Memaknai Kembali Arti Sebuah Kesuksesan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ١٨

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya di masa lalu (dunia) untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. al-Hasyr [59]: 18)

Jika kita ditanya, apakah kita ingin hidup sukses? Pasti kita akan menjawab “Ya saya ingin sukses”. Setiap orang pasti mengidam-idamkan kesuksesan. Tidak ada orang yang menginginkan kegagalan. Namun demikian, benarkah kita memahami apakah hakikat kesuksesan?
Secara umum, kita sering memahami kesuksesan sebagai capaian atau wujud nyata dari harapan, keinginan dan cita-cita. Bila memang demikian makna sukses, lalu muncul lagi pertanyaan, apa ukuran kesuksesan seseorang? Jika memang itu sebuah harapan, keinginan atau cita-cita, maka apa bentuk harapan yang hendak diwujudkan? Keinginan apa yang mau diraih? Dan cita-cita seperti apa yang dimaksud untuk menggapai sebuah kesuksesan?

Bila kita mengamati, tidak sedikit yang mengukur kesuksesan hanya sebatas materi dan urusan duniawi semata. Kesuksesan diukur dengan banyaknya harta benda, popularitas, penghargaan, memiliki kekuasaan dan kedudukan yang tinggi dll. Begitulah tolok ukur kesuksesan dalam pandangan sementara orang di era modern nan-materialistik ini.

Laode M. Kamaludin dalam sebuah pengantar buku berjudul On Islamic Civilization menuliskan beberapa kisah faktual yang patut untuk kita renungkan bersama dalam rangka memahami kembali makna sebuah kesuksesan. Salah satunya adalah kisah berikut: saat musim dingin tahun 1932, kota Amsterdam gempar oleh kematian seorang ilmuan ternama kebanggaan kota seribu kincir tersebut, yaitu Profesor Paul Ehrenfest. Yang lebih mencengangkan lagi dia meninggal bersama istri dan anaknya. Enherfest dikenal sebagai seorang pemuja akal, rasio, dan ilmu pengetahuan. Dia adalah ateist tulen dari Amsterdam yang dibangga-banggakan pengikutnya. Publik mengenalnya sebagai intelektual di garda depan yang tengah berada di puncak karir intelektualnya. Kedudukan terhormat dan limpahan harta benar-benar berada dalam genggaman tangannya.

Tanda tanya besar kemudian muncul, bagaimana mungkin orang yang tengah di puncak kejayaannya, tiba-tiba mati bunuh diri. Tak cukup mati sendiri dia juga menyertakan istri dan anaknya ke liang lahat bersamanya. Benarkah ia mati bunuh diri? Begitulah pertanyaan publik Amsterdam pada saat itu.

Pertanyaan publik Amsterdam itu terjawab tak berselang lama setelah pernyataan resmi dari Dinas Kepolisian Amsterdam, bahwa Paul Enherfest benar-benar mati bunuh diri, bukan dibunuh. Setelah sebelumnya dia terlebih dulu membunuh anak dan istrinya.
Enherfest mati bunuh diri hanya karena merasa tak puas dengan prinsip dan apa yang sudah dimilikinya saat itu. Ia kecewa dengan rasio, akal, dan ilmu pengetahuan yang ‘dituhankannya’ bertahun-tahun. Dari rasio, akal, dan ilmu pengetahuan, ia ‘merasa’ tak mendapatkan apa-apa selain hidup yang absurd, gamang dan penuh kecemasan. Ia merasa harus mengakhiri hidupnya, karena baginya, hidup tak lagi memiliki makna. Hal ini terungkap dari surat yang sebenarnya ditunjukkan untuk temannya bernama Kohnstamm tergeletak tidak jauh dari jasadnya. Di sepenggalan surat itu tertulis,

“Yang tidak saya miliki adalah kepercayaan kepada Tuhan. Padahal itu perlu. Seseorang mungkin akan binasa karenanya, tidak beragama. Mudah-mudahan tuhan menolong kamu, yang aku lukai saat ini.”

Kisah di atas setidaknya dapat memahamkan kita, bahwa betapa arti kesuksesan tidak bisa diukur semata-mata dengan hal-hal yang bersifat material-duniawi. Islam mengajarkan kita untuk menempatkan harta, kedudukan, pangkat dan jabatan sebagai sarana untuk berbuat baik dan taat kepada Allah, bukan tujuan. Kesuksesan bagi seorang muslim bukan semata-mata tercapainya cita-cita keduniawian, karena semua hal yang bersifat metari dan dunia adalah nisbi. Seorang muslim harus menjadikan tujuan akhirat sebagai tujuan utama. Kesuksesan akhirat sebagai tujuan. Dalam hal ini ketika kita, misalnya, menjadi pengusaha dengan harta berlimpah dan menjadi penguasa dengan kedudukan yang tinggi, maka kita harus menyertai kesuksesan tersebut dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah . Ridha Allah adalah tujuan yang seharusnya menjadi cita-cita dalam setiap aktivitas duniawi yang kita kerjakan.

Mari kita sama-sama membaca al-Qur’an untuk memahami kembali arti kesuksesan. Dalam surat Ali Imran ayat 185, Allah berfirman:

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ١٨٥

Artinya:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung (sukses). Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran [3]: 185).

Ayat ini menegaskan kepada kita tentang arti kesuksesan hakiki. Bahwa terhindar dari api neraka dan mendapatkan surga adalah kesuksesan hakiki yang hendaknya kita gapai sebagai manusia. Sungguh sangat-sangat beruntung orang-orang yang terhindar dari neraka dan mendapatkan surga Allah. Setiap individu memiliki kesempatan untuk menjadi sukses, dengan profesi dan bidang apapun, selama profesi dan pekerjaaanya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Seorang dosen bisa sukses, karayawan swasta bisa sukses, dokter bisa menjadi sukses, pengusaha bisa sukses, pejabat bisa sukses, ilmuwan bisa sukses, petani bisa sukses, lurah bisa sukses, buruh bisa sukses dan semua profesi lainnya, asalkan semuannya benar-benar menjadi sarana kita dalam rangka mencari keridhaan Allah.

Para sahabat generasi awal adalah contoh terbaik dari orang-orang yang telah mendapatkan kesuksesan sejati. Mereka adalah didikkan langsung Rasulullah.  Di antara mereka adalah Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwan, Thalhah bin Abdullah, Said bin Zaid, Saad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Mereka semua adalah orang-orang yang mengabdikan harta, jiwa dan raganya untuk kepentingan Islam dan keridhaan Allah. Oleh karenanya pantas rasanya Allah menghadiahkan bagi mereka surga-Nya.

Dengan demikian, tepatlah apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengenai ciri-ciri orang sukses dan orang gagal. Beliau mengatakan, bahwa diantara ciri-ciri kebahagiaan dan kesuksesan seorang hamba adalah bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya. Setiap bertambah amal-amal shalih yang dilakukan, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam menjalankan perintah Allah. Semakin bertambah usianya, semakin berkuranglah ambisi-ambisi keduniaannya. Ketika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya kepada sesama. Ketika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, bertambahlah kedekatannya pada manusia dan semakin rendah hati kepada mereka. Namun, sebaliknya ciri-ciri kegagalan adalah ketika bertambah ilmu pengetahuan, semakin ia bertambahlah kesombongannya. Setiap bertambah amalnya, kian bertambah kebanggaannya kepada diri sendiri dan penghinaannya kepada orang lain. Semakin bertambah kemampuan dan keududukannya, semakin bertambah pula kesombongannya.

Demikianlah makna kesuksesan yang sejati, kesuksesan yang mengantarkan seorang hamba kepada Jannah-Nya kelak di akhirat. Kesuksesan yang mendatangkan rahmat Allah kepada dirinya. Tentu semua itu tidak bisa diraih dengan tangan hampa tanpa perjuangan. Ibadah puasa yang sedang kita amalkan di bulan suci ini adalah momentum terbaik bagi kita untuk memperbaiki dan membersihkan diri dari segala dosa dan keburukan yang telah kita lakukan di masa lalu, demi meraih keridhaan dan kecintaan Allah. Sehingga pada akhirnya nanti, kelak di akhirat, kita bisa meraih kesuksesan yang sejati.

 

Tian Wahyudi

Alumni FIAI UII

 

MUTIARA HIKMAH

Imam Hasan al-Bashri berkata:
“Di antara tanda-tanda bahwa Allah berpaling dari hamba-Nya adalah ketika seorang hamba sibuk dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *