Krisis Identitas dan Fenomena LGBT: Telaah Islam atas Jati Diri Manusia
Krisis Identitas dan Fenomena LGBT: Telaah Islam atas Jati Diri Manusia
Nur Laelatul Qodariyah S.H*
Bismillâhi wal ḥamdulillâh, waṣ ṣalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâhi, wa ba’du,
Sahabat Al-Rasikh yang diberkahi Allah ﷻ, saat ini internet atau media sosial adalah salah satu tempat yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Bukan hanya berdampingan, tetapi bisa dibilang media sosial itu seperti virus yang tidak mengenal wilayah maupun geografis. Mulai dari gaya hidup, nilai-nilai baru, film, hingga informasi yang datang dan viral, semuanya akan berkembang dan menyebar secara cepat layaknya sebuah virus. Entah itu virus baik atau virus yang buruk, semuanya bercampur. Kecepatan itu, tren itu, yang akan membuat kita terlena dan menormalisasikan sesuatu. Awalnya hanya ikut-ikutan, lama-lama akan terlena dan menormalisasikan sesuatu yang diharamkan agama. Dan salah satu isu yang tengah ramai di tengah masyarakat itu adalah fenomena LGBT.
Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan yang lebih mendasar. Mengapa isu LGBT semakin berkembang dan memperoleh tempat di ruang publik? Apakah ini semata-mata persoalan orientasi seksual, atau ada persoalan lain yang lebih dalam? Dalam perspektif Islam, fenomena ini dapat dibaca sebagai bagian dari krisis identitas, yaitu kondisi ketika manusia kehilangan pemahaman yang utuh tentang siapa dirinya, untuk apa ia diciptakan, dan bagaimana ia seharusnya menjalani kehidupannya.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-ku” ( QS Az-Zariyat [51]: 56).
Dari ayat tersebut dapat kita pahami bahwa, identitas manusia tidak dibangun secara semata-mata berdasarkan keinginan dirinya sendiri, tetapi berlandaskan tujuan penciptaanya sebagai hamba Allahﷻ, ketika tujuan hidup ini diabaikan manusia lebih mendefinisikan perasaan berdasarkan perasaan, trend, atau pengakuan dari orang lain.
selanjutnya Krisis identitas secara umum dan menurut beberapa ahli adalah kondisi seseorang dimana dia kebingungan dalam mengenali dirinya sendiri. Keterlibatan influencer di media sosial dapat menyebabkan kebingungan diri.[1] Kebingungan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti lingkungan keluarga, pengalaman hidup, pergaulan, tekanan sosial, hingga paparan media yang terus-menerus membentuk cara berpikir seseorang.
Normalisasi yang Membentuk Cara Pandang
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, salah satu faktor yang membawa diri pada krisis identitas adalah media sosial karena media sosial berpengaruh terhadap opini masyarakat. Banyak dari generasi muda yang sedari kecil menerima atau mempelajari sesuatu kemudian merasakan kebingungan diri. Di satu sisi, mereka mempelajari agama yang telah diterimanya sejak kecil. Kemudian, di sisi lain, banyak muncul berbagai macam pandangan yang berulang-ulang dan terus menjadi tren di media sosial, memutar otak, dan kemudian memenuhi memori.
Bukankah sesuatu yang terus-menerus dilihat dan dibicarakan akan membuat kita menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang normal? Hal yang sebelumnya dianggap tidak normal, karena sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, perlahan dapat dianggap biasa. Begitu pula dengan isu LGBT ini.
Dalam Islam, persoalan LGBT tidak hanya dipandang sebagai isu sosial, tetapi juga berkaitan dengan ajaran agama. Al-Qur’an, misalnya, mengisahkan kaum Nabi Luth ﷺ yang melakukan perbuatan homoseksual dan mendapat peringatan serta azab dari Allah ﷻ.
Selain itu, hadis Nabi ﷺ juga memberikan peringatan yang tegas kepada umat Islam terkait perbuatan yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth ﷺ. Di antaranya, diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah r.a. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah perbuatan kaum Luth alaihis salam (homoseksual).” (HR Tirmidzi no. 1457).[2]
Menjaga Identitas Muslim
Berdasarkan analisis penulis, tantangan terbesar umat muslim saat ini, bukan hanya sekedar mempertahankan keyakinan, tetapi bagaimana menyampaikan keyakinan tersebut dengan baik dan juga bijaksana. Sebagai seorang muslim kita wajib menjaga identitas kita, jangan sampai terlena oleh godaan media dan menormalisasikan keadaan.[3]
Banyaknya generasi muda yang hanya memahami bahwa agama memiliki aturan yang jelas, memang benar, tapi masalahnya itu adalah masih banyak generasi muda yang kesulitan untuk menjelaskan alasan di balik aturan tersebut. Akibatnya ketika menghadapi pandangan yang berbeda, mereka lebih mengedepankan emosi daripada berdiskusi dan berbicara sopan.
Selain itu kemampuan menyaring informasi adalah sesuatu yang tidak bisa kita abaikan, tidak semua yang populer itu perlu diikuti, dan tidak semua yang ramai dan viral pasti benar, kita semua perlu belajar untuk berpikir kritis bukan impulsif, agar nantinya bisa memilah informasi yang benar dan juga tidak salah arah.
Oleh karena itu, pemahaman agama yang mendalam sangat penting, bukan hanya mengetahui haram dan halal, tetapi perlu mengetahui alasan hikmah di baliknya. Seseorang yang mempunyai pemahaman agama yang baik, ia tidak mungkin goyah hanya karena melihat sudut pandang yang berbeda yang sedang populer, dan tentunya dapat mempertahankan keyakinan tanpa harus bersikap kasar terhadap orang lain.
Dengan hal tersebut, marilah kita bersama-sama membangun cara berdakwah yang santun, bijaksana, dan mengedepankan sikap saling menghargai. Dakwah tidak hanya dilakukan dengan menyampaikan larangan, tetapi juga dengan memberikan pemahaman yang utuh mengenai apa itu LGBT, bagaimana fenomena tersebut dipahami dalam perspektif agama dan sosial, serta mengapa dalam ajaran Islam perilaku seksual sesama jenis dipandang sebagai sesuatu yang diharamkan. Penyampaian tersebut hendaknya dilakukan dengan bahasa yang sopan, argumentasi yang jelas, serta tidak disertai dengan tindakan merendahkan, menghakimi, atau mendiskriminasi individu. Dengan demikian, dakwah dapat menjadi sarana edukasi yang memberikan pemahaman kepada masyarakat sekaligus mengajak untuk berpegang pada nilai-nilai agama dengan cara yang penuh hikmah, kasih sayang, dan tetap menghormati martabat setiap manusia.
* Alumnus Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia
Marāji’:
[1] Rizki Wahyuni, “Peran Komunikasi Keluarga Dalam Membentuk Identitas Remaja Pada Karang Taruna Di Kelurahan Trimulyo Jetis Bantul Yogyakarta, Journal of Authentic Research, Vol. 4, No. 1 (2025)
[2] Lilis Inrawati, “Normalisasi LGBT di Era Digital: Tantangan Bagi Generasi Muslim” dikutip dari Normalisasi LGBT di Era Digital: Tantangan Bagi Generasi Muslim Halaman 1 – Kompasiana.com diakses pada kamis 6 Agustus 2026
[3] Ilham Bashori Alwi, “Normalisasilgbtdalamwacanakeagamaan:Kontestasinarasi Di Media Sosial Indonesia” RELASI: Jurnal Penelitian Komunikasi,Vol. 05 No. 04 (2025)












