Lapar Yang Menyembuhkan: Puasa Sebagai Self Awareness

Lapar Yang Menyembuhkan: Puasa Sebagai Self Awareness

Nur Laelatul Qodariyah*

 

Sahabat Al-Rasikh yang diberkahi Allâh ﷻ, di tengah kehidupan yang modern ini semua serba cepat. manusia akan mudah lelah dan tertekan bukan hanya secara fisik namun secara mental. Tekanan pekerjaan, tuntutan sosial dan dengan derasnya arus informasi yang beredar. membuat jiwa benar-benar tidak bisa beristirahat dengan tenang.

Dalam hal ini, pandangan tentang rasa lapar adalah kondisi yang harus dihindari. Padahal  hadirnya puasa dan rasa lapar dalam Islam adalah salah satu bentuk jalannya penyucian jiwa dan penyembuhan jiwa. Karena puasa bukan hanya sekedar untuk menahan makan dan minum saja tetapi proses pendidikan, mental, dan juga spiritual. di balik rasa lapar yang kita rasakan sebenarnya terdapat banyak hikmah yang bisa kita petik.

Ibnu Rajab Al Hambali v mengatakan, “Di antara faidah puasa adalah bisa mempersempit aliran darah yang merupakan jalannya setan. Dan perlu diketahui bahwa setan itu merasuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran darah. Dengan menjalani puasa, jalan setan itu menjadi sempit. Sehingga syahwat dan sifat orang yang berpuasa teratasi. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menjadikan puasa sebagai solusi bagi yang belum mampu menikah untuk mengekang syahwatnya.

Dari Shofiyah binti Huyay x, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah.” HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175).[1]

Coba diingat kembali ketika kita berpuasa, dari mulai terbitnya fajar dan tenggelamnya matahari, apakah yang kita rasakan ketika berpuasa? hal sederhana apa yang kita  inginkan ketika di tengah-tengah panasnya udara dan rasa haus di tenggorokan. Bukankah yang dicari adalah minuman? dan kemudian baru berandai-andai untuk makan yang enak yang mahal, manis, pedas, dingin, semua hal tersebut masuk di dalam pikiran kita. Nafsu yang menggiring pikiran kita dari pada apa yang kita butuhkan. Ketika kita sudah berbuka puasa, hanya beberapa suap dan minum sedikit sudah terasa kenyang. jadi apa poin utama yang penulis tanyakan tersebut? iya betul, mengendalikan hawa nafsu, menjaga konsisten diri untuk tetap melanjutkan puasa meski kadang berat, namun ketika sudah selesai ternyata semua itu hanyalah sementara.

Kelelahan mental, Mengikis Kesabaran

Pernahkah kita sadari zaman yang serba instan ini telah mendorong kita untuk serba cepat. Dimana teknologi membuat kita untuk masuk ke era serba instan. Dimana segala sesuatu yang sedang berlangsung dapat selesai dalam hitungan detik. Pesan atau telepon yang kita kirim akan melesat sampai  dalam hitungan detik di berbagai belahan dunia. Teknologi memberikan kita kemudahan akses yang sangat luar biasa.

Dibalik kemudahan itu pasti ada sisi gelap yang tanpa kita sadari, manusia dituntut untuk bergerak, bekerja secara cepat dan dalam waktu singkat. Kecepatan tersebut yang membuat manusia seringkali melampaui batas diri sendiri.[2] kecenderungan manusia modern dalam hidup yang konsumtif berlebihan, dalam berbagai aspek bukan hanya dalam hal makanan, tetapi dalam hal ambisi, emosi dan keinginan untuk segera cepat selesai membuat Batasan menjadi kabur dan mengakibatkan jiwa mudah gelisah, cemas dan juga Lelah.

Tanpa disadari, kita perlahan kehilangan salah satu keterampilan berharga yang dahulu sangat dihormati yaitu kesabaran. Padahal, kesabaran bukan sekadar kemampuan menunggu, melainkan kekuatan jiwa untuk tetap teguh, tenang, dan terarah di tengah godaan dan tekanan hidup.

Karena itu, Allâh ﷻ juga menuntun kita untuk menjadikan sabar sebagai penopang kehidupan. Allâh ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۚ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2]: 153).

Ibnu Rajab Al Hambali v mengatakan, “Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allâh ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az Zumar [39]: 10).

Menahan Godaan Demi Hasil yang Lebih Baik.

Inti dari pengertian puasa itu sendiri adalah melatih manusia untuk menunda pemuasan keinginan. Dalam bidang psikologi, menunda kepuasan (delay gratification) merupakan salah satu tanda Kesehatan mental yang baik, jika dilihat dari kecerdasan emosional, beberapa peneliti dapat menunjukan bahwa orang yang bisa menunda kepuasan demi menolak impulsif akan mungkin berhasil dalam hidup dibandingkan mereka yang tidak memiliki kemampuan itu.[3]

Allâh ﷻ berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” ( QS Al-Baqarah [2]: 183).

Saat takwa bisa kita kuasai maka bukan hanya konsep spiritual yang berhasil, tetapi kemampuan dan kondisi batin yang stabil, sadar dan juga terkendali. Ketika seseorang dapat menahan lapar karena  Allah ﷻ, maka secara tidak langsung ia tidak dikuasai oleh dorongan sesaat.

Lapar dan Kesadaran Diri (Self Awareness)

Saat tubuh dibatasi, pikiran justru akan lebih peka. Rasa lapar membuat seseorang akan lebih sadar akan emosinya, sedih, marah, gelisah atau akan lebih tenang. dari sini puasa melatih untuk kesadaran diri atau self awareness. Kesadaran diri atau self awareness adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri, perasaan, pikiran, evaluasi diri dan juga kelemahan pada diri sendiri. Menurut Koeswara (1987), self awareness adalah sebagai kapasitas yang memungkinkan manusia mampu mengamati dirinya sendiri maupun membedakan dirinya sendiri maupun membedakan dirinya dari dunia (orang lain).[4]

Rasa lapar yang terkandung dalam puasa akan melembutkan hati dan membuka ruang kedekatan kepada Allâh ﷻ, saat perut dalam keadaan kosong. doa yang dipanjatkan akan terasa lebih jujur dan hati akan semakin khusyuk. kedekatan kepada Allâh ﷻ memberikan rasa aman kepada hambanya yang tidak bisa diganti dengan apapun. rasa dekat inilah yang menjadi pondasi dalam ketenangan mental karena jiwa merasa selalu ditemani oleh Allâh ﷻ dan akan lebih kuat menghadapi tekanan.

Maraji’ :

* Alumni Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia

[1] Ibnu Rajab Al Hambali, Lathoiful Ma’arif, h. 276-277. Disebutkan dalam  https://muslim.or.id/17319-kajian-ramadhan-5-puasa-menyempitkan-jalannya-setan.html. Diakses pada Senin, 9 Februari 2026.

[2] Rof. Maila Dinia Husni Rahiem M.A,’ Ph.D, “kelelahan mental di Zaman Serba Instan: Mengapa Perlu Berhenti Sejenak” dikutip dari uinjkt.ac.id diakses pada tanggal 10 Febuari 2026.

