Ketika Alam Berbicara, Apakah Kita Mendengarnya?
Ketika Alam Berbicara, Apakah Kita Mendengarnya?
Muhammad Ardan Halim*
Sahabat Ar Rasikh rahimakumullâh, beberapa hari terakhir, negeri ini kembali berduka. Hujan deras yang turun tanpa jeda memicu banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah Sumatra dan Aceh. Banyak keluarga kehilangan rumah, harta, bahkan orang-orang tercinta. Di antara gemuruh air yang meluap dan tanah yang bergerak, ada isyarat lembut yang sedang Allah sampaikan pada kita.
Bencana bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah pengingat, sebuah ketukan yang membuat kita berhenti sejenak, merenung, dan menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan kuasa Allah ﷻ. Sesungguhnya bumi yang kita pijak ini juga hidup, ia “berbicara” ketika manusia lupa menjaga keseimbangan yang Allah amanahkan.
Allah ﷻ berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum [30]: 41).
Ayat ini menjelaskan bahwa banyak kerusakan dan musibah terjadi karena ulah manusia sendiri karena kita sering tidak menjaga keseimbangan alam dan mengabaikan ketentuan yang Allah ﷻ tetapkan.[1] Namun perlu dipahami, ayat ini bukanlah tuduhan kepada para korban, melainkan peringatan bagi kita semua. Allah ﷻ mengingatkan bahwa apa pun yang kita lakukan terhadap bumi dan lingkungan, cepat atau lambat akan membawa dampak, baik yang terlihat maupun yang tidak kita sadari.
Belajar dari Musibah: Bukan Tentang Menyalahkan, Tapi Menyadari
Setiap bencana membawa duka, tetapi Islam mengajarkan bahwa di balik setiap ujian selalu ada kebaikan yang Allah sisipkan. Dari Abu Hurairah z, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ.
“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah akan memperoleh kebaikan, maka Allah akan menimpakan musibah padanya (mengujinya)” (HR. Al Bukhari, no. 5645).
Ali Mustafa Ya’qub menjelaskan bahwa musibah yang menimpa umat dapat disebabkan oleh empat hal: sebagai ujian keimanan, peningkatan derajat di sisi Allah, bukti cinta Allah kepada hamba-Nya, atau teguran agar manusia kembali menyadari kekeliruannya.[2] Artinya, musibah bukan semata hukuman, melainkan bagian dari proses Allah mendidik, menguatkan, dan mengembalikan hamba kepada jalan-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا
“Tidak ada satu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (QS Al-Hadid [57]: 22).
Ayat ini menenangkan hati kita bahwa setiap kejadian baik kesedihan maupun kebahagiaan telah ditetapkan dalam rencana Allah ﷻ yang sempurna. Ketika seseorang menyadari hal ini, hatinya akan lebih mudah menerima musibah tanpa berlarut dalam penyesalan, karena semuanya berada dalam kendali Allah ﷻ yang Maha Bijaksana.[3]
Saat Alam Berbicara, Kita Diajak untuk Kembali
Ketika musibah dan bencana datang menghampiri kita, kadang yang dijadikan kambing hitam adalah alam, artinya alam itu murka. Ketika sakit datang, yang disalahkan pula konsumsi makanan, kurang olaharga dan seterusnya. Walau memang sebab-sebab tadi bisa jadi benar sebagai penyebab, namun jarang ada yang merenungkan bahwa karena dosa atau maksiat yang kita perbuat, akhirnya Allah ﷻ mendatangkan musibah.[4]
Allah ﷻ berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy Syura [42]: 30).
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir v menjelaskan bahwa ayat ini adalah peringatan bagi manusia: kebanyakan musibah datang karena dosa yang mereka lakukan. Namun yang menakjubkan, Allah tidak membalas semua kesalahan itu. Sebagian besar justru Dia maafkan, bahkan sebelum hamba menyadarinya.[5]
Dengan kata lain, bencana bukan semata hukuman, tetapi panggilan halus dari Allah ﷻ agar manusia kembali mendekat, kembali sadar, dan kembali memperbaiki diri. Ketika alam “berbicara” melalui bencana, sebenarnya Allah ﷻ sedang mengingatkan kita bahwa ada yang perlu diperbaiki dalam hubungan kita dengan-Nya ataupun dengan amanah bumi yang kita jaga.
Menghadapi Musibah dengan Hati yang Lebih Taat
Mendekatkan diri kepada Allah ﷻ merupakan salah satu cara terbaik ketika seseorang tertimpa musibah. Ujian hidup sering kali menjadi pengingat agar kita kembali memperbaiki hubungan spiritual dengan-Nya. Berdoa, membaca Al-Qur’an, dan melaksanakan ibadah dengan lebih khusyuk menjadi sarana yang menenangkan sekaligus menguatkan hati.
Allah ﷻ berfirman
وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَىۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَالۡجُوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَۙ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2]: 155):
Ayat tersebut mengingatkan bahwa musibah adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Setiap ujian membawa pesan agar kita melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan meningkatkan ketaatan kepada Allah ﷻ. Dengan memperbanyak doa serta memperkuat ibadah, hati menjadi lebih tenang dan diri memperoleh kekuatan untuk menghadapi berbagai ujian yang mungkin datang di masa mendatang.[6]
Penutup: Apakah Kita Mendengar Panggilan Itu?
Bencana akan selalu ada. Namun yang terpenting adalah bagaimana hati kita menanggapinya. Apakah kita kembali kepada Allah ﷻ? Apakah kita lebih peduli? Apakah kita lebih bersyukur atas nikmat yang masih tersisa?
Mari bertanya pada diri sendiri: “Apakah musibah ini membuatku lebih dekat atau justru lebih jauh dari Allah ﷻ?”
Jika peristiwa tragis ini membuat kita lebih sadar, lebih peka, dan lebih taat, maka musibah itu telah menjadi rahmat terselubung.
Semoga Allah ﷻ merahmati saudara-saudara kita yang wafat, menyembuhkan yang terluka, menguatkan yang kehilangan, dan menjaga negeri ini dari bencana serupa.
Āmīn. Wallāhu a‘lam.
* Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyah) FIAI UII 2022
Maraji’ :
[1] Diyan Faturahman. “Menjaga Keseimbangan Alam.” Suara Muhammadiyah. https://web.suaramuhammadiyah.id/2020/04/05/menjaga-keseimbangan-alam/. Diakses pada 3 Desember 2025.
[2] Prof Dr H. Sofyan Sauri, MPd. “Tatkala Bumi Mulai Bergerak dan Mata Membelalak.” GontorNews. https://gontornews.com/tatkala-bumi-mulai-bergerak-dan-mata-membelalak/. Diakses pada 3 Desember 2025.
[3] BAZNAS. “Belajar Ikhlas Menerima Kenyataan Hidup: 7 Cara Menerima Tanpa Menyalahkan.” https://kabtrenggalek.baznas.go.id/artikel/show/belajar-ikhlas-menerima-kenyataan-hidup-7-cara-menerima-tanpa-menyalahkan/30575. Diakses pada 3 Desember 2025.
[4] Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. “Musibah Datang Boleh Jadi Karena Dosa.” Rumaysho.com. https://rumaysho.com/2286-musibah-datang-boleh-jadi-karena-dosa.html. Diakses pada 3 Desember 2025.
[5] Ibid.
[6] Admin. “KETAHUI! INI SIKAP TERBAIK KETIKA TERTIMPA MUSIBAH.” Rumah Zakat. https://www.rumahzakat.org/sikap-ketika-tertimpa-musibah/. Diakses pada 3 Desember 2025.












