Masa Muda, Masa Kuliah, Masak Cuma Dapat Ijazah?

Masa Muda, Masa Kuliah, Masak Cuma Dapat Ijazah?

Siti Amarah*

 

وَمَنْ  فَاتَهُ التَّعْلِيمُ وَقْتَ شَبَابِهِ فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ

“Barang siapa kehilangan kesempatan belajar pada masa mudanya, bertakbirlah empat kali atas kematiannya.”

Ungkapan tersebut merupakan bagian dari syair yang masyhur dinisbatkan kepada Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i v dalam Dīwān al-Imām asy-Syāfi‘ī. Imam Syafi‘i menegaskan bahwa kemuliaan seorang pemuda terletak pada ilmu dan ketakwaannya. Jika keduanya tidak ada, keberadaan seorang pemuda kehilangan nilainya.[1]

Betapa pentingnya ilmu pengetahuan; bahkan, ada pepatah yang menyamakan manusia tanpa ilmu sama dengan binatang ternak. Masa muda adalah masa keemasan untuk menuntut ilmu, bereksperimen, mempraktikkan ilmu, sekaligus mengembangkannya. Masa kuliah menyediakan begitu banyak kesempatan untuk itu, bukan hanya melalui ruang kelas, melainkan juga melalui organisasi, unit kegiatan mahasiswa (UKM), dan berbagai komunitas.

Dengan lingkungan pendidikan yang begitu kaya, amat disayangkan jika setelah lulus, yang kita bawa pulang hanya selembar ijazah. Bukan berarti ijazah tidak penting. Ijazah merupakan dokumen resmi yang diberikan oleh lembaga pendidikan sebagai bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan jenjang atau program pendidikan tertentu. Selain itu, sejumlah perusahaan menjadikan ijazah sebagai salah satu persyaratan administratif dalam proses perekrutan karyawan.

Ilmu Sebagai Dasar

Ijazah menjadi bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, ijazah tidak dengan sendirinya menggambarkan kemampuan seseorang dalam menghadapi konflik di dalam kelompok. Ijazah dapat menunjukkan capaian akademik, tetapi tidak selalu mencerminkan keterampilan praktis dan kemampuan bekerja bersama orang lain.

Ilmu yang diperoleh di ruang kuliah merupakan dasar yang sangat penting. Namun, jika tidak disertai keterampilan pendukung, ilmu itu bisa berhenti pada tataran teori. Ketika kita hendak mempraktikkan ilmu tetapi menghadapi penolakan, pengalaman mengelola konflik yang diperoleh melalui organisasi dapat membantu agar gagasan yang disampaikan benar-benar membuahkan hasil. Kematangan intelektual seseorang tampak dari kemampuannya memahami persoalan, lalu menggunakan pengalaman dan pengetahuan untuk menyelesaikannya. Kemampuan seperti ini tidak cukup dibangun hanya melalui pembelajaran di ruang kuliah.

Kita perlu memahami bahwa ilmu juga harus memberi manfaat. Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon tanpa buah. Agar bermanfaat, ilmu perlu diutarakan, disampaikan, dan dipraktikkan. Untuk mempelajari semua itu, kita tidak cukup hanya belajar di ruang kelas. Kita perlu mengasahnya di ruang praktik, ruang diskusi, ruang ekspresi, bahkan ruang publik.

Kampus Sebagai Kawah Candradimuka

Jika para kesatria memiliki Kawah Candradimuka sebagai tempat berlatih, mahasiswa memiliki kampus. Kampus bukan hanya ruang kuliah, melainkan juga ruang organisasi yang melatih kita berkoordinasi, berkomunikasi, dan bertanggung jawab. Ada pula kepanitiaan yang melatih kita menyelesaikan masalah dalam situasi yang dinamis. Di kampus, kita dapat bertemu, berdiskusi, dan bertukar pikiran dengan dosen serta mahasiswa yang memiliki karakter dan pandangan berbeda. Kampus juga menyediakan perlombaan, kegiatan ekstrakurikuler untuk pengembangan diri, dan kegiatan kewirausahaan yang memberi pengalaman dalam mengelola sumber daya serta menganalisis risiko.

Dengan begitu banyak hal yang ditawarkan kampus, jika yang kita dapatkan selama kuliah hanya selembar ijazah, itu ibarat pergi ke restoran all-you-can-eat yang menyajikan beragam menu, tetapi kita hanya makan nasi. Memang mengenyangkan, tetapi asupan gizi, serat, dan proteinnya kurang beragam. Kita sudah membayar mahal, tetapi hanya mendapatkan karbohidrat. Berbagai kegiatan di kampus dapat menjadi ruang pembelajaran yang sangat berharga jika dijalani dengan kesadaran penuh.

Bukan berarti kita harus aktif dalam banyak organisasi. Sebagian dari kita memiliki tanggung jawab dan prioritas berbeda, misalnya harus kuliah sambil bekerja atau memiliki keterbatasan kesehatan. Yang terpenting adalah kualitas pembelajaran serta pemilihan kegiatan yang sesuai dengan minat, tujuan, dan kemampuan. Jadikan kampus sebagai laboratorium kehidupan, tempat kita bereksperimen secara langsung dengan risiko dan tanggung jawab yang relatif terbatas. Tetapkan pula batas kegiatan sesuai kemampuan agar kesehatan dan capaian akademik tetap terjaga.

Masa kuliah adalah masa ketika kegagalan sering kali dapat diperbaiki dengan konsekuensi yang lebih terbatas dibandingkan ketika kita sudah memasuki dunia kerja atau kehidupan bermasyarakat. Proposal yang ditolak atau program kerja yang tidak berjalan dapat segera dievaluasi. Pengalaman dari kegagalan memberi gambaran tentang hal-hal yang perlu diperbaiki, baik cara berkomunikasi, pengelolaan waktu dan anggaran, maupun pengambilan keputusan. Sebaliknya, kegagalan di dunia kerja bisa berakibat lebih besar, misalnya kehilangan aset atau pekerjaan. Namun, pelajaran dari kegagalan hanya akan muncul jika kita bersedia mengevaluasi diri dan melakukan perbaikan.

Memanfaatkan Lima Perkara

Masa muda dan masa kuliah merupakan periode penting dalam pembentukan karakter yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Pengalaman bekerja sama, melakukan kesalahan, menghadapi penolakan, dan mengatur waktu akan ikut membentuk karakter seseorang. Idealnya, setelah lulus, mahasiswa membawa pulang pengetahuan dan pengalaman yang membuatnya lebih siap menghadapi kehidupan. Karena itu, sebagai pemuda, kita tidak perlu takut mencoba hal baru selama hal tersebut positif, dapat dipertanggungjawabkan, dan selaras dengan tujuan hidup yang telah ditetapkan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan kita agar memanfaatkan masa muda dan kesempatan hidup sebelum semuanya berlalu. Dari Ibnu ‘Abbas c, Nabi ﷺ bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, 4: 341. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)[2]

Masa muda bukan sekadar masa untuk mengejar nilai dan ijazah. Jadikan masa kuliah sebagai kesempatan untuk memperkaya ilmu, menguji gagasan, belajar bekerja sama, dan membentuk karakter. Sebab, ketika masa itu berlalu, yang seharusnya kita bawa bukan hanya bukti bahwa kita pernah kuliah, melainkan juga bekal untuk memberi manfaat.

* Kepala Urusan Layanan Bantuan Kesejahteraan Pegawai di Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) Universitas Islam Indonesia

Marāji’:

[1] Al-Syafi’I, Muhammad bin Idris, Diwan al-Imam al-Syafi’I, tahqiq Muhammad Afif al-Zu’bi (Beirut: Maktabah al-Ma’rifah-Dar al-‘Ilm, 1974) h. 81.

[2] Abu ‘Abdilaah Muhammad bin ‘Abdillah al-Hakim al-Naysaburi, Al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihayn, Jilid 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990) h. 341.

Download Buletin klik di sini

Hustle Culture vs Konsep Berkah: Mencari Makna di Tengah Kelelahan Modern

Hustle Culture vs Konsep Berkah:
Mencari Makna di Tengah Kelelahan Modern

Ali Muthahari

 

Di era modern yang serba cepat ini, kita sering terjebak dalam pusaran “hustle culture”, yaitu sebuah budaya atau pandangan yang mengagungkan kesibukan tanpa henti, kompetisi yang kejam, dan kerja keras berlebihan sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Fenomena ini sering kali memperlakukan manusia layaknya mesin tanpa jiwa yang tujuan utamanya hanyalah bekerja untuk mengejar target materi. Namun, Islam menawarkan alternatif yang jauh lebih menenangkan dan bermakna melalui konsep berkah.

Apa itu Berkah?

Berkah sering diterjemahkan sebagai “berkat,” namun istilah ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Secara linguistik, berkah berarti kebaikan yang tetap, berkembang, melimpah, dan membawa manfaat.[1] Imam al-Raghib mendefinisikannya sebagai “melekatnya kebaikan Ilahi pada sesuatu”.[2]

Ketika berkah hadir, waktu seolah-olah meluas sehingga kita bisa menyelesaikan lebih banyak hal bermanfaat dalam durasi yang singkat. Berkah membalikkan logika materi, yaitu sesuatu yang sedikit namun diberkahi jauh lebih baik daripada kelimpahan yang hampa tanpa kehadiran-Nya. Berkah bisa muncul dalam bentuk pertumbuhan materi, stabilitas keluarga, maupun ketenangan hati meskipun di tengah kesulitan.[3]

Akar Masalah: Lima Pilar Hustle Culture

Kecanduan masyarakat modern terhadap hustle culture berakar pada lima pandangan hidup yang mendominasi dunia saat ini: materialisme, individualisme, konsumerisme, kapitalisme, dan ketakutan akan kematian. Dalam budaya ini, harga diri seseorang sering kali hanya didefinisikan oleh jabatan dan angka gaji. Kerja telah berubah menjadi semacam “agama baru” atau workism yang menjanjikan identitas dan tujuan hidup, namun ironisnya sering kali berakhir dengan kelelahan mental (burnout), kecemasan, dan kekosongan spiritual.[4]

Banyak dari kita yang merasa terjepit dalam sistem ini, di mana kita sering kali harus “menitipkan” iman kita di pintu masuk kantor karena merasa nilai-nilai agama dianggap tidak profesional. Akibatnya, hidup menjadi terasa hampa karena kita berhenti memercayai dampak dari dunia yang tak kasat mata terhadap realitas fisik kita.

Redefinisi Produktivitas dalam Islam

Dalam pandangan Islam, produktivitas bukan sekadar tentang seberapa banyak output yang dihasilkan dalam waktu tertentu. Definisi produktivitas yang lebih akurat adalah: Fokus x Energi x Waktu (yang diarahkan untuk memaksimalkan pahala di akhirat).[5] Islam memandang dunia bukan sebagai sesuatu yang harus dibenci, melainkan sebagai “lahan pertanian untuk akhirat”. Kita tidak diperintahkan untuk mengabaikan dunia, melainkan untuk tidak membiarkan kenyamanan duniawi menipu kita sehingga melupakan tujuan utama, yaitu beribadah kepada Allah.

Tukang Kayu versus Tukang Kebun

Perbedaan fundamental antara hustle culture dan budaya berkah dapat digambarkan melalui sebuah perumpanaan antara Tukang Kayu versus Tukang Kebun. Penganut hustle culture cenderung memiliki mentalitas “tukang kayu” yang merasa memiliki kontrol penuh atas setiap faktor dan hasil akhir, sehingga mereka sering resah saat kenyataan atau hasil tidak sesuai ekspektasi.

Sebaliknya, budaya berkah mengajak kita menjadi “tukang kebun.” Seorang tukang kebun memahami bahwa tugasnya hanyalah memilih benih niat yang baik, menanamnya di lingkungan yang tepat, dan bekerja keras merawatnya, namun ia sepenuhnya sadar bahwa hasil panen berada di tangan Allah. Fokus penganut berkah adalah pada penerimaan (acceptance) dari Allah melalui niat yang tulus dan usaha yang jujur, bukan semata-mata pada hasil materi.

Mencari Berkah dalam Keseharian

Salah satu kunci praktis untuk menarik berkah adalah dengan memanfaatkan waktu pagi. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi ﷺ bersabda:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”[6] (HR Abu Daud no. 2606).

Sementara penganut hustle culture kerap memulai hari dengan membuka gawai dan memeriksa email, seorang muslim yang baik memulai hari dengan ibadah terlebih dahulu, kemudian bekerja di saat energi dan semangat sedang berada di puncaknya.

Selain itu, berkah dapat ditemukan dalam aktivitas sederhana seperti makan bersama.

Dari Wahsyi bin Harb z, bahwasanya para Sahabat Nabi ﷺ berkata: “Wahai Rasulullah ﷺ, sesungguhnya kita makan tapi tidak kenyang.” Beliau ﷺ bersabda: “Mungkin kalian makan dengan tidak berkumpul?” Mereka berkata: “Ya.” Beliau bersabda:

فَاجْتَمِعُوْا عَلَى طَعَامِكُمْ، فَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهَ عَلَيْهِ! يُبَارَكْ لَكُمْ فِيْهِ

“Berkumpullah kalian ketika makan dan sebutlah Nama Allah padanya, maka makanan kalian akan diberkahi.” (HR Abu Dawud dalam Sunannya IV/138).[7] Kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap tindakan, mulai dari mengucapkan Bismillah sebelum memulai hingga bersyukur setelah selesai, adalah katalis untuk membuka pintu berkah.

Kesimpulan

Pada akhirnya, berkah membawa kita kembali kepada Sang Pemberi Berkah, yaitu Allah. Jika kesuksesan atau harta yang diraih justru menjauhkan kita dari Tuhan, maka sebenarnya tidak ada berkah di dalamnya. Islam mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta benda, melainkan kepuasan jiwa (self-contentment).

Dengan beralih dari hustle culture yang melelahkan menuju Budaya Berkah yang seimbang, kita tidak hanya akan menjadi lebih produktif secara fisik, tetapi juga akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kesuksesan jangka panjang di dunia maupun akhirat. Mari kita berhenti mengejar fatamorgana “lebih banyak” dan mulai mengejar “keberkahan” yang membuat yang sedikit terasa cukup, dan yang banyak terasa bermanfaat bagi sesama.

Marāji’:

[1] Aḥmad Mukhtâr ʿAbd al-Ḥamîd ʿUmar. Muʿjam al-Lughah al-ʿArabiyyah al-Muʿâṣirah. Dengan bantuan tim peneliti. Kairo: ʿÂlam al-Kutub. Cet. ke-1. 1429 H/2008 M. Juz 1. h. 193.

[2] Al-Mawsûʿah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah. Kuwait: Wizârat al-Awqâf wa al-Syu’ûn al-Islâmiyyah. Juz 10. h. 69.

[3] Mohammed A. Faris. The Barakah Effect: More With Less. Swansea, United Kingdom dan Milpitas, California, United States: Claritas Books. 2024.

[4] Derek Thompson. “The Religion of Workism Is Making Americans Miserable.” The Atlantic, 25 Februari 2019. Diakses pada 17 April 2026. The Atlantic.

[5] Mohammed Faris. The Productive Muslim: Where Faith Meets Productivity. Swansea, United Kingdom dan Milpitas, California, United States: Awakening Publications. 2016.

[6] Ḍiyâ’ al-Dîn Abû ʿAbd Allâh Muḥammad ibn ʿAbd al-Wâḥid al-Maqdisî. Faḍâ’il al-Aʿmâl. Madinah: al-Jâmiʿah al-Islâmiyyah. h. 103.

[7] Jalâl al-Dîn ibn Abî Bakr al-Suyûṭî. Al-Jâmiʿ al-Ṣaghîr fî Aḥâdîts al-Basyîr al-Nadhîr. Beirut: Dâr al-Kutub al-ʿIlmiyyah. Cet. ke-2. 1425 H/2004 M. h. 17.

Download Buletin klik di sini

Paradoks Anak Muda: Ingin Bertumbuh, Takut Terjatuh

Paradoks Anak Muda: Ingin Bertumbuh, Takut Terjatuh

Faisal Ahmad Ferdian Syah, S.H.*

 

Pernahkah kamu ingin mengikuti sebuah perlombaan, tapi mengurungkan niat karena takut kalah? Ingin menyampaikan pendapat di kelas, tetapi memilih diam karena khawatir salah? Ingin memulai suatu hal yang baru, tetapi terus menundanya karena merasa belum cukup mampu?

Seringkali kita menginginkan kehidupan yang lebih baik, tetapi takut menghadapi proses yang diperlukan untuk mencapainya. Kita ingin berkembang, tapi justru menghindari tantangan. Kita ingin berhasil, tetapi enggan berhadapan dengan kemungkinan gagal. Inilah paradoks yang kerap dialami anak muda yang ingin bertumbuh, tetapi takut terjatuh. Padahal kegagalan tak selalu berarti akhir dari segalanya. Ia bisa menjadi kesempatan untuk mengenali kekurangan, mengevaluasi langkah, dan menemukan cara yang lebih baik. Nilai yang buruk dapat mengajarkan kita memperbaiki cara belajar, sedangkan penolakan bisa menjadi bahan untuk mempersiapkan diri dengan lebih matang. Sebab, yang mengantarkan kita pada pertumbuhan bukan sekedar kegagalan, melainkan kesediaan untuk belajar darinya.

Terjebak dalam Keingingan untuk Selalu Sempurna

Salah satu penghambat pertumbuhan adalah keinginan untuk melakukan segala sesuatu dengan sempurna (perfeksionis). Kita merasa harus memiliki kemampuan yang cukup, pengalaman yang matang, bahkan kepercayaan diri penuh sebelum berani melangkah. Padahal, pemahaman tidak selalu berbanding lurus dengan kesiapan, sebab banyak keterampilan dan pengalaman justru terbentuk melalui keberanian untuk mencoba, menghadapi kesalahan, dan belajar dari kegagalan.

Allah ﷻ berfirman:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS An-Najm [53]: 39).

Dalam kitab at-Taḥrīr wa at-Tanwīr, Ibn ‘Āsyūr mengingatkan bahwa ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya usaha. Kita tidak harus menunggu sempurna untuk memulai, sebab kemampuan dan pengalaman justru tumbuh melalui proses berusaha.[1]

Penelitian Subhan Ajrin Sudirman dan rekan-rekannya dalam International Journal of Islamic Educational Psychology menunjukkan bahwa perfeksionisme dan ketakutan akan kegagalan berkaitan dengan kecenderungan mahasiswa menunda pekerjaan akademik.[2] Ketika seseorang terlalu menuntut hasil yang sempurna dan takut melakukan kesalahan, ia bisa menjadi ragu untuk memulai. Akibatnya, alih-alih segera mengerjakan tugas dan belajar dari prosesnya, ia justru terjebak dalam kekhawatiran tentang kemungkinan gagal.

Bayangkan seorang mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah. Ia memiliki ide, tetapi terus merasa tulisannya belum cukup baik. Ia membandingkan karyanya dengan para juara, membaca banyak referensi, dan menunda mengirimkan tulisan karena takut kalah. Hingga pendaftaran ditutup, ia belum juga mencoba.

Ironisnya, keinginan untuk menghasilkan karya terbaik justru membuatnya kehilangan kesempatan untuk berkembang. Padahal, kemampuan tidak hanya dibentuk melalui persiapan, tetapi juga melalui keberanian mencoba, menerima kritik, dan memperbaiki kesalahan. Belum mampu bukan berarti tidak akan mampu, sebagaimana pernah gagal bukan berarti akan selalu gagal.

Islam Mengajarkan Ikhtiar, Bukan Menyerah

Islam mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam berusaha, tanpa menjadikan hasil sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR Muslim, no. 2664)

Hadis ini mengajarkan kita untuk mengejar hal yang bermanfaat, meminta pertolongan Allah, dan tidak mudah menyerah. Tawakal bukan alasan untuk berhenti mencoba, melainkan sikap berserah diri setelah berusaha dengan sungguh-sungguh.

Kita mungkin tidak selalu memenangkan perlombaan atau lolos seleksi yang diinginkan. Namun, kita tetap bisa memperbaiki persiapan, menjaga kejujuran, dan mengambil pelajaran dari setiap pengalaman. Allah tidak menjanjikan setiap ikhtiar akan menghasilkan apa yang kita inginkan, tetapi ketidakpastian hasil bukan alasan untuk berhenti berikhtiar.

Belajar Terjatuh, Berani Bertumbuh

Dalam psikologi, konsep growth mindset menjelaskan keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui proses belajar, strategi yang tepat, dan usaha yang disertai evaluasi. Penelitian Yeager dan Dweck (2020) menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuan yang dapat berkembang mendorongnya untuk memandang tantangan sebagai kesempatan belajar, bukan sekadar ancaman terhadap harga diri. Namun, pola pikir ini perlu didukung strategi belajar dan lingkungan yang tepat.[3]

Kita perlu mengubah cara memandang kegagalan. Tidak lolos seleksi bukan berarti kita tidak akan pernah kompeten. Mendapat nilai buruk bukan berarti kita tidak mampu memahami pelajaran. Melakukan kesalahan bukan berarti kita adalah manusia yang gagal. Kegagalan dapat menjadi bahan evaluasi: apa yang perlu diperbaiki, strategi apa yang kurang tepat, dan keterampilan apa yang belum dikuasai?

Di sinilah pentingnya self-compassion. Neff (2023) menjelaskan bahwa self-compassion membantu seseorang menghadapi kegagalan tanpa terus menyalahkan atau merendahkan dirinya sendiri. Dengan menerima bahwa kesalahan merupakan bagian dari pengalaman manusia, kita dapat mengevaluasi kekurangan dan memperbaikinya tanpa kehilangan keyakinan untuk terus bertumbuh.[4]

Jadi, kita boleh kecewa ketika gagal, tetapi jangan menjadikan kekecewaan sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri. Akui kesalahannya, evaluasi prosesnya, lalu perbaiki langkah berikutnya. Sebab, bertumbuh bukan berarti tidak pernah terjatuh. Bertumbuh berarti belajar memahami mengapa kita terjatuh dan bagaimana melangkah dengan lebih baik setelahnya.

Mulailah, Meski Belum Sempurna

Mulailah dari langkah kecil, jadikan kesalahan sebagai bahan evaluasi, dan berhentilah mengukur keberhasilan diri hanya dari pencapaian orang lain. Iringi setiap ikhtiar dengan doa dan tawakal. Kita tidak harus menjadi orang paling pintar untuk mulai belajar atau menjadi pribadi sempurna untuk mulai memperbaiki diri. Yang terpenting, kita bersedia melangkah dan belajar dari setiap pengalaman.

Akan selalu ada kemungkinan salah, ditolak, dan gagal. Namun, menghindari semua kemungkinan itu juga berarti kehilangan kesempatan untuk berkembang. Jadi, persiapkan dirimu, mintalah pertolongan Allah, lalu beranilah mengambil langkah pertama. Jangan sampai kita begitu takut terjatuh hingga tidak pernah memberi diri sendiri kesempatan untuk bertumbuh.

* Alumnus Prodi Ahwal Syakhshiyah IP FIAI UII

Marāji’:

[1] Muḥammad al-Ṭāhir Ibn ‘Āsyūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, tafsir QS. an-Najm [53]: 39, diakses melalui Tafsir.app, https://tafsir.app/ibn-aashoor/info.

[2] Subhan Ajrin Sudirman, Faisal Adnan Reza, Nur Aisyiah Yusri, Rina, dan Mucktarr Bah. “Putting Off Until Tomorrow: Academic Procrastination, Perfectionism, and Fear of Failure.” International Journal of Islamic Educational Psychology. Vol. 4. No. 1. 2023. https://doi.org/10.18196/ijiep.v4i1.17576.

[3] David S. Yeager dan Carol S. Dweck, “What Can Be Learned from Growth Mindset Controversies?” American Psychologist 75, no. 9 (2020): 1269–1284, https://doi.org/10.1037/amp0000794

[4] Kristin D. Neff, “Self-Compassion: Theory, Method, Research, and Intervention,” Annual Review of Psychology 74 (2023): 193–218, https://doi.org/10.1146/annurev-psych-032420-031047

Download Buletin klik di sini

Takut Menjadi Biasa-Biasa Saja

Takut Menjadi Biasa-Biasa Saja

Muhammad Malik Nahar*

 

Bismillâh wal hamdulillâh wash-shalâtu was-salâmu ‘alâ Rasûlillâh, wa ba‘du.

Sahabat Al-Rasikh yang dirahmati Allâh ﷻ, pernahkah kita merasa agak malu ketika ditanya, “Sekarang sibuk apa?” lalu jawaban paling jujur kita hanyalah, “Ya, kuliah saja?” Di saat yang sama, teman lain sedang sibuk dalam organisasinya, banyak memenangkan lomba, magang di perusahaan besar, ikut exchange, membangun bisnis, atau mengisi LinkedIn dengan sederet pengalaman baru. Adapun sebagian mahasiswa yang “biasa” saja mungkin merasa kecil karena dirinya cuma kuliah, cuma jadi anggota, cuma belum punya prestasi besar, dsb.

Keinginan berkembang tentu bukan masalah. Ambisi, prestasi, dan pengalaman dapat menjadi sarana kebaikan. Namun, ada titik ketika kita tidak lagi sekadar ingin bertumbuh. Kita mulai merasa harus memiliki sesuatu yang mengesankan agar layak merasa berharga. Pencapaian yang semula menjadi sarana berubah menjadi ukuran diri. Saat tidak ada keberhasilan baru yang bisa diceritakan, kita merasa hidup sedang berjalan di tempat. Pertanyaannya, apakah hidup yang tidak spektakuler berarti hidup yang gagal?

Ketika Prestasi Menjadi Syarat untuk Merasa Berharga

Lingkungan kampus memang terbiasa dengan budaya pencapaian dimana segala sesuatu terukur dengan angka dan label. Ada IPK, ranking, sertifikat, jabatan organisasi, publikasi, penghargaan, dan berbagai pencapaian yang mudah dibandingkan. Hal ini bukan sesuatu yang buruk, namun masalahnya seringkal ukuran tersebut berpindah dari alat evaluasi menjadi penentu harga diri.

Kita mulai merasa hebat ketika berhasil dan merasa tidak berarti ketika gagal. Kita mengambil terlalu banyak kegiatan bukan karena semuanya penting, tetapi karena takut terlihat biasa. Bahkan istirahat pun bisa terasa seperti kemunduran karena orang lain tampak terus bergerak.

Nyatanya, Islam tidak menempatkan kemuliaan manusia pada seberapa mengesankan hidupnya di mata orang lain. Allâh ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurât [49]: 13).

Ukuran kemuliaan di sisi Allâh ﷻ bukanlah popularitas, jabatan, atau panjangnya daftar pencapaian, melainkan ukuran kemuliaan tersebut adalah ketakwaan.

Islam Tidak Meminta Hidup Kita Terlihat Spektakuler

Allâh ﷻ juga berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk [67]: 2).

Syaikh ‘Abdurrahmân as-Sa‘dî v menjelaskan bahwa aḥsanu ‘amalan berarti amal yang paling ikhlas dan paling benar.[1] Artinya, yang menjadi perhatian bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi kualitas amal di hadapan Allâh ﷻ.

Dari Abu Hurairah z, ia berkata bahwa Rasûlullâh ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR Muslim, no. 2564).[2]

Ketika manusia melihat profil, Allâh ﷻ melihat hati dan amal. Dan ketika manusia melihat penghargaan, Allâh ﷻ mengetahui perjuangan yang tidak pernah kita ceritakan.

Ada Kebaikan yang Tidak pernah Masuk CV

Tidak semua kehidupan yang bernilai menghasilkan sertifikat atau penghargaan tertulis. Ada mahasiswa yang tidak banyak berorganisasi karena selepas kuliah harus membantu orang tuanya. Ada yang pencapaian terbesarnya semester ini adalah tetap bertahan di tengah masalah keluarga. Ada yang tidak pernah menjadi ketua, tetapi selalu datang ketika temannya membutuhkan bantuan. Ada yang namanya tidak terkenal, tetapi menjaga salat, belajar dengan jujur, dan menunaikan amanah kecil tanpa banyak bicara.

Ketika tidak semua hal dapat ditulis di LinkedIn, tidak berarti nilainya kecil di sisi Allâh ﷻ. Dari ’Aisyah z, beliau mengatakan bahwa Rasûlullâh ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit.” (HR Muslim, no. 783).[3]

Ada kehidupan yang terlihat biasa dari luar, tetapi boleh jadi sangat berat timbangannya di sisi Allah. Sebaliknya, kehidupan yang tampak luar biasa belum tentu bernilai jika dibangun di atas niat yang salah atau amanah yang diabaikan.

“Biasa” Bukan Alasan Untuk Menjadi Malas

Namun, bukanlah tujuan dari tulisan ini untuk ajakan untuk puas dengan kemalasan. Islam mendorong kita untuk produktif; belajar, bekerja, berbuat ihsan, dan berlomba dalam kebaikan. Berusahalah memperoleh nilai yang baik! Ikuti lomba jika mampu. Berorganisasilah jika memberi manfaat. Maganglah, menulislah, lakukan penelitian, dan bangun kompetensi dan relasi. Yang perlu dijaga adalah alasan di balik semuanya.

Jangan mengejar prestasi hanya agar prestasi itu memberi alasan untuk merasa berharga. Jangan memenuhi kalender hanya karena takut disebut tidak produktif. Jangan memaksakan jalan hidup yang sebenarnya tidak sesuai amanah dan kemampuan hanya karena takut dianggap biasa.

Kita boleh ingin menjadi hebat. Kita hanya tidak boleh menggantungkan harga diri pada keberhasilan menjadi hebat.

Berani Menjadi “Biasa” di Mata Manusia

Sesekali, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: jika tidak ada yang tahu bahwa saya melakukan ini, apakah saya masih mau melakukannya? Jika pencapaian ini tidak bisa dimasukkan ke CV atau diunggah ke media sosial, apakah saya masih menganggapnya berharga? Apakah saya mengejarnya karena memang bermanfaat, atau karena takut tidak terlihat istimewa?

Pada akhirnya, Allah tidak akan menanyakan apakah kehidupan kita cukup mengesankan untuk menjadi cerita. Yang akan dipertanggungjawabkan adalah bagaimana kita menggunakan ilmu, waktu, kemampuan, dan amanah yang diberikan. Jangan sampai kebutuhan untuk menjadi luar biasa di mata manusia membuat kita lupa menjadi benar di hadapan Allah. Sebab menjadi biasa di mata manusia tidak pernah berarti biasa di sisi-Nya. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.

* Mahasiswa Program Studi Ahwal Syakhshiyyah Program Internasional, Universitas Islam Indonesia.

Marāji’:

[1] ‘Abdurrahmân ibn Nâshir as-Sa‘dî. Taisîr al-Karîm ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannân. Beirut: Mu’assasah ar-Risâlah. 2000. Cet. ke-1. Tafsir QS Al-Mulk [67]: 2.

[2] Muslim ibn al-Hajjâj an-Naisâbûrî. Shahîh Muslim. Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabî. t.t. no. 2564. https://sunnah.com/muslim%3A2564c

[3] Muslim ibn al-Hajjâj an-Naisâbûrî. Shahîh Muslim. Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabî. t.t. no. 783. https://sunnah.com/muslim%3A783b

Download Buletin klik di sini

Kita Sibuk, tapi Tahu Nggak Buat Apa?

Kita Sibuk, tapi Tahu Nggak Buat Apa?

Faishal Hanif*

Coba kita jujur ke diri sendiri, kalau pas ditanya kamu lagi ngejar apa sih sebenarnya? Apa jawabannya bakal jelas, atau cuma diam aja terus jawab seadanya?

Kebanyakan orang sibuk banget, tapi pas ditanya arahnya ke mana, jawabannya kabur. Kerja keras, iya. Ngejar target, juga iya. Tapi ujungnya buat apa, sering nggak ada jawaban yang benar-benar dipikirkan. Cuma jawaban template buat nutup pertanyaan biar nggak usah dipikirin lagi.

Sebenarnya ini bukan cuma masalah kita di zaman sekarang. Al-Râghib al-Ishfahânî, seorang ulama dan filsuf dari abad ke-11, bahas panjang lebar dalam kitabnya soal kebahagiaan manusia.[1] Dia hidup jauh sebelum ada kata “produktivitas” atau “hustle“, tapi karena itu, cara dia melihat masalah ini nggak kebawa tren zaman mana pun. Melihat manusia apa adanya, dan ternyata polanya persis sama dengan yang kita alami sekarang.

Tiga Pertanyaan yang Jarang Kita Tanya

Menurut al-Ishfahânî, hidup manusia itu sebenarnya dibangun dari tiga pertanyaan: dari mana berasal (mabdâ’), lagi ngapain sekarang (ma’âsy), dan ujungnya mau ke mana (ma’âd).[2] Kita biasanya cuma hidup di pertanyaan kedua doang. Sibuk sama urusan sekarang, kerjaan sekarang, target bulan ini, tanpa pernah balik lagi ke dua pertanyaan lainnya.

Akibatnya, kita bisa kelihatan produktif banget dari luar, padahal sebenarnya cuma muter-muter di tempat. Al-Ishfahânî menjelaskan, orang seperti ini kehilangan istiqâmah, yaitu tetap berada di jalan yang benar dan terus mengarah ke tujuan yang semestinya, bukan kehilangan kecepatan.[3] Karena jalan cepat dan jalan lurus itu dua hal yang berbeda. Bisa aja kamu bergerak cepat banget, sibuk banget, banyak yang dikerjakan, tapi kalau arahnya salah, ya ujung-ujungnya tetap nggak sampai ke tujuan.

Karena itu, kita perlu sesekali berhenti dan melihat lagi tiga pertanyaan tadi. Pertanyaan tentang mabdâ’ mengingatkan kita bahwa kita berasal dari Allah dan hidup dalam ketetapan-Nya. Pertanyaan tentang ma‘âsy mengajak kita melihat lagi apa yang sedang kita lakukan. Sedangkan pertanyaan tentang ma‘âd mengingatkan kita ke mana semua ini akan berakhir, yaitu kembali kepada Allah. Dengan begitu, kesibukan kita nggak lagi sekadar memenuhi waktu atau mengejar target, tapi menjadi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang benar.

Kerja Boleh, Asal Jangan Jadi Tujuan Akhir

Hal yang saya suka dari al-Iṣfahānī, ia nggak anti terhadap dunia. Ia mengajarkan bahwa mengejar karier dan penghasilan itu nggak salah, bahkan bisa menjadi sesuatu yang diperlukan, selama ditempuh dengan cara yang benar dan tetap dalam koridor syariat.[4] Kesalahan terjadi ketika karier dan pencapaian dijadikan tujuan akhir, bukan sebagai bekal untuk meraih sesuatu yang lebih besar.

Coba pikir, banyak banget orang yang CV-nya bagus dan kariernya naik terus, tapi pas ditanya, “Terus semua ini buat apa?”, kosong. Kadang jawabannya cuma, “Biar naik jabatan lagi,” atau “Biar nggak kalah sama temen seangkatan.” Padahal, itu bukan jawaban; itu cuma target berikutnya yang seolah-olah menjadi jawaban. Kalau ditelusuri, target tuh nggak akan pernah habis karena sesungguhnya memang bukan itu yang dicari. Masalahnya muncul ketika karier yang semestinya menjadi sarana justru ditempatkan sebagai tujuan akhir.

Kerjaan Sehari-Hari Bisa Jadi Ibadah, atau Bisa Juga Cuma Rutinitas Kosong

Kerja, kuliah, dan cari uang, itu semua sebenarnya netral. Nggak otomatis jadi ibadah cuma rajin kita kerjain.[5] Nilai ibadah dan pahala ditentukan oleh niat, cara melaksanakannya, serta tujuan untuk mencari rida Allah. Tanpa itu, ya cuma rutinitas biasa, capek dan kosong.

Al-Ishfahânî bahkan mengutip peringatan Rasûlullâh ﷺ buat orang yang kelewatan. Dari Abu Hurairah z, Rasûlullâh ﷺ bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ

“Celakalah hamba dinar, hamba dirham,…”. (HR Bukhari no. 6435)[6]. Poinnya bukan soal butuh uang buat hidup, jelas semua orang butuh. Lebih kepada soal orang yang seluruh dirinya dikuasai uang sampai nggak bisa mikir apa-apa lagi di luar itu. Beda antara orang yang masih bisa milih, sama orang yang udah nggak punya jarak sama sekali dari uangnya sendiri.

Tiga Dorongan dalam Diri, dan yang Harusnya Pegang Kendali

Al-Iṣfahānī menjelaskan bahwa manusia digerakkan oleh tiga daya: syahwah (hasrat atau keinginan untuk memiliki dan menikmati sesuatu), hamiyyah (semangat, termasuk dorongan untuk menjaga harga diri dan tidak mau kalah dari orang lain), dan fikr (akal, yaitu daya untuk berpikir dan menimbang).[7]  Dua daya pertama merupakan sesuatu yang wajar dan memang diperlukan. Masalah muncul ketika syahwah dan hamiyyah berjalan tanpa kendali. Keduanya tidak akan pernah merasa cukup: selalu menuntut lebih, tanpa arah yang jelas tentang untuk apa semua itu dilakukan.

Akal seharusnya menjadi pengendali. Fungsinya bukan untuk mematikan dorongan-dorongan tersebut, melainkan mengarahkannya. Al-Iṣfahānī menjelaskan bahwa akal ibarat mata, sedangkan nilai dan syariat ibarat cahaya.[8] Mata yang berfungsi sempurna sekalipun tidak akan dapat melihat dalam kegelapan tanpa cahaya. Demikian pula, akal yang tajam dapat salah arah jika tidak diterangi oleh nilai yang benar dan jelas.

Solusinya bukan mematikan ambisi, melainkan menjaga i‘tidāl, yaitu keseimbangan. Akal yang telah diterangi oleh nilai dan syariatlah yang menentukan sejauh mana syahwah dan hamiyyah dapat diarahkan dan dikendalikan.

Jadi, Balik ke Pertanyaan Awal

Pesannya bukan agar kita berhenti bekerja keras. Kerja keras tetap penting, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan arah. Sesekali, berhentilah sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri: “Semua ini untuk apa?”

Jawaban yang tidak kunjung jelas setelah sekian lama sibuk mungkin menjadi tanda bahwa yang perlu dibenahi bukan seberapa keras kita bekerja, melainkan ke mana semua itu diarahkan.

* NIM: 23512113; Program Studi Arsitektur, Universitas Islam Indonesia

Marāji’:

[1] Al-Raghib al-Ishfahani. Tafshîl al-Nash’atayn wa Tahshîl al-Sa’âdatayn. Beirut: Dâr Maktabat al-Hayâh. 1983. Cet. ke-1. h. 68.

[2] Ibid., Bab 17 (Fī Ḥālat al-Insān fī Dunyāhu wa Mā Yaḥtāju an Yatazawwada Minhā). h. 68–70.

[3] Ibid., Bab 17. h. 68–69.

[4] Ibid., Bab 17. h. 70.

[5] Ibid., Bab 21 (Fī al-Afʿāl al-Insāniyyah al-Mutaʿalliqah bi al-Sharīʿah). h. 80–81.

[6] Ibid., Mukadimah Penulis. h. 16. Istilah ini dikutip Al-Ishfahânî dari hadis Rasulullah ﷺ: “Taʿisa ʿabd al-dīnāri wa ʿabd al-dirham…” (HR Bukhari, no. 2886 & 6435, dari Abu Hurairah RA; lihat juga HR Ibn Majah, no. 4136).

[7] Ibid., Bab 26 (Fī al-Quwā allatī Yajibu Izālat Amrāḍihā wa-Anjāsihā…). h. 94–95.

[8] Ibid., Bab 18 (Fī Taẓāhur al-ʿAql wa al-Sharʿ wa-Iftiqār Aḥadihimā ilā al-Ākhar). h. 72.

Download Buletin klik di sini

Sibuk Bukan Berarti Produktif

Sibuk Bukan Berarti Produktif

Maharani Kharisma Latul Zam Zam*

 

Bismillâhi Walhamdulillâhi wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ rasûlillâh,

Menjadi mahasiswa sering kali identik dengan kesibukan. Perkuliahan, tugas, organisasi, kepanitiaan, lomba, penelitian, hingga kegiatan sosial seolah selalu memiliki tempat dalam keseharian. Kesibukan memang dapat menjadi bagian dari proses belajar dan berkembang. Namun, di tengah padatnya aktivitas, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah semua yang dilakukan benar-benar produktif, atau sekadar membuat kita terlihat sibuk?

Sibuk Belum Tentu Produktif

Pada dasarnya, sibuk dan produktif merupakan dua hal yang berbeda. Sibuk lebih berkaitan dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan, sedangkan produktif berkaitan dengan kemampuan menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu yang memiliki tujuan dan manfaat. Seseorang dapat memiliki jadwal yang penuh, tetapi belum tentu mendapatkan perkembangan yang berarti. Sebaliknya, seseorang dengan aktivitas yang lebih sedikit justru dapat memanfaatkannya secara maksimal.

Islam memberikan perhatian besar terhadap waktu. Allah ﷻ. berfirman dalam Surah Al-‘Ashr:

وَٱلْعَصْرِ. إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ. إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ.

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-‘Ashr [103]: 1–3).

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa waktu merupakan sesuatu yang berharga. Bagi mahasiswa, waktu dapat digunakan untuk belajar, mengembangkan kemampuan, menjalankan amanah, maupun memberi manfaat bagi orang lain. Karena itu, ukuran keberhasilan bukan hanya dilihat dari seberapa banyak kegiatan yang diikuti, tetapi juga dari nilai yang diperoleh dan kontribusi yang dihasilkan dari kegiatan tersebut.

Aktif Berorganisasi, Tetap Tahu Prioritas

Salah satu aktivitas yang banyak dijalani mahasiswa adalah organisasi. Berorganisasi dapat menjadi ruang untuk belajar bekerja sama, berkomunikasi, mengatur kegiatan, dan menyelesaikan persoalan. Penelitian mengenai organisasi mahasiswa di Universitas Islam Indonesia menunjukkan bahwa pengalaman berorganisasi dapat mendukung kemampuan komunikasi interpersonal mahasiswa.[1] Dengan demikian, organisasi dapat menjadi sarana pengembangan diri selama dijalani dengan tujuan dan tanggung jawab yang jelas.

Namun, menjadi aktif bukan berarti harus mengambil semua kesempatan yang datang. Keinginan untuk mengikuti berbagai kegiatan terkadang membuat mahasiswa lupa menentukan batas kemampuan diri. Akibatnya, tugas kuliah tertunda, waktu istirahat berkurang, bahkan amanah yang telah diterima tidak dapat diselesaikan dengan baik. Padahal, kemampuan menentukan prioritas juga merupakan bagian dari kedewasaan sebagai mahasiswa.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar seseorang mengarahkan semangatnya kepada hal-hal yang bermanfaat. Dari Abu Hurairah z, Rasulullah ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR Muslim, no. 2664).[2]

Pesan tersebut relevan dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Mengikuti lomba karena ingin mengembangkan kemampuan tentu memiliki tujuan yang berbeda dengan mengikuti lomba hanya karena takut tertinggal dari teman. Begitu pula dengan organisasi. Banyaknya posisi atau kepanitiaan yang pernah diikuti tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang telah berkembang jika setiap tanggung jawab tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Tantangan lainnya datang dari media sosial. Kita dapat dengan mudah melihat teman yang memenangkan perlombaan, aktif dalam berbagai organisasi, menjadi pembicara, atau mengikuti banyak kegiatan. Tanpa disadari, pencapaian orang lain dapat menjadi tekanan untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya, kita mengambil terlalu banyak aktivitas bukan karena benar-benar sesuai dengan kebutuhan, melainkan karena takut merasa tertinggal.

Padahal, setiap mahasiswa memiliki tujuan, kemampuan, dan proses yang berbeda. Ada yang memilih lebih fokus pada akademik, ada yang aktif dalam organisasi, dan ada pula yang banyak terlibat dalam kegiatan sosial. Tidak ada satu pola yang harus diikuti semua orang. Hal yang penting adalah kemampuan menentukan pilihan berdasarkan prioritas serta kesanggupan untuk menjalankannya secara bertanggung jawab.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah membuat prioritas. Tentukan hal-hal yang memang penting untuk diselesaikan, kemudian susun jadwal yang realistis. Jangan memenuhi agenda hanya agar terlihat produktif. Penelitian meta-analisis terhadap 31 studi yang melibatkan 13.506 mahasiswa menemukan adanya hubungan positif antara manajemen waktu dan hasil belajar mahasiswa.[3] Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola waktu menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan perkuliahan.

Produktivitas yang Seimbang

Produktivitas juga tidak berarti harus terus melakukan sesuatu tanpa jeda. Istirahat, beribadah, melakukan evaluasi diri, dan menjaga hubungan dengan orang lain tetap menjadi bagian dari kehidupan yang seimbang. Jangan sampai keinginan untuk menjadi produktif justru membuat kita mengabaikan kesehatan, kewajiban, atau kebutuhan untuk beristirahat.

Allah ﷻ berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ. وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب.

“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS Al-Insyirah [94]: 7–8).[4]

Ayat tersebut mengajarkan bahwa setelah menyelesaikan suatu urusan, kita dapat melanjutkan pada urusan berikutnya dengan tetap berusaha dan menggantungkan harapan kepada Allah. Dalam kehidupan mahasiswa, prinsip ini dapat diwujudkan dengan menyelesaikan tanggung jawab secara bertahap, menentukan prioritas, dan tidak memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya dalam waktu yang bersamaan.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa berkelas bukan tentang siapa yang paling padat jadwalnya, paling banyak mengikuti organisasi, atau memiliki daftar prestasi paling panjang. Mahasiswa yang berkelas adalah mereka yang mampu menggunakan waktunya dengan bijak, menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh, terus belajar, dan berusaha memberikan manfaat.

Sibuk tentu tidak salah. Aktif juga bukan sesuatu yang perlu dihindari. Namun, di balik setiap kesibukan, kita perlu memastikan bahwa ada tujuan yang ingin dicapai dan nilai yang ingin dibangun. Sebab, yang terpenting bukan seberapa banyak kegiatan yang kita lakukan, melainkan bagaimana semua itu membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Wa Allâhu a’lam

* Mahasiswi Prodi Pendidikan Kimia UII.

Marāji’:

[1]Fadila Aulia, Putri Rahma Dwianggraeni, dan Ahmad Raihan Ishak, “Peran Organisasi Mahasiswa dalam Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Interpersonal yang Efektif,” Jurnal Mahasiswa Komunikasi Cantrik, Vol. 3, No. 2 (2023), https://journal.uii.ac.id/cantrik/article/view/29715.

[2] Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, no. 2664.

[3] Baoru Liu, Ping Ma, dan Feihang Jia, “Systematic Review and Meta-Analysis of the Impact of Time Management on College Students’ Learning Outcomes,” Frontiers in Psychology, Vol. 17 (2026), Article 1700298, https://doi.org/10.3389/fpsyg.2026.1700298.

[4] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS Al-‘Asr [103]: 1–3 dan QS Al-Insyirah [94]: 7–8.

Download Buletin klik di sini

Wahai Pemuda, Produktiflah Tanpa Kehilangan Arah

Wahai Pemuda, Produktiflah Tanpa Kehilangan Arah

Fathurrahman

 

Bismillâhi wal ḥamdulillâh, waṣ ṣalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâhi, wa ba’du,

Masa muda adalah salah satu nikmat terbesar yang sering baru disadari nilainya setelah berlalu. Pada masa inilah seseorang memiliki energi, kesempatan belajar, kesehatan, keberanian mencoba, dan waktu yang relatif luas. Karena itu, Islam tidak mengajarkan pemuda untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya agar kuat, bersemangat, mengambil manfaat dari kesempatan, dan bersegera dalam kebaikan.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan; produktif saja tidak cukup, produktif dengan arah yang benar. Sebab, seseorang bisa sangat sibuk, tetapi tidak semakin dekat kepada Allah ﷻ. Bisa memiliki banyak pencapaian, tetapi kehilangan ketenangan. Bisa mengejar banyak target, tetapi lupa untuk apa sebenarnya ia hidup.

Produktif dengan Orientasi Akhirat

Allah ﷻ berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِي ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash [28]: 77).

Ayat ini memberikan keseimbangan yang indah. Islam tidak memerintahkan kita meninggalkan dunia, tetapi juga tidak membenarkan dunia menjadi tujuan akhir.

Imam al-Qurthubi z ketika menjelaskan ayat ini menyebutkan bahwa manusia hendaknya menggunakan apa yang Allah berikan dari kehidupan dunia untuk sesuatu yang bermanfaat bagi akhirat. Ia juga menukil penjelasan bahwa “bagianmu dari dunia” dapat dipahami sebagai bagian yang halal dan bermanfaat bagi kehidupan seseorang. Dengan demikian, dunia bukan untuk dipertuhankan, melainkan dimanfaatkan sebagai sarana menuju akhirat.[1]

Maka, belajar dengan sungguh-sungguh, berorganisasi, berkarya, mengembangkan keterampilan, bekerja secara profesional, membangun usaha, dan berkontribusi kepada masyarakat adalah aktivitas yang baik apabila diarahkan untuk mencari keridaan Allah ﷻ.

Jangan Sampai Sibuk tetapi Kehilangan Waktu

Dari Ibnu Abbas c Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR al-Bukhari no. 6412).

Perhatikan, Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa manusia hanya tertipu karena kekurangan waktu. Justru waktu luang dapat menjadi nikmat yang disia-siakan.

Karena itu, persoalan pemuda hari ini bukan semata-mata kurang aktivitas. Terkadang justru terlalu banyak aktivitas, tetapi tidak memiliki prioritas. Jadwal penuh, tetapi hati kosong. Target bertambah, tetapi ibadah berkurang. Relasi semakin luas, tetapi hubungan dengan Allah ﷻ semakin jauh. Produktivitas yang benar bukanlah tentang seberapa banyak yang kita kerjakan, tetapi seberapa bernilai pekerjaan itu di hadapan Allah ﷻ.

Masa Muda Tidak Akan Kembali

Dari Ibnu ‘Abbas c, Rasulullah ﷺ pernah menasehati seseorang,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR Al Hakim, Al Mustadrok 4: 341).

Masa muda adalah modal, bukan sekadar masa bersenang-senang. Karena itu, jangan menunggu tua untuk menjadi rajin beribadah. Jangan menunggu mapan untuk bersedekah. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk memberi manfaat. Jangan menunggu kehilangan waktu untuk menyadari betapa mahalnya satu jam yang telah berlalu.

Setiap nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita, kelak akan ditanyakan pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu).” (QS At-Takaatsur [102]: 8)

Jadilah Pemuda yang Kuat dan Bermanfaat

Islam mengajarkan agar seorang mukmin memiliki kekuatan dan semangat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR Muslim no. 2664).

Hadis ini sangat relevan bagi pemuda. Ada tiga pesan penting: cari yang bermanfaat, minta pertolongan Allah ﷻ, dan jangan menyerah. Maka, pemuda semestinya memiliki himmah—cita-cita dan semangat yang tinggi: serius menuntut ilmu, membaca, berkarya, berorganisasi, membangun jaringan, menguasai keterampilan, dan mengembangkan potensi diri. Namun, semua itu harus tetap berada dalam koridor syariat dan berorientasi pada keridaan Allah ﷻ.

Produktif Bukan Berarti Harus Selalu Sibuk

Ada kekeliruan yang sering terjadi, kita menganggap produktif berarti selalu sibuk. Padahal, sibuk belum tentu produktif. Menghabiskan berjam-jam di media sosial adalah aktivitas, tetapi belum tentu produktif. Menghadiri banyak kegiatan belum tentu menghasilkan manfaat. Memiliki banyak target belum tentu berarti memiliki arah.

Imam Ibn al-Jauzi v memberikan nasihat yang sangat kuat,

وَاعْلَمْ أَنَّ الزَّمَانَ أَشْرَفُ مِنْ أَنْ يُضَيَّعَ مِنْهُ لَحْظَةٌ

“Ketahuilah bahwa waktu terlalu mulia untuk disia-siakan walau hanya sesaat.”[2]

Beliau menggambarkan hari-hari manusia seperti ladang. Setiap waktu adalah kesempatan menanam amal yang kelak akan dipanen. Karena itu, pemuda yang cerdas bukan yang memenuhi seluruh waktunya dengan kesibukan, tetapi yang menempatkan setiap kesibukan pada tempat yang tepat.

Arah Tujuan Hidup adalah Ibadah

Wahai pemuda, silakan memiliki cita-cita setinggi langit. Jadilah dokter, dosen, pengusaha, peneliti, birokrat, teknolog, dai, profesional, atau apa pun yang bermanfaat bagi umat. Tetapi jangan sampai kesuksesan membuatmu lupa kepada siapa engkau akan kembali.

Perbanyaklah amal saleh, tetapi jangan kehilangan keikhlasan. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan tinggalkan salat. Bangun karier, tetapi jangan korbankan kejujuran. Bangun jaringan, tetapi jangan tinggalkan adab. Gunakan teknologi, tetapi jangan biarkan teknologi menggunakan waktumu. Cari dunia, tetapi jangan kehilangan akhirat.

Sebab, arah tujuan hidup adalah ibadah. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56).

Inilah kompasnya; jika belajar membuat kita semakin mengenal Allah ﷻ, lanjutkan. Jika pekerjaan membuat kita mampu menafkahi keluarga dengan halal, lanjutkan. Jika organisasi membuat kita belajar melayani dan memberi manfaat, teruskan. Jika teknologi membantu kita berkarya dalam kebaikan, manfaatkan. Jika kesuksesan membuat kita semakin bersyukur dan rendah hati, syukuri.

Namun jika kesibukan membuat salat terabaikan, hati mengeras, dosa semakin ringan, dan akhirat tidak lagi menjadi tujuan, maka kita perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi arah perjalanan. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita kehilangan tujuan akhirat; sebab produktivitas yang sejati bukanlah banyaknya yang kita selesaikan, melainkan sejauh mana kesibukan itu membawa kita semakin dekat kepada Allah ﷻ.

Marāji’:

[1] Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet. II, 1384 H/1964 M, jilid. 13, h. 289.

[2] Imam Ibn al-Jauzi, Shayd al-Khathir, Damaskus: Dar al-Qalam, cet. I, 1425 H/2004 M, h. 407.

Download Buletin klik di sini

Menjaga Fitrah di Tengah Arus Konten LGBT

Menjaga Fitrah di Tengah Arus Konten LGBT

Nabila Mumtazah Priyatna*

 

Bismillāhi wal ḥamdulillāh, waṣ ṣalātu was salāmu ‘alā rasūlillāhi, wa ba’du.

Konten LGBT begitu banyak tersebar di media sosial sekarang. Banyak pula yang mengonsumsinya dengan menormalisasi adanya tindakan tersebut. Meski tidak melakukannya, mereka menyukai konten yang berisi LGBT dan menikmati kisah yang disajikan. Menurut mereka, tidak mengapa jika hanya menonton dan mendukungnya, asalkan tidak ikut menjadi bagian dari mereka. Wal’iyadzubillāh.

Fenomena ini kemudian menghadirkan pertanyaan: Jika seseorang tidak melakukan perilaku homoseksual, apakah menikmati dan mendukung kontennya merupakan bagian dari mereka?

Ketika Hiburan Membentuk Persepsi

Menyukai sebuah konten tidaklah secara otomatis mengubah identitas seseorang atau mengubah orientasi seksual dengan apa yang mereka konsumsi. Seseorang dapat menikmati konten LGBT karena alur cerita yang menarik, karakter, konflik, atau kedekatan emosional yang dibangun didalamnya. Artinya, menonton sesuatu yang negatif bukan berarti langsung mengubah identitas diri sebagaimana ketika menonton perilaku yang diharamkan lainnya tidak kemudian membuat seseorang langsung melakukannya. Akan tetapi, mengonsumsi konten LGBT sedikit demi sedikit merubah cara pandang seseorang dengan LGBT.

Melalui tayangan LGBT yang dikonsumsi seseorang, hal itu dapat membentuk persepsi mereka terhadap homoseksualitas. Menurut McCudden (2011), aktivitas membuat makna dan interpretasi terhadap suatu pesan media dinamakan meaning making. Seseorang yang mengambil ‘pesan’ dari serial drama LGBT kemudian memilah dan menerapkannya dalam pengalaman dan perasaan mereka. Beberapa persepsinya antara lain[1]:

  1. Homoseksual bukan sesuatu yang harus dipandang berbeda atau tidak normal. Meskipun memiliki budaya yang menentang homoseksual, seseorang yang menikmati konten LGBT kemudian berpandangan bahwa setiap orang berhak memiliki ketertarikan kepada siapapun tanpa batasan gender.
  2. Persepsi bahwa individu homoseksual juga menghadapi permasalahan yang rumit dalam kehidupan mereka dan menerima perlakuan yang tidak baik. Pandangan ini menyebabkan seseorang dapat merasakan simpati terhadap individu penyuka sesama jenis.

Karena itu, menyukai atau menikmati konten yang memuat perbuatan maksiat dan dosa perlu diwaspadai, sebab kebiasaan tersebut dapat secara perlahan membentuk persepsi, menumbuhkan rasa terbiasa, bahkan menyeret seseorang untuk membenarkan dan melakukan perbuatan tersebut di kemudian hari. Mitigasi perlu dilakukan sejak dini dengan lebih selektif terhadap apa yang kita lihat, sukai, dan konsumsi di ruang digital. Kita dapat mengambil pelajaran dari istri Nabi Luth p yang tidak melakukan perbuatan melampaui batas kaumnya, tetapi tidak mengingkari kemungkaran tersebut, sehingga ia turut ditimpa azab yang menimpa kaumnya.

Pelajaran dari Istri Nabi Luth p

Perilaku menyukai sesama jenis baru ada di masa Nabi Luth p dan belum pernah ada di masa sebelumnya. Nabi Luth p diutus kepada kaum Sodom. Allah ﷻ berfirman,

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ. إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fāhisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS Al A’raf [7]: 80-81)

Kemudian Allah ﷻ memberikan penjelasan menarik tentang istri Nabi Luth p,,

ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱمْرَأَتَ نُوحٍ وَٱمْرَأَتَ لُوطٍ ۖ

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir: istri Nuh dan istri Luth…” (QS At-Tahrim [66]: 10)

Istri Luth bernama Wa’ilah, ia tunjukkan pada kaumnya (yang suka pada sesama jenis) bahwa ada tamu yang datang pada malam hari, di mana Wa’ilah menunjukkannya dengan menyalakan api ketika itu. Kalau tamu itu datang pada siang hari diberi tanda dengan asap. Karena perbuatannya tersebut, Allah ﷻ mengadzab kaum Sodom beserta istri Nabi Luth didalamnya.[2]

قَالُوا۟ يَٰلُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَن يَصِلُوٓا۟ إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ ٱلَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنكُمْ أَحَدٌ إِلَّا ٱمْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا مَآ أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ ٱلصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ ٱلصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

“Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”. (QS Hud [11]: 81)

Istri Nabi Luth tidak melakukan tindakan LGBT karena dia menikahi laki-laki. Akan tetapi dia juga tidak mengingkari perbuatan melampaui batas kaumnya. Oleh karena itu Allah ﷻ turut mengazabnya bersama kaum Sodom lainnya.

Menjaga Apa yang Kita Nikmati

Berdasarkan penelitian, transformasi digital telah mengubah proses sosialisasi dan pembentukan identitas anak. Media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga berperan sebagai agen sosialisasi yang memengaruhi persepsi, nilai, dan orientasi identitas seksual melalui algoritma, konten, dan interaksi sosial dalam ranah digital.

Dalam perspektif Al-Qur’an, konsep fitrah menjadi landasan normatif dalam membimbing identitas dan perilaku anak. Namun, paparan narasi digital yang beragam dapat menimbulkan disonansi kognitif dan pergeseran nilai moral. Oleh karena itu, pemahaman fitrah perlu diterapkan secara kontekstual melalui pendidikan yang sesuai dengan tantangan era digital.

Strategi yang diperlukan adalah integrasi literasi digital dan pendidikan keluarga berbasis Al-Qur’an. Anak perlu dibekali kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi konten digital, sementara keluarga berperan aktif dalam menanamkan nilai agama dan moral. Dengan demikian, perlindungan identitas anak membutuhkan pendekatan integratif yang memadukan aspek teknologi, psikologis, dan keagamaan agar anak mampu membangun identitas yang kokoh, reflektif, dan selaras dengan nilai-nilai fitrah.[3]

Semoga kita semua dapat berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan dapat menyaring segala hal yang kita lihat. Meskipun kita merasa tidak melakukan perbuatan tersebut, hal itu dapat membuat kita menormalisasi hal haram yang juga tidak normal dilakukan manusia. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan hamba-Nya yang menjaga kehormatan dirinya āmīn. Waffaqakumullāh.

* Program Studi Ahwal Syakhshiyah IP 2023

Marāji’:

[1] Sianturi, Ahmad Junaidi. (2021). Persepsi Penggemar Pasangan Boys Love (BL Ship) terhadap Homoseksualitas. Koneksi, 5 (2).

[2] Muhammad Abduh Tuasikal. “Pelajaran dari Kisah Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth, Istri Firaun, dan Maryam” https://rumaysho.com/21272-pelajaran-dari-kisah-istri-nabi-nuh-dan-nabi-luth-istri-firaun-dan-maryam.html. Diakses pada 30 Agustus 2026.

[3] Alyanita, dkk. (2026). EKSPOSUR KONTEN LGBT: DAMPAK IDENTITAS SEKSUAL ANAK PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN LITERASI DIGITAL. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11 (2).

Download Buletin klik di sini

Maslahat Dalam Setiap Waktu Salat Perspektif Ilmu Kesehatan

Maslahat Dalam Setiap Waktu Salat

Perspektif Ilmu Kesehatan

Azarina Mukharromi

 

Ketika Ibadah Bertemu Ritme Kehidupan

Dalam 24 jam kehidupan, tubuh manusia mengalami banyak perubahan. Tidur, bangun, kewaspadaan, hormon, metabolisme, dan fungsi kognitif mengikuti perubahan biologis dalam siklus 24 jam yang dikenal sebagai ritme sirkadian, ritme tersebut banyak dipengaruhi oleh perubahan gelap dan terang. Menariknya, lima waktu salat yang wajib dilaksanakan oleh umat Muslim juga hadir mengikuti perjalanan matahari, dari fajar hingga malam.

Allah ﷻ berfirman:

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula) salat Subuh.” (QS Al-Isra’[17]: 78)

Dari sisi ilmu kesehatan, ada keterkaitan antara praktik ibadah salat dengan berbagai aspek kesehatan, mulai dari psikologis, neurologis, kardiovaskular, hingga musculoskeletal.[1] Namun, temuan tersebut tidak berarti setiap waktu salat mempunyai efek medis yang spesifik. Yang dapat kita lihat adalah keselarasan antara ritme ibadah dan perjalanan biologis manusia.

Memulai Hari Bersama Fajar

Subuh hadir pada masa peralihan dari malam menuju pagi, ketika tubuh mulai bergerak dari keadaan tidur menuju terjaga. Pada fase ini, cahaya pagi menjadi salah satu sinyal penting bagi sistem sirkadian, yaitu sistem biologis yang membantu mengatur siklus tidur-bangun.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan cahaya terang pada pagi hari dapat menggeser waktu biologis dan membantu mengatur waktu tidur, terutama ketika diberikan pada individu dengan jadwal tidur yang terlambat.[2] Selain itu, tubuh secara alami mengalami Cortisol Awakening Response (CAR), yaitu peningkatan kadar kortisol dalam jangka waktu sekitar 30-45 menit setelah bangun yang berkaitan dengan persiapan tubuh memasuki fase aktif dan mendukung proses metabolik serta neurokognitif.[3]

Bahkan, kajian sistematis mengenai cahaya dan ritme hormon menunjukkan bahwa paparan cahaya pada pagi hari dapat memengaruhi sekresi kortisol, dengan efek yang dipengaruhi oleh intensitas dan panjang gelombang cahaya.[4]

Dengan demikian, Subuh dapat dipandang sebagai titik pertemuan antara bangunnya tubuh, hadirnya cahaya, dan dimulainya aktivitas spiritual. Salat yang dilakukan pada waktu tersebut kemudian memberikan kesempatan untuk mengarahkan perhatian, melakukan aktivitas fisik ringan, serta memulai hari dengan ketenangan dan kesadaran spiritual.

Ketika tubuh mulai terjaga bersama datangnya cahaya, seorang Muslim terlebih dahulu diajak mengingat kepada siapa hari itu akan dijalani.

Jeda di Tengah Kesibukan

Zuhur hadir ketika tubuh dan pikiran telah menjalani sebagian aktivitas harian. Di tengah tuntutan belajar, bekerja, dan berinteraksi, salat memberikan jeda bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat sejenak. Dari perspektif psikofisiologis, praktik salat melibatkan perubahan posisi tubuh, pengaturan napas, serta respons sistem saraf otonom yang berkaitan dengan kondisi relaksasi.[5]

Rangkaian berdiri, rukuk, sujud, dan duduk juga melibatkan berbagai kelompok otot, sendi, keseimbangan, dan koordinasi tubuh.[6] Dengan demikian, Zuhur dapat dipandang sebagai titik jeda yang mempertemukan kebutuhan tubuh untuk bergerak dan kebutuhan pikiran untuk mengambil jarak dari tuntutan aktivitas. Jeda tersebut memberikan kesempatan untuk kembali menata diri sebelum melanjutkan perjalanan hari.

Di tengah hari yang terus bergerak, Allah ﷻ memberikan waktu untuk berhenti agar kita tidak hanya sibuk menjalani hari, tetapi juga sempat menata kembali diri.

Menjaga Diri Menjelang Penghujung Hari

Asar hadir ketika sebagian perjalanan hari telah dilewati, saat berbagai aktivitas mulai menimbulkan kelelahan fisik maupun mental. Dalam kondisi tersebut, salat memberikan jeda yang terstruktur untuk mengalihkan perhatian dari tuntutan aktivitas menuju keadaan yang lebih tenang dan kesadaran spiritual. Secara psikologis, praktik salat khusyuk telah diteliti dalam kaitannya dengan kecemasan. Penelitian menemukan bahwa praktik salat khusyuk memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.[7]

Temuan ini memberikan gambaran bahwa sikap khusyuk dalam salat berpotensi menjadi bagian dari regulasi psikologis, meskipun penelitian tersebut dilakukan pada kelompok dan kondisi tertentu.

Ketika hari mulai melelahkan, Asar mengingatkan kita bahwa berhenti sejenak bukan berarti menyerah, tetapi memberi ruang bagi diri untuk kembali menata langkah.

Ketika Cahaya Berubah

Pernahkah menjelang Maghrib hati terasa lebih mudah gelisah, sendu, atau tidak tenang, meskipun tidak ada sesuatu yang sedang terjadi? Pergantian siang menuju malam ternyata bertepatan dengan perubahan penting dalam ritme biologis tubuh. Ketika cahaya mulai berkurang, sistem sirkadian menerima sinyal bahwa tubuh sedang memasuki fase malam. Pada waktu ini, regulasi melatonin mulai bergerak menuju kondisi yang mendukung tidur, sementara berbagai fungsi fisiologis tubuh juga mengikuti perubahan harian.[8]

Perubahan cahaya pada sore dan malam juga diketahui dapat memengaruhi ritme melatonin, suhu tubuh, dan kecenderungan mengantuk, meskipun pengaruhnya terhadap suasana hati tidak selalu sama pada setiap orang.[9] Karena itu, rasa tidak nyaman menjelang malam tidak tepat jika langsung dianggap sebagai akibat dari “waktu Maghrib”, tetapi dapat dipahami sebagai salah satu kemungkinan pengalaman ketika tubuh sedang bertransisi dari fase aktif menuju fase istirahat. Di tengah perubahan tersebut, salat Maghrib hadir sebagai jeda yang teratur: mengajak tubuh berhenti sejenak, mengarahkan perhatian, dan menenangkan diri ketika hari perlahan kehilangan cahayanya.

Allah ﷻ berfirman:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)”. (QS Hud [11]: 114)

Ketika alam mulai menurunkan cahayanya, Maghrib mengajarkan manusia untuk perlahan menurunkan hiruk-pikuk dalam dirinya.

Menutup Hari dengan Ketenangan

Isya hadir ketika perjalanan aktivitas harian mulai berakhir. Setelah tubuh dan pikiran melewati berbagai tuntutan sepanjang hari, waktu ini dapat menjadi ruang untuk memperlambat aktivitas dan mengarahkan diri menuju istirahat. Keteraturan rutinitas sebelum tidur diketahui berperan dalam mendukung kualitas tidur dan menjaga ritme tidur-bangun.[10] Dalam konteks ibadah, salat Isya memberikan momen yang terstruktur untuk berhenti dari kesibukan, menenangkan pikiran, dan melakukan refleksi sebelum mengakhiri hari. Dengan demikian, Isya menjadi jembatan dari kesibukan menuju pemulihan, dari aktivitas menuju ketenangan.

Jika Subuh adalah cara menyambut hari, maka Isya adalah cara menyerahkan kembali hari kepada Allah ﷻ.

Tubuh memiliki ritme. Alam memiliki ritme. Dan ibadah memiliki ritme. Lima kali sehari, kita diberi kesempatan untuk berhenti, agar perjalanan hidup tidak hanya membuat kita semakin jauh melangkah, tetapi juga semakin dekat kepada Allah ﷻ.

Marāji’:

[1] Chamsi-Pasha, M., & Chamsi-Pasha, H. “A Review of the Literature on the Health Benefits of Salat (Islamic Prayer)”. Medical Journal of Malaysia. Vol. 76. No. 1. 2021. h. 93–97 https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33510116/. Diakses pada 29 Agustus 2026.

[2] Crowley, S. J., Velez, S. L., Killen, L. G., Cvengros, J. A., Fogg, L. F., & Eastman, C. I. “Extending Weeknight Sleep of Delayed Adolescents Using Weekend Morning Bright Light and Evening Time Management.” Sleep. Vol. 46. No. 1. 2023. h. zsac202. https://doi.org/10.1093/sleep/zsac202. Diakses pada 29 Agustus 2026.

[3] Stalder, T., et al. “The Cortisol Awakening Response: Regulation and Functional Significance.”Endocrine Reviews. Vol. 46. No. 1. 2025. h. 43–59. https://doi.org/10.1210/endrev/bnae024. Diakses pada 30 Agustus 2026.

[4] Hernandez, et al. “The Influence of Light Wavelength on Human HPA Axis Rhythms: A Systematic Review.” Life. Vol. 13. No. 10. 2023. h. 1968.  https://doi.org/10.14421/al-athfal.2023.91-01. Diakses pada 30 Agustus 2026.

[5] Suseno, B. “Muslim Prayer (Salah), and Its Restorative Effect: Psychophysiological Explanation.” Asian Journal of Islamic Psychology. Vol. 1. No. 1. 2024. h. 1–7. https://doi.org/10.23917/ajip.v1i1.3702. Diakses pada 28 Agustus 2026.

[6] Hayati, M., & Salasati, P. “Yoga Based on Shalat Movement to Develop Post-Pandemic Children’s Self Control.” Al-Athfal: Jurnal Pendidikan Anak. Vol. 9. No. 1. 2023. h. 1–16. https://doi.org/10.14421/al-athfal.2023.91-01. Diakses pada 30 Agustus 2026.

[7] Ramiza, K., Nashori, F., & Sulistyarini, R. I. “Peran Pelatihan Shalat Khusyuk dalam Menurunkan Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis.” Personifikasi: Jurnal Ilmu Psikologi. Vol. 14. No. 1. 2023.  https://doi.org/10.21107/personifikasi.v14i1.19258. Diakses pada 28 Agustus 2026.

[8] Moon, E., Partonen, T., Beaulieu, S., et al. “Melatonergic Agents Influence the Sleep-Wake and Circadian Rhythms in Healthy and Psychiatric Participants: A Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials.” Neuropsychopharmacology. Vol. 47. 2022. h. 1523–1536. https://doi.org/10.1038/s41386-022-01278-5. Diakses pada 30 Agustus 2026.

[9] Cyr, M., Artenie, D. Z., Al Bikaii, A., Borsook, D., & Olson, J. A. “The Effect of Evening Light on Circadian-Related Outcomes: A Systematic Review.” Sleep Medicine Reviews. Vol. 64. 2022. h. 101660. https://doi.org/10.1016/j.smrv.2022.101660. Diakses pada 28 Agustus 2026

[10] Irish, L. A., Kline, C. E., Gunn, H. E., Buysse, D. J., & Hall, M. H. “The Role of Sleep Hygiene in Promoting Public Health: A Review of Empirical Evidence.” Sleep Medicine Reviews. Vol. 22. 2015. h. 23–36. https://doi.org/10.1016/j.smrv.2014.10.001. Diakses pada 30 Agustus 2026.

Download Buletin klik di sini

Bahaya Penyimpangan Seksual bagi Individu dan Masyarakat

Bahaya Penyimpangan Seksual bagi Individu dan Masyarakat

Muhammad Insan Fathin, S.Si., B.Sh.*

 

Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ba’du.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah ﷻ, ada satu kenyataan yang hari ini makin sering kita saksikan. Sesuatu yang dulu jelas dipandang sebagai penyimpangan, sekarang mulai dibicarakan seolah-olah biasa saja. Lama-lama, yang salah tidak lagi terasa salah. Yang dahulu memalukan, justru dibela atas nama kebebasan. Pada titik inilah seorang Muslim perlu berhenti, lalu bertanya jujur kepada dirinya: apakah semua yang dinormalisasi manusia memang boleh dibenarkan begitu saja?

Dalam perkara hubungan seksual sesama jenis, Islam sudah tegas sejak awal. Ini bukan sekadar persoalan selera, bukan pula sekadar soal rasa. Ini menyangkut fitrah. Ketika syahwat keluar dari jalan yang Allah ﷻ tetapkan, yang rusak bukan hanya perilaku seseorang, tetapi pelan-pelan juga cara pandangnya, keluarganya, bahkan masyarakat di sekitarnya.

Peringatan Keras dari Kisah Kaum Luth

Allah tidak membiarkan umat ini tanpa pelajaran. Kisah kaum Nabi Luth disebut berulang-ulang dalam Al-Qur’an, dan itu tentu bukan tanpa maksud. Allah ﷻ berfirman,

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini? Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki, bukan kepada perempuan. Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS Al-A’raf [7]: 80-81).

Ibn Katsir v menjelaskan bahwa kaum Luth melakukan kekejian yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu mendatangi laki-laki dan meninggalkan perempuan yang Allah ﷻ ciptakan bagi mereka. Karena itu, perbuatan tersebut dipandang sebagai perbuatan haram, kemungkaran, dan tindakan yang sangat buruk.[1]

Kalau direnungkan, persoalannya memang bukan sekadar adanya keinginan, tetapi ke mana keinginan itu diarahkan. Islam tidak memusuhi syahwat. Islam justru mengaturnya. Syahwat diberi jalan yang halal, bersih, dan bermartabat melalui pernikahan. Ketika jalan itu ditinggalkan, manusia bukan sedang mencari kebebasan, melainkan sedang menyalahi fitrahnya sendiri.

Penyimpangan Ini Merupakan Bahaya Yang Tidak Ringan

Terkadang ada orang yang mengira bahwa larangan agama hanya berbicara tentang dosa, sedangkan urusan dampak dianggap perkara lain. Padahal, justru di situlah kita melihat keindahan syariat. Apa yang dilarang Allah ﷻ ternyata juga tampak bahayanya dalam kenyataan.

Sebuah studi di Jakarta dan Bali menemukan prevalensi HIV yang sangat tinggi pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki dan transgender perempuan, yaitu 23,2% di Jakarta dan 21,9% di Bali. Angka kejadian barunya juga tetap tinggi, yakni 9,39 per 100 person-years di Jakarta dan 7,24 per 100 person-years di Bali. Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa riwayat condomless anal intercourse berkaitan dengan prevalensi HIV yang lebih tinggi.[2]

Itu belum mencakup infeksi lainnya. Meta-analisis global pada 172 studi menunjukkan prevalensi gonore pada populasi ini mencapai 7,2%, sedangkan klamidia 9,9%. Hal ini penting perlu dicatat adalah infeksi rektal ternyata lebih tinggi daripada infeksi genital.[3] Dengan demikian, persoalan ini bukanlah perkara kecil, dan bukan pula sekadar dugaan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak infeksi semacam ini tidak selalu menimbulkan gejala secara jelas. Seseorang dapat merasa sehat, padahal sedang membawa penyakit. Ia mungkin tidak menyadarinya, tidak memeriksakan diri, sehingga penularan terus berlangsung. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyimpangan moral dapat beriringan dengan persoalan kesehatan.

Kerusakan Individu yang Menjadi Kerusakan Sosial

Ulama tidak hanya membahas sisi hukumnya, tetapi juga akibatnya. Al-Jaziri, misalnya, merangkum bahwa liwāṭ adalah pelanggaran terhadap fitrah manusia yang lurus. Ia juga menyebut dampaknya: merusak pemuda, merendahkan martabat laki-laki, merusak kehidupan rumah tangga, mengurangi keturunan, dan mengguncang bangunan masyarakat.[4]

Kalau dipikir baik-baik, ini sangat masuk akal. Ketika syahwat tidak lagi diarahkan kepada perempuan dalam ikatan yang halal, rumah tangga kehilangan salah satu fondasi pentingnya. Hak istri bisa diabaikan. Minat untuk menikah melemah. Tanggung jawab berkeluarga dianggap beban. Pada akhirnya, masyarakat ikut menanggung akibat dari rusaknya cara pandang terhadap pernikahan, kehormatan, dan keturunan.

Karena itu, ini memang bukan urusan pribadi semata. Dosa yang dibiarkan tumbuh dalam ruang pribadi sering kali berubah menjadi masalah sosial yang lebih luas.

Menjaga Diri Sebelum Terjerumus

Karena itu pula, yang dibutuhkan bukan hanya kemarahan, tetapi penjagaan. Anak-anak muda perlu dibekali rasa malu, pemahaman agama, dan kesadaran bahwa tidak semua dorongan hati layak dituruti.  Dalam hadis Abdullah bin Mas’ud z, Nabi ﷺ bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ

“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah, maka menikahlah. Sebab itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.” (HR Bukhari, no. 5066; Muslim, no. 1400).

Selain itu, keluarga harus benar-benar hadir. Banyak penyimpangan tumbuh diam-diam ketika anak kehilangan tempat bicara, kehilangan bimbingan, atau terlalu lama dibentuk oleh dunia digital yang liar. Karena itu, benteng pertama tetap rumah, lalu lingkungan, lalu ilmu.

Akhirnya, larangan Allah ﷻ dalam perkara ini bukanlah larangan yang kosong. Di baliknya ada penjagaan terhadap fitrah, kehormatan, kesehatan, keluarga, dan masa depan masyarakat. Maka ketika Islam melarang hubungan seksual sesama jenis, sesungguhnya Islam sedang menjaga manusia dari kerusakan yang sering datang pelan-pelan, tetapi menghancurkan. Semoga Allah menjaga kita dan generasi setelah kita dari fitnah syahwat yang membutakan hati. Wallāhu a‘lam.

* Mahasiswa S2 Universitas Internasional Al-Madinah Malaysia

Marāji’:

[1] Ismā’īl bin ‘Umar Ibn Kathīr. Al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Beirut: Dār Ibn Kathīr. 2013. Cet. ke-3. Jilid 1. h. 259.

[2] Brigitta Dhyah Kunthi Wardhani, Andrew E. Grulich, Nurhayati H. Kawi, dkk. “Very High HIV Prevalence and Incidence among Men Who Have Sex with Men and Transgender Women in Indonesia: A Retrospective Observational Cohort Study in Bali and Jakarta, 2017–2020.” Journal of the International AIDS Society. Vol. 27. No. 11. 2024. https://doi.org/10.1002/jia2.26386. Diakses pada 23 Agustus 2026.

[3] Ella P. Davies, Motoyuki Tsuboi, Jayne Evans, dkk. “A Global Meta-Analysis of Gonorrhoea and Chlamydia Prevalence among Men Who Have Sex with Men from 2000 to 2022.” International Journal of STD & AIDS. Vol. 36. No. 8. 2025. h. 611–621. https://doi.org/10.1177/09564624251333489. Diakses pada 23 Agustus 2026.

[4] ‘Abdurraḥmān bin Muḥammad ‘Awaḍ al-Jazīrī. Al-Fiqh ‘alā al-Madzāhib al-Arba‘ah. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. 2003. Cet. ke-2. Jilid 5. h. 130–132.

Download Buletin klik di sini