Menjadi Mahasiswa Level-Up

Menjadi Mahasiswa Level-up

Nabila Mumtazah Priyatna*

 

Bismillāh walhamdulillāh wasshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāhi, waba’du.

Mahasiswa yang Biasa

Mahasiswa yang dikenal masyarakat pada umumnya adalah mereka yang memiliki semangat membara dalam menyuarakan pendapat. Mereka sering terlibat dalam kegiatan organisasi dan senang mengekspresikan dirinya. Menjadi mahasiswa pada umumnya berarti mengikuti mereka yang biasa dikenal oleh masyarakat. Padahal, umur saat menjadi mahasiswa itulah umur yang Rasūlullāh ﷺ maksud dalam hadisnya,

Dari Abū Hurairah z, dari Nabi ﷺ, Beliau ﷺ bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

Tujuh golongan yang dinaungi Allāh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allāh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allāh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allāh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allāh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”  (HR Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031).

Dalam hadis disebutkan ‘seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allāh,’ hal ini hanya dilakukan oleh para pemuda. Pemuda yang tumbuh dewasa dalam ibadah kepada Allāh ﷻ, mengapa disebutkan seorang pemuda? Karena pada saat itulah nafsunya begitu tinggi, ia mudah terombang ambing dalam gelombang dunia, mudah mengikuti pergaulan dan menjauh dari syariat. Bayangkan ketujuh sifat tadi berada dalam satu diri pemuda, bukankah sangat indah dan luar biasa berbeda dari para pemuda lainnya?

Hadis lainnya disebutkan, dari ‘Uqbah bin Amir z, Rasūlullāh ﷺ bersabda:

يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shabwah (kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran.) (HR Ahmad 4/151).

Masa muda juga bagian penting dari umur manusia yang akan dimintai pertanggungjawaban secara khusus pada hari kiamat. Dari Ibnu Mas’ūd zbahwa Rasūlullāh ﷺ bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari (ilmu) yang ia ketahui.” (HR Tirmidzi no. 2416 dan Thabrani 9772).

Banyak pemuda yang hanya bermodalkan semangat saja namun tidak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Mereka terkadang hanya  ikut-ikutan dan tidak memiliki landasan untuk menyaringnya.

Antara Sarjana dan Syariat

Untuk memulai agar tidak menjadi mahasiswa yang “biasa-biasa” saja adalah dengan meng-upgrade diri sendiri. Salah satu yang terpentingnya adalah dengan menambahkan pengetahuan agama disela-sela pengetahuan umum yang didapat di Kampus. Tanamkan dalam diri bahwa mempelajari ilmu dunia juga penting namun, yang dipuji oleh Allāh adalah ilmu agama. Ilmu yang orisinal berasal dari Tuhan kita semua. Ilmu yang dibawa oleh para manusia mulia dan diajarkan oleh orang-orang yang dijamin surga-Nya, yaitu para nabi dan sahabatnya.

Allah ﷻ berfirman:

يَعْلَمُونَ ظَٰهِرًا مِّنَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ ٱلْءَاخِرَةِ هُمْ غَٰفِلُونَ

“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS Ar-Ruum [30]: 7).

Banyak orang cerdas di dunia ini namun tidak memiliki adab yang baik. Sebaliknya, banyak juga orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk menimba ilmu bahkan sampai jenjang perguruan tinggi. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa yang sudah meniti ilmu dunia maka hendaknya juga mengimbanginya dengan ilmu akhirat agar ia selamat di dunia maupun di akhirat.

Hasan Al-Bashri berkata, “Demi Allāh, sungguh salah seorang dari kalian telah mencapai keilmuan yang tinggi dalam urusan dunianya, di mana ia mampu membalikkan dirham (mata uang) di ujung kukunya lalu memberitahumu berapa beratnya, namun ia sama sekali tidak becus dalam melaksanakan salatnya.”

Ada banyak ilmuwan yang juga seorang ulama, salah satunya adalah beliau Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Beliau adalah seorang ulama di Arab Saudi yang memiliki Pendidikan strata 1, Bachelor Manajemen Industri. Beliau memiliki situs website aktif yakni www.islam.ws dan www.almunajjid.com. Kemudian ada Syaikh Musthafa Al-`Adawi, beliau menyelesaikan bangku kuliahnya di Teknik Mesin. Beliau aktif menerbitkan buku dari berbagai bidang seperti fikih, hadis, tafsir, dan mustalah hadis.

Mahasiswa yang Berbeda

Meluangkan waktu untuk belajar agama di sela-sela kesibukan kuliah tentu bukan perkara yang gampang. Belum lagi rayuan dan ajakan dari teman-teman untuk membuang waktu dengan cara yang tidak bermanfaat. Jika pagi sampai siang hari disibukkan dengan kuliah maka carilah masjid yang menyediakan kajian di sore hari atau sehabis Magrib. Betapa banyak masjid disekitar kampus yang menyelenggarakan kajian dengan berbagai tema menarik namun banyak juga mahasiswa yang tidak tertarik untuk mengikutinya. Sekarang pun bisa mendengarkan kajian lewat platform online seperti Youtube dan Instagram. Sejatinya, tidak ada alasan untuk tidak menimba ilmu agama disaat ilmu agama begitu mudah untuk diakses.

Menjadi berbeda di tengah lingkungan mahasiswa memang tidak selalu mudah. Bisa jadi teman-teman mulai menjaga jarak, tidak lagi mengajak bermain, atau menganggap kita kurang menyenangkan. Namun, berbeda dalam hal yang positif bukanlah sebuah masalah. Justru pilihan itu akan membawa kebaikan di masa depan.

Ketika sebagian orang sibuk menyesali dan memperbaiki kesalahan masa lalunya, kita dapat terus melangkah dengan lebih tenang karena sejak awal sudah berusaha berhati-hati dalam bertindak. Sebab, apa pun yang ditinggalkan karena Allah tidak akan sia-sia dan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Bagi kalian para pemuda yang menjadi ghuroba (orang-orang yang terasing), berbahagialah, sebab kalian menjadi orang-orang asing di saat yang lainnya menjadi rusak karena lingkungan dan rusak karena pergaulan. Wallāhu waliyyut taufiq was sadād.[1]

 

* Mahaiswa Program Studi Ahwal Syakhshiyah IP 2023

Marāji’:

[1] Tuasikal, M., Saifudin Hakim. (2018). Mahasantri: Kiat Belajar Agama bagi Orang Sibuk. Yogyakarta: Penerbit Rumaysho.

Download Buletin klik di sini