungkin kita pernah lalai, jatuh dan tergelincir dan sampai pada melanggar ketentuan Allâh ﷻ, namun indahnya Islam. Allâh ﷻ membuka pintu-pintu taubat bagi yang ingin bertaubat.
Setiap hari Nabi ﷺ memohon ampun kepada Allâh ﷻ sebanyak seratus kali. Bahkan dalam suatu hadits disebutkan, bahwa Nabi ﷺ meminta ampun kepada Allâh ﷻ seratus kali dalam satu majelisnya.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُوْلِ اللهِ ﷺ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ، رَبِّ اغْفِرْلِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ الرَّحِيْمُ.
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: “Kami pernah menghitung di satu majelis Rasulullah ﷺ bahwa seratus kali beliau mengucapkan: ‘Ya Rabb-ku, ampunilah aku dan aku bertaubat kepadaMu, sesungguhnya Engkau Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang’.” (HR At Tirmidzi, no. 3434).[1]
CCTV Allâh ﷻ yang tidak pernah mati
Catatan demi catatan telah tergores rapih dan detail setiap detiknya, dari hal-hal kecil sampai dari hal-hal besar tidak pernah luput dari pada pengawasan CCTV-Nya. Jika kita punya alat canggih berupa CCTV yang mampu merekam 24 jam kejadian yang berlangsung. Allâh ﷻ, juga memilikinya namun tidak bisa dibandingkan dengan CCTV buatan manusia. Allâh ﷻ, akan memperlihatkan kita semua kejadian-kejadian manusia mulai dari Nabi Adam p sampai pada Nabi Muhammad ﷺ.
Pengawasan Allâh ﷻ jauh lebih sempurna, karena tidak ada sudut yang gelap dan juga tidak ada waktu yang mati, tidak pula ada tombol jeda untuk di pause atau di percepat. Saat kita sendiri diruangan paling sempit sekalipun atau di sarang semut dan bakteripun Allâh ﷻ, tahu semuanya. Siapa yang tidak mampu menguasai diri maka akan dikuasai oleh belenggu nafsu.[2]
Kesadaran akan ada pengawasan atau CCTV Allah bukan bermaksud menakut-nakuti, tetapi menjaga hati agar tetap lurus, bahkan Ketika tidak ada seseorang yang mendampingi kita.
Catatan Amal Tidak Pernah libur
Di dalam Islam kita meyakini bahwa ada dua malaikat, yaitu malaikat muhafzhah[3]. yang senantiasa selalu mengawasi dan mencatat segala gerak-gerik kita semua, mulai dari perbuatan buruk atau baiknya masing-masing perbuatan manusia. Sekecil apapun perbuatan manusia akan tetap di catat. Seperti ucapan yang menyakiti, kemudian niat baik yang memang belum terlaksana.
Semua itu perlu kita catat dari 365 hari di penghujung Desember ini mungkin semua hal belum kita isi dengan kebaikan. Namun selama Allâh ﷻ, masih memberikan kita nafas, harapan itu masih ada. Harapan untuk berubah menjadi lebih baik.
Segala perbuatan yang dilakukan kurang baik sebelumnya atau kurang sempurna, saatnya untuk disempurnakan dan diperbaiki. Datangnya tahun baru ini menjadi ajang semangat kita untuk bertumbuh dan memperbaiki segala sesuatu yang menjadi kesalahan sebelumnya.
Allâh ﷻ, berfirman.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allâh ﷻ, dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh. Allah Mahateliti terhadap yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr [59]: 18).[4]
Waktu adalah Amanah
Jangan tunggu tahun 2026 untuk berubah, dan tunggu sampai sempurna baru taat. Karena tahun baru itu bukan tentang angka yang berganti tapi tentang hati yang selalu kembali taat kepada Allâh ﷻ, semangat awal tahun membuka kita untuk sadar bahwa waktu itu sangat cepat berlalu, orang tua yang dulu merawat kita, kini sudah menua dan renta.
Satu-satunya yang tidak bisa kita ubah adalah waktu. Dimana waktu kemarin dijadikan pelajaran yang akan datang. Karena sejatinya hari adalah amanah. Shubuh yang terlewat, doa yang tertunda, Al-Qur’an yang tidak sempat di buka, bukankah semua itu akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat? Bayangkan jika satu hari saja dari hidup kita diputar ulang beserta catatannya, apakah kita bangga atau justru akan malu.
Alumni Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia.
Maraji’ :
[1] HR At Tirmidzi no. 3434, Abu Dawud no. 1516, Ibnu Majah no. 3814. Lihat Shahih Sunan At Tirmidzi III/153 no. 2731, lafazh ini milik Abu Dawud. https://almanhaj.or.id/27841-segeralah-bertaubat-kepada-allah-2.html. Diakses pada 21 Desember 2025.
[2] D.A. Akhyar. Tuhan tahu kita mampu. Jakarta: Akhyar Center Indonesia, 2023. 7, Google Books Preview
[3] Malaikat Muhafazhah disebutkan dalam surah Al Infithar ayat 10-12.
[4] Sunnatullah. “Memaknai Tahun Baru dengan Semangat perbaikan Diri” https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/memaknai-tahun-baru-dengan-semangat-perbaikan-diri-PPs18. Diakses pada 21 Desember 2025.



