Takut Menjadi Biasa-Biasa Saja
Takut Menjadi Biasa-Biasa Saja
Muhammad Malik Nahar*
Bismillâh wal hamdulillâh wash-shalâtu was-salâmu ‘alâ Rasûlillâh, wa ba‘du.
Sahabat Al-Rasikh yang dirahmati Allâh ﷻ, pernahkah kita merasa agak malu ketika ditanya, “Sekarang sibuk apa?” lalu jawaban paling jujur kita hanyalah, “Ya, kuliah saja?” Di saat yang sama, teman lain sedang sibuk dalam organisasinya, banyak memenangkan lomba, magang di perusahaan besar, ikut exchange, membangun bisnis, atau mengisi LinkedIn dengan sederet pengalaman baru. Adapun sebagian mahasiswa yang “biasa” saja mungkin merasa kecil karena dirinya cuma kuliah, cuma jadi anggota, cuma belum punya prestasi besar, dsb.
Keinginan berkembang tentu bukan masalah. Ambisi, prestasi, dan pengalaman dapat menjadi sarana kebaikan. Namun, ada titik ketika kita tidak lagi sekadar ingin bertumbuh. Kita mulai merasa harus memiliki sesuatu yang mengesankan agar layak merasa berharga. Pencapaian yang semula menjadi sarana berubah menjadi ukuran diri. Saat tidak ada keberhasilan baru yang bisa diceritakan, kita merasa hidup sedang berjalan di tempat. Pertanyaannya, apakah hidup yang tidak spektakuler berarti hidup yang gagal?
Ketika Prestasi Menjadi Syarat untuk Merasa Berharga
Lingkungan kampus memang terbiasa dengan budaya pencapaian dimana segala sesuatu terukur dengan angka dan label. Ada IPK, ranking, sertifikat, jabatan organisasi, publikasi, penghargaan, dan berbagai pencapaian yang mudah dibandingkan. Hal ini bukan sesuatu yang buruk, namun masalahnya seringkal ukuran tersebut berpindah dari alat evaluasi menjadi penentu harga diri.
Kita mulai merasa hebat ketika berhasil dan merasa tidak berarti ketika gagal. Kita mengambil terlalu banyak kegiatan bukan karena semuanya penting, tetapi karena takut terlihat biasa. Bahkan istirahat pun bisa terasa seperti kemunduran karena orang lain tampak terus bergerak.
Nyatanya, Islam tidak menempatkan kemuliaan manusia pada seberapa mengesankan hidupnya di mata orang lain. Allâh ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurât [49]: 13).
Ukuran kemuliaan di sisi Allâh ﷻ bukanlah popularitas, jabatan, atau panjangnya daftar pencapaian, melainkan ukuran kemuliaan tersebut adalah ketakwaan.
Islam Tidak Meminta Hidup Kita Terlihat Spektakuler
Allâh ﷻ juga berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk [67]: 2).
Syaikh ‘Abdurrahmân as-Sa‘dî v menjelaskan bahwa aḥsanu ‘amalan berarti amal yang paling ikhlas dan paling benar.[1] Artinya, yang menjadi perhatian bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi kualitas amal di hadapan Allâh ﷻ.
Dari Abu Hurairah z, ia berkata bahwa Rasûlullâh ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR Muslim, no. 2564).[2]
Ketika manusia melihat profil, Allâh ﷻ melihat hati dan amal. Dan ketika manusia melihat penghargaan, Allâh ﷻ mengetahui perjuangan yang tidak pernah kita ceritakan.
Ada Kebaikan yang Tidak pernah Masuk CV
Tidak semua kehidupan yang bernilai menghasilkan sertifikat atau penghargaan tertulis. Ada mahasiswa yang tidak banyak berorganisasi karena selepas kuliah harus membantu orang tuanya. Ada yang pencapaian terbesarnya semester ini adalah tetap bertahan di tengah masalah keluarga. Ada yang tidak pernah menjadi ketua, tetapi selalu datang ketika temannya membutuhkan bantuan. Ada yang namanya tidak terkenal, tetapi menjaga salat, belajar dengan jujur, dan menunaikan amanah kecil tanpa banyak bicara.
Ketika tidak semua hal dapat ditulis di LinkedIn, tidak berarti nilainya kecil di sisi Allâh ﷻ. Dari ’Aisyah z, beliau mengatakan bahwa Rasûlullâh ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit.” (HR Muslim, no. 783).[3]
Ada kehidupan yang terlihat biasa dari luar, tetapi boleh jadi sangat berat timbangannya di sisi Allah. Sebaliknya, kehidupan yang tampak luar biasa belum tentu bernilai jika dibangun di atas niat yang salah atau amanah yang diabaikan.
“Biasa” Bukan Alasan Untuk Menjadi Malas
Namun, bukanlah tujuan dari tulisan ini untuk ajakan untuk puas dengan kemalasan. Islam mendorong kita untuk produktif; belajar, bekerja, berbuat ihsan, dan berlomba dalam kebaikan. Berusahalah memperoleh nilai yang baik! Ikuti lomba jika mampu. Berorganisasilah jika memberi manfaat. Maganglah, menulislah, lakukan penelitian, dan bangun kompetensi dan relasi. Yang perlu dijaga adalah alasan di balik semuanya.
Jangan mengejar prestasi hanya agar prestasi itu memberi alasan untuk merasa berharga. Jangan memenuhi kalender hanya karena takut disebut tidak produktif. Jangan memaksakan jalan hidup yang sebenarnya tidak sesuai amanah dan kemampuan hanya karena takut dianggap biasa.
Kita boleh ingin menjadi hebat. Kita hanya tidak boleh menggantungkan harga diri pada keberhasilan menjadi hebat.
Berani Menjadi “Biasa” di Mata Manusia
Sesekali, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: jika tidak ada yang tahu bahwa saya melakukan ini, apakah saya masih mau melakukannya? Jika pencapaian ini tidak bisa dimasukkan ke CV atau diunggah ke media sosial, apakah saya masih menganggapnya berharga? Apakah saya mengejarnya karena memang bermanfaat, atau karena takut tidak terlihat istimewa?
Pada akhirnya, Allah tidak akan menanyakan apakah kehidupan kita cukup mengesankan untuk menjadi cerita. Yang akan dipertanggungjawabkan adalah bagaimana kita menggunakan ilmu, waktu, kemampuan, dan amanah yang diberikan. Jangan sampai kebutuhan untuk menjadi luar biasa di mata manusia membuat kita lupa menjadi benar di hadapan Allah. Sebab menjadi biasa di mata manusia tidak pernah berarti biasa di sisi-Nya. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.
* Mahasiswa Program Studi Ahwal Syakhshiyyah Program Internasional, Universitas Islam Indonesia.
Marāji’:
[1] ‘Abdurrahmân ibn Nâshir as-Sa‘dî. Taisîr al-Karîm ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannân. Beirut: Mu’assasah ar-Risâlah. 2000. Cet. ke-1. Tafsir QS Al-Mulk [67]: 2.
[2] Muslim ibn al-Hajjâj an-Naisâbûrî. Shahîh Muslim. Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabî. t.t. no. 2564. https://sunnah.com/muslim%3A2564c
[3] Muslim ibn al-Hajjâj an-Naisâbûrî. Shahîh Muslim. Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabî. t.t. no. 783. https://sunnah.com/muslim%3A783b
Download Buletin klik di sini











