Konsep Ar-Rasikh dan Urgensi Menghadapi The Death of Expertise

Konsep Ar-Rasikh dan Urgensi Menghadapi The Death of Expertise

Nur Laelatul Qodariyah*

 

Sahabat Al-Rasikh yang di berkahi Allah ﷻ, pernahkah kalian semua bertanya-tanya makna Al-Rasikh itu sendiri apa? Nama ini bukan sekadar nama portal dakwah UII, bukan juga nama sembarang yang diambil di website secara random. Semua itu memiliki interpretasi yang terkandung dalam nama itu sendiri. Sebab, setiap nama mengandung harapan yang besar bagi orang yang diberi nama tersebut.

Dalam Al-Qur’an Al-Rasikh berarti orang-orang yang telah berpengetahuan mendalam, sedangkan secara etimologi Al-Rasikh berasal dari kata rasakha (رَسَخَ) yang berarti kokoh atau mendalam.[1] Sebagaimana arti dari Al-Rasikh itu sendiri, yang memberikan isyarat bagi kita agar menjadi seseorang yang berpengetahuan yang luas dan juga mendalam, lewat proses membaca, meneliti, mencari tau hal-hal yang belum kita ketahui agar diharapkan dengan pengetahuan-pengetahuan yang dibawanya bermanfaat bagi kita semuanya. Dan tentunya orang-orang yang dimaksud tersebut adalah orang yang bukan hanya sekadar tahu dan bukan hanya sekadar mendalami yang kemudian hanya disimpan rapat-rapat seolah-olah hati, lisan, dan perbuatannya tertutup oleh kesombongan.

Banyak sekali orang-orang yang pintar di luaran sana, yang terbungkus sangat cantik dan juga menawan. Ia memperlihatkan sisi indah dalam dirinya, seolah-olah telah selesai membaca atau memahami sebuah buku maupun studi yang ia jalani. Namun, nyatanya bodoh. Iya, benar-benar bodoh. Orang yang hanya terlihat seperti bayangan berbeda dengan orang yang hadir dan nyata untuk kita. Sama halnya dengan orang yang berpengetahuan, orang-orang yang berpengetahuan bagi orang awam itu seperti halnya hero yang membantu setiap menit dan detiknya agar kita mulai tumbuh nyaman tanpa merasa kita rendah dihadapannya.

Banyak Orang Bodoh yang Bergaya Pintar

Banyak sekali orang-orang bodoh bergaya pintar, yang hanya melihat dari buku sampulnya yang sangat kompeten tapi eror substansi. Dapat dipahami bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, umat Islam sangat membutuhkan sosok yang meneruskan perjuangan beliau dalam menyebarkan serta menjaga nilai-nilai Islam dengan penuh kehati-hatian dan sesuai tuntunan yang benar. Sebagai muslim yang terdidik, kita tentu pernah mendengar bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib.

Menuntut ilmu tidak hanya dilakukan di sekolah. Sebagai insan yang berbudi luhur, sudah selayaknya kita memulai perubahan dari diri sendiri. Mengapa demikian? Karena setiap langkah kecil dalam kehidupan dapat menjadi teladan bagi masyarakat. Demikian pula setiap karya, teknologi, atau penemuan baru bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk apresiasi terhadap diri sendiri sekaligus wujud syukur kepada Allah ﷻ yang telah menciptakan kita.

Allah ﷻ berfirman:

وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata “kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami”. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.”  (QS Al-Imran [3]: 7).

Ketika penulis melihat fenomena sekarang yang semua akses bisa bebas dicari, informasi sangat bertebaran dimana-mana. Sehingga banyak generasi sekarang yang mudah mendiagnosis sesuatu hanya dari beberapa konten tanpa langsung bertanya ke pakarnya langsung. Misalnya mencari informasi tentang kesehatan mental, dan kemudian tanda-tanda tersebut ada dalam penonton tersebut tanpa mengecek atau memeriksakan diri ke psikolog maupun dokter. Masalah-masalah anak-anak muda itu banyak kini terjadi. Ibaratnya jadi maha yang paling tahu tapi ternyata hanya melihat sekilas atau membaca sedikit tanpa ada konsultasi secara menyeluruh. Bisa dibayangkan ilmu pengetahuan itu sekarang seperti lelucon yang asal bisa diklaim dan mendiagnosis diri dengan sesuatu yang bahkan bukan ahlinya, seakan-akan telah matinya pakarnya ilmu (the death expertise).

Hal ini tentu tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ, yang telah diajarkan kepada kita tentang pentingnya untuk memahami, meneliti dan berhati-hati dalam mengeluarkan statement, karena melihat fenomena sekarang banyaknya orang yang hanya terlihat dari kulitnya tapi hanya sekadar olah kata saja, yang zero akurasi, tuna data dan juga miskin aktualisasi.[2]

Konsep Al-Rasikhûna fi al ‘Ilmi

Konsep al-rāsikhūna fi al-‘ilmi merupakan salah satu jawaban sekaligus senjata untuk melumpuhkan strategi pencitraan ilmu. Tentu kita pernah mendengar adanya pihak-pihak yang ingin merusak citra Islam dengan memotong sebagian ayat Al-Qur’an, lalu menyebarkan fitnah, kebodohan, serta mengolok-olok ayat-ayat Allah. Karena itu, hal ini menjadi urgensi bagi kita semua untuk terus belajar dan memahami agama dengan benar.

Pencitraan, dan kesesatan, juga bisa muncul di berbagai konten digital, maka lebih bijaklah untuk memakai teknologi, jangan mudah terdoktrin dengan sesuatu yang belum jelas. Ilmu itu jelas adanya. Terutama mengenai urgensi al-rasikhûna fi al-‘ilmi untuk menjawab semua fitnah dan kesesatan ta’wil dari kelompok orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan, khususnya terhadap ayat-ayat mutasyabih (samar). Urgensi dari al-rasikhûna fi al-‘ilmi adalah untuk menjawab semua fitnah dan kesesatan ta’wil dari kelompok zaig al-qalb (orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan), khususnya terkait ayat-ayat mutasyabih. Untuk melakukan hal tersebut, al-rasikhûna fi al-‘ilmi harus memenuhi empat syarat:

  1. Melakukan ta’wil dengan instrumen keilmuan yang mendalam.
  2. Pemahaman ta’wil harus didasarkan pada kesucian hati.
  3. Ta’wil dilakukan untuk mencegah semua disinformasi dan fitnah yang dilakukan oleh kelompok zaig al-qalb.
  4. Ta’wil harus didasarkan pada ahsan al-qaul atau perkataan yang terbaik. Hal ini merujuk pada ayat-ayat muhkam (jelas/pasti).[3]

Seperti halnya yang telah disinggung sebelumnya bahwa, untuk memulai belajar, memahami dan juga mendalami, tentu membutuhkan kemantapan dan kesucian hati, agar ketika belajar tidak ada niat lain kecuali hanya berharap kepada Allah ﷻ, sebagaimana website Al-Rasikh yang mudah-mudahan selalu diberi keberkahan dan juga kelancaran bagi para penulis Al-Rasikh agar selalu mengingatkan lewat tulisan, sebagaimana itulah harapan-harapan yang terbaik bagi penulis dan juga pembaca setia Al-Rasikh semoga Allah ﷻ, selalu mejaga hati kita untuk tetap istiqomah dan ketetapan dalam Islam.

 

* Alumni Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia

Marāji’:

[1] Barka Alhudaebi Nawawi, “Prinsip dan Praktik Konsep Ar-Rasikhun dalam Hubungan Internasional”, SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) Vol. 4 No. 1 (2025)

[2] Redaksi, “Tafakur Tentang Al-Rasikhuna Fi Al’ilmi” dikutip dari https://www.waspada.id/artikel/tafakur-tentang-al-rasikhuna-fi-al-ilmi diakses pada tanggal 24 Juni 2026

[3] Andi Abrar, “The Concept Of Al-Rasikhuna Fi Al-‘Ilma Perspective Of Al-‘Allamah Al-Tabataba’i In The Book Of Al-Mizan” Jurnal Diskursus IslamVolume 8 Nomor 2, Agustus (2020)

Download Buletin klik di sini

Menjadi Mahasiswa Level-Up

Menjadi Mahasiswa Level-up

Nabila Mumtazah Priyatna*

 

Bismillāh walhamdulillāh wasshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāhi, waba’du.

Mahasiswa yang Biasa

Mahasiswa yang dikenal masyarakat pada umumnya adalah mereka yang memiliki semangat membara dalam menyuarakan pendapat. Mereka sering terlibat dalam kegiatan organisasi dan senang mengekspresikan dirinya. Menjadi mahasiswa pada umumnya berarti mengikuti mereka yang biasa dikenal oleh masyarakat. Padahal, umur saat menjadi mahasiswa itulah umur yang Rasūlullāh ﷺ maksud dalam hadisnya,

Dari Abū Hurairah z, dari Nabi ﷺ, Beliau ﷺ bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

Tujuh golongan yang dinaungi Allāh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allāh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allāh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allāh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allāh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”  (HR Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031).

