Islam, Kemanusiaan dan Penolakan Terhadap Teror Atas Nama Agama
Islam, Kemanusiaan dan Penolakan Terhadap Teror Atas Nama Agama
Willi Ashadi, S.H.I.,M.A*
Secara maknawi dan substansial, Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi nilai kedamaian, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap kehidupan.[1] Islam tidak hanya hadir sebagai seperangkat ritual ibadah, tetapi juga sebagai sistem nilai yang menempatkan manusia tanpa memandang agama, etnis, dan latar belakang sebagai makhluk yang harus dijaga kehormatannya. Oleh karena itu, tidak mungkin seseorang yang benar-benar memahami ajaran Islam secara utuh justru menebarkan teror, kekerasan, dan ketakutan di tengah masyarakat.
Peristiwa penembakan yang terjadi di Pantai Bondi, Australia, pada ahad petang 14 Desember 2025, merupakan tragedi kemanusiaan yang sangat mencekam dan mengerikan di akhir tahun 2025. Aksi kekerasan bersenjata tersebut menyebabkan 16 orang meninggal dunia termasuk salah satu pelaku penembakan serta puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.[2] Serangan tersebut dilaporkan menyasar warga sipil, khususnya komunitas Yahudi yang tengah merayakan festival Hanukkah.[3] Tragedi ini tidak hanya melukai korban secara fisik, tetapi juga mengguncang rasa aman dan nilai-nilai kemanusiaan secara universal.
Islam Agama Damai dan Menolak Kekerasan
Islam secara tegas mengutuk segala bentuk kekerasan yang menargetkan warga sipil. Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ berfirman:
مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا
“Barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh seluruh manusia.” (QS Al-Māidah [5]: 32).
Ayat ini menegaskan bahwa satu nyawa manusia memiliki nilai yang sangat tinggi. Membunuh satu jiwa tanpa alasan yang dibenarkan syariat merupakan kejahatan besar yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Prinsip ini sejalan dengan tujuan utama syariat Islam (maqāṣid asy-syarī‘ah), khususnya dalam menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs).
Dalam Sunnah Nabi Muhammad ﷺ, nilai kasih sayang dan perlindungan terhadap manusia juga ditegaskan secara berulang. Rasulullah ﷺ bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang–orang yang penyayang itu akan disayang oleh dzat yang Maha Penyayang. Hendaklah kalian sayangi orang yang berada di bumi, maka kalian akan disayangi oleh Dzat yang di atas langit.” (HR At-Tirmidzi no. 1924, Abu Dawud no. 4290, dan dishahihkan Al-Albani)
Hadits ini menunjukkan bahwa Islam tidak membenarkan kekerasan, teror, dan ekstremisme, apalagi jika dilakukan atas nama agama. Setiap tindakan yang merusak kehidupan, menebar ketakutan, dan mencederai kemanusiaan merupakan pengkhianatan terhadap ajaran Islam itu sendiri.
Berpikir Bijak Dalam Merespon
Dalam menyikapi tragedi Pantai Bondi Australia, umat Islam dituntut untuk bersikap adil dan bijaksana. Kita tidak boleh terjebak pada generalisasi yang menyesatkan, seolah-olah Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan. Perlu ditegaskan bahwa Islam dan perilaku sebagian pemeluknya adalah dua hal yang berbeda. Ajaran Islam bersifat suci dan ideal, sementara umat Islam adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, bahkan penyimpangan.[4]
Meskipun pelaku penembakan diduga berlatar belakang Muslim, yaitu Sajid dan Navid Akram, hal tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menjustifikasi bahwa Islam identik dengan terorisme. Logika semacam ini tidak adil dan bertentangan dengan prinsip objektivitas. Dalam setiap agama dan ideologi, selalu ada oknum yang menyimpang dari ajaran dasarnya.
Sebaliknya, dalam tragedi ini justru muncul teladan kemanusiaan dari seorang Muslim bernama Ahmed Al-Ahmed. Ia dengan keberanian luar biasa berusaha menghentikan salah satu pelaku penembakan demi melindungi warga sipil. Dalam upaya tersebut, Ahmed Al-Ahmed bahkan tertembak dan hingga kini masih menjalani perawatan medis. Tindakannya mendapat apresiasi luas dari masyarakat Australia dan komunitas internasional. Perdana Menteri Australia Anthony Al banaese serta sejumlah tokoh dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyebutnya sebagai seorang pahlawan.[5] Tanpa keberaniannya, jumlah korban sangat mungkin akan jauh lebih besar.
Peristiwa ini sekaligus menegaskan bahwa nilai-nilai Islam sejati tercermin bukan pada retorika kekerasan, melainkan pada tindakan nyata yang melindungi kehidupan manusia. Inilah wajah Islam yang sesungguhnya. Islam yang membela kemanusiaan, menolak ekstremisme, dan berdiri di garis depan dalam menjaga perdamaian.
Penutup
Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Pantai Bondi, Australia, merupakan perbuatan biadab yang melanggar fitrah kemanusiaan dan nilai-nilai agama. Peristiwa ini harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa agama tidak boleh dan tidak seharusnya dijadikan alat pembenar kekerasan, teror, maupun ekstremisme. Tugas umat beragama, khususnya umat Islam, adalah menghadirkan Islam sebagai Raḥmatan lil ‘ālamīn bagi seluruh alam. Lebih dari sekadar slogan, prinsip ini menuntut tanggung jawab moral untuk menebarkan kasih sayang, menjaga keselamatan jiwa, serta membangun dialog dan empati di tengah masyarakat yang beragam.
Selain kecaman moral, tragedi ini menuntut keseriusan seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat pendidikan nilai-nilai kemanusiaan dan keberagamaan yang moderat. Literasi keagamaan yang sehat, pemahaman agama yang utuh dan seimbang, serta keteladanan para tokoh agama menjadi kunci agar ajaran suci tidak disalahpahami, apalagi disalahgunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan. Dengan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama, umat manusia diharapkan mampu membangun peradaban yang berlandaskan keadilan, penghormatan terhadap kehidupan, dan persaudaraan lintas iman.
Semoga tragedi semacam ini tidak terulang kembali, dan semoga umat manusia semakin bijak dalam memaknai agama sebagai sumber kedamaian, penguat nilai-nilai kemanusiaan, serta jalan menuju kehidupan bersama yang adil, aman, dan bermartabat.
* Dosen Prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.
Maraji’ :
[1] Yusuf Qardhawi. Al-Shahwah Al-Islamiyah bain Al-Juhud wa Al-Tatharruf. Terj.Alwi A.M. Bandung: Al Ummah. 1993. Cet. Ke-6. h. 16.
[2] Lyndal Rowlands. “Questions linger about gun reform, anti-Semitism after Bondi Beach shooting”. https://www.aljazeera.com/news/2025/12/15/australian-officials-questioned-on-guns-anti-semitism-over-bondi-shooting. Diakses pada 15 Desember 2025.
[3] Martin Belam. “Monday briefing: The latest on the deadly attack on Bondi beach’s Jewish community”. https://www.theguardian.com/world/2025/dec/15/first-edition-bondi-beach-attack. Diakses pada 15 Desember 2025.
[4] Muhammad Quthb. Jahilliyah al-Qarn al-Isyrin. Terj. Muhammad Tohir dan Abu Laila. Bandung. Dar asy-Syuruq. 1985. Cet. Ke-1. h. 30.
[5] Reuters. “Couple, man who died trying to stop Bondi Beach attackers praised for heroic efforts”. https://www.reuters.com/business/media-telecom/man-couple-who-died-trying-stop-bondi-beach-attackers-praised-heroic-efforts-2025-12-16/. Diakses pada 17 Desember 2025.



