Masa Muda, Masa Kuliah, Masak Cuma Dapat Ijazah?
Masa Muda, Masa Kuliah, Masak Cuma Dapat Ijazah?
Siti Amarah*
وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيمُ وَقْتَ شَبَابِهِ فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ
“Barang siapa kehilangan kesempatan belajar pada masa mudanya, bertakbirlah empat kali atas kematiannya.”
Ungkapan tersebut merupakan bagian dari syair yang masyhur dinisbatkan kepada Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i v dalam Dīwān al-Imām asy-Syāfi‘ī. Imam Syafi‘i menegaskan bahwa kemuliaan seorang pemuda terletak pada ilmu dan ketakwaannya. Jika keduanya tidak ada, keberadaan seorang pemuda kehilangan nilainya.[1]
Betapa pentingnya ilmu pengetahuan; bahkan, ada pepatah yang menyamakan manusia tanpa ilmu sama dengan binatang ternak. Masa muda adalah masa keemasan untuk menuntut ilmu, bereksperimen, mempraktikkan ilmu, sekaligus mengembangkannya. Masa kuliah menyediakan begitu banyak kesempatan untuk itu, bukan hanya melalui ruang kelas, melainkan juga melalui organisasi, unit kegiatan mahasiswa (UKM), dan berbagai komunitas.
Dengan lingkungan pendidikan yang begitu kaya, amat disayangkan jika setelah lulus, yang kita bawa pulang hanya selembar ijazah. Bukan berarti ijazah tidak penting. Ijazah merupakan dokumen resmi yang diberikan oleh lembaga pendidikan sebagai bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan jenjang atau program pendidikan tertentu. Selain itu, sejumlah perusahaan menjadikan ijazah sebagai salah satu persyaratan administratif dalam proses perekrutan karyawan.
Ilmu Sebagai Dasar
Ijazah menjadi bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, ijazah tidak dengan sendirinya menggambarkan kemampuan seseorang dalam menghadapi konflik di dalam kelompok. Ijazah dapat menunjukkan capaian akademik, tetapi tidak selalu mencerminkan keterampilan praktis dan kemampuan bekerja bersama orang lain.
Ilmu yang diperoleh di ruang kuliah merupakan dasar yang sangat penting. Namun, jika tidak disertai keterampilan pendukung, ilmu itu bisa berhenti pada tataran teori. Ketika kita hendak mempraktikkan ilmu tetapi menghadapi penolakan, pengalaman mengelola konflik yang diperoleh melalui organisasi dapat membantu agar gagasan yang disampaikan benar-benar membuahkan hasil. Kematangan intelektual seseorang tampak dari kemampuannya memahami persoalan, lalu menggunakan pengalaman dan pengetahuan untuk menyelesaikannya. Kemampuan seperti ini tidak cukup dibangun hanya melalui pembelajaran di ruang kuliah.
Kita perlu memahami bahwa ilmu juga harus memberi manfaat. Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon tanpa buah. Agar bermanfaat, ilmu perlu diutarakan, disampaikan, dan dipraktikkan. Untuk mempelajari semua itu, kita tidak cukup hanya belajar di ruang kelas. Kita perlu mengasahnya di ruang praktik, ruang diskusi, ruang ekspresi, bahkan ruang publik.
Kampus Sebagai Kawah Candradimuka
Jika para kesatria memiliki Kawah Candradimuka sebagai tempat berlatih, mahasiswa memiliki kampus. Kampus bukan hanya ruang kuliah, melainkan juga ruang organisasi yang melatih kita berkoordinasi, berkomunikasi, dan bertanggung jawab. Ada pula kepanitiaan yang melatih kita menyelesaikan masalah dalam situasi yang dinamis. Di kampus, kita dapat bertemu, berdiskusi, dan bertukar pikiran dengan dosen serta mahasiswa yang memiliki karakter dan pandangan berbeda. Kampus juga menyediakan perlombaan, kegiatan ekstrakurikuler untuk pengembangan diri, dan kegiatan kewirausahaan yang memberi pengalaman dalam mengelola sumber daya serta menganalisis risiko.
Dengan begitu banyak hal yang ditawarkan kampus, jika yang kita dapatkan selama kuliah hanya selembar ijazah, itu ibarat pergi ke restoran all-you-can-eat yang menyajikan beragam menu, tetapi kita hanya makan nasi. Memang mengenyangkan, tetapi asupan gizi, serat, dan proteinnya kurang beragam. Kita sudah membayar mahal, tetapi hanya mendapatkan karbohidrat. Berbagai kegiatan di kampus dapat menjadi ruang pembelajaran yang sangat berharga jika dijalani dengan kesadaran penuh.
Bukan berarti kita harus aktif dalam banyak organisasi. Sebagian dari kita memiliki tanggung jawab dan prioritas berbeda, misalnya harus kuliah sambil bekerja atau memiliki keterbatasan kesehatan. Yang terpenting adalah kualitas pembelajaran serta pemilihan kegiatan yang sesuai dengan minat, tujuan, dan kemampuan. Jadikan kampus sebagai laboratorium kehidupan, tempat kita bereksperimen secara langsung dengan risiko dan tanggung jawab yang relatif terbatas. Tetapkan pula batas kegiatan sesuai kemampuan agar kesehatan dan capaian akademik tetap terjaga.
Masa kuliah adalah masa ketika kegagalan sering kali dapat diperbaiki dengan konsekuensi yang lebih terbatas dibandingkan ketika kita sudah memasuki dunia kerja atau kehidupan bermasyarakat. Proposal yang ditolak atau program kerja yang tidak berjalan dapat segera dievaluasi. Pengalaman dari kegagalan memberi gambaran tentang hal-hal yang perlu diperbaiki, baik cara berkomunikasi, pengelolaan waktu dan anggaran, maupun pengambilan keputusan. Sebaliknya, kegagalan di dunia kerja bisa berakibat lebih besar, misalnya kehilangan aset atau pekerjaan. Namun, pelajaran dari kegagalan hanya akan muncul jika kita bersedia mengevaluasi diri dan melakukan perbaikan.
Memanfaatkan Lima Perkara
Masa muda dan masa kuliah merupakan periode penting dalam pembentukan karakter yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Pengalaman bekerja sama, melakukan kesalahan, menghadapi penolakan, dan mengatur waktu akan ikut membentuk karakter seseorang. Idealnya, setelah lulus, mahasiswa membawa pulang pengetahuan dan pengalaman yang membuatnya lebih siap menghadapi kehidupan. Karena itu, sebagai pemuda, kita tidak perlu takut mencoba hal baru selama hal tersebut positif, dapat dipertanggungjawabkan, dan selaras dengan tujuan hidup yang telah ditetapkan.
Rasulullah ﷺ mengingatkan kita agar memanfaatkan masa muda dan kesempatan hidup sebelum semuanya berlalu. Dari Ibnu ‘Abbas c, Nabi ﷺ bersabda,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, 4: 341. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)[2]
Masa muda bukan sekadar masa untuk mengejar nilai dan ijazah. Jadikan masa kuliah sebagai kesempatan untuk memperkaya ilmu, menguji gagasan, belajar bekerja sama, dan membentuk karakter. Sebab, ketika masa itu berlalu, yang seharusnya kita bawa bukan hanya bukti bahwa kita pernah kuliah, melainkan juga bekal untuk memberi manfaat.
* Kepala Urusan Layanan Bantuan Kesejahteraan Pegawai di Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) Universitas Islam Indonesia
Marāji’:
[1] Al-Syafi’I, Muhammad bin Idris, Diwan al-Imam al-Syafi’I, tahqiq Muhammad Afif al-Zu’bi (Beirut: Maktabah al-Ma’rifah-Dar al-‘Ilm, 1974) h. 81.
[2] Abu ‘Abdilaah Muhammad bin ‘Abdillah al-Hakim al-Naysaburi, Al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihayn, Jilid 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990) h. 341.












