PEMUDA IDEAL DALAM PANDANGAN ISLAM

PEMUDA IDEAL DALAM PANDANGAN ISLAM

Oleh: Jaenal Sarifudin*

 

Bismillah, walhamdulillâh washshâlatu wassalâmu ‘alâ rasûlillâh. Waba’du.

Ada kalimat hikmah menyebutkan, Syubbanul yaum rijalul ghad, pemuda hari ini adalah tokoh di masa depan. Demikian bunyi sebuah ungkapan dalam khazanah literatur Arab. Pemuda adalah harapan para orang tua. Bahkan harapan bangsa. Tempat melabuhkan dan menitipkan segenap asa, harapan dan cita-cita. Maka pemuda memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Apa yang belum dapat dicapai oleh para orang tua dan generasi sebelumnya, para pemudalah yang diharapkan akan dapat memperjuangkan dan mampu untuk mewujudkannya. Bapak Proklamator RI, Ir. Soekarno pernah mengatakan; “Berilah aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”. Kalimat ini menggambarkan potensi dan kekuatan luar biasa yang ada pada diri para pemuda.

Memanfaatkan Masa Muda Untuk Hal yang Positif

Masa muda sering dikaitkan dengan kondisi fisik yang kuat dan prima. Juga semangat dan idealisme yang tinggi. Saat segala cita-cita dan keinginan masih membentang luas kesempatan untuk dapat mewujudkan dan menggapainya. Namun di sisi lain juga memiliki kerentanan dan tantangan yang menghadang pula. Tidak sedikit di antara mereka yang salah jalan karena kurangnya perhatian dan bimbingan. Juga kurangnya bekal ilmu dan lemahnya iman. Maka menjadi suatu hal yang niscaya dilakukan untuk membimbing mereka. Mengarahkan mereka dan menyalurkan semangat darah mudanya pada hal-hal yang positif dan bermanfaat. Sehingga masa muda benar-benar akan menjadi waktu yang produktif dan penuh kreativitas positif.

Salah satu pesan Nabi ﷺ dalam sabdanya adalah agar kita memanfaatkan masa muda sebelum datang masa tua. Pada masa muda lah seseorang akan dapat memaksimalkan potensi dirinya dengan sebaik-baiknya. Saat usia telah beranjak senja, tidak banyak hal yang dapat dilakukan karena berbagai keterbatasan. Nabi ﷺ bersabda:  “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara, hidupmu sebelum matimu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, waktu sempatmu sebelum datang saat sibukmu, masa mudamu sebelum datang masa tuamu dan saat kecukupanmu sebelum datang saat kekuranganmu.” (HR. Al-Hakim)[1]

Teladan Ashabul Kahfi

Allah ﷻ mencintai para pemuda yang berjiwa idealis, penuh semangat daya juang dan tumbuh di dalam naungan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Di dalam Al-Quran, di antaranya Allah ﷻ memberikan contoh pemuda yang memiliki karakter tersebut. Di antara mereka adalah Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda shalih yang berani menentang tirani kezhaliman. Bahkan demi menyelamatkan iman dan tauhid, mereka rela meninggalkan kampung halaman dan bersembunyi di dalam sebuah goa. Ketika Allah ﷻ mengisahkan Ashabul Kahfi, Allah ﷻ memuji mereka dalam firman-Nya, Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi [18]: 13). Ashabul Kahfi adalah contoh citra pemuda bertakwa dan memiliki idealisme tinggi. Para pemuda yang rela berjuang dan berani menyuarakan kebenaran.

Dalam konteks semangat juang, sesungguhnya juga dapat kita kaitkan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Banyak pemuda pahlawan yang turut memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Mereka bahkan rela mengorbankan jiwa raga demi membela bangsa dari cengkeraman penindasan para penjajah. Sejarah mencatat, ribuan pemuda telah gugur menjadi syuhada dan kusuma bangsa yang harum namanya dikenang oleh generasi selanjutnya.

