Pelajaran di Bulan Dzulhijjah: Warisan Keluarga Ibrahim dan Pemurnian Ibadah
Pelajaran di Bulan Dzulhijjah:
Warisan Keluarga Ibrahim dan Pemurnian Ibadah
Muhammad Insan Fathin, B.Sh. S.Si.
Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ba’du.
Pembaca yang semoga dirahmati Allah ﷻ, bulan Dzulhijjah adalah bulan yang penuh dengan simbol-simbol keimanan. Di dalamnya terdapat ibadah haji yang agung, hari raya Idul Adha, serta kenangan akan pengorbanan luar biasa dari seorang nabi dan keluarganya. Semua itu tidak lepas dari satu nama besar: Ibrahim ‘alaihissalām. Maka sudah sepatutnya kita di bulan mulia ini mengambil pelajaran dari kisah beliau dan keluarganya.
Ibrahim dan Keluarganya: Teladan Keimanan Sepanjang Zaman
Allah ﷻ tidak sembarangan menjadikan kisah para nabi termaktub dalam al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman,
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ
“Sungguh pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS Yūsuf [12]: 111).
Salah satu kisah yang paling kaya pelajaran adalah kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Allah ﷻ secara khusus memilih keluarga Ibrahim sebagai teladan bagi umat manusia. Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ اللّٰهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ% إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran di atas seluruh umat.” (QS Āli ‘Imrān [3]: 33).
Imam al-Baghawi menjelaskan bahwa dari keturunan Ibrahim-lah para nabi akan lahir, termasuk Ismail, Ishaq, Yakub, hingga Nabi Muhammad ﷺ.[1]
Keutamaan keluarga Ibrahim bukan sekadar pemberian Allah ﷻ tanpa usaha. Di baliknya ada perjuangan panjang Ibrahim dalam menjaga keimanan orang-orang yang ia cintai. Beliau menasihati anak-anaknya dengan sungguh-sungguh. Allah ﷻ berfirman:
وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Ibrahim menasihati anak-anaknya dan juga Yakub, ‘Wahai anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan untuk kalian agama Islam, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.'” (QS al-Baqarah [2]: 132).
Tak cukup dengan nasihat, Ibrahim senantiasa mendoakan keluarganya. Beliau memohon kepada Allah ﷻ,
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.” (QS Ibrāhīm [14]: 35).
Bahkan ketika membangun Ka’bah bersama putranya Ismail, keduanya berdoa bersama,
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا
“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami.” (QS al-Baqarah [2]: 127).
Inilah gambaran keluarga yang menjadikan ibadah sebagai kegiatan bersama, bukan urusan masing-masing.
Buah dari usaha dan doa Ibrahim pun nyata. Allah ﷻ menganugerahinya istri-istri yang teguh: Sarah yang setia menemaninya seorang diri di tengah kaumnya yang kafir,[2] dan Hajar yang ridha ditinggal di lembah tandus Mekah hanya karena satu jawaban Ibrahim, “Untuk Allah.” Hajar pun menjawab, “Aku ridha kepada Allah.” (HR Bukhari, no. 3365).
Dan Ismail, sang putra, tumbuh menjadi anak yang ketika diperintahkan untuk disembelih hanya berkata,
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai Ayahku, lakukan apa yang diperintahkan. Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.” (QS aṣ-Ṣāffāt [37]: 102).
Ibadah Haji: Warisan Ibrahim yang Sempat Ternoda
Salah satu warisan terbesar Ibrahim di bulan Dzulhijjah adalah ibadah haji. Setelah Ibrahim dan Ismail menyelesaikan pembangunan Ka’bah, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyerukan haji kepada seluruh umat manusia. Allah ﷻ berfirman,
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Serukanlah kepada manusia agar mereka melaksanakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta dari berbagai penjuru yang jauh.” (QS al-Ḥajj [22]: 27).
Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa seruan Ibrahim ini dipenuhi oleh manusia dari berbagai umat, termasuk para nabi ‘alaihimussalām.[3]
Namun seiring berjalannya waktu, ibadah yang suci ini perlahan ternoda. Orang pertama yang merusak kemurnian haji dengan kesyirikan adalah Amr bin Luhay, yang memasukkan berhala-berhala ke dalam Ka’bah. Rasulullah ﷺ bersabda tentangnya,
رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ لُحَيٍّ يَجُرُّ قَصَبَهُ فِي النَّارِ
“Aku melihat Amr bin Luhay menarik ususnya di neraka.” (HR Muslim, no. 2856).
Setelah itu, praktik kesyirikan terus berkembang dalam ritual haji hingga datangnya Islam.
Islam Hadir Memurnikan Kembali
Kedatangan Nabi Muhammad ﷺ membawa misi pemurnian. Pada tahun kesembilan Hijriah, setelah Makkah berhasil dibebaskan, Rasulullah ﷺ mengutus Ali bin Abi Thalib untuk mengumumkan,
لَا يَحُجَّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ، وَلَا يَطُوفَ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ
“Tidak boleh lagi ada orang musyrik yang berhaji setelah tahun ini, serta tidak boleh ada tawaf yang dilakukan dengan telanjang.” (HR Bukhari dan Muslim).[4]
Momen ini diabadikan pula dalam firman Allah ﷻ,
إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هٰذَا
“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjid al-Haram setelah tahun ini.” (QS at-Taubah [9]: 28).
Islam hadir bukan untuk membawa syariat yang baru sama sekali, melainkan menyempurnakan dan memurnikan. Allah ﷻ berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat untuk menyerukan: Beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah sesembahan selain-Nya.” (QS an-Naḥl [16]: 36).
Inilah semangat yang dibawa Islam sejak awal: tauhid yang murni, ibadah yang bersih dari segala tambahan.
Pelajaran untuk Kita di Bulan Dzulhijjah
Kisah Ibrahim dan sejarah ibadah haji mengajarkan dua hal yang saling berkaitan. Pertama, kekuatan sebuah keluarga tidak diukur dari harta atau kenyamanan, tetapi dari sejauh mana iman dijadikan fondasi. Ibrahim menjaga keluarganya dengan tauhid, doa, nasihat, dan keteladanan, dan hasilnya adalah keluarga yang menjadi pemimpin kebaikan sepanjang zaman.
Kedua, ibadah yang kita tunaikan harus selalu dijaga kemurniannya dari segala bentuk penyimpangan. Sejarah haji mengajarkan betapa mudahnya ibadah yang suci bisa ternoda jika kita lengah. Maka semangat untuk terus belajar dan memurnikan ibadah adalah semangat yang Islam sendiri diturunkan dengannya.
Di bulan Dzulhijjah yang mulia ini, semoga kita dapat meneladani Ibrahim: membangun keluarga di atas keimanan, dan menjaga ibadah kita tetap bersih di atas sunnah. Wallāhu a’lam.
Marāji’:
[1] al-Baghawī, Ḥusain bin Mas’ūd. Ma’ālim at-Tanzīl fī Tafsīr al-Qur’ān. Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turāth al-‘Arabī. 1420 H. Cet. ke-1. Jilid 1. h. 431.
[2] al-Bukhārī, Muḥammad bin Ismā’īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ṭūq an-Najāh. 1422 H. Cet. ke-1. No. 3358.
[3] aṭ-Ṭabarī, Muḥammad bin Jarīr. Jāmi’ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah. 2000 M / 1420 H. Cet. ke-1. Jilid 17. h. 478.
[4] al-Bukhārī, Muḥammad bin Ismā’īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ṭūq an-Najāh. 1422 H. Cet. ke-1. No. 369. Muslim bin al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turāth al-‘Arabī. t.t. No. 1347.












