Hewan Kecil Yang Diabadikan Dalam Al-Quran

Hewan Kecil Yang Diabadikan Dalam Al-Quran

Hamdan laka yâ Allâh, Shalatan wa Taslîman ‘alaika yâ Rasûlullâh.
Pembaca yang dirahmati Allah ﷻ, kita ketahui bersama bahwa al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diturunkan kepada nabi Muhammad ﷺ `kita sebagai umat Islam tentunya diwajibkan untuk membaca dan mempelajari al-Qur’an, syukur-syukur kalau bisa dihafalkan. Dan juga pastinya kita tahu bahwa al-Qur’an itu tidak hanya berisi tentang syariat-syariat Islam, melainkan ada kisah-kisah umat terdahulu, bahkan sampai dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan sains.

Tahukah kita bahwa dalam al-Qur’an terdapat 5 surah yang mana mempunyai makna-makna hewan? Sebut saja al-Baqarah (Sapi Betina), ataupun al-Fîl (Gajah). Namun disini akan dibahas tiga surah yang sangat unik kalau dicermati dari namanya, yaitu surah an-Naml (Semut), al-’Ankabut (Laba-laba), dan an-Nahl (Lebah). Ketiga surah tersebut secara harfiah mempunyai beberapa persamaan, yaitu sama-sama hewan spesies serangga, dan sama-sama bertubuh mungil. Namun sebenarnya, dari ketiga hewan tersebut mempunyai hikmah tersendiri, yang apabila dikorelasikan perilaku umat manusia sangatlah relevan. Apa sajakah itu? Marilah kita simak bersama-sama.

Surah An-Naml (Semut)
Dimulai dari surah yang pertama an-Naml, yang berarti semut. Ada apa dengan semut? Apa yang istimewa dari semut sehingga Allah ﷻ menjadikannya sebagai nama surah dalam al-Quran? Ternyata semut mempunyai hikmah yang sangat unik, jika teman-teman tahu, karakter semut itu pada dasarnya adalah suka menghimpun makanan sedikit demi sedikit dan tanpa henti. Bahkan menurut suatu penelitian makanan tersebut dapat menjadi persediaan atau cadangan hingga bertahun-tahun, sedangkan faktanya mengatakan bahwa usia semut rata-rata tidak lebih dari 1 tahun. Bahkan, semut itu bisa mengangkat benda apapun yang sedemikian besarnya secara bersama-sama, dan seringkali berhasil. Padahal benda yang dibawanya pun kadangkala tidak berguna bagi kelangsungan hidupnya.
Dari semut kita dapat mengambil hikmah yang tersirat, yaitu sifat dasar semut yang ‘suka menghimpun’ jangan dijadikan pedoman hidup. Kalau kita korelasikan kepada umat manusia, bisa dicontohkan bahwa umat manusia tidak boleh menghimpun mulai dari ilmu, harta, benda dan segala macam materi yang bersifat duniawi.

Menghimpun itu artinya hanya mengumpulkan tanpa mengolahnya, dan yang tak kalah penting dari penghimpunan benda-benda tadi adalah tidak disesuaikan dengan kebutuhannya. Sifat ‘suka menghimpun’ tentunya juga akan membuat barang yang seharusnya bermanfaat menjadi mubadzir. Pemborosan adalah salah satu contoh dari budaya menghimpun ini yang mendorong hadirnya benda-benda baru yang tidak dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang masih layak untuk dimanfaatkan. Padahal kita semuanya tahu sebagaimana Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara syaiton” (Q.S al-Isrâ’ [17]: 27). Namun bukan berarti semut tidak bisa diambil filosofi yang baiknya. Semut juga mempunyai filosofi yang patut dicontoh oleh umat manusia. Sebagaimana yang telah disinggung dalam ayat 18-19 surah ini, dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman beserta bala tentaranya yang terdiri dari jin, burung-burung, dan hewan-hewan lainnya ingin melintasi suatu lembah yang ternyata disitu ada penghuninya. Lalu siapakah penghuni yang dimaksud? Jawabannya adalah semut. Ketika Nabi Sulaiman hendak melintasi lembahnya, ada seekor raja semut yang dalam ayat disebutkan bahwa dia mengomandokan kepada seluruh anak buahnya yaitu semua semut yang ada ditempat itu agar masuk ke sarang-sarang mereka yang berada dilembah tersebut. Dan pasukan semut bersama rajanya akhirnya masuk sarang masing-masing. Fatabassama Dhahika! Seketika itu Nabi Sulaiman tersenyum dan takjub dengan keteraturan semut beserta seluruh pasukannya. Dari peristiwa tersebut kita dapat mengambil hikmah tentang ketaatan terhadap pemimpin. Sebagaimana kita sebagai umat Islam telah diperintahkan untuk taat kepada Ulil Amri.

Surah al-’Ankabut (Laba-laba)
Selanjutnya ada surah al-’Ankabut yang bermakna laba-laba. Tentunya kita semua pernah mendengar cerita bahwa dulu laba-laba pernah menyelamatkan Nabi ﷺ ` dari kejaran kaum kafir Quraisy dengan cara membuat sarang yang begitu banyak sehingga menutupi pintu masuk goa. Sehingga dengan adanya kejadian tersebut maka sudah wajar bahwasanya Allah ﷻ mengistimewakan laba-laba sebagai salah satu nama surah dalam al-Quran. Namun sebenarnya ada filosofi tersendiri tentang laba-laba yang perlu kita ketahui. Apa itu? Jadi laba-laba itu mempunyai sarang yang sangat rapuh. Sarang laba-laba bukanlah tempat yang aman, apa pun yang berlindung di sana akan binasa. Jangankan serangga yang lain jenis, jantannya pun setelah kawin akan disergap untuk dimusnahkan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan sehingga dapat saling memusnahkan. Demikianlah kata sebagian ahli. Sebagaimana firman Allah ﷻ, “Perumpamaan orang yang mengambil pelindung selain Allah ﷻ adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba”.( Q.S. al-Ankabut [29]: 41)
Namun, laba- laba bukan berarti hanya menghasilkan sesuatu yang negatif. Yang perlu diketahui laba-laba juga memiliki sisi positif yaitu mempunyai sumber dayanya sendiri. Hanya laba-labalah satu-satunya makhluk di dunia yang bisa mengeluarkan sesuatu dari dalam dirinya yang sangat bermanfaat bagi kehidupannya, sehingga untuk membuat rumah atau sarang ia tak membutuhkan benda lain dari yang ia punyai sendiri. Dari sini kita seharusnya bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga ini, kita harus bisa menemukan dan menggali potensi yang ada pada diri kita, sehingga dengan potensi itu kita akan bisa meraih kesuksesan tanpa harus bergantung pada orang lain.

Surah an-Nahl (Lebah)
Lalu yang terakhir ada surah An-Nahl yang bermakna lebah. Lebah sebagaimana kita ketahui memiliki manfaat dari apapun tindakan yang dilakukannya. Perlu teman-teman ketahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ  ` mengibaratkan perilaku umat Islam yang paling ideal adalah dengan mencontoh filosofi lebah. Sebagaimana sabdanya, “Perumpamaan seorang mukmin yang baik ialah seperti lebah. Ia tidak makan kecuali yang baik dan tidak memberi kecuali yang baik” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Lebih rinci lagi, lebah setidaknya memiliki tiga keistimewaan yang dapat menjadi analogi tentang karakter ideal manusia.
Pertama, lebah tak merusak ranting yang ia hinggapi, sekecil apa pun pohon tersebut. Hal ini memberi pelajaran manusia agar menghindari berlaku yang menimbulkan mudharat atau kerugian terhadap orang lain. Lebah memang datang untuk makan, tapi ia tak ingin merusak untuk kepentingannya pribadinya itu. Bahkan kerap kali lebah justru berjasa dalam proses penyerbukan sebuah bunga yang ia hinggapi.
Kedua, lebah makan sesuatu yang baik-baik, yakni saripati bunga. Sama halnya dengan seorang muslim yang diperintahkan untuk hanya memakan makanan yang halalan thayyiban.
Dan yang ketiga lebah hanya mengeluarkan sesuatu yang baik yaitu madu. Ini yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim sejati. Dengan memakan makanan yang halal, makasetiap perbuatan akan dihitung sebagai ibadah yang bernilai berkah. Wallâhu a’lam bis shawâb.

Penyusun:
Muhammad Salman Alfarisi
Prodi Hubungan Internasional
FPSB UII
Mutiara Hikmah

Rasulullah ﷺ ` bersabda,
أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ
“Dihalalkan bagu kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa.
(H.R. Ibnu Majah no. 3314)

Download Buletin klik disini

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *