Sadar atau Tidak, Attitude dan Akhlak adalah Cerminan Akidah

Sadar atau Tidak, Attitude dan Akhlak adalah Cerminan Akidah

Muhammad Insan Fathin, S.Si.

 

Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ba‘du.

Pembaca al-Rasikh rahimakallah, akhir-akhir ini kita sering mendengar ungkapan orang-orang, “Ahh Gen Z attitudenya kurang, ahh Gen Z akhlaknya kurang”.  Jika ungkapan semacam ini hanya muncul dari satu atau dua orang, mungkin masih bisa dianggap sekadar sudut pandang pribadi. Namun, ketika ini menjadi keresahan yang terdengar di banyak tempat dan dari berbagai kalangan, rasanya sulit untuk menafikannya begitu saja. Hmm… mungkin memang kita, Gen Z, sudah mulai harus berbenah. Jangan-jangan memang itu kelemahan kita.

Kedudukan Akhlak dalam Islam

Setiap orang harus mengetahui bahwa perbaikan attitude atau akhlak adalah di antara tujuan Rasulullah ﷺ diutus[1]. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus (dengan tujuan) untuk memperbaiki akhlak-akhlak mulia.” (HR Bukhari dan Ahmad. Dishahihkan oleh al-Albani).[2]

Dalam ajaran Islam, akhlak bukan perkara yang bersifat addition (tambahan), melainkan bagian utama dari keimanan. Iman memiliki banyak cabang yang saling menyempurnakan, dan di antara cabang tersebut adalah perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، أَعْلَاهَا قَوْلُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَىٰ عَنِ الطَّرِيقِ

“Keimanan (memiliki) tujuh puluh sekian cabang-cabang. Cabang yang tertinggi adalah perkataan ‘laa ilaaha illallah”. Cabang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR Muslim no. 35).

Ketika Rasulullah ﷺ menekankan menyingkirkan gangguan termasuk dalam cabang keimanan, maka akhlak  merupakan penyempurna  keimanan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ

Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya dan yang paling lembut dengan keluarga.” (HR Abu Daud no. 4682 dan Tirmidzi no. 1162).[3]

Islam merupakan agama yang membawakan kemaslahatan rasa aman bagi sesama. Karena itu, akhlak seorang mukmin tidak hanya membawa kebaikan kepada dirinya sendiri namun juga akan memberikan kebaikan kepada selainnya. Tujuan dari disyariatkan akhlak baik adalah memberikan rasa aman kepada sesama. Rasulullah ﷺ dengan tegas mensifati orang yang tidak memberikan keamanan kepada sesama sebagai orang yang tidak beriman. Dari Abu Syuraih Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, Beliau ﷺ bersabda:

وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ.

Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman” kemudian ditanya kepada beliau, “Siapa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya.” (HR Bukhari dan Muslim).[4]

Hadits ini sangat menekankan bahwa perilaku manusia kepada orang lain yang didasari akhlaknya sangat memperlihatkan kualitas keimanannya.

Kedudukan-kedudukan akhlak dalam agama ini menunjukkan bahwa pembahasan akhlak tidak dapat dipisahkan dari keimanan dan akidah sebagai fondasinya.

Akhlak sebagai Cerminan Akidah

Jika kesempurnaan keimanan seseorang terlihat kepada akhlaknya, maka kualitas akidah juga seseorang juga mencerminkan oleh akhlak seseorang. Hal ini karena akidah pada hakikatnya adalah keimanan. Muhammad bin Ibrahim dalam kitab Al-Asbāb al-Mufīdah fī Iktisāb al-Akhlāq al-Ḥamīdah  mengatakan:

إِنَّ العَقِيْدَةَ هِيَ الإِيْمَانُ

Sesungguhnya akidah itu-lah keimanan.”[5]

Dengan demikian, pembahasan tentang akhlak tidak lepas dari pembahasan tentang akidah.

Para ulama juga menjelaskan bahwa akidah yang benar akan berdampak pada perbaikan akhlak bagi setiap orang, disebutkan dalam kitab Mawsū‘ah al-Akhlāq al-Islāmiyyah,

اَلْعَقِيدَةُ الصَّحِيحَةُ هِيَ الَّتِي تُصَحِّحُ الأَخْلَاقَ، وَتَحْمِي الإِنْسَانَ مِنَ الِانْزِلَاقِ

“Akidah benar-lah yang akan memperbaiki akhlak dan menjaga manusia dari penyimpangan dan kesalahan sikap (yang tidak disengaja).”[6]

Dengan demikian, permasalahan akhlak tidak cukup dengan pembenaran etika semata namun juga membutuhkan perbaikan akidah.

Semakin kuat akidah seseorang, semakin besar ketergantungannya dengan Allah ﷻ. Semakin kuat ketergantungannya kepada Allah ﷻ, semakin patuh ia. Allah ﷻ memerintahkan untuk selalu berbuat baik kepada seluruhnya. Allah ﷻ berfirman:

وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ

“Berbuat baik sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu” (QS al-Qaṣaṣ [28]: 77).

Imam al-Maraghi menjelaskan ayat ini pada kitabnya Tafsīr al-Marāghī,

وَأَحْسِنْ إِلَىٰ خَلْقِهِ، كَمَا أَحْسَنَ هُوَ إِلَيْكَ فِيمَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْكَ، فَأَعِنْ خَلْقَهُ بِمَالِكَ وَجَاهِكَ، وَطَلَاقَةِ وَجْهِكَ، وَحُسْنِ لِقَائِهِمْ، وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِمْ فِي غَيْبَتِهِمْ.

“Berbuat baiklah kepada makhluk-Nya, sebagaimana Ia berbuat baik kepadamu dengan apa yang Ia telah berikan kepadamu (berupa kenikmatan-kenikmatan). Bantulah makhluk-Nya dengan hartamu, kedudukanmu, kecerian wajahmu, sikap baik ketika berjumpa, dan pujianmu terhadap mereka dalam ketiadaan mereka.”[7]

Dengan demikian, ketika akidah seseorang kepada Allah ﷻ kuat, ia akan semakin baik kepada makhluknya.

Implikasi Lemahnya Akidah terhadap Krisis Akhlak Hari Ini

Lemahnya akhlak dan attitude di tengah masyarakat, termasuk di dalamnya Gen Z, sering kali hanya dianggap problem moral dan etika sosial. Padahal dalam Islam, akhlak tersebut adalah hasil nyata dari akidah seseorang. Ketika akhlak secara umum manusia dianggap mengalami kemunduran, maka hal ini juga berkaitan dengan kemunduran akidah yang belum tertanam dan dipahami dengan benar. Maka dari itu perbaikan akhlak sejatinya harus dimulai dengan perbaikan cara pandang seseorang terhadap Allah ﷻ.

Akidah yang benar melahirkan kesadaran bahwa setiap perbuatan dalam pengawasan Allah ﷻ. Nabi ﷺ bersabda:

اِعْبُدِ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Sembahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah. Jika Engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.”[8]

Kesadaran ini akan melahirkan rasa tanggung jawab moral ketika berinteraksi dengan sesama. Seseorang yang meyakini bahwa Allah melihat, mencatat, dan menghisab seluruh amalannya, tidak akan mudah meremehkan hak orang lain dan berlaku baik sekecil apapun bentuknya. Sebaliknya, akidah yang rapuh dan tidak kokoh akan menyebabkan manusia tidak memiliki nilai bahwa Allah-lah yang memerintahkan berbuat baik kepada sesama. Sejatinya istilah “memanusiakan manusia” adalah syariat Islam yang hari ini mulai tidak lagi diindahkan

Maka dari itu, akidah dan akhlak mempunyai keterkaitan yang sangat kuat. Krisis akhlak serta attitude merupakan persoalan penting di tengah kita. Hal ini terjadi karena kurangnya penanaman akidah yang baik. Islam tidak hanya membangun akhlak di atas tekanan sosial, namun juga membangunnya dengan landasan akidah dan keimanan kepada Allah yang memerintahkan untuk berbuat baik. Perbaikan akhlak ini juga kita harus bersama perbaikan akidah, agar kebaikan yang Islam ajarkan benar-benar dipraktekkan secara kaffah atau menyeluruh.

Maraji’ :

[1] Abdul Fattah bin Muhammad Mushailihi. Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣid. Manshurah, Mesir: Dar al-Lu’lu’ah li an-Nasyr wa at-Tauzī‘. 2022 M / 1443 H. Cet. ke-1. Jilid 4. h. 134.

[2] Muḥammad Nāṣiruddīn al-Albānī. Silsilah al-Aḥādīts aṣ-Ṣaḥīḥah. Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif. 1995 M. Cet. ke-1. Jilid 2. h. 613.

[3] al-Mundzirī, ‘Abd al-‘Aẓīm bin ‘Abd al-Qawī. At-Targhīb wa at-Tarhīb. Kairo: Dār al-Ḥadīts. t.t. Jilid 3. h. 358.

[4] al-Haitsami, ‘Alī bin Abī Bakr. Majma‘ az-Zawā’id wa Manba‘ al-Fawā’id. Kairo: Maktabah al-Qudsī. t.t. Jilid 8. h. 171.

[5] Muḥammad bin Ibrāhīm bin Aḥmad al-Ḥamd. Al-Asbāb al-Mufīdah fī Iktisāb al-Akhlāq al-Ḥamīdah. Riyadh: Dār Ibn Khuzaimah. 1418 H. Cet. ke-1. h. 4.

[6] Kelompok Peneliti di bawah bimbingan ‘Alawī bin ‘Abd al-Qādir as-Saqqāf. Mawsū‘ah al-Akhlāq al-Islāmiyyah. Riyadh: Mauqi‘ ad-Durar as-Saniyyah. Jilid 1. h. 24.

[7] Ahmad bin Musthafa al-Marāghī. Tafsīr al-Marāghī. Kairo: Syirkah Maktabah wa Mathba‘ah Musthafā al-Bābī al-Ḥalabī wa Aulādih. 1946 M / 1365 H. Cet. ke-1. Jilid 20. h. 94.

[8] al-Mundzirī, ‘Abd al-‘Aẓīm bin ‘Abd al-Qawī. At-Targhīb wa at-Tarhīb. Kairo: Dār al-Ḥadīts. t.t. Jilid 3. h. 358.

Download Buletin klik di sini