Muhasabah Diri Sebagai Wujud Perayaan Tahun Baru

Muhasabah Diri Sebagai Wujud Perayaan Tahun Baru

Fitria Ni’matul Maula

*Alumni Prodi Ahwal Syakhsiyyah FIAI UII

Bismillâhi walhamdulillâhi wash-shalâtu was-salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam yang selalu memberikan rahmat kepada hamba-hambanya sehingga tidak terasa hampir 365 hari kita lalui dan akhirnya sampai pada penghujung tahun 2022, yang artinya tidak lama lagi kita akan menyambut tahun baru masehi.

Sebagai umat muslim yakni umat Nabi Muhammad ﷺ hendaknya kita tidak memaknai sebuah pergantian tahun dengan selebrasi kembang api ataupun dengan berbagai macam perayaan yang menuju kepada kemudharatan. Lebih dari pada itu, wajib bagi umat muslim untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah ﷻ yang salah satunya dapat dilakukan dengan cara muhasabah diri. Lantas apa itu muhasabah diri dan bagaimana implentasinya? Mari kita bahas bersama pada tulisan ini.

Makna Muhasabah Diri

Dalam KBBI Online muhasabah memiliki arti introspeksi, yang mana introspeksi merupakan sebuah peninjauan atau koreksi diri sendiri atas berbagai sikap, perbuatan, kesalahan dan lainnya sebagainya[1]. Sedangkan dalam bahasa Arab muhasabah berasal dari kata hasaba-yahsubu-hisâban yang artinya menghitung.

Dapat diartikan bahwa muhasabah diri merupakan sebuah upaya evaluasi diri dengan merenungkan perbuatan baik maupun perbuatan buruk yang telah dilakukan selama ini, evaluasi tersebut juga berkaitan dengan kesiapan akal yang ditujukan untuk menjaga diri sendiri dari perbuatan buruk dan khianat dari perintah Allah ﷻ.

Selain dari pada itu evaluasi diri juga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masing-masing manusia atas kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya sehingga melahirkan suatu keinginan untuk memperbaiki diri dengan mendekatkan diri pada Allah.[2]

Implementasi Muhasabah Diri

Sebagaimana kita ketahui pada surah al-Hasyr ayat 18 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk menata hari esok. Dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (QS. al-Hasyr [59]: 18)

Berdasarkan penggalan ayat diatas dapat diambil pelajaran bahwa muhasabah atau evaluasi diri ditujukan guna mempersiapkan masa depan yang lebih baik lagi. Lalu apa saja bentuk muhasabah diri yang dapat diterapkan oleh umat muslim pada saat pergantian tahun?

  1. Mengingat kembali niat dan tujuan hidup serta amal perbuatan.

Salah satu langkah utama yang dapat kita lakukan yakni merenungi kembali tentang bagaimana niat dan tujuan hidup kita. Apakah niat dan tujuan hidup kita memang semata-mata karena Allah ﷻ? Kemudian amal perbuatan apa saja yang telah kita lakukan. Apakah amal perbuatan kita telah jauh lebih baik dan sesuai dengan ketentuan yang disyari’atkan oleh Allah ﷻ? Perlunya merenungkan kembali bahwa mungkin amal perbuatan dan ibadah yang kita lalui hanya sebatas formalitas saja. Padahal lebih daripada itu umat muslim diperintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan segala amal perbuatan baik karena kesungguhan tersebut tentu dapat menjadi tolak ukur ketakwaan hamba kepada Tuhannya. Maka dari itu wajib bagi seorang muslim senantiasa meningkatkan ketakwaannya setiap mengawali tahun yang baru dan menutup tahun yang telah lalu.

Salah satu upaya yang dapat diterapkan dalam meningkatkan ketakwaan yaitu dengan menerapkan konsep ihsan dalam diri masing-masing yang mana dalam istilah hadis ihsan memiliki arti kondisi dimana seseorang yang beribadah kepada Allah ﷻ seolah-olah dapat melihat Allah ﷻ, dan apabila seseorang tersebut belum mampu membayangkan seolah-olah melihat Allah ﷻ, namun seseorang tersebut meyakini bahwa Allah ﷻ melihat segala amal perbuatannya.

Dengan salah satu upaya tersebut diharapakan masing-masing lebih mawas diri mengingat bahwa segala perbuatan yang dilakukannya diawasi oleh Allah ﷻ dan dicatat oleh Malaikat kapanpun dan di manapun, sehingga dalam penanaman konsep ihsan tersebut manusia mampu meningkatkan kualitas diri dalam mencapai ketakwaan kepada Allah .[3]

  1. Menyesali segala dosa dan bertaubat.

Upaya selanjutnya yang dapat dilakukan ialah dengan mengingat segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat kemudian menyesalinya sebagai salah satu ciri hamba yang beriman. Hal tersebut juga ditujukan agar seseorang berusaha untuk tidak mengulang kesalahan kesalahan yang telah lalu.

Syekh Abdul Qadir dalam kitabnya menjelaskan syarat taubat secara lebih luas diantaranya; (1) Seseorang wajib bertaubat dalam keadaan ikhlas dan ditujukan untuk memperoleh ridha Allah ﷻ, mengharap rahmat-Nya serta takut terhadap siksaan-Nya tanpa mempedulikan kehidupan dunia yang fana. Oleh karenanya, (2) Seseorang yang bertaubat harus memerangi hawa nafsu yang dimilikinya serta mencabut akar keburukan yang ada dari dalam hatinya. Selain itu, (3) Taubat harus dibuktikan melalui hati yang tulus dan bersih dari prasangka buruk seperti iri dengki dan lain sebagainya dan juga wajib dibuktikan dalam wujud perkataan seperti sabda Rasulullah ﷺ yang berbunyi “Selamatnya manusia tergantung pada penjagaan lisannya”, yang terakhir dan yang paling utama, (4) Pembuktian atas taubat seseorang wajib melalui perbuatan dalam bentuk amal shalih, meninggalkan maksiat dan menghindari perbuatan tercela yang tidak disukai oleh Allah l.[4]

  1. Meng-upgrade akhlak kepada diri sendiri maupun sesama manusia.

Agama Islam mengajarkan agar setiap muslim dapat menjalin tali silaturrahim dengan sesama manusia seperti kepada keluarga, tetangga maupun masyarakat dengan memelihara hak dan kehormatan. Konsep Akhlak dalam kehidupan sosial dapat diibaratkan seperti memiliki dua cermin yang mana cermin pertama digunakan untuk melihat cerminan akhlak masing-masing diri atas segala kekurangan yang harus diperbaiki dan kelebihan yang harus ditingkatkan lagi selaras dengan konsep muhasabah diri. Dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari kita pasti tidak luput dari khilaf antar satu dengan lainnya, bahkan seringkali kita membutuhkan nasihat dari orang lain guna menyadarkan kita atas kekhilafan yang kita lakukan serta kekurangan yang ada pada diri kita.

Oleh karena itu, dibutuhkan cermin kedua yang digunakan untuk melihat kelebihan serta akhlak baik yang dimiliki orang lain sebagai suatu tauladan yang patut ditiru dan dicontoh. Sesungguhnya penerapan akhlak yang baik tersebut dapat menjadikan seseorang merasa aman, tenang dan sejahtera baik secara lahir maupun batin.

Dapat disimpulkan bahwa pentingnya meng-upgrade akhlak yakni agar manusia terhindar dari sifat merasa paling suci dan juga terhindar dari sikap sombong, karena sesungguhnya seluruh manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, segala hal yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan dari Allah ﷻ yang dapat di ambil kapanpun Allah ﷻ menghendaki, maka dari itu dengan mengawali tahun yang baru kita wajib mengisi hal-hal positif dan memanfaatkan waktu yang dimiliki sebaik mungkin.[5] Wa Allâhu a’lam bish shawwâb.[]

 

Marâji:

[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. KBBI Indonesia.

[2] Ainul Mardziah, Konsep Muhasabah Diri Menurut Imam Al-Ghazali (Studi Deskriptif Analisis Kitab Ihya’ Ulumiddin). Skripsi, Aceh, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, 2018 M, h. 15-17.

[3] Muhsin Hariyanto, “Bertahun Baru dengan Muhâsabah”, Jurnal, Research Repostory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2012 M, h. 3.

[4] Mochammad Nur Bani Abdullah, “Urgensi Pembahasan Taubat dalam Perspektif Hadis”, Jurnal Holistic al-Hadis, Institut Agama Negeri Islam, 2019 M, h. 32-33.

[5] Tahun Baru Islam: Saat Tepat Meng-upgrade Akhlak, https://mtsmu2bakid.sch.id/tahun-baru-islam-saat-tepat-meng-upgrade-akhlak/. Diakses pada 14 Desember 2022.

Download Buletin klik disini

Prinsip Toleransi Dalam Islam

Prinsip Toleransi Dalam Islam

Tria Rejeki Sholikhah

*Alumni Pendidikan Agama Islam FIAI UII

 

Bismillâhi walhamdulillâhi wash-shalâtu was-salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Toleransi secara sederhana dapat diartikan sebagai bentuk hubungan antar sesama manusia sehingga tercipta suatu kerjasama yang harmonis. Toleransi dalam Islam disebut juga dengan tasamuh. Toleransi merupakan sebuah kemudahan yang muncul berdasarkan kasih sayang[1]. Sebab pada dasarnya Islam mengajarkan pada kasih sayang kepada sesama manusia maupun makhluk Allah ﷻ yang lainnya. Pada umumnya toleransi dikaitkan dengan kehidupan beragama di lingkungan masyarakat. Tentang bagaimana sikap hidup berdampingan dengan tetangga yang berasal dari keyakinan yang berbeda, ataupun dari ras dan suku yang berbeda.

Sikap toleran telah tercermin pada keharmonisan lingkungan masyarakat beragama sejak zaman Nabi Muhammad ﷺ. Ketika berdakwah, Rasulullah ` tidak memaksakan kepada orang-orang Makkah untuk mengikuti ajaran beliau. Sebab, dalam Islam sangat menjunjung tinggi adanya kasih sayang sehingga banyak pula orang Makkah yang tetap pada keyakinannya, sekalipun telah datang agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu, pada masa Rassulullah ` hidup, di Makkah umat Islam tetap hidup berdampingan dengan orang-orang non muslim dalam satu lingkup kota. Bahkan paman Rasulullah ﷺ Abu Thalib, yang membantunya dalam berkdakwah sampai akhir hayatnya pun tidak pernah memeluk agama Islam. Sekalipun ia tidak menghalangi rasul untuk berdakwah, melainkan membantunya serta mempersilakannya untuk menyebarkan agama Islam.

Batasan Toleransi

Menghargai umat beragama lain untuk melaksankan ibadahnya, mempersilakan mereka melaksanakan ibadah, tidak mengganggu serta tidak memaksakan aqidahnya agar sama dengan kita, merupakan contoh bentuk toleransi dalam beragama. Adapun pada aspek aqidah, umat Islam tidak diperkenankan untuk melaksanakan toleransi. Contohnya ketika umat agama lain melaksanakna ibadahnya, maka umat Islam tidak boleh meniru, atau ikut beribadah seperti mereka.

Adanya batasan tersebut sudah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ, ketika itu Rasul diminta kaum Quraisy yang tidak mau beriman pada Allah ﷻ, untuk mengikuti praktik ibadah agama mereka. Supaya mereka juga mau mengikuti apa yang diimani oleh Nabi Muhammad ﷺ, namun turunlah surat Al-Kâfirun yang dijelaskan pada ayat keenam. Allah ﷻ berfirman: “Untuk mu agama mu untuk ku agama ku” (QS. Al-Kâfirun [109]: 6). Bahwa sampai kapan pun agama tidak bisa bercampur satu dengan lainnya dalam pelaksanaan ibadah serta keyakinan aqidahnya.

Sesungguhnya, toleransi merupakan hal yang dikehendaki oleh Allah ﷻ supaya seluruh umat mausia saling bekerjasama menciptakan kedamaian di muka bumi. Bukankah manusia diciptakan di muka bumi ini sebagai “khalifah” atau pengganti dari makhluk sebelumnya. Kemudian manusia diberi petunjuk-petunjuk melalui Rasul sebagai utusan-Nya. Adapun yang mengikuti ajaran Rasul tentunya memiliki keyakinan yang sama, dengan semangat juang yang sama untuk saling memperkuat iman di hatinya.

Pengamalan Toleransi di Indonesia

Pengamalan toleransi sejauh ini sudah dilaksanakan sejak dini di lingkungan sekolah. Sekolah di Indonesia khusunya pada sekolah negeri secara umum tidak membatasi keyakinan siswa-siswinya. Di sekolah tersebut bisanya terdapat siswa dengan berbagi latar belakang keyakinan. Dari perbedaan yang ada, kemudian disatukan dalam satu kesatuan kelas yang harmonis guna memupuk tali persaudaraan antar umat beragama. Toleransi antar umat beragama dilatih sedari muda, sehingga di masa yang akan datang masyarakat tidak mudah tersulut provokasi yang mengatasnamakan perbedaan keyakinan.

Bentuk toleransi tidak hanya terbatas pada perbedaan agama. Keanekaragaman budaya, suku, bangsa, dan bahasa juga merupakan karunia Allah ﷻ yang dikehendaki agar terciptanya toleransi di muka bumi ini. Allah ﷻ berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Allah ﷻ menciptakan suatu perbedaan diantara umat manusia agar semua saling mengenal dan berinteraksi sebagaimana fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Bahwa saling menghargai budaya serta adat istiadat yang berlaku, menjaga sopan santun dimanapun berada demi menjaga keamanan, ketentraman, serta perdamaian.

Di Indonesia pada masa penyebaran Islam di tanah jawa khususnya oleh wali songo, kala itu para wali tidak menghilangkan eksistensi budaya jawa yang dulu pernah ada. diantaranya gamelan, wayang, tembang jawa dan lainnya yang kemudian diadopsi oleh beberapa anggota wali songo untuk menyebarkan agama Islam di tanah jawa. Melalui budaya-budaya tersebutlah Islam semakin mudah dikenal dan diterima oleh masyarakat di pulau jawa.

Toleransi dalam Islam sangat praktis dan masuk akal. Maka pentingnya sikap saling menjaga hubungan antar manusia supaya negeri menjadi aman dan damai adalah kewajiban seluruh umat manusia baik itu umat muslim atau bukan. Praktik toleransi dalam kehidupan bermasyarakat dilaksanakan melalui hidup aman damai berdampingan dalam lingkup tempat tinggal yang sama. Tidak membeda-bedakan hak laki-laki dan perempuan dalam bekerja, ibadah, serta pendidikan juga merupakan bentuk menghargai keberagaman.

Toleransi Diruang Publik

Di zaman yang serba modern ini perbedaan gender tidak menjadi masalah dalam segala aspek. Sangat berbanding terbalik dengan zaman dahulu, yang mana pada zamannya sangat membedakan harkat derajat perempuan, yang selalu berada di bawah laki-laki. Di zaman merdeka ini, perempuan juga diapresiasi dan diberikan ruang untuk eksis dalam berbagi bidang. Diruang publik perempuan sudah banyak yang sukses menajadi pengusaha, CEO sauatu perusahaan, dan menjadi pejabat yang memimpin ketika diantara lelaki yang ada, tidak ada yang mumpuni kemampuannya, disaat itulah perempuan dapat berperan.

Pada bidang ekonomi praktik toleransi dilaksankan melalui kerjasama dalam bisnis, ekspor-impor, jual beli di pasar atau jual beli online dan sebagainya. Tiongkok sejak zaman dahulu sudah mendominasi perdagangan bahkan usaha dan bisnisnya tetap eksis hingga kini. Hal tersebut menjadi suatu motivasi bagi bangsa Indonesia untuk mempelajari ilmu berdagang dan ilmu bisnis agar stabil walaupun permintaan pasar selalu naik turun.

Bangsa Barat dengan segala kemajuan teknologinya, dapat kita jadikan motivasi dengan mempelajari ilmu teknologinya sehingga dapat bermanfaat untuk bangsa, agama, dan kemaslahatan bersama. Hal-hal yang seperti itulah yang patut kita contoh, dan di aspek itulah praktik toleransi dilaksanakan. Ilmu-ilmu yang dimiliki oleh umat agama lain dapat pula kita pelajari dan kita amalkan dalam kehidupan umat Islam, guna memajukan serta memperkuat ukhuwah islamiyah.

Berbeda pada aspek ibadah contohnya shalat, perempuan tetap berada di belakang laki-laki. tidak pernah perempuan menjadi imam pada shalat yang di dalam jamaahnya terdapat laki-laki. Hal itu sudah paten dan tidak dapat diubah-ubah ketentuannya, karena berkaitan dengan syariat Islam.

Toleransi yang hakiki itu dimana seorang muslim sejati berlepas diri dari segala amalan khusus yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak pernah bersujud kepada Allah ﷻ lagi tidak beriman kepada-Nya, walaupun hanya sekedar ucapan selamat hari raya. Wa Allâhu a’alm bish Shawwâb.[]

[1] Jamil, “Toleransi dalam Islam”, Al-Amin Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya, Vol. 1, no 22, 2018, h..242.

Download Buletin klik disini

Mengambil Hikmah dari Penyelenggaraan Piala Dunia Qatar

Mengambil Hikmah dari Penyelenggaraan Piala Dunia Qatar

Nur Laelatul Qodariyah

*Prodi Ahwal Al-Syakhshiyah FIAI UII, NIM 19421133

 

Bismillâhi walhamdulillâhi wash-shalâtu was-salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Perayaan sepak bola dunia kini menjadi hal yang sangat membanggakan bagi umat muslim terutama kepada Negara Qatar. Pasalnya penyelenggaraan piala dunia ini memberikan  dampak yang baik bagi penyebaran Islam saat ini. Seperti yang telah kita ketahui bahwa, Qatar kini menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan sepak bola dunia bergengsi. Hal yang menarik dan berbeda dari penyelenggaraan piala dunia saat ini adalah  kultur budaya dan agamanya yang sebelumnya tuan rumah negara seperti, Brazil, Rusia, Afrika Selatan merupakan negara non muslim.

Dengan Izin Allah Qatar telah Membuktikan

Qatar merupakan salah satu negara Islam di Timur Tengah, dalam kesempatan emas dan momen yang berharga ini. Qatar ingin membuktikan kepada dunia bahwa Islam merupakan agama yang indah dan juga berakhlak. Hal ini lah yang menjadi decak kagum bagi umat muslim di seluruh dunia. Pasalnya kebijakan dan peraturan selama perayaan piala dunia sangat di tegaskan dalam negaranya. Tentu saja pasti ada saja pihak yang tidak setuju dengan peraturan tersebut. Tetapi hal ini tidak menjadikan sebuah pertentangan untuk Qatar dalam mempertahankan peraturan tersebut.

Allahﷻ  berfirman: “ Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekirannya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali ‘Imran [3]: (110).

Berdasarkan ayat diatas dapat dipahami bahwa, kita sebagai umat muslim patut bangga karena kita merupakan umat  terbaik yang dilahirkan untuk manusia di muka bumi ini. Islam telah mengatur dengan cantik dalam kehidupan kita di bumi. Dengan hal tersebut tidak ada yang lebih indah kecuali kita dapat memberikan dan juga mengajarkan kebaikan kepada manusia melalui ilmu-ilmu islam yang telah kita pelajari walaupun itu hanyalah satu ayat saja.

Piala Dunia 2022 Qatar sebagai Media Dakwah  Islam

Tidak hanya sekedar perhelatan sepak bola dunia, Qatar menjadikan tuan rumah dengan pola dakwah islam yang memang sudah dipersiapkan dengan matang. Hal ini sudah terlihat dalam pembukaan piala dunia di stadion Al-Bayt pada tanggal 20 November 2022. dengan opening yang sangat luar biasa yaitu dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Membuat merinding bagi penonton yang melihat fenomena indah ini. Tidak hanya itu lantunan yang disemarakan oleh anak penyandang difabel yang bernama Ghanim Al-Muftah memberikan kita motivasi bahwa di dunia ini kita harus lebih bersyukur dengan apa yang kita punyai saat ini.[1] Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacanya merupakan surah Al-Hujurat ayat 13.

Allah berfirman: Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agara kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti ”  (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Dalam ayat ini mempertegas bahwa, golongan apapun, mulai dari jenis kulit, negara, budaya dan juga status sosial semua itu di hadapan Allah ﷻ sama. Tidak ada perbedaan dan juga pilih kasih terhadap sesama manusia.  Hal ini menjadikan Islam sebagai rahmat, kasih sayang kepada manusia.

Larangan yang Diterapkan oleh Qatar.

Demi menjaga budaya dan juga syariat Islam yang tumbuh dalam negara Qatar, hal ini pemerintah melarang secara tegas selama penyelenggaraan piala dunia di Qatar harus mentaati setiap peraturan yang ada. Jika ada pelanggaran di dalam peraturan tersebut maka akan dikenai sanksi yang berat. Semua itu berlaku bagi seluruh aktivis yang terlibat dalam piala dunia ini, baik pengunjung maupun pemain sepak bola yang bertugas.

Seperti yang telah kita ketahui berzina, meminum khamr, kampanye LGBT merupakan salah satu yang diharamkan dalam Islam. Terlepas daripada itu Islam sendiri mengatur bukan tanpa sebab. Misal kita ambil contoh, orang yang meminum khamr dan kemudian mabuk dapat merugikan orang-orang sekitar, dan malah akan menimbulkan kekacauan.

Seperti hadis berikut ini, An Nu’an bin Basyir berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas, sedangkan syubhat berada di antara keduanya. Barang siapa meninggalkan syubhat, berarti terhadap yang haram ia akan lebih menjauh. Dan hal-hal yang diharamkan Allah adalah daerah terlarang, maka siapa yang menggembalakan ternak di sekitar daerah terlarang, sangat mungkin ia akan memasukinya.”  (HR. Ahmad, no. 17624).[2]

Selain itu bagi perempuan selayaknya memakai pakaian yang sopan, dan tertutup agar para laki-laki juga dapat menjaga pandangan. Mengingat bahwa wanita merupakan fitnah terbesar bagi laki-laki. Sehingga dalam piala dunia Qatar peraturan tersebut harus diperhatikan.

Kutipan Hadis Nabi Pada Setiap Sudat di Qatar

Pemerintah Qatar sudah menyiapkan segala persiapan indah untuk mengenalkan Islam lebih dekat kepada dunia. Dengan hal tersebut di setiap sudut tempat Qatar telah terpasang poster dengan kutipan-kutipan hadis dari Nabi Muhammad ﷺ.

Diantara hadis-hadis tersebut ialah, “Guard yourself from the hellfire, even with half of a date in charity. If one cannot find it, then with a kind word.” “Jagalah dirimu dari api neraka meskipun dengan sedekah setengah buah kurma. Jika seseorang tidak dapat menemukannya, maka dengan kata yang baik.” [3]

Dari hadis ini menerangkan bahwa kebaikan seseorang itu nilainya tidak terbatas, walaupun hanya memberi setengah buah kurma hal itu merupakan sebuah kebaikan bagi seseorang yang membutuhkan. Kebaikan pula tidak melihat dari sisi harta saja, melainkan sikap saling tolong menolong kepada sesama muslim juga menjadikan indikator sebagai kebaikan.

Hikmah Penyelenggaraan Piala Dunia Qatar

Dari sini kita belajar bahwa, dimanapun kita berada, sebagai seorang muslim kita dapat menyebarkan nilai-nilai Islam kepada manusia. Begitu juga dengan Qatar yang berkesempatan untuk menjadi tuan rumah memiliki inovasi agar bagaimana caranya bisa mengenalkan wajah Islam kepada dunia. Bahwa Islam itu Rahmatan lil ‘alamin, Islam itu indah, penuh kasih sayang dan ramah. Sehingga anggapan seseorang yang menganggap bahwa Islam itu teroris, radikal, dan intoleran menjadi terbantahkan dengan realita yang ada bahwa Islam itu tidak seperti itu.

Selain itu dalam penyelenggaraan piala dunia di Qatar Syaikh Muhammad Jaber adik dari Syaikh ali Jaber mengungkapakan rasa bahagia dan bangga terhadap Qatar, pasalnya kurang lebih orang 585 masuk Islam sebelum acara dimulai dan kemarin setelah mulai telah mencapai 1000 orang lebih yang masuk Islam.[4] Wa Allâhu a’alm bish shawwâb.[]

[1] Nur Khoirin YD, “ Belajar Dakwah dari Piala Dunia Qatar”, dikutip dari https://jatengdaily.com/2022/belajar-dakwah-dari-piala-duni. Diakses pada hari Rabu tanggal 30 November 2022.

[2] Ensiklopedia Hadis, “ H.R Ahmad no. 17624”, Shahih menurut Syu’aib al-Arna’uth

[3] Ilham Ardha Saputra, “Lewat Piala Dunia 2022, Qatar Kenalkan Islam dengan Pasang Banner Hadits Nabi Soal Beramal hingga Api Neraka”, dikutip dari https://www.wonosobozone.com/gayahidup/pr-4675772800/lewat-piala-dunia-2022-qatar-kenalkan-islam-dengan-pasang-banner-hadits-nabi-soal-beramal-hingga-api-neraka.  Diakses pada hari Rabu tangal 30 November 2022.

[4] Muhamad Husni Tamami, “ Piala Dunia 2022 di Qatar, Syekh Muhammad Jaber: 1.000 Orang Masuk Islam” dikutip dari https://www.liputan6.com/islami/read/5133011/piala-dunia-2022-di-qatar-syekh-muhammad-jaber-1000-orang-masuk-islam. Diakses pada hari Rabu tanggal 30 November 2022.

Download Buletin klik disini

Pemuda hari ini Pemimpin Masa Depan

Pemuda hari ini Pemimpin Masa Depan

Uun Zahrotunnisa

*Mahasiswi Prodi Ahwal Syakhsiyyah UII

 

Bismillâhi Walhamdulillâhi wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ rasûlillâh,

Seorang pemuda adalah calon generasi penerus bangsa. Bahkan Pahlawan revolusioner yang sekaligus presiden pertama Republik Indonesia pernah berkata “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan ku goncangkan dunia”. Kalimat sang pendiri bangsa tersebut kaya akan makna tersurat bahwa ditangan pemudalah kejayaan suatu bangsa terletak. Harapan besar bagi para pemuda untuk dapat membangun peradaban dunia lebih baik, pun juga Islam sebagai agama yang membawa keselamatan bagi seluruh umatnya, yang mana dibawa oleh Rasulullah .[1]

Pemuda yang Berkarakter.

Pemuda Islam wajib berkarakter layaknya para pejuang Islam. Pemuda Islam yang berakhlakul karimah adalah pemuda yang mampu menjungjung nilai-nilai keislaman dan semangat pemuda Islam pada zaman dahulu. Sebab, semangat menegakkan agama Islam tidak hanya terhenti sampai pada hari dimana seluruh umat Islam mampu hidup dengan tenang melainkan harus tetap diperjuangkan sampai hari kiamat nanti. Salah satu kutipan ayat dalam Al-Qur’an telah memberikan penegasan kepada pemuda agar tidak mudah menyerah.

Allah ﷻ berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun” (QS. Al Kahfi [18]: 60)

Ayat diatas memberikan pelajaran kepada kaum muda-mudi untuk senantiasa berjuang dan pantang menyerah sampai mendapatkan hasil yang diinginkan. Jika melihat realita saat ini, di negara Indonesia yang menjunjung asas Demokrasi, ketika terdapat ketimpangan yang terjadi pada peraturan, maupun undang-undang yang bias kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat, maka jiwa-jiwa pemuda yang kritis tak gentar begitu saja, maju menyuarakan aksi demokrasi demi menyelamatkan kesejahteraan dan keadilan rakyat di bumi pertiwi. Tentu upaya tersebut menjadi gambaran bahwa memang pemuda adalah generasi yang pantang menyerah dalam mengupayakan kemaslahatan bagi masyarakat sosial.[2]

Sebagai agent of change pemuda selayaknya mampu menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Dunia sebagai tempat dimana manusia selayaknya berusaha untuk kehidupan di akhirat-Nya kelak. Dan, akhirat sebagai tempat dimana menuai amal baik selama di Akhirat. Seperti bunyi hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalan untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi[3]

Aksi pemuda dalam berdemokrasi dengan semangat yang berkobar telah merefleksikan makna dari hadis di atas dimana, segala bentuk perjuangan yang dilakukan demi menegakkan keadilan dan kebaikan bersama, niscaya akan membuahkan hasil sekaligus menjadi ladang amal untuk kehidupan di akhirat. Masifnya perkembangan teknologi menuju peradaban 5.0 menjadi tantangan bagi kaum milenial untuk tetap bijak dalam memutuskan pilihan.[4]

Tokoh Pemuda Islam. 

Keimanan menjadi tolok ukur seseorang agar tetap bersikap amar ma’ruf nahi munkar. Keteladanan dari para pemuda dapat kita ambil contoh dari beberapa tokoh pemuda muslim yang mampu mengguncangkan dunia dengan kegigihan semangat dan perjuangannya dibawah bendera keislaman. Beberapa cotoh pemuda tersebut diantaranya adalah:

Usamah bin Zaid (18 tahun, ada riwayat lain menyebutkan 15 tahun). Dalam usia tersebut ia memimpin pasukan besar untuk menghadapi  Romawi Satu kerajaan kuat dengan pengalaman militer yang panjang. Cukup sebagai bukti kemampuan kepemimpinannya, Rasulullah ﷺ mengangkatnya menjadi pemimpin pasukan yang di dalamnya terdapat Umar bin al-Khattab dan Abu Ubadidah bin al-Jarrah. Dua tokoh sahabat senior.[5]

Zaid bin Tsabit (13 tahun). Sudah mampu menguasai Bahasa Suryani dalam 17 malam sehingga diusia tersebut menjadi penterjemah Rasulullah ﷺ. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al-Qur’an.[6]

Thalhah bin Ubaidillah (16 tahun). Pada usianya tersebut ia sudah menjadi tameng Rasulullah ﷺ ketika perang di Gunung Uhud.[7] Ia menangkis anak panah yang melesak ke arah Rasulullah ﷺ hingga jari beliau terluka. Pada perang Uhud, Rasulullah ﷺ menyebut Thalhah dengan sebutan Thalhah Al-Khair (orang yang baik hati). Dalam perang Dzul Asyirah, ia disebut Thalhah Al-Fayadh (orang yang melimpah pemberiannya). Dalam perang Khaibar, beliau menyebutnya dengan Thalhah Al-Jud (orang yang dermawan).[8]

Muhammad Al Fatih (22 tahun). Yang umumnya disebut sebagai Muhammad II berhasil menanklukkan Konstantinopel sebagai Ibu Kota Byzantium pada saat semua jendral hampir menyerah karena serangan romawi yang tiada hentinya.[9]

Pemuda Milenial. 

Sebagai generasi yang hidup di zaman milenial, perang dalam wujud fisik telah tergantikan dengan perang yang melibatkan hal-hal yang serba mudah dijangkau, atau dilakukan. Perkembangan teknologi yang terjadi sedikit banyak telah mengikis empati kepada orang-orang disekitarnya oleh sebab kurangnya interaksi tatap muka karena telah tergantikan dengan peran media sosial.[10] Sehingga menjadi tugas besar bagi seluruh pemuda Islam untuk selalu mawas diri terhadap arus perkembangan yang datang dari segala penjuru dunia.

Untuk mencetak pemuda generasi rabbaniyyah, maka pola asuh dan pendidikan dari orang tua turut memberikan andil besar dalam membentuk karakter melalui pembiasaan-pembiasaan baik sampai akhirnya terbentuklah karakter akhlakul karimah[11]. Kutipan ayat berikut ini menjelaskan bagaimana   proses terbentuknya generasi pemuda Islam yang hebat. Allah berfirman:“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (QS. Al-Kahfi [18]: 10). Ayat ini menceritakan kisah 9 (sembilan) pemuda taat yang bersembunyi dari raja yang keji dan berlaku sewenang-wenang[12].

Derasnya arus komunikasi pada zaman dulu dengan sekarang melesat jauh berbeda, sehingga ketika orang dahulu ditimpa kenestapaan ketika sedang berjuang, hanya kepada Rabbnya lah mereka mengadu dan berharap. Berbeda dengan saat ini, manusia sangat mudah mengakses segala hal melalui media sosial, begitu juga sangat mudah untuk menyerah dan berkeluh kesah. Menjadi sebuah PR besar bagi pemuda Islam dalam memfilter segala sesuatu yang datang baik secara digital maupun non-digital.

Tabayun, dan Tasatur hendaknya selalu ditanamkan dalam diri agar terhindar dari hoax yang bertebaran di jagad raya. Sebagai penerus cita-cita pejuang bangsa Indonesia yang bermoral intelektual dan karakteristik karismatik sudah selayaknya mengimplementasikan nilai-nilai keislaman agar selalu terhindar dari bahaya pengaruh-pengaruh tidak baik yang dapat menggoncangkan keimanan. Peka terhadap perubahan itu baik akan tetapi tetap pada pendirian sebagai seorang muslim harus selalu dipegang teguh.

Demikian, semoga dapat menjadi pengingat segala jerih payah apa yang menjadi angan-angan dapat mengantarkan impian para muda-mudi untuk selalu berikhtiar dan pantang menyerah. Wa Allâhu a’lam.[]

Marâji:

[1] Syamsuddin, “Penanaman Nilai Tasawuf dalam Menumbuhkan Karakter Islam Rahmatan Lil ‘Alamin pada Peran Pemuda,” Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf, vol. 2, no. 2, pp. 501-526, 2016.

[2] Ifa Avianty, Thobib Al-Asyhar, “Perubahan Paradigma Peran Politik Pemuda Islam Indonesia dari Masa ke Masa,” Dialog , vol. 34, no. 2, pp. 44-62, 2016.

[3] M. Asy-Sya’rawi, Tafsir Asy-Sya’rawi, -: Akhbarul Yaum, 1991.

[4] Zahri, Tsulis Amiruddin, Lubis, Putri Handayani Lubis, Syaifuddin Ahrom,, “Relasi Pemuda Islam dan Media Sosial dalam Membangun Solidaritas Sosial,” Jurnal Literasiologi, vol. 1, no. 2, p. 13, 2019.

[5] Y. A. Karim, Barisan Pemua Zaman Nabi, Jakarta: Aqwam: Jembatan Ilmu, 2021. Dan lihat: https://kisahmuslim.com/6553-usamah-bin-zaid-kesayangan-rasulullah.html.

[6] Muntakhanah, “Peran Zaid bin Tsabit dalam Penulisan Wahyu Al-Qur’an 4-35 H/ 625-656 M,” -, Vols. -, no. -, p. 139, 2014.

[7] R. Natamarga, “Yang Kehilangan Jemarinya di Uhud: Thalhah bin Ubaidillah r.a,” Academia, Vols. -, no. -, p. 7.

[8] Lihat: https://rumaysho.com/26848-thalhah-bin-ubaidillah-dijamin-masuk-surga-dan-dikenal-dermawan.html

[9] F. Y. Siauw, Muhammad Al-Fatih, Jakarta: Alfatih Press, 2017.

[10] Subhan S, Fahd P, dkk, “Arena Bermain itu Namanya Media Sosial,” in Muslim Milenial, Bandung, Mizan, 2018, p. 45.

[11] Berkualitas Tidak Lepas dari Pendidikan Orang Tua yang Totalitas,” Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur’an dan al-Hadist, vol. 13, no. 1, pp. 71-94, 2019.

[12] S. Istiqomah, “Kisah-Kisah Ashabul Kahfi dalam Al-Qur’an,” -, Vols. -, no. -, p. 116, 2016.

Download Buletin klik disini

Jangan Marah Maka Bagimu Surga

Jangan Marah Maka Bagimu Surga

Nur Isnaini, A.Md.

*Laboratorium Riset Kimia, FMIPA UII

 

“Jangan marah, maka bagimu surga” (HR. Bukhari, no. 6116) [1], salah satu sabda Rasulullah ﷺ yang menggambarkan  betapa indahnya balasan surga apabila kita dapat menahan amarah. Amarah yang sering kita anggap hanya perbuatan kecil, namun terkadang menjadi hal yang tidak mudah dikendalikan saat kita sedang mengalaminya. Marah merupakan salah satu ungkapan perasaan berupa emosi yang biasanya diungkapkan melalui perilaku ataupun perkataan negatif. Hal tersebut sangat erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari dan setiap orang pasti pernah merasakannya. Marah biasanya muncul karena sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.

Ungkapan marah yang muncul dari setiap orang juga berbeda-beda tergantung bagaimana kita menyikapi. Marah merupakan salah satu perbuatan yang seringkali kita anggap sepele, namun jika kita salah dalam menyikapi, dampaknya akan sangat luas. Seringkali kita lalai, kita fokus memperbanyak amal shalih, namun kita mengabaikan hal-hal kecil yang bisa menghapus amal shalih yang telah kita lakukan yaitu marah.

Dampak Buruk Marah

Mengapa marah merupakan suatu perbuatan yang dilarang? Karena akibat yang ditimbulkan biasanya akan menimbulkan keburukan dan kerugian. Keburukan yang timbul disebabkan oleh tidak terkontrolnya amarah yaitu keluarnya kata-kata kasar yang kemudian menyakiti hati orang lain, terjadi pukul memukul, terjadi permusuhan, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan masih banyak lagi.

Ketika sering tidak bisa menahan amarah maka kita akan semakin dikuasai oleh nafsu, sehingga perbuatan yang kita lakukan akan semakin tidak terkontrol. Kita akan sulit untuk berpikir dengan akal sehat karena akan mudah tersulut emosi. Raut wajah orang yang sering marah pun akan berbeda dengan orang yang pandai mengendalikan amarah. Hati orang yang sering marah juga akan diisi oleh kedengkian.

Kerugian lainnya yang timbul dari tidak terkendalinya amarah yaitu akan memperburuk masalah kesehatan. Jika ditinjau dari sudut pandang medis marah akan menimbulkan serangan jantung, meningkatkan tekanan darah, memicu stres, ganggungan tidur dan lain-lain. Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ melarang marah karena selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain.

Manfaat Menahan Marah

Menahan marah akan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan memperbaiki akibat yang ditimbulkan dari marah. Allah ﷻ berfirman: “Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al Imran [2]:134).

Dalam ayat tersebut telah dijelaskan bahwa Allah ﷻ menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan, termasuk orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Akibat atau manfaat yang timbul jika kita dapat menahan amarah akan jauh lebih indah dan dan lebih baik jika ditinjau dari berbagai aspek. Secara batiniah menahan amarah akan menentramkan batin, hidup menjadi lebih tenang, tidak dihantui dengan ketakutan dan kedengkian. Silaturahim akan semakin terjaga, karena dengan menahan amarah secara otomatis tidak ada kata-kata kasar dan perbuatan kasar. Secara medis, kesehatan lebih terjaga dengan menahan marah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR. Abu dawud, no. 4777).

Begitu istimewanya jika kita mampu menahan amarah, maka Allah ﷻ janjikan bidadari di hari kiamat nanti. Ada beberapa upaya yang dapat kita lakukan supaya bisa menahan amarah, diantaranya adalah dengan membaca ta’awudz, berwudhu, mengubah posisi saat marah dan mengontrol lidah (diam).[2]

Cara Menahan Marah

Ta’awudz

Apabila kita sedang dalam keadaan emosi, maka salah satu cara untuk menahan amarah adalah dengan membaca ta’awudz “a’ûdzubillâhiminasyaithânirrajîm“. Ta’awudz merupakan doa permohonan perlindungan dan penjagaan oleh Allah ﷻ dari godaan setan yang terkutuk. Hal ini telah dijelaskan dalam surah Al A’raf ayat 200.

Allah ﷻ berfirman: “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia maha mendengar maha mengetahui.” (QS. Al A’râf [7]: 200)

Sulaiman bin Shurad berkata, “Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi  sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah  bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’ûdzubillâhi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR. Bukhari no 3282)

Diam

Diam adalah salah satu cara untuk menahan amarah. Ketika kita sedang tersulut emosi, jika kita mengikuti alurnya, maka yang terjadi adalah amarah akan semakin menguasai diri kita. Seringkali yang muncul adalah kekuarnya kata-kata kasar dan perbuatan yang tidak terkontrol. Nah disinilah diam merupakan kunci. Ketika diam adalah jalan yang kita pilih, maka efek yang timbul akibat marah akan terputus dan berhenti. Seperti sabda Rasulullah ﷺ dalam hadis berikut “Jika kalian marah, diamlah” (HR. Ahmad)[3]

Mengubah Posisi

Orang yang sedang marah biasanya mempunyai kecenderungan untuk selalu ingin menang sendiri atau selalu ingin derajat yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ memerintahkan ketika sedang dalam keadaan marah untuk berpindah posisi menjadi lebih rendah. Hal ini dijelaskan Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis yaitu, “Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Dawud, no. 4782).

Berwudhu

Orang yang sedang dalam keadaan marah hendaknya segera mengambil wudhu seperti wudhu ketika akan melaksanakan shalat. Ketika akan berwudhu diniatkan untuk menghilangkan marah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784)[4]

Keutamaan Menahan Marah

Keutamaan menahan amarah sebenarnya adalah menundukkan dan mengalahkan ego diri kita sendiri sehingga setan tidak akan masuk dan membawa kita ke dalam perbuatan yang tercela. Sesungguhnya yang paling berat dalam hal ini adalah mengalahkan ego dan hawa nafsu kita sendiri. Ketika kita mampu mengendalikan ego dan hawa nafsu kita saat dalam keadaan marah, maka setan akan kalah, dan hal ini akan membawa kebaikan.

Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat buruk (semua maksiat) dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al Baqarah [2]: 169)

Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. al-Bukhari, no. 5763 dan Muslim, no. 2609).

Marâji’:

[1] Diriwayatkan oleh Ath Tabrani dalam Al Mu’jamul Ausath, no  2374.

[2] Yusuf Al-Qaradhawi, Dalam Pangkuan Sunah, Jakarta: Al-Kautsar, 2013.

[3] Diriwayatkan oleh Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi. Lihat: https://rumaysho.com/16156-5-kiat-meredam-marah.html. Diakses pada 1 Desember 2022.

[4] Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Lihat: https://rumaysho.com/16156-5-kiat-meredam-marah.html. Diakses pada 1 Desember 2022.

Download Buletin klik disini

MANFAAT MEMAAFKAN

MANFAAT MEMAAFKAN

Oleh: Irfan Tsaqif Amrullah

*Mahasiswa Prodi Psikologi 2020

 

Bismillâhi walhamdulillâhi wash-shalâtu was-salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Dalam kehidupan, banyak kejadian dan peristiwa yang tidak dapat kita duga. Terkadang sebuah peristiwa dan kejadian tertentu bisa menyenangkan dan kadang tidak menyenangkan, kadang sesuai yang kita inginkan dan terkadang tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Banyak juga peristiwa atau kejadian yang menyakiti hati dan perasaan kita. Seringkali peristiwa atau kejadian menyakitkan tersebut datang dari orang-orang di sekitar kita. Tak jarang hal tersebut berdampak pada rusaknya hubungan interpersonal kita.

Untungnya, Islam sebagai agama rahmatan lil ’alamin dengan al-Qurán sebagai pedoman yang berlaku sepanjang zaman menawarkan solusi untuk kehidupan yang rukun dan damai. Salah satu ajaran Islam adalah memaafkan. Konsep maaf ini ternyata berpengaruh sangat besar untuk kehidupan umat. Selain itu, memaafkan ternyata memiliki banyak manfaat menurut ilmiah, meningkatkan kesejahteraan jiwa adalah salah satunya.

Akar kata Maaf (al-‘afw)

Kata pemaafan sendiri berasal dari akar kata bahasa Arab al-‘afw. Kata al-‘afw yang terdiri dari tiga partikel huruf, ‘ain, fa‘, dan satu huruf mu’tall menurut Ibn Faris, memiliki dua makna valid, yaitu; meninggalkan (tark al-syai’) dan mencari/menuntut sesuatu (thalab). Kemudian muncul banyak derivasi darinya, yang tidak memiliki perbedaan signifikan dalam hal makna. Maka, ketika dikatakan ‘afw Allah ‘an khalqihi, berarti tarkuhu iyyahum fala yu’aqibhum (Allah membiarkan mereka, sehingga tidak menghukumnya). Al-Khalil mengatakan “setiap orang yang berhak mendapat hukuman, lalu engkau biarkan (tarakahu), maka engkau telah memaafkannya (‘afaw-ta ‘anhu)”. Dari kata al-’afwu juga muncul kata al-‘af iyah, yang berarti pembelaan atau penjagaan Allah terhadap hamba-Nya.[1]

Pemafaan dalam Sudut Pandang Ilmiah

Dalam sudut pandang ilmiah pemaafan adalah kesudian seseorang untuk meninggalkan kemarahan, penilaian negatif, dan perilaku acuh-tak-acuh kepada perilaku orang lain yang telah menyakitinya secara tidak adil.[2] Menghilangkan, menghapus, dan melupakan perilaku jahat orang lain merupakan hal penting dalam pemaafan. Seperti yang dideskripsikan oleh Nashori, bahwa pemaafan adalah kesediaan untuk menghapus luka hati atau bekas-bekas luka didalam hati, meskipun masih teringat jelas ingatan mengenai peristiwa yang memilukan di masa lalu, akan tetapi persepsi mengenai kejadian tersebut telah berubah atau persepsi bahwa kejadian tersebut menyakitkan baginya telah terhapuskan. Thompson juga membagi pemaafan atau forgiveness dapat terjadi pada tiga hal, yaitu: pemaafan untuk orang lain, diri sendiri, dan untuk kondisi; yaitu memaafkan situasi yang dapat menyebabkan munculnya perasaan negatif dalam dirinya seperti bencana alam.[3]

Sebuah penelitian pilot study oleh Tsang, McCullough dan Hyot (2005) menyatakan bahwa secara tidak langsung religiusitas memiliki potensi untuk memunculkan pemaafan pada seseorang karena pada dasarnya setiap agama mengajarkan cinta dan kasih sayang yang mendorong sikap memaafkan.[4] Oleh karena itu, umat beragama Islam memiliki kemungkinan yang tinggi untuk memaafkan. Pemaafan menurut Imam Al-Ghazali adalah ketika seseorang yang berhak atas suatu hak yang berkaitan dengan orang lain, seseorang tersebut dapat menggugurkan atau membebaskan orang lain yang seharusnya menunaikan hak tersebut.[5] Seperti ketika seseorang dapat memaafkan orang lain atas perilaku yang membuat sakit hati sehingga membenci pelaku yang merupakan hak orang yang disakiti dapat dihilangkan.

Perintah Memaafkan dalam al-Qur’an

Dalam agama Islam, kita dianjurkan untuk bisa saling memaafkan. Dalam al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang menganjurkan kita untuk memaafkan. Hal ini tentu karena memaafkan kesalahan pasti memiliki banyak manfaat. Dalam surat Ali Imran ayat 133-134 Allah ﷻ berfirman: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 133-134)

Dalam surat Al-A’raf ayat 199 Allah ﷻ juga menyuruh kita sebagai hambanya untuk menjadi pribadi yang pemaaf, yang artinya: “Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.  (Q.S. Al-A’raf [7]: 199)

Dalam Perspektif islam, berdasarkan beberapa ayat Al-Qur’an, memaafkan mencakup banyak hal, seperti: menahan amarah, memaafkan kesalahan, berbuat baik terhadap siapapun yang berbuat kesalahan kepadanya, lapang dada, keluasan hati, menghapus kesalahan, melupakan masa lalu yang menyakitkan hati, takfir (menutup kesalahan orang lain), membuka lembaran baru, memperbaiki hubungan menjadi indah (harmonis), mewujudkan kedamaian dan keselamatan bagi semua pihak, mendoakan orang yang berbuat jahat, bermusyawarah dengan orang-orang yang pernah menyakiti (berbuat salah), dan menyerahkan urusan kepada Allah (tawakkal).[6]

Manfaat Memaafkan

Dengan memaafkan ternyata banyak manfaat yang bisa kita dapat, salah satunya adalah meningkatkan kesejahteraan jiwa. Berdasarkan penelitian Fitriani & Widianingsih (2020), menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara pemaafan dengan kesejahteraan jiwa pada siswa SMA korban bullying.[7] Menurut penelitian Aziz, dkk (2017) menunjukan bahwa memaafkan memiliki kontibusi dalam meningkatkan kesehatan mental di tempat kerja.[8] Bahkan dalam jurnal Oktaviana (2022) menyatakan bahwa pemaafan efektif menjadi terapi untuk menurunkan kecemasan pada remaja.[9]

Berdasarkan uraian diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa memaafkan memberikan banyak manfaat. Sudah banyak penelitian ataupun riset yang membuktikannya. Salah satunya adalah meningkatkan kesejahteraan jiwa. Maka dari itu, mari kita biasakan sikap mudah memaafkan. Telebih karena hal tersebut juga diperintahkan oleh Allah SWT dalam berbagai firmannya. Dengan saling memaafkan juga dapat memperbaiki dan menjaga hubungan dalam umat tetap harmonis.[]

Marâji’:

[1] Abul Husein Ahmad bin Faris bin Zakariya, Mu’jm al-Maqayis fi al-Lughah, tahqiq Syihabudin Abu Amar (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), hal. 667

[2] Kusprayogi, Y., & Nashori, F. (2017). Kerendahhatian dan Pemaafan pada Mahasiswa. Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, 1(1), 12. https://doi.org/10.21580/pjpp.v1i1.963

[3] Khasan, M. (2017). PERSPEKTIF ISLAM DAN PSIKOLOGI TENTANG PEMAAFAN. At-Taqaddum, 9(1), 69. https://doi.org/10.21580/at.v9i1.1788

[4] Tri Kurniati Amriah, P. budi W. (2015). Religiusitas Dan Pemaafan Dalam Konflik Organisasi Pada Aktivis Islam Di Kampus Universitas Diponegoro. Empati, 4(4), 287–292.

[5] Oktaviana, S. K. (2020). Terapi pemaafan untuk menurunkan tingkat kecemasan pada remaja korban kekerasan. 5(1), 59–70. https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/18241

[6] Khasan, M. (2017). PERSPEKTIF ISLAM DAN PSIKOLOGI TENTANG PEMAAFAN. At-Taqaddum, 9(1), 69. https://doi.org/10.21580/at.v9i1.1788

[7] Fitriani, N. I., & Widiningsih, Y. (2020). Pemaafan Dan Psychological Well-Being Pada Remaja Korban Bullying. Psikobuletin:Buletin Ilmiah Psikologi, 1(3), 139. https://doi.org/10.24014/pib.v1i3.10336

[8] Aziz, R., Wahyuni, E. N., & Wargadinata, W. (2017). Kontribusi Bersyukur dan Memaafkan dalam Mengembangkan Kesehatan Mental di Tempat Kerja. INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 2(1), 33. https://doi.org/10.20473/jpkm.v2i12017.33-43

[9] Oktaviana, S. K. (2020). Terapi pemaafan untuk menurunkan tingkat kecemasan pada remaja korban kekerasan. 5(1), 59–70. https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/18241

Download Buletin klik disini

HIJAB AWAL PERBAIKAN DIRI

HIJAB AWAL PERBAIKAN DIRI

Oleh: Indah Wulandari

*Pendidikan Agama Islam

 

Bismillâhi walhamdulillâhi wash-shalâtu was-salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Saduariku, yang semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi kita dari fitnah dunia. Di zaman sekarang banyak orang yang masih bingung untuk mulai berhijab. Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa “saya berhijab nunggu udah baik akhlaknya”. Itu merupakan alasan yang salah karena hijab adalah awal mula dari perbaikan diri.