[3] Wanda Andita Putri, “Seberapa Penting Menunda Kepuasan di Usia Muda? Kenali Istilah Delay gratification” dikutip dari liputan6.com diakses pada tanggal 11 Febuari 2026

[4] Muchlisin, R. “Kesadaran diri (self awareness-pengertian, aspek, indikator, dan pembentukan).” 2020,

Download Buletin klik di sini

Puasa Bukan Sekedar Lapar: Detoks Jiwa dan Penyembuhan Mental di Bulan Suci

Puasa Bukan Sekedar Lapar:

Detoks Jiwa dan Penyembuhan Mental di Bulan Suci

Adelia Kusuma Wardhani, S.H., M.Kn.*

 

Memasuki Quarter Life Crisis

Saat ini kita sering mendengar ungkapan dari generasi Gen Z “sedang di fase quarter life crisis nih….”. Lalu, apa sebenarnya quarter life crisis? Istilah ini merujuk pada krisis emosional dalam bentuk stress, depresi merasa diisolasi dan ketakutan akan masa depan dan dapat terjadi pada individu usia antara 18-30 tahun.[1] Kondisi ini sangat berkaitan dengan kesehatan mental seseorang.

Dalam pandangan Islam, kesehatan mental memberikan dampak baik pada kehidupan individunya dengan melakukan hal-hal yang berguna bagi umat manusia.[2] Kesehatan mental tidak hanya dimaknai sebagai ketiadaan gangguan, tetapi sebagai kondisi hati yang tenang, kokoh, dan terarah kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa dengan mengingat Allah hati akan selalu tentram.” (QS Ar-Ra’d [13]: 28).

Ayat ini menegaskan bahwa ketenteraman hati sejatinya bersumber dari dzikrullâh. Orang yang beriman dan senantiasa mengingat Allah ﷻ akan merasakan ketenangan batin, tidak mudah gelisah, cemas, atau larut dalam ketakutan terhadap masa depan.

Dengan demikian, salah satu jalan menghadapi quarter life crisis adalah memperkuat iman dan memperbanyak mengingat Allah ﷻ. Ketika hati terhubung dengan-Nya, kegelisahan akan berkurang dan harapan akan tumbuh.

Quarter life crisis cenderung lebih ringan pada individu yang memiliki kesehatan mental yang positif.[3] Dalam konteks ini, bulan Ramadhan yang penuh keberkahan menjadi momentum istimewa. Ibadah puasa, dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan qiyam Ramadhan merupakan sarana efektif untuk membersihkan hati, menata kembali tujuan hidup, serta menumbuhkan ketenangan jiwa. Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya melatih fisik, tetapi juga menyehatkan mental dan menguatkan ruhani.

Puasa sebagai Detoks Jiwa

Puasa merupakan salah satu ibadah pokok dalam ajaran Islam yang memiliki kedudukan sangat penting. Secara terminologis, puasa didefinisikan sebagai menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar sampai dengan terbenam matahari dengan disertai niat dan memenuhi syarat-syarat tertentu.[4]

Kewajiban puasa telah ditegaskan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya pada surah Al-Baqarah ayat 183. Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah [2]: 183).

Ayat ini memberikan makna puasa yang bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga pengendalian dorongan batin. Puasa juga menjadi jembatan relasi antara ibadah fisik dan kesehatan psikologis.

Definisi nafsu saat berpuasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga atas perbuatan maksiat yang dapat menjauhkan diri dari Allah ﷻ. Seperti halnya menjaga lidah dari perkataan tercela seperti kebohongan, ghibah, fitnah ataupun hal lain yang dapat melukai perasaan orang lain yang memicu perpecahan atau perdebatan. Maka dari itu, menjaga hawa nafsu dimaksud juga menjaga lisan dan pandangan agar tidak memicu adanya maksiat saat berpuasa.

Puasa juga menjadi ruang latihan mengelola amarah, impulsivitas, dan kecenderungan konsumtif yang sering menjadi pemicu gangguan mental. Melalui pengendalian keinginan dan emosi, secara tidak langsung hal ini meningkatkan kecerdasan emosional. Dengan menahan rasa lapar, haus serta menghindari perilaku negatif, seseorang belajar untuk lebih sabar dan berpikir sebelum bertindak.[5]

Puasa sebagai Terapi Mental

Dengan segala keutamaan puasa tersebut, maka puasa dapat menjadi jalan untuk melakukan terapi kesehatan mental seseorang. Puasa selama Ramadhan dapat memperkuat mekanisme dalam menghadapi stress dan meningkatkan ketahanan psikologis. Puasa juga dipercaya meningkatkan rasa syukur, makna hidup, dan kepuasan diri selama menjalani puasa. Pengalaman emosional seringkali dikaitkan dengan aspek spiritual Ramadhan yang mendorong refleksi diri dan tanggung jawab sosial.[6]

Pengendalian diri selama berpuasa dapat menjadi kunci dalam meredakan kecemasan yang muncul akibat quarter life crisis. Latihan menahan diri dari keinginan dan dorongan sesaat melatih seseorang untuk lebih sabar, tenang, dan tidak reaktif terhadap tekanan hidup.

Terapi mental melalui puasa juga terbentuk dari perubahan pola hidup yang lebih terstruktur selama Ramadhan. Aktivitas ibadah seperti shalat malam, tilawah Al-Qur’an, dan dzikir menghadirkan ritme spiritual yang teratur. Ritme ini menumbuhkan kesadaran diri (self-awareness) sekaligus kesadaran akan kehadiran Allah ﷻ, sehingga hati menjadi lebih terarah, stabil, dan penuh makna.

Pada akhirnya, puasa Ramadhan mengajarkan bahwa kesehatan mental tidak harus selalu dimulai dari teknik psikologis yang rumit, tetapi dapat tumbuh dari latihan spiritual yang sederhana: berhenti sejenak, menahan diri, dan kembali menyadari tujuan hidup. Ketika seseorang mampu menahan dirinya dari sesuatu yang halal demi ketaatan kepada Allah ﷻ, maka sesungguhnya ia sedang membangun kekuatan batin yang kokoh sebagai fondasi kesehatan mentalnya.

* Dosen Fakultas Hukum UII.

Maraji’ :

[1] Inka Sukma Melati. “Quarter Life Crisis: Apa penyebab dan solusinya dilihat dari Perspektif Psikologi?”. Inner: Journal of Psychological Research.Vol 4. No. 1. 2024.

[2] M. Azmi Ubaidillah, Edi Hermanto, M. Nahdan Syabil, M. Rapi. “Puasa dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains”. Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol 2. No 1. 2026.

[3] Inka Sukma Melati. “Quarter Life Crisis.

[4] M. Azmi Ubaidillah, Edi Hermanto, M. Nahdan Syabil, M. Rapi. “Puasa.

[5] Dwi Larasati. “Kesehatan Di Bulan Ramadhan: Pengaruh Puasa terhadap Kesehatan Fisik dan Mental”. Jurnal Dinamika Sosial dan Sains. Vol 2. No 2. 2025.

[6] Andik Isdianto, Nuruddin Al Indunissy, Novariza Fitrianti. “Dampak Psikospiritual Puasa Ramadan Terhadap Stress, Kecemasan dan Ketahanan Mental”. Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS). Vol 1. No 1. 2025.

Download Buletin klik di sini

Al-Qur’an dan Endorfin: Harmoni Wahyu dalam Tubuh Manusia

Al-Qur’an dan Endorfin:

Harmoni Wahyu dalam Tubuh Manusia

Azarina Mukharromi*

 

Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, amma ba’du.

Pembaca al-Rasikh yang semoga dirahmati Allah ﷻ, tidaklah terasa kita sudah akan berjumpa dengan bulan Ramadhan. Selain ibadah puasa, bulan Ramadhan juga sebagai momentum hati-hati kaum Muslimin diajak kembali dekat dengan Al-Qur’an. Namun sering kali kita menganggap bahwa Al-Qur’an hanyalah sebuah kitab dan media spiritual antara seorang hamba dengan Tuhannya. Padahal, yang jarang kita ketahui Al-Quran memiliki peran besar dalam dunia kesehatan dan psikologi. Al-Qur’an merupakan penyembuh dan penenang bagi fisik maupun psikis seorang Muslim.[1] Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS Al-Isra [17]: 82).[2]

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya sebagai media spiritual tetapi juga berperan dalam kesehatan dan ketenangan manusia. Banyak orang mendapatkan ketenangan hati dan pikiran setelah membaca atau mendengarkan Al-Qur’an. Perasaan nyaman ini tidak datang secara kebetulan, melainkan melalui proses panjang yang terjadi dalam tubuh manusia. Hal ini berkaitan dengan proses kerja salah satu hormon kebahagiaan dalam tubuh, yaitu hormon endorfin.

Momentum Ramadhan membuka ruang yang luas bagi seorang Muslim untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an melalui tilawah, tadabbur, dan shalat malam. Ketenangan yang dirasakan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari proses alami dalam tubuh. Dalam kajian kesehatan, kondisi ini berkaitan dengan aktivasi hormon endorfin yang membantu menghadirkan rasa bahagia dan meredam stres.

Hormon Bahagia yang Allah Ciptakan dalam Tubuh Manusia

Dalam tubuh manusia, Allah ﷻ telah menciptakan sistem yang begitu sempurna, salah satunya hormon endorfin. Hormon ini berperan menghasilkan rasa nyaman dan bahagia, yang dilepaskan secara alami saat seseorang dalam kondisi rileks dan damai.

Manfaat peningkatan kadar endorfin bagi Kesehatan mental yaitu dapat mengurangi kecemasan, meredakan stres, dan membuat pikiran jadi lebih jernih. Sementara bagi Kesehatan fisik endorfin bermanfaat untuk mengurangi rasa nyeri, menurunkan ketegangan otot, serta membantu menstabilkan kerja jantung dan pembuluh darah.[3]

Dengan memahami peran endorfin, kita dapat melihat bahwa ketenangan yang kita rasakan bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan bagian dari mekanisme tubuh yang Allah karuniakan untuk menjaga keseimbangan hidup manusia. Salah satu cara istimewa untuk mengaktifkan mekanisme alami ini adalah melaui interaksi kita dengan wahyu-Nya, yaitu Al-Qur’an.

Ayat-Ayat yang Memberi Ketenangan

Membaca Al-Qur’an dengan penuh penghayatan (khusyuk) menghadirkan rasa tenang yang berkaitan erat dengan pelepasan endorfin. Ketika seseorang fokus pada kalam Ilahi, tubuh memasuki kondisi rileks dan sistem saraf menjadi lebih tenang.[4] Hal ini selaras dengan janji Allah ﷻ dalam firman-Nya:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d [13]: 28).[5]

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ketenangan hati merupakan anugerah yang Allah berikan kepada orang-orang yang dekat dengan-Nya. Ketika hati tenang, tubuh pun ikut merasakan dampaknya. Endorfin yang dilepaskan membantu menurunkan stres, menenangkan emosi, dan menjaga keseimbangan antara fisik dan jiwa.

Sebagaimana disebutkan saat dibacakan surat Al-Kahfi. Disebutan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda:

تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ

Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795).

Imam Nawawi v menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.”[6]

Ketika Ayat Al-Qur’an Menyelaraskan Napas dan Detak Jantung

Saat kita membaca Al-Qur’an dengan penuh ketenangan, tanpa disadari tubuh memberikan respons fisik yang teratur melalui pola pernapasan. Ritme bacaan yang lembut dan berulang membantu mengatur pernapasan menjadi lebih stabil, dalam, dan teratur, yang kemudian membantu tubuh memasuki kondisi relaksasi total.

Pernapasan yang stabil ini secara otomatis membuat detak jantung menjadi lebih tenang dan tidak berada dalam kondisi tegang atau siaga. Ketika jantung bekerja dengan irama yang stabil, pembuluh darah akan melebar sehingga aliran darah mengalir lebih lancar ke seluruh tubuh.[7] Melalui proses inilah, membaca Al-Qur’an secara fisik dapat menyelaraskaan ritme tubuh, menurunkan ketegangan otot, dan menciptakan keseimbangan antara kesehatan jiwa dan raga.

Ibadah yang Menenangkan dan Menyehatkan

Al-Qur’an tentu bukan pengganti pengobatan medis, melainkan pendamping yang menenangkan dalam menjaga kesehatan fisik dan mental. Membaca Al-Qur’an menjadi bentuk terapi diri yang alami dan bernilai ibadah.

Di tengah kesibukan dan tekanan hidup, Al-Qur’an hadir sebagai sumber ketenangan yang dapat diakses kapan saja. Melalui ayat-ayat Nya, Allah ﷻ memberi ruang bagi hati dan pikiran untuk beristirahat dan kembali tenang. Ketenangan yang lahir dari membaca Al-Qur’an tidak hanya dirasakan dalam hati, tapi juga berdampak pada tubuh. Jiwa yang tenang membantu tubuh bekerja lebih seimbang, menghadirkan rasa nyaman dan kekuatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Cobalah rasakan ketenangan lewat majelis Al-Qur’an yang disenandungkan, kala hadits Nabi ﷺ disuarakan. Silakan rasakan kenikmatan yang berbeda.

Dalam hadits Abu Hurairah z, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR Muslim, no. 2699).[8]

Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari keseharian, kita tidak hanya menjaga hubungan dengan Allah, tetapi juga merawat kesehatan jiwa dan raga. Inilah bentuk kasih sayang Allah yang hadir melalui firman-Nya, menenangkan hati dan menguatkan tubuh. Wa Allâhu a’lam.

* Azarina Mukharromi, NIM: 25320042, Mahasiswa Prodi Psikologi.

Maraji’ :

[1] TafsirAlQuran.id. “ Tafsir Surah Al-Isra’ Ayat 82: Al-Quran sebagai Syifa Penyembuh Lahir dan Batin.” https://tafsiralquran.id/tafsir-surah-al-isra-ayat-82-al-quran-sebagai-syifa-penyembuh-lahir-dan-batin/. Diakses pada 8 Februari 2026.

[2] QS al-Isra [17]: 82

[3] Encyclopaedia Britannica. “Endorphin.” https://www.britannica.com/science/endorphin. Diakses pada 7 Februari 2026.

[4] Eman Ghanem & Muhammad Nubli Abdul Wahab. “Effects of Quran Recitation on Heart Rate Variability as an Indicator of Students Emotions”. dalam International Journal Academic Research in Business and Social Sciences. Vol. 8. No. 4. Tahun 2018. h. 89-102. https://dx.doi.org/10.6007/IJARBSS/v8-i4/3999.

[5] QS ar-Ra’d [13]: 28

[6] Syarh Shahih Muslim, 6: 74, disebutkan dalam https://rumaysho.com/12717-ketenangan-jiwa-dalam-majelis-ilmu.html. Diakses pada 8 Februari 2026.

[7] Hartati, E., Nurrahima, A., Rachma, N., & Andriany, M. “Terapi Murottal Meningkatkan Hormon β-Endorfin dan Menurunkan Tekanan Darah Lansia”. dalam Jurnal Keperawatan Silampari. Vol. 6. No. 2. Tahun 2023. h. 1683-1693. https://doi.org/10.31539/jks.v6i2.5872.

[8] Muhammad Abduh Tuasikal, “Ketenangan Jiwa dalam Majelis Ilmu” https://rumaysho.com/12717-ketenangan-jiwa-dalam-majelis-ilmu.html. Diakses pada 8 Februari 2026.

Download Buletin klik di sini

Menghidupkan Ghirah Berpuasa di Bulan Sya’ ban, Semangat Sambut Ramadhan

Menghidupkan Ghirah Berpuasa di Bulan Sya’ ban,

Semangat Sambut Ramadhan

Irfan Dhiaulhaq

 

Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ba‘du.

Kemuliaan bulan Ramadhan merupakan momen yang paling berharga dan selalu dinantikan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Bulan ini bukan sekadar penanda datangnya kewajiban berpuasa, tetapi juga waktu terbaik untuk meraih limpahan rahmat, ampunan, dan pahala yang dilipatgandakan oleh Allah ﷻ. Setiap kebaikan yang dilakukan baik sekecil apa pun pastinya memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Puasa Ramadhan sendiri merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat.

Allah ﷻ berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur” (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Karena kedudukannya yang agung dan pelaksanaannya yang penuh tantangan, ibadah ini membutuhkan kesiapan, baik secara fisik maupun spiritual. Tidak jarang, seseorang merasa kaget, berat, atau bahkan kewalahan ketika memasuki hari-hari awal Ramadhan, terutama bila sebelumnya tidak terbiasa berpuasa sunah.

Dengannya, Islam dengan penuh kasih sayang memberikan tuntunan agar umatnya mempersiapkan diri sebelum Ramadhan tiba. Salah satu caranya adalah dengan membiasakan diri berpuasa di bulan Syakban. Bulan ini menjadi momen latihan yang berharga untuk menghidupkan semangat ibadah, menata niat, serta menyesuaikan pola makan dan aktivitas harian. Bagi yang belum terbiasa, memperbanyak puasa sunah pada bulan Syakban dapat menjadi langkah awal yang ringan. Sementara bagi yang sudah terbiasa, akan semakin menguatkan kesiapan menghadapi Ramadhan.[1]

Anjuran Untuk Memperbanyak Puasa

Berlatih dengan membiasakan untuk berpuasa sunnah, menyesuaikan tubuh untuk beradaptasi sebelum menyambut Ramadhan dapat dimulai lebih awal, yaitu pada bulan Syakban. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad ﷺ.

Dari ‘Aisyah x, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ. فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Rasulullah biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syakban.” (HR Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

‘Aisyah x juga mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ ﷺ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Nabi tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Syakban. Nabi biasa berpuasa pada bulan Syakban seluruhnya.” (HR Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)

Makna “memperbanyak puasa” di bulan Syakban bersifat relatif dan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing muslim. Bagi mereka yang telah terbiasa menjalankan puasa sunnah, seperti puasa Ayyamul Bidh, anjuran ini dapat diwujudkan dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, misalnya melaksanakan puasa sunnah Senin–Kamis secara lebih konsisten.

Sementara itu, bagi Muslim yang belum pernah atau belum terbiasa berpuasa, memperbanyak puasa dapat dimulai dengan langkah sederhana, seperti berpuasa satu atau dua hari di bulan Syakban. Hal ini menjadi latihan awal untuk menyesuaikan kondisi tubuh sekaligus membangun kebiasaan ibadah dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.[2]

Bulan Dinaikkannya Amalan Kepada Allah

Selain dalam rangka melatih kondisi fisik, mental dan iman dengan berpuasa, bulan Sya’ban juga memiliki kemuliaan didalamnya. Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, beliau berkata “Katakanlah wahai Rasulullah ﷺ, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan dari bulan-bulannya selain di bulan Syakban”. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Bulan Syakban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR Bukhari, no. 1970 dan Muslim no.1156)

Ibnu Rajab v mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah.” (Lathaif Al Ma’arif, 235)[3]

Maka merupakan suatu kemuliaan ketika kita senantiasa memperbanyak amalan dalam bulan ini karena amalan-amalan kita sedang dalam proses dinaikkan oleh para malaikat kepada Allah ﷻ.

Manfaat Sisi Kesehatan Berpuasa

Berbagai riset kesehatan menunjukkan bahwa orang yang terbiasa berpuasa memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit jantung, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi. Puasa membantu mengatur pola makan, mengontrol asupan kalori, serta memperbaiki metabolisme tubuh. Penelitian juga menunjukkan bahwa pembiasaan puasa secara bertahap, seperti melalui puasa sunnah, lebih baik bagi tubuh dibandingkan berpuasa penuh secara tiba-tiba, karena memberi waktu adaptasi dan mengurangi stres fisik. Selain manfaat fisik, puasa dapat menurunkan hormon stres (kortisol) dan meningkatkan endorfin, sehingga menenangkan pikiran. Lebih dari itu, selain puasa mendekatkan diri kepada Allah ﷻ sebagai ibadah, juga menghadirkan kesehatan batin dan fisik.[4]

Bârakallâhu fîkum.

Maraji’ :

[1] Mohd Farhan Md Ariffin et al., ‘Isu-Isu Dalam Bulan Syaaban: Analisis Menurut Perspektif Fiqh Hadith: Issues in Syaaban Month: An Analysis from Fiqh Al-Hadith Perspectives’, Online Journal of Research in Islamic Studies 7, no. 1 (2020): 47–68.

[2] Adi Hidayat, Makna Memberbanyak Puasa Pada Bulan Sya’ban, 19 January 2026, Mp4, 5.

[3] Muhammad Abduh Tuasikal, “Banyak Berpuasa di Bulan Syakban.” https://rumaysho.com/384-banyak-berpuasa-di-bulan-syaban.html. Diakses pada 19 Januari 2026.

[4] Gp Harianto, ‘Teologi “Puasa” Dalam Perspektif Kesehatan, Psikologis Dan Spiritual Untuk Meningkatkan Kualitas Manusia Hidup’, Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, Dan Pendidikan 5, no. 2 (2021): 155–70, https://doi.org/10.51730/ed.v5i2.82.

Download Buletin klik di sini

Prophetic Wellness: Sehat dalam Teladan Nabi

Prophetic Wellness: Sehat dalam Teladan Nabi

Giriani Ayu Sabilla

 

Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ba‘du.

Sering kali manusia baru menyadari nilai Kesehatan saat nikmat itu berkurang, padahal dalam Islam kesehatan adalah amanah dari Allah ﷻ yang harus dijaga. Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga menuntun umatnya merawat tubuh, menenangkan jiwa, dan menjaga keseimbangan hidup, menunjukkan bahwa Islam adalah ajaran yang menyeluruh dan peduli terhadap kesejahteraan manusia.

Rasulullah ﷺ menempatkan kesehatan sebagai bagian penting dari kehidupan seorang mukmin. Dalam sebuah hadits disebutkan, dari Ibnu Abbas c, Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia dilalaikan di dalamnya, yaitu: kesehatan dan waktu luang.” (HR al-Bukhari 8/88 no. 6412).[1]

Pesan ini menunjukkan bahwa sehat bukan tujuan akhir, melainkan sarana agar seorang hamba dapat beribadah, bekerja, dan memberi manfaat dengan optimal. Kesehatan fisik, mental, dan spiritual saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Iman, Jiwa, dan Tubuh yang Seimbang

Dalam pandangan Nabi ﷺ, manusia adalah kesatuan antara ruh, akal, dan jasad. Iman yang kuat melahirkan ketenangan jiwa. Allah ﷻ berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang[2].” (QS ar-Ra’d [13]: 28).

Ketenangan batin memiliki pengaruh nyata terhadap Kesehatan fisik. Ibadah seperti shalat, dzikir, dan doa tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga membantu membentuk kedisiplinan, menenangkan pikiran, serta mengelola stres secara positif. Shalat lima waktu, misalnya, melatih seseorang untuk menjalani kehidupan dengan pola teratur, menyeimbangkan waktu antara aktivitas, istirahat, dan mengingat Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ memberikan teladan luhur dalam menjaga kesehatan mental dengan menghadapi berbagai ujian hidup dengan sabar, tegar, dan penuh harapan kepada Allah. Beliau mengakui kesedihan secara manusiawi tanpa larut dalam keputusasaan, serta selalu menguatkan diri melalui doa dan tawakal. Sikap ini menjadi contoh penting dalam mengelola emosi secara sehat dan seimbang.

Gaya Hidup Sehat ala Rasulullah

Salah satu aspek paling nyata dari prophetic wellness adalah pola hidup Rasulullah ﷺ yang sederhana, seimbang, dan penuh kesadaran. Dalam hal makan, Nabi ﷺ mengajarkan prinsip moderasi. Beliau berhenti makan sebelum kenyang serta memilih makanan yang halal dan thayyib, sebagaimana firman Allah ﷻ:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 168).[3]

 

Prinsip ini sejalan dengan konsep kesehatan modern yang menekankan moderasi, kualitas asupan, serta kesadaran dalam konsumsi makanan.

Aktivitas fisik juga menjadi bagian dari kehidupan Rasulullah ﷺ. Hal ini tergambar dalam riwayat dari ‘Aisyah x, ia menceritakan:

أَنَّهَا كَانَتْ مَعَ النَّبِىِّ ﷺ فِى سَفَرٍ قَالَتْ فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ عَلَى رِجْلَىَّ فَلَمَّا حَمَلْتُ اللَّحْمَ سَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِى فَقَالَ: هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ.

Ia pernah bersama Nabi ﷺ dalam safar. ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau dan ia mengalahkan Nabi ﷺ. Tatkala ‘Aisyah sudah bertambah gemuk, ia berlomba lari lagi bersama Rasulullah ﷺ, namun kala itu ia kalah. Lantas Nabi ﷺ bersabda, “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu.” (HR Abu Daud no. 2578 dan Ahmad 6: 264).[4]

Riwayat ini menunjukkan bahwa menjaga kebugaran jasmani merupakan bagian dari sunnah Nabi ﷺ, bukan sekadar tren gaya hidup modern.

Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan pentingnya waktu istirahat dengan membiasakan tidur lebih awal agar tubuh dapat memulihkan tenaga, lalu bangun pada sepertiga malam terakhir untuk beribadah. Beliau tidak menyukai kebiasaan begadang tanpa keperluan karena dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental. Pola tidur ini mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani, sehingga tubuh tetap segar, pikiran jernih, dan ibadah dapat dilakukan dengan khusyuk, sekaligus menegaskan pentingnya istirahat teratur dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup.

Kebersihan dan Pencegahan Penyakit

Islam melalui teladan Nabi ﷺ juga mengajarkan prinsip preventive health. Kebersihan—bersuci—disebut sebagai bagian dari iman. Dari Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ

Bersuci itu sebagian dari iman.” (HR Muslim, no. 223)[5].

Wudhu, mandi, menjaga kebersihan lingkungan, dan adab ketika bersin atau sakit menunjukkan kesadaran tinggi terhadap pencegahan penyakit. Bahkan dalam hadis, Rasulullah ﷺ mengajarkan konsep karantina dengan melarang memasuki atau keluar dari wilayah yang terkena wabah—sebuah prinsip yang sangat relevan hingga hari ini.

Puasa juga merupakan bentuk latihan fisik dan spiritual yang luar biasa. Selain meningkatkan ketakwaan[6], puasa melatih pengendalian diri, memberi waktu istirahat bagi sistem pencernaan, dan menumbuhkan empati terhadap sesama[7].

Buah Iman dalam Keseharian

Keimanan yang hidup tercermin dalam sikap tenang dan bermakna dalam menjalani kehidupan. Seorang mukmin memandang kesehatan bukan sekadar tujuan pribadi, melainkan sebagai sarana untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Saat sehat, ia memanfaatkan nikmat tersebut untuk bekerja dengan jujur dan membantu sesama, sedangkan ketika sakit ia bersabar dan menjadikannya sebagai ujian yang mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Sikap syukur dan sabar ini menumbuhkan ketenangan batin serta menjaga kesehatan mental.

Keimanan yang kuat juga membentuk pola pikir positif dalam menghadapi berbagai kondisi hidup. Seorang mukmin meyakini bahwa sehat dan sakit, kesenangan maupun kesulitan, semuanya adalah bagian dari takdir Allah ﷻ yang mengandung hikmah. Keyakinan ini membuat hati lebih lapang, emosi lebih stabil, dan menumbuhkan optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan demikian, iman tidak hanya menjadi landasan spiritual, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan mental dan emosional.

Panduan Abadi untuk Kehidupan Modern

Di tengah tantangan zaman modern—stres, gaya hidup serba cepat, dan ketidakseimbangan hidup—teladan Rasulullah ﷺ hadir sebagai panduan abadi. Prophetic wellness mengajak kita kembali pada keseimbangan: antara dunia dan akhirat, antara usaha dan tawakal, antara menjaga tubuh dan membersihkan hati.

Meneladani Nabi ﷺ dalam menjaga kesehatan berarti menghidupkan kembali sunnah dalam rutinitas sehari-hari. Dengan itu, kita tidak hanya meraih kesejahteraan jasmani dan rohani, tetapi juga menjadikan hidup lebih bermakna dan bernilai ibadah. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga nikmat kesehatan dan menggunakannya di jalan yang diridhai Allah ﷻ. Âmîn

Maraji’ :

[1] Al-Bukhari. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-FIkr.

[2] Al-Qur’an dan Terjemahannya. Kementerian Agama Republik Indonesia. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. 2019.

[3] Al-Qur-an dan Terjemahannya. Kementerian Agama Republik Indonesia. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. 2019.

[4] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih https://konsultasisyariah.com/40475-hukum-lomba-balap-lari.html. Dan Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar al-Fikr.

[5] Muslim. Sahih Muslim. Beirut: Dar al-Fikr.

[6]  QS al-Baqarah [2]: 183.

[7] Al-Qur’an dan Terjemahannya. Kementerian Agama Republik Indonesia. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. 2019.

Download Buletin klik di sini

Sadar atau Tidak, Attitude dan Akhlak adalah Cerminan Akidah

Sadar atau Tidak, Attitude dan Akhlak adalah Cerminan Akidah

Muhammad Insan Fathin, S.Si.

 

Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ba‘du.

Pembaca al-Rasikh rahimakallah, akhir-akhir ini kita sering mendengar ungkapan orang-orang, “Ahh Gen Z attitudenya kurang, ahh Gen Z akhlaknya kurang”.  Jika ungkapan semacam ini hanya muncul dari satu atau dua orang, mungkin masih bisa dianggap sekadar sudut pandang pribadi. Namun, ketika ini menjadi keresahan yang terdengar di banyak tempat dan dari berbagai kalangan, rasanya sulit untuk menafikannya begitu saja. Hmm… mungkin memang kita, Gen Z, sudah mulai harus berbenah. Jangan-jangan memang itu kelemahan kita.

Kedudukan Akhlak dalam Islam

Setiap orang harus mengetahui bahwa perbaikan attitude atau akhlak adalah di antara tujuan Rasulullah ﷺ diutus[1]. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus (dengan tujuan) untuk memperbaiki akhlak-akhlak mulia.” (HR Bukhari dan Ahmad. Dishahihkan oleh al-Albani).[2]

Dalam ajaran Islam, akhlak bukan perkara yang bersifat addition (tambahan), melainkan bagian utama dari keimanan. Iman memiliki banyak cabang yang saling menyempurnakan, dan di antara cabang tersebut adalah perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، أَعْلَاهَا قَوْلُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَىٰ عَنِ الطَّرِيقِ

“Keimanan (memiliki) tujuh puluh sekian cabang-cabang. Cabang yang tertinggi adalah perkataan ‘laa ilaaha illallah”. Cabang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR Muslim no. 35).

Ketika Rasulullah ﷺ menekankan menyingkirkan gangguan termasuk dalam cabang keimanan, maka akhlak  merupakan penyempurna  keimanan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ

Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya dan yang paling lembut dengan keluarga.” (HR Abu Daud no. 4682 dan Tirmidzi no. 1162).[3]

Islam merupakan agama yang membawakan kemaslahatan rasa aman bagi sesama. Karena itu, akhlak seorang mukmin tidak hanya membawa kebaikan kepada dirinya sendiri namun juga akan memberikan kebaikan kepada selainnya. Tujuan dari disyariatkan akhlak baik adalah memberikan rasa aman kepada sesama. Rasulullah ﷺ dengan tegas mensifati orang yang tidak memberikan keamanan kepada sesama sebagai orang yang tidak beriman. Dari Abu Syuraih Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, Beliau ﷺ bersabda:

وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ.

Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman” kemudian ditanya kepada beliau, “Siapa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya.” (HR Bukhari dan Muslim).[4]

Hadits ini sangat menekankan bahwa perilaku manusia kepada orang lain yang didasari akhlaknya sangat memperlihatkan kualitas keimanannya.

Kedudukan-kedudukan akhlak dalam agama ini menunjukkan bahwa pembahasan akhlak tidak dapat dipisahkan dari keimanan dan akidah sebagai fondasinya.

Akhlak sebagai Cerminan Akidah

Jika kesempurnaan keimanan seseorang terlihat kepada akhlaknya, maka kualitas akidah juga seseorang juga mencerminkan oleh akhlak seseorang. Hal ini karena akidah pada hakikatnya adalah keimanan. Muhammad bin Ibrahim dalam kitab Al-Asbāb al-Mufīdah fī Iktisāb al-Akhlāq al-Ḥamīdah  mengatakan:

إِنَّ العَقِيْدَةَ هِيَ الإِيْمَانُ

Sesungguhnya akidah itu-lah keimanan.”[5]

Dengan demikian, pembahasan tentang akhlak tidak lepas dari pembahasan tentang akidah.

Para ulama juga menjelaskan bahwa akidah yang benar akan berdampak pada perbaikan akhlak bagi setiap orang, disebutkan dalam kitab Mawsū‘ah al-Akhlāq al-Islāmiyyah,

اَلْعَقِيدَةُ الصَّحِيحَةُ هِيَ الَّتِي تُصَحِّحُ الأَخْلَاقَ، وَتَحْمِي الإِنْسَانَ مِنَ الِانْزِلَاقِ

“Akidah benar-lah yang akan memperbaiki akhlak dan menjaga manusia dari penyimpangan dan kesalahan sikap (yang tidak disengaja).”[6]

Dengan demikian, permasalahan akhlak tidak cukup dengan pembenaran etika semata namun juga membutuhkan perbaikan akidah.

Semakin kuat akidah seseorang, semakin besar ketergantungannya dengan Allah ﷻ. Semakin kuat ketergantungannya kepada Allah ﷻ, semakin patuh ia. Allah ﷻ memerintahkan untuk selalu berbuat baik kepada seluruhnya. Allah ﷻ berfirman:

وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ

“Berbuat baik sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu” (QS al-Qaṣaṣ [28]: 77).

Imam al-Maraghi menjelaskan ayat ini pada kitabnya Tafsīr al-Marāghī,

وَأَحْسِنْ إِلَىٰ خَلْقِهِ، كَمَا أَحْسَنَ هُوَ إِلَيْكَ فِيمَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْكَ، فَأَعِنْ خَلْقَهُ بِمَالِكَ وَجَاهِكَ، وَطَلَاقَةِ وَجْهِكَ، وَحُسْنِ لِقَائِهِمْ، وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِمْ فِي غَيْبَتِهِمْ.

“Berbuat baiklah kepada makhluk-Nya, sebagaimana Ia berbuat baik kepadamu dengan apa yang Ia telah berikan kepadamu (berupa kenikmatan-kenikmatan). Bantulah makhluk-Nya dengan hartamu, kedudukanmu, kecerian wajahmu, sikap baik ketika berjumpa, dan pujianmu terhadap mereka dalam ketiadaan mereka.”[7]

Dengan demikian, ketika akidah seseorang kepada Allah ﷻ kuat, ia akan semakin baik kepada makhluknya.

Implikasi Lemahnya Akidah terhadap Krisis Akhlak Hari Ini

Lemahnya akhlak dan attitude di tengah masyarakat, termasuk di dalamnya Gen Z, sering kali hanya dianggap problem moral dan etika sosial. Padahal dalam Islam, akhlak tersebut adalah hasil nyata dari akidah seseorang. Ketika akhlak secara umum manusia dianggap mengalami kemunduran, maka hal ini juga berkaitan dengan kemunduran akidah yang belum tertanam dan dipahami dengan benar. Maka dari itu perbaikan akhlak sejatinya harus dimulai dengan perbaikan cara pandang seseorang terhadap Allah ﷻ.

Akidah yang benar melahirkan kesadaran bahwa setiap perbuatan dalam pengawasan Allah ﷻ. Nabi ﷺ bersabda:

اِعْبُدِ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Sembahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah. Jika Engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.”[8]

Kesadaran ini akan melahirkan rasa tanggung jawab moral ketika berinteraksi dengan sesama. Seseorang yang meyakini bahwa Allah melihat, mencatat, dan menghisab seluruh amalannya, tidak akan mudah meremehkan hak orang lain dan berlaku baik sekecil apapun bentuknya. Sebaliknya, akidah yang rapuh dan tidak kokoh akan menyebabkan manusia tidak memiliki nilai bahwa Allah-lah yang memerintahkan berbuat baik kepada sesama. Sejatinya istilah “memanusiakan manusia” adalah syariat Islam yang hari ini mulai tidak lagi diindahkan

Maka dari itu, akidah dan akhlak mempunyai keterkaitan yang sangat kuat. Krisis akhlak serta attitude merupakan persoalan penting di tengah kita. Hal ini terjadi karena kurangnya penanaman akidah yang baik. Islam tidak hanya membangun akhlak di atas tekanan sosial, namun juga membangunnya dengan landasan akidah dan keimanan kepada Allah yang memerintahkan untuk berbuat baik. Perbaikan akhlak ini juga kita harus bersama perbaikan akidah, agar kebaikan yang Islam ajarkan benar-benar dipraktekkan secara kaffah atau menyeluruh.

Maraji’ :

[1] Abdul Fattah bin Muhammad Mushailihi. Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣid. Manshurah, Mesir: Dar al-Lu’lu’ah li an-Nasyr wa at-Tauzī‘. 2022 M / 1443 H. Cet. ke-1. Jilid 4. h. 134.

[2] Muḥammad Nāṣiruddīn al-Albānī. Silsilah al-Aḥādīts aṣ-Ṣaḥīḥah. Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif. 1995 M. Cet. ke-1. Jilid 2. h. 613.

[3] al-Mundzirī, ‘Abd al-‘Aẓīm bin ‘Abd al-Qawī. At-Targhīb wa at-Tarhīb. Kairo: Dār al-Ḥadīts. t.t. Jilid 3. h. 358.

[4] al-Haitsami, ‘Alī bin Abī Bakr. Majma‘ az-Zawā’id wa Manba‘ al-Fawā’id. Kairo: Maktabah al-Qudsī. t.t. Jilid 8. h. 171.

[5] Muḥammad bin Ibrāhīm bin Aḥmad al-Ḥamd. Al-Asbāb al-Mufīdah fī Iktisāb al-Akhlāq al-Ḥamīdah. Riyadh: Dār Ibn Khuzaimah. 1418 H. Cet. ke-1. h. 4.

[6] Kelompok Peneliti di bawah bimbingan ‘Alawī bin ‘Abd al-Qādir as-Saqqāf. Mawsū‘ah al-Akhlāq al-Islāmiyyah. Riyadh: Mauqi‘ ad-Durar as-Saniyyah. Jilid 1. h. 24.

[7] Ahmad bin Musthafa al-Marāghī. Tafsīr al-Marāghī. Kairo: Syirkah Maktabah wa Mathba‘ah Musthafā al-Bābī al-Ḥalabī wa Aulādih. 1946 M / 1365 H. Cet. ke-1. Jilid 20. h. 94.

[8] al-Mundzirī, ‘Abd al-‘Aẓīm bin ‘Abd al-Qawī. At-Targhīb wa at-Tarhīb. Kairo: Dār al-Ḥadīts. t.t. Jilid 3. h. 358.

Download Buletin klik di sini

Ada Apa di Bulan Rajab?

Ada Apa di Bulan Rajab?

Jaenal Sarifudin*

 

Bismillāhi waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ba’du.

Rajab adalah salah satu dari dua belas bulan dalam kalender Hijriyah yang memiliki keutamaan dan kemuliaan bagi umat Islam. Bahkan dari sisi bahasa, Rajab bermakna mulia, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu al-Jauzi. Para ulama juga menyebutkan banyaknya nama lain bagi bulan Rajab sebagai isyarat keistimewaannya; Imam Ibnu Rajab dalam Lathāif al-Ma‘ārif mencatat hingga tiga belas sebutan. [1]

Rajab menjadi bulan persiapan menuju Ramadhan, sayyidus syuhūr. Syaikh Abu Bakar al-Warrāq berkata: “Rajab adalah waktu menanam, Syakban waktu menyiram, dan Ramadhan waktu memanen.” Karena itu, sangat baik bagi kita memperbanyak persiapan diri dan doa di bulan Rajab, agar Allah memberkahi usia dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan yang penuh keagungan.

Rajab Termasuk Bulan Haram

Kemuliaan bulan Rajab di antaranya adalah karena ia termasuk salah satu dari bulan haram yang empat (al-asyhur al-hurum). Mengenai empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi ﷺ bersabda:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679).

Bulan haram adalah bulan yang dimuliakan dan disucikan. Sejak sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ, bangsa Arab telah mengenal dan menghormati empat bulan haram dengan meninggalkan pertikaian dan peperangan. Ketika Islam datang, syariat melestarikan kemuliaan ini, bahkan Al-Qur’an menegaskannya dalam beberapa ayat, di antaranya surah At-Taubah ayat 36,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (QS At-Taubah [9]: 36).

Menurut para ulama, bulan-bulan haram memiliki kedudukan dan keistimewaan khusus. Amal kebaikan yang dilakukan di dalamnya dilipatgandakan pahalanya, sementara kemaksiatan dan kezhaliman juga berkonsekuensi dosa yang lebih besar karena menodai kemuliaannya. Allah ﷻ menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 36, “Maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan haram itu.”

Para ahli tafsir, di antaranya Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā, menjelaskan bahwa ayat ini merupakan peringatan agar lebih menjaga diri dari dosa dan maksiat di bulan-bulan mulia tersebut. Karena itu, sudah semestinya kita memuliakannya dengan memperbanyak ketaatan dan semakin bersungguh-sungguh menjauhi kemaksiatan.

Peristiwa Isra’ Mikraj  

Terkait peristiwa besar dalam sejarah Islam, yakni Isra’ Mikraj, yang populer di masyarakat Indonesia terjadi pada bulan Rajab, para ulama sebenarnya memiliki beragam pendapat tentang waktu terjadinya. Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam Ar-Raḥīq al-Makhtūm menyebutkan adanya enam pendapat mengenai kapan Isra’ Mikraj terjadi, dan tidak satu pun yang didukung oleh riwayat yang benar-benar pasti. Karena itu, tanggal terjadinya Isra’ Mikraj tidak diketahui secara persis.[2]

Pendapat yang paling populer di negeri kita adalah yang menyatakan bahwa Isra’ Mikraj terjadi pada malam 27 Rajab, sebagaimana dinukil dari Syaikh al-Manshurfuri dan juga dipilih oleh Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar.[3] Meski demikian, para ulama berbeda pendapat mengenai tahun terjadinya peristiwa tersebut. Pendapat yang lebih mendekati kebenaran menyatakan bahwa Isra’ Mikraj terjadi menjelang hijrah Nabi ﷺ ke Madinah.

Hal yang pasti, Isra’ Mikraj merupakan salah satu mukjizat besar Rasulullah ﷺ. Beliau diperjalankan dengan ruh dan jasad dalam waktu kurang dari semalam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu dilanjutkan menembus langit hingga Sidratul Muntaha. Di sanalah Rasulullah ﷺ menerima perintah shalat lima waktu, yang menunjukkan betapa agung dan sentralnya kedudukan ibadah salat sebagai tiang agama dalam Islam.

Perpindahan Arah Kiblat

Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa pada bulan Rajab terjadi sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat Islam, yaitu peristiwa perpindahan arah kiblat.[4]  Meskipun banyak pendapat lain menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Sya’ban tahun kedua hijrah.[5] Setelah Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, kaum muslimin menunaikan ibadah shalat dengan menghadap ke arah baitul maqdis Palestina kurang lebih satu setengah tahun lamanya.

Sebenarnya Rasulullah ﷺ sendiiri sangat menginginkan untuk menghadap kiblat ke arah ka’bah. Pada suatu siang di bulan Rajab (atau Sya’ban) pada tahun kedua hijriyah saat Nabi ﷺ menunaikan shalat Zhuhur, turunlah wahyu ayat Al-Qur’an yang memerintahkan Nabi ﷺ dan kaum muslimin untuk menghadap ke arah masjidil haram di dalam shalat. Sehingga di pertengahan ibadah shalat tersebut Nabi ﷺ mengubah arah kiblatnya 180 derajat.

Tempat di mana Nabi ﷺ mendapatkan wahyu penggantian arah kiblat ini kemudian menjadi sebuah masjid yang diberi penanda dua mihrab dan diberi nama masjid qiblatain (masjid yang memiliki dua kiblat). Allah ﷻ berfirman:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Sungguh Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-Baqarah [2]: 144).

Maraji’ :

* Mahasiswa DHI UII

[1]  Ibnu Rajab. Lathaif al-Ma’arif fima Limawasim al-‘Am min al-Wazhaif. Kairo: Dar al-‘Alamiyah. 2015.

[2]  Shofiyurrahman al-Mubarakfuri. Ar-Rahiq al-Makhtum. Jeddah: Dar al-Hafizh. 2002. h. 120.

[3]  Hamka. Tafsir al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1991.

