PANDUAN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA

PANDUAN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA

Oleh: Khalida Maryam*

 

Bismillâhi Walhamdulillâhi wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ rasûlillâh,

Indahnya kehidupan ini dengan menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai panduan dalam bertoleransi antar umat beragama juga berperilaku sebagaimana mestinya. Sebagaimana yang sudah tertulis dalam al-Qur’an surat al-Hujurât ayat 13, Allah l  berfirman:  “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti”. (Q.S. al-Hujurât []: 13)

Di dalam ayat tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa dalam kehidupan bersosial ini pasti akan selalu ada perbedaan baik dari segi suku, bangsa, agama, kebudayaan dan masih banyak lagi. Meskipun begitu, tetapi dihadapan Allah kita semua derajatnya sama, sama-sama manusia yang terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sehingga yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana ketakwaan kita disisi Allah l selama hidup di muka bumi ini dan bagaimana perlakuan kita terhadap saudara-saudara kita terutama kepada masyarakat yang hidup bertetangga dengan kita.

 

Makna Tasamuh

Dalam Islam, toleransi sering juga disebut dengan tasamuh. Tasamuh merupakan lapang dada, yaitu sikap tidak terburu-buru menerima atau menolak saran atau pendapat orang lain, sekalipun hal tersebut menyangkut pada masalah agama. Dipikirkannya dalam-dalam, dipertimbangkannya masak-masak baru menentukan sikap, menerima atau menolak dengan bijaksana.

Dari pengertian diatas bisa dikatakan bahwa pada dasarnya toleransi bukan hanya sebatas menghormati dan menghargai sesama saja, tetapi lebih dari itu adalah sebagai bentuk kelapangan hati untuk menerima perbedaan yang perlu usaha keras untuk disatukan ataupun menerima hal-hal yang tidak berkenan atau bahkan berlawanan arah dengan yang kita inginkan. Namun yang kita ketahui selama ini, toleransi merupakan bentuk kehormatan kita terhadap saudara-saudara kita yang berbeda agama dan keyakinan dengan kita. Sehingga apapun yang mereka lakukan terkadang bertentangan dengan apa yang selama ini kita lakukan. Meskipun terkadang bertentangan, namun kita tidak boleh mencaci atau menyalahkan perbedaan tersebut dan yang perlu kita lakukan adalah menghargai perbedaan yang tercipta sehingga kita bisa mencapai kerukunan bersama.

 

Toleransi Pada Masa Nabi  ﷺ 

Kita ketahui toleranasi pada zaman kenabian tidaklah mudah karena selama Nabi Muhammad n berdakwah untuk menyebarkan agama Islam maka dakwah tersebut selalu di ganggu oleh kaum kafir Quraisy pada masa itu. Berbagai cara dilakukan oleh kaum kafir Quraisy agar dapat menghentikan dakwah Nabi Muhammad ﷺ bahkan hingga rencana pembunuhan Nabi Muhammad ﷺ .

Hingga pada akhirnya terjadilah semacam negosiasi antara umat muslim dan kaum kafir tentang pertukaran dalam beribadah dan menyembah Tuhan. Pada saat itu kaum kafir akan bersedia untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ dengan syarat umat muslim juga harus menyembah berhala sebagai ajaran mereka meski dalam waktu sepekan. Karena tawaran ini menyelisihi wahyu dari Allah l, maka Allah l menurunkan surat al-Kâfirûn ayat 1-6 sebagai bentuk jawaban dari negosiasi yang terjadi pada saat itu. Dari surat al- Kâfirûn itulah terdapat sebuah ayat yang berbunyi ‘lakum dînukum waliya dîn’ “yang berarti untukku agamaku, untukmu agamamu.”

Kita tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa Rasulullah n bergaul dengan orang-orang non muslim sebagaimana pergaulan seseorang dengan keluarganya. Dari Anas a meriwayatkan sebuah sikap Rasulullah yang sangat menakjublan, ia berkata, “Ada seorang anak Yahudi menjadi pelayan Nabi Muhammadﷺ , kemudian anak itu jatuh sakit, lalu Nabi Muhammad n mendatangi rumahnya untuk menjenguknya, kemudian beliau duduk di sisi kepalanya, seraya bersabda kepadanya, “Masuklah Islam”. Lalu anak itu melihat kepada ayahnya yang pada saat itu ada di sisinya, kemudian sang ayah berkata, “Taatilah Abdul Qasim, kemudian anak itu masuk Islam, lalu keluarlah Rasulullah ﷺ dari rumah anak tersebut seraya bersabda, “Segala puji bagi Allah, yang telah menyelamatkannya dari api neraka.”

Dari kisah diatas bahwa Rasulullah n memperkerjakan anak Yahudi untuk menjadi pelayan Rasulullah ﷺ . Hal itu tidak menghalangi beliau untuk hidup bersama-sama dengan para pemeluk agama lain di dalam kota Madinah al-Munawwarah dengan kehidupan yang biasa. Kemudian anak Yahudi itu jauh sakit, lalu Rasulullah n mendatangi rumah anak Yahudi tersebut untuk menjenguknya.

Kita sama-sama mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ pada saat itu menjadi penguasa tertinggi di Madinah al-Munawwarah, sedangkan anak Yahudi itu tidak merasa sungkan untuk menjadi pelayan beliau, padahal anak Yahudi tersebut beragama selain Islam. Di zaman millenial ini sangat sulit sekali ditemukan seorang pemimpin negara atau presiden yang menjenguk pelayannya ketika sedang sakit apalagi pelayan tersebut tidak seagama dengan pemimpin negaranya. Dari hal tersebut bisa disimpulkan bahwa ternyata begitu indah sikap toleransi yang terjalin antara Rasulullah n dengan pelayannya tersebut yang berasal dari kalangan Yahudi. Sehingga apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan pelayannya merupakan bentuk toleransi antar umat beragama dan menggambarkan bahwa Nabi Muhammad n itu adalah toleran. Dari kisah tersebut menggambarkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ memiliki kasih sayang yang amat tinggi pada sesama manusia.

Allah l berfirman:  “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (Q.S. al-Mumtahanah []: 8) Dalam ayat tersebut, ungkapan “an-tabaruhum” sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya, mempunyai pengertian berbuat baik terhadap mereka.

Dari ayat tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa perbuatan baik memiliki satu tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan berperilaku adil dengan alasan bahwa Allah l menyandarkan kata berbuat adil kepada kata berbuat baik, sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Mumtahanah ayat 8 tersebut “an tabaruhum wa tuqsitu ilahim” yang artinya adalah berbuat baik dan berlaku adil.

Selama ini kita seringkali membaca sejarah Nabi Muhammad n namun seringkali lupa atau bahkan tidak pernah meluangkan waktu untuk sekedar memaknai kisah-kisah inspiratif tersebut untuk diambil pelajarannya dan diaplikasikan  pada masa ini. Kita perlu memperhatikan bagaimana al-Qur’an dan as-Sunnah memberi peringatan dan pelajaran tentang segala bentuk peristiwa dan persoalan yang terjadi di muka bumi ini termasuk dalam hal toleransi kepada sesama umat beragama. Wa Allâhu a’lam.[]

 

Mutiara Hikmah

 

Dari Abu Hurairah a, ia berkata, ”Rasulullah n pernah mencium Hasan, putra Ali di mana saat itu ada Aqra’ ibnu Hâbis At Tamimi sedang duduk di samping beliau. Dia lalu berkata, “Saya punya sepuluh orang anak dan tidak pernah satupun dari mereka yang saya cium.” Rasulullah ﷺ  memandang dan bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

Barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (H.R. Muslim no. 2318)

* Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional FPSB UII

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *