Memahami Makna Kalimat Tauhid Lâ Ilâha Illallâh

Memahami Makna Kalimat Tauhid Lâ Ilâha Illallâh

Yanayir Ahmad, S.T*

 

Bismillâh, wasshalâtu wassalâmu ‘alâ rasûlillâhi, waba’du.

Kalimat Ilâha Illallâh adalah inti dari ajaran Islam. Dengan kalimat ini, seseorang memproklamirkan keimanannya kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Kalimat ini memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, bahkan menjadi pembeda antara keimanan dan kekufuran. Namun, agar kalimat ini benar-benar bermanfaat bagi seseorang, ia harus memahami dan mengamalkan maknanya dengan benar.

Dalil tentang Lâ Ilâha Illallâh

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an,

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang berilmu juga menyatakan yang demikian itu. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran [3]: 18).

Firman ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ sendiri menyatakan keesaan-Nya sebagai satu-satunya yang berhak disembah, sebuah kebenaran yang juga diakui oleh para malaikat dan orang-orang yang berilmu, mempertegas bahwa ibadah hanya layak ditujukan kepada-Nya.

Dalam ayat lain, Allah ﷻ berfirman,

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah.” (QS. Muhammad [47]: 19).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy v mengatakan dalam tafsirnya bahwa dalam ilmu harus ada pengakuan hati dan mengetahui makna yang diharuskan untuk diketahui, dan secara sempurnanya adalah mengamalkan keharusannya. Inilah ilmu yang diperintahkan oleh Allah, yaitu ilmu tentang mentauhidkan Allah ﷻ. Ilmu ini wajib ‘ain hukumnya atas setiap orang dan tidak bisa gugur bagi siapa pun juga, bahkan semua orang sangat memerlukannya.[1]

Makna Kalimat Lâ Ilâha Illallâh

Makna kalimat ini adalah “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah.” Dengan memahami makna ini, kita menyadari bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Semua bentuk penyembahan kepada selain Allah adalah kesyirikan yang harus ditinggalkan.

Kesalahan dalam Memahami Makna Kalimat Tauhid

Terdapat beberapa makna Ilâha Illallâh yang tidak tepat yang sering disalahpahami oleh sebagian orang, berikut sebagiannya:

  1. Dimaknai dengan; “Tidak ada Tuhan (yang disembah) kecuali Allah.” Makna ini tidak tepat, karena seolah-olah berarti semua yang disembah, baik secara benar maupun salah, dianggap sebagai Allah. Pemahaman seperti ini bertentangan dengan ajaran tauhid yang menegaskan bahwa hanya Allah yang layak disembah dengan benar.
  2. Dimaknai dengan; “Tidak ada pencipta kecuali Allah.” Makna ini tidak keliru sebenarnya, tapi ini hanya mencakup sebagian dari makna kalimat Ilâha Illallâh saja, dan bukan makna ini yang jadi maksud utama. Kaum musyrikin zaman Nabi Muhammad ﷺ pun mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, tetapi mereka tetap menyekutukan Allah dalam ibadah. Jika makna ini saja yang diterima, perselisihan antara Nabi dan kaumnya tidak akan terjadi.
  3. Dimaknai dengan: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah.” Meskipun ini bagian dari konsekuensi tauhid, tapi kalau memaknainya dengan makna ini saja maka tidak cukup. Jika seseorang mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak menetapkan hukum, tetapi masih menyembah selain-Nya, maka tauhidnya belum sempurna.

Rukun Lâ Ilâha Illallâh

Kalimat lâ Ilâha Illallâh memiliki dua rukun utama:

  1. Penafian (yakni pada kalimat: Lâ Ilâha): Bagian ini menafikan ibadah dari segala sesuatu yang disembah selain Allah. Dengan kata lain, kita menolak segala bentuk penyembahan kepada berhala, manusia, jin, atau apapun selain Allah.
  2. Penetapan (yakni pada kalimat: Illallâh): Bagian ini menetapkan bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya. Semua bentuk penghambaan harus murni untuk Allah saja.

Dalil Tentang Kedua Rukun Kalimat Tauhid di Atas

Allah ﷻ berfirman,

فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا

“Barang siapa yang kufur kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang teguh kepada tali yang amat kuat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Ayat ini menunjukkan bahwa penafian terhadap thagut (segala sesuatu yang disembah selain Allah) dan penetapan keimanan kepada Allah adalah inti dari kalimat tauhid.

Kisah Nabi Ibrahim juga memberikan contoh jelas. Ketika beliau berkata kepada ayahnya dan kaumnya,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦٓ إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ. إِلَّا ٱلَّذِى فَطَرَنِى فَإِنَّهُۥ سَيَهْدِينِ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Dia yang menciptakanku. Maka sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 26-27).

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim menafikan penyembahan terhadap selain Allah dan menetapkan hanya Allah yang layak disembah.

Kapan Kalimat Ini Bermanfaat?

Kalimat Ilâha Illallâh akan bermanfaat bagi seseorang jika memenuhi dua syarat utama:

  1. Memahami Maknanya: Seseorang harus memahami bahwa kalimat ini mengandung penafian segala bentuk ibadah kepada selain Allah dan penetapan ibadah hanya kepada-Nya.
  2. Mengamalkan Konsekuensinya: Memahami saja tidak cukup. Seseorang harus mengamalkan kalimat ini dengan meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan hanya menyembah Allah semata.

Penutup

Kalimat Ilâha Illallâh adalah fondasi utama keimanan. Kalimat ini tidak cukup hanya diucapkan, tetapi juga harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Memahami makna yang benar dari kalimat ini sangat penting, karena kesalahpahaman dapat melemahkan, bahkan membatalkan keimanan seseorang. Oleh karena itu, mari kita pelajari dan renungkan makna kalimat tauhid ini dengan hati yang ikhlas, agar kita bisa menjalani hidup dengan sepenuhnya tunduk kepada Allah ﷻ, satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Semoga Allah ﷻ memberikan kita ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar, dan keteguhan dalam menjalankan ajaran-Nya. Âmin. Wabillāhul taufiq. Washallāhu ‘alā muhammadin wa a’lā ālihi washahbihi wasallam.

Maraji’ :

* Alumni Teknik Elektro UII ’17

[1] Abdullah bin Ahmad Al-Huwail. At-Tauhid Al-Muyassar. Riyadh: Dar Atlas. 2015 M. Cet.k-4. Tulisan ini dikembangkan dari tulisan beliau dari halaman 13-14.

Download Buletin klik di sini

Menutup Akhir Tahun dengan Penuh Cinta: Perjalanan Menemukan Kebahagiaan

Menutup Akhir Tahun dengan Penuh Cinta: Perjalanan Menemukan Kebahagiaan

Nizar Sadat*

 

Sahabat pembaca yang semoga dalam lindungan Allah ﷻ. Disebutkan dalam riwayat dari Habib bin ‘Ubaid, dari Miqdam ibnu Ma’dy Kariba –dan Habib menjumpai Miqdam ibnu Ma’di Kariba-, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda,

إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ أَحَبَّهُ

Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR. Bukhari, Adabul Mufrod no. 421/542).[1]

Saat ini, momentum akhir tahun adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi kebahagiaan dan cinta dalam hidup. Manusia bukan seperti hari, pekan, bulan maupun tahun yang terus berubah dan akan terus berubah untuk dapat dicintai. Melainkan cukup menjadi diri sendiri dengan segala kebaikan yang ada dalam dirinya.

Lantas bagaimana untuk menutup akhir tahun dengan penuh cinta?

Cinta bukan hanya tentang pasangan, antara laki-laki dan Perempuan. Erich Fromm Ahli Psikologi dan Filsafat dalam bukunya “The Art of Loving”, mengatakan bahwa cinta bukan hanya sekedar emosi atau perasaan spontan, tetapi sebuah keterampilan yang harus dipelajari dan dilatih.[2] Maka dari itu, melewati momen satu tahun kebelakang adalah bagian yang penting, dengan begitu kita dapat mensyukuri dan tidak menyesali momen-momen yang sudah berlalu satu tahun belakang.  

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari satu tahun kebelakang, pelajaran yang sudah berlalu dihiasi dengan penuh suka dan duka. Terkadang kebahagiaan tidak selalu ditemukan setelah melewati hal yang besar, akan tetapi melalui hal-hal yang kecil kebahagiaan akan muncul jika manusia senantiasa bersyukur. Maka dari itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menutup akhir tahun dengan cinta dan menemukan kebahagiaan sehingga dapat menjalani tahun yang akan datang dengan penuh cinta dan bahagia.

Mensyukuri Pencapaian dan Pelajaran yang Didapat

Menutup tahun dengan bersyukur dan bahagia sudah seharusnya dilakukan oleh manusia, karena kebahagiaan terkadang datang dari hal yang kecil bahkan luput dari pandangan manusia. Allah ﷻ berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“(Ingatlah ketika tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Q.S. Ibrahim [14]:7).[3]

Mulailah dari mensyukuri pencapaian yang kecil. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278)[4]. Hadits ini benar sekali. Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri rizki yang banyak, rezeki yang sedikit dan tetap terus Allah beri sulit untuk disyukuri? Bagaimana mau disyukuri? Sadar akan nikmat tersebut saja mungkin tidak terbetik dalam hati.[5]

Jadilah Manusia Pemaaf

Dari Abu Hurairah zbahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

Dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat)”. (HR Muslim no. 2588)

Setiap manusia di dunia ini pasti pernah merasakan sakit hati atau terluka, baik melalui perbuatan maupun perkataan dari orang lain. Perasaan sakit hati itu adalah yang meninggalkan beban emosional, seperti mudah marah, dendam, rasa bersalah, dan kesedihan. Jika dibiarkan terus menerus maka hal ini akan menghalangi manusia akan bersyukur, merasakan cinta, dan kebahagiaan. Maka dari itu, hadits diatas sudah memberikan pelajaran bahwa dengan menjadi manusia yang pemaaf maka hadiahnya adalah kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat.

Berbagi Cinta kepada Orang lain

Cara paling sederhana membawa kebahagiaan dalam hidup adalah dengan berbagi cinta kepada orang lain, berbagi cinta dalam hal ini bukan tentang hubungan romantis, akan tetapi tentang kasih sayang, hubungan baik dengan orang lain, dan berbagi kebaikan kepada orang lain.

Dari Abu Hamzah Anas bin Malikpembantu Rasulullah ﷺ, dari Nabi ﷺ bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45).[6]

Berbagi cinta kepada orang lain memiliki dua manfaat, yaitu membuat diri sendiri bahagia dan membuat orang lain bahagia juga. Selain menjadi orang yang beriman seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits di atas, berbagi cinta juga dapat meningkatkan kebahagiaan, membentuk hubungan yang lebih baik, mengurangi stress, dan menjadi sumber inspirasi untuk orang lain.

Menetapkan Niat dan Harapan Baru

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya dan setiap awal yang baru selalu memberikan kesempatan untuk bisa merefleksikan masa lalu dan merancang yang akan datang. Menetapkan niat dan harapan untuk tahun baru yang akan datang bukan tentang resolusi saja tetapi tentang niat bagaimana manusia bisa menyelaraskan diri dengan tujuan kedepan.

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907) [7].

Sesuai dengan hadits diatas, maka dengan niat yang jelas dan harapan yang kuat maka akan tercipta hidup yang lebih bermakna dan lebih bahagia. Menetapkan niat dan harapan baru adalah cara untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermakna yang dilengkapi dengan cinta dan kebahagian.

Menutup akhir tahun ini dengan penuh cinta dan harapan baru di tahun yang akan untuk menemukan kebahagiaan berarti dapat mensyukuri pelajaran dan capaian yang sudah didapat, mampu menjadi manusia yang pemaaf, berbagi cinta kepada manusia lain, dan menetapkan niat dan harapan baru. Cinta yang sejati dimulai dari diri sendiri dan kebahagian harus ada untuk menemani setiap langkah yang akan berlalu. Wa Allâhu a’lam.

Maraji’ :

* Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam UII angkatan 2021.

[1] HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrod no. 421/542, shahih kata Syaikh Al Albani. Disebutkan dalam Muhammad Abduh Tuasikal. “Aku Mencintaimu Karena Allah”  https://rumaysho.com/6319-aku-mencintaimu-karena-allah.html. Diakses pada 3 Desember 2024.

[2] Berliana Intan Maharani. “Kisah Abu Qilabah, Sahabat Nabi yang Selalu Bersyukur dan Sabar” https://www.detik.com/hikmah/kisah/d-6689231/kisah-abu-qilabah-sahabat-nabi-yang-selalu-bersyukur-dan-sabar/. Diakses pada 26 April 2023.

[3] Fromm E. The Art Of Loving. Gramedia Pustaka. 2020.

[4] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667.

[5] Muhammad Abduh Tuasikal. “Bersyukur Dengan yang Sedikit” https://rumaysho.com/1975-bersyukur-dengan-yang-sedikit.html. Diakses pada 3 Desember 2024.

[6] Adiba A Soebachman. Pesan-Pesan Cinta Jalaludin Rumi. Araska; 2024.

[7] Iman Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, Bab Min Al Iman An Yuhibba Liakhihi Ma Yuhibbu Linafsihi, no. 13. Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, Bab Al Dalil ‘Ala Ana Min Khishal Al Iman An Yuhibba Liakhihi Al Muslim Ma Yuhibbu Linafsihi Min Al Khair, no. 45.

Download Buletin klik di sini

Perilaku Imma’ah dalam Islam

Perilaku Imma’ah dalam Islam

Rofiqotun Nadilah*

 

Imma’ah atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan inkonsistensi atau ikut-ikutan (orang yang suka mengekor orang lain) merupakan suatu hal yang berkaitan dengan mentalitas atau sikap negatif yang harus kita hindari. Seseorang yang tidak mempunyai prinsip, ikut kesana-kemari mengikuti arah angin, sesuai dengan isu yang sedang beredar, atau sesuatu yang sedang viral dan menjadi trend, bahkan sesuatu yang berkembang sesuai dengan selera dan keinginannya. Tentu ini sebuah sikap yang tidak diharapkan dan tidak selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Bahkan dalam berbagai pandangan dan keyakinan pun, sifat ini adalah salah satu sifat yang tidak terpuji.

Dari Hudzaifah, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا

Janganlah kalian menjadi imma’ah! Kalian mengatakan: ‘Jika manusia-manusia berbuat baik, kami pun berbuat baik; jika mereka berbuat kezhaliman, kami juga akan berbuat zhalim’. Akan tetapi kokohkan diri kalian. Jika manusia berbuat baik, kalian juga berbuat baik. Jika mereka berbuat buruk, maka jangan kalian berlaku zhalim”. (HR. Tirmidzi, no.1930, beliau menyatakan haditsnya Hasan)

Dari hadits tersebut kita diingatkan untuk tidak berlaku imma’ah, yang mana sikap kita ditentukan oleh bagaimana orang-orang yang ada di sekitar kita. Hendaknya perkuatkan diri kita untuk tetap kokoh dalam berbuat kebaikan.[1]

Arus informasi yang semakin deras membuat gelombang trend silih berganti membanjiri aktivitas sehari-hari masyarakat di sekitar kita. Sifat imma’ah pun tumbuh subur bak jamur di musim hujan, mengisi jiwa-jiwa yang kosong akan prinsip iman dan identits diri. Contoh saja seorang penggemar terhadap artis idolanya, atau yang dikenal dengan istilah Celebrity Worship dimana hal tersebut dapat diartikan sebagai kecintaan berlebih terhadap idolanya.[2]

Saat sang idola menebarkan trend berpakaian terbuka, maka buru-burulah sang penggemar membeli pakaian yang sama dan ikut-ikutan terbuka. Tak peduli pantas atau tidak, tak peduli rapi dan sopan atau bahkan memalukan, terlebih khususnya pada wanita pun beramai-ramai berani membuka auratnya. Tak peduli harus seberapa dalam merogoh kocek untuk membeli baju-baju bermerk, tas-tas branded, alat elektronik mahal, atau kendaraan terbaru pun nekat dibeli hanya untuk mengikuti trend, demi gaya hidup bahkan hanya untuk sekedar pengakuan dari orang lain.

Mengapa Muncul dan Lahir Sifat Imma’ah?

Pertama, lemahnya keyakinan kepada Allah ﷻ. Saat ia melihat kebatilan semakin kuat serta memiliki kedudukan, sementara ia tidak yakin bahwa ia akan menang dan Allah ﷻ akan  memberikan pertolongan. Pada akhirnya ia lebih berpihak kepada kebatilan karena ragu akan pertolongan Allah ﷻ, ia memindahkan prinsipnya karena ia melihat tidak ada harapan. Padahal boleh jadi orang beriman diuji dan diberikan kekalahan, tapi ia tetap harus yakin bahwa Allah ﷻ pada akhirnya akan memberikan kemenangan bagi mereka yang berada di jalan kebenaran.

Kedua, berorientasi syahwat. Apabila orientasi hidup seseorang berupa terpenuhinya syahwat duniawi baik itu syahwat harta, syahwat popularitas, syahwat jabatan atau kedudukan, maka ia akan mengikuti segala penawaran yang membuka jalan untuk memenuhi keinginan-keinginan nafsunya. Ketika ia ditawarkan kesana dengan iming-iming yang besar sesuai dengan tujuan syahwatnya, maka ia akan ikut kesana. Lalu ternyata ada lagi yang menawarkan kesini dengan iming-iming yang besar dan sesuai dengan syahwatnya juga, dan akhirnya ia ikut kesini. Jadi, seseorang yang memiliki orientasi syahwat, maka sulit seseorang tersebut memiliki sifat konsisten, ia akan berubah-ubah, berbeda degan seseorang yang memiliki prinsip.

Ketiga, lemah pemahaman. Terkadang, seseorng yang memiliki keyakinan dan tidak disupport oleh pemahaman yang kuat dan bagus, maka ia akan rentan dihadapkan dengan syubhat. Sebagaimana seseorang yang telah memiliki keyakinan yang benar, lalu ia dihadapkan dengan suatu keyakinan lain yang disertai dengan dalih-dalih yang terkesan menarik. Karena tidak memiliki pemahaman yang baik, akhirnya ia meninggalkan dan ikut pandangan yang baru, padahal pandangan yang baru bisa saja buruk dan sesat. Maka, apabila seseorang memiliki keyakinan yang kuat disertai dengan pemahaman yang kuat, dia tidak akan mudah tergiur dengan tawaran-tawaran yang lain.

Keempat, tidak continue dalam pembinaan. Seseorang yang membiarkan dirinya tidak terawat ibarat tanaman yang awalnya cantik nan indah, dan berikutnya tidak lagi disiram dan dirawat dengan baik, maka bisa jadi ia akan layu dan bahkan mati. Sebagaimana keimanan kita, harusnya selalu dirawat, dibina dan jangan dibiarkan layu karena kita lalai. Apabila iman kita biarkan terbengkalai tidak terurus setiap hari, maka akan berpotensi besar terkena syubhat, lama kelamaan ia akan lemah. Pada akhirnya ia akan menanggalkan prinsipnya dan berpindah pada prinsip yang lain.

Kelima, terpedaya dengan nilai materialisme. Di zaman sekarang ini, nilai-nilai materialisme menjadi acuan kesuksesan dan keberhasilan. Seseorang dikatakan berhasil apabila ia memiliki rumah mewah, kendaraan mewah, jabatan yang tinggi, serta berpenampilan modis dengan menggunakan barang-barang branded. Itulah gambaran kehidupan materialistis yang hanya dilihat dari banyaknya harta seseorang namun mengenyampingkan bagaimana perilakunya, tidak peduli halalkah cara mereka dalam mencari harta atau bahkan sebaliknya. Sehingga tidak sedikit orang yang ingin seperti mereka, dan salah satu konsekuensinya ia harus meninggalkan prinsip-prinsipnya dan berpindah kepada pandangan-pandangan yang mengandung kebathilan.

Bagaimana Agar tidak Imma’ah?

Melihat sebab muncul dan lahirnya sifat imma’ah, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan, diantaranya: memperkuat keyakinan kita kepada Allah ﷻ dan ajaran-Nya. Salah satunya dengan banyak mengikuti majlis-majlis ilmu agar semakin sering kita medapatkan bimbingan, arahan dan peringatan. Maka hal tersebut akan menghadirkan kekuatan jiwa dan kekuatan hati kita untuk senantiasa selalu berada di jalan Allah ﷻ. Orientasi hidup kita haruslah akhirat. Bagaimana kita berfikir agar akhirat kita selamat dan akhirat kita bahagia, karena kehidupan akhirat adalah kehidupan yang hakiki.

Meningkatkan pemahaman terhadap ajaran Allah ﷻ agar tidak mudah terpedaya dengan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan. Tidak pernah bosan dalam membina diri, baik secara pribadi dengan melakukan berbagai rangakian ibadah seperti dzikrullah, tilawah Al-Qur’an, atau juga dengan bantuan orang lain seperti ulama atau ustadz dan ustadzah agar kita kokoh dalam sikap dan prinsip kita. Terakhir, kita harus memahami hakikat dunia fana, bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat merupakan tempat kehidupan yang abadi.

Maraji’ :

* Alumni Fakultas Ilmu Agama Islam UII

[1] Adil Fathi Abdullah. Keep Positive Thinking: 20 Tips Membangun Kepribadian Islami (Faishal Hakim Halimy, Terjemahan). Depok: Gema Insani. 2014. h. 42.

[2] Fransiska Vania. “Gambaran Celebrity Worship pada Dewasa Awal Penggemar K-Pop” dalam Jurnal Psikologi Malahayati, Vol. 05 No. 02, Tahun 2023, h. 274.

Download Buletin klik di sini

Peran Akidah Dalam Mencegah Cyberbullying

Peran Akidah Dalam Mencegah Cyberbullying

Desi Rahmawati*

Fenomena Cyberbullying

Cyberbullying atau perundungan dunia maya merupakan tindakan perundungan atau bullying dengan menggunakan teknologi digital yang dapat berdampak pada fisik dan mental seseorang. Teknologi digital yang dimaksud seperti Twitter, Youtube, Whatsapp, Facebook, Instagram dan TikTok.

Cyberbullying merupakan tindakan berulang yang dilakukan oleh sekelompok orang atau individu terhadap seseorang dilatarbelakangi karena ketidaksamaan mindset atau amarah yang bertujuan untuk menakuti atau menghinanya. Cyberbullying tidak memandang usia dan gender korban, cyberbullying dapat terjadi pada lingkungan pendidikan, lingkungan kerja, masyarakat, komunitas, dan tempat lainnya.[1] Contoh cyberbullying yang sering terjadi menurut United Nations Children’s Fund (UNICEF):[2]

  1. Menyebarkan kebohongan atau memposting pada media sosial berkaitan dengan privasi seseorang
  2. Mengirimkan pesan yang tidak sopan atau menyakitkan melalui kolom komentar pada media sosial seseorang
  3. Mengatasnamakan dengan membuat akun palsu atau meretas akun seseorang serta mengirimkan pesan yang merugikan orang lain
  4. Mengucilkan dari game online atau grup pertemanan
  5. Memaksa untuk mengirimkan foto sensual atau dilibatkan dalam percakapan seksual
  6. Menghasut orang lain untuk mempermalukan atau melecehkan seseorang

Lalu, bagaimana jika kita pernah mengalami hal-hal di atas?

Apabila pernah mengalami tindakan-tindakan cyberbullying seperti di atas,

  1. Perbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah Swt, memohon perlindungan agar dijauhkan dari fitnah dan kesewenang-wenangan orang lain;
  2. Perbanyak muhasabah atas setiap perilaku yang dilakukan sebelumnya;
  3. Segera konsultasikan dengan orang terdekat yang dianggap dapat menjaga privasi untuk dilakukan penanganan lebih lanjut;
  4. Batasi diri dan bijak dalam menggunakan media sosial.

Akidah bagi Seorang Muslim

Akidah adalah kepercayaan yang timbul dari pengetahuan dan keyakinan. Orang yang “mengetahui” dan menempatkan kembali kepercayaan kuat akan Keesaan Allah, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, petunjuk wahyu dan aturan-aturan hukum Ilahi mengenai pahala dan siksa, disebut mu’min (orang beriman).[3]

Sebagai orang yang beriman, kita diwajibkan menghiasi diri kita dengan al akhlakul karimah atau sifat-sifat yang mulia dan menjauhkan diri kita dari al akhlakul mazmumah atau sifat-sifat yang tercela. Mukmin yang senantiasa menghiasi dirinya dengan al akhlakul karimah, maka sifat mulia tersebut akan mendorong dirinya untuk senantiasa melakukan hal yang bermanfaat dan positif bagi dirinya sendiri maupun orang lain, hal tersebut akan mendorong terciptanya kebahagiaan hidup baik saat di dunia ataupun di akhirat. Sebaliknya apabila terlalu menghiasi dengan sifat-sifat tercela, maka sifat tersebut akan mendorong dirinya melakukan hal-hal buruk yang membawa kemudharatan bagi dirinya maupun orang lain.

Tauhid bersandingan dengan akhlak. Orang yang sudah belajar tauhid, mempunyai ikatan yang lebih dekat dengan Allah. Aktivitasnya dijaga agar selalu baik, karena dilihat Allah, jadi mustahil mengeluarkan kata-kata kotor. Ikatan tersebut disebut dengan akad, semakin kuat ikatan tersebut disebut dengan Akidah. Umat Islam yang sudah mempunyai ikatan dekat dengan Allah, akhlaknya berubah, dari jahiliyah menjadi terbuka.

Akidah yang benar mempunyai kedudukan tinggi dalam Islam. Akidah yang benar akan memberikan kebaikan pada diri sendiri dan orang lain. Sebaiknya, akidah yang rusak akan membawa kepada keburukan. Seseorang yang mempunyai akidah yang kuat, akan beribadah kepada Allah ﷻ dengan Ikhlas, khusyuk, mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Seseorang yang mempunyai akidah kuat, akan memiliki akhlak yang baik ketika dia bermuamalah dan bergaul dengan manusia.

Seseorang yang mempunyai akidah yang kokoh, akan tertanam pada dirinya sifat-sifat yang baik, sabar ketika mendapat musibah, bersyukur saat memperoleh nikmat dari Allah ﷻ, bertaubat dan beristighfar saat melakukan dosa. Akidah yang kuat, Allah l senantiasa menjaga hambanya dari syubhat dan kerancuan-kerancuan. Akidah yang kuat, Allah ﷻ akan menjaga seseorang dari musuh-musuh Islam, baik dari dalam maupun dari luar. Akidah yang kuat, ibarat seperti pohon yang kuat, mempunyai akar yang kokoh dan cabangnya menjulang ke atas. Belajar dan mengamalkan akidah yang benar adalah fardhu’ain, wajib bagi seorang musilm dan muslimah, mulai dari perkara-perkara mendasar. Dengan akidah, kita akan dimudahkan masuk ke dalam surga-Nya dan dijauhkan dari neraka.

Peran Akidah dalam Mencegah Cyberbullying

Islam jelas melarang terhadap perilaku menghujat dan merendahkan sesama makhluk ciptaan-Nya. Al Quran sebagai pedoman hidup manusia dalam semua aspek kehidupan. Larangan terhadap bullying dalam Al Quran dijelaskan dalam surah al Hujurat ayat 11,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan), lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk. Seburuk-buruknya panggilan adalah panggilan yang buruk atau fasik setelah beriman. Dan barang siapa tidak melakukan taubat, mereka itulah termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. al Hujurât [49]: 11).

Dalam tafsir Ibnu Katsir, menjelaskan kata yaskhar (memperolok-olokkan) berarti menghina atau meremehkan mereka. Hal ini sangat dilarang, karena bisa saja orang yang diremehkan tersebut mempunyai kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah l dari pada orang yang meremehkannya.

Penjelasan di atas menggambarkan bahwa akhlak seseorang sudah diatur oleh Al Quran. Apabila keimanan seseorang sudah kuat, maka akan mempunyai ikatan yang lebih kuat kepada Allah ﷻ dan mendekatkan diri kepada-Nya. Selain itu, senantiasa menjaga perilakunya dari perbuatan-perbuatan tercela. Hal tersebut juga akan terimplementasikan dalam tindakan kesehariannya, salah satunya salam bermuamalah kepada sesama manusia baik secara dunia maya maupun tatap muka.

Dengan demikian, akidah mempunyai peran penting dalam mencegah terjadinya cyberbullying. Akidah mempunyai peran dalam pembentukan karakter seseorang. Oleh sebab itu, penting untuk menanamkan akidah sejak dini. Orang tua mempunyai peran penting dalam mengajarkan rukun-rukun iman yang menjadi nilai dasar dalam pembentukan akidah anak. Ketika akidah sudah melekat dalam diri anak, maka ia akan menjadi seseorang yang beriman dan mempunyai kepribadian kuat. Selain itu, segala sikap dan perbuatannya senantiasa dilakukan hanya karena Allah ﷻ.

Maraji’ :

* Staf Jurusan Studi Islam FIAI UII

[1] Annastasya dkk. “Cyberbullying di Media Sosial Instagram Ditinjau dari Perspektif Islam” dalam Jurnal Multidisiplin Ilmu, Vol. 1 No. 3, Tahun 2022. h.136.

[2] Unicef. “Cyberbullying: Apa itu dan Bagaimana Menghentikannya” https://www.unicef.org/indonesia/id/child-protection/apa-itu-cyberbullying. Diakses pada 30 Agustus 2024.

[3] Ananda Prathiwi. “Peran Akidah dalam Mencegah Cyberbullying di Media Sosial (Studi Analisis Terhadap Instagram Mahasiswa Prodi Akidah dan Filsafat Islam)” dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, Vol. 1 No. 1, Tahun 2021. h.61.

Download Buletin klik di sini

Penyakit-Penyakit Akidah

Penyakit-Penyakit Akidah

Jaenal Sarifudin*

 

Bismillahi, walhamdulillahi, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Waba’du.

Jika dipetakan, agama Islam secara garis besar mencakup tiga ajaran pokok yaitu akidah, ibadah dan akhlak. Hal ini tercermin dalam trilogi iman, Islam dan ihsan. Iman membuahkan ajaran akidah (tauhid). Islam membuahkan aspek syariat (ibadah) sebagaimana yang tercermin dalam lima rukun Islam. Kemudian ihsan mencerminkan penekanan pada aspek akhlak, etika dan moralitas.

Di antara ketiganya, aspek iman (akidah) adalah ajaran yang menjadi dasar dan pondasi dari sebuah bangunan yang bernama agama. Jika akidah seseorang kuat, niscaya akan kokoh pula bangunan agama yang berdiri di atasnya. Hal ini sebagaimana diisyaratkan di dalam firman Allah ﷻ,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ. تُؤْتِىٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍۭ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ.

Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim [14]: 24-25).

Makna kalimah thayyibah dalam ayat tersebut menurut para ahli tafsir adalah kalimat tauhid yang menjadi pilar dari keimanan.[1] Jika tauhid seseorang tertanam kuat laksana pohon yang subur dan akarnya menghunjam kuat, niscaya akan membuahkan kesalehan yang digambarkan dengan buah-buahan. Maka nilai-nilai akidah harus senantiasa dijaga dengan baik. Salah satu kunci menjaga bersihnya ruhani kita adalah dengan menjaga kemurnian akidah dari beberapa penyakit yang akan merusak. Berikut beberapa penyakit-penyakit akidah:

Beberapa Penyakit Akidah

  1. Syirik

Syirik artinya menjadikan bagi Allah tandingan atau sekutu. Pelakunya disebut musyrik. Syirik merupakan dosa terbesar dan sebesar-besar bentuk kezhaliman.[2] Mereka yang membawa mati dosa syirik dan tidak bertaubat maka tidak akan diampuni oleh Allah.[3] Syirik ada dua macam, yakni syirik jali (syirik yang terang-terangan) dan syirik khofi (syirik yang tersamar). Setiap muslim seharusnya mempelajari ilmu akidah dan tauhid dengan baik dan benar agar ia memiliki pemahaman yang kokoh. Perbuatan syirik juga bisa menghapus pahala yang telah dimiliki seseorang sebagaimana firman-Nya,

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu, sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar [39]: 65).

  1. Takhayul

Takhayul maknanya mempercayai hal-hal klenik yang sejatinya tidak ada. Pada gilirannya kepercayaan takhayul ini sering berujung memuja dan mengagungkan sesuatu yang tidak semestinya. Misalnya meyakini bahwa benda-benda “keramat” memiliki kekuatan tertentu dan akan memberikan keberuntungan atau menolak bala’. Di zaman modern ini, ternyata takhayul tidak lantas hilang. Beberapa waktu lalu misalnya ada fenomena spirit doll (boneka arwah) yang mengemuka di kalangan tertentu. Mereka meyakini bahwa boneka yang dimilikinya memiliki ruh, dapat berkomunikasi dan akan membawa keberuntungan.

Sebuah boneka jelas adalah benda mati. Ia tidak akan bergerak kecuali digerakkan oleh orang yang memegangnya. Kalaupun misalnya ada boneka yang ternyata bisa bergerak atau bahkan mampu berbicara, pastilah ada hal yang “tidak beres” di sana. Bisa jadi ada sebangsa jin jahat yang merasukinya. Jin memang memiliki kemampuan untuk merasuki makhluk hidup atau pun benda mati. Di dalam kitab tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Quran, Imam al-Qurthubi menyebutkan bahwa Hubal, patung terbesar yang disembah kaum musyrikin Mekkah dahulu dapat berbicara karena dirasuki jin.[4] Ini juga merupakan cara jin atau setan untuk menyesatkan manusia.

  1. 3. Khurafat

Khurafat memiliki makna yang mirip dengan takhayul. Hanya ia memiliki kaitan dengan sisi kepercayaan yang telah lama berakar dalam kehidupan masyarakat dan juga terkait dengan mitos legenda di masa lampau. Misalnya khurafat terkait terjadinya gerhana matahari yang dalam mitos katanya karena matahari dimakan raksasa sehingga terjadilah gerhana. Atau terkait terbentuknya fenomena alam tertentu yang dikait-kaitkan dengan hal yang tidak berdasarkan ilmu. Sisi yang bertentangan dengan akidah pada aspek khurafat ini adalah karena ia bisa menafikan apa yang disebut konsep sunnatullah. Yakni hukum yang Allah terapkan pada alam dan mekanisme ciptaan-Nya. Bahkan khurafat juga jelas bertentangan dengan nalar akal sehat yang menjadi sebab kemuliaan manusia dan juga bertentangan dengan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari sumber nilai kebenaran.

  1. Tathayyur

              Tathayyur secara bahasa bermakna berita burung. Hal yang tidak jelas. Tathayyur biasanya dilakukan dengan mengkait-kaitkan sesuatu dengan hal yang tidak berhubungan secara logis, namun diyakini ia menjadi sebab atas hal tertentu. Misalnya keyakinan kalau ada seseorang yang keduten mata kanannya maka ia dalam waktu dekat mau dapat rezeki nomplok. Kemudian juga misalnya hari pasaran kelahiran seseorang yang dikait-kaitkan dengan nasib dan kecocokannya dalam pekerjaan.

Selain itu juga ada masyarakat Jawa yang meyakini bahwa kalau seseorang menikah di bulan Muharram (Suro) maka bisa berakibat buruk (sial). Sebab Suro adalah bulan “keramat” yang dianggap sebagai bulan pantangan untuk menggelar hajat tertentu. Ini adalah beberapa contoh tathayyur yang bertentangan dengan nilai akidah. Sebab salah satu prinsip keimanan adalah meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi hanyalah atas izin Allah. Hanya Allah yang dapat memberikan manfaat dan madlarat.

  1. Sihir

Sihir hakikatnya adalah bentuk kerjasama manusia dengan jin jahat (setan) untuk melakukan hal tertentu yang biasanya di luar hukum akal. Sihir ada yang bersifat memamerkan kemampuan, misalnya atraksi-atraksi menakjubkan tertentu yang di luar nalar. Ada juga bentuk sihir yang bertujuan mencelakai orang lain seperti santet. Atau sebaliknya, bertujuan untuk memberikan “keuntungan” yang sesungguhnya bersifat semu bagi seseorang seperti sihir pesugihan, penglarisan dan pengasihan. Melakukan perbuatan sihir jelas bertentangan dengan keimanan. Manusia dilarang menjadikan setan sebagai teman. Setan adalah musuh Allah dan musuh yang nyata bagi manusia. Firman Allah ﷻ,

إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُوا۟ حِزْبَهُۥ لِيَكُونُوا۟ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan adalah musuh nyata bagimu maka jadikanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir [35]: 6).

  1. Ramalan Klenik

Ramal meramal yang tidak ada dasarnya adalah bertentangan dengan nilai akidah. Sebab manusia pada hakikatnya tidak mengetahui dan tak bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Allah ﷻ menegaskan dalam firman-Nya,

وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

…Tidaklah satupun jiwa mengetahui apa yang akan dia lakukan besok, dan tidak ada satupun jiwa mengetahui di mana ia akan mati.” (QS. Luqman [31]: 34). Sehingga jika ada seseorang yang mengaku dapat mengetahui apa yang akan terjadi atau mampu meneropong nasib seseorang, maka ia adalah pembohong. Nabi mengecam orang yang mempercayai ramalan dalam sabdanya,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal kemudian ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammmad.” (H.R. Ahmad no. 9532).[5]

Maraji’ :

* Mahasiswa Pasca FIAI

[1] Abu Bakar Jabir al-Jazairi. Aisar at-Tafasir, Madinah, Maktabah al-‘Ulum wa al-Hukmi, 2007.

[2]  QS. Luqman [31]: 13.

[3]  QS. An-Nisa [4]: 116.

[4]  Abu Abdillah Muhammad al-Qurtubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, Beirut, Darul Kutub al-‘Ilmiyah, t.t.

[5] HR. Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.

Download Buletin klik di sini

Makna Ikhlas dalam Tazkiyatun Nafs

Makna Ikhlas dalam Tazkiyatun Nafs

Nada Kurnia Sari*

 

Pentingnya Tazkiyatun Nafs dalam Kehidupan 

Tazkiyah berasal dari kata zaka yang bermakna membersihkan atau memperbaiki. Dalam konteks ini, tazkiyatun nafs berarti proses membersihkan hati dari sifat-sifat buruk seperti riya, hasad, dan kesombongan, serta menggantikannya dengan sifat-sifat mulia seperti keikhlasan, tawakal, dan syukur.[1]

Tazkiyatun nafs, atau penyucian jiwa, bukan hanya sekadar konsep, tetapi jalan untuk mendidik hati dan kalbu agar senantiasa berada di posisi yang diridhai Allah l. Ketika jiwa telah bersih dari noda, hati akan menjadi cermin yang jernih, memantulkan cahaya keimanan dan kebaikan.

