Tahun Baru Islam, Tapi Apa yang Kita Perbarui?

Tahun Baru Islam, Tapi Apa yang Kita Perbarui?

Refleksi Muharram bagi Generasi Muslim Terdidik 

Faisal Ahmad Ferdian Syah, S.H.*

 

Setiap kali bulan Muharram tiba, umat Islam ramai menyebut-nyebut “Tahun Baru Islam”. Ada yang berbagi ucapan di media sosial, mengikuti pengajian, bahkan menggelar pawai. Namun ada pertanyaan sederhana yang jarang kita tanyakan kepada diri sendiri: apa sesungguhnya yang kita perbarui? Apakah cukup dengan mengganti angka tahun dari 1447 menjadi 1448 H, lalu kembali ke rutinitas yang sama?

Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia menyentuh inti dari mengapa kalender Hijriyah dimulai bukan dari hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, bukan pula dari hari Isra’ Mi’raj atau penaklukan Makkah, melainkan dari peristiwa hijrah. Pilihan ini bukan kebetulan historis, melainkan sebuah pernyataan teologis yang mendalam dan sarat akan makna.

Mengapa Hijrah, Bukan yang Lain?

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, setelah musyawarah para sahabat. Mereka memilih peristiwa hijrahnya Nabi ﷺ dan para sahabat dari Makkah ke Madinah sebagai titik nol penanggalan Islam. Sebagaimana dicatat oleh para ulama sejarah, pilihan ini mengandung pesan kuat bahwasannya Islam adalah agama perubahan, bukan agama seremoni.

Hijrah secara bahasa bermakna meninggalkan dan berpindah. Namun para ulama, termasuk Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, memperluas maknanya sebagai transformasi batin yang menyeluruh dan mencakup sistem keyakinan, cara berpikir, dan tindakan.[1] Dalam konteks ini, hijrah bukan peristiwa yang sudah selesai di abad ke-7 M, melainkan sebuah proses yang harus terus berlangsung dalam diri setiap Muslim.

Muharram sebagai Bulan Allah (Syahrullah)

Keistimewaan Muharram bukan hanya soal penanggalan. Ia adalah salah satu dari empat al-asyhur al-hurum (bulan-bulan yang dimuliakan) sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 36. Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,” (QS At-Taubah [9]: 36).

Rasulullah ﷺ secara khusus menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah). Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَام بَعْد رَمَضَان شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّم

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram.” (HR Muslim no. 1163)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa penyandaran Muharram kepada Allah (Syahrullah) menunjukkan betapa Allah mengagungkan bulan ini secara khusus di antara dua belas bulan.[2] Ini menjadi landasan teologis mengapa Muharram seharusnya bukan sekadar momentum perayaan, melainkan momentum pembaruan diri yang sungguh-sungguh.

Muhasabah: Instrumen Pembaruan yang Terlupakan

Di sinilah relevansi konsep muhasabah al-nafs (introspeksi diri). Imam al-Ghazali menempatkan muhasabah sebagai salah satu pilar riyadhah al-nafs (latihan jiwa) yang wajib dilakukan secara berkala. Momentum pergantian tahun Hijriyah adalah waktu yang paling tepat untuk menjalankannya.[3]

Bagi kita sebagai mahasiswa dan generasi muda Muslim, muhasabah di momen Muharram dapat dijabarkan dalam tiga dimensi yang konkret:

Pertama, dimensi intelektual. Islam menempatkan ilmu sebagai kewajiban pertama. Apakah satu tahun terakhir kita benar-benar tumbuh secara keilmuan? Tidak cukup sekadar menyelesaikan SKS, namun yang dituntut adalah pertumbuhan cara berpikir yang semakin kritis, semakin jujur, dan semakin bertanggung jawab. Al-Qur’an berulang kali mengaitkan ilmu dengan iman dengan mengatakan mereka yang berilmu adalah mereka yang lebih takut kepada Allah . Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.“(QS Fathir [35]: 28).

Menurut Ibn Katsir, khasy-yah yang sejati lahir dari ma’rifat yang mendalam kepada Allah. Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang kebesaran dan kesempurnaan sifat-sifat Allah, semakin besar pula rasa takut dan penghormatannya kepada-Nya.[4]

Kedua, dimensi akhlak. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda:   

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya di antara mereka.” (HR Abu Daud no. 4682, At Tirmidzi no. 1162, 2612).  

Hadits ini mengajarkan bahwa kemajuan seorang muslim tidak hanya diukur dari bertambahnya usia atau prestasi, tetapi dari semakin baiknya akhlak yang ia tampilkan. Pergantian tahun Hijriyah mengundang kita untuk bermuhasabah: apakah kejujuran kita semakin kuat, bakti kepada orang tua semakin nyata, dan sikap kita kepada sesama semakin mencerminkan akhlak seorang mukmin?

Ketiga, dimensi kontribusi sosial. Hijrah Nabi ﷺ bukan perpindahan individual, melainkan ia adalah pergerakan membangun peradaban. Di Madinah, Rasulullah ﷺ membangun masjid, menyusun piagam, dan mempererat ukhuwah antara kaum Muhajirin dan Anshar. Maka pembaruan diri yang sejati bukan yang berhenti di batas individu, melainkan yang berdampak kepada komunitas.

Muharram Bukan Seremoni, Ia Sebuah Undangan

Fenomena “resolusi tahun baru” yang kita kenal dari budaya Barat sebenarnya memiliki padanannya yang jauh lebih kuat dalam tradisi Islam, yaitu muhasabah dan tajdid al-niyyah (pembaruan niat).[5] Bedanya, resolusi tanpa fondasi spiritual cenderung layu sebelum Februari tiba. Sementara pembaruan yang berakar pada kesadaran akan tanggung jawab kepada Allah memiliki daya tahan yang jauh lebih kokoh.

Muharram 1448 H adalah undangan, bukan hanya seremoni belaka. Ia mengundang kita untuk bertanya dengan jujur, sejauh mana satu tahun terakhir kita telah bergerak dari titik yang lama menuju titik yang baru? Apa yang perlu kita tinggalkan, dan ke arah mana kita melangkah?

Sebab kalender Hijriyah memulai tahunnya dari peristiwa hijrah bukan tanpa alasan. Ia ingin mengingatkan bahwa waktu dalam Islam bukan sekadar angka yang berputar, melainkan undangan untuk terus bergerak menjadi lebih baik.


* Mahasantri Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia

Marāji’:

[1] Al-Ghazali. Ihya’ Ulum al-Din. Dar al-Ma’rifah, Beirut.

[2] An-Nawawi. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj. Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, Beirut.

[3] Al-Ghazali. Ihya’ Ulum al-Din. Dar al-Ma’rifah, Beirut.

[4] Ismā’īl ibn ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Juz 6. Kairo: Mu’assasah Qurṭubah, 2000, hlm. 544.

[5] Ismail, M.T. & Abidin, Z. (2017). Kontekstualisasi Hijrah Sebagai Titik Tolak Pembaharuan Pendidikan. Suhuf, 29(1), 50–65.

Download Buletin klik di sini