[4] Di antaranya pendapat Sa’id ibn Musayyib dan ibn Sa’ad sebagaimana dinukil dalam Atlas Sirah Nabawiyah karya Syauqi Abu Khalil.

[5] Pendapat ini lebih populer, di antaranya disebutkan dalam kitab al-Rahiqun al- Makhtum karya al-Mubarakfuri dan kitab Madza fi Sya’ban karya Muhammmad ibn Alwi al-Maliki.

Download Buletin klik di sini

Satu Mulut, Dua Telinga di Era Media Sosial

Satu Mulut, Dua Telinga di Era Media Sosial

Frihastama

 

Manusia diciptakan dengan satu mulut dan dua telinga bukan tanpa makna. Di dalamnya tersirat hikmah yang dalam, bahwa berbicara seharusnya lebih sedikit dibandingkan mendengar. Namun realitas kehidupan sosial hari ini justru sering menunjukkan hal sebaliknya. Banyak orang lebih cepat berbicara, berkomentar, dan menghakimi, tetapi enggan mendengar, memahami, dan merenungkan. Fenomena ini semakin terasa di tengah masyarakat yang kini hidup di era digital dan media sosial.[1]

Media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi. Setiap orang memiliki panggung untuk bersuara, menyampaikan pendapat, bahkan meluapkan emosi. Sayangnya, tidak semua suara lahir dari pengetahuan dan kebijaksanaan. Banyak komentar ditulis tanpa pertimbangan, tanpa empati, dan tanpa kesadaran akan dampaknya. Akibatnya, ruang publik dipenuhi ujaran kasar, fitnah, hoaks, serta perdebatan yang miskin adab.[2] Dalam situasi seperti ini, pesan “satu mulut, dua telinga” menjadi sangat relevan untuk direnungkan kembali.

Menjaga Lisan dan Belajar Mendengar

Islam sejak awal telah menempatkan lisan sebagai amanah besar. Setiap kata yang keluar dari mulut manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Al-Qur’an mengingatkan bahwa tidak satu pun ucapan terlepas dari pengawasan Allâh ﷻ. Allâh ﷻ berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS Qaf [50]: 18).

Seorang Muslim dituntut untuk berhati-hati dalam berbicara. Berbicara bukan sekadar menyampaikan isi hati, tetapi juga mencerminkan kualitas iman dan akhlak seseorang. Lisan yang tidak terjaga dapat menjadi sumber dosa, konflik, dan perpecahan. Kesadaran ini menjadi pintu masuk untuk memahami pentingnya sikap mendengar sebagai bagian dari akhlak Islam.

Sikap mendengar dalam Islam bukanlah sikap pasif. Mendengar adalah bagian dari adab dan kebijaksanaan. Dengan mendengar, seseorang memberi ruang bagi orang lain untuk menyampaikan pendapat, perasaan, dan pengalaman. Mendengar juga membuka jalan menuju pemahaman yang lebih utuh, sehingga seseorang tidak mudah salah paham atau terburu-buru menilai. Dalam banyak kasus sosial yang viral, masalah justru membesar karena orang enggan mendengar penjelasan secara utuh dan lebih memilih bereaksi cepat.

Teladan Rasulullah ﷺ dalam Berkomunikasi

Islam mengajarkan prinsip tabayyün, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Prinsip ini ditegaskan dalam firman Allâh ﷻ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS Al-Hujurat [49]: 6).

Prinsip tabayyün menuntut kesediaan untuk mendengar dari berbagai sisi, bukan hanya dari satu sumber yang sejalan dengan emosi atau kepentingan pribadi. Inilah wujud nyata penggunaan dua telinga sebelum menggunakan satu mulut. Tanpa tabayyün, lisan mudah tergelincir pada fitnah dan prasangka buruk yang merusak persaudaraan.[3]

Keteladanan paling nyata dalam hal ini ditunjukkan oleh Rasulullâh ﷺ. Beliau sangat menjaga lisan dan mengajarkan umatnya untuk berkata baik atau memilih diam. Dalam sebuah hadis, Rasulullâh ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allâh dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).

Beliau juga dikenal sebagai pendengar yang baik, penuh perhatian, dan tidak memotong pembicaraan lawan bicara. Bahkan kepada orang yang bersikap kasar sekalipun, Rasulullâh tetap mendengarkan dengan tenang sebelum memberikan jawaban yang bijak. Akhlak ini menunjukkan bahwa mendengar adalah bagian dari rahmat dan kebijaksanaan, bukan tanda kelemahan.

Menumbuhkan Adab di Tengah Perbedaan

Dalam konteks di kehidupan masyarakat hari ini, nilai ini sangat penting untuk dihidupkan kembali. Perbedaan pandangan politik, sosial, dan keagamaan sering kali memicu pertengkaran yang tajam. Banyak orang berbicara atas nama kebenaran, tetapi lupa bahwa kebenaran juga menuntut adab.[4] Dengan mendengar, seseorang belajar menghargai perbedaan dan menyadari bahwa tidak semua persoalan harus dimenangkan dengan kata-kata keras.

Satu mulut mengajarkan kehati-hatian dalam berbicara. Dua telinga mengajarkan kesediaan untuk mendengar lebih banyak. Jika keseimbangan ini dijaga, maka komunikasi akan menjadi sarana membangun, bukan merusak.[5] Percakapan akan melahirkan solusi, bukan konflik. Kritik akan disampaikan dengan adab, dan perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kenyataan yang harus disikapi dengan kebijaksanaan.

Nilai ini seharusnya menjadi cermin dalam kehidupan sehari-hari. Mendengar lebih banyak daripada berbicara melatih seseorang untuk bereaksi dengan tenang, memahami sebelum menghakimi, dan berpikir sebelum menyampaikan pendapat. Sikap demikian semakin penting di tengah derasnya arus informasi yang kerap menyesatkan. Jika dihidupkan secara konsisten, komunikasi akan berlangsung lebih menenangkan, perbedaan dapat disikapi dengan bijaksana, dan kehidupan sosial dipenuhi adab serta rahmat-Nya.[6]

Semoga Allâh ﷻ membimbing lisan kita agar selalu berkata benar, melembutkan hati kita untuk mau mendengar, dan menjadikan kita hamba-hamba yang menjaga adab dalam setiap ucapan dan perbuatan. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Maraji’ :

[1] Mardi, I. I., et al. “Etika dan adab Islam dalam penggunaan media sosial: Cabaran dan implikasi kontemporari.” dalam E-Journal of Islamic Thought and Understanding. Vol. 7. No.1. Tahun 2024.

[2] Anggraini, N. “Etika komunikasi bagi pengguna media sosial menurut Al-Qur’an.” dalam  Journal of Comprehensive Islamic Studies (JOCIS). Vol. 2. No.2.  Tahun 2023.

[3] Jaya, M., Pamuji, K., & Halihasimi. “Adab komunikasi dalam menggunakan media sosial menurut pandangan Islam.” dalam Ath-Thariq: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol. 14. No.1. Tahun 2024.

[4] Samsudin, D., & Putri, I. M. “Etika dan strategi komunikasi dakwah Islam berbasis media sosial di Indonesia.: dalam Ath-Thariq: Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Vol. 7. No.2. Tahun 2023.

[5] Maslahah, A. N., et al. “The role of ethical communication in counseling: Insights from the hadith speak good or remain silent.” dalam Jurnal Bimbingan dan Konseling Terapan. Vol. 9. No.1. Tahun 2025.

[6] Nasr, S. H. (2002). The heart of Islam: Enduring values for humanity. HarperCollins.

Download Buletin klik di sini