C I N T A

C I N T A

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Hidup ini akan terasa indah jika memaknai cinta dengan apa yang dikehendaki Allah  dan rasul-Nya. Seindah doa dari sahabat Abu Darda a, Ya Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan air dingin.(H.R. Ahmad dan Tirmidzi).

Teks doa ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dari sahabat Abu Darda a.Hadits ini dikeluarkan oleh Tirmidzi (3556), Al-Hakim (2:433), Ibnu ‘Asakir (5/352/2). Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib. Al-Hakim menilai hadits ini sahih secara sanad.[1]

Kecintaan kepada Allah akan mengantarkan pelakunya pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Sehingga cinta tersebut akan menggerakkan seluruh aktivitasnya pada segala sesuatu yang bermuara kepada kebaikkan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Karena cinta itu ibadah, maka harus dipahami dengan benar. Jika cinta tidak dipahami dengan benar dan pengamalannya yang salah akan membawa pelakunya pada perbuatan dosa (masuk neraka). Namun jika cinta dipahami dengan benar  akan membawa pelakunya pada kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat (masuk surga).

Cinta memiliki peranan penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Seorang ibu mengandung 9 bulan, menyusui 2 tahun dan merawatnya hingga dewasa, ini karena cinta. Seorang ayah bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan isteri dan anak-anaknya, ini karena cinta. Seseorang melakukan aktivitas untuk mencapai suatu tujuan itupun pada akhirnya juga karena cinta.

Jika seseorang cinta kepada Allah ﷻ dan ingin berjumpa dengan-Nya, maka dia akan menempuh jalan yang mengantarkan menuju cita-citanya tersebut. Cinta merupakan penggerak seluruh aktivitas. Bahkan, hakikat ibadah itu sendiri adalah cinta, karena ibadah yang kosong dari cinta bagaikan ibadah yang tidak memiliki ruh.

Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang ditujukan kepada Allah ﷻ semata. Orang-orang beriman sangat mencintai Allah ﷻ, sebagaimana orang-orang musyrik mereka mencintai sesembahan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengangkat tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintai-Nya sebagaimana mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Q.S. al Baqarah [2]: 165).

Dari Anas a Rasulullah ` bersabda, “Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allâh dan Rasûl-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allâh. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allâh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (H.R. al-Bukhari no.16, Muslim no.43, At-Tirmidzi no.2624, dan Ibnu Majah no.4033)

Dari Ibnu Jarir, dari Ibnu Abbas h beliau berkata, “Siapa yang mencintai dan benci karena Allah, berteman dan memusuhi karena Allah, sesungguhnya pertolongan Allah itu diperoleh dengan demikian itu. Seorang hamba tidak akan bisa merasakan kenikmatan iman walaupun banyak melakukan shalat dan puasa sampai dirinya berbuat demikian itu. Sungguh, kebanyakan persahabatan seseorang itu hanya dilandaskan karena kepentingan dunia. Persahabat seperti itu tidaklah bermanfaat bagi mereka.” (H.R Ahmad di dalam al-Musnad III/430)

Tanda-Tanda Cinta Kepada Allah

Cinta kepada Allah ﷻ memiliki tanda dan bukti. Jika tanda dan bukti tersebut kurang atau bahkan tidak, hal ini merupakan tanda bahwa cinta kepada Allah ﷻ kurang, atau bahkan tidak ada. Di antara tanda-tanda kebenaran cinta kepada Allah adalah:[2]

  1. Mendahulukan kecintaan kepada Allah dibandingkan kecintaan kepada siapapun.
  2. Ittiba’ kepada Rasulullah `.
  3. Bercinta kasih kepada sesama kaum mukminin.
  4. Benci dan tegas kepada orang kafir.
  5. Berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya demi tegaknya agama Allah.
  6. Tidak gentar terhadap celaan para pencela ketika berjalan di jalan Allah.

Tanda-tanda tersebut termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan Nya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (H.R. at-Taubah [9]: 24)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfriman, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir“.(Q.S. Ali Imran [2]: 31-32)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfriman, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Q.S. al Mâidah [5]: 54).

Jangan Salah Memahami Cinta,

Jangan salah memahami cinta, sebagaimana yang terjadi pada hari valentine. Sudah menjadi rahasia umum, intensitas zina meningkat pesat di malam valentine. Hari itu dijadikan momen paling romantis untuk mengungkapkan rasa cinta kepada pacar dan kekasih. Apabila valentine hanya sekadar pacaran dan makan malam, setelah itu pulang ke “kandang” masing-masing, ini cara valentine zaman 70-an, kuno! Saat ini, valentine telah resmi menjadi hari zina sedunia.

Bukan hanya mengungkap perasaan cinta melalui hadiah coklat, tapi saat ini dilampiri dengan kondom. Allâhu akbar! Apa yang bisa Anda bayangkan? Malam valentine menjadi kesempatan besar bagi para pemuda dan mahasiswa pecundang untuk merobek mahkota keperawanan gadis dan para wanita. Malam valentine diabadaikan dengan lumuran maksiat dan dosa besar. Lebih parah dari itu, semua kegiatan di atas mereka rekam dalam video untuk disebarkan ke berbagai penjuru bumi melalui dunia maya. Bukankah ini bencana besar?! Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.

Dimanakah rasa malu mereka?! Dimanakah rasa keprihatinan mereka dengan umat?! Akankah mereka semakin memperparah keadaan?! Wahai para pemuda pecundan, jangan karena kalian tidak mampu menikah kemudian kalian bisa sewenang-wenang menggagahi wanita?

Wahai para pemudi yang hilang rasa malunya, jangan karena sebatang cokelat dan romantisme picisan Anda merelakan bagian yang paling berharga pada diri Anda. Laki-laki yang saat ini sedang menjadi pacarmu, bukan jaminan bisa menjadi suamimu. Bisa jadi kalian sangat berharap kasih sayang sang kekasih, namun di balik itu, obsesi terbesar pacarmu hanya ingin melampiaskan nafsu binatangnya dan mengambil madumu.

Bertaubatlah wahai kaum muslimin, ingatlah hadits Nabi `,Jika perbuatan kekejian sudah merebak dan dilakukan dengan terang-terangan di tengah-tengah masyarakat, maka Allah akan menimpakan kehancuran kepada mereka.” (H.R. Hakim dan beliau shahihkan, serta disetujui Ad-Dzahabi)

Allâhu Akbar, bukankah ini ancaman yang sangat menakutkan. Gara-gara perbuatan mereka yang tidak bertanggung jawab itu, bisa jadi Allah menimpakan berbagai bencana yang membinasakan banyak manusia. Ya.. valentine’s day, telah menyumbangkan masalah besar bagi masyarakat.

Karena itu, kami mengajak kepada mereka yang masih lurus fitrahnya. Berusahalah untuk banyak istighfar kepada Allah. Perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Kita berharap, dengan banyaknya istighfar yang kita ucapkan, semoga Allah mengampuni hamba-hamba-Nya.[3] Wallâhu a’lam bi ash shawâb.[]

 

*Abu Fawwaz al-Katitanji

 

Mutiara Hikmah

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Ya Tuhanku Sesungguhnya aku sangat membutuhkan setiap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Q.S. al-Qashash [28]: 24).

 

Refrensi end note:

[1] https://rumaysho.com/22798-doa-nabi-daud-meminta-cinta-allah.html

[2] Abu Isa Abdullah bin Salam. 1435 H. Mutiara Faidah Kitab Tauhid. Yogayakarta: Pustaka Muslim. hal. 209-212

[3] https://konsultasisyariah.com/10485-valentines-day-hari-zina-internasional.html

 

Download Buletin klik disini

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *