Konsep Ar-Rasikh dan Urgensi Menghadapi The Death of Expertise
Konsep Ar-Rasikh dan Urgensi Menghadapi The Death of Expertise
Nur Laelatul Qodariyah*
Sahabat Al-Rasikh yang di berkahi Allah ﷻ, pernahkah kalian semua bertanya-tanya makna Al-Rasikh itu sendiri apa? Nama ini bukan sekadar nama portal dakwah UII, bukan juga nama sembarang yang diambil di website secara random. Semua itu memiliki interpretasi yang terkandung dalam nama itu sendiri. Sebab, setiap nama mengandung harapan yang besar bagi orang yang diberi nama tersebut.
Dalam Al-Qur’an Al-Rasikh berarti orang-orang yang telah berpengetahuan mendalam, sedangkan secara etimologi Al-Rasikh berasal dari kata rasakha (رَسَخَ) yang berarti kokoh atau mendalam.[1] Sebagaimana arti dari Al-Rasikh itu sendiri, yang memberikan isyarat bagi kita agar menjadi seseorang yang berpengetahuan yang luas dan juga mendalam, lewat proses membaca, meneliti, mencari tau hal-hal yang belum kita ketahui agar diharapkan dengan pengetahuan-pengetahuan yang dibawanya bermanfaat bagi kita semuanya. Dan tentunya orang-orang yang dimaksud tersebut adalah orang yang bukan hanya sekadar tahu dan bukan hanya sekadar mendalami yang kemudian hanya disimpan rapat-rapat seolah-olah hati, lisan, dan perbuatannya tertutup oleh kesombongan.
Banyak sekali orang-orang yang pintar di luaran sana, yang terbungkus sangat cantik dan juga menawan. Ia memperlihatkan sisi indah dalam dirinya, seolah-olah telah selesai membaca atau memahami sebuah buku maupun studi yang ia jalani. Namun, nyatanya bodoh. Iya, benar-benar bodoh. Orang yang hanya terlihat seperti bayangan berbeda dengan orang yang hadir dan nyata untuk kita. Sama halnya dengan orang yang berpengetahuan, orang-orang yang berpengetahuan bagi orang awam itu seperti halnya hero yang membantu setiap menit dan detiknya agar kita mulai tumbuh nyaman tanpa merasa kita rendah dihadapannya.
Banyak Orang Bodoh yang Bergaya Pintar
Banyak sekali orang-orang bodoh bergaya pintar, yang hanya melihat dari buku sampulnya yang sangat kompeten tapi eror substansi. Dapat dipahami bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, umat Islam sangat membutuhkan sosok yang meneruskan perjuangan beliau dalam menyebarkan serta menjaga nilai-nilai Islam dengan penuh kehati-hatian dan sesuai tuntunan yang benar. Sebagai muslim yang terdidik, kita tentu pernah mendengar bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib.
Menuntut ilmu tidak hanya dilakukan di sekolah. Sebagai insan yang berbudi luhur, sudah selayaknya kita memulai perubahan dari diri sendiri. Mengapa demikian? Karena setiap langkah kecil dalam kehidupan dapat menjadi teladan bagi masyarakat. Demikian pula setiap karya, teknologi, atau penemuan baru bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk apresiasi terhadap diri sendiri sekaligus wujud syukur kepada Allah ﷻ yang telah menciptakan kita.
Allah ﷻ berfirman:
وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
“Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata “kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami”. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.” (QS Al-Imran [3]: 7).
Ketika penulis melihat fenomena sekarang yang semua akses bisa bebas dicari, informasi sangat bertebaran dimana-mana. Sehingga banyak generasi sekarang yang mudah mendiagnosis sesuatu hanya dari beberapa konten tanpa langsung bertanya ke pakarnya langsung. Misalnya mencari informasi tentang kesehatan mental, dan kemudian tanda-tanda tersebut ada dalam penonton tersebut tanpa mengecek atau memeriksakan diri ke psikolog maupun dokter. Masalah-masalah anak-anak muda itu banyak kini terjadi. Ibaratnya jadi maha yang paling tahu tapi ternyata hanya melihat sekilas atau membaca sedikit tanpa ada konsultasi secara menyeluruh. Bisa dibayangkan ilmu pengetahuan itu sekarang seperti lelucon yang asal bisa diklaim dan mendiagnosis diri dengan sesuatu yang bahkan bukan ahlinya, seakan-akan telah matinya pakarnya ilmu (the death expertise).
Hal ini tentu tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ, yang telah diajarkan kepada kita tentang pentingnya untuk memahami, meneliti dan berhati-hati dalam mengeluarkan statement, karena melihat fenomena sekarang banyaknya orang yang hanya terlihat dari kulitnya tapi hanya sekadar olah kata saja, yang zero akurasi, tuna data dan juga miskin aktualisasi.[2]
Konsep Al-Rasikhûna fi al ‘Ilmi
Konsep al-rāsikhūna fi al-‘ilmi merupakan salah satu jawaban sekaligus senjata untuk melumpuhkan strategi pencitraan ilmu. Tentu kita pernah mendengar adanya pihak-pihak yang ingin merusak citra Islam dengan memotong sebagian ayat Al-Qur’an, lalu menyebarkan fitnah, kebodohan, serta mengolok-olok ayat-ayat Allah. Karena itu, hal ini menjadi urgensi bagi kita semua untuk terus belajar dan memahami agama dengan benar.
Pencitraan, dan kesesatan, juga bisa muncul di berbagai konten digital, maka lebih bijaklah untuk memakai teknologi, jangan mudah terdoktrin dengan sesuatu yang belum jelas. Ilmu itu jelas adanya. Terutama mengenai urgensi al-rasikhûna fi al-‘ilmi untuk menjawab semua fitnah dan kesesatan ta’wil dari kelompok orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan, khususnya terhadap ayat-ayat mutasyabih (samar). Urgensi dari al-rasikhûna fi al-‘ilmi adalah untuk menjawab semua fitnah dan kesesatan ta’wil dari kelompok zaig al-qalb (orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan), khususnya terkait ayat-ayat mutasyabih. Untuk melakukan hal tersebut, al-rasikhûna fi al-‘ilmi harus memenuhi empat syarat:
- Melakukan ta’wil dengan instrumen keilmuan yang mendalam.
- Pemahaman ta’wil harus didasarkan pada kesucian hati.
- Ta’wil dilakukan untuk mencegah semua disinformasi dan fitnah yang dilakukan oleh kelompok zaig al-qalb.
- Ta’wil harus didasarkan pada ahsan al-qaul atau perkataan yang terbaik. Hal ini merujuk pada ayat-ayat muhkam (jelas/pasti).[3]
Seperti halnya yang telah disinggung sebelumnya bahwa, untuk memulai belajar, memahami dan juga mendalami, tentu membutuhkan kemantapan dan kesucian hati, agar ketika belajar tidak ada niat lain kecuali hanya berharap kepada Allah ﷻ, sebagaimana website Al-Rasikh yang mudah-mudahan selalu diberi keberkahan dan juga kelancaran bagi para penulis Al-Rasikh agar selalu mengingatkan lewat tulisan, sebagaimana itulah harapan-harapan yang terbaik bagi penulis dan juga pembaca setia Al-Rasikh semoga Allah ﷻ, selalu mejaga hati kita untuk tetap istiqomah dan ketetapan dalam Islam.
* Alumni Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia
Marāji’:
[1] Barka Alhudaebi Nawawi, “Prinsip dan Praktik Konsep Ar-Rasikhun dalam Hubungan Internasional”, SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) Vol. 4 No. 1 (2025)
[2] Redaksi, “Tafakur Tentang Al-Rasikhuna Fi Al’ilmi” dikutip dari https://www.waspada.id/artikel/tafakur-tentang-al-rasikhuna-fi-al-ilmi diakses pada tanggal 24 Juni 2026
[3] Andi Abrar, “The Concept Of Al-Rasikhuna Fi Al-‘Ilma Perspective Of Al-‘Allamah Al-Tabataba’i In The Book Of Al-Mizan” Jurnal Diskursus IslamVolume 8 Nomor 2, Agustus (2020)












