Kurban sebagai Detox Gaya Hidup Konsumtif
Kurban sebagai Detox Gaya Hidup Konsumtif
Ali Muthahari*
Terlalu sempit jika kita memaknai kurban hanya sekadar ritual tahunan membeli, menyembelih hewan, lalu membagikan dagingnya kepada yang membutuhkan. Meskipun pandangan itu benar, tetapi ia menjadi terlalu kecil jika dihadapkan dengan realitas kehidupan hari ini yang dikelilingi budaya konsumerisme tinggi. Berbagai iklan yang terus lewat di media sosial seakan mendorong manusia untuk selalu membeli sesuatu agar terlihat “cukup”. Dalam situasi seperti ini, kurban menjadi sangat relevan sebagai cara membersihkan diri dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya, yaitu keterikatan hati terhadap dunia.
Ketika Dunia Mengajarkan Kita untuk Selalu Kurang
Sadar atau tidak, hari ini kita hidup di tengah pandangan masyarakat yang menilai seseorang dari apa yang dimilikinya. Seorang pakar sosio-ekonomi bahkan menyebut bahwa manusia modern cenderung membeli bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin dianggap berarti.[1] Pada akhirnya konsumsi bukan lagi soal kebutuhan, melainkan cara masyarakat berbicara tentang dirinya sendiri. Karena itu gadget terbaru, pakaian bermerek, kopi mahal, hingga liburan yang cukup marak dipamerkan di media sosial perlahan membentuk cara baru manusia memandang dirinya sendiri.
Di situlah kurban menjadi semacam “alternatif” dari logika dunia modern. Bagaimana tidak, ibadah ini membuat seseorang rela mengeluarkan jutaan bahkan puluhan juta rupiah untuk seekor hewan yang dalam beberapa jam dagingnya habis dibagikan. Tidak menjadi aset, tidak menambah status ekonomi, bahkan tidak bisa dipamerkan dalam bentuk investasi. Dalam logika konsumsi modern, itu tampak tidak masuk akal. Tetapi justru di situlah letak rahasia kurban. Ia melatih manusia untuk rela melepaskan sesuatu yang dicintai tanpa berharap dunia mengembalikannya dalam bentuk keuntungan.
Karena masalah terbesar manusia modern sebenarnya bukan hanya kemiskinan, melainkan ketidakmampuan merasa cukup. Kita hidup di zaman ketika keinginan diproduksi terus-menerus. Setelah membeli satu hal, muncul lagi keinginan untuk membeli hal lainnya. Setelah mencapai satu pencapaian, lahir kecemasan baru. Inilah situasi lingkungan kita hari ini, masyarakat yang dipelihara oleh ketidakpuasan. Sebab jika manusia benar-benar puas, roda konsumsi akan berhenti.[2]
Di tengah tekanan konsumerisme itulah kurban datang seperti jeda yang menenangkan, seraya mengingatkan bahwa manusia tidak harus selalu menggenggam. Ada kebahagiaan yang justru lahir ketika seseorang mampu melepaskan.
Spirit Ibrahim dan Latihan Melepaskan Kepemilikan
Disyariatkannya kurban adalah napak tilas dari ketaatan yang ditunjukkan Nabi Ibrahim p tentang kesediaan mengorbankan sesuatu yang paling ia cintai.[3] Sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an, kisah keikhlasan Nabi Ibrahim p dan anaknya bukan hanya tentang pengorbanan fisik, tetapi tentang kemenangan hati atas keterikatan duniawi. Ibrahim bersedia menyerahkan apa yang paling berharga dalam hidupnya semata karena Allah ﷻ. Karena itu Allah ﷻ menegaskan dalam QS Al-Hajj ayat 37:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (QS Al-Hajj [22]: 37).
Inti kurban bukan terletak pada hewannya, melainkan pada hati yang rela melepaskan. Para ulama telah banyak membahas tentang pentingnya melepaskan hati dari keterikatan terhadap dunia, tetapi bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan dalam Madârij al-Sâlikîn bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan memiliki dunia tanpa diperbudak olehnya.[4] Seseorang boleh kaya dan memiliki harta, tetapi hatinya tidak bergantung pada semua itu. Sebab ketika hati terlalu melekat pada sesuatu selain Allah ﷻ, hidup akan dipenuhi kecemasan kehilangan.
Ia bahkan mengingatkan bahwa manusia yang terlalu bergantung pada dunia pada akhirnya akan dikhianati oleh dunia itu sendiri. Jabatan bisa hilang, harta bisa habis, pujian manusia bisa berubah menjadi hinaan. Maka kurban sebenarnya adalah latihan tahunan untuk membebaskan hati sebelum dunia memaksa kita kehilangan semuanya.[5]
Menyembelih Ego yang Tak Terlihat
Yang mengherankan sekaligus menjadi problem baru di era media sosial adalah ketika kurban kadang justru berubah menjadi panggung bagi ego manusia. Orang berlomba menunjukkan hewan terbesar, membuat konten demi popularitas, atau mencari pengakuan sebagai orang paling dermawan. Ritual yang seharusnya menyembelih ego malah dipakai untuk memberi makan ego. Padahal kurban sejati justru terjadi ketika seseorang mampu diam-diam melawan keserakahan dalam dirinya sendiri.
Mungkin itulah mengapa kurban terasa sangat relevan hari ini. Di tengah budaya flexing, belanja impulsif, FOMO, dan kebutuhan terus-menerus untuk terlihat berhasil, kurban hadir sebagai pengingat dari Allah ﷻ bahwa manusia bukanlah apa yang ia miliki. Kita bukan isi lemari kita, bukan merek pakaian kita, bukan kendaraan kita, bahkan bukan personal branding yang kita bangun di media sosial.
Kurban mengajarkan bahwa kebebasan sejati lahir ketika seseorang tidak hancur saat kehilangan. Ketika hati tidak lagi diperintah oleh hasrat memiliki. Ketika manusia mampu berkata bahwa semua yang ada di tangannya hanyalah titipan. Dan mungkin, yang paling sulit disembelih dalam hidup ini memang bukan hewan kurban, melainkan ego, gengsi, dan rasa takut untuk melepaskan.
Marāji’:
* Santri PP UII
[1] Jean Baudrillard. The Consumer Society: Myths and Structures. Terj. Chris Turner. London: SAGE Publications. 1998. h. 193.
[2] Zygmunt Bauman. Consuming Life. Cambridge: Polity Press. 2007. h. 47.
[3] Tim Penulis di bawah bimbingan Syaikh ‘Alawî bin ‘Abd al-Qâdir al-Saqqâf. Al-Mawsû‘ah al-Fiqhiyyah. Penerbit: al-Durar al-Saniyyah. Juz 2. h. 341.
[4] Muhammad bin Abî Bakr bin Ayyûb bin Sa‘d Syams al-Dîn Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Madârij al-Sâlikîn Bayna Manâzil Iyyâka Na‘budu wa Iyyâka Nasta‘în. Tahqîq Muhammad al-Mu‘tashim Billâh al-Baghdâdî. Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî. 1996. Cet. ke-3. Juz 2. h. 21.
[5] Ibid. Juz 1. h. 455.












