SANG KEKASIH JUGA DIUJI

Makhluk yang berjalan di muka bumi ini memiliki berbagai macam rutinitas dan problematika tersendiri yang harus dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Contoh terdekat di lingkungan kita adalah, rutinitas sebagai seorang pelajar. Seorang pelajar akan disibukkan dengan berbagai kegiatan akademis dan diharuskan untuk menghadapi berbagai tantangan untuk mencapai keberhasilan dalam studinya. Tak jarang seorang pelajar menemukan titik terjenuhnya sehingga merasa ujian yang sedang ia hadapi adalah ujian yang berat dan kehilangan semangat untuk kembali bangkit. Marilah sejenak kita kembali merenungi pedoman hidup yang telah diturunkan Allah I. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman  “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (Q.S. Al-Ankabut : 2-3)

Iman adalah pondasi hidup seorang muslim, oleh karena itu iman yang sejatinya merupakan sumber kekuatan seorang muslim akan diuji oleh Allah I melalui berbagai macam ujian hidup. Iman juga merupakan salah satu nikmat yang perlu kita syukuri, dan merupakan karunia yang sangat besar ketika kita lahir dan tumbuh di lingkungan yang telah mengenal Islam karena secara tidak langsung dalam kehidupan sehari-hari kita telah diajarkan untuk membangun iman sejak kecil, sehingga sudah sepatutnya kita terus memelihara dan meningkatkan iman kita agar menjadi seorang pribadi muslim yang lebih baik.

Setiap muslim telah mengetahui bagaimana cinta dan kasih sayang Allah I kepada para Nabi, dan sahabat-sahabat yang bersusah payah memperjuangkan Islam pada masanya. Mereka adalah orang-orang yang telah dijamin surga oleh Allah I, namun demikian mereka tetap mendapatkan cobaan dan ujian dari Allah I. Melalui cobaan dan ujian itu mereka merasa semakin dekat dengan Allah hingga rela mengorbankan harta dan nyawanya demi agama Islam.

Setiap orang yang beriman akan diuji, kabar baiknya adalah Allah tidak akan meninggalkan kita sendirian dalam menjalani ujian tersebut. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya, maka kita perlu meyakinkan diri bahwa setiap permasalahan dan cobaan yang dihadapi oleh manusia telah sesuai dengan kadar kemampuannya. Dalam menghadapi permasalahan kita juga perlu menanamkan kesabaran, dalam surat yang sama pada ayat ke-153 Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” Sabar menjadi salah satu kunci penyelesaian berbagai persoalan, dengan bersabar kita akan terus mencari jalan dan berikhtiar serta memaksimalkan ibadah kita sebagai bentuk rasa tawakkal kita kepada Allah I karena bertawakkal dan berharap hanya kepada Allah adalah satu-satunya cara yang tidak akan membuat manusia kecewa.

Begitu banyak kisah Nabi dan para sahabat yang memberikan pelajaran kepada kita mengenai sabar dan tawakkal dalam menghadapi cobaan. Salah satunya adalah ujian Nabi Muhammad r berikut.

 

Kisah Nabi Muhammad r dan Penduduk Thaif.

Nabi berjalan kaki dari kota Mekkah menuju Thaif untuk berdakwah kepada penduduk Thaif, perjalanan Nabi memakan waktu berhari-hari sampai akhirnya Nabi tiba di kota tersebut. Saat itu Nabi telah ditinggalkan oleh istri tercintanya yakni Siti Khadijah serta paman beliau Abu Thalib sehingga Nabi masih merasa sedih karena ditinggalkan orang-orang tercintanya, sebelum akhirnya memutuskan untuk mencoba berdakwah ke kota Thaif. Setelah Nabi sampai dan mencoba berdakwah kepada penduduk Thaif, Nabi tidak mendapat sambutan yang baik dan menerima penolakkan dari penduduk dan  para tokoh penguasa. Mereka tidak mempercayai Nabi sehingga mengusir Nabi dari Kota tersebut. Tidak sampai disitu, ketika Nabi berjalan untuk pulang mereka melontarkan cacian dan melempari Nabi dengan batu sehingga Nabi dan sahabat mengalami luka di bagian-bagian tubuh mereka. Nabi Muhammad r merasa sangat sedih dan bermunajat kepada Allah r ketika sedang berteduh di sebuah kebun. Dengan segala ketidak berdayaannya, nabi mengucapkan doa yang begitu menggetarkan hati.

Wahai Rabb-ku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Rabb-ku yang maha Rahim. Engkaulah Rabbnya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Rabb-ku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkamku, atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya muka-Mu yang mulia, yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap. Dan atas-Nyalah teratur segaka urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun adzab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.”

Ujian berat yang dihadapi oleh Nabi tidak melunturkan kepercayannya terhadap pertolongan Allah, dari doa diatas bahkan Nabi Muhammad r rela diperlakukan sepertu itu oleh para penduduk Thaif asalkan Allah tidak marah kepada Nabi. Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa selama kita mengandalkan Allah dan menjaga keridhoanNya, pasti pertolongan Allah akan datang. Seperti halnya pertolongan Allah yang mendatangkan Malaikat Jibril untuk menghibur hati Nabi setelah mendapatkan perlakuan kasar dari penduduk tersebut.

Jawaban Allah atas kegelisahan Nabi Muhammad r.

“Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu” (Q.S. Ad-Dhuha : 3).

Ketika merasa ditinggalkan, dibenci, atau mengalami kesulitan, Allah selalu ada dan tidak meninggalka hambaNya. Ayat ini merupakan sebuah kabar gembira bagi manusia, dimana dalam surah Ad-Dhuha ini Allah berfirman akan selalu bersama hambaNya bahkan Allah meyakinkan hambaNya agar tidak berprasangka buruk terhadap Allah, seperti halnya yang terjadi pada Nabi Muhammad r.

Sebelum surat ini turun, Nabi Muhammad sangat merasa sedih dan putus asa karena wahyu tidak kunjung diberikan selama 6 bulan, selama itu pula Nabi tidak didatangi oleh malaikat Jibril sehingga membuat Nabi merasa bahwa mungkin ada sesuatu yang membuat Allah tidak menurunkan wahyu selama itu. Kesedihan Nabi bertambah saat orang-orang musyrik disekitarnya semakin meragukan Nabi karena sudah tidak mendapatkan wahyu lagi dalam waktu yang lama, serta mengatakan bahwa Allah telah meninggalkan Nabi.

Kesedihan Nabi Muhammad akhirnya terjawab dengan turunnya surat Ad-dhuha, yang berisikan pesan bahwa kapanpun dan dimanapun sejatinya Allah selalu bersama hambaNya dan tidak sedikitpun Allah membenci hambaNya. Melalui kisah ini kita dapat mengetahui bahwa pertolongan Allah akan datang pada hambaNya dan sudah sepatutnya kita tidak meragukan dan berputus asa terhadap rahmat Allah I.

Kisah-kisah diatas hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kisah-kisah penggugah jiwa yang memberikan berbagai macam pelajaran berharga bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu kita perlu menambah wawasan dan pengetahuan mengenai kisah-kisah lainnya dari para Nabi dan sahabat untuk meningkatkan keimanan dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut untuk menghadapi ujian hidup.

Segala macam permasalahan dalam kehidupan merupakan proses yang akan dilewati manusia untuk membentuk pribadi yang lebih kokoh, terlebih jika dalam melewati permasalahan atau ujian tersebut kita selalu mengandalkan Allah dan berserah diri kepadaNya. “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (QS.al-Furqan: 75). Kelak Allah akan menyediakan tempat yang baik bagi orang-orang yang bersabar atas ujiannya. Bukankah dengan ujian-ujian tersebut kita menjadi orang yang semakin dekat dengan Allah? Karena tidak ada pertolongan dan tempat meminta selain kepadaNya. Ketika kita telah berikhtiar dan bersabar atas segala macam persoalan, maka kita akan menemukan hebatnya pertolongan yang Allah berikan dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Teruslah berjalan dan teruslah bersabar. Yakinlah pertolongan Allah ada di ujung sana dan sebentar lagi kamu akan sampai pada kebahagiaan dalam pelukanNya.

Wallahu’alamu bi ash shawab.

 

Mahasiswa Prodi Farmasi

Universitas Islam Indonesia

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *