Kita Sibuk, tapi Tahu Nggak Buat Apa?
Kita Sibuk, tapi Tahu Nggak Buat Apa?
Faishal Hanif*
Coba kita jujur ke diri sendiri, kalau pas ditanya kamu lagi ngejar apa sih sebenarnya? Apa jawabannya bakal jelas, atau cuma diam aja terus jawab seadanya?
Kebanyakan orang sibuk banget, tapi pas ditanya arahnya ke mana, jawabannya kabur. Kerja keras, iya. Ngejar target, juga iya. Tapi ujungnya buat apa, sering nggak ada jawaban yang benar-benar dipikirkan. Cuma jawaban template buat nutup pertanyaan biar nggak usah dipikirin lagi.
Sebenarnya ini bukan cuma masalah kita di zaman sekarang. Al-Râghib al-Ishfahânî, seorang ulama dan filsuf dari abad ke-11, bahas panjang lebar dalam kitabnya soal kebahagiaan manusia.[1] Dia hidup jauh sebelum ada kata “produktivitas” atau “hustle“, tapi karena itu, cara dia melihat masalah ini nggak kebawa tren zaman mana pun. Melihat manusia apa adanya, dan ternyata polanya persis sama dengan yang kita alami sekarang.
Tiga Pertanyaan yang Jarang Kita Tanya
Menurut al-Ishfahânî, hidup manusia itu sebenarnya dibangun dari tiga pertanyaan: dari mana berasal (mabdâ’), lagi ngapain sekarang (ma’âsy), dan ujungnya mau ke mana (ma’âd).[2] Kita biasanya cuma hidup di pertanyaan kedua doang. Sibuk sama urusan sekarang, kerjaan sekarang, target bulan ini, tanpa pernah balik lagi ke dua pertanyaan lainnya.
Akibatnya, kita bisa kelihatan produktif banget dari luar, padahal sebenarnya cuma muter-muter di tempat. Al-Ishfahânî menjelaskan, orang seperti ini kehilangan istiqâmah, yaitu tetap berada di jalan yang benar dan terus mengarah ke tujuan yang semestinya, bukan kehilangan kecepatan.[3] Karena jalan cepat dan jalan lurus itu dua hal yang berbeda. Bisa aja kamu bergerak cepat banget, sibuk banget, banyak yang dikerjakan, tapi kalau arahnya salah, ya ujung-ujungnya tetap nggak sampai ke tujuan.
Karena itu, kita perlu sesekali berhenti dan melihat lagi tiga pertanyaan tadi. Pertanyaan tentang mabdâ’ mengingatkan kita bahwa kita berasal dari Allah dan hidup dalam ketetapan-Nya. Pertanyaan tentang ma‘âsy mengajak kita melihat lagi apa yang sedang kita lakukan. Sedangkan pertanyaan tentang ma‘âd mengingatkan kita ke mana semua ini akan berakhir, yaitu kembali kepada Allah. Dengan begitu, kesibukan kita nggak lagi sekadar memenuhi waktu atau mengejar target, tapi menjadi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang benar.
Kerja Boleh, Asal Jangan Jadi Tujuan Akhir
Hal yang saya suka dari al-Iṣfahānī, ia nggak anti terhadap dunia. Ia mengajarkan bahwa mengejar karier dan penghasilan itu nggak salah, bahkan bisa menjadi sesuatu yang diperlukan, selama ditempuh dengan cara yang benar dan tetap dalam koridor syariat.[4] Kesalahan terjadi ketika karier dan pencapaian dijadikan tujuan akhir, bukan sebagai bekal untuk meraih sesuatu yang lebih besar.
Coba pikir, banyak banget orang yang CV-nya bagus dan kariernya naik terus, tapi pas ditanya, “Terus semua ini buat apa?”, kosong. Kadang jawabannya cuma, “Biar naik jabatan lagi,” atau “Biar nggak kalah sama temen seangkatan.” Padahal, itu bukan jawaban; itu cuma target berikutnya yang seolah-olah menjadi jawaban. Kalau ditelusuri, target tuh nggak akan pernah habis karena sesungguhnya memang bukan itu yang dicari. Masalahnya muncul ketika karier yang semestinya menjadi sarana justru ditempatkan sebagai tujuan akhir.
Kerjaan Sehari-Hari Bisa Jadi Ibadah, atau Bisa Juga Cuma Rutinitas Kosong
Kerja, kuliah, dan cari uang, itu semua sebenarnya netral. Nggak otomatis jadi ibadah cuma rajin kita kerjain.[5] Nilai ibadah dan pahala ditentukan oleh niat, cara melaksanakannya, serta tujuan untuk mencari rida Allah. Tanpa itu, ya cuma rutinitas biasa, capek dan kosong.
Al-Ishfahânî bahkan mengutip peringatan Rasûlullâh ﷺ buat orang yang kelewatan. Dari Abu Hurairah z, Rasûlullâh ﷺ bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ
“Celakalah hamba dinar, hamba dirham,…”. (HR Bukhari no. 6435)[6]. Poinnya bukan soal butuh uang buat hidup, jelas semua orang butuh. Lebih kepada soal orang yang seluruh dirinya dikuasai uang sampai nggak bisa mikir apa-apa lagi di luar itu. Beda antara orang yang masih bisa milih, sama orang yang udah nggak punya jarak sama sekali dari uangnya sendiri.
Tiga Dorongan dalam Diri, dan yang Harusnya Pegang Kendali
Al-Iṣfahānī menjelaskan bahwa manusia digerakkan oleh tiga daya: syahwah (hasrat atau keinginan untuk memiliki dan menikmati sesuatu), hamiyyah (semangat, termasuk dorongan untuk menjaga harga diri dan tidak mau kalah dari orang lain), dan fikr (akal, yaitu daya untuk berpikir dan menimbang).[7] Dua daya pertama merupakan sesuatu yang wajar dan memang diperlukan. Masalah muncul ketika syahwah dan hamiyyah berjalan tanpa kendali. Keduanya tidak akan pernah merasa cukup: selalu menuntut lebih, tanpa arah yang jelas tentang untuk apa semua itu dilakukan.
Akal seharusnya menjadi pengendali. Fungsinya bukan untuk mematikan dorongan-dorongan tersebut, melainkan mengarahkannya. Al-Iṣfahānī menjelaskan bahwa akal ibarat mata, sedangkan nilai dan syariat ibarat cahaya.[8] Mata yang berfungsi sempurna sekalipun tidak akan dapat melihat dalam kegelapan tanpa cahaya. Demikian pula, akal yang tajam dapat salah arah jika tidak diterangi oleh nilai yang benar dan jelas.
Solusinya bukan mematikan ambisi, melainkan menjaga i‘tidāl, yaitu keseimbangan. Akal yang telah diterangi oleh nilai dan syariatlah yang menentukan sejauh mana syahwah dan hamiyyah dapat diarahkan dan dikendalikan.
Jadi, Balik ke Pertanyaan Awal
Pesannya bukan agar kita berhenti bekerja keras. Kerja keras tetap penting, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan arah. Sesekali, berhentilah sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri: “Semua ini untuk apa?”
Jawaban yang tidak kunjung jelas setelah sekian lama sibuk mungkin menjadi tanda bahwa yang perlu dibenahi bukan seberapa keras kita bekerja, melainkan ke mana semua itu diarahkan.
* NIM: 23512113; Program Studi Arsitektur, Universitas Islam Indonesia
Marāji’:
[1] Al-Raghib al-Ishfahani. Tafshîl al-Nash’atayn wa Tahshîl al-Sa’âdatayn. Beirut: Dâr Maktabat al-Hayâh. 1983. Cet. ke-1. h. 68.
[2] Ibid., Bab 17 (Fī Ḥālat al-Insān fī Dunyāhu wa Mā Yaḥtāju an Yatazawwada Minhā). h. 68–70.
[3] Ibid., Bab 17. h. 68–69.
[4] Ibid., Bab 17. h. 70.
[5] Ibid., Bab 21 (Fī al-Afʿāl al-Insāniyyah al-Mutaʿalliqah bi al-Sharīʿah). h. 80–81.
[6] Ibid., Mukadimah Penulis. h. 16. Istilah ini dikutip Al-Ishfahânî dari hadis Rasulullah ﷺ: “Taʿisa ʿabd al-dīnāri wa ʿabd al-dirham…” (HR Bukhari, no. 2886 & 6435, dari Abu Hurairah RA; lihat juga HR Ibn Majah, no. 4136).
[7] Ibid., Bab 26 (Fī al-Quwā allatī Yajibu Izālat Amrāḍihā wa-Anjāsihā…). h. 94–95.
[8] Ibid., Bab 18 (Fī Taẓāhur al-ʿAql wa al-Sharʿ wa-Iftiqār Aḥadihimā ilā al-Ākhar). h. 72.