Hijab bukan hanya sekedar untuk menutup aurat semata tetapi bagaimana kita dalam bertingkah laku dan juga bertutur kata yang baik. Hijab merupakan tanda ketaqwaan kita kepada Allah ﷻ. Tidak semua yang berhijab itu sudah baik tetapi dengan berhijab berarti seseorang ingin dirinya menjadi lebih baik lagi baik dalam tingkah laku maupun perkataan.

Masih sangat disayangkan apabila pada saat ini wanita muslimah banyak yang berhijab hanya karena ingin mengikuti sebuah trend. Mereka harus diberi pemahaman bahwa hijab bukanlah trend ataupu tradisi akan tetapi merupakan sebuah kewajiban yang harus kita jalankan sebagai muslimah yang beriman kepada Allah ﷻ.

Berhijab adalah Perintah Allah ﷻ

Saduariku, perhatikanlah perintah Allah ﷻ berikut ini, dimana Allah ﷻ memerintahkan kita para muslimah untuk menutup aurat dengan sempurna. Allah ﷻ berfirman yang artinya: “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak mudah diganggu. (Q.S Al-Ahzab [33] 59)

Ayat tersebut menjelaskan perintah Allah ﷻ kepada setiap muslimah untuk menutupkan auratnya. Hijab menjadi hal yang sangat penting bagi kita para muslimah, karena dengan hijab kita akan terhindar dari laki-laki yang mempunyai niat jahat kepada kita. Masa sekarang ini sangat banyak tren hijab yang mendunia, akan tetapi tren hijab masa kini masih banyak yang belum sesuai dengan syari’at islam.

Contohnya saja, memakai hijab tetapi ketat atau menampakkan lekuk tubuh, memakai hijab tetapi tipis atau terawang, memakai hijab tetapi belum menutup secara sempurna seperti masih terlihat rambut, leher, tidak menutup dada secara sempurna dan lainnya.

Berhijab Baju Ketaqwaan Muslimah   

Saduariku, trend hijab masa kini masih harus diperbaiki lagi dan harus sesuai dengan syari’at Islam. Peran kita seharusnya menasehati dan mengingatkan mereka dengan cara yang baik agar mengenakan hijab bukan hanya sebuah kewajiban saja tetapi juga merupakan cara kita bertaqwa kepada Allah ﷻ.

Satu hal yang menarik yaitu sekarang banyak wanita yang sudah mulai sadar untuk mengenakan hijab dalam kehidupan sehari-hari, tetapi masih banyak juga mereka yang memakai hijab hanya pada moment tertentu dan hanya formalitas saja. Ini sudah menjadi nilai plus dikalangan wanita muslimah karena sudah mulai sadar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan menjadi taat kepada Allah ﷻ.

Tugas kita sebagai muslimah yang baik yaitu mengajak para wanita yang belum berhijab atau masih ragu untuk berhijab supaya segera mengenakan hijab karena berhijab tidak tunggu baik dulu. Kemudian tugas kita selanjutnya menasehati mereka yang sudah berhijab namun hijabnya masih belum sesuai dengan syariat islam agar bisa menutup dengan sempurna dan bisa berkelakuan baik.

Dapat kita lihat pada masa kini orang tua bahkan anak-anak pun sudah mulai mengenakan hijab. Walaupun terkadang anak-anak belum bisa istiqomah dalam berhijab tetapi tidak ada salahnya untuk melatih sedini mungkin dalam menggunakan hijab yang baik dan benar.

Cerdas Memakani Hijab

Sebagai wanita muslimah yang cerdas kita harus bisa membedakan beberapa macam makna hijab seperti kerudung, jilbab dan juga hijab itu sendiri. Kebanyakan dari kita terkadang masih banyak yang belum mengetahui makna dari kata kerudung, jilbab, dan juga hijab. Kerudung atau khimar merupakan kain yang digunakan untuk menutup dari bagian rambut sampai depan dada.

Jilbab atau gamis merupakan pakaian yang digunakan untuk menutup dari bahu sampai kaki. Sedangkan hijab sendiri merupakan penutup yang mempunyai fungsi agar orang tidak bisa melihat sesuatu dibalik penutup tersebut. Jika ingin mengenakan hijab yang syar’i dan sesuai syariat islam, maka syaratnya harus mengenakan jilbab atau gamis, kerudung atau khimar dan memakai kaos kaki.

Disyariatkannya hijab bagi wanita muslimah adalah untuk menjaga kehormatan wanita dan memuliakannya. Untuk itu perlu adanya kesadaran diri dan pembenahan diri agar senantiasa bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Dengan kita memahami apa saja hal-hal ataupu syarat yang harus dipenuhi dalam berpakaian yang sesuai dengan syariat Islam maka kita akan mudah dikenali dan tidak mudah diganggu.

Adapun berkembangnya trend hijab pada masa kini harus di imbangi dengan syarat-syarat berpakaian yang baik dan benar sesua dengan ketentuan syariat islam. Semoga nantinya seluruh wanita muslimah dimanapun mereka berada mempunyai kesadaran untuk berhijab dan juga bisa memperbaiki akhlak dan tingkah laku dengan seiring perjalanan mereka dalam mengenakan hijab didalam kehidupan sehari-hari. Karena hal yang terpenting adalah keistiqomahan.

Apabila wanita telah istiqomah dalam berhijab in syâ Allah Allah ﷻ pasti akan melembutkan hatinya. Karena hijab merupakan awal mula perbaikan diri. Jadi jangan ragu untuk memulai hal yang baik. Berhijab itu seperti matahari yang tertutupi oleh awan. Matahari tidak akan kehilangan keindahannnya apabila tertutup oleh awan. Begitu juga dengan wanita berhijab tidak akan pudar kecantikannya apabila tertutup oleh hijab.

Download Buletin klik disini

CARA BERBAKTI ANAK YANG JAUH DARI KEDUA ORANG TUA

CARA BERBAKTI ANAK YANG JAUH DARI KEDUA ORANG TUA

Oleh: Fahri Hanif Rais Wibowo

*Mahasiswa Prodi Ekonomi Islam FIAI 2022

 

Saudaraku, kaum muslimin dimanapun berada, semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah taufiq-Nya kepada kita semuanya. Berbakti kepada orang tua adalah hal utama yang harus dilakukan oleh seorang anak, karena konsekuensi menjadi anak adalah berbakti kepada kedua orang tua. Alasan mengapa harus berbakti kepada orang tua cukup kongkrit dan jelas. Karena adanya kita lantaran adanya orang tua. Kita dapat tumbuh dan berkembang karena perawatan dan penjagaan orang tua yang terus berusaha agar kita dapat seperti sekarang ini. Walhamdulillâh!

Kita sudah tumbuh dan berkembang seperti sekarang ini dan dapat berfikir seperti mereka bahkan melebihi mereka karena mungkin pendidikan atau pengetahuan kita lebih banyak dari mereka. Maka, tak sepatutnya lah kita menaikkan suara ketika berbicara dengan mereka terlebih lagi mereka sudah semakin menua dan termakan usia, hendaklah untuk melebutkan suara kita. Allah ﷻ berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”(Q.S. Al-Isra :13)

Dari ayat diatas dapat diambil pelajaran bahwa berkata “ah” saja itu adalah hal yang dilarang, terlebih dengan dengan nada yang tinggi atau pun membentak mereka. Sebagai anak harus berusaha untuk mencari ridha orang tua sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ashr, Nabi ﷺ bersabda, “Keridhaan Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (H.R. Tirmidzi no. 1899, Ibnu Hibban, 2:172; Al-Hakim, 4:151-152.)[1]

Cara Berbakti Anak yang Jauh dari Orang Tua

Saudaraku, hubungan seorang anak dengan orang tua bukan hanyalah sekedar hubungan lahiriyah saja melainkan mempunyai hubungan bathiniyah. Jarak yang jauh tidak menghalangi seorang anak untuk berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tuanya.

Nah, disini ada beberapa cara yang  bisa dilakukan bagi anak yang jauh dari orang tua atau mereka yang sedang merantau dalam rangka belajar.

  1. Selalu memanjatkan doa untuk kedua orang tua

Memanjatkan doa untuk kedua orang tua adalah sebuah keharusan, karena doa seorang anak untuk orang tua dan doa orang tua untuk anaknya tidak akan pernah terputus. Doa yang dipanjatkan kepada kedua orang tua bisa jadi akan berbalik kepada anak, dan menjadi sebuah kekuatan untuk menjalani proses belajar.

Kalaupun kita bukanlah termasuk orang-orang yang selalu berbuat kebaikan dalam keseharian dan bukan pula termasuk anak-anak yang shalih, bukan berarti tidak berdoa untuk kedua orang tua. Imam al-ghazali pernah membahas ini seperti berikut “Seseorang berkata, ‘Anak kadang tidak shalih sehingga doanya tidak berpengaruh bagi kedua orang tua. Padahal ia mukmin.’ Keshalihan sudah umum pada keturunan orang beragama, terlebih kalau orang bertekad mendidik dan mengantarkannya pada keshalihan. Secara global, doa orang beriman untuk kedua orang tuanya tetap berguna baik ia anak berbakti maupun anak durhaka. Kedua orang tuanya akan tetap diberi pahala atas doa dan kebaikan anaknya karena itu bagian dari ikhtiarnya dan ia tidak akan disiksa karena dosa keturunannya. Pasalnya setiap orang tidak menanggung dosa orang lain,”[2]

  1. Belajar dengan sungguh-sungguh

Janganlah pernah lupa tujuan anak meninggalkan orang tua di rumah dan kampung halaman adalah untuk belajar sungguh-sungguh sebagai bentuk berbakti kepada orang tua. Sehingga apa yang mereka usahakan untuk kemudahan belajar anak-anaknya yang berada diperantauan dapat balas dengan hasil belajar yang baik. Yang terpenting bagi anak adalah bagaimana setiap harinya berproses untuk menjadi lebih baik, dengan cara belajar sungguh-sungguh. Dengan ilmu yang diperoleh akan menjadikan anak semakin berbakti kepada orang tua, dengan kebaikan tersebut akan mengantarkan ke surga-Nya. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (H.R. Muslim, no. 2699)

  1. Selalu menghubungi orang tua

Menjalin komunikasi dengan orang tua adalah hal yang harus rutin dilakukan sebagai anak perantauan terlebih lagi di zaman sekarang ini sangat mudah untuk berkomunikasi dengan orang yang jauh jaraknya. Berkomunikasi dengan orang tua secara rutin dapat menyenangkan hati mereka walaupun dalam waktu yang singkat dari pada kita menghubungi mereka berjam-jam tapi sangat jarang sekali.

Cara yang satu ini adalah cara yang sangat mudah dilakukan asalkan mau membagi jadwal saja. Memang berkomunikasi dengan orang tua jarang orang sadari bahwa itu adalah salah satu bentuk bakti kepada orang tua. Tersadar kah kita, bahwa setelah mendengar suara mereka atau menatap wajah mereka mungkin dapat membantu kita lebih bersemangat untuk belajar dan ingat tujuan merantau disini. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)[3]

  1. Berhemat

Berhemat dapat mengatur diri agar tidak boros. Keperluan yang tidak dibutuhkan yang pastinya itu dapat berpengaruh terhadap orang tua kita. Dengan cara berhemat kita dapat meringankan beban kedua orang tua, yang kita tidak tahu keadaannya disana. Bukankah meringankan beban orang tua adalah bentuk kebaktian seorang anak kepada orang tuanya dan bukan kah berhemat adalah salah satu anjuran dari Allah l. Mari kita simak firman Allah ﷻ berikut ini: “Dan makan dan minumlah kalian, tetapi janganlah kalian berlebihan. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-Ar’af []: 31)

Nah, maka dari itu ayo kita mulai belajar untuk cara berhemat untuk keperluan kita dan kalau memungkinkan menabung adalah salah satu cara untuk berhemat. Akan tetapi yang harus diketahui, kita tidak boleh berlebihan atas diri kita sendiri dan tidak boleh kikir atas diri kita. harus berada di tengah-tengahnya.

Pesan dari Rantau  

Sebagai anak perantauan kita harus sering-sering untuk mengintropeksi diri sendiri, bertanya kepada diri sendiri, “apa sih yang sudah saya lakukan atau saya dapat?” tanyakan itu pada diri kita masing-masing. Mengapa demikian! bisa saja dengan kelalaian kita sebagai anak perantau dalam kegiatan sehari-hari, namun tidak sadar sedang berbuat durhaka kecil kepada kedua orang tua yang terus ditabung setiap harinya. Na’ûdzubillâh min dzalik.

Jadikanlah orang tua kita sebagai motivasi terbesar untuk mencari ridha Allah dengan wasilah berbakti kepada orang tua. Ridha Allah akan kita gapai dengan mendapatkan keridhoan orang tua. Sehingga kita selalu memperoleh keberkahan-Nya dalam hidup kita. Âmîn Yâ Rabbal ‘âlamîn.[]

Marâji:

[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 1899, Ibnu Hibban, 2:172; Al-Hakim, 4:151-152. hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban dan Al-Hakim dan Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Disebutkan dalam https://rumaysho.com/20643-bulughul-maram-akhlak-mencari-ridha-orang-tua.html

[2] Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz II, hal. 30.

[3] Sumber https://rumaysho.com/1894-keutamaan-silaturahmi.html

Download Buletin klik disini

ISTIQOMAH DALAM MENGERJAKAN AMAL

ISTIQOMAH DALAM MENGERJAKAN AMAL

Oleh: Auliya Eka Safitri

*Mahasiswi Hubungan Internasional 2021 FPSB UII

 

Bismillâhi walhamdulillâhi wash-shalâtu was-salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Seluruh makhluk di muka bumi pada hakikatnya diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Sehingga apabila seseorang mengaku beriman kepada Allah ﷻ, maka keimanannya tersebut harus dibuktikan dengan amal shalih. Dalam pengertiannya, amal shalih merupakan simbol dari kemurnian hati yang diwujudkan melalui perkataan maupun perbuatan[1]. Amal  sendiri bisa dilakukan dalam bentuk apapun, mulai dari mengerjakan amalan wajib seperti shalat, berpuasa, dan berhaji, ataupun mengerjakan amalan-amalan sunnah seperti bersedekah, berdzikir, menolong sesama, dan masih banyak lagi.

Amal  merupakan jembatan bagi seorang hamba agar selalu dekat dengan Allah ﷻ. Dengan amal  pula seorang hamba dapat meraih kemuliaan dan kedudukan yang tinggi disisi Allah ﷻ. Agar dapat memperoleh kedudukan tinggi tersebut, selayaknya seorang hamba melakukan amal  dengan bersungguh-sungguh disertai dengan sikap yang konsisten.

Ada sebuah ungkapan bijak yang mengatakan “mendapatkan lebih mudah daripada mempertahankan”. Ungkapan tersebut agaknya cukup relevan dengan konteks keimanan manusia yang sifatnya berubah-ubah. Manusia begitu mudah memulai perbuatan baik, tapi disisi lain sangat sulit bagi mereka untuk tetap istiqomah dalam melakukannya. Maka tak heran, Allah ﷻ sangat mencintai hamba-Nya yang memiliki sifat istiqomah. Rasulullah ﷺ berkata pada Jabir bin Sulaim, “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722)[2]

Makna Istiqomah

Istilah istiqomah berasal dari bahasa Arab yaitu qawama yang artinya berdiri tegak lurus[3]. Huruf-huruf yang menyusun kata istiqomah ada 3, diantaranya huruf qâf, wa, dan mim. Dimana ketiga huruf ini memiliki 2 makna, yaitu sekelompok manusia (kaum) dan berdiri tegak/tekad yang kuat[4]. Jadi, istiqomah berarti tegak di hadapan Allah disertai dan meneguhkan hati untuk tetap berbuat kebenaran serta memenuhi janji yang berkaitan dengan niat, ucapan, dan perbuatan[5].

Keutamaan Orang yang Istiqomah Menurut al-Qur’an

  1. Allah ﷻ menjanjikan surga kepada orang yang istiqomah (Q.S Fushilat ayat 30)

Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah, ” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Q.S Fushilat [41]: 30)

Allah ﷻ berjanji akan mengirimkan malaikat-Nya kepada orang-orang yang berlaku istiqomah saat mereka sudah wafat nanti untuk memberikan kabar gembira kepada mereka, seraya mengatakan “janganlah kalian merasa khawatir terhadap masa yang akan datang, dan janganlah kalian merasa sedih terhadap apa yang telah berlalu. Sesungguhnya Allah ﷻ telah menjanjikan kepada kalian ganjaran surga atas keistiqomahan kalian, dan Allah ﷻ tidak pernah ingkar akan janjiNya.”[6]

  1. Akan mendapat pertolongan dari Allah ﷻ baik di kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat (Q.S Fushilat ayat 31)

Allah ﷻ berfirman,  “Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Fushilat [41]: 31)

Ada beberapa malaikat yang ditugaskan Allah ﷻ untuk memberi perlindungan kepada orang yang bersikap istiqomah. Malaikat-malaikat tersebut atas izin Allah ﷻ akan menjadi penolong bagi mereka di kehidupan dunia dan akan terus menjadi penolong mereka di kehidupan akhirat. Serta, Allah ﷻ akan senantiasa membimbing mereka kepada jalan yang benar[7].

  1. Orang yang istiqomah akan diliputi ketenangan (Q.S al-Ahqâf ayat 13)

Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (Q.S al-Ahqâf [46]: 13)

Keistiqomahan akan mengantarkan kita pada perasaan tenang serta menjauhkan kita dari kekhawatiran akan urusan duniawi. Perasaan tenang yang kita miliki hanya bisa datang dari Allah ﷻ, dan Allah ﷻ tidak akan memberikan ketenangan pada hati yang tidak istiqomah dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Oleh sebab itu, perasaan tenang hanya Allah ﷻ anugerahkan kepada hambaNya yang senantiasa berlaku istiqomah, sebab Allah ﷻ sangat mencintai amalan yang sedikit tapi kontinyu. Dengan cara mengulang-ulang perbuatan amal , hati seorang hamba akan semakin terikat dengan zat Allah ﷻ[8].

Cara Agar Tetap Istiqomah Mengerjakan Amal

  1. Meneguhkan hati. Orang yang memiliki keteguhan hati akan lebih mudah meraih keberhasilan dalam hal apapun.
  2. Memulai dari hal yang kecil. Perbuatan-perbuatan sederhana selalu menjadi awal mula terealisasinya pencapaian yang besar. Begitupun dalam hal kebaikan, segala kebaikan akan lebih mudah dilakukan apabila kita memulainya dengan hal-hal kecil.
  3. Bergaul dengan orang yang. Lingkungan dan pergaulan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam bersikap. Jika kita menginginkan hati yang selalu terpaut dengan Allah ﷻ, maka bertemanlah dengan orang yang selalu mengingat Allah ﷻ, dan jika kita ingin tetap istiqomah mengerjakan amal , maka bertemanlah dengan ahli ibadah.[9].
  4. Perbanyak doa kepada Allah ﷻ agar diberi keistiqomahan.

Mutiara Hikmah

Rasulullah ﷺ besabda:

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّة وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

“ Sesungguhnya setiap amal ada masa-masa rajin , dan setiap masa rajin itu ada masa-masa malasnya, maka siapa saja yang masa-masa malasnya tetap di atas sunnahku maka dia akan beruntung, dan barangsiapa yang masa malasnya tidak seperti itu maka dia akan binasa.” (HR. Ahmad no. 6764)[10]

Marâji’:

[1] Aviyana, A. (2022). Relasi Amal  terhadap Keimanan dalam Perspektif Al-Qur’an (Kajian Tafsir Al-Munir Karya Wahbah Az-Zuhaili) (Doctoral dissertation, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten).

[2] Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih. Dikutip dari https://rumaysho.com/7598-jangan-meremehkan-berbuat-baik.html. Diakses pada 21 Oktober 2022,

[3] Zuhdi, M. H. (2011). Istiqomah dan Konsep Diri Seorang Muslim. Religia.

[4] IstiKomah, F. F. (2015). MAKNA ISTIQOMAH DALAM AL-QUR’AN (Kajian Terhadap Penafsiran Imam Ibnu Katsir, Imam Al-Maraghi, Buya Hamka) (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).

[5] Ibid. Hal.

[6] Tafsiweb.com. (2018). Surat Fushilat Ayat 30 Arab, Latin, Terjemah, dan Tafsir. Diakses pada 22 Oktober 2022, dari: https://tafsirweb.com/9012-surat-fussilat-ayat-30.html

[7] Ibid

[8] Aktual.com. (2014). Beristiqamah dalam Hidup. Diakses pada 22 Oktober 2022, dari: https://aktual.com/beristiqamah-dalam-hidup/

[9] Rumaysho.com. (2009). Kiat Agar Tetap Istiqomah (seri 2). Diakses pada 23 Oktober 2022, dari: https://rumaysho.com/733-kiat-agar-tetap-istiqomah-seri-2.html

[10] Tarbawiyah.com. (2021). Hadits 21: Istiqamah. Diakses pada 23 Oktober 2022, dari: https://tarbawiyah.com/hadits-21-istiqamah/

Download Buletin klik disini

ITSAR: ESENSI TERTINGGI ALTRUISME DALAM ISLAM

ITSAR: ESENSI TERTINGGI ALTRUISME DALAM ISLAM

Oleh: Muzakkir Fahmi

* Mahasiswa Prodi Kimia FMIPA 2021

 

Bismillâhi walhamdulillâhi washshalâtu wassalâmu ‘ala rasûlillâh.

Manusia adalah makhluk sosial. Sudah sepatutnya manusia saling membutuhkan satu sama lain dan tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh manusia lain. Seorang manusia tidak akan dapat mencapai apa yang ia inginkan tanpa bantuan dari manusia lain. Bahkan hanya dalam sekedar memenuhi kebutuhannya sehari-hari, manusia membutuhkan manusia lain untuk membantunya. Hal itu sudah mutlak dan berlaku bagi seluruh manusia di dunia. Tidak mengenal suatu kedudukan maupun kekayaan, setiap manusia pasti membutuhkan manusia lainnya.

Tolong-Menolong dalam Kebaikan

Salah satu contoh ciri-ciri perilaku manusia sebagai makhluk hidup adalah gotong royong dan tolong menolong. Gotong royong adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang sama dan merasakan hasil dan manfaat secara bersama-sama dengan adil. Tolong menolong berasal dari kata dasar tolong yang memiliki arti membantu untuk meringankan beban penderitaan, kesukaran, dan sebagainya. Jadi tolong menolong adalah sikap saling membantu untuk meringankan kesulitan yang dirasakan orang lain.

Tolong menolong adalah budaya yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, bahkan menjadi suatu perintah yang wajib dilakukan oleh semua manusia sebagai hamba Tuhan agar dapat mewujudkan kebaikan dan ketakwaan. Allah ﷻ berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (Q.S. al-Ma’idah [5]: 2)

Makna Altruisme = al-Itsar

Tolong menolong adalah salah satu output dari karakteristik altruisme. Altruisme adalah sikap atau naluri untuk memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Secara etimologi, altruisme adalah istilah yang diambil dari beberapa kata dari berbagai bahasa. Kata autrui yang merupakan bahasa Spanyol berarti orang lain. Menurut Auguste Comte dalam bahasa Perancis, altruisme berasal dari kata alter yang berarti yang lain atau lain. Lebih jelasnya lagi dalam kamus ilmiah menerangkan bahwa istilah altruisme mempunyai arti suatu pandangan yang menekankan kewajiban manusia memberikan pengabdian, rasa cinta, dan tolong-menolong terhadap sesama.[1]

Altruisme sendiri adalah antonim dari egoisme. Taufik menyebutkan dalam bukunya Empati: Pendekatan Psikologi Sosial, Comte membedakan antara perilaku menolong yang altruis dengan perilaku menolong yang egois. Menurutnya dalam memberikan pertolongan, manusia memiliki dua motif, yaitu altruis dan egois. Kedua dorongan tersebut sama-sama ditujukan untuk memberikan pertolongan. Perilaku menolong yang egois memiliki tujuan yang justru mencari manfaat dari orang yang ditolong. Sedangkan perilaku menolong altruis adalah perilaku menolong yang ditujukan semata-mata untuk kebaikan orang yang ditolong. Altruisme dapat didefinisikan sebagai hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan sendiri.[2]

Dalam buku Psikologi Sosial Islam, Fuad Nashori mengutip pernyataan Cohen. Menurutnya ada tiga ciri-ciri perilaku altruisme, yaitu: a. Empati, yaitu kemampuan untuk merasakan perasaan yang dialami oleh orang lain; b. Keinginan memberi, yaitu maksud hati untuk memenuhi kebutuhan orang lain; dan c. Sukarela, yaitu apa yang diberikan itu semata-mata untuk orang lain, tidak ada keinginan untuk memperoleh imbalan. Sedangkan oleh Fuad, menurut pernyataan Leeds, suatu tindakan dapat disebut perilaku altruisme apabila memenuhi tiga kriteria sebagai berikut: a. Tindakan tersebut bukan kepetingan pribadi; b. Tindakan tersebut dilakukan secara sukarela. c. Hasilnya baik bagi yang menolong maupun yang ditolong.[3]

Dalam Islam, altruisme dapat diartikan sebagai al-itsar. Itsar secara bahasa berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘altruisme’, adalah mendahulukan orang lain dari pada dirinya sendiri. Seseorang disebut telah berpribadi itsar dalam kehidupan sehari-hari apabila telah mampu memandang kebutuhan dan kepentingan orang lain lebih penting dari pada kepentingan pribadinya sendiri. Itsar juga bisa diartikan sebagai suatu konsep perilaku sosial yang memberikan perlakuan kepada orang lain seperti perlakuan kepada dirinya sendiri. Secara garis besar, pengertian itsar adalah “tindakan mendahulukan orang lain atas dirinya sendiri dalam hal keduniaan dengan sukarela karena semata mengharapkan akhirat”.[4]

Puncak Itsar

Al-Jurjani dalam kitab asy-Syamali menambahkan kata kunci sekaligus memberi konteks yang jelas mengenai itsar yaitu, itsar sebagai ‘puncak ukhuwah’. Berdasarkan kata kunci ini maka dapat dipahami bahwa tindakan itsar tidak muncul secara tiba-tiba. Itsar tumbuh seiring tumbuhnya rasa persaudaraan, ukhuwwah, melalui pendidikan, latihan dan pembiasaan seiring pertumbuhan usia seseorang.[5]

Maka dapat dikatakan bahwa pribadi mu’tsir, yang memiliki itsar, dapat tumbuh dengan baik jika dilandasi tumbuhnya kondisi mental yang sehat, empatik, mampu dan percaya kepada diri dan orang lain. Dengan landasan ini seseorang mampu menjalin hubungan yang tulus, dan berkomunikasi dengan jujur, serta membangun persaudaraan yang dekat dengan orang lain. Sebab hanya dengan kondisi psikologis dan tingkat pemahaman tersebut seseorang mampu mencapai puncak persaudaraan yaitu itsar, yang ditandai dengan kerelaan bekerja sama, menolong dan berkorban untuk orang lain dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan dari sesama, tetapi meniatkan dengan ikhlas hanya untuk Allah ﷻ.

Itsar juga adalah suatu keutamaan jiwa yang mana dengannya seseorang menahan sebagian dari kebutuhannya yang menjadi miliknya sampai ia memberikannya kepada mereka yang pantas mendapatkannya agar menghindarkan hati dari sifat kikir. Kikir adalah sifat tercela yang harus dijauhi oleh seorang Muslim. Rasulullah ` bersabda: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang kikir dengan apa yang telah diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya itu baik bagi mereka, justru itu buruk bagi mereka. Mereka akan menerima apa yang mereka pelit pada hari kiamat.”[6]

Kedermawanan adalah sifat menghabiskan banyak harta dengan mudah dari diri sendiri dalam hal-hal yang bernilai besar untuk manfaat besar terhadap maslahat khalayak umum. Kedermawanan juga merupakan output dari itsar agar menghindarkan hati dari penyakit. Seorang pria bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apa aspek dalam Islam yang bermanfaat bagi orang lain?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Menawarkan makanan dan salam damai kepada mereka yang engkau kenal dan kepada mereka yang tidak engkau kenal“. Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk memberi makan orang lapar dan membelanjakan pada mereka yang membutuhkan[7], seperti firman Allah ﷻ: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui..” (Q.S. al-Baqarah [2]: 215) Wallâhu a’lam bisshawwâb.[]

[1] Alif Zulfikar Adi Rizky. Hubungan antara Empati dengan Perilaku Altruisme pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Skripsi. Surabaya: Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. 2021 M. hal. 10

[2]Ambar Putrisari Arum. Hubungan Antara Empati Dan Religiusitas Dengan Altruisme Pada Remaja. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Mercu Buana Yogyakarta. 2018 M. hal. 11-12

[3] Khairil. Analisis Faktorial Dimensi Altruisme Pada Relawan Bencana Alam. Skripsi. Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 2014 M. hal. 15-16

[4]  Fina Hidayati. Konsep Altruisme Dalam Perspektif Ajaran Agama Islam (Itsar). Jurnal Psikoislamika Volume 13 Nomor 1 Tahun 2016. Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. 2016 M. hal. 60

[5] Muhammad Sholeh. Hubungan Aspek-Aspek Kecerdasan Emosiaonal, Itsar dan Spiritualitas Dengan Kepuasan Kerja Guru. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia. 2011 M. hal. 62

[6] Ameur Fatma Menouar. Al-Itsar fii asy-Syari’ah al-Islamiyah. Tesis. Aljir: University of Algiers. 2001 M/1422 H. hal. 42

[7] Jacob Neusner, Altruism in World Religions. Washington D.C.: Georgetown University Press. hal. 70

Download Buletin klik disini