Syukur yang Jarang Kita Lakukan
Syukur yang Jarang Kita Lakukan
Nabila Mumtazah Priyatna*
Apakah Sudah Bersyukur Hari Ini?
Apakah ada hal yang telah kita syukuri hari ini? Kita bisa bangun pagi, masih bernapas, membuka mata, menggerakkan kaki, air masih mengalir di kamar kos, serta dapat melaksanakan salat Subuh dengan sempurna. Lalu, bagian mana yang sudah kita syukuri?
Siang ini, tiba-tiba kelas ditiadakan karena dosen tidak hadir, padahal kita sudah sampai di kampus. Dalam situasi seperti ini, apakah kita lebih banyak mengeluh, atau justru bersyukur karena diberi waktu luang?
Selama kita hidup, apakah kita sudah bersyukur masih diberi kehidupan yang baik? Sudahkah kita bersyukur masih bisa bertemu orang-orang yang kita sayangi? Sudahkah kita bersyukur masih bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna? Jika segala nikmat besar yang Allah ﷻ berikan dalam hidup ini saja belum kita syukuri, bagaimana kita bisa mensyukuri nikmat kecil yang bahkan tidak kita sadari?
Allah ﷻ berfirman:
وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
“Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (QS Luqman [31]: 12).
Luasnya Nikmat Allah
Imam Ibnul Qayyim menuliskan bahwa nikmat yang Allah ﷻ berikan itu ada dua macam:[1]
Pertama, nikmat mutlak. Nikmat mutlak adalah nikmat yang berhubungan langsung dengan kebahagiaan yang abadi di akhirat. Nikmat tersebut adalah ketika Allah ﷻ memerintahkan kita untuk melaksanakan shalat agar kita ditunjukkan kepada jalan yang benar. Mereka adalah golongan orang-orang yang dipilih oleh Allah ﷻ dan dijadikan sebagai penghuni surga dengan derajat yang paling tinggi. Sebagaimana firman-Nya,
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا
“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS An-Nisa’ [4]: 69).
Kedua, nikmat muqayyadah atau nikmat yang terbatas seperti kesehatan, kekayaan, dan semisalnya. Nikmat ini bisa dimiliki oleh orang yang baik maupun jahat, orang yang beriman maupun yang kafir. Namun, nikmat untuk orang kafir ini hanya sebatas penundaan siksa karena mereka tetap akan mendapatkan azab.
Hal ini sebagaimana yang Allah ﷻ sampaikan dalam firman-Nya,
فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ. وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ. كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَ.
“Adapun manusia, apabila Rabb-nya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, ia berkata, ‘Rabb-ku telah memuliakanku.’ Namun apabila Rabb-nya mengujinya dan membatasi rezekinya, ia berkata, ‘Rabb-ku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak demikian.” (QS Al-Fajr [89]: 15–17)
Maksudnya adalah tidak semua yang Allah ﷻ muliakan di dunia ini diberikan nikmat oleh-Nya. Sebaliknya, tidak semua orang yang tidak diberi rezeki oleh Allah ﷻ adalah orang yang dihinakan. Allah ﷻ menguji hamba-Nya, baik dengan nikmat maupun musibah.
Bagaimana Cara Kita Bersyukur?
Ibnul Qayyim mengungkapkan syukur itu hendaknya dilakukan dengan hati yaitu berupa kerendahan hati dan kepasrahan, dengan lisan berupa pujian dan pengakuan, dan dengan anggota tubuh berupa ketaatan dan kepatuhan.[2]
Abu Hazm juga berkata, “Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan.”[3]
Bersyukur tidak hanya sebatas mengucapkan “Alhamdulillah” akan tetapi juga mengerahkan seluruh anggota badan untuk bersyukur seperti semakin meningkatnya keimanan kita kepada Allah, memperbanyak taat dan menjalani perintah-Nya, serta menjauhi hal-hal yang diharamkan-Nya.
Melatih Syukur Sebagai Sikap Dalam Hidup
Allah ﷻ berfirman:
وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim [14]: 34).
Apabila kita hanya mensyukuri nikmat Allah yang berupa harta, padahal nikmat yang Allah berikan mencakup segala hal yang sering tidak kita sadari, lalu bagaimana kita dapat mensyukurinya?
Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ
“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR Ahmad, 4/278).[4]
Manusia adalah makhluk yang lalai, sehingga kedua nikmat yang senantiasa melekat di dirinya jarang sekali ia syukuri, namun ketika kedua nikmat itu diambil, banyak sekali ia mengeluh dan memintanya kembali.
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, Nabi ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
”Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR Bukhari no. 6412).
Mengapa Harus Menjadi Hamba yang Bersyukur?
Syukur adalah sifat para nabi, meskipun ditimpa berbegai ujian dan cobaan, mereka adalah orang-orang yang tetap bersyukur. Allah ﷻ berfirman tentang Nabi Nuh:
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
“(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang banyak bersyukur” (QS Al-Isra [17]: 3).
Syukur adalah sifat orang beriman. Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)
Syukur merupakan sebab datangnya ridha Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman:
إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS Az-Zumar [39]: 7).
Syukur menjadi sebab ditambahnya kenikmatan.
Allah ﷻ berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim [14]: 7).
Jika nikmat Allah ﷻ begitu luas dan tak terhitung, maka sudah sepatutnya kita senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan. Mari melatih diri untuk menyadari dan mensyukuri setiap nikmat, agar kita termasuk hamba yang diridhai-Nya.
Marāji’:
*Ahwal Syakhshiyah IP 2023.
[1] Ibnul Qayyim. Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah. Maktabah Syamilah, (1988), h. 33-36.
[2] Ibnul Qayyim. Madarij As-Salikin, Beirut: Darul Kitab Al-Arabi, bab 2. h. 237.
[3] Ibnu Rajab Al-Hanbali. Jami`ul `Ulum wal Hikam. Maktabah Syamilah, (1998), jilid 2 h.84.
[4] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667.
Download Buletin klik di sini











