Wahai Pemuda, Produktiflah Tanpa Kehilangan Arah
Wahai Pemuda, Produktiflah Tanpa Kehilangan Arah
Fathurrahman
Bismillâhi wal ḥamdulillâh, waṣ ṣalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâhi, wa ba’du,
Masa muda adalah salah satu nikmat terbesar yang sering baru disadari nilainya setelah berlalu. Pada masa inilah seseorang memiliki energi, kesempatan belajar, kesehatan, keberanian mencoba, dan waktu yang relatif luas. Karena itu, Islam tidak mengajarkan pemuda untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya agar kuat, bersemangat, mengambil manfaat dari kesempatan, dan bersegera dalam kebaikan.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan; produktif saja tidak cukup, produktif dengan arah yang benar. Sebab, seseorang bisa sangat sibuk, tetapi tidak semakin dekat kepada Allah ﷻ. Bisa memiliki banyak pencapaian, tetapi kehilangan ketenangan. Bisa mengejar banyak target, tetapi lupa untuk apa sebenarnya ia hidup.
Produktif dengan Orientasi Akhirat
Allah ﷻ berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِي ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash [28]: 77).
Ayat ini memberikan keseimbangan yang indah. Islam tidak memerintahkan kita meninggalkan dunia, tetapi juga tidak membenarkan dunia menjadi tujuan akhir.
Imam al-Qurthubi z ketika menjelaskan ayat ini menyebutkan bahwa manusia hendaknya menggunakan apa yang Allah berikan dari kehidupan dunia untuk sesuatu yang bermanfaat bagi akhirat. Ia juga menukil penjelasan bahwa “bagianmu dari dunia” dapat dipahami sebagai bagian yang halal dan bermanfaat bagi kehidupan seseorang. Dengan demikian, dunia bukan untuk dipertuhankan, melainkan dimanfaatkan sebagai sarana menuju akhirat.[1]
Maka, belajar dengan sungguh-sungguh, berorganisasi, berkarya, mengembangkan keterampilan, bekerja secara profesional, membangun usaha, dan berkontribusi kepada masyarakat adalah aktivitas yang baik apabila diarahkan untuk mencari keridaan Allah ﷻ.
Jangan Sampai Sibuk tetapi Kehilangan Waktu
Dari Ibnu Abbas c Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR al-Bukhari no. 6412).
Perhatikan, Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa manusia hanya tertipu karena kekurangan waktu. Justru waktu luang dapat menjadi nikmat yang disia-siakan.
Karena itu, persoalan pemuda hari ini bukan semata-mata kurang aktivitas. Terkadang justru terlalu banyak aktivitas, tetapi tidak memiliki prioritas. Jadwal penuh, tetapi hati kosong. Target bertambah, tetapi ibadah berkurang. Relasi semakin luas, tetapi hubungan dengan Allah ﷻ semakin jauh. Produktivitas yang benar bukanlah tentang seberapa banyak yang kita kerjakan, tetapi seberapa bernilai pekerjaan itu di hadapan Allah ﷻ.
Masa Muda Tidak Akan Kembali
Dari Ibnu ‘Abbas c, Rasulullah ﷺ pernah menasehati seseorang,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR Al Hakim, Al Mustadrok 4: 341).
Masa muda adalah modal, bukan sekadar masa bersenang-senang. Karena itu, jangan menunggu tua untuk menjadi rajin beribadah. Jangan menunggu mapan untuk bersedekah. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk memberi manfaat. Jangan menunggu kehilangan waktu untuk menyadari betapa mahalnya satu jam yang telah berlalu.
Setiap nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita, kelak akan ditanyakan pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu).” (QS At-Takaatsur [102]: 8)
Jadilah Pemuda yang Kuat dan Bermanfaat
Islam mengajarkan agar seorang mukmin memiliki kekuatan dan semangat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR Muslim no. 2664).
Hadis ini sangat relevan bagi pemuda. Ada tiga pesan penting: cari yang bermanfaat, minta pertolongan Allah ﷻ, dan jangan menyerah. Maka, pemuda semestinya memiliki himmah—cita-cita dan semangat yang tinggi: serius menuntut ilmu, membaca, berkarya, berorganisasi, membangun jaringan, menguasai keterampilan, dan mengembangkan potensi diri. Namun, semua itu harus tetap berada dalam koridor syariat dan berorientasi pada keridaan Allah ﷻ.
Produktif Bukan Berarti Harus Selalu Sibuk
Ada kekeliruan yang sering terjadi, kita menganggap produktif berarti selalu sibuk. Padahal, sibuk belum tentu produktif. Menghabiskan berjam-jam di media sosial adalah aktivitas, tetapi belum tentu produktif. Menghadiri banyak kegiatan belum tentu menghasilkan manfaat. Memiliki banyak target belum tentu berarti memiliki arah.
Imam Ibn al-Jauzi v memberikan nasihat yang sangat kuat,
وَاعْلَمْ أَنَّ الزَّمَانَ أَشْرَفُ مِنْ أَنْ يُضَيَّعَ مِنْهُ لَحْظَةٌ
“Ketahuilah bahwa waktu terlalu mulia untuk disia-siakan walau hanya sesaat.”[2]
Beliau menggambarkan hari-hari manusia seperti ladang. Setiap waktu adalah kesempatan menanam amal yang kelak akan dipanen. Karena itu, pemuda yang cerdas bukan yang memenuhi seluruh waktunya dengan kesibukan, tetapi yang menempatkan setiap kesibukan pada tempat yang tepat.
Arah Tujuan Hidup adalah Ibadah
Wahai pemuda, silakan memiliki cita-cita setinggi langit. Jadilah dokter, dosen, pengusaha, peneliti, birokrat, teknolog, dai, profesional, atau apa pun yang bermanfaat bagi umat. Tetapi jangan sampai kesuksesan membuatmu lupa kepada siapa engkau akan kembali.
Perbanyaklah amal saleh, tetapi jangan kehilangan keikhlasan. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan tinggalkan salat. Bangun karier, tetapi jangan korbankan kejujuran. Bangun jaringan, tetapi jangan tinggalkan adab. Gunakan teknologi, tetapi jangan biarkan teknologi menggunakan waktumu. Cari dunia, tetapi jangan kehilangan akhirat.
Sebab, arah tujuan hidup adalah ibadah. Allah ﷻ berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56).
Inilah kompasnya; jika belajar membuat kita semakin mengenal Allah ﷻ, lanjutkan. Jika pekerjaan membuat kita mampu menafkahi keluarga dengan halal, lanjutkan. Jika organisasi membuat kita belajar melayani dan memberi manfaat, teruskan. Jika teknologi membantu kita berkarya dalam kebaikan, manfaatkan. Jika kesuksesan membuat kita semakin bersyukur dan rendah hati, syukuri.
Namun jika kesibukan membuat salat terabaikan, hati mengeras, dosa semakin ringan, dan akhirat tidak lagi menjadi tujuan, maka kita perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi arah perjalanan. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita kehilangan tujuan akhirat; sebab produktivitas yang sejati bukanlah banyaknya yang kita selesaikan, melainkan sejauh mana kesibukan itu membawa kita semakin dekat kepada Allah ﷻ.
Marāji’:
[1] Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet. II, 1384 H/1964 M, jilid. 13, h. 289.
[2] Imam Ibn al-Jauzi, Shayd al-Khathir, Damaskus: Dar al-Qalam, cet. I, 1425 H/2004 M, h. 407.
Download Buletin klik di sini