Dalam hadis disebutkan ‘seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allāh,’ hal ini hanya dilakukan oleh para pemuda. Pemuda yang tumbuh dewasa dalam ibadah kepada Allāh ﷻ, mengapa disebutkan seorang pemuda? Karena pada saat itulah nafsunya begitu tinggi, ia mudah terombang ambing dalam gelombang dunia, mudah mengikuti pergaulan dan menjauh dari syariat. Bayangkan ketujuh sifat tadi berada dalam satu diri pemuda, bukankah sangat indah dan luar biasa berbeda dari para pemuda lainnya?

Hadis lainnya disebutkan, dari ‘Uqbah bin Amir z, Rasūlullāh ﷺ bersabda:

يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shabwah (kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran.) (HR Ahmad 4/151).

Masa muda juga bagian penting dari umur manusia yang akan dimintai pertanggungjawaban secara khusus pada hari kiamat. Dari Ibnu Mas’ūd zbahwa Rasūlullāh ﷺ bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari (ilmu) yang ia ketahui.” (HR Tirmidzi no. 2416 dan Thabrani 9772).

Banyak pemuda yang hanya bermodalkan semangat saja namun tidak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Mereka terkadang hanya  ikut-ikutan dan tidak memiliki landasan untuk menyaringnya.

Antara Sarjana dan Syariat

Untuk memulai agar tidak menjadi mahasiswa yang “biasa-biasa” saja adalah dengan meng-upgrade diri sendiri. Salah satu yang terpentingnya adalah dengan menambahkan pengetahuan agama disela-sela pengetahuan umum yang didapat di Kampus. Tanamkan dalam diri bahwa mempelajari ilmu dunia juga penting namun, yang dipuji oleh Allāh adalah ilmu agama. Ilmu yang orisinal berasal dari Tuhan kita semua. Ilmu yang dibawa oleh para manusia mulia dan diajarkan oleh orang-orang yang dijamin surga-Nya, yaitu para nabi dan sahabatnya.

Allah ﷻ berfirman:

يَعْلَمُونَ ظَٰهِرًا مِّنَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ ٱلْءَاخِرَةِ هُمْ غَٰفِلُونَ

“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS Ar-Ruum [30]: 7).

Banyak orang cerdas di dunia ini namun tidak memiliki adab yang baik. Sebaliknya, banyak juga orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk menimba ilmu bahkan sampai jenjang perguruan tinggi. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa yang sudah meniti ilmu dunia maka hendaknya juga mengimbanginya dengan ilmu akhirat agar ia selamat di dunia maupun di akhirat.

Hasan Al-Bashri berkata, “Demi Allāh, sungguh salah seorang dari kalian telah mencapai keilmuan yang tinggi dalam urusan dunianya, di mana ia mampu membalikkan dirham (mata uang) di ujung kukunya lalu memberitahumu berapa beratnya, namun ia sama sekali tidak becus dalam melaksanakan salatnya.”

Ada banyak ilmuwan yang juga seorang ulama, salah satunya adalah beliau Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Beliau adalah seorang ulama di Arab Saudi yang memiliki Pendidikan strata 1, Bachelor Manajemen Industri. Beliau memiliki situs website aktif yakni www.islam.ws dan www.almunajjid.com. Kemudian ada Syaikh Musthafa Al-`Adawi, beliau menyelesaikan bangku kuliahnya di Teknik Mesin. Beliau aktif menerbitkan buku dari berbagai bidang seperti fikih, hadis, tafsir, dan mustalah hadis.

Mahasiswa yang Berbeda

Meluangkan waktu untuk belajar agama di sela-sela kesibukan kuliah tentu bukan perkara yang gampang. Belum lagi rayuan dan ajakan dari teman-teman untuk membuang waktu dengan cara yang tidak bermanfaat. Jika pagi sampai siang hari disibukkan dengan kuliah maka carilah masjid yang menyediakan kajian di sore hari atau sehabis Magrib. Betapa banyak masjid disekitar kampus yang menyelenggarakan kajian dengan berbagai tema menarik namun banyak juga mahasiswa yang tidak tertarik untuk mengikutinya. Sekarang pun bisa mendengarkan kajian lewat platform online seperti Youtube dan Instagram. Sejatinya, tidak ada alasan untuk tidak menimba ilmu agama disaat ilmu agama begitu mudah untuk diakses.

Menjadi berbeda di tengah lingkungan mahasiswa memang tidak selalu mudah. Bisa jadi teman-teman mulai menjaga jarak, tidak lagi mengajak bermain, atau menganggap kita kurang menyenangkan. Namun, berbeda dalam hal yang positif bukanlah sebuah masalah. Justru pilihan itu akan membawa kebaikan di masa depan.

Ketika sebagian orang sibuk menyesali dan memperbaiki kesalahan masa lalunya, kita dapat terus melangkah dengan lebih tenang karena sejak awal sudah berusaha berhati-hati dalam bertindak. Sebab, apa pun yang ditinggalkan karena Allah tidak akan sia-sia dan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Bagi kalian para pemuda yang menjadi ghuroba (orang-orang yang terasing), berbahagialah, sebab kalian menjadi orang-orang asing di saat yang lainnya menjadi rusak karena lingkungan dan rusak karena pergaulan. Wallāhu waliyyut taufiq was sadād.[1]

 

* Mahaiswa Program Studi Ahwal Syakhshiyah IP 2023

Marāji’:

[1] Tuasikal, M., Saifudin Hakim. (2018). Mahasantri: Kiat Belajar Agama bagi Orang Sibuk. Yogyakarta: Penerbit Rumaysho.

Download Buletin klik di sini

Tahun Baru Islam, Tapi Apa yang Kita Perbarui?

Tahun Baru Islam, Tapi Apa yang Kita Perbarui?

Refleksi Muharram bagi Generasi Muslim Terdidik 

Faisal Ahmad Ferdian Syah, S.H.*

 

Setiap kali bulan Muharram tiba, umat Islam ramai menyebut-nyebut “Tahun Baru Islam”. Ada yang berbagi ucapan di media sosial, mengikuti pengajian, bahkan menggelar pawai. Namun ada pertanyaan sederhana yang jarang kita tanyakan kepada diri sendiri: apa sesungguhnya yang kita perbarui? Apakah cukup dengan mengganti angka tahun dari 1447 menjadi 1448 H, lalu kembali ke rutinitas yang sama?

Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia menyentuh inti dari mengapa kalender Hijriyah dimulai bukan dari hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, bukan pula dari hari Isra’ Mi’raj atau penaklukan Makkah, melainkan dari peristiwa hijrah. Pilihan ini bukan kebetulan historis, melainkan sebuah pernyataan teologis yang mendalam dan sarat akan makna.

Mengapa Hijrah, Bukan yang Lain?

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, setelah musyawarah para sahabat. Mereka memilih peristiwa hijrahnya Nabi ﷺ dan para sahabat dari Makkah ke Madinah sebagai titik nol penanggalan Islam. Sebagaimana dicatat oleh para ulama sejarah, pilihan ini mengandung pesan kuat bahwasannya Islam adalah agama perubahan, bukan agama seremoni.

Hijrah secara bahasa bermakna meninggalkan dan berpindah. Namun para ulama, termasuk Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, memperluas maknanya sebagai transformasi batin yang menyeluruh dan mencakup sistem keyakinan, cara berpikir, dan tindakan.[1] Dalam konteks ini, hijrah bukan peristiwa yang sudah selesai di abad ke-7 M, melainkan sebuah proses yang harus terus berlangsung dalam diri setiap Muslim.

Muharram sebagai Bulan Allah (Syahrullah)

Keistimewaan Muharram bukan hanya soal penanggalan. Ia adalah salah satu dari empat al-asyhur al-hurum (bulan-bulan yang dimuliakan) sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 36. Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,” (QS At-Taubah [9]: 36).

Rasulullah ﷺ secara khusus menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah). Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَام بَعْد رَمَضَان شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّم

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram.” (HR Muslim no. 1163)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa penyandaran Muharram kepada Allah (Syahrullah) menunjukkan betapa Allah mengagungkan bulan ini secara khusus di antara dua belas bulan.[2] Ini menjadi landasan teologis mengapa Muharram seharusnya bukan sekadar momentum perayaan, melainkan momentum pembaruan diri yang sungguh-sungguh.

Muhasabah: Instrumen Pembaruan yang Terlupakan

Di sinilah relevansi konsep muhasabah al-nafs (introspeksi diri). Imam al-Ghazali menempatkan muhasabah sebagai salah satu pilar riyadhah al-nafs (latihan jiwa) yang wajib dilakukan secara berkala. Momentum pergantian tahun Hijriyah adalah waktu yang paling tepat untuk menjalankannya.[3]

Bagi kita sebagai mahasiswa dan generasi muda Muslim, muhasabah di momen Muharram dapat dijabarkan dalam tiga dimensi yang konkret:

Pertama, dimensi intelektual. Islam menempatkan ilmu sebagai kewajiban pertama. Apakah satu tahun terakhir kita benar-benar tumbuh secara keilmuan? Tidak cukup sekadar menyelesaikan SKS, namun yang dituntut adalah pertumbuhan cara berpikir yang semakin kritis, semakin jujur, dan semakin bertanggung jawab. Al-Qur’an berulang kali mengaitkan ilmu dengan iman dengan mengatakan mereka yang berilmu adalah mereka yang lebih takut kepada Allah . Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.“(QS Fathir [35]: 28).

Menurut Ibn Katsir, khasy-yah yang sejati lahir dari ma’rifat yang mendalam kepada Allah. Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang kebesaran dan kesempurnaan sifat-sifat Allah, semakin besar pula rasa takut dan penghormatannya kepada-Nya.[4]

Kedua, dimensi akhlak. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda:   

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya di antara mereka.” (HR Abu Daud no. 4682, At Tirmidzi no. 1162, 2612).  

Hadits ini mengajarkan bahwa kemajuan seorang muslim tidak hanya diukur dari bertambahnya usia atau prestasi, tetapi dari semakin baiknya akhlak yang ia tampilkan. Pergantian tahun Hijriyah mengundang kita untuk bermuhasabah: apakah kejujuran kita semakin kuat, bakti kepada orang tua semakin nyata, dan sikap kita kepada sesama semakin mencerminkan akhlak seorang mukmin?

Ketiga, dimensi kontribusi sosial. Hijrah Nabi ﷺ bukan perpindahan individual, melainkan ia adalah pergerakan membangun peradaban. Di Madinah, Rasulullah ﷺ membangun masjid, menyusun piagam, dan mempererat ukhuwah antara kaum Muhajirin dan Anshar. Maka pembaruan diri yang sejati bukan yang berhenti di batas individu, melainkan yang berdampak kepada komunitas.

Muharram Bukan Seremoni, Ia Sebuah Undangan

Fenomena “resolusi tahun baru” yang kita kenal dari budaya Barat sebenarnya memiliki padanannya yang jauh lebih kuat dalam tradisi Islam, yaitu muhasabah dan tajdid al-niyyah (pembaruan niat).[5] Bedanya, resolusi tanpa fondasi spiritual cenderung layu sebelum Februari tiba. Sementara pembaruan yang berakar pada kesadaran akan tanggung jawab kepada Allah memiliki daya tahan yang jauh lebih kokoh.

Muharram 1448 H adalah undangan, bukan hanya seremoni belaka. Ia mengundang kita untuk bertanya dengan jujur, sejauh mana satu tahun terakhir kita telah bergerak dari titik yang lama menuju titik yang baru? Apa yang perlu kita tinggalkan, dan ke arah mana kita melangkah?

Sebab kalender Hijriyah memulai tahunnya dari peristiwa hijrah bukan tanpa alasan. Ia ingin mengingatkan bahwa waktu dalam Islam bukan sekadar angka yang berputar, melainkan undangan untuk terus bergerak menjadi lebih baik.


* Mahasantri Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia

Marāji’:

[1] Al-Ghazali. Ihya’ Ulum al-Din. Dar al-Ma’rifah, Beirut.

[2] An-Nawawi. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj. Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, Beirut.

[3] Al-Ghazali. Ihya’ Ulum al-Din. Dar al-Ma’rifah, Beirut.

[4] Ismā’īl ibn ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Juz 6. Kairo: Mu’assasah Qurṭubah, 2000, hlm. 544.

[5] Ismail, M.T. & Abidin, Z. (2017). Kontekstualisasi Hijrah Sebagai Titik Tolak Pembaharuan Pendidikan. Suhuf, 29(1), 50–65.

Download Buletin klik di sini

Reset & Recharge: Evaluasi Diri Menyambut Tahun Baru 1448 H

Reset & Recharge: Evaluasi Diri Menyambut Tahun Baru 1448 H

Raden Miftakhurozak Budi Nugraha, S.Kom*

 

Waktu memiliki cara kerjanya sendiri yang sering kali membuat kita terkejut. Rasanya baru kemarin kita menyusun resolusi dan harapan, kini lembaran kalender 1447 Hijriah sudah berada di penghujung usianya. Memasuki bulan Muharam 1448 H, kita tidak sekadar menyambut pergantian angka di kalender, melainkan memasuki sebuah gerbang spiritual yang disediakan Allâh ﷻ bagi hamba-Nya untuk menekan tombol jeda, melakukan reset, dan mengisi kembali (recharge) energi keimanan kita.

Kemuliaan Muharam: Lebih dari Sekadar Awal Tahun

Bulan Muharam bukanlah bulan sembarangan dalam lintasan sejarah maupun syariat Islam. Ia adalah satu dari empat bulan haram (suci) yang sangat dimuliakan.[1] Di bulan ini, setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, sementara setiap maksiat akan diperberat dosanya. Hal ini menjadi sinyal kuat dari langit bahwa kita harus lebih berhati-hati dalam melangkah.

Allâh ﷻ berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa“. (QS At-Taubah [9]: 36).

Dari Abu Hurairah, dia berkata, bersabda Rasulullah ﷺ:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat faridhoh (shalat wajib yang lima waktu) adalah shalat malam.” (Hadits riwayat Muslim no.1163).[2]

Audit Spiritual: Mengevaluasi Diri di 1447 H dan Menyusun Strategi Ibadah di 1448 H

Jika perusahaan modern melakukan audit keuangan setiap akhir tahun untuk melihat laba dan rugi, maka sebagai seorang Muslim, kita diwajibkan untuk melakukan audit spiritual (muhasabah). Tahun 1447 H mungkin dipenuhi dengan dinamika—ada target yang tercapai, ada ibadah yang meningkat, namun pasti ada pula khilaf yang terulang dan salat yang terlewat.

Muhasabah bukanlah proses untuk menghakimi atau menyiksa diri dengan penyesalan yang berlarut-larut. Sebaliknya, ini adalah langkah jujur untuk mengenali kelemahan diri agar kita bisa bertumbuh.

Perintah untuk melakukan evaluasi diri ini secara tegas disampaikan oleh Allâh ﷻ dalam surah Al-Hasyr ayat 18,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr [59]: 18).

Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki diri dan me-recharge iman di tahun 1448 H ini?

Pertama, Lakukan Pengecekan Ibadah Wajib.

Sebelum menambah rentetan amalan sunah, mari kita jujur pada diri sendiri: Bagaimana kualitas salat lima waktu kita setahun terakhir? Apakah masih sering ditunda karena urusan pekerjaan? Apakah ruku’ dan sujud kita sudah tuma’ninah atau sekadar menggugurkan kewajiban? Mari jadikan tahun 1448 H sebagai tahun di mana kita menjadikan salat sebagai prioritas utama, bukan sekadar sisa waktu luang.

Kedua, Detoks Mental dan Digital.

Terkadang, yang membuat iman kita “bocor” bukanlah dosa-dosa besar yang terlihat, melainkan kebiasaan kecil yang toxic. Scrolling media sosial tanpa arah berjam-jam, membandingkan hidup dengan pencapaian orang lain, hingga bergosip (ghibah) di grup chat. Evaluasi kembali apa yang kita konsumsi sehari-hari. Mulailah menyaring (filter) informasi dan lingkungan pertemanan. Tinggalkan apa yang tidak membawa manfaat bagi dunia dan akhirat kita.

Hikmah 1 Muharam: Memaknai Hijrah di Era Modern

Tahun Baru Islam sejatinya adalah perayaan tentang “Hijrah”. Kalender Hijriah sendiri tidak dimulai dari hari kelahiran Nabi ﷺ, atau saat wahyu pertama turun, melainkan dari momentum hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah.[3] Keputusan Umar bin Khattab menetapkan ini sebagai titik nol kalender umat Islam mengandung pesan filosofis yang sangat dalam: Agama ini dibangun di atas semangat untuk terus bergerak, berubah, dan berpindah dari keburukan menuju kebaikan.

Di era modern saat ini, kita mungkin tidak perlu lagi melakukan hijrah fisik dengan berjalan melintasi gurun pasir seperti para sahabat. Namun, dalam keadaan tertentu, hijrah secara fisik tetap diperlukan, misalnya untuk menjaga agama, menghindari lingkungan yang merusak iman, atau mencari tempat yang lebih memungkinkan seseorang menjalankan ketaatan kepada Allah. Meski demikian, esensi hijrah yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari tetap menyala dan relevan, yaitu perpindahan mindset dan perilaku. Hijrah hari ini adalah perjalanan meninggalkan kebiasaan buruk menuju akhlak yang lebih mulia, berpindah dari kelalaian menuju ketaatan, serta dari kehidupan yang jauh dari Allah menuju kehidupan yang lebih dekat kepada-Nya.

Abdullah bin ‘Amr berkata, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR Bukhari no. 6484).

Tahun Baru Islam 1448 H pada hakikatnya adalah momen untuk menumbuhkan keberanian meninggalkan versi terburuk dari diri kita. Ini adalah saat yang tepat untuk bangkit dari kemalasan, melepaskan dendam yang mengotori hati, dan melangkah keluar dari kebiasaan buruk yang selama ini membelenggu potensi kita sebagai hamba Allah yang berprestasi.

Mari kita jadikan 1 Muharam 1448 H sebagai garis start yang baru. Berbekal evaluasi (reset) dari masa lalu, kita isi ulang (recharge) tekad dan energi kita. Semoga di tahun ini, Allâh ﷻ senantiasa membimbing setiap langkah kita, melembutkan hati kita untuk menerima hidayah, dan mencatat setiap tetes keringat kita sebagai amal saleh yang memberatkan timbangan kebaikan kelak.

* Staf Akademik di Direktorat Layanan Akademik Universitas Islam Indonesia

Marāji’:

[1] Humas – SDM. ”Keistimewaan Bulan Muharram”. https://kotabanjar.baznas.go.id/artikel/show/keistimewaan-bulan-muharra/23345. Diakses pada 21 Mei 2026.

[2] Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. ”Anjuran Puasa Muharram”.https://rumaysho.com/2956-anjuran-puasa-muharram.html. Diakses pada 21 Mei 2026.

[3] Dayah Jamiah Al-Aziziyah. ”Sejarah Penetapan Awal Tahun Baru Hijriah”. https://jamiahalaziziyah.dayah.id/berita/kategori/tausiah/sejarah-penetapan-awal-tahun-baru-hijriah. Diakses pada 21 Mei 2026.

Download Buletin klik di sini

Pelajaran di Bulan Dzulhijjah: Warisan Keluarga Ibrahim dan Pemurnian Ibadah

Pelajaran di Bulan Dzulhijjah:

Warisan Keluarga Ibrahim dan Pemurnian Ibadah

Muhammad Insan Fathin, B.Sh. S.Si.

 

Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ba’du.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah ﷻ, bulan Dzulhijjah adalah bulan yang penuh dengan simbol-simbol keimanan. Di dalamnya terdapat ibadah haji yang agung, hari raya Idul Adha, serta kenangan akan pengorbanan luar biasa dari seorang nabi dan keluarganya. Semua itu tidak lepas dari satu nama besar: Ibrahim ‘alaihissalām. Maka sudah sepatutnya kita di bulan mulia ini mengambil pelajaran dari kisah beliau dan keluarganya.

Ibrahim dan Keluarganya: Teladan Keimanan Sepanjang Zaman

Allah ﷻ tidak sembarangan menjadikan kisah para nabi termaktub dalam al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ

“Sungguh pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS Yūsuf [12]: 111).

Salah satu kisah yang paling kaya pelajaran adalah kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Allah ﷻ secara khusus memilih keluarga Ibrahim sebagai teladan bagi umat manusia. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ اللّٰهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ%  إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran di atas seluruh umat.” (QS Āli ‘Imrān [3]: 33).

Imam al-Baghawi menjelaskan bahwa dari keturunan Ibrahim-lah para nabi akan lahir, termasuk Ismail, Ishaq, Yakub, hingga Nabi Muhammad ﷺ.[1]

Keutamaan keluarga Ibrahim bukan sekadar pemberian Allah ﷻ tanpa usaha. Di baliknya ada perjuangan panjang Ibrahim dalam menjaga keimanan orang-orang yang ia cintai. Beliau menasihati anak-anaknya dengan sungguh-sungguh. Allah ﷻ berfirman:

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Ibrahim menasihati anak-anaknya dan juga Yakub, ‘Wahai anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan untuk kalian agama Islam, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.'” (QS al-Baqarah [2]: 132).

Tak cukup dengan nasihat, Ibrahim senantiasa mendoakan keluarganya. Beliau memohon kepada Allah ﷻ,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.” (QS Ibrāhīm [14]: 35).

Bahkan ketika membangun Ka’bah bersama putranya Ismail, keduanya berdoa bersama,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا

“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami.” (QS al-Baqarah [2]: 127).

Inilah gambaran keluarga yang menjadikan ibadah sebagai kegiatan bersama, bukan urusan masing-masing.

Buah dari usaha dan doa Ibrahim pun nyata. Allah ﷻ menganugerahinya istri-istri yang teguh: Sarah yang setia menemaninya seorang diri di tengah kaumnya yang kafir,[2] dan Hajar yang ridha ditinggal di lembah tandus Mekah hanya karena satu jawaban Ibrahim, “Untuk Allah.” Hajar pun menjawab, “Aku ridha kepada Allah.” (HR Bukhari, no. 3365).

Dan Ismail, sang putra, tumbuh menjadi anak yang ketika diperintahkan untuk disembelih hanya berkata,

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai Ayahku, lakukan apa yang diperintahkan. Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.” (QS aṣ-Ṣāffāt [37]: 102).

Ibadah Haji: Warisan Ibrahim yang Sempat Ternoda

Salah satu warisan terbesar Ibrahim di bulan Dzulhijjah adalah ibadah haji. Setelah Ibrahim dan Ismail menyelesaikan pembangunan Ka’bah, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyerukan haji kepada seluruh umat manusia. Allah ﷻ berfirman,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Serukanlah kepada manusia agar mereka melaksanakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta dari berbagai penjuru yang jauh.” (QS al-Ḥajj [22]: 27).

Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa seruan Ibrahim ini dipenuhi oleh manusia dari berbagai umat, termasuk para nabi ‘alaihimussalām.[3]

Namun seiring berjalannya waktu, ibadah yang suci ini perlahan ternoda. Orang pertama yang merusak kemurnian haji dengan kesyirikan adalah Amr bin Luhay, yang memasukkan berhala-berhala ke dalam Ka’bah. Rasulullah ﷺ bersabda tentangnya,

رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ لُحَيٍّ يَجُرُّ قَصَبَهُ فِي النَّارِ

“Aku melihat Amr bin Luhay menarik ususnya di neraka.” (HR Muslim, no. 2856).

Setelah itu, praktik kesyirikan terus berkembang dalam ritual haji hingga datangnya Islam.

Islam Hadir Memurnikan Kembali

Kedatangan Nabi Muhammad ﷺ membawa misi pemurnian. Pada tahun kesembilan Hijriah, setelah Makkah berhasil dibebaskan, Rasulullah ﷺ mengutus Ali bin Abi Thalib untuk mengumumkan,

لَا يَحُجَّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ، وَلَا يَطُوفَ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ

“Tidak boleh lagi ada orang musyrik yang berhaji setelah tahun ini, serta tidak boleh ada tawaf yang dilakukan dengan telanjang.” (HR Bukhari dan Muslim).[4]

Momen ini diabadikan pula dalam firman Allah ﷻ,

إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هٰذَا

“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjid al-Haram setelah tahun ini.” (QS at-Taubah [9]: 28).

Islam hadir bukan untuk membawa syariat yang baru sama sekali, melainkan menyempurnakan dan memurnikan. Allah ﷻ berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat untuk menyerukan: Beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah sesembahan selain-Nya.” (QS an-Naḥl [16]: 36).

Inilah semangat yang dibawa Islam sejak awal: tauhid yang murni, ibadah yang bersih dari segala tambahan.

Pelajaran untuk Kita di Bulan Dzulhijjah

Kisah Ibrahim dan sejarah ibadah haji mengajarkan dua hal yang saling berkaitan. Pertama, kekuatan sebuah keluarga tidak diukur dari harta atau kenyamanan, tetapi dari sejauh mana iman dijadikan fondasi. Ibrahim menjaga keluarganya dengan tauhid, doa, nasihat, dan keteladanan, dan hasilnya adalah keluarga yang menjadi pemimpin kebaikan sepanjang zaman.

Kedua, ibadah yang kita tunaikan harus selalu dijaga kemurniannya dari segala bentuk penyimpangan. Sejarah haji mengajarkan betapa mudahnya ibadah yang suci bisa ternoda jika kita lengah. Maka semangat untuk terus belajar dan memurnikan ibadah adalah semangat yang Islam sendiri diturunkan dengannya.

Di bulan Dzulhijjah yang mulia ini, semoga kita dapat meneladani Ibrahim: membangun keluarga di atas keimanan, dan menjaga ibadah kita tetap bersih di atas sunnah. Wallāhu a’lam.

Marāji’:

[1] al-Baghawī, Ḥusain bin Mas’ūd. Ma’ālim at-Tanzīl fī Tafsīr al-Qur’ān. Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turāth al-‘Arabī. 1420 H. Cet. ke-1. Jilid 1. h. 431.

[2] al-Bukhārī, Muḥammad bin Ismā’īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ṭūq an-Najāh. 1422 H. Cet. ke-1. No. 3358.

[3] aṭ-Ṭabarī, Muḥammad bin Jarīr. Jāmi’ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah. 2000 M / 1420 H. Cet. ke-1. Jilid 17. h. 478.

[4] al-Bukhārī, Muḥammad bin Ismā’īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ṭūq an-Najāh. 1422 H. Cet. ke-1. No. 369. Muslim bin al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turāth al-‘Arabī. t.t. No. 1347.

Download Buletin klik di sini

Tanda-Tanda Diterimanya Taubat

Tanda-Tanda Diterimanya Taubat

Ali Muthahari*

 

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Pernahkah kita merasa sudah bertaubat dengan sungguh-sungguh, tetapi di dalam hati masih muncul pertanyaan kecil yang terus mengganggu: apakah Allah benar-benar sudah menerima taubat kita? Perasaan seperti ini sering datang justru ketika kita mulai berubah menjadi lebih baik. Kita mulai menjaga salat, lebih hati-hati dalam bersikap, dan mencoba menjauhi hal-hal yang dulu sering dilakukan. Namun, di balik perubahan itu, tetap ada kegelisahan yang membuat kita ragu dengan diri sendiri.

Jika direnungkan lebih dalam, kegelisahan ini sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Ia muncul karena hati masih hidup dan masih punya rasa takut kehilangan rahmat Allah. Di saat yang sama, ada juga kerinduan untuk benar-benar kembali dan diterima sepenuhnya oleh-Nya. Karena itu, memahami bagaimana sebenarnya taubat bekerja dan bagaimana tanda-tandanya menjadi penting, supaya kita tidak hanya berhenti pada penyesalan, tetapi juga punya keyakinan dalam perjalanan memperbaiki diri.

Hakikat Taubat dalam Islam

Untuk sampai pada pemahaman yang lebih tenang, kita perlu mulai dari dasar terlebih dahulu. Taubat secara sederhana berarti kembali. Maksudnya adalah kembali dari jalan yang salah menuju jalan yang diridhai Allah.[1] Namun, makna ini tidak berhenti pada sekadar kata. Taubat adalah proses yang terjadi di dalam hati, sebuah perubahan arah hidup yang pelan-pelan membentuk cara kita berpikir dan bertindak.

Karena itu, taubat bukan hanya soal merasa bersalah lalu selesai. Ia adalah langkah yang terus berjalan, membersihkan hati dari kebiasaan buruk, dan menggantinya dengan kesadaran baru. Allah ﷻ sendiri memberikan harapan yang sangat besar bagi hamba-Nya yang ingin kembali. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah ﷻ menerima taubat dan memaafkan kesalahan.[2] Bahkan bagi mereka yang merasa dosanya sudah terlalu banyak, Allah ﷻ tetap mengingatkan agar tidak putus asa dari rahmat-Nya.[3]

Syarat-Syarat Taubat yang Benar Menurut Ulama

Setelah memahami maknanya, langkah berikutnya adalah melihat bagaimana taubat yang benar itu dilakukan. Para ulama menjelaskan bahwa taubat tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi harus disertai dengan beberapa hal yang saling berkaitan, yaitu:

  1. Ikhlas karena Allâh ﷻ, bukan karena manusia.
  2. Menyesali serta merasa sedih atas dosa yang pernah dilakukan.
  3. Berhenti dari dosa dan meninggalkannya sepenuhnya, bukan sekadar dikurangi atau ditunda.
  4. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi di masa depan.
  5. Dilakukan pada waktu masih diterimanya taubat, serta jika berkaitan dengan hak orang lain, harus diselesaikan atau dikembalikan.[4]

Tanda-Tanda Diterimanya Taubat

Lalu muncul pertanyaan yang sering dirasakan: bagaimana kita tahu bahwa taubat kita diterima? Pertanyaan ini sangat wajar, bahkan menunjukkan adanya perhatian dan kesungguhan hati dalam memperbaiki diri. Sebab, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan secara langsung apakah taubatnya telah diterima, karena itu adalah perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allâh ﷻ.

Namun para ulama menjelaskan bahwa tanda-tandanya bisa dilihat dari perubahan yang terjadi dalam diri kita. Berikut beberapa tanda diterimanya taubat:

  1. Berubahnya perasaan terhadap dosa. Dulu terasa biasa atau bahkan menikmati kesalahan yang dilakukan, kini hati merasa sempit dan tidak nyaman ketika mendekatinya, bahkan sekadar melihat atau mendengar sudah mengganggu hati.
  2. Munculnya kepekaan hati. Hati menjadi lebih peka terhadap maksiat dan lebih mudah tersentuh oleh kebaikan, sebagai tanda hidupnya iman. Perubahan ini biasanya terjadi secara alami, bukan karena dipaksa.[5]
  3. Lebih ringan dalam beribadah. Ibadah terasa lebih ringan untuk melakukan kebaikan;[6] shalat lebih terjaga, membaca Al-Qur’an lebih dekat, serta amal kebaikan dilakukan tanpa terasa berat.
  4. Konsistensi dalam kebaikan. Perubahan mungkin tidak langsung besar, tetapi berjalan perlahan dan terus-menerus (istiqamah). Dari konsistensi inilah terlihat bahwa hati sedang bergerak ke arah yang benar.
  5. Perubahan lingkungan dan pergaulan.[7] Mulai nyaman bersama orang-orang saleh dan lingkungan yang baik, serta merasa tidak betah di lingkungan yang menjauhkan dari ketaatan.
  6. Kecenderungan hati kepada kebaikan.[8] Ada dorongan alami untuk menjauhi sebab-sebab dosa dan mendekati hal-hal yang membawa kepada ketaatan. Tanpa disadari, hati seperti diarahkan untuk menjauh dari hal-hal yang dapat mengembalikan kepada kesalahan yang lama.

Penutup

Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah taubat kita sudah diterima tidak selalu harus dijawab dengan kepastian yang mutlak. Yang lebih penting adalah melihat ke dalam diri kita sendiri dan memperhatikan perubahan yang sedang terjadi. Ketika dosa mulai terasa berat, ketika kebaikan mulai terasa ringan, dan ketika hati semakin dekat dengan Allah, itu semua adalah tanda yang patut disyukuri. Namun, jika kita masih merasa belum sepenuhnya berubah, hal itu tidak berarti bahwa taubat kita gagal. Bisa jadi kita masih berada dalam proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Yang terpenting adalah tetap melangkah dan tidak kembali ke arah yang sama.

Taubat pada hakikatnya bukan sekadar kembali, tetapi juga menjaga diri agar tetap berada di jalan yang benar setelah kembali. Selama kita terus memohon ampunan kepada Allâh, pintu ampunan dan rahmat-Nya akan senantiasa terbuka.

Allâh ﷻ berfirman:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allâh, niscaya ia mendapati Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa [4]: 110). Wa Allâhu a’lam bish shawwâb.

* Mahasiwa Prodi Pendidikan Agama Islam FIAI dan Santri PP UII

Marāji’:

[1] ʿAbd al-Karîm ibn Hawâzin al-Qushayrî, al-Risâlah al-Qushayriyyah, taḥqîq ʿAbd al-Ḥalîm Maḥmûd dan Maḥmûd ibn al-Sharîf (Kairo: Dâr al-Maʿârif, tanpa tahun), juz 1, hlm. 207.

[2] Al-Qur’an, QS. Asy-Syûrâ [42]: 25.

[3] Al-Qur’an, QS. Az-Zumar [39]: 53.

[4] Muḥammad ibn Ṣāliḥ ibn Muḥammad al-ʿUtsaimîn. Syarḥ Riyâḍ al-Ṣâliḥîn. Riyadh: Dâr al-Waṭan li al-Nasyr. 1426 H. Juz 1. h. 85.

[5] Aḥmad ibn Sulaymân Ayyûb dkk. Mawsûʿah Maḥâsin al-Islâm wa Radd Syubuhât al-Li’âm. Riyadh: Dâr Îlâf al-Duwaliyyah li al-Nasyr wa al-Tawzîʿ. 1436 H/2015 M. Juz 2. h. 212.

[6] Abû Ḥâmid Muḥammad ibn Muḥammad al-Ghazâlî. Minhâj al-ʿÂbidîn ilâ Jannat Rabb al-ʿÂlamîn. Beirut: Mu’assasah al-Risâlah. 1989. h. 71.

[7] Al-Sayyid Kâẓim al-Ḥusaynî al-Ḥâ’irî. Tazkiyat al-Nafs min Manẓûr al-Tsaqalayn (7). Al-Tawbah wa al-Inâbah (3). https://www.alhaeri.org/pages/lib.php.  Diakses pada 17 April 2026.

[8] Ibid.

Download Buletin klik di sini

Kurban untuk Selain Allah dalam Perspektif Syariat

Kurban untuk Selain Allah dalam Perspektif Syariat

Faisal Ahmad Ferdian Syah*

 

Idul Adha selalu menghadirkan momen yang khas dan istimewa. Momen ini bukanlah hanya seremonial tahunan tanpa arti. Riuh takbir yang berkumandang, penyembelihan hewan kurban, serta semangat gotong royong dan berbagi antarsesama turut menjadikan momen Idul Adha ini bukan hanya mengandung dimensi spiritual (hablun minallâh), namun juga dimensi sosial (hablun minannâs). Namun, di balik kesakralan momen tersebut, terdapat satu hal penting yang sering terlupakan, yaitu menjaga kemurnian niat dan tujuan ibadah kurban itu sendiri.

Dalam Islam, kurban bukan sekadar tradisi menyembelih kurban. Kurban adalah wujud ketundukan seorang hamba kepada Allah dengan tujuan taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya. Namun, di beberapa tempat, terdapat praktik penyembelihan yang dikaitkan dengan persembahan kepada makhluk ghaib, penunggu tempat tertentu, atau ritual adat yang bercampur dengan keyakinan menyimpang. Maka dari itu, kurban yang ditujukan kepada selain Allah menjadi persoalan serius karena hal tersebut sudah menyangkut ke dalam ranah akidah (keyakinan). Praktik seperti ini sejatinya dapat merusak kemurnian niat seseorang dan esensi dari ibadah tersebut.

Dimensi Tauhid dalam Ibadah Kurban

Ibadah dalam Islam hanya boleh ditujukan kepada Allah ﷻ semata. Secara historis, kurban adalah ibadah yang sarat akan nilai ketauhidan di dalamnya. Allah ﷻ berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS Al-Kautsar [108]: 2).

Ibnu Jarîr At-Thabarî dalam kitab tafsirnya Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân mengatakan bahwa, “Dahulu manusia salat dan berkurban kepada selain Allah, kemudian turunlah ayat ini sebagai perintah untuk salat dan berkurban hanya kepada Allah.”[1]

              Dalam ayat yang lain, Allah ﷻ juga berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS Al-An’am [6]: 162).

Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm” mengatakan bahwa ayat ini menjelaskan tentang penyimpangan kaum musyrikin yang menyembah dan menyembelih untuk berhala mereka, sekaligus penegasan bahwa segala ibadah itu hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.[2] Para ulama seperti Mujahid dan Ats-Tsauri menjelaskan bahwa kata nusuk dalam ayat tersebut mencakup ibadah penyembelihan atau kurban. Dengan demikian, tujuan utama kurban bukan sekadar memperoleh daging atau menjalankan tradisi tahunan, melainkan sebagai wujud ketundukan dan penghambaan kepada Allah ﷻ.[3]

Karena itu, nilai ibadah kurban sangat bergantung pada niat dan tujuan pelakunya. Ketika ibadah tersebut dipersembahkan kepada selain Allah ﷻ, maka ia telah keluar dari hakikat tauhid yang menjadi inti ajaran Islam.

Larangan Menyembelih untuk Selain Allah

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras terhadap praktik penyembelihan untuk selain Allah ﷻ. Dalam sebuah hadits disebutkan, dari Ali bin Abi Thalib z berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda:

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ،

“Allah melaknat orang-orang yang menyembelih binatang bukan karena Allah, (HR Muslim, no. 1978).

Hadits ini menunjukkan bahwa penyembelihan bukan hanya aktivitas sosial atau budaya, tetapi juga memiliki nilai ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah semata. Oleh sebab itu, mempersembahkan sembelihan kepada selain Allah termasuk perbuatan yang dilarang dalam syariat.

Praktik penyembelihan yang menyimpang tersebut bentuknya dapat bermacam-macam, seperti menyembelih hewan untuk persembahan kepada jin, roh penunggu suatu tempat, atau keyakinan tertentu yang mengandung unsur pengagungan kepada selain Allah ﷻ. Praktik semacam ini bertentangan dengan prinsip tauhid karena menjadikan selain Allah ﷻ sebagai tujuan penghambaan. Maka dari itu, penting kita memahami batas antara budaya dan akidah. Sebab, tidak semua tradisi masyarakat otomatis bertentangan dengan Islam, tetapi juga tidak semua tradisi dapat dibenarkan tanpa melihat unsur keyakinan yang ada di dalamnya.

Tradisi dan Batasan Syariat

Islam pada dasarnya menghargai budaya dan tradisi masyarakat selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Banyak tradisi lokal yang dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan dan memperkuat nilai sosial. Di dalam Ushûl Fiqih terdapat kaidah,

اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

“Adat kebiasaan dapat dijadikan sebagai hukum (sandaran penetapan hukum).”

Akan tetapi, ketika sebuah tradisi mengandung unsur keyakinan yang menyimpang dari tauhid, maka Islam memberikan batasan yang tegas.

Sebagian masyarakat terkadang melakukan ritual tertentu dengan tujuan meminta keselamatan kepada selain Allah ﷻ atau meyakini adanya kekuatan gaib yang harus diberikan persembahan. Keyakinan semacam ini perlu diluruskan karena dapat merusak kemurnian akidah seorang Muslim. Meski demikian, dakwah dalam masalah ini juga harus dilakukan dengan hikmah dan kebijaksanaan. Tidak semua masyarakat memahami persoalan akidah secara mendalam. Karena itu, pendekatan edukatif dan penuh kelembutan menjadi sangat penting agar masyarakat dapat memahami ajaran Islam secara benar tanpa menimbulkan konflik yang tidak perlu. Meluruskan tradisi bukan berarti memusuhi budaya, tetapi mengarahkan budaya agar tetap berjalan dalam nilai-nilai tauhid dan syariat Islam.

Menjaga Kemurnian Ibadah Kurban

Pada akhirnya, ibadah kurban mengajarkan umat Islam tentang keikhlasan dan ketundukan kepada Allah ﷻ. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi simbol bagaimana penghambaan kepada Allah ﷻ harus ditempatkan di atas segala-galanya. Allah ﷻ berfirman:

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamu yang akan sampai kepada-Nya.” (QS Al-Hajj [22]: 37).

Ayat ini menegaskan bahwa esensi kurban bukan terletak pada darah atau dagingnya, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan seorang hamba kepada Allah ﷻ. Karena itu, ketika kurban dilakukan semata-mata karena Allah ﷻ, maka ia menjadi ibadah yang bernilai mulia dan sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Wallâhu A‘lam bish-Shawâb.

* Alumni Prodi Ahwal Syakhshiyah IP FIAI UII

Marāji’:

[1] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Tabari, Jāmi’ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān (Hajr li al-Ṭibā’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi’ wa al-I‘lan, 2001). h. 690.

[2] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘azim, Dar Kutub al-Islamiyyah, 2012. h. 381.

[3] Ibid. h. 382.

Download Buletin klik di sini

Kurban sebagai Detox Gaya Hidup Konsumtif

Kurban sebagai Detox Gaya Hidup Konsumtif

Ali Muthahari*

 

Terlalu sempit jika kita memaknai kurban hanya sekadar ritual tahunan membeli, menyembelih hewan, lalu membagikan dagingnya kepada yang membutuhkan. Meskipun pandangan itu benar, tetapi ia menjadi terlalu kecil jika dihadapkan dengan realitas kehidupan hari ini yang dikelilingi budaya konsumerisme tinggi. Berbagai iklan yang terus lewat di media sosial seakan mendorong manusia untuk selalu membeli sesuatu agar terlihat “cukup”. Dalam situasi seperti ini, kurban menjadi sangat relevan sebagai cara membersihkan diri dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya, yaitu keterikatan hati terhadap dunia.

Ketika Dunia Mengajarkan Kita untuk Selalu Kurang

Sadar atau tidak, hari ini kita hidup di tengah pandangan masyarakat yang menilai seseorang dari apa yang dimilikinya. Seorang pakar sosio-ekonomi bahkan menyebut bahwa manusia modern cenderung membeli bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin dianggap berarti.[1] Pada akhirnya konsumsi bukan lagi soal kebutuhan, melainkan cara masyarakat berbicara tentang dirinya sendiri. Karena itu gadget terbaru, pakaian bermerek, kopi mahal, hingga liburan yang cukup marak dipamerkan di media sosial perlahan membentuk cara baru manusia memandang dirinya sendiri.

Di situlah kurban menjadi semacam “alternatif” dari logika dunia modern. Bagaimana tidak, ibadah ini membuat seseorang rela mengeluarkan jutaan bahkan puluhan juta rupiah untuk seekor hewan yang dalam beberapa jam dagingnya habis dibagikan. Tidak menjadi aset, tidak menambah status ekonomi, bahkan tidak bisa dipamerkan dalam bentuk investasi. Dalam logika konsumsi modern, itu tampak tidak masuk akal. Tetapi justru di situlah letak rahasia kurban. Ia melatih manusia untuk rela melepaskan sesuatu yang dicintai tanpa berharap dunia mengembalikannya dalam bentuk keuntungan.

Karena masalah terbesar manusia modern sebenarnya bukan hanya kemiskinan, melainkan ketidakmampuan merasa cukup. Kita hidup di zaman ketika keinginan diproduksi terus-menerus. Setelah membeli satu hal, muncul lagi keinginan untuk membeli hal lainnya. Setelah mencapai satu pencapaian, lahir kecemasan baru. Inilah situasi lingkungan kita hari ini, masyarakat yang dipelihara oleh ketidakpuasan. Sebab jika manusia benar-benar puas, roda konsumsi akan berhenti.[2]

Di tengah tekanan konsumerisme itulah kurban datang seperti jeda yang menenangkan, seraya mengingatkan bahwa manusia tidak harus selalu menggenggam. Ada kebahagiaan yang justru lahir ketika seseorang mampu melepaskan.

Spirit Ibrahim dan Latihan Melepaskan Kepemilikan

Disyariatkannya kurban adalah napak tilas dari ketaatan yang ditunjukkan Nabi Ibrahim p tentang kesediaan mengorbankan sesuatu yang paling ia cintai.[3] Sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an, kisah keikhlasan Nabi Ibrahim p dan anaknya bukan hanya tentang pengorbanan fisik, tetapi tentang kemenangan hati atas keterikatan duniawi. Ibrahim bersedia menyerahkan apa yang paling berharga dalam hidupnya semata karena Allah ﷻ. Karena itu Allah ﷻ menegaskan dalam QS Al-Hajj ayat 37:

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (QS Al-Hajj [22]: 37).

Inti kurban bukan terletak pada hewannya, melainkan pada hati yang rela melepaskan. Para ulama telah banyak membahas tentang pentingnya melepaskan hati dari keterikatan terhadap dunia, tetapi bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan dalam Madârij al-Sâlikîn bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan memiliki dunia tanpa diperbudak olehnya.[4] Seseorang boleh kaya dan memiliki harta, tetapi hatinya tidak bergantung pada semua itu. Sebab ketika hati terlalu melekat pada sesuatu selain Allah ﷻ, hidup akan dipenuhi kecemasan kehilangan.

Ia bahkan mengingatkan bahwa manusia yang terlalu bergantung pada dunia pada akhirnya akan dikhianati oleh dunia itu sendiri. Jabatan bisa hilang, harta bisa habis, pujian manusia bisa berubah menjadi hinaan. Maka kurban sebenarnya adalah latihan tahunan untuk membebaskan hati sebelum dunia memaksa kita kehilangan semuanya.[5]

Menyembelih Ego yang Tak Terlihat

Yang mengherankan sekaligus menjadi problem baru di era media sosial adalah ketika kurban kadang justru berubah menjadi panggung bagi ego manusia. Orang berlomba menunjukkan hewan terbesar, membuat konten demi popularitas, atau mencari pengakuan sebagai orang paling dermawan. Ritual yang seharusnya menyembelih ego malah dipakai untuk memberi makan ego. Padahal kurban sejati justru terjadi ketika seseorang mampu diam-diam melawan keserakahan dalam dirinya sendiri.

Mungkin itulah mengapa kurban terasa sangat relevan hari ini. Di tengah budaya flexing, belanja impulsif, FOMO, dan kebutuhan terus-menerus untuk terlihat berhasil, kurban hadir sebagai pengingat dari Allah ﷻ bahwa manusia bukanlah apa yang ia miliki. Kita bukan isi lemari kita, bukan merek pakaian kita, bukan kendaraan kita, bahkan bukan personal branding yang kita bangun di media sosial.

Kurban mengajarkan bahwa kebebasan sejati lahir ketika seseorang tidak hancur saat kehilangan. Ketika hati tidak lagi diperintah oleh hasrat memiliki. Ketika manusia mampu berkata bahwa semua yang ada di tangannya hanyalah titipan. Dan mungkin, yang paling sulit disembelih dalam hidup ini memang bukan hewan kurban, melainkan ego, gengsi, dan rasa takut untuk melepaskan.

Marāji’:

* Santri PP UII

[1] Jean Baudrillard. The Consumer Society: Myths and Structures. Terj. Chris Turner. London: SAGE Publications. 1998. h. 193.

[2] Zygmunt Bauman. Consuming Life. Cambridge: Polity Press. 2007. h. 47.

[3] Tim Penulis di bawah bimbingan Syaikh ‘Alawî bin ‘Abd al-Qâdir al-Saqqâf. Al-Mawsû‘ah al-Fiqhiyyah. Penerbit: al-Durar al-Saniyyah. Juz 2. h. 341.

[4] Muhammad bin Abî Bakr bin Ayyûb bin Sa‘d Syams al-Dîn Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Madârij al-Sâlikîn Bayna Manâzil Iyyâka Na‘budu wa Iyyâka Nasta‘în. Tahqîq Muhammad al-Mu‘tashim Billâh al-Baghdâdî. Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî. 1996. Cet. ke-3. Juz 2. h. 21.

[5] Ibid. Juz 1. h. 455.

Download Buletin klik di sini

Melahirkan Pahala dari Kesedihan

Melahirkan Pahala dari Kesedihan

Muhammad Insan Fathin

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Pembaca yang semoga dirahmati Allâh, setiap kita pasti pernah merasakan kesedihan; hati terasa berat, malam terasa panjang, dan air mata jatuh tanpa tertahan. Kesedihan adalah bagian dari perjalanan hidup yang tak terpisahkan.

Sedih Itu Manusiawi

Perlu diluruskan, sedih bukan tanda lemahnya iman. Anggapan bahwa orang beriman tidak boleh menangis adalah tidak tepat. Allâh menciptakan hati manusia dengan kemampuan untuk merasakan sedih—dan itu adalah fitrah, bukan kekurangan.

Bahkan para nabi, manusia terbaik, juga merasakannya. Lihatlah Nabi Ya’qûb ‘alaihissalâm, yang begitu dalam kesedihannya saat berpisah dengan putranya, Yûsuf, hingga kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an.

Allâh ﷻ berfirman:

وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

Dan Ya’qub berpaling dari mereka sambil berkata, ‘Wahai dukacitaku atas Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS Yūsuf [12]: 84).

Lihatlah pula Rasûlullâh ﷺ. Ketika putra beliau, Ibrâhîm, wafat di hadapannya, beliau menangis. Para sahabat kaget. Beliau menjawab:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

Sesungguhnya mata ini menangis, dan hati ini bersedih. Dan kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Rabb kami. Dan sesungguhnya kami dengan perpisahan darimu wahai Ibrahim, sungguh bersedih.” (HR Bukhari, no. 1303).[1]

Perhatikan bagaimana Rasûlullâh ﷺ memisahkan dua hal dalam satu kalimat yang indah. Beliau menangis dan bersedih, itu wajar. Tapi beliau menjaga lisannya untuk tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allâh ﷻ. Itulah sabar yang sesungguhnya.

Yang Perlu Dijaga Adalah Tindakan Kita

Allâh ﷻ tidak pernah melarang kita untuk bersedih. Yang perlu kita jaga adalah bagaimana kita bersikap ketika sedih itu datang. Ada dua hal yang Allâh ﷻ larang: pertama, berputus asa dari rahmat-Nya. Kedua, mengucapkan atau melakukan hal-hal yang mendatangkan murka-Nya.

Allâh ﷻ berfirman:

وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.” (QS Yūsuf [12]: 87).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengingatkan dalam Madârij as-Sâlikîn bahwa kesedihan bisa melemahkan hati dan tekad. Ketika kita menyendiri dalam kesedihan, kita lebih mudah digoda dan berburuk sangka kepada Allâh.[2] Maka ketika sedih datang, jangan menyendiri. Justru hadirlah di majelis ilmu dan adukan semuanya kepada Allâh ﷻ.

Lihatlah teladan Nabi Ya’qûb ketika ditegur anak-anaknya. Beliau menjawab:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (QS Yūsuf [12]: 86).

Mengadu kepada Allâh bukan tanda lemah. Justru itu adalah ibadah yang mulia.

Ujian Bukan Tanda Allâh Marah

Ketika seseorang tertimpa musibah, sering muncul anggapan, “Ini karena dosa” atau “Allâh sedang marah.” Padahal, ujian bisa jadi tanda kecintaan Allâh kepada hamba-Nya. Rasûlullâh ﷺ bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya besarnya pahala itu bersama besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah, dan barang siapa yang marah maka baginya kemurkaan Allah.” (HR Tirmidzi, no. 2396).[3] Beliau ﷺ juga bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang serupa dengan mereka, kemudian yang serupa dengan mereka lagi.” (HR Tirmidzi, no. 2398).[4]

Para nabi adalah yang paling dicintai Allâh, namun juga paling berat ujiannya. Maka, ujian berat bukan tanda murka, tetapi bisa menjadi tanda perhatian dan kasih sayang Allâh kepada hamba-Nya.

Kabar Gembira bagi yang Bersabar

Inilah kabar indah bagi orang yang bersabar dalam kesedihan. Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ  bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya.” (HR Bukhari, no. 5641).[5]

Bahkan musibah kecil pun menghapus dosa, apalagi kesedihan yang besar—semuanya bernilai pahala jika dijalani dengan sabar.

Allâh ﷻ berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapatkan shalawat dari Tuhan mereka dan rahmat.” (QS Al-Baqarah [2]: 156-157).

Dari Shuhaib, ia berkata, Rasûlullâh ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ

Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Semua urusannya adalah baik baginya.” (HR Muslim, no. 2999).[6]

Inilah keistimewaan orang beriman, kesedihan yang dijalani dengan sabar berubah menjadi pahala dan kebaikan.

Kesedihan Ini Sementara

Allâh ﷻ berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS Al-Insyirâh [94]: 5-6).

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbâs c, ia mengatakan, Rasûlullâh ﷺ bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Dan ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR Ahmad, no. 2803).[7]

Pertolongan bersama kesabaran. Jalan keluar bersama kesempitan. Bukan setelah, tapi bersama. Artinya, ketika kita sedang berada di dalam kesulitan itu, kemudahan sudah dalam perjalanan menuju kita. Ini bukan janji manusia yang bisa ingkar. Ini janji Allâh. Dan Allâh ﷻ tidak pernah ingkar janji.

Semoga Allâh ﷻ menetapkan hati kita di atas iman, menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang sabar, dan menggantikan setiap kesedihan kita dengan ketenangan yang hanya datang dari-Nya.

Marāji’:

[1] Muhammad bin Ismâ’îl al-Bukhârî. Shahîh al-Bukhârî. Beirut: Dâr Thauq an-Najâh. 1422 H. Cet. ke-1. h. 56.

[2] Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Madârij as-Sâlikîn bayna Manâzil Iyyâka Na’budu wa Iyyâka Nasta’în. Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah. 1996. Cet. ke-1. Jilid 1. h. 310.

[3] Muhammad bin ‘Îsâ at-Tirmidzî. Sunan at-Tirmidzî. Beirut: Dâr al-Gharb al-Islâmî. 1998. Cet. ke-1. h. 310.

[4] At-Tirmidzî. Sunan at-Tirmidzî. h. 311.

[5] Al-Bukhârî. Shahîh al-Bukhârî. h. 89.

[6] Muslim bin al-Hajjâj. Shahîh Muslim. Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabî. t.t. h. 225.

[7] Ahmad bin Hanbal. Musnad al-Imâm Ahmad bin Hanbal. Beirut: Mu’assasah ar-Risâlah. 2001. Cet. ke-1. Jilid 4. h. 251.

Download Buletin klik di sini

Memuliakan Pekerja (Buruh) dalam Ajaran Islam

Memuliakan Pekerja (Buruh) dalam Ajaran Islam

Ali Muthahari

 

Kemuliaan Pekerjaan dalam Perspektif Islam

Dalam ajaran Islam, bekerja tidak pernah dipandang sebagai aktivitas yang sekadar bersifat duniawi. Ia justru memiliki dimensi ibadah ketika dilakukan dengan cara yang halal dan dilandasi niat yang baik. Karena itu, ukuran kemuliaan sebuah pekerjaan tidak ditentukan oleh tinggi atau rendahnya posisi sosial, melainkan oleh kejujuran dan kesungguhan pelakunya.

Para ulama menjelaskan bahwa para nabi sendiri telah memberikan teladan tentang pentingnya bekerja. Dalam penjelasan Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari, disebutkan bahwa Nabi Dawud memilih untuk makan dari hasil kerja tangannya sendiri meskipun beliau adalah seorang raja.[1]

Jika dipahami secara lebih luas, istilah “buruh” tidak terbatas pada mereka yang bekerja secara fisik di sektor tertentu. Setiap orang yang memberikan tenaga, waktu, atau jasanya untuk orang lain dapat termasuk dalam kategori ini.[2] Dalam konteks ini, seorang petani yang menanam padi, seorang guru yang mengajar di kelas, hingga seorang pedagang yang melayani pembeli, semuanya berbagi nilai yang sama dalam kerja mereka.

Keteladanan Para Salaf

Para tokoh besar dalam Islam bahkan menunjukkan kedekatan dengan pekerjaan yang bersifat praktis. Rasulullah ﷺ pernah menggembala kambing pada masa mudanya sebagai bagian dari proses pembentukan diri para nabi, yang melatih kesabaran dan tanggung jawab dalam memimpin umat.[3]

Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga dikenal pernah bekerja dengan menarik air dari sumur dengan imbalan satu butir kurma untuk setiap satu timba air.[4] Sementara itu, Sayyidah Fatimah tidak segan menggiling gandum sendiri tanpa bantuan pelayan, hingga meninggalkan bekas luka dan kapalan pada tangannya.[5]

Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ memerintahkan manusia untuk berusaha mencari rezeki dan bertebaran di muka bumi setelah menunaikan ibadah. Perintah ini, di antaranya, tergambar dalam firman-Nya tentang anjuran bertebaran di bumi setelah shalat untuk mencari karunia Allah.

Allah ﷻ berfirman,

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah [62]: 10).

Ayat ini menjadi dasar bahwa setelah menunaikan ibadah, manusia dianjurkan untuk bekerja dan mencari rezeki, sehingga tercapai keseimbangan antara ibadah dan aktivitas duniawi.

Dalam Tafsir al-Qurṭubî dijelaskan bahwa perintah tersebut merupakan dorongan agar manusia aktif mencari karunia Allah ﷻ setelah menunaikan ibadah.[6] Hal ini menunjukkan bahwa bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari ketaatan kepada Allah ﷻ. Dengan perspektif ini, pekerjaan sehari-hari tidak lagi dipandang sebagai rutinitas biasa, melainkan sebagai bentuk pengabdian yang memiliki nilai spiritual.

Etika Menghargai Buruh dalam Ajaran Islam

Selain memuliakan kerja, Islam juga sangat menekankan pentingnya menghargai orang yang bekerja. Rasulullah ﷺ menganjurkan agar upah diberikan sebelum kering keringat pekerja, sebagai isyarat agar hak mereka tidak ditunda.[7] Pesan ini mengandung peringatan tegas untuk tidak meremehkan jerih payah orang lain dan untuk bersikap adil dalam hubungan kerja. Nilai ini tetap relevan hingga hari ini, terutama di tengah kehidupan modern yang kerap diwarnai ketimpangan dan ketidakadilan.

Dalam kehidupan sehari-hari, menghargai buruh dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yang sederhana namun bermakna. Membayar upah tepat waktu, memperlakukan pekerja dengan hormat, serta tidak merendahkan profesi tertentu adalah bagian dari pengamalan ajaran Islam. Bahkan dalam banyak hadits, ditekankan pentingnya menunaikan hak pekerja sebelum kering keringatnya, sebagai simbol keadilan dan kepedulian terhadap sesama.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi ﷺ bersabda:

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR Ibnu Majah, shahih).

Namun demikian, sering kali tanpa disadari, kita terjebak dalam sikap yang meremehkan pekerjaan orang lain. Kita mungkin merasa tidak puas dengan pelayanan yang sedikit terlambat, tetapi lupa bahwa di balik itu ada manusia yang sedang berusaha memenuhi tanggung jawabnya. Dalam perspektif Islam, sikap seperti ini perlu diperbaiki karena bertentangan dengan nilai keadilan dan penghargaan terhadap sesama. Dengan kesadaran ini, hubungan antara pemberi kerja dan pekerja tidak lagi sekadar hubungan transaksional, tetapi juga menjadi ladang amal yang menghadirkan keberkahan dan memperkuat nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Jika direnungkan, kehidupan kita sangat bergantung pada para pekerja. Rumah yang kita tempati dibangun oleh para tukang, makanan yang kita konsumsi berasal dari kerja keras petani, dan lingkungan yang bersih terjaga oleh petugas kebersihan. Ini menunjukkan bahwa buruh bukan sekadar bagian kecil dari masyarakat, tetapi fondasi yang menopang kehidupan bersama.

Dari sini, muncul kebutuhan untuk menumbuhkan sikap empati dan penghargaan yang lebih besar terhadap mereka. Menghargai buruh tidak selalu harus diwujudkan dalam tindakan besar. Hal-hal kecil seperti mengucapkan terima kasih, bersikap ramah, dan tidak menunda hak mereka sudah merupakan langkah nyata yang sangat berarti. Dalam ajaran Islam, kebaikan sekecil apa pun memiliki nilai di sisi Allah ﷻ, terlebih jika dilakukan dengan niat yang tulus.

Pada akhirnya, kemuliaan manusia tidak diukur dari jenis pekerjaannya, tetapi dari ketakwaannya. Seorang pekerja yang jujur dan bertanggung jawab bisa memiliki derajat tinggi di sisi Allah. Maka yang perlu dijaga bukan hanya bagaimana kita bekerja, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan orang lain di sekitar kita agar nilai-nilai Islam benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Marāji’:

[1] Aḥmad ibn ʿAlî ibn Ḥajar al-ʿAsqalânî. Fatḥ al-Bârî bi Syarḥ al-Bukhârî. Taḥqîq Muḥammad Fu’âd ʿAbd al-Bâqî dan Muḥibb al-Dîn al-Khaṭîb. Mesir: al-Maktabah al-Salafiyyah. 1380–1390 H. Juz 4. h. 306.

[2] Lihat: Harry Braverman, Labor and Monopoly Capital: The Degradation of Work in the Twentieth Century, 25th Anniversary Edition (New York: Monthly Review Press, 1998), h. 261.

[3] Muḥammad Mutawallî al-Syaʿrâwî. Tafsîr al-Syaʿrâwî al-Khawâṭir. Mesir: Maṭâbiʿ Akhbâr al-Yawm. 1997 M. Juz 15. h. 9251.

[4] Abû al-Ḥasan ʿAlî ibn Muḥammad ibn Muḥammad ibn Ḥabîb al-Baṣrî al-Baghdâdî al-Mâwardî. Al-Ḥâwî al-Kabîr fî Fiqh Madzhab al-Imâm al-Syâfiʿî wa huwa Syarḥ Mukhtaṣar al-Muzanî. Taḥqîq ʿAlî Muḥammad Muʿawwaḍ dan ʿÂdil Aḥmad ʿAbd al-Mawjûd. Beirut: Dâr al-Kutub al-ʿIlmiyyah. 1419 H/1999 M. Juz 7. h. 423.

[5] Aḥmad ibn Muḥammad al-Qasṭalânî. Irsyâd al-Sârî li Syarḥ Ṣaḥîḥ al-Bukhârî. Mesir: al-Maṭbaʿah al-Kubrâ al-Amîriyyah. 1304–1305 H. Juz 8. h. 203.

[6] Abû ʿAbd Allâh Muḥammad ibn Aḥmad al-Anṣârî al-Qurṭubî. Al-Jâmiʿ li Aḥkâm al-Qur’ân. Taḥqîq Aḥmad al-Bardûnî dan Ibrâhîm Aṭfîsy. Kairo: Dâr al-Kutub al-Miṣriyyah. 1384 H/1964 M. Juz 18. h. 108.

[7] Abû al-Faḍl Aḥmad ibn ʿAlî ibn Muḥammad ibn Aḥmad ibn Ḥajar al-ʿAsqalânî. Bulûgh al-Marâm min Adillat al-Aḥkâm. Taḥqîq wa takhrîj Samîr ibn Amîn al-Zuhrî. Riyadh: Dâr al-Falaq. 1424 H. h. 272.

Download Buletin klik di sini