Langkah Memahami Akidah Yang Benar
Langkah Memahami Akidah Yang Benar
Tan Lie Yong
Sahabat pembaca Ar-Rasikh—aḥsanallâhu ilaikum—, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya menjadi dasar dari seluruh amal ibadah kita? Mengapa seseorang bisa tetap tenang meski menghadapi ujian hidup, sementara yang lain mudah goyah oleh sedikit cobaan? Apakah cukup hanya beribadah tanpa memahami kepada siapa kita beribadah dan mengapa kita beribadah?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini membawa kita pada satu hal mendasar dalam kehidupan seorang Muslim—akidah. Ia adalah fondasi yang menopang seluruh bangunan keimanan dan amal. Tanpa akidah yang benar, amal sebesar apa pun bisa kehilangan arah dan makna.
Akidah merupakan pondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Ia menjadi dasar bagi seluruh amal dan penentu diterima atau tidaknya ibadah seseorang.[1] Karena itu, akidah yang lurus tidak hanya menuntun seseorang dalam beribadah, tetapi juga akan menumbuhkan keikhlasan, ketenangan hati,[2] dan keyakinan yang kokoh dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Lalu, bagaimana langkah agar kita dapat memahami akidah dengan benar dan mendalam sesuai tuntunan Islam? Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
- Mengenal Allâh dengan benar
Langkah pertama dalam memahami akidah adalah mengenal Allâh ﷻ (ma’rifatullâh), sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Tanpa mengenal Allâh ﷻ dengan benar, seseorang tidak akan mampu menempatkan ibadah, cinta, dan ketundukan pada tempat yang semestinya. Allâh ﷻ berfirman:
فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ
“Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah.” (QS Muhammad [47]: 19).
Ayat ini mengandung makna mendalam, iman yang benar harus diawali dengan ilmu. Sebelum seseorang beribadah, ia perlu mengenal siapa yang disembah. Karena itu, mengenal Allâh bukan sekadar pengetahuan teoretis, melainkan pengenalan hati yang melahirkan cinta, rasa takut, harapan, dan penghambaan yang tulus kepada-Nya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menegaskan, “Ilmu tentang Allâh, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya merupakan puncak ilmu yang paling mulia, karena kemuliaan suatu ilmu tergantung pada objek yang dipelajari, dan tidak ada yang lebih mulia daripada mengenal Allâh.”[3]
- Belajar dari sumber yang otentik
Pemahaman akidah yang benar harus bersandar pada Al-Qur’an, hadis sahih, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ketiga sumber ini menjadi pedoman dalam mengenal Allâh ﷻ, memahami keesaan-Nya, serta menafsirkan makna iman dengan benar.
Al-Qur’an adalah kalam Allâh ﷻ yang berisi fondasi keyakinan tentang siapa Allâh dan bagaimana beriman kepada-Nya. Hadis Nabi ﷺ menjadi penjelas praktis agar umat memahami wahyu secara utuh.
Para ulama Ahlus Sunnah seperti Imam Ahmad, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Abu Hanifah juga menegaskan pentingnya berpegang pada nash dan atsar, karena akidah tidak boleh dipisahkan dari Al-Qur’an dan Sunnah—cahaya yang tidak menyesatkan siapa pun yang berjalan di bawah petunjuknya.
Imam Asy-Syafi’i berkata:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ بِغَيْرِ دَلِيلٍ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ ضَلَّ.
“Barang siapa mencari ilmu agama tanpa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia akan tersesat dalam kebingungan.”[4]
Dalam hal ini, Imam al-Ghazali memberikan pernyataan:
مَنْ طَلَبَ الحَقَّ بِغَيْرِ نُورِ الوَحْيِ زَلَّ وَتَاهَ فِي مَتَاهَاتِ الشُّبُهَاتِ.
“Barang siapa mencari kebenaran tanpa cahaya wahyu, ia akan tergelincir dan tersesat dalam kebingungan serta keraguan.”[5]
- Memahami secara bertahap
Akidah bukanlah ilmu yang dapat dikuasai sekaligus dalam waktu singkat. Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat secara bertahap; dimulai dari penguatan tauhid, kemudian dilanjutkan dengan penanaman iman kepada malaikat, kitab, rasul, hari akhir, serta takdir. Metode bertahap ini menunjukkan bahwa pemahaman akidah menuntut proses yang sabar, mendalam, dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, belajar akidah sebaiknya dimulai dari hal-hal yang paling mendasar, antara lain:
- Memahami makna kalimat tauhid “Lā ilāha illallāh”. Sebagai inti pengesaan Allâh ﷻ dalam ibadah dan pengingkaran terhadap segala bentuk kesyirikan.
- Mengetahui bentuk-bentuk tauhid: rubūbiyyah (mengesakan Allâh ﷻ dalam perbuatan-Nya), ulūhiyyah (mengesakan Allâh ﷻ dalam ibadah), dan asmā’ wa ṣifāt (menetapkan nama dan sifat Allâh ﷻ sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah tanpa penyerupaan).
- Mengenali bahaya syirik dan bid’ah, karena keduanya dapat merusak kemurnian iman dan menjauhkan seseorang dari jalan yang lurus.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Ālu Syaikh — salah satu ulama besar dalam bidang tauhid — menegaskan:
مَنْ لَمْ يَفْهَمْ مَعْنَى لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ لَمْ يَذُقْ حَلَاوَةَ الإِيمَانِ
“Barang siapa tidak memahami makna kalimat tauhid, maka ia tidak akan merasakan manisnya iman.”[6]
- Berguru pada ulama yang lurus aqidahnya
Dalam menuntut ilmu, terutama ilmu akidah, bimbingan guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas sangatlah penting. Akidah bukan sekadar teori yang dibaca, tetapi ilmu yang membutuhkan penjelasan dan pemahaman yang benar dari pembimbing yang terpercaya.
Para ulama menekankan pentingnya talaqqi, yaitu belajar langsung dari guru ahli yang memiliki silsilah ilmu bersambung hingga Rasulullah ﷺ. Melalui talaqqi, ilmu diwariskan bukan hanya secara intelektual, tetapi juga secara spiritual dan melalui adab. Ilmu dari guru bersanad menjaga seseorang dari kesalahan dalam memahami nash, serta menghindarkannya dari penyimpangan pemikiran yang sering muncul akibat belajar tanpa bimbingan.
Syaikh Ṣāliḥ al-Fauzān mengingatkan dengan tegas:
مَنْ أَخَذَ الْعِلْمَ مِنَ الْكُتُبِ ضَلَّ أَكْثَرَ مِمَّا يُصِيبُ
“Barang siapa mengambil ilmu hanya dari buku tanpa guru, maka ia akan menyimpang lebih banyak daripada ia memperoleh kebenaran.”[7]
- Mengamalkan ilmu dan berdoa agar teguh
Ilmu akidah tidak cukup hanya dipahami secara intelektual, tetapi harus diiringi dengan pengamalan dan doa. Akidah yang benar seharusnya menumbuhkan ketundukan hati, keikhlasan dalam beribadah, serta keteguhan dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah, sementara amal tanpa dasar akidah yang lurus bagaikan bangunan tanpa fondasi.
Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan utama dalam menjaga kemurnian akidah melalui doa dan amal. Beliau sering memohon keteguhan hati kepada Allâh ﷻ dengan doa yang penuh makna:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR At-Tirmidzi, no. 3522).
Doa ini menunjukkan bahwa keteguhan akidah bukan semata hasil pengetahuan, melainkan anugerah dari Allâh yang harus terus dijaga dengan doa dan amal saleh. Hati manusia bersifat lemah dan mudah berubah, sementara hidayah adalah karunia yang hanya Allâh ﷻ yang dapat menetapkannya.
Memahami akidah yang benar dimulai dari mengenal Allah, belajar dari sumber sahih, mengikuti bimbingan ulama, serta mengamalkan ilmunya. Dengan begitu, iman semakin kokoh dan hati tetap teguh dalam ketaatan kepada Allâh.
Maraji’ :
[1] Ibn Taimiyyah. Al-‘Aqidah al-Wasithiyyah. Riyadh: Dar al-Salam. 1996. h. 12–14.
[2] Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah. Madinah: Maktabah al-‘Ilm. 2004. h. 21.
[3] Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah. Madinah: Maktabah al-‘Ilm. 2004. h. 21.
[4] Al-Bayhaqi. Manaqib Asy-Syafi’i. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. 1997. jilid I. h. 469.
[5] Imam al-Ghazali. Ihya’ ‘Ulum ad-Din. Beirut: Dar al-Ma’rifah. 1996. jilid I. h. 20.
[6] ‘Abdurrahman bin Hasan Ālu Syaikh. Fath al-Majīd Syarḥ Kitāb al-Tauḥīd. Riyadh: Dār al-Salām. 2002. h. 45.
[7] Ṣāliḥ al-Fauzān. Muqaddimah al-Tauḥīd. Riyadh: Maktabah al-Ma’ārif. 2010. h. 8.




