Persiapan Terbaik Menjelang Bulan Ramadhan

Bismillâh walhamdulillâh washalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Pembaca yang dirahmati Allah ﷻ, bulan Ramadhan sebentar lagi menyapa. Sudah berapa puluh bulan Ramadhan yang kita lewatkan, dan dari bulan Ramadhan yang sudah kita lalui itu, berapa kali bulan Ramadhan yang sudah kita maksimalkan dengan amalan shalih. Maka dengan datangnya bulan Ramadhan hendaknya kita mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan ini agar bisa memaksimalkannya dengan amalan shalih, jangan sampai bulan Ramadhan yang sudah terlewat menjadi penyesalan bagi kita karena tidak memaksimalkan bulan Ramadhan dengan amalan-amalan shalih.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Pembaca yang dirahmati Allah ﷻ, ketahuilah bahwasanya bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan, berikut di antaranya:

  1. Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu berada (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan tersebut maka hendaklah ia berpuasa saat itu.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 185)
  2. Setan-setan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka ketika Ramadhan tiba. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (H. Bukhari, no. 3277 dan Muslim, no. 1079)
  3. Terdapat malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”(Q.S. al-Qadr [97]: 1-3)
  4. Bulan Ramadhan adalah salah satu waktu dikabulkannya doa. Dari Jabir bin ‘Abdillah; Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan apabila setiap muslim memanjatkan doa maka pasti dikabulkan.” (H. Al-Bazaar. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10:149 mengatakan bahwa perawinya tsiqah (terpercaya). Lihat Jami’ul Ahadits, 9:221)[1]

Persiapan Terbaik Menjelang Bulan Ramadhan

Setelah mengetahui keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan, maka hendaknya kita melakukan persiapan terbaik untuk menyambut bulan yang mulia ini sebagai ajang pemanasan sebelum bulan yang dinanti-nanti itu tiba. Berikut persiapan-persiapan yang bisa kita lakukan untuk menyambut bulan Ramadhan:

  1. Berdoa semoga Allah Pembaca yang dirahmati Allah ﷻ, pertemukan kita dengan bulan Ramadhan. Dari Anas bin Malik rahhiyallahu”anhu, beliau