Namun, apa jadinya jika seseorang tampak luar biasa dalam ibadah, dan baik di mata manusia, tetapi ternyata muamalahnya kepada Allah buruk? Di tengah keramaian, ia tampak seperti wali Allah, tetapi dalam kesendirian menjadi walinya setan. Fenomena ini menunjukkan absennya tazkiyatun nafs dalam dirinya. Penyucian jiwa menjadi penentu apakah ibadah dan amal memiliki makna sejati atau justru kosong tanpa arah.

Allah ﷻ menjadikan tazkiyatun nafs sebagai salah satu misi utama Rasulullah ﷺ. Allah l berfirman,

هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumuah [62]: 2).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa misi utama Rasulullah adalah membimbing umat manusia untuk menyucikan jiwa, mengajarkan Al-Qur’an, dan hikmah. Hal ini menegaskan pentingnya tazkiyatun nafs sebagai kunci kebahagiaan hakiki.

Bahkan dalam firman Allah surah Asy-Syams ayat 1-10[2], di mana Allah menyebutkan sebelas sumpah beruntun untuk menegaskan bahwa hanya mereka yang menyucikan jiwa yang akan beruntung, sementara mereka yang mengotorinya akan merugi.[3]

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا. وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9-10)

Ikhlas: Kunci Utama Penyucian Jiwa 

Ibadah kepada Allah ﷻ tidak cukup hanya memperhatikan aspek lahiriah, seperti gerakan shalat atau bacaan dzikir. Ibadah harus mencakup hati, karena hati adalah inti dari hubungan seorang hamba dengan Sang Penciptanya. Ibadah hati memiliki banyak bentuk, tetapi yang paling utama adalah keikhlasan.

Ikhlas bermakna memurnikan niat hanya untuk Allah ﷻ, menjadikan Allah satu-satunya tujuan dari segala bentuk ketaatan.[4] Dalam surah al Bayyinah ayat 5, Allah ﷻ berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Dan mereka tidak diperintahkan, kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas…” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5).

Bahkan, keikhlasan akan menjadi perisai seorang hamba dari godaan setan,[5] di mana Iblis mengakui bahwa ia tidak mampu menggoda hamba-hamba yang ikhlas.

Seseorang yang mencintai Allah ﷻ akan menunjukkan kecintaan itu dalam setiap aspek kehidupannya. Semua aktivitasnya, mulai dari ibadah hingga interaksi sehari-hari, mencerminkan tujuan akhir yang ia harapkan ridha Allah ﷻ. Sebaliknya, orang yang hatinya terikat pada gemerlapnya dunia, seperti halnya harta, pangkat, dan pujian, cenderung kehilangan keikhlasan. Ibadahnya tidak lagi murni untuk Allah ﷻ, melainkan hanya rutinitas atau bahkan untuk mendapat pengakuan dari orang lain.

Tantangan dalam Menjaga Keikhlasan 

Menjaga keikhlasan bukanlah perkara mudah. Dunia menawarkan begitu banyak godaan yang bisa merusak niat. Banyak orang yang mengira mereka telah ikhlas, padahal sebenarnya tertipu oleh hawa nafsu.

Salah satu kisah yang menarik untuk direnungkan adalah tentang seorang lelaki yang selalu shalat di shaf pertama. Suatu hari, ia terlambat dan harus shalat di shaf kedua, ia merasa malu dilihat oleh orang-orang di sekitarnya. Saat itu, ia menyadari bahwa ketenangan hatinya selama ini saat berada di shaf pertama ternyata bukan karena Allah, tetapi karena pandangan orang lain.[6]

Kisah ini menjadi pengingat betapa sulitnya mencapai keikhlasan yang sejati. Betapa banyak amal yang  anggap ikhlas, tetapi sebenarnya telah tercampur dengan niat untuk mencari pujian atau pengakuan.

Langkah-Langkah Mencapai Keikhlasan 

Meski sulit, ikhlas bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diraih. Ada beberapa langkah yang bisa  tempuh untuk melatih diri menuju keikhlasan:

  1. Melawan hawa nafsu. Keikhlasan hanya bisa tumbuh dalam hati yang bersih dari keinginan duniawi. Oleh karena itu, harus melatih diri untuk memupus ketamakan terhadap harta, popularitas, dan kedudukan.
  2. Fokus pada akhirat. Menjadikan akhirat sebagai tujuan utama akan membantu menjaga keikhlasan. Ketika hati terfokus pada keridhaan Allah, godaan dunia akan terasa kecil.
  3. Membangun kebiasaan muhasabah. Introspeksi diri adalah kunci untuk mengevaluasi niat. Sebelum melakukan amal, tanyakan pada diri sendiri: “Untuk siapa aku melakukan ini?”
  4. Menjaga amal tersembunyi. Salah satu cara melatih keikhlasan adalah dengan melakukan amal secara diam-diam, tanpa diketahui orang lain. Amal yang tersembunyi lebih kecil kemungkinannya untuk dicampuri oleh riya.
  5. Memohon taufik dari Allah l. Keikhlasan adalah anugerah dari Allah. Oleh karena itu, berdoalah agar Allah membersihkan hati dan memberikan taufik untuk selalu ikhlas dalam setiap amal.

Peringatan Bagi yang Lalai 

Allah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang lalai dari keikhlasan. Allah ﷻ berfirman,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا. ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا. أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا.

Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi [18]: 103-105).

Allah ﷻ menjelaskan bahwa amal mereka yang tidak ikhlas akan menjadi sia-sia pada hari kiamat. Mereka akan melihat kebaikan-kebaikan mereka berubah menjadi keburukan karena niat yang salah.

Keikhlasan sebagai Jalan Keselamatan 

Ikhlas adalah syarat mutlak diterimanya amal dan kunci utama dalam proses tazkiyatun nafs. Tanpa ikhlas, amal hanya menjadi rutinitas tanpa nilai di sisi Allah ﷻ. Mari  jadikan ikhlas sebagai pondasi dalam setiap ibadah dan aktivitas, sehingga seluruh hidup  menjadi cerminan cinta kepada Allah dan harapan akan akhirat.

Semoga Allah ﷻ memberikan taufik kepada  semua untuk menjadi hamba-hamba yang ikhlas, yang setiap amalnya murni dipersembahkan hanya kepada-Nya.

Maraji’ :

* Mahasiswa Fakultas Ilmu Agama Islam.

[1] Said Hawwa, al-Mustakhalash fi Tazkiyat a-Anfus, alih bahasa oleh: Ainur Rafiq Shaleh Tahmid, Lc, Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun Nafs Terpadu. Jakarta: Robbani Press, 1999. h. 2.

[2] QS. Asy-Syams [91]: 1-10.

[3] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ibnu Rajab al-Hanbali, dan Imam al-Ghazali. Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqarrirruhu ‘Ulama As-Salaf. Beirut: Dar al-Qalam, t.t.

[4] Dedi Junaedi dan Sahliah Lia, “Ikhlas Dalam Al Qur’an,” Ta’lim JIAI 1, no. 2 (2019). h. 34–42.

[5] QS. Shad [38]: 83.

[6] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ibnu Rajab al-Hanbali, dan Imam al-Ghazali. Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqarrirruhu ‘Ulama As-Salaf. Beirut: Dar al-Qalam, t.t.

Download Buletin klik di sini

Rahasia Karyawan Dan Kepemimpinan Sukses Perspektif Al-Qur’an

Rahasia Karyawan Dan Kepemimpinan Sukses Perspektif Al-Qur’an

Abu Musa Agus Fadilla Sandi*

 

Bismillâhi walhamdulillâh wash shalâtu was salâmu ‘ala rasûlillâh.

Dunia kerja modern saat ini mengalami fenomena yang memprihatinkan, seperti meningkatnya angka pengunduran diri karyawan (resign)[1] dan semakin meluasnya isu-isu tentang lingkungan kerja yang tidak sehat (toxic).[2] Tentu saja fenomena ini menuntut kita untuk mengevaluasi kembali model kepemimpinan dan pola hubungan antara pemimpin dan karyawan dalam sebuah organisasi.

Dalam Al-Qur’an ternyata terdapat petunjuk yang sangat relevan mengenai prinsip kepemimpinan yang dapat menjadi fondasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif. Allah ﷻ memberikan contoh-contoh teladan tentang pemimpin dan karyawan yang sukses. Maka dari itu, tulisan ini akan menggali lebih dalam tentang bagaimana rahasia kesuksesan karyawan dan pemimpin perspektif Al-Qur’an.

Karyawan yang Baik

Karyawan yang baik adalah aset penting bagi keberhasilan sebuah lembaga. Al-Qur’an menggambarkan kriteria karyawan sukses melalui kisah Nabi Musa. Allah ﷻ berfirman dalam surah Al-Qashash ayat 26,

قَالَتْ إِحْدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, “Wahai ayahku, jadikanlah dia sebagai pekerja kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik untuk dipekerjakan adalah yang kuat dan dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash [28]: 26).

Dalam Tafsir As-Sa’di, dijelaskan bahwa Nabi Musa layak untuk dipekerjakan karena ia memiliki dua sifat mulia ini: kekuatan dan amanah. Pekerja terbaik adalah yang memiliki keduanya—kekuatan untuk melaksanakan pekerjaan yang ditugaskan dan amanah dalam menjaga kepercayaan, tanpa berkhianat.[3] Dalam Tafsir Al-Baghawi, Nabi Musa dianggap kuat karena mampu mengangkat batu besar yang biasanya membutuhkan sepuluh hingga empat puluh orang, dan amanah karena menjaga kehormatan putri Syaikh Madyan (Nabi Syu’aib) dengan meminta mereka berjalan di belakangnya agar angin tak berhembus membentuk lekuk tubuh mereka.[4]

Kekuatan dan amanah adalah dua elemen penting untuk menjadi karyawan yang sukses. Kekuatan mencakup kemampuan fisik, mental, serta keahlian dalam menyelesaikan tugas dengan baik. Amanah mencakup kejujuran, integritas, dan tanggung jawab penuh terhadap pekerjaan. Modal kekuatan akan memastikan pekerjaan diselesaikan dengan efisien, sementara modal amanah akan menjaga kepercayaan dan kejujuran selama proses pelaksanaannya.

Di masa kini, kekuatan dapat bermakna kompetensi dalam keahlian dan kemampuan menghadapi tantangan kerja. Adapun amanah berarti menjaga etika kerja, tidak menyalahgunakan kepercayaan, dan berkomitmen pada tanggung jawab. Karyawan yang mampu memadukan kedua sifat ini akan menghasilkan kinerja maksimal dan penuh keberkahan.

Sebagai karyawan, mari belajar dari kisah Nabi Musa. Sudahkah kita cukup kompeten dan amanah dalam menjalankan tanggung jawab? Sebagai pemimpin, jadikan kekuatan dan amanah sebagai pedoman dalam memilih tim. Karyawan terbaik adalah mereka yang bekerja dengan tangan yang terampil, hati yang tulus, dan jiwa yang jujur. Ikhtiar memadukan keahlian dan integritas akan menjadikan seseorang sebagai karyawan yang sukses berkualitas.

Pemimpin yang Saleh

Menjadi seorang pemimpin bukan berarti bebas bertindak sesuka hati. Setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, yang akan menimbang setiap kebaikan dan membalas semua perbuatan. Secara umum, pemimpin bermakna orang yang memimpin;[5] dalam konteks lainnya pengertian ini dekat dengan definisi bos, yakni seseorang yang berkuasa mengawasi dan memberi perintah kepada bawahan, baik dalam organisasi maupun perusahaan.[6]

Al-Qur’an telah membahas tema kepemimpinan yang sukses yang terdapat dalam kisah Syekh Madyan dan Nabi Musa. Allah ﷻ berfirman dalam surah Al-Qashash ayat 27,

قَالَ إِنِّىٓ أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ٱبْنَتَىَّ هَٰتَيْنِ عَلَىٰٓ أَن تَأْجُرَنِى ثَمَٰنِىَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَآ أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Dia (Syaikh Madyan) berkata, “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan syarat engkau bekerja padaku selama delapan tahun. Jika engkau menyempurnakan hingga sepuluh tahun, itu adalah kebaikan darimu. Aku tidak bermaksud memberatkanmu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.” (QS. Al-Qashash [28]: 27)

Ada dua aspek utama yang menunjukkan kesalehan Syekh Madyan sebagai seorang pemimpin. Pertama, kejelasan akad kerja yang ditawarkan, yaitu durasi delapan tahun dengan opsi tambahan hingga sepuluh tahun sebagai bentuk kebaikan dari Nabi Musa. Umar bin Khattab  z menjelaskan bahwa di antara bentuk kebaikan dalam menjaga hubungan adalah dengan setia pada komitmen yang telah disepakati.[7]

Kedua, kemudahan jenis pekerjaan yang dijanjikan. Syaikh Madyan menegaskan bahwa pekerjaannya tidak akan memberatkan, melainkan ringan dan mudah dijalani. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin yang saleh seharusnya senantiasa berusaha memperbaiki akhlaknya, dan apa yang diharapkan darinya menjadi nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain.[8]

Kisah di atas mengajarkan kita bahwa menjadi pemimpin yang sukses adalah tentang memperlakukan bawahan dengan kejelasan dan kebaikan. Jadilah seperti Syaikh Madyan yang menjaga hak dan kewajiban karyawannya dengan bijaksana, serta bermuamalah baik dengan tidak memberatkan karyawannya.

Ikhtitam

Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat relevan dalam dunia kerja, baik untuk karyawan maupun pemimpin. Karyawan yang baik adalah mereka yang memiliki kekuatan dalam kompetensi dan amanah dalam menjalankan tugas. Sedangkan, pemimpin yang saleh adalah mereka yang memperjelas akad kerja dan mempermudah pekerjaan karyawannya.

Oleh karenanya, baik karyawan maupun pemimpin, mari kita amalkan nilai-nilai kekuatan, amanah, kejelasan dan kebaikan dalam kehidupan profesional kerja kita. Jadikan kisah ini sebagai inspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berkontribusi pada lingkungan kerja yang positif. Bersama-sama kita wujudkan dunia kerja yang produktif dan penuh keberkahan dengan mengikuti teladan yang telah dicontohkan di dalam Al-Qur‘an.

Maraji’ :

* Ketua Yayasan Markaz Studi Al-Qur’an

[1] Intan Rakhmayanti Dewi, “Musim Resign Bakal Makin Ganas, Lengah Bakal Ditinggal Karyawan,” CNBC Indonesia, diakses 1 Desember 2024, https://www.cnbcindonesia.com/tech/20240625132825-37-549132/musim-resign-bakal-makin-ganas-lengah-bakal-ditinggal-karyawan.

[2] “1 dari 5 Orang Merasa Tempat Kerjanya Toxic, Ada Apa?,” diakses 1 Desember 2024, https://lifestyle.kompas.com/read/2023/07/17/201538020/1-dari-5-orang-merasa-tempat-kerjanya-toxic-ada-apa?page=all#.

[3] Abdul Rahman bin Nasser bin Abdullah Al-Saadi, Taysir al-Kareem al-Rahman fi Tafsir Kalaam al-Mannaan (Beirut: Mu’assasat al-Risalah, 2000), h. 614

[4] Abū Muḥammad al-Ḥusayn ibn Mas’ūd ibn Muḥammad ibn al-Farrā’ al-Baghawī, Ma’ālim at-Tanzīl, Ar-Rābi’ah (Riyadh: Dār Ṭayyibah li an-Nashr wa at-Tawzī’, 1417), h. 530.

[5] “Hasil Pencarian – KBBI VI Daring,” diakses 1 Desember 2024, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pemimpin.

[6] “Hasil Pencarian – KBBI VI Daring,” diakses 1 Desember 2024, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/bos.

[7] al-Baghawī, Ma’ālim at-Tanzīl, h. 531.

[8] Al-Saadi, Taysir al-Kareem al-Rahman fi Tafsir Kalaam al-Mannaan,  h. 614.

Download Buletin klik di sini

Ikhtiar Merawat Kewarasan: Seimbang Dunia & Akhirat

Ikhtiar Merawat Kewarasan: Seimbang Dunia & Akhirat

Ridho Frihastama*

 

Keseimbangan dalam hidup adalah kunci untuk meraih kebahagiaan yang sejati. Dunia yang penuh dengan godaan dan tantangan sering kali membuat manusia terjebak dalam kesibukan yang berlebihan, baik dalam mengejar kesuksesan duniawi maupun terlarut dalam pencarian spiritual yang berlebihan. Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Tidak berlebihan dalam mengejar dunia, namun juga tidak melupakan tanggung jawab kita terhadap kehidupan akhirat. Inilah yang disebut sebagai ikhtiar merawat kewarasan seimbang dunia dan akhirat.

Kewarasan dalam kehidupan sangat penting bagi setiap individu. Secara fisik, kewarasan merujuk pada kondisi tubuh yang sehat, bebas dari penyakit dan cacat yang mengganggu aktivitas. Namun, kewarasan yang lebih penting lagi adalah kewarasan mental dan spiritual. Kewarasan mental berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk berpikir dengan jernih, mengelola emosi, serta membuat keputusan yang baik dan bijaksana. Sementara kewarasan spiritual berkaitan dengan hubungan seseorang dengan Tuhan, serta pemahaman tentang tujuan hidup yang lebih tinggi.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kewarasan sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Seseorang yang hanya fokus pada dunia tanpa memperhatikan aspek spiritualnya cenderung terjebak dalam keserakahan, stres, dan keputusasaan. Sebaliknya, seseorang yang terlalu fokus pada akhirat tanpa memperhatikan kewajibannya di dunia bisa mengalami kesulitan dalam menjalani hidup, bahkan terkadang mengabaikan hak-hak dirinya dan orang lain.

Islam Mengajarkan Keseimbangan

Islam adalah agama yang sangat menekankan pentingnya keseimbangan dalam hidup. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an,

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashash [28]: 77).

Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak melupakan dunia dalam upaya kita meraih kebahagiaan akhirat. Kita harus berusaha sebaik mungkin dalam dunia untuk mempersiapkan kehidupan akhirat yang lebih baik. Dunia bukanlah tempat yang harus ditinggalkan sepenuhnya, tetapi dunia adalah ladang bagi amal kita yang akan dipanen di akhirat. Sehingga kita harus mengelola keduanya dengan baik agar tidak ada yang terabaikan.

Merawat Kewarasan Duniawi

Kewarasan duniawi membutuhkan pengelolaan yang bijaksana terhadap waktu, energi, dan sumber daya yang ada. Dalam Islam, usaha untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup adalah hal yang dianjurkan, asalkan dilakukan dengan cara yang halal dan tidak melupakan syariat agama. Pada firman Allah ﷻ  surah Al-Qashash ayat 77, menggambarkan betapa pentingnya kita berikhtiar untuk meraih kehidupan yang baik di dunia, dengan mencari rizki yang halal, bekerja keras, dan tetap menjaga prinsip-prinsip moral yang diajarkan dalam Islam. Kewarasan duniawi ini dapat terjaga dengan menghindari sikap serakah, menyimpan harta dengan cara yang baik, serta tidak terjebak dalam keinginan dunia yang tiada habisnya.[1]

Islam mengajarkan kita untuk bekerja dengan tekun dan penuh dedikasi, tetapi juga mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam keserakahan dan cinta dunia yang berlebihan. Salah satu cara untuk menjaga keseimbangan duniawi adalah dengan berinfak dan bersedekah. Harta yang kita miliki bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk membantu sesama.

Merawat Kewarasan Akhirat

Merawat kewarasan akhirat tidak dapat dipisahkan dari kewarasan dunia. Seorang Muslim yang ingin meraih kebahagiaan di akhirat harus menjaga hubungan baik dengan Allah ﷻ, melakukan ibadah dengan tekun, dan berusaha menambah ilmu agama. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis, ibadah bukan hanya untuk menenangkan hati, tetapi juga untuk menjadi bekal kita di akhirat kelak.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an,

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran [3]: 133).

Ayat ini menunjukkan bahwa untuk meraih kebahagiaan di akhirat, kita harus mempersiapkan diri dengan amal shalih. Ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji merupakan kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Namun, tidak hanya itu, sikap sabar, ikhlas, dan tawakal juga menjadi bagian dari kewarasan spiritual yang harus dijaga.

Selain itu, kita juga harus menjauhi sifat-sifat yang bisa merusak kewarasan, seperti riya, ujub (bangga diri), dan tidak ikhlas dalam beramal. Sehingga semua yang kita lakukan dapat membawa manfaat di dunia dan akhirat karena semata-mata untuk Allah ﷻ.

Mencapai Keseimbangan: Ikhtiar dan Tawakal

Mencapai keseimbangan antara dunia dan akhirat membutuhkan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Namun, ikhtiar ini tidak akan lengkap tanpa tawakal kepada Allah. Tawakal adalah sikap menyerahkan hasil akhir hanya kepada Allah setelah berusaha dengan maksimal.[2] Dengan tawakal, kita menyadari bahwa segala sesuatu yang kita capai di dunia dan akhirat adalah atas izin dan kehendak-Nya.

Dari Umar bin Al-Khattab, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,

لَو أَنَّكُمْ تَوكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرزُقُ الطَّيرَ ، تَغدُو خِماصاً ، وتَروحُ بِطَاناً .

Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar dan kembali di waktu sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, 1:30; Tirmidzi, no. 2344; Ibnu Majah, no. 4164; dan Ibnu Hibban, no. 402).[3]

Tawakal bukan berarti kita tidak berusaha, tetapi meyakini bahwa segala yang kita usahakan adalah bagian dari takdir Allah, dan kita pasrahkan segala urusan kepada-Nya.

Merawat kewarasan dunia dan akhirat adalah tanggung jawab setiap Muslim. Dalam kehidupan yang serba cepat ini, kita sering kali terjebak dalam godaan duniawi atau bahkan terlalu terpaku pada urusan akhirat. Padahal, Islam mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan antara keduanya. Dengan bekerja keras di dunia, menjalani ibadah dengan penuh keikhlasan, serta bertawakal kepada Allah, kita dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga kewarasan dalam setiap aspek kehidupan kita. Aamiin.

Maraji’ :

* Alumni Pendidikan Agama Islam FIAI UII Th 2015.

[1] Muhammad Abduh Tuasikal. “Jangan Lupakan Nasib Kalian di Duniahttps://rumaysho.com/3335-jangan-lupakan-nasib-kalian-di-dunia.html. Diakses pada 3 Desember 2024.

[2] Zulfian. “Mengenal Konsep Tawakal Ibnu ‘Athaillah Al-Sakandari” dalam jurnal Pemikiran Islam, Vol.1, No.1, Tahun 2021. H 74-88.

[3] HR. Ahmad, 1:30; Tirmidzi, no. 2344; Ibnu Majah, no. 4164; dan Ibnu Hibban, no. 402. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini kuat dan perawinya tsiqqah, terpercaya, termasuk perawi shahihain, selain ‘Abdullah bin Hubairah yang merupakan perawi Imam Muslim.

Download Buletin klik di sini

Cahaya Baru: Gen Z Muslim Menginspirasi Perubahan

Cahaya Baru: Gen Z Muslim Menginspirasi Perubahan

Dita Ayu Rahmawati*

 

Bismillah, alhamdulillah wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh.

Generasi Z, atau Gen Z, merujuk pada mereka yang lahir antara tahun 1995 hingga 2010. Saat ini, generasi ini berada pada fase emas, yaitu masa muda, di mana kesehatan mental dan kematangan berpikir seharusnya mencapai puncaknya. Namun, Gen Z tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi, yang membawa dampak positif dan negatif bagi mereka.

Di era di mana informasi dapat diakses secara instan, banyak anggota generasi ini cenderung memiliki sifat malas bergerak (mager). Hal ini memengaruhi pola pikir dan perilaku mereka, membuat mereka enggan melakukan kegiatan yang memerlukan waktu dan usaha, seperti membaca buku tebal, memasak, atau berjalan kaki. Jika perilaku ini terus berlanjut, bisa mengikis nilai-nilai positif seperti kesabaran, ketekunan dalam berjuang, dan kemampuan menikmati proses.

Sebagai muslim dari generasi Z, kita seharusnya berupaya mencegah perilaku negatif tersebut agar tidak mengakar dalam diri kita. Perubahan diperlukan, dan perubahan ini hanya bisa datang dari diri kita sendiri.[1] Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 11)

Gen Z Beraksi: Meraih Predikat Generasi Terunggul

Gelar sebagai generasi terbaik yang disematkan kepada para sahabat g adalah sesuatu yang tidak perlu diragukan lagi.[2] Mereka memiliki kekuatan mental, fisik, dan pemikiran yang luar biasa. Keterbatasan materi maupun non-materi tidak pernah menjadi penghalang bagi mereka dalam beribadah dan berkarya. Mereka rela bekerja keras, berkorban tenaga, menghadapi cercaan, dikeluarkan dari keluarga, bahkan mengorbankan nyawa demi Islam. Perjuangan mereka membuahkan hasil, sehingga hingga kini, dengan izin Allah ﷻ, manisnya Islam dapat dirasakan di berbagai penjuru dunia, bahkan di sudut-sudut yang terpencil.

Perubahan positif dapat terwujud dengan meneladani prinsip dan perilaku para sahabat. Berikut beberapa langkah bagi Gen Z untuk menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik, baik secara internal maupun eksternal:

Berkonsentrasi pada Allah

Maksud dari berkonsentrasi pada Allah ﷻ yaitu melakukan segala aktivitas, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, dengan niat semata-mata untuk mencari rida-Nya. Allah ﷻ mengetahui semua perbuatan kita, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi di hati. Belajar, bekerja, makan, beristirahat, bahkan mencari hiburan, semua perlu didasari niat untuk Allah ﷻ. Ketika segala sesuatu diniatkan untuk Allah ﷻ, semangat kita akan tetap menyala meskipun tidak ada paksaan, pujian, bayaran, atau persaingan.

Sebagaimana sahabat Abdurrahman bin Auf z, yang bekerja keras tanpa meminta, meskipun harta melimpah di hadapannya. Rasa malas akan sirna jika kita memiliki tekad yang kuat. Oleh karena itu, kita perlu menanamkan pada diri bahwa setiap waktu dan perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya.  Dari ‘Abdullah bin ‘Umar zNabi ﷺ bersabda,

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)[3]

Menggali Potensi Diri

Kegagalan bukanlah sebuah kesalahan; justru dari kegagalan kita memperoleh pelajaran yang tidak diajarkan oleh kesuksesan. Seseorang yang pernah gagal cenderung memiliki mental yang lebih kuat dibandingkan yang tidak pernah mengalami kegagalan. Setiap individu memiliki kelebihan masing-masing, sehingga tidak perlu membandingkan kesuksesan diri dengan orang lain, terutama jika itu membuat kita merasa rendah diri.

Setiap orang memiliki potensi yang berbeda-beda, sebagaimana para sahabat menggeluti bidang sesuai dengan kemampuan mereka. Abdullah bin Abbas cmeraih julukan “Turjamatul Qur’an” karena keahliannya dalam ilmu tafsir Al-Qur’an. Khalid bin Walid z dikenal sebagai ahli pedang dan strategi perang, sedangkan Utsman bin Affan zadalah seorang saudagar kaya yang dermawan. Oleh karena itu, saatnya kita fokus mengembangkan kemampuan diri tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain.

Produktif

Produktif berarti kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dalam jumlah besar.[4] Gen Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh dengan teknologi di ujung jari mereka, dan ini memberikan potensi besar untuk menjadi produktif dalam berbagai aspek kehidupan. Produktivitas bagi Gen Z tidak hanya terbatas pada bekerja secara konvensional, tetapi juga mencakup kemampuan untuk multitasking, bekerja secara fleksibel, dan memanfaatkan platform digital untuk belajar, berkreasi, serta bekerja. Mereka sering menggunakan media sosial sebagai alat produktif untuk membangun merek pribadi atau bisnis, mempromosikan karya, dan mencari peluang karier. Namun, dengan kebebasan teknologi juga muncul tantangan untuk menjaga fokus dan disiplin di tengah gangguan digital yang melimpah. Oleh karena itu, bagi Gen Z, produktif berarti menemukan keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dengan bijak dan mengelola waktu serta energi dengan efisien.

Menjadi produktif adalah pilihan, begitu pula dengan malas; semua pilihan ini ditentukan oleh diri kita sendiri. Memulai hal baru yang positif memerlukan pelatihan dan kebiasaan. Perlu diketahui, Generasi Z yang dihadapkan pada pesatnya perkembangan teknologi, tidak hanya berjuang melawan diri sendiri, tetapi juga harus bersaing dengan teknologi yang terus berkembang. Sebagai makhluk yang diciptakan dengan kesempurnaan oleh Allah Ta’ala, Generasi Z muslim tentu tidak akan gentar, karena orientasi dari setiap aktivitasnya diarahkan kepada Sang Pemilik Alam Semesta.

Penutup
Generasi Z bukanlah generasi yang lemah; mereka hanya sering kali terpengaruh oleh berbagai kemudahan yang ada. Sebagai Generasi Z Muslim, sudah saatnya kita mengubah dunia dengan memperbaiki diri, mengutamakan Allah dalam setiap perbuatan dan pilihan hidup, serta terus mengasah kemampuan dan berkarya seluas mungkin. Dengan demikian, Generasi Z memiliki peluang besar untuk menjadi generasi unggul yang setara dengan para sahabat.

Maraji’ :

* Lulus Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor.

[1]Ismāʼīl ibn Umar ibn Kaṡīr, Tafsīr Al-Qurʼānul ʻAẓīm, ed. oleh Sāmī Ibn Muḥammad Sāmī Ibn Muḥammad. Dār Ṭībah li an-Nāsyir wa at-Tawzīʻ, 1999. Jilid 4, h. 69.

[2] Muḥammad ibn Ṣāliḥ ibn Muḥammad al-ʻUṡaimīn, Syarḥ Riyād aṣ-Ṣāliḥīn. Riyad: Dār al-Waṭan li an-Nasyr, 2005. Jilid 5, h. 373.

[3] Muslim ibn al-Ḥajjāj an-Nīsābūrī, Ṣaḥīḥ Muslim, ed. oleh Muḥammad Fuʼād ʻAbd al-Bāqī. Beyrut: Dār Iḥyāʼ at-Turāṡ al-ʻArabī, 2010. Jilid 2, h. 1459, no. 1829.

[4] “Hasil Pencarian – KBBI VI Daring,” diakses 25 September 2024, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/produktif.

Download Buletin klik di sini

Adab Ketika Hujan

Adab Ketika Hujan

Al Katitanji

Bismillâhi walhamdulillâh wash shalâtu was salâmu ‘ala rasûlillâh,

Rasa syukur yang mendalam dan pujian yang tinggi hanya untuk Allah ﷻ yang telah menurunkan air hujan dari ketinggian langit. Demikianlah hujan patuh dan tunduk mengikuti perintah Rabbnya membasahi bumi. Bagi setiap Muslim sangat penting mempelajari adab ketika hujan karena dengannya ia akan banyak mendapatkan pahala disisi Allah ﷻ. Agar dapat meraih pahala di sisi Allah untuk kehidupan hari kemudian, berikut adalah beberapa adab ketika hujan:

Hujan Membawa Berkah

Ketahuilah bahwa hujan membawa keberkahan untuk penduduk bumi, membawa banyak kebaikan untuk para petani, dan kesuburan bagi tumbuhan yang diharapkan hasilnya.

Allah ﷻ berfirman,

وَنَزَّلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً مُّبَٰرَكًا فَأَنۢبَتْنَا بِهِۦ جَنَّٰتٍ وَحَبَّ ٱلْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi (banyak manfaatnya) lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qâf [50]: 9).

Sebagian orang mencela hujan karena aktivitas mereka terganggu, rencana mereka terhambat, janji-janji mereka dijadwal ulang dan sebagainya. Seorang Mukmin seharusnya menahan lisan agar tidak mencela turunnya air hujan, karena mencela air hujan adalah dosa. Siapa yang mencela hujan, dia telah mencela pencipta hujan itu sendiri. Dalam sebuah hadis qudsi diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, Allah ﷻ berfirman,

يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِى الأَمْرُ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” (HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246).

Hadis ini dasar larangan mencela ciptaan Allah; mencela siang, malam, waktu, termasuk juga di dalamnya mencela cuaca karena dengan takdir Allah-lah terjadinya siang dan malam juga terjadinya panas dan hujan.[1]

Hujan adalah Rahmat Allah

Ketahuilah turunnya air hujan bagian dari rahmat Allah ﷻ yang diharapkan kehadirannya. Allah ﷻ menegaskan dalam firman-Nya,

وَهُوَ ٱلَّذِى يُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ مِنۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوا۟ وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُۥ ۚ وَهُوَ ٱلْوَلِىُّ ٱلْحَمِيدُ

Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS Asy Syura [42]: 28).

Dalam Tafsir Muyassar dijelaskan, hanya Allah semata yang menurunkan hujan dari langit, dengannya Allah ﷻ menyelamatkan manusia setelah mereka berputus asa darinya, Dia menebarkan rahmat-Nya diantara makhluk-Nya lalu Dia meratakan hujan kepada mereka, Dialah penolong yang mengurusi urusan hamba-hamabNya dengan kebaikan dan karunia-Nya yang maha terpuji dalam pertolongan dan pengaturan-Nya.[2]

Memperbanyak Doa Ketika Hujan Turun

Dianjurkan untuk memperbanyak doa di waktu-waktu mustajab. Di antara waktu tersebut adalah ketika turun hujan. Berdasarkan salah satu riwayat dari Sahl bin Sa’d z, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi; dan dihasankan al-Albani; lihat Shahihul Jami’, no. 3078)

Dalam riwayat lain Nabi ﷺ bersabda,

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ

Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan: [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.” (HR. Al Hakim)[3]

Doa Ketika Ada Angin Kencang

Ketika ada angin kencang dianjurkan membaca doa sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah x, ia berkata, “Apabila ada angin bertiup, Nabi ﷺ membaca doa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

Allâhumma innî as-aluka khairahâ wa khaira mâ fîhâ wa khaira mâ ursilat bihi wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarrimâ fîhâ wa syarri mâ ursilat bihi” [Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan angin ini, kebaikan yang dibawa angin ini, dan kebaikan angin ini diutus. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang dibawa angin ini, dan keburukan angin ini diutus].” (HR. Muslim, no. 2122)

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah z, Nabi ﷺ membaca doa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا.

Allâhumma innî as-aluka khairahâ wa a’ûdzubika min syarrihâ” [Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan angin ini, dan aku berlindung kepada-Mu, dari keburukan angin ini].” (HR. Abu Dawud, no. 3230, Ibnu Majah no. 1568)[4]

Doa Ketika Hujan Turun

Ketika mendapati hujan turun, dianjurkan untuk membaca doa, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah, “Nabi ﷺ ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Allâhumma shayyiban nâfi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].” (HR. Ahmad no. 24190, Bukhari no. 1032, dan An Nasâ’I no. 1523).

Dalam riwayat lain, beliau membaca,

اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا

Allâhumma shayyiban hanî’an” [Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat].” (HR. Abu Daud 5101 dan dishahihkan al-Albani)

Dzikir Setelah Turun Hujan

Dianjurkan untuk membaca doa tatkala hujan sudah reda. Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, Nabi ﷺ bersabda,

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ.

Muthirnâ bi fadhlillâhi wa rahmatih” [Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah].” (HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71).

Dzikir Ketika Melihat atau Mendengar Petir

Di antara adab ketika melihat atau mendengar petir, dianjurkan membaca dzikir. Dari Amir, dari ayahnya Abdullah bin Zubair berkata, “Apabila beliau mendengar petir, beliau berhenti bicara. Kemudian beliau mengatakan,

سُبْحَانَ الَّذِى يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ.

Subhânalladzî yusabbihur ra’du bihamdihi wal malâikatu min khîfatih” [Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya].”[5] (HR. Malik, no. 1839 dalam al-Muwatha’ dan Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 723).[6]

Doa Agar Hujan Berhenti   

Ketika turun hujan, kita berharap agar hujan yang Allah ﷻ turunkan menjadi hujan yang mendatangkan berkah dan bukan hujan pengantar musibah. Karena itu, ketika hujan datang semakin lebat, dan dikhawatirkan membahayakan lingkungan, kita berdoa memohon, agar hujan dialihkan ke daerah lain, agar lebih bermanfaat.[7]

Di Madinah pernah terjadi hujan satu pekan berturut-turut, hingga banyak tanaman yang rusak dan binatang kebanjiran. Para sahabat meminta pada Nabi ﷺ supaya berdoa agar cuaca kembali menjadi cerah. Akhirnya beliau ﷺ berdoa,

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، للَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Allâhumma hawâlainâ walâ ’alainâ, Allâhumma ’alal âkâmi wal jibâli, wazh zhirâbi, wa buthûnil awdiyati, wa manâbitisy syajari” [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan membahayakan kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].” (HR. Bukhari 1013 & Muslim 2116).[8]

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, orang tua, para guru dan memberikan pertolongan serta hidayah-Nya untuk dapat mengamalkan ilmu yang kita dapatkan. Âmîn.

Maraji’ :

[1] https://khotbahjumat.com/2356-mentadabburi-kebesaran-allah-pada-hujan.html. Diakses pada 20 November 2024.

[2] https://tafsirweb.com/9118-surat-asy-syura-ayat-28.html. Diakses pada 20 November 2024.

[3] Diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahihShohihul Jaami’ no. 1026.

[4] Majdi bin Abdul Wahab al Ahmad. Syarh Hisnul Muslim. (Tashih) Said bin Ali bin Wahfi al Qahthani, no. 166. Sukoharjo: Al Qowam. Cet. Ke-II. h. 284.

[5] QS. ar Ra’du [13]: 13.

[6] HR. Malik dalam Al Muwatha’ no. 1839, Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 723 dan sanadnya dishahihkan oleh An Nawawi dalam Al Adzka no. 230 dan Albani dalam Shahih Adabul Mufrad no. 556.

[7] Ammi Nur Baits. “Amalan Ketika Hujan.” https://konsultasisyariah.com/23819-amalan-ketika-hujan-bagian-02.html. Diakses pada 20 November 2024.

[8] Majdi bin Abdul Wahab al Ahmad. Syarh Hisnul Muslim. (Tashih) Said bin Ali bin Wahfi al Qahthani, no.170. Sukoharjo: Al Qowam. Cet. Ke-II. h. 288.

Download Buletin klik di sini