MEMAKNAI HAKIKAT HARI RAYA QURBAN

MEMAKNAI HAKIKAT HARI RAYA QURBAN

Oleh: Imaduddin Fadhlurrahman*

* Penulis merupakan seorang santri yang bermukim di Rumah Tahfidz Taruna Juara Yogyakarta.

 

Bismillâhi Walhamdulillâhi wash-shalâtu was-salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah seluruh umat muslim di seluruh penjuru dunia merayakan hari raya Idul Adha. Idul Adha merupakan hari raya besar kedua umat muslim setelah hari raya Idul Fitri. Di dalam penamaannya, seringkali umat muslim di Indonesia menyematkan hari raya Idul Adha dengan istilah Hari Raya Haji atau Hari Raya Qurban. Disebut sebagai Hari Raya Haji karena pada momen itu kaum muslimin sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Dan, disebut pula sebagai Hari Raya Kurban karena peristiwa yang melatarbelakanginya yakni kisah Nabi Ibrahim yang bersedia mengorbankan putra semata wayangnya Ismail untuk Allah.

Meneladani Kisah Ibrahim dan Ismail

Di antara hikmah dari melaksanakan Idul Adha bagi umat muslim adalah untuk terus menyegarkan ingatan atas peristiwa qurban, yaitu tatkala Nabi Ibrahim yang bersedia untuk mengorbankan anaknya Ismail untuk Allah ﷻ. Lalu kemudian sesaat sebelum peristiwa sembelih, Ismail diganti oleh Allah ﷻ dengan seeokar domba sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an.

Allah ﷻ berfirman:  “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.  (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. ash-Shâfât [37]: 107-110)

Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail adalah salah satu kisah paling momumental dalam sejarah umat manusia. Kebesaran hati seorang Ibrahim yang merelakan anak satu-satunya yang bahkan kehadiran telah ditunggu bertahun lamanya demi ketaatan dan kecintaannya kepada Allah ﷻ adalah bentuk kerelaan paling tulus dan berat yang pernah ada. Sedangkan kepatuhan dan kecintaan seorang anak kepada orang tua demi memenuhi perintah Allah swt tergambar jelas pada diri seorang Ismail yang mengikhlaskan dirinya untuk disembelih.

Tragedi penyembelihan itu lantas membuat Malaikat Jibril kagum dan terkesima seraya mengucapkan kalimat “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Yang kemudian dijawab oleh Nabi Ibrahimi dengan lantunan “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Dan kemudian disambung oleh Nabi Ismail dengan ucapan “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.” Maka, ini adalah sebuah potret yang menyentuh hati antar ayah dan anaknya yang saling mencintai dan rela berpisah serta melepas kecintaannya demi ketataan kepada Allah.

Dari kisah pengorbanan dan ketulusan yang diperlihatkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail setidaknya kita dapat mengambil hikmah yang bisa kita teledani di dalam kehidupan kita saat ini. Bahwasanya penyembelihan yang dilakukan Nabi Ibrahim kepada Ismail harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama dan mengandung pembelajaran bagi siapa saja. Hikmahnya ialah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan. Kerelaan serta kesiapan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya atas perintah Allah ﷻ menunjukkan betapa tingginya tingkat ketakwaan Nabi Ibrahim. Sebab takwa sendiri ialah sangat terkait dengan ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta dalam menjalankan perintah dan menjauhi segala larangannya.

Esensi Hari Raya Idul Adha

Selain keteledanan dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail hakikat sesungguhnya dari Idul Adha semata-mata terwujudnya pelaksanaan penyembelihan hewan qurban sebagai bentuk peribadahan kepada Allah ﷻ. Namun ada esensi lain  dari Idul Adha ialah menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada diri kita. Maka, ketika hewan qurban disembelih, pada saat yang bersamaan pula lenyaplah nafsu kebinatangan kita seperti merasa selalu paling benar, paling hebat, tidak peduli terhadap sesama, rakus, serakah, dan segala macam sifat kebinatangan lainnya.

Esesensi yang diajarkan pada momen Idul Adha ialah agar tidak menjadi manusia individualis. Relasi kemanusiaan adalah wujud eskpresi kesalihan sosial yang ingin coba disampaikan pada momen Idul Adha. Semangat kemanusiaan di balik Idul Adha penting untuk diaktualisasikan di tengah-tengah maraknya sifat indvidualistis di zaman global. Sehingga momentum Idul Adha mengandung pesan moral yang kuat untuk merekatkan tali persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.

Esensi Idul Adha dalam konteks lain ialah untuk mengingatkan setiap muslim agar siap sedia berqurban demi kebahagiaan orang lain terkhususnya bagi mereka yang kurang beruntung, serta waspada terahadap godaan dunia agar tidak terjebak dalam perilaku tidak terpuji seperti serakah, rakus, mementingkan diri sendiri, dan kelalaian dalam beribadah kepada Sang Pencinpta.

Begitulah sekiraya hakikat Idul Adha yang memiliki esensi mendalam bagi kehidupan tiap-tiap muslim. Karena sejatinya setiap dari kita adalah Ibrahim. Selayaknya Ibrahim yang memiliki Ismail, putra yang dicintainya, maka masing-masing dari kita pun demikian. Bisa jadi Ismail yang ada pada kita berupa harta, jabatan, gelar, atau apa-apa saja yang kita sayangi dan tidak bisa dilepaskan dari dunia ini. Maka, belajar dari Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Ibrahim bukan diperintahkan untuk membunuh Ismail, melainkan diminta oleh Allah untuk membunuh rasa ‘kepemilikan’ terhadap Ismail karena sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah. Dengan begitu, kita akan senantiasa berusaha untuk belajar ikhlas. Wa Allâhu a’lam

Marâji’:

Asa, Syu’bah, Dalam Cahaya Al-Qur’an (Tafsir Ayat-ayat Sosial-Politik), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2000.

Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jilid IV, PT. Pustaka Panji Mas: Jakarta, 2004.

Mukti, Takdir Ali., Membangun Moralitas Bangsa (Amar Ma’ruf Nah Munkar: dan Subyektif-Normatf ke Obyektif-Empiris), Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000.

Rahman, Jalaludin, Konsep Perbuatan Manusia Menurut Qur’an, Jakarta: Bulan Bintang, 1992

Shihab, Quraish. M, Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1997.

Download Buletin klik disini

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *