Memuliakan Pekerja (Buruh) dalam Ajaran Islam

Memuliakan Pekerja (Buruh) dalam Ajaran Islam

Ali Muthahari

 

Kemuliaan Pekerjaan dalam Perspektif Islam

Dalam ajaran Islam, bekerja tidak pernah dipandang sebagai aktivitas yang sekadar bersifat duniawi. Ia justru memiliki dimensi ibadah ketika dilakukan dengan cara yang halal dan dilandasi niat yang baik. Karena itu, ukuran kemuliaan sebuah pekerjaan tidak ditentukan oleh tinggi atau rendahnya posisi sosial, melainkan oleh kejujuran dan kesungguhan pelakunya.

Para ulama menjelaskan bahwa para nabi sendiri telah memberikan teladan tentang pentingnya bekerja. Dalam penjelasan Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari, disebutkan bahwa Nabi Dawud memilih untuk makan dari hasil kerja tangannya sendiri meskipun beliau adalah seorang raja.[1]

Jika dipahami secara lebih luas, istilah “buruh” tidak terbatas pada mereka yang bekerja secara fisik di sektor tertentu. Setiap orang yang memberikan tenaga, waktu, atau jasanya untuk orang lain dapat termasuk dalam kategori ini.[2] Dalam konteks ini, seorang petani yang menanam padi, seorang guru yang mengajar di kelas, hingga seorang pedagang yang melayani pembeli, semuanya berbagi nilai yang sama dalam kerja mereka.

Keteladanan Para Salaf

Para tokoh besar dalam Islam bahkan menunjukkan kedekatan dengan pekerjaan yang bersifat praktis. Rasulullah ﷺ pernah menggembala kambing pada masa mudanya sebagai bagian dari proses pembentukan diri para nabi, yang melatih kesabaran dan tanggung jawab dalam memimpin umat.[3]

Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga dikenal pernah bekerja dengan menarik air dari sumur dengan imbalan satu butir kurma untuk setiap satu timba air.[4] Sementara itu, Sayyidah Fatimah tidak segan menggiling gandum sendiri tanpa bantuan pelayan, hingga meninggalkan bekas luka dan kapalan pada tangannya.[5]

Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ memerintahkan manusia untuk berusaha mencari rezeki dan bertebaran di muka bumi setelah menunaikan ibadah. Perintah ini, di antaranya, tergambar dalam firman-Nya tentang anjuran bertebaran di bumi setelah shalat untuk mencari karunia Allah.

Allah ﷻ berfirman,

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah [62]: 10).

Ayat ini menjadi dasar bahwa setelah menunaikan ibadah, manusia dianjurkan untuk bekerja dan mencari rezeki, sehingga tercapai keseimbangan antara ibadah dan aktivitas duniawi.

Dalam Tafsir al-Qurṭubî dijelaskan bahwa perintah tersebut merupakan dorongan agar manusia aktif mencari karunia Allah ﷻ setelah menunaikan ibadah.[6] Hal ini menunjukkan bahwa bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari ketaatan kepada Allah ﷻ. Dengan perspektif ini, pekerjaan sehari-hari tidak lagi dipandang sebagai rutinitas biasa, melainkan sebagai bentuk pengabdian yang memiliki nilai spiritual.

Etika Menghargai Buruh dalam Ajaran Islam

Selain memuliakan kerja, Islam juga sangat menekankan pentingnya menghargai orang yang bekerja. Rasulullah ﷺ menganjurkan agar upah diberikan sebelum kering keringat pekerja, sebagai isyarat agar hak mereka tidak ditunda.[7] Pesan ini mengandung peringatan tegas untuk tidak meremehkan jerih payah orang lain dan untuk bersikap adil dalam hubungan kerja. Nilai ini tetap relevan hingga hari ini, terutama di tengah kehidupan modern yang kerap diwarnai ketimpangan dan ketidakadilan.

Dalam kehidupan sehari-hari, menghargai buruh dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yang sederhana namun bermakna. Membayar upah tepat waktu, memperlakukan pekerja dengan hormat, serta tidak merendahkan profesi tertentu adalah bagian dari pengamalan ajaran Islam. Bahkan dalam banyak hadits, ditekankan pentingnya menunaikan hak pekerja sebelum kering keringatnya, sebagai simbol keadilan dan kepedulian terhadap sesama.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi ﷺ bersabda:

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR Ibnu Majah, shahih).

Namun demikian, sering kali tanpa disadari, kita terjebak dalam sikap yang meremehkan pekerjaan orang lain. Kita mungkin merasa tidak puas dengan pelayanan yang sedikit terlambat, tetapi lupa bahwa di balik itu ada manusia yang sedang berusaha memenuhi tanggung jawabnya. Dalam perspektif Islam, sikap seperti ini perlu diperbaiki karena bertentangan dengan nilai keadilan dan penghargaan terhadap sesama. Dengan kesadaran ini, hubungan antara pemberi kerja dan pekerja tidak lagi sekadar hubungan transaksional, tetapi juga menjadi ladang amal yang menghadirkan keberkahan dan memperkuat nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Jika direnungkan, kehidupan kita sangat bergantung pada para pekerja. Rumah yang kita tempati dibangun oleh para tukang, makanan yang kita konsumsi berasal dari kerja keras petani, dan lingkungan yang bersih terjaga oleh petugas kebersihan. Ini menunjukkan bahwa buruh bukan sekadar bagian kecil dari masyarakat, tetapi fondasi yang menopang kehidupan bersama.

Dari sini, muncul kebutuhan untuk menumbuhkan sikap empati dan penghargaan yang lebih besar terhadap mereka. Menghargai buruh tidak selalu harus diwujudkan dalam tindakan besar. Hal-hal kecil seperti mengucapkan terima kasih, bersikap ramah, dan tidak menunda hak mereka sudah merupakan langkah nyata yang sangat berarti. Dalam ajaran Islam, kebaikan sekecil apa pun memiliki nilai di sisi Allah ﷻ, terlebih jika dilakukan dengan niat yang tulus.

Pada akhirnya, kemuliaan manusia tidak diukur dari jenis pekerjaannya, tetapi dari ketakwaannya. Seorang pekerja yang jujur dan bertanggung jawab bisa memiliki derajat tinggi di sisi Allah. Maka yang perlu dijaga bukan hanya bagaimana kita bekerja, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan orang lain di sekitar kita agar nilai-nilai Islam benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Marāji’:

[1] Aḥmad ibn ʿAlî ibn Ḥajar al-ʿAsqalânî. Fatḥ al-Bârî bi Syarḥ al-Bukhârî. Taḥqîq Muḥammad Fu’âd ʿAbd al-Bâqî dan Muḥibb al-Dîn al-Khaṭîb. Mesir: al-Maktabah al-Salafiyyah. 1380–1390 H. Juz 4. h. 306.

[2] Lihat: Harry Braverman, Labor and Monopoly Capital: The Degradation of Work in the Twentieth Century, 25th Anniversary Edition (New York: Monthly Review Press, 1998), h. 261.

[3] Muḥammad Mutawallî al-Syaʿrâwî. Tafsîr al-Syaʿrâwî al-Khawâṭir. Mesir: Maṭâbiʿ Akhbâr al-Yawm. 1997 M. Juz 15. h. 9251.

[4] Abû al-Ḥasan ʿAlî ibn Muḥammad ibn Muḥammad ibn Ḥabîb al-Baṣrî al-Baghdâdî al-Mâwardî. Al-Ḥâwî al-Kabîr fî Fiqh Madzhab al-Imâm al-Syâfiʿî wa huwa Syarḥ Mukhtaṣar al-Muzanî. Taḥqîq ʿAlî Muḥammad Muʿawwaḍ dan ʿÂdil Aḥmad ʿAbd al-Mawjûd. Beirut: Dâr al-Kutub al-ʿIlmiyyah. 1419 H/1999 M. Juz 7. h. 423.

[5] Aḥmad ibn Muḥammad al-Qasṭalânî. Irsyâd al-Sârî li Syarḥ Ṣaḥîḥ al-Bukhârî. Mesir: al-Maṭbaʿah al-Kubrâ al-Amîriyyah. 1304–1305 H. Juz 8. h. 203.

[6] Abû ʿAbd Allâh Muḥammad ibn Aḥmad al-Anṣârî al-Qurṭubî. Al-Jâmiʿ li Aḥkâm al-Qur’ân. Taḥqîq Aḥmad al-Bardûnî dan Ibrâhîm Aṭfîsy. Kairo: Dâr al-Kutub al-Miṣriyyah. 1384 H/1964 M. Juz 18. h. 108.

[7] Abû al-Faḍl Aḥmad ibn ʿAlî ibn Muḥammad ibn Aḥmad ibn Ḥajar al-ʿAsqalânî. Bulûgh al-Marâm min Adillat al-Aḥkâm. Taḥqîq wa takhrîj Samîr ibn Amîn al-Zuhrî. Riyadh: Dâr al-Falaq. 1424 H. h. 272.

Download Buletin klik di sini

Refleksi Fenomena Fatherless dalam Perspektif Islam

Refleksi Fenomena Fatherless dalam Perspektif Islam

Faisal Ahmad Ferdian Syah*

 

Fenomena fatherless sering kali dibayangkan sebagai ketiadaan ayah dalam arti fisik, yaitu tidak ada di rumah atau tidak hidup bersama anak. Namun, realitas yang lebih menyakitkan justru terjadi ketika ayah hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional. Ia ada, tetapi tidak memberi arah. Ia dekat, tetapi terasa jauh. Menurut data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terdapat sekitar 25,8% atau lebih dari 1 dari 5 keluarga di Indonesia mengalami fatherless (ketidakhadiran peran ayah dalam pengasuhan). Fenomena ini menempatkan Indonesia di peringkat atas fatherless country di dunia.[1]

Gambaran ini terasa kuat dalam film “Ayah Ini Arahnya ke Mana Ya?”. Film tersebut menampilkan keluarga yang tampak utuh dari luar, namun rapuh di dalam. Dira dan Darin tumbuh bersama ayahnya, Yudi, yang selalu ada secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional—tidak menjadi tempat bertanya, penunjuk arah, maupun sandaran. Sosok ibu, Lia, justru memikul seluruh beban keluarga hingga akhirnya runtuh. Di sinilah makna fatherless menjadi nyata: bukan kehilangan sosok ayah, tetapi kehilangan peran dan fungsinya.

Dampak dari fenomena ini sangat memengaruhi perkembangan psikologis dan sosial anak. Anak yang kehilangan peran ayah rentan mengalami kesulitan dalam membentuk identitas diri, merasa kesepian (loneliness), sedih (grief), hingga memiliki kontrol diri (self-control) yang rendah. Lebih jauh lagi, ketiadaan figur ayah membuat anak berisiko memiliki harga diri (self-esteem) yang rendah saat dewasa, serta mengalami penurunan kesejahteraan psikologis (psychological well-being).[2] Mereka tidak hanya kehilangan sosok, tetapi juga kehilangan arah.

Memahami Kembali Konsep Qawwam

Islam secara tegas menetapkan laki-laki sebagai pemimpin bagi keluarganya. Konsep ini merujuk pada firman Allah ﷻ:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS An-Nisa [4]: 34).

Kata pemimpin atau qawwam dalam ayat tersebut tidak semata-mata bermakna penguasa yang bertindak otoriter di dalam rumah tangga. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa qawwam mencakup makna sebagai pendidik, pelindung, pengayom, dan pihak yang meluruskan manakala terjadi penyimpangan nilai di dalam keluarga. Artinya, tanggung jawab seorang ayah mencakup pembinaan moral dan spiritual anak-anaknya. Ketika seorang ayah sibuk bekerja dari pagi hingga larut malam dan menyerahkan urusan anak sepenuhnya kepada gawai (gadget) atau lembaga sekolah, ia pada hakikatnya telah meninggalkan sebagian besar dari amanah qawwam tersebut.

Ayah Pendidik Utama dalam Al-Qur’an

Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa pendidikan anak secara mutlak adalah tugas ibu. Memang benar pepatah mengatakan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, namun yang sering dilupakan adalah bahwa kepala madrasah tersebut adalah seorang ayah. Menariknya, jika kita menelaah kisah-kisah pengasuhan di dalam Al-Qur’an, dialog antara ayah dan anak justru jauh lebih banyak direkam dibandingkan dialog antara ibu dan anak. Hal ini merupakan pesan tersirat yang sangat kuat bagi umat Islam bahwa ayah harus turun tangan langsung dalam menanamkan tauhid dan akhlak anak.

Salah satu contoh paling agung yang diabadikan adalah kisah Luqmanul Hakim. Al-Qur’an merekam dengan indah nasihat seorang ayah kepada anaknya tentang fondasi akidah, yakni larangan berbuat syirik, perintah mendirikan shalat, dan adab bermasyarakat. Allah ﷻ berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS Luqman [31]: 13).

Nasihat ini membuktikan bahwa menyelamatkan akidah keluarga adalah kewajiban ayah. Ayah tidak hanya dituntut untuk memastikan ketersediaan makanan dan pakaian di meja makan, tetapi juga bertanggung jawab atas keselamatan anak dari ancaman akhirat. Allah secara eksplisit memberikan peringatan. Allah ﷻ berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At-Tahrim [66]: 6).

Keteladanan Rasulullah dalam Pengasuhan

Nabi Muhammad ﷺ adalah role model paripurna mengenai bagaimana sosok ayah dan kakek yang sangat penyayang serta hadir utuh secara jiwa bagi keluarganya. Beliau menepis anggapan jahiliyah bahwa laki-laki sejati harus bersikap keras, kaku, dan tidak mengurusi anak-anak. Sebaliknya, Rasulullah ﷺ tidak segan untuk memangku, mencium, dan bermain bersama cucu-cucunya, Hasan dan Husain, bahkan membiarkan mereka menaiki punggung beliau saat sedang sujud.

Dari Abu Hurairah menceritakan suatu ketika, “Nabi ﷺ mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqra’ berkata, ‘Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.’ Maka Rasulullah ﷺ pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata,

مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi.” (HR Bukhari, no. 5997 dan Muslim, no. 2318).

Kasih sayang dan kelembutan yang ditunjukkan oleh Nabi ini mengajarkan kita bahwa keterikatan emosional (bonding) antara ayah dan anak adalah kunci utama pembentukan jiwa yang sehat. Anak yang merasa dihargai, didengarkan, dan dicintai oleh ayahnya akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh menghadapi tantangan dunia luar.

Menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dan godaan arus informasi yang tidak terbendung, fenomena fatherless harus segera disadari dan diakhiri oleh keluarga muslim. Ayah harus kembali “pulang” ke rumah. Pulang bukan sekadar membawa materi, tetapi membawa cinta, telinga untuk mendengarkan, serta keteladanan untuk dicontoh. Dengan mengembalikan peran ayah sebagai murabbi atau pendidik utama, sejatinya kita sedang membangun fondasi peradaban Islam yang kokoh di masa depan.

* Alumnus Prodi Ahwal Syakhshiyah IP FIAI UII

Marāji’:

[1] Humas Kemendukbangga Satu, “Kemendukbangga: Angka ‘Fatherless’ Pada Ayah Tak Bekerja Lebih Tinggi,” Bkkbn, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, 28 November 2025, https://www.kemendukbangga.go.id/posts/08992969-8a1a-4c28-82d4-ebae487e76c1-kemendukbangga-angka-fatherless-pada-ayah-tak-bekerja-lebih-tinggi.

[2] Desi Widiya Puzi Astuti dan Bashori Bashori, “Fenomena Fatherless Dalam Perspektif Al-Qur’an (Kajian tentang Relasi Ayah dan Anak dalam Kisah Al-Qur’an),” Fathir: Jurnal Studi Islam 2, no. 1 (2025): 70–81, https://doi.org/10.71153/fathir.v2i1.180.

Download Buletin klik di sini

Keutamaan Beramal di Bulan Haram

Keutamaan Beramal di Bulan Haram

Tan Lie Yong

 

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh, waba’du.

Hari ini kita berada di antara bulan-bulan haram, memasuki awal Dzulqa’dah—sebuah waktu yang dimuliakan oleh Allah ﷻ. Ini bukan sekadar pergantian bulan, tetapi momentum berharga yang mengingatkan bahwa ada waktu-waktu istimewa dalam hidup yang tidak sepatutnya berlalu tanpa makna.

Allah ﷻ telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa dari dua belas bulan yang ada, terdapat empat bulan yang memiliki keistimewaan dan kemuliaan tersendiri. Maka ketika kita berada di dalamnya, itu bukan sekadar pergantian waktu, melainkan peluang besar untuk meningkatkan amal sekaligus meluruskan kembali tujuan hidup, bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada-Nya.

Bulan-Bulan yang Dimuliakan oleh Allah

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ

Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian dalam bulan-bulan itu.” (QS At-Taubah [9]: 36).

Ibnu Abbas menafsirkan ayat di atas,

فِي كُلِّهِنَّ، ثُمَّ اخْتَصَّ مِنْ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حَرَامًا، وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ، وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيهِنَّ أَعْظَمَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالْأَجْرَ أَعْظَمَ.

“(Janganlah kalian menganiaya diri kalian) dalam seluruh bulan. Kemudian Allah mengkhususkan empat bulan sebagai bulan-bulan haram dan Allah pun mengagungkan kemuliaannya. Allah juga menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan didalamnya lebih besar. Demikian pula, Allah pun menjadikan amalan shalih dan ganjaran yang didapatkan didalamnya lebih besar pula”.[1]

Dinamakan Bulan Haram

Al Qodhi Abu Ya’la berkata, “Dinamakan bulan haram karena dua makna:

1- Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

2- Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (tafsir surat At Taubah ayat 36)[2]

Mengenai empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi ﷺ bersabda:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Ibnu ’Abbas c mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan shaleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”[3]

Hikmah Beramal di Bulan-Bulan Haram

Di antara keutamaan dan hikmah beramal shalih pada bulan-bulan haram adalah:

Pertama, pahala dilipatgandakan dan nilainya lebih agung di sisi Allah ﷻ. Amal yang dilakukan pada waktu-waktu mulia tidaklah sama dengan waktu lainnya. Ini menjadi peluang besar bagi seorang hamba untuk memperbanyak tabungan akhirat dengan usaha yang mungkin sama, namun ganjarannya lebih besar.

Dalam firman Allah di surah At Taubah ayat 36, ketika Allah ﷻ mengkhususkan empat bulan haram sebagai waktu yang dimuliakan. Para ulama menjelaskan bahwa pengkhususan ini menunjukkan adanya kelebihan dalam pahala amal shalih dan juga beratnya dosa jika dilakukan di dalamnya.

Allah ﷻ berfirman:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS Al An’am [6]: 160).

Kedua, dosa dan kemaksiatan pada bulan-bulan haram memiliki konsekuensi yang lebih berat. Hal ini menjadi peringatan agar seorang mukmin lebih berhati-hati dalam menjaga diri, lisan, dan perbuatannya. Jika kebaikan dilipatgandakan, maka pelanggaran pun semakin besar dampaknya.

Larangan dalam surah At-Taubah ayat 36, “Janganlah kalian menzalimi diri kalian di dalamnya,” menunjukkan bahwa dosa pada bulan-bulan haram lebih ditekankan untuk dijauhi. Allah ﷻ juga berfirman:

وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Barang siapa yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang pedih.” (QS Al-Hajj [22]: 25).

Ayat ini menegaskan bahwa niat berbuat dosa di waktu atau tempat yang dimuliakan saja sudah mendapat ancaman, apalagi jika dilakukan. Ini menunjukkan bahwa kemaksiatan pada waktu mulia memiliki akibat yang lebih berat.

Ketiga, momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah. Bulan-bulan haram bukan hanya tentang kuantitas amal, tetapi juga kualitasnya—bagaimana kita menghadirkan keikhlasan, kekhusyukan, dan ittiba’ (mengikuti sunnah) dalam setiap ibadah yang dilakukan.

Allah ﷻ berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

(Allah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS Al-Mulk [67]: 2).

Allah tidak mengatakan “paling banyak amalnya”, tetapi paling baik (أحسن), yaitu paling ikhlas, paling sesuai dengan sunnah.

Keempat, mendorong semangat berlomba dalam kebaikan. Kesadaran bahwa kita berada di bulan yang dimuliakan akan menumbuhkan motivasi untuk tidak menyia-nyiakan waktu, tetapi justru mengisinya dengan berbagai amal terbaik.

Allah ﷻ berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.” (QS Al-Baqarah [2]: 148).

Allah ﷻ berfirman:

أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan mereka adalah orang-orang yang paling dahulu memperolehnya.” (QS Al-Mu’minun [23]: 61)

Kelima, waktu yang tepat untuk memperbanyak taubat dan kembali kepada Allah. Siapa pun yang ingin memperbaiki diri, maka inilah saat yang sangat tepat untuk memulai—meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan amal shalih.

Allah ﷻ berfirman:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya.” (QS Hud [11]: 3).

Dengan memahami keutamaan-keutamaan ini, seorang mukmin akan lebih peka terhadap waktu dan berusaha menjadikan bulan-bulan haram sebagai titik loncatan menuju kehidupan yang lebih taat dan bermakna.

Marāji’:

[1] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Beirut: Dar Thayyibah, 1999, jili. 4, h. 148.

[2] Ibnul Jauzi, Zâdul Masîr fi ‘ilm al-Tafsîr, Beirut: Dar Ibnu Hazm, 2002, Jilid 3. h. 414.

[3] Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ’if al-Ma‘ârif fîmâ li Mawâsim al-‘Âm min al-Wazhâ’if, Beirut: Dâr Ibn Hazm, h. 207.

Download Buletin klik di sini

Syukur yang Jarang Kita Lakukan

Syukur yang Jarang Kita Lakukan

Nabila Mumtazah Priyatna*

 

Apakah Sudah Bersyukur Hari Ini?

Apakah ada hal yang telah kita syukuri hari ini? Kita bisa bangun pagi, masih bernapas, membuka mata, menggerakkan kaki, air masih mengalir di kamar kos, serta dapat melaksanakan salat Subuh dengan sempurna. Lalu, bagian mana yang sudah kita syukuri?

Siang ini, tiba-tiba kelas ditiadakan karena dosen tidak hadir, padahal kita sudah sampai di kampus. Dalam situasi seperti ini, apakah kita lebih banyak mengeluh, atau justru bersyukur karena diberi waktu luang?

Selama kita hidup, apakah kita sudah bersyukur masih diberi kehidupan yang baik? Sudahkah kita bersyukur masih bisa bertemu orang-orang yang kita sayangi? Sudahkah kita bersyukur masih bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna? Jika segala nikmat besar yang Allah ﷻ berikan dalam hidup ini saja belum kita syukuri, bagaimana kita bisa mensyukuri nikmat kecil yang bahkan tidak kita sadari?

Allah ﷻ berfirman:

وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ

“Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (QS Luqman [31]: 12).

Luasnya Nikmat Allah

Imam Ibnul Qayyim menuliskan bahwa nikmat yang Allah ﷻ berikan itu ada dua macam:[1]

Pertama, nikmat mutlak. Nikmat mutlak adalah nikmat yang berhubungan langsung dengan kebahagiaan yang abadi di akhirat. Nikmat tersebut adalah ketika Allah ﷻ memerintahkan kita untuk melaksanakan shalat agar kita ditunjukkan kepada jalan yang benar. Mereka adalah golongan orang-orang yang dipilih oleh Allah ﷻ dan dijadikan sebagai penghuni surga dengan derajat yang paling tinggi. Sebagaimana firman-Nya,

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS An-Nisa’ [4]: 69).

Kedua, nikmat muqayyadah atau nikmat yang terbatas seperti kesehatan, kekayaan, dan semisalnya. Nikmat ini bisa dimiliki oleh orang yang baik maupun jahat, orang yang beriman maupun yang kafir. Namun, nikmat untuk orang kafir ini hanya sebatas penundaan siksa karena mereka tetap akan mendapatkan azab.

Hal ini sebagaimana yang Allah ﷻ sampaikan dalam firman-Nya,

فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ. وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ. كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَ.

Adapun manusia, apabila Rabb-nya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, ia berkata, ‘Rabb-ku telah memuliakanku.’ Namun apabila Rabb-nya mengujinya dan membatasi rezekinya, ia berkata, ‘Rabb-ku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak demikian.” (QS Al-Fajr [89]: 15–17)

Maksudnya adalah tidak semua yang Allah ﷻ muliakan di dunia ini diberikan nikmat oleh-Nya. Sebaliknya, tidak semua orang yang tidak diberi rezeki oleh Allah ﷻ adalah orang yang dihinakan. Allah ﷻ menguji hamba-Nya, baik dengan nikmat maupun musibah.

Bagaimana Cara Kita Bersyukur?

Ibnul Qayyim mengungkapkan syukur itu hendaknya dilakukan dengan hati yaitu berupa kerendahan hati dan kepasrahan, dengan lisan berupa pujian dan pengakuan, dan dengan anggota tubuh berupa ketaatan dan kepatuhan.[2]

Abu Hazm juga berkata, “Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan.”[3]

Bersyukur tidak hanya sebatas mengucapkan “Alhamdulillah” akan tetapi juga mengerahkan seluruh anggota badan untuk bersyukur seperti semakin meningkatnya keimanan kita kepada Allah, memperbanyak taat dan menjalani perintah-Nya, serta menjauhi hal-hal yang diharamkan-Nya.

Melatih Syukur Sebagai Sikap Dalam Hidup

Allah ﷻ berfirman:

وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim [14]: 34).

Apabila kita hanya mensyukuri nikmat Allah yang berupa harta, padahal nikmat yang Allah berikan mencakup segala hal yang sering tidak kita sadari, lalu bagaimana kita dapat mensyukurinya?

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR Ahmad, 4/278).[4]

Manusia adalah makhluk yang lalai, sehingga kedua nikmat yang senantiasa melekat di dirinya jarang sekali ia syukuri, namun ketika kedua nikmat itu diambil, banyak sekali ia mengeluh dan memintanya kembali.

Dari Ibnu Abbas, dia berkata, Nabi ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR Bukhari no. 6412).

Mengapa Harus Menjadi Hamba yang Bersyukur?

Syukur adalah sifat para nabi, meskipun ditimpa berbegai ujian dan cobaan, mereka adalah orang-orang yang tetap bersyukur. Allah ﷻ berfirman tentang Nabi Nuh:

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

“(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang banyak bersyukur” (QS Al-Isra [17]: 3).

Syukur adalah sifat orang beriman. Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Syukur merupakan sebab datangnya ridha Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS Az-Zumar [39]: 7).

Syukur menjadi sebab ditambahnya kenikmatan.

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim [14]: 7).
Jika nikmat Allah ﷻ begitu luas dan tak terhitung, maka sudah sepatutnya kita senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan. Mari melatih diri untuk menyadari dan mensyukuri setiap nikmat, agar kita termasuk hamba yang diridhai-Nya.

Marāji’:

*Ahwal Syakhshiyah IP 2023.

[1] Ibnul Qayyim. Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah. Maktabah Syamilah, (1988), h. 33-36.

[2] Ibnul Qayyim. Madarij As-Salikin, Beirut: Darul Kitab Al-Arabi, bab 2. h. 237.

[3] Ibnu Rajab Al-Hanbali. Jami`ul `Ulum wal Hikam. Maktabah Syamilah, (1998), jilid 2 h.84.

[4] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667.

Download Buletin klik di sini

Agar Terhindar dari Riya’ dalam Menampakkan Amal

Agar Terhindar dari Riya’ dalam Menampakkan Amal

Ali Muthahari*

 

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh, waba’du.

Media sosial saat ini kerap menampilkan berbagai perilaku yang menyimpang dari nilai etika dan moral agama karena terus-menerus terlihat, sehingga pelanggaran terhadap aturan agama perlahan dianggap sebagai hal yang biasa oleh masyarakat. Akibatnya, rasa tabu pun semakin berkurang; orang tidak lagi merasa sungkan untuk memperlihatkan kemaksiatannya.

Dalam kondisi seperti ini, menampakkan amal kebaikan sebagai bentuk syiar menjadi penting, sebagai upaya menghadirkan penyeimbang terhadap arus tersebut. Namun, tidak sedikit orang yang ragu melakukannya karena khawatir terjerumus ke dalam riya’.

Tulisan ini mengajak pembaca untuk menggeser cara pandang (wijhatun naẓar) dalam melihat dan menampakkan amal kebaikan.

Memahami Riya’

Secara umum, riya’ dipahami sebagai kecenderungan hati yang mencintai pujian, membenci celaan, serta memiliki hasrat agar dirinya diterima, diakui, dan dihormati oleh manusia.[1] Ia bukan sekadar perilaku lahiriah, melainkan penyakit batin yang halus dan kerap tersembunyi di balik amal kebaikan.

Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ra’ā–yurā’ī–murā’ātan, yang bermakna memperlihatkan sesuatu agar dilihat oleh orang lain. Adapun secara istilah, Imam Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa riya’ adalah upaya mencari kedudukan di hati manusia melalui ibadah yang dilakukan.[2]

Dari definisi tersebut, dapat dipahami bahwa riya’ tidak semata berkaitan dengan tampilan lahir suatu amal, melainkan lebih mendasar pada orientasi hati—yakni kepada siapa sebenarnya amal itu ditujukan. Dengan kata lain, yang menjadi inti persoalan bukan sekadar apakah amal itu terlihat atau tersembunyi, tetapi apakah ia dipersembahkan untuk Allah atau justru diarahkan untuk meraih penilaian manusia.

Hakikat Riya’

Ada kisah menarik dari seorang mujtahid besar abad ke-2 H, Sufyan ats-Tsauri. Dalam sebuah riwayat, ia berkata:

“Aku terus-menerus terjerumus dalam riya’ tanpa menyadarinya, hingga aku duduk bersama Abu Hasyim, lalu darinya aku belajar meninggalkan riya’.”[3]

Riwayat ini memberikan isyarat kuat bahwa riya’ adalah penyakit yang sangat halus; bahkan seorang ulama besar pun dapat terjebak di dalamnya tanpa disadari. Meski tidak ditemukan penjelasan rinci tentang apa yang diajarkan Abu Hasyim, pemahaman tersebut dapat ditelusuri melalui murid Sufyan, yakni Fudhail bin ‘Iyadh—seorang mantan perampok yang kemudian bertransformasi menjadi ulama besar, dikenal karena sikap wara’ dan kezuhudannya.[4]

Ia menjelaskan dengan sangat tajam: meninggalkan amal karena pertimbangan manusia termasuk riya’, sementara beramal demi manusia merupakan bentuk kesyirikan.[5] Adapun keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkan seseorang dari kedua sikap tersebut.

Penjelasan ini memperdalam pemahaman kita bahwa ukuran riya’ tidak semata pada tampak atau tidaknya sebuah amal, melainkan pada dorongan batin yang melatarbelakanginya. Dengan demikian, yang dituntut dari seorang hamba bukan hanya menyembunyikan amal, tetapi meluruskan niat agar tetap terarah kepada Allah semata, baik dalam keadaan tersembunyi maupun ketika terlihat oleh manusia.

Akar Riya’, Ketergantungan pada Penilaian Manusia

Dengan demikian, akar riya’ muncul ketika seseorang menjadikan penilaian manusia sebagai tolok ukur utama dalam menentukan apakah ia akan beramal atau meninggalkannya. Keputusan untuk berbuat atau tidak berbuat kebaikan tidak lagi berlandaskan niat karena Allah, melainkan dipengaruhi oleh bagaimana orang lain akan memandang dirinya.

Sebagai contoh, seseorang yang bersedekah dalam jumlah besar demi memperoleh pujian jelas telah keliru arah, karena amalnya bergantung pada penilaian manusia. Namun di sisi lain, orang yang sebenarnya mampu berbuat kebaikan tetapi justru menahannya karena takut dipuji, pada hakikatnya masih terikat pada pandangan manusia. Dalam kedua kondisi tersebut, hati belum sepenuhnya tertuju kepada Allah, sehingga keduanya sama-sama belum terbebas dari riya’.

Oleh karena itu, menghindari riya’ tidak cukup hanya dengan menahan diri dari amal yang tampak. Yang lebih penting adalah memperbaiki cara memandang amal itu sendiri. Amal tidak seharusnya diposisikan sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai amanah yang Allah titipkan kepada hamba-Nya. Dengan cara pandang ini, perhatian tidak lagi tertuju pada bagaimana diri terlihat di hadapan manusia, tetapi pada bagaimana amal itu bernilai di sisi Allah.

Dalam praktiknya, menjaga keikhlasan niat bukanlah perkara mudah. Rasa bangga terhadap amal yang telah dilakukan kerap muncul tanpa disadari. Namun, ketidaksempurnaan niat bukan alasan untuk meninggalkan kebaikan. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang beriman diperintahkan untuk menaati Allah dan Rasul serta tidak membatalkan amal-amal yang telah mereka kerjakan (QS Muhammad [47]: 33).

Menggeser Orientasi Amal

Karena itu, kunci untuk menghindari riya’ terletak pada perubahan orientasi. Amal tidak lagi dipandang sebagai hasil usaha pribadi, melainkan sebagai bagian dari kehendak Allah. Kita bukan pelaku utama, tetapi perantara dari apa yang Allah tetapkan.

Sebagai ilustrasi, ketika seseorang berkontribusi dalam pembangunan masjid, yang seharusnya tumbuh bukan rasa bangga, melainkan kesadaran bahwa berdirinya masjid tersebut adalah kehendak Allah. Ia hanyalah salah satu jalan dari sekian banyak sebab yang Allah hadirkan. Dengan cara pandang seperti ini, ruang bagi riya’ akan semakin menyempit.

Pandangan ini sejalan dengan penjelasan para ulama bahwa ketika seseorang menyadari seluruh perbuatan terjadi atas kehendak Allah, maka kekaguman terhadap diri sendiri dan kecenderungan riya’ akan berkurang. Kesadaran inilah yang menjaga hati tetap lurus, meskipun amal ditampakkan sebagai bagian dari syiar.

Dengan demikian, riya’ bukan semata persoalan apakah amal itu terlihat atau tidak, melainkan ke mana arah hati saat melakukannya. Selama orientasi tetap tertuju kepada Allah, bukan kepada manusia, maka menampakkan kebaikan dapat menjadi bagian dari dakwah yang mencerahkan, bukan sekadar pencitraan.

Marāji’:

* Santri Pondok Pesantren UII

[1] Abû Hâmid Muhammad bin Muhammad al-Ghazâlî, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, Beirût: Dâr al-Ma‘rifah, 1420–1421 H/2000 M, Jilid. 3, h. 356.

[2] Muhammad Nawawî al-Jâwî al-Bantanî, Nashâ’ih al-‘Ibâd fî Bayân Alfâzh al-Munabbihât ‘alâ al-Istî‘dâd li Yaum al-Ma‘âd, Singapura: al-Maktabah al-Islâmiyyah, 1348–1349 H/1930 M, h. 61.

[3] Abû Nu‘aym Ahmad bin ‘Abdullâh al-Ashbahânî, Hilyat al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Mesir: Mathba‘at as-Sa‘âdah, 1394 H/1974 M, Jilid. 10, h. 113.

[4] Syams ad-Dîn Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsmân adz-Dzahabî, Siyar A‘lâm an-Nubalâ’, Beirut: Mu’assasat ar-Risâlah, 1422 H/2001 M, Jilid 8, h. 422.

[5] Maksudnya adalah syirik kecil, lihat: ‘Abdurrahmân bin Hasan bin Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb at-Tamîmî, Fath al-Majîd Syarh Kitâb at-Tauhîd, tahqîq Muhammad Hâmid al-Fiqî, Kairo: Mathba‘at as-Sunnah al-Muhammadiyyah, 1377 H/1957 M, h. 75.

Download Buletin klik di sini

Islam Menutup Jalan Zina demi Kehidupan yang Bermartabat

Islam Menutup Jalan Zina demi Kehidupan yang Bermartabat

Muhammad Malik Nahar*

 

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh, waba’du.

Sahabat al-Rasikh rahimakumullâh, kita hidup di zaman fitnah, ketika kemaksiatan tidak lagi dianggap asing. Perzinahan yang dahulu dipandang sebagai aib besar, kini sering dianggap biasa, bahkan dilakukan terang-terangan. Faktor pendorongnya pun semakin mudah: pergaulan bebas tanpa batas, interaksi lawan jenis yang kian terbuka, serta teknologi yang justru memudahkan jalan menuju maksiat.

Padahal Allah telah menetapkan batas yang jelas antara halal dan haram, serta antara kebaikan dan keburukan. Karena itu, Islam mengharamkan zina dan seluruh jalan yang mengantarkan kepadanya, demi menjaga kehormatan diri, keluarga, dan terwujudnya kehidupan yang bersih serta bermartabat.

Islam Datang untuk Menjaga Kehormatan Manusia

Telah menjadi kaidah dalam Islam bahwa agama ini mengajak kepada setiap kebaikan dan menyempurnakannya, serta melarang setiap keburukan dan menutup jalan menuju kepadanya. Tujuan syariat adalah menjaga lima perkara pokok: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta—yang semuanya bermuara pada penjagaan kehormatan manusia.

Di antara keburukan besar yang dilarang tegas adalah zina beserta segala jalan yang mengantarkan kepadanya.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat; dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” (QS an-Nahl [16]: 90)

Dan firman-Nya:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّىَ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلْإِثْمَ وَٱلْبَغْىَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا۟ بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ سُلْطَٰنًا وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui“. (QS al-A’râf [7]: 33).

Zina dalam Islam disebut fâhisyah, yaitu perbuatan keji yang dipandang buruk oleh syariat maupun fitrah manusia.[1] Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Saya tidak tahu ada dosa yang lebih besar dari zina selain pembunuhan.”[2] Maka zina adalah dosa besar yang sangat tercela dan membawa kerusakan luas.

Dampak zina tidak hanya dirasakan di akhirat, tetapi juga nyata di dunia. Ia merusak nasab, mengaburkan garis keturunan, meruntuhkan tanggung jawab keluarga, dan menjatuhkan kehormatan pelakunya. Dari sini lahir berbagai kerusakan sosial: anak kehilangan kejelasan nasab, hak waris kacau, rumah tangga hancur, kepercayaan memudar, dan rasa malu pun hilang.

Zina juga membuka pintu permusuhan, kecurigaan, dan balas dendam.[3] Karena itu, larangan zina bukan sekadar beban hukum, melainkan rahmat Allah untuk menjaga kehormatan individu, keutuhan keluarga, dan ketenteraman masyarakat.

Islam Menutup Seluruh Jalan Menuju Zina

Karena besarnya bahaya zina, Islam tidak hanya melarang perbuatannya, tetapi juga melarang mendekatinya.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS al-Isrâ’ [17]: 32).

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa larangan “lâ taqrabû” mencakup seluruh sarana yang mengantarkan kepada zina, baik melalui pandangan, ucapan, pergaulan, maupun dorongan hati. Karena itu, Islam memerintahkan menjaga kesucian diri dan menutup pintu-pintunya: menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan (QS an-Nûr [24]: 30–31), menjaga kehormatan bagi yang belum mampu menikah (QS an-Nûr [24]: 33), tidak melembutkan suara yang mengundang fitnah (QS al-Ahzâb [33]: 32), berhijab (QS al-Ahzâb [33]: 59), menjauhi khalwat, serta anjuran menikah atau berpuasa bagi yang belum mampu. Semua ini menunjukkan bahwa Islam menjaga kehormatan manusia sejak dari pintu-pintu awalnya.

Bentuk-bentuk Zina dan Turunannya

Syariat Islam memandang zina bukan sekadar perbuatan besar yang terjadi tiba-tiba, tetapi sering diawali dari hal-hal kecil yang dianggap sepele. Karena itu, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa anggota tubuh dapat menjadi pintu menuju zina.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، والقلب تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ

“Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR Bukhari 6243 dan Muslim 2657).

Hadits ini menunjukkan bahwa zina bermula dari kebiasaan yang dibiarkan. Di zaman fitnah, jalannya semakin mudah melalui teknologi dan pergaulan bebas. Di antaranya: zina mata (pandangan syahwat), telinga (mendengar yang merangsang), lisan (rayuan dan obrolan mesra), tangan (sentuhan haram), langkah (menuju maksiat), dan hati (angan-angan yang dipelihara). Termasuk pula pacaran tanpa nikah, khalwat, ikhtilâth, serta tontonan dan interaksi digital yang membangkitkan syahwat.

Semua ini adalah sebab yang mengantarkan kepada zina. Jika diikuti, ia dapat berujung pada zina yang sesungguhnya; jika ditahan, seseorang selamat dari dosa besar, meskipun dosa-dosa pengantar tersebut tetap wajib ditaubati.

Jauhi Sebab-Sebab Zina, Jaga Diri di Zaman Fitnah

Penjagaan pandangan, lisan, pergaulan, hingga hati merupakan benteng agar manusia tidak terjerumus pada kerusakan yang lebih besar. Inilah bentuk rahmat syariat yang menjaga kesucian diri dan ketenteraman masyarakat. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya berusaha menjauhi setiap sebab yang mendekatkan kepada zina, serta memohon pertolongan kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menjaga diri dan meniti kehidupan yang bersih dan bermartabat.

Semoga Allah memberikan kita taufik agar kita terhindar dari zina serta keistiqamahan dalam menjauhi bentuk-bentuk zina dan turunannya di zaman penuh fitnah ini.

Wallâhu walliyut taufîq.

 

* Mahasiswa Ahwal Syakhshiyyah Internasional Program

Marāji’:

[1] ‘Abd al-Raḥmān ibn Nāṣir al-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 2000, tafsir QS. an-Naḥl: 90

[2] Manṣūr ibn Yūnus al-Buhūtī, al-Rawḍ al-Murbi‘ Sharḥ Zād al-Mustaqni‘, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997, 7:312

[3] Raiyan Foundation. “The Evil Consequences of Adultery and Fornication in Islam.” https://raiyanfoundation.com/major-sins/the-evil-consequences-of-adultery-and-fornication/. Diakses pada 17 Maret 2026.

Download Buletin klik di sini

Fikih Ringkas Idul Fitri

Fikih Ringkas Idul Fitri

Yanayir Ahmad, S.T.

(Alumni Teknik Elektro UII ’17)

 

Bismillâh, wasshalâtu wassalâmu ‘alâ rasûlillâhi, waba’du.

Sahabat Al-Rasikh yang semoga dirahmati oleh Allah, Idul Fitri merupakan hari raya kaum muslimin yang datang setelah selesainya ibadah puasa Ramadhan. Allah Ta’ala mensyariatkan hari ini sebagai bentuk syukur atas nikmat dapat menyempurnakan ibadah di bulan yang penuh berkah. Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya serta mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Karena itu, Idul Fitri bukan sekadar hari perayaan, tetapi hari yang diisi dengan berbagai amalan yang disyariatkan, seperti menunaikan zakat fitrah, memperbanyak takbir, dan melaksanakan shalat Id.

Zakat Fitrah

Salah satu amalan penting yang berkaitan dengan Idul Fitri adalah zakat fitrah. Zakat fitrah hukumnya wajib bagi setiap muslim yang memiliki kelebihan makanan pada malam dan siang hari Idul Fitri. Kewajiban ini berlaku bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, orang dewasa maupun anak-anak. Kepala keluarga berkewajiban menunaikan zakat fitrah untuk dirinya dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya, seperti istri dan anak-anaknya [1].

Besaran zakat fitrah dalam madzhab Syafi’i adalah satu sha’ dari makanan pokok yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Di Indonesia, zakat fitrah umumnya dikeluarkan dalam bentuk beras sekitar 2,7 kilogram atau 3,5 liter untuk setiap orang (Fatwa MUI no. 65 tahun 2022).

Adapun waktu pembayaran zakat fitrah menurut ulama Syafi’iyyah terbagi menjadi beberapa keadaan. Zakat fitrah boleh dikeluarkan sejak awal bulan Ramadhan. Namun waktu yang paling utama adalah pada hari Idul Fitri sebelum pelaksanaan shalat Id.

Apabila zakat fitrah ditunaikan setelah shalat Id, maka hukumnya makruh. Jika seseorang menundanya hingga setelah hari raya berlalu (melewati maghrib hari Idul Fitri), maka ia berdosa dan zakat tersebut tetap wajib ditunaikan sebagai qadha [1].

Karena itu, seorang muslim hendaknya memperhatikan waktu pembayaran zakat fitrah agar dapat menunaikannya pada waktu yang dianjurkan oleh syariat.

Sunnah-Sunnah di Hari Idul Fitri

Syariat Islam juga menganjurkan beberapa amalan sunnah yang dilakukan pada hari raya Idul Fitri. Di antaranya adalah:
1. Memperbanyak takbir sejak terbenam matahari pada malam Idul Fitri hingga imam memulai shalat Idul Fitri. Lafazh takbir: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd” [3]. Takbir merupakan bentuk pengagungan kepada Allah, sehingga tidak pantas jika dilakukan dengan tanpa adab, seperti diiringi musik, berjoget, maupun sambil gembor-gembor kendaraan.
2. Mandi setelah shalat shubuh di hari Idul Fitri, meskipun tidak ikut shalat Idul Fitri. Boleh mulai mandi setelah setengah malam [4].
3. Dianjurkan memakai pakaian terbaik yang ia miliki. Bagi laki-laki disunnahkan pula memakai wewangian [4].
4. Disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat Idul Fitri [4].
5. Selain itu, para ulama juga membolehkan saling mengucapkan tahniah atau ucapan selamat hari raya di antara kaum muslimin. Di antara ucapan yang dikenal di kalangan para sahabat adalah: “Taqabbalallahu minna wa minka” (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kamu). Ucapan ini termasuk bentuk doa dan ungkapan kegembiraan di hari raya.

Shalat Idul Fitri

Salah satu syiar terbesar pada hari raya adalah pelaksanaan shalat Idul Fitri. Dalam madzhab Syafi’i, hukum shalat Id adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Waktu pelaksanaan shalat Id dimulai ketika matahari terbit, disunnahkan setelah matahari naik setinggi tombak hingga waktu zhuhur.

Shalat Id dilakukan sebanyak dua rakaat dan tidak didahului dengan adzan maupun iqamah. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram dan membaca doa istiftah terdapat tujuh takbir tambahan –sebelum ta’awudz–. Sedangkan pada rakaat kedua terdapat lima takbir tambahan setelah takbir intiqal. Rakaat pertama membaca surat al-A’la dan kedua membaca al-Ghasyiyah.

Setelah selesai shalat, imam menyampaikan dua khutbah sebagaimana khutbah pada shalat Jumat (dari sisi rukun dan sunnah khutbahnya). Khutbah pertama disunnahkan dibuka dengan 9 kali takbir, dan khutbah kedua dibuka dengan 7 kali takbir. Kaum muslimin dianjurkan untuk tetap duduk dan mendengarkan khutbah tersebut [2].

Shalat Id dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid maupun di lapangan, sebagai bentuk syiar dan kebersamaan kaum muslimin dalam merayakan hari raya.

Menjaga Amal Setelah Ramadhan

Idul Fitri bukanlah akhir dari ibadah seorang muslim. Justru hari ini menjadi momentum untuk memulai kehidupan yang lebih baik setelah menjalani madrasah Ramadhan selama sebulan penuh. Para ulama menyebutkan bahwa di antara tanda diterimanya suatu amal adalah ketika seseorang diberikan taufik oleh Allah untuk terus melakukan kebaikan setelahnya.

Karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha menjaga amal-amal kebaikan yang telah ia lakukan selama Ramadhan, seperti menjaga shalat lima waktu, qiyamul lail, memperbanyak membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan melakukan berbagai amal shalih lainnya.

Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya berlalu begitu saja, namun memberikan hasil berupa ketaatan-ketaatan setelahnya. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam ketaatan setelah Ramadhan.

Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua, aamiin.

Marāji’:
[1] Bahjat, Amir Muhammad Fida. Haqibah at-Ta’hil al-Fiqhi ‘ala Madzhab al-Imam asy-Syafi’i. Madinah: Dar Thayyibah al-Khadhra, 1440 H, hlm. 66.
[2] An-Nuri, Qasim Muhammad. Fathu al-Ilahi al-Malik ‘ala Umdati as-Salik wa ‘Uddati an-Nasik. Damaskus: Makabah Dar al-Fajr, Cetakan Pertama, hlm. 242-245.
[3] Idem, hlm. 245-246.
[4] Idem, hlm. 243.

Download Buletin klik di sini

 Tips Menjaga Kebugaran di Bulan Ramadhan

 Tips Menjaga Kebugaran di Bulan Ramadhan

Uun Zahrotunnisa, S.H*

 

Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ba’du.

Perintah puasa memiliki makna yang mendalam. Ia tidak hanya meningkatkan spiritualitas, tetapi juga memberi manfaat bagi kesehatan mental dan fisik. Karena itu, Allah ﷻ mewajibkan puasa kepada kaum Muslimin sebagai salah satu rukun Islam, sebagaimana firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah [2]: 183).

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan diri dari segala hal yang membatalkannya, seperti dorongan syahwat perut dan kemaluan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.[1] Dari ayat tersebut juga tampak bahwa iman menjadi dasar utama dalam menjalankan puasa. Iman menumbuhkan kemauan dan komitmen untuk beribadah, sehingga puasa Ramadhan menjadi konsekuensi logis dari keimanan seorang Muslim.

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh Manusia

Perkembangan penelitian di bidang kesehatan menunjukkan bahwa puasa Ramadhan memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Di antaranya membantu menurunkan berat badan (obesitas), mengontrol kadar gula darah (diabetes), serta membantu meredakan gangguan lambung seperti maag atau GERD

Berikut manfaat puasa bagi kesehatan tubuh manusia:

  1. Menurunkan Berat Badan (Obesitas).

Allah ﷻ tidak menyukai sikap berlebih-lebihan, termasuk dalam hal makan. Karena itu, seorang mukmin diajarkan untuk tidak rakus dan menjaga kesederhanaan dalam konsumsi.

Dari Abu Hurairah, diceritakan bahwa ada seseorang yang dahulu makan banyak. Setelah ia masuk Islam, ia makan lebih sedikit. Hal itu kemudian disampaikan kepada Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda:

الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِى مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِى سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Orang mukmin itu makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir itu makan dengan tujuh usus.” (HR. Bukhari, no. 5393 dan Muslim, no. 2061).[2]

Hadits ini menunjukkan pentingnya pengendalian diri dalam makan. Puasa Ramadhan melatih sikap tersebut sehingga pola makan menjadi lebih teratur.

Penelitian kesehatan juga menunjukkan bahwa puasa Ramadhan dapat membantu menurunkan berat badan secara sehat. Dalam satu studi, orang yang berpuasa selama sekitar 24 hari mengalami penurunan berat badan rata-rata sekitar 3 kg, sedangkan yang tidak berpuasa justru mengalami sedikit kenaikan.[3] Hal ini terjadi karena selama Ramadhan asupan energi harian cenderung berkurang, sehingga tubuh menyesuaikan metabolisme secara lebih seimbang.

  1. Menurunkan Kadar Gula Darah (Diabetes)

Saat berpuasa sekitar 12–18 jam, kadar gula darah dalam tubuh cenderung menurun dan kembali meningkat setelah berbuka.[4] Hormon insulin berperan menjaga keseimbangan kadar gula tersebut. Pada penderita diabetes, beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat membantu menurunkan kadar gula darah secara signifikan.[5] Karena itu, dengan pengawasan yang tepat, puasa dapat menjadi salah satu upaya membantu mengontrol kadar gula darah.

  1. Obat bagi Penyakit Lambung (Maag/ GERD)

Puasa juga dapat membantu menormalkan kadar asam lambung. Pada penderita GERD, keluhan sering dipicu oleh obesitas, pola makan tidak teratur, dan gaya hidup kurang sehat. Penelitian menunjukkan bahwa gejala GERD cenderung lebih ringan saat seseorang berpuasa dibandingkan ketika tidak berpuasa.[6]

Puasa Ramadhan diwajibkan bagi orang-orang beriman sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 183. Namun, Allah juga memberikan keringanan bagi mereka yang sakit atau sedang dalam perjalanan untuk mengganti puasa di hari lain[7]. Hal ini menunjukkan bahwa syariat Islam membawa kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya.

Puasa dan Rutinitas Seorang Muslim

Di bulan Ramadhan, umat Islam menjalankan ibadah sejak terbit hingga terbenam matahari, disertai berbagai amalan wajib dan sunnah, sambil tetap menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itu, seorang Muslim diharapkan tetap produktif sekaligus menjaga kebugaran selama berpuasa. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mengonsumsi makanan bergizi, ketika sahur dan berbuka

Selama berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan nutrisi selama berjam-jam. Oleh karena itu, pemenuhan gizi yang seimbang saat sahur dan berbuka sangat penting untuk menjaga energi dan kesehatan tubuh.[8]

  1. Mengambil porsi makan ala Rasulullah

Rasulullah ﷺ mengajarkan kesederhanaan dalam makan. Beliau bersabda bahwa cukuplah bagi manusia beberapa suapan untuk menegakkan tubuhnya. Jika harus lebih, maka sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernapas.

Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Tidak ada tempat yang lebih jelek daripada memenuhi perut keturunan Adam. Cukup keturunan Adam mengonsumsi yang dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk diisi, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR Ahmad, 4:132, Tirmidzi, no. 2380, dan Ibnu Majah, no. 3349).[9]

  1. Menjaga Waktu Istirahat

Perubahan pola aktivitas di bulan Ramadhan sering memengaruhi waktu tidur. Karena itu, menjaga waktu istirahat yang cukup penting untuk mempertahankan stamina, sehingga ibadah dan aktivitas harian tetap dapat dijalankan dengan baik.[10]

Maraji’ :

* Alumni Program Studi Ahwal Syakhsiyyah Fakultas Ilmu Agama Islam UII angkatan 2019, Mahasiswa Magister Hukum Litigasi UGM 2025.

[1] Sukri, S.S (2009). Ensiklopedi Islam dan Perempuan, Bandung: Penerbit Nuansa

[2] Al-Asqalani, I.H (2003). Fathul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari, Beirut-Lebanon: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Juz 9, H.670

[3] Khan, A., & Khattak, M.M (2002). Islamic Fasting, An Effective for Prevention and Control Obesity, Pakistan Journal of Nutrition

[4] Az-Zaki, J.L. (2013). Hidup Sehat Tanpa Obat: Manfaat Kesehatan dalam Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Jakarta: Cakrawala Publishing. h. 193

[5] Alfin, R., Busjra, & Azzam, R. (2019). Pengaruh Puasa Ramadhan terhadap Kadar Gula, Journal of Telenursering (JOTING)

[6] Mardhiyah, R., Makmun, D., Syam, A.F., & Setiati, S. (2016). The Effects of Ramadhan Fasting on Clinical Symptoms in Patients with Gastroesophageal Refluks Disease. Acta Medica Indonesiana- The Indonesian Journal of Internal Medicine, 48 (3), 169-174]

[7] QS Al-Baqarah [2]: 185.

[8] https://rsiaisyiyah-malang.or.id/mau-hidup-sehat-mari-diet-ala-rasulullah-saw/  diakses pada 22 Februari 2026 Pukul 09.07 WIB.

[9] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa-I, Dan Ibnu Majah, Hadits ini di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2265), Irwa-ul Ghalil (1983)]

[10] https://rumaysho.com/454-tidurnya-orang-yang-berpuasa-adalah-ibadah.html diakses pada 22 Februari 2026 Pukul 11.00 WIB.

Download Buletin klik di sini

Puasa dan Ukhuwah: Merawat Persaudaraan di Tengah Perbedaan

Puasa dan Ukhuwah: Merawat Persaudaraan di Tengah Perbedaan

Faisal Ahmad Ferdian Syah*

 

Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ba’du.

Ramadhan datang dengan suasana yang khas. Ada ketenangan yang pelan-pelan menyusup ke dalam hati. Ada ritme yang berubah. Waktu sahur terasa lebih hening, adzan Maghrib terdengar lebih menggetarkan, dan doa-doa dipanjatkan dengan harap yang lebih dalam. Namun di luar sana, dunia tidak setenang itu. Ketegangan politik, konflik antarnegara, dan perdebatan tajam di ruang publik kerap membuat suasana terasa panas. puasa justru membentuk pribadi yang sabar, teduh, dan mampu menjaga persaudaraan.

Allah ﷻ berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah [2]: 183).

Tujuan puasa adalah melahirkan takwa, yang tercermin dalam sikap dan cara memperlakukan orang lain, terutama saat berbeda pendapat. Takwa membuat kita menahan diri dari menyakiti dan memilih menjaga ukhuwah daripada mempertajam perdebatan. Di situlah Ramadhan membentuk pribadi yang kuat dalam prinsip, namun lembut dalam sikap.

Makna Ukhuwah dalam Ibadah Puasa

Ukhuwah bukan sekadar istilah yang indah, tetapi fondasi kehidupan umat. Ia adalah ikatan iman yang menumbuhkan sikap saling menjaga dan melindungi.

Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.” (HR al-Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580)

Hadits ini menegaskan bahwa ukhuwah adalah komitmen nyata untuk tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudara kita terzalimi.

Puasa menghadirkan pengalaman spiritual yang sama—menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Dari kesamaan inilah tumbuh kesadaran bahwa kita berada dalam satu perjalanan iman. Di tengah perbedaan dan kepentingan duniawi, Ramadhan mengingatkan bahwa persaudaraan tidak harus meniadakan perbedaan, tetapi menuntut kita tetap saling menghormati dan mendoakan.

Jika lapar saja mampu kita tahan demi Allah ﷻ, maka ego, amarah, dan kebencian pun seharusnya mampu kita kendalikan demi menjaga ukhuwah.

Menjaga Lisan Di Era Digital

Ujian puasa hari ini tidak hanya hadir di meja makan, tetapi juga di layar gawai. Media sosial kerap menjadi ruang yang panas. Informasi yang belum tentu benar mudah tersebar, sementara komentar pedas sering kali lebih cepat viral dibanding nasihat yang menyejukkan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR Bukhari, no. 1903).

Di era digital, dusta dan fitnah tak lagi hanya lewat lisan, tetapi juga lewat jari. Satu klik bisa menyebarkan kebohongan, satu komentar bisa melukai banyak hati. Karena itu, puasa menjadi momen untuk menahan diri—tidak semua hal harus ditanggapi.

Terkadang diam lebih menjaga persaudaraan. Menahan komentar emosional bisa lebih berat daripada menahan lapar dan haus. Di situlah nilai puasa: bukan sekadar menahan perut, tetapi mendidik lisan dan hati agar lebih jujur, tenang, dan bertanggung jawab

Satu Kiblat, Satu Doa

Di berbagai belahan dunia, umat Islam menghadap arah yang sama ketika shalat (QS Al-Baqarah [2]: 145). Simbol sederhana ini menegaskan bahwa meski berbeda bahasa dan budaya, kita bersujud kepada Tuhan yang satu.

Ramadhan mempertegas kesatuan itu. Waktu berbuka memang berbeda sesuai wilayah, tetapi maknanya sama: ketaatan dan rasa syukur. Ada keluarga yang berbuka dengan kurma, ada yang dengan kolak atau hidangan sederhana lainnya. Namun semua mengangkat tangan dengan doa yang serupa.

Kesadaran ini penting, terutama saat isu global mudah memicu emosi. Persatuan umat tidak dibangun dari keseragaman pandangan, melainkan dari komitmen untuk saling menghormati sebagai saudara.

Dari Empati Menuju Aksi

Salah satu buah puasa adalah empati. Rasa lapar membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Tidak heran jika Ramadhan identik dengan zakat, infak, dan sedekah.

Allah ﷻ berfirman:

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa” (QS Al-Ma’idah [5]: 2).

Ayat ini memberi arah yang jelas. Persatuan bukan sekadar wacana, tetapi harus tampak dalam tindakan. Membantu yang membutuhkan, mendukung kegiatan sosial, atau sekadar berbagi makanan berbuka adalah bentuk nyata dari ukhuwah.

Di lingkungan kampus dan masyarakat, Ramadhan bisa menjadi ruang kolaborasi. Kegiatan berbagi ifthar, penggalangan dana kemanusiaan, atau diskusi yang menyejukkan dapat mempertemukan berbagai pihak dalam semangat yang sama. Dari situ, rasa saling percaya tumbuh.

Ramadhan Sebagai Momentum Rekat Sosial

Perpecahan sering bermula dari ego yang tidak terkendali. Puasa hadir untuk melatih kita menundukkannya. Jika kita mampu menahan diri dari yang halal demi ketaatan, semestinya kita juga mampu menahan amarah demi menjaga persaudaraan.

Ramadhan adalah kesempatan memperbaiki hubungan yang renggang. Menyapa kembali sahabat lama, meminta maaf lebih dulu meski merasa tidak sepenuhnya salah. Langkah kecil ini berdampak besar bagi keutuhan umat.

Kekuatan umat bukan pada kerasnya suara, tetapi pada kokohnya ukhuwah. Di tengah dunia yang gaduh oleh perbedaan, Ramadhan mengajarkan jalan yang tenang: menjaga lisan, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kebaikan nyata. Jika nilai ini dihidupkan, Ramadhan bukan sekadar ibadah ritual, melainkan pembentukan karakter dan penguat kesatuan umat.

 

* Mahasiswa UII Prodi Ahwal Syakhshiyah IP Angkatan 2022

Download Buletin klik di sini

Lapar Yang Menyembuhkan: Puasa Sebagai Self Awareness

Lapar Yang Menyembuhkan: Puasa Sebagai Self Awareness

Nur Laelatul Qodariyah*

 

Sahabat Al-Rasikh yang diberkahi Allâh ﷻ, di tengah kehidupan yang modern ini semua serba cepat. manusia akan mudah lelah dan tertekan bukan hanya secara fisik namun secara mental. Tekanan pekerjaan, tuntutan sosial dan dengan derasnya arus informasi yang beredar. membuat jiwa benar-benar tidak bisa beristirahat dengan tenang.

Dalam hal ini, pandangan tentang rasa lapar adalah kondisi yang harus dihindari. Padahal, puasa dan rasa lapar dalam Islam merupakan salah satu jalan penyucian sekaligus penyembuhan jiwa. Sebab, puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan juga proses pendidikan mental dan spiritual. Di balik rasa lapar yang kita rasakan, terdapat banyak hikmah yang dapat kita petik.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Di antara faidah puasa adalah bisa mempersempit aliran darah yang merupakan jalannya setan. Dan perlu diketahui bahwa setan itu merasuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran darah. Dengan menjalani puasa, jalan setan itu menjadi sempit. Sehingga syahwat dan sifat orang yang berpuasa teratasi. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menjadikan puasa sebagai solusi bagi yang belum mampu menikah untuk mengekang syahwatnya.

Dari Shofiyah binti Huyay, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah.” HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175).[1]

Coba diingat kembali ketika kita berpuasa, dari mulai terbitnya fajar dan tenggelamnya matahari, apakah yang kita rasakan ketika berpuasa? hal sederhana apa yang kita  inginkan ketika di tengah-tengah panasnya udara dan rasa haus di tenggorokan. Bukankah yang dicari adalah minuman? dan kemudian baru berandai-andai untuk makan yang enak yang mahal, manis, pedas, dingin, semua hal tersebut masuk di dalam pikiran kita. Nafsu yang menggiring pikiran kita dari pada apa yang kita butuhkan. Ketika kita berbuka puasa, hanya dengan beberapa suap makanan dan sedikit minum saja kita sudah merasa kenyang. Lalu, apa poin utama yang hendak disampaikan? Ya, benar—puasa melatih kita untuk mengendalikan hawa nafsu dan menjaga konsistensi diri agar tetap bertahan meskipun terasa berat. Namun ketika semuanya selesai, kita menyadari bahwa rasa lapar dan berat itu hanyalah sementara.

Kelelahan mental, Mengikis Kesabaran

Pernahkah kita sadari zaman yang serba instan ini telah mendorong kita untuk serba cepat. Dimana teknologi membuat kita untuk masuk ke era serba instan. Dimana segala sesuatu yang sedang berlangsung dapat selesai dalam hitungan detik. Pesan atau telepon yang kita kirim akan melesat sampai  dalam hitungan detik di berbagai belahan dunia. Teknologi memberikan kita kemudahan akses yang sangat luar biasa.

Dibalik kemudahan itu pasti ada sisi gelap yang tanpa kita sadari, manusia dituntut untuk bergerak, bekerja secara cepat dan dalam waktu singkat. Kecepatan tersebut yang membuat manusia seringkali melampaui batas diri sendiri.[2] Kecenderungan manusia modern dalam hidup yang konsumtif berlebihan terjadi dalam berbagai aspek, bukan hanya dalam hal makanan, tetapi juga dalam hal ambisi, emosi, dan keinginan untuk segera cepat selesai. Hal tersebut membuat batasan menjadi kabur dan mengakibatkan jiwa mudah gelisah, cemas, dan juga lelah.

Tanpa disadari, kita perlahan kehilangan salah satu keterampilan berharga yang dahulu sangat dihormati yaitu kesabaran. Padahal, kesabaran bukan sekadar kemampuan menunggu, melainkan kekuatan jiwa untuk tetap teguh, tenang, dan terarah di tengah godaan dan tekanan hidup.

Karena itu, Allâh ﷻ juga menuntun kita untuk menjadikan sabar sebagai penopang kehidupan. Allâh ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۚ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2]: 153).

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allâh ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az Zumar [39]: 10).

Menahan Godaan Demi Hasil yang Lebih Baik.

Inti dari pengertian puasa itu sendiri adalah melatih manusia untuk menunda pemuasan keinginan. Dalam bidang psikologi, menunda kepuasan (delay gratification) merupakan salah satu tanda Kesehatan mental yang baik, jika dilihat dari kecerdasan emosional, beberapa peneliti dapat menunjukan bahwa orang yang bisa menunda kepuasan demi menolak impulsif akan mungkin berhasil dalam hidup dibandingkan mereka yang tidak memiliki kemampuan itu.[3]

Allâh ﷻ berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” ( QS Al-Baqarah [2]: 183).

Saat takwa bisa kita kuasai maka bukan hanya konsep spiritual yang berhasil, tetapi kemampuan dan kondisi batin yang stabil, sadar dan juga terkendali. Ketika seseorang dapat menahan lapar karena  Allah ﷻ, maka secara tidak langsung ia tidak dikuasai oleh dorongan sesaat.

Lapar dan Kesadaran Diri (Self Awareness)

Saat tubuh dibatasi, pikiran justru menjadi lebih peka. Rasa lapar membuat seseorang lebih sadar akan emosinya—baik sedih, marah, gelisah, maupun tenang. Dari sini, puasa melatih kesadaran diri (self-awareness). Kesadaran diri atau self awareness adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri, perasaan, pikiran, evaluasi diri dan juga kelemahan pada diri sendiri. Menurut Koeswara (1987), self awareness adalah sebagai kapasitas yang memungkinkan manusia mampu mengamati dirinya sendiri maupun membedakan dirinya sendiri maupun membedakan dirinya dari dunia (orang lain).[4]

Rasa lapar yang terkandung dalam puasa akan melembutkan hati dan membuka ruang kedekatan kepada Allâh ﷻ saat perut dalam keadaan kosong. Doa yang dipanjatkan pun terasa lebih jujur dan hati menjadi semakin khusyuk. Kedekatan kepada Allâh ﷻ memberikan rasa aman kepada hamba-Nya yang tidak dapat digantikan oleh apa pun. Rasa dekat inilah yang menjadi fondasi ketenangan mental, karena jiwa merasa selalu ditemani oleh Allâh ﷻ dan menjadi lebih kuat dalam menghadapi tekanan.

Maraji’ :

* Alumni Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia

[1] Ibnu Rajab Al Hambali, Lathoiful Ma’arif, h. 276-277. Disebutkan dalam  https://muslim.or.id/17319-kajian-ramadhan-5-puasa-menyempitkan-jalannya-setan.html. Diakses pada Senin, 9 Februari 2026.

[2] Rof. Maila Dinia Husni Rahiem M.A,’ Ph.D, “kelelahan mental di Zaman Serba Instan: Mengapa Perlu Berhenti Sejenak” dikutip dari uinjkt.ac.id diakses pada tanggal 10 Febuari 2026.

[3] Wanda Andita Putri, “Seberapa Penting Menunda Kepuasan di Usia Muda? Kenali Istilah Delay gratification” dikutip dari liputan6.com diakses pada tanggal 11 Febuari 2026

[4] Muchlisin, R. “Kesadaran diri (self awareness-pengertian, aspek, indikator, dan pembentukan).” 2020,

Download Buletin klik di sini