Sibuk Bukan Berarti Produktif
Sibuk Bukan Berarti Produktif
Maharani Kharisma Latul Zam Zam*
Bismillâhi Walhamdulillâhi wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ rasûlillâh,
Menjadi mahasiswa sering kali identik dengan kesibukan. Perkuliahan, tugas, organisasi, kepanitiaan, lomba, penelitian, hingga kegiatan sosial seolah selalu memiliki tempat dalam keseharian. Kesibukan memang dapat menjadi bagian dari proses belajar dan berkembang. Namun, di tengah padatnya aktivitas, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah semua yang dilakukan benar-benar produktif, atau sekadar membuat kita terlihat sibuk?
Sibuk Belum Tentu Produktif
Pada dasarnya, sibuk dan produktif merupakan dua hal yang berbeda. Sibuk lebih berkaitan dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan, sedangkan produktif berkaitan dengan kemampuan menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu yang memiliki tujuan dan manfaat. Seseorang dapat memiliki jadwal yang penuh, tetapi belum tentu mendapatkan perkembangan yang berarti. Sebaliknya, seseorang dengan aktivitas yang lebih sedikit justru dapat memanfaatkannya secara maksimal.
Islam memberikan perhatian besar terhadap waktu. Allah ﷻ. berfirman dalam Surah Al-‘Ashr:
وَٱلْعَصْرِ. إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ. إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ.
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-‘Ashr [103]: 1–3).
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa waktu merupakan sesuatu yang berharga. Bagi mahasiswa, waktu dapat digunakan untuk belajar, mengembangkan kemampuan, menjalankan amanah, maupun memberi manfaat bagi orang lain. Karena itu, ukuran keberhasilan bukan hanya dilihat dari seberapa banyak kegiatan yang diikuti, tetapi juga dari nilai yang diperoleh dan kontribusi yang dihasilkan dari kegiatan tersebut.
Aktif Berorganisasi, Tetap Tahu Prioritas
Salah satu aktivitas yang banyak dijalani mahasiswa adalah organisasi. Berorganisasi dapat menjadi ruang untuk belajar bekerja sama, berkomunikasi, mengatur kegiatan, dan menyelesaikan persoalan. Penelitian mengenai organisasi mahasiswa di Universitas Islam Indonesia menunjukkan bahwa pengalaman berorganisasi dapat mendukung kemampuan komunikasi interpersonal mahasiswa.[1] Dengan demikian, organisasi dapat menjadi sarana pengembangan diri selama dijalani dengan tujuan dan tanggung jawab yang jelas.
Namun, menjadi aktif bukan berarti harus mengambil semua kesempatan yang datang. Keinginan untuk mengikuti berbagai kegiatan terkadang membuat mahasiswa lupa menentukan batas kemampuan diri. Akibatnya, tugas kuliah tertunda, waktu istirahat berkurang, bahkan amanah yang telah diterima tidak dapat diselesaikan dengan baik. Padahal, kemampuan menentukan prioritas juga merupakan bagian dari kedewasaan sebagai mahasiswa.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar seseorang mengarahkan semangatnya kepada hal-hal yang bermanfaat. Dari Abu Hurairah z, Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR Muslim, no. 2664).[2]
Pesan tersebut relevan dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Mengikuti lomba karena ingin mengembangkan kemampuan tentu memiliki tujuan yang berbeda dengan mengikuti lomba hanya karena takut tertinggal dari teman. Begitu pula dengan organisasi. Banyaknya posisi atau kepanitiaan yang pernah diikuti tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang telah berkembang jika setiap tanggung jawab tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Tantangan lainnya datang dari media sosial. Kita dapat dengan mudah melihat teman yang memenangkan perlombaan, aktif dalam berbagai organisasi, menjadi pembicara, atau mengikuti banyak kegiatan. Tanpa disadari, pencapaian orang lain dapat menjadi tekanan untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya, kita mengambil terlalu banyak aktivitas bukan karena benar-benar sesuai dengan kebutuhan, melainkan karena takut merasa tertinggal.
Padahal, setiap mahasiswa memiliki tujuan, kemampuan, dan proses yang berbeda. Ada yang memilih lebih fokus pada akademik, ada yang aktif dalam organisasi, dan ada pula yang banyak terlibat dalam kegiatan sosial. Tidak ada satu pola yang harus diikuti semua orang. Hal yang penting adalah kemampuan menentukan pilihan berdasarkan prioritas serta kesanggupan untuk menjalankannya secara bertanggung jawab.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah membuat prioritas. Tentukan hal-hal yang memang penting untuk diselesaikan, kemudian susun jadwal yang realistis. Jangan memenuhi agenda hanya agar terlihat produktif. Penelitian meta-analisis terhadap 31 studi yang melibatkan 13.506 mahasiswa menemukan adanya hubungan positif antara manajemen waktu dan hasil belajar mahasiswa.[3] Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola waktu menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan perkuliahan.
Produktivitas yang Seimbang
Produktivitas juga tidak berarti harus terus melakukan sesuatu tanpa jeda. Istirahat, beribadah, melakukan evaluasi diri, dan menjaga hubungan dengan orang lain tetap menjadi bagian dari kehidupan yang seimbang. Jangan sampai keinginan untuk menjadi produktif justru membuat kita mengabaikan kesehatan, kewajiban, atau kebutuhan untuk beristirahat.
Allah ﷻ berfirman:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ. وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب.
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS Al-Insyirah [94]: 7–8).[4]
Ayat tersebut mengajarkan bahwa setelah menyelesaikan suatu urusan, kita dapat melanjutkan pada urusan berikutnya dengan tetap berusaha dan menggantungkan harapan kepada Allah. Dalam kehidupan mahasiswa, prinsip ini dapat diwujudkan dengan menyelesaikan tanggung jawab secara bertahap, menentukan prioritas, dan tidak memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya dalam waktu yang bersamaan.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa berkelas bukan tentang siapa yang paling padat jadwalnya, paling banyak mengikuti organisasi, atau memiliki daftar prestasi paling panjang. Mahasiswa yang berkelas adalah mereka yang mampu menggunakan waktunya dengan bijak, menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh, terus belajar, dan berusaha memberikan manfaat.
Sibuk tentu tidak salah. Aktif juga bukan sesuatu yang perlu dihindari. Namun, di balik setiap kesibukan, kita perlu memastikan bahwa ada tujuan yang ingin dicapai dan nilai yang ingin dibangun. Sebab, yang terpenting bukan seberapa banyak kegiatan yang kita lakukan, melainkan bagaimana semua itu membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Wa Allâhu a’lam
* Mahasiswi Prodi Pendidikan Kimia UII.
Marāji’:
[1]Fadila Aulia, Putri Rahma Dwianggraeni, dan Ahmad Raihan Ishak, “Peran Organisasi Mahasiswa dalam Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Interpersonal yang Efektif,” Jurnal Mahasiswa Komunikasi Cantrik, Vol. 3, No. 2 (2023), https://journal.uii.ac.id/cantrik/article/view/29715.
[2] Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, no. 2664.
[3] Baoru Liu, Ping Ma, dan Feihang Jia, “Systematic Review and Meta-Analysis of the Impact of Time Management on College Students’ Learning Outcomes,” Frontiers in Psychology, Vol. 17 (2026), Article 1700298, https://doi.org/10.3389/fpsyg.2026.1700298.
[4] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS Al-‘Asr [103]: 1–3 dan QS Al-Insyirah [94]: 7–8.












