Rajab Bulan Mulia, Momentum Ibadah dan Muhasabah
Rajab Bulan Mulia, Momentum Ibadah dan Muhasabah
Isna Yunita
Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ba‘du.
Pembaca al-Rasikh rahimakallah, bulan Rajab merupakan salah satu bulan penting dalam kalender Islam. Ia berada pada urutan ketujuh dalam kalender Hijriah, menjelang bulan Syakban dan Ramadhandua bulan yang dikenal dengan berbagai amalan khusus dan keberkahan besar. Bulan Rajab termasuk dalam bulan haram yang dimuliakan (asyhurul hurum) oleh Allahk, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At Taubah [9]: 36).
Sejak masa sebelum Islam hingga datangnya syariat Nabi Muhammad ﷺ, bulan Rajab telah dikenal sebagai waktu yang dihormati, di mana umat manusia diajak untuk menahan diri dari berbagai bentuk kezaliman dan memperbanyak amal kebajikan.
Keistimewaan bulan Rajab tidak hanya terletak pada status kemuliaannya sebagai salah satu bulan haram, tetapi juga karena posisinya sebagai pintu gerbang menuju bulan-bulan penuh keberkahan, yakni Sya‘ban dan Ramadhan. Oleh karena itu, para ulama memandang Rajab sebagai momentum awal untuk membangkitkan kesadaran spiritual, memperbaiki hubungan dengan Allah, serta menata kembali niat dan amal agar lebih siap menyambut datangnya bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan ampunan.[1]
Pada bulan yang mulia ini, kaum muslimin selayaknya menjadikannya sebagai waktu muhasabah dan persiapan ruhani yang sungguh-sungguh. Rajab bukan sekadar bulan seremonial, melainkan kesempatan untuk membersihkan hati dari penyakit dengki dan maksiat, serta membiasakan diri dengan ketaatan yang berkesinambungan. Para ulama salaf bahkan mengibaratkan Rajab sebagai bulan menanam, Syakban sebagai bulan menyiram, dan Ramadhan sebagai bulan memanen. Maka siapa yang lalai mempersiapkan diri sejak Rajab, dikhawatirkan ia akan kehilangan banyak keutamaan pada bulan-bulan yang penuh keberkahan setelahnya.
Bulan Rajab yang mulia hadir sebagai ajakan bagi kaum Muslimin untuk memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak istigfar, dan menahan diri dari perbuatan dosa serta maksiat. Rajab menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju ketaatan adalah proses bertahap, dimulai dari niat yang lurus, muhasabah diri, hingga komitmen untuk berubah ke arah yang lebih baik. Dengan memahami makna dan kemuliaan bulan Rajab, diharapkan setiap Muslim mampu menjadikannya sebagai momentum hijrah spiritual menuju kedekatan yang lebih mendalam dengan Allahk.
Keutamaan Bulan Rajab
Secara linguistik, nama bulan Rajab berasal dari akar kata yang menggambarkan rasa takzim atau penghormatan, karena dulu suku Arab menarik tombak perang, menarik diri menghormati bulan ini dari peperangan.[2] Artinya, bulan ini merupakan periode yang dimuliakan oleh syariat Islam, tempat di mana setiap Muslim diajak untuk menjaga diri dari tindakan zalim maupun dosa. Adapun penjelasan keistimewaan bulan Rajab sebagai berikut:
- Rajab sebagai salah satu bulan suci (bulan haram), Rajab termasuk dalam empat bulan haram menurut Islam (bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram). Dalam bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk menjauhi kezaliman dan memperbanyak amal kebaikan karena bulan itu dimuliakan oleh Allahk.
- Waktu untuk meningkatkan ibadah, taubat, dan persiapan hijrah spiritual Banyak ulama mengartikan Rajab sebagai waktu bagi kaum Muslimin untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, bermuhasabah, serta mulai mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan yang akan datang.
- Momentum sejarah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad n,, Rajab dikenal sebagai bulan di mana peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad n terjadi pada tanggal 27 Rajab, yaitu peristiwa perjalanan malam beliau dari Masjidil Harâm ke Masjidil Aqsâ lalu ke Sidratul Muntaha sekaligus perintah shalat lima waktu.[3]
- Menanam kebiasaan kebaikan sebagai benih menuju Ramadhan, Ulama membandingkan Rajab sebagai waktu menanam benih ibadah, kemudian di Syakban mengairi dengan amalan tambahan, dan panennya di bulan Ramadhan. Ini menunjukkan Rajab sebagai fase awal peningkatan kualitas spiritual).
Beberapa Amalan yang Dianjurkan di bulan Rajab
- Puasa Sunnah
Puasa merupakan amalan yang dianjurkan sepanjang tahun (misalnya Senin Kamis atau Ayyamul Bidh). Meskipun hadist yang menyatakan puasa Rajab khusus banyak dianggap lemah atau palsu, puasa tetap merupakan ibadah yang dianjurkan sebagai persiapan Ramadhan dan menambah ketaqwaan kepada Allahk.[4]
- Zikir dan Istigfar
Memperbanyak zikir, membaca istigfar, dan merenungkan kekuasaan Allah kmerupakan amalan yang kapan pun dilakukan sangat dianjurkan, termasuk di bulan Rajab. Ini merupakan sarana untuk membersihkan hati dan memperbaiki niat dalam setiap aktivitas spiritual.
- Tilawah Al-Qur’an dan Tadabbur
Rajab adalah waktu yang tepat untuk menanam kebiasaan membaca Al-Qur’an dengan pemahaman, sehingga pada Ramadhannantinya ibadah membaca Al-Qur’an sudah menjadi kebiasaan yang kuat dan konsisten.
Penutup
Tidak ada amalan secara khusus yang ditetapkan secara spesifik yang berlaku dalam bulan Rajab, namun bulan Rajab merupakan bulan suci yang dimuliakan Islam salah satu dari empat bulan haram yang mengajak manusia untuk memperbanyak amal kebaikan, menjaga diri dari dosa dan kezaliman, menjalin kedamaian dan persaudaraan, menyiapkan diri secara spiritual menuju bulan Ramadhan. Mari jadikan bulan Rajab sebagai momentum memperbanyak amal saleh, membersihkan hati, dan menyiapkan diri menyambut Ramadhan dengan iman yang lebih kuat. Semoga bulan Rajab menjadi awal langkah kita untuk kembali kepada Allah k, memperbaiki diri, dan menanam amal kebaikan yang kelak berbuah keberkahan. Âmîn.
Maraji’ :
[1] Muhammad Nuh Siregar. “Reinterpretasi Hadis Tentang Keutamaan Bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan.” dalam Shahih: Jurnal Kewahyuan Islam. Volume. 1. No. 1. Tahun 2017. h. 58-69.
[2] Hariyono dan Nursodik. “Problematika Penerapan Neo Mabims dalam Penentuan Awal Bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah 1443 H di Indonesia.” dalam Al Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman, Volume. 4. No. 2. Tahun 2021. h. 358-373.
[3] Amin Munawar. “Keistimewaan Bulan Rajab.” MUI – Majelis Ulama Indonesia – MUI – Majelis Ulama Indonesia. Diakses pada tanggal 23 Desember 2025.
[4] Al manhaj. “Koreksi Terhadap Penyimpangan Umat dalan Bulan Rajab.” https://almanhaj.or.id/3088-koreksi-terhadap-penyimpangan-umat-dalam-bulan-rajab.html. Diakses pada tanggal 23 Desember 2025.
Download Buletin klik di sini