Pemuda yang Berada dalam Naungan Allah

Di dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari, Rasulullah ﷺ juga memuji pemuda yang beriman, taat beribadah dan memiliki semangat pengabdian tinggi. Nabi ﷺ menjanjikan bahwa kelak Allah ﷻ akan memberikan naungan pada hari kiamat bagi para pemuda yang tumbuh di dalam pengabdian dan ketaatan (syabb nasyaa fi ‘ibadatillah). Para pemuda yang selain memiliki karakter shalih, juga memiliki semangat pengabdian. Karena pada hakikatnya segala pengabdian, dedikasi, perjuangan dan kontribusi yang diberikan dengan ketulusan adalah bagian dari ibadah juga. Sehingga pemuda ideal menurut Islam adalah pemuda yang memiliki semangat beribadah dan juga semangat berjuang. Nabi ﷺ bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari di saat tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya; Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam pengabdian kepada Allah, orang yang hatinya selalu terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah, orang yang bersedekah sirri (dengan ikhlas) sehingga seolah tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, seorang laki-laki yang dirayu oleh seorang perempuan yang terpandang lagi cantik jelita kemudian ia berkata sesungguhnya aku takut kepada Allah dan seseorang yang berdzikir menyebut nama Allah dalam keheningan seraya mengalir air matanya (karena takut kepada Allah).” (HR.  Al-Bukhari)[2]

Menjadi Pemuda yang Berilmu dan Beramal

Salah satu kunci untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan hidup adalah dengan ilmu. Imam Asy-Syafi’i menyatakan: “Barangsiapa menghendaki (kesuksesan) di dunia hendaklah ia membekali diri dengan ilmu. Dan barangsiapa menghendaki (kebahagiaan) di akhirat maka hendaklah ia membekali diri dengan ilmu.”[3] Idealnya, masa muda semestinya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk belajar dengan sungguh-sungguh dalam mengarungi samudera ilmu pengetahuan. Pada masa muda, daya serap dan daya lekat ilmu jauh lebih kuat dibandingkan ketika seseorang belajar di saat usia sudah tidak muda lagi. Para ilmuwan, cendekiawan dan ulama pada umumnya adalah orang-orang yang mau berletih-letih dalam belajar di masa mudanya. Bahkan jika menengok sejarah hidup para ulama masa lampau, mereka sampai rela menempuh jarak perjalanan ratusan kilometer demi untuk mendapatkan ilmu dan riwayat.

Saat ini, kita telah mendapatkan banyak sekali fasilitas dan sarana yang memudahkan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu begitu banyak. Khazanah pustaka juga begitu berlimpah, baik yang berwujud buku fisik maupun yang telah didigitalisasikan. Bahkan kita dapat dengan mudah mengakses beragam sumber pengetahuan tanpa harus keluar dari tempat tinggal kita dengan memanfaatkan fasilitas media. Kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi harus kita manfaatkan dengan baik. Bukan malah kemudian terseret dalam arus negatif akibat menggunakan fasilitas teknologi untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan sia-sia bahkan membawa dosa.

Kesungguhan dalam belajar (studi) dan menumbuhkan budaya literasi haruslah ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih bagi para mahasiswa, itulah tugas utama yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Belajar adalah amanah dari Allah l dan amanah dari para orang tua mereka. Orang yang tengah belajar dan menuntut ilmu pada hakikatnya tengah berjuang di jalan Allah ﷻ. Allah ﷻ niscaya akan memudahkan baginya meraih kesuksesan dan surga-Nya. Nabi bersabda; “Barangsiapa menempuh jalan dalam menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).[1] Tentu setelah ilmu didapat, hal selanjutnya adalah mengaktualisasikan dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Citra pemuda ideal dalam Islam adalah pemuda yang berilmu dan juga beramal.[]

Marâji’:

* Mahasiswa FIAI Universitas Islam Indonesia

[1] Imam al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Shahihain, Beirut, Darul Fikr, 2001.

[2] Muhammad  ibn Isma’il al-Bukhari, Sahih Bukhari, Beirut: Darul Fikr, t.t.

[3] Abi Zakariya an-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz I,  Beirut: Darul Fikr, 1996, hal. 36.

Download Buletin klik disini

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *