PENTINGNYA TADABBUR AL-QUR’AN

PENTINGNYA TADABBUR AL-QUR’AN

Oleh: Liza Jauharatul Munfarida

 

Bismillah, walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah,

Kata tadabbur di dalam Al Qur’an disebutkan 4 kali salah satunya dalam surat As-Shad ayat 29

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Q.S. Shâd [38]: 29)[1]

Allah ﷻ telah menurunkan firman-Nya sebagai pedoman hidup manusia dengan kedudukan al-Qur’an yang sedemikian jelas namun banyak dari kita yang mengabaikan pesan cinta dari Rabbul Izzah, tidak pernah membacanya apalagi merenungkan dan mentadabburi-nya. Fenomena membaca al-Qur’an terkadang hanya terasa ketika bulan Ramadhan tetapi ketika hari biasa al-Qur’an tidak menjadi objek utama untuk medekatkan diri kepada Allah ﷻ, kita sudah mulai disibukkan oleh gemerlap dunia, tugas kuliah dan kesenangan dunia, sehingga ketika Allah memberikan ujian kepada kita sebagai pesan rindu-Nya, kita enggan untuk mengagungkan nama-Nya.

Semakin jauhlah kita kepada sang pencipta, maka dari itu Allah ﷻ mengajak kita untuk selalu mengingat-Nya melalui al-Qur’an dan mentadabburi-nya agar semua yang kita lakukan Kembali kepada Allah lillahi, billahi, fillahi dengan rasa keikhlasan kita akan semakin bersyukur atas ujian dan nikmat-Nya.

Tujuan Tadabbur al-Qur’an

Maka sepantasnyalah seorang mukmin menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, membacanya dengan merenungkan dan mentadabburinya lalu mengamalkan isi kandungannya, Ibnul Qoyyim berkata: ”Tidak ada yang lebih besar manfaatnya bagi hati dari pada membaca al-Qur’an dengan mentadabburi dan merenungkannya, karena al-Qur’an merupakan kitab suci yang bisa dijadikan pedoman hidup oleh setiap manusia, dengan membaca dan mentadabburinya bisa melahirkan al-Mahabbah (cinta kepada Allah), al-Khauf (rasa takut kepada Allah), ar-Raja’ (berharap hanya kepada Allah), al-Inabah, tawakkal, ridha dan menerima (takdir Allah), sifat sabar, syukur serta seluruh perbuatan yang bisa menyebabkan hidupnya hati dan mencapai kesempurnaannya. Membaca sebuah ayat al-Qur’an disertai dengan mentadabburi dan merenungkan maknanya jauh lebih baik dari pada mengkhatamkan al-Qur’an tanpa disertai tadabbur dan pemahaman akan maknanya. Membaca al-Qur’an dengan memahami makna dan kandungannya jauh lebih bermanfaat bagi hati serta jauh lebih besar faidahnya dalam menambah keimanan dan merasakan manisnya al-Qur’an.” [2]

Namun proses tadabbur ini pada umumnya hanya mampu dilakukan oleh ûlû al-albâb, yaitu orang-orang yang memiliki akal pikiran dan penghayatan mendalam terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur‘an, yang dengan bergegas mereka akan meninggalkan berbagai kesesatan yang masih bersemayam dalam diri mereka dan bersegera mengaktualisasikan petunjuk kebenaran yang telah diketahui dan dipahaminya. Karena itu, al-Hasan pernah memberikan saran berharga sebagai berikut: Al-Qur‘an diturunkan untuk ditadabburi dan diaplikasikan dalam amal nyata, maka jadikanlah proses membacanya sebagai amal perbuatan.[3]

Pola interaksi seperti apa yang seharusnya kita lakukan dalam bertadabbur?

  1. Berinteraksi dengan cara yang kita suka
  2. Berinteraksi dengan cara yang Allah suka

Secara bahasa tadabbur artinya “memandang kepada akibat sesuatu dan memikirkannya”, maksud dari mentadabburi perkataannya adalah “memperhatikannya dari permulaan hingga akhir, kemudian mengulai perhatian itu berkali-kali”. Secara istilah tadabbur artinya menggunakan ketajaman mata hati melalui proses perenungan mendalam secara berulang-ulang agar dapat menangkap pesan-pesan Al-Qur’an yang terdalamm dan mencapai tujuan makna yang terjauh.

Adab-Adab Bertadabbur Al-Qur’an

  1. Hadirkan niat karena Allah ﷻ i,[4]
  2. Bersuci dengan sempurna seperti berwudhu, gosok gigi karen mulut adalah jalan keluar untuk melantunkan Al-Qur’an,[5]
  3. Menghadap kiblat
  4. Mensucikan indera-indera yang digunakannya untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an,
  5. Memilih tempat yang sesuai, seperti di Rumah Allah,
  6. Memilih cara duduk yang sesuai, kondisi yang sesuai, dan sikap badan yang pantas
  7. Memulai dengan ta’awudz dan basmallah,[6]
  8. Membaca Al-Qur’an secara tartil dengan pelan-pelan sesuai dengan tujuan awalnya untuk bertadabbur,[7]
  9. Menjaga kekhusyuan dengan tidak menaruh handphone disekitar tempat tadabbur
  10. Memperindah suaranya semampunya
  11. Mengosongkan jiwa dari hal-hal-yang menyita perhatian, memenuhi kebutuhannya dan tuntutannya sebelum membaca al-Qur’an.
  12. Menghadirkan hatinya terhadap keagungan Allah ﷻ.
  13. Meninggalkan bisikan-bisikan jiwa,
  14. Tidak memutus bacaan Al Qur’an dengan pembicaraan dan lamunan yang tidak bermanfaat
  15. Terpengaruh dan terbawa emosi oleh ayat-ayat sesuai tema dan konteksnya
  16. Apabila ia membaca ayat tentang nikmat, maka ia memohon kepada Allah agar ia termasuk golongan yang menerimanya,
  17. Perasaan bahwa pembaca sendirilah yang diajak bicara oleh ayat-ayat al-Qur’an
  18. Meninggalkan faktor-faktor yang bisa menghalangi pemahaman dan tadabbur ayat-ayat al-Qur’an.

Bila proses tadabbur ini bisa diejawantahkan, maka nilai aksiologis yang dapat dipetik dari proses tersebut antara lain:

  1. Kemantapan iman di dalam hati dapat digapai,
  2. Menjadikan seseorang berkepribadian paripurna karena memiliki sikap berharap dan khawatir yang seimbang,
  3. Selamat dari tipu muslihat
  4. Selalu yakin dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan
  5. Mampu membedakan antara yang baik-buruk dan benar-salah secara cermat.

[1] Q.S. Shad [38]: 29

[2] Miftah Daar as-Sa’adah:I/187.

[3] Muhammad ibn Jarîr al-Thabarî, Jâmi’ al-Bayân ’an Ta‘wîl al-Qur‘ân, ed. Maktab al-Tahqîq wa al-I’dâd al-’Ilmî fî Dâr al-A’lâm, Oman: Dâr al-A’lâm dan Dâr Ibn Jarîr Beirut, 2002, vol. 12, hal. 187

[4] Q.S.Al-Bayyinah [98] : 5

[5] Q.S. Al-Waqi’ah [56]: 77-79

[6] Q.S. sAn-Nahl [16]: 98

[7] Q.S. Al-Muzammi [73]: 4

Download Buletin klik disini

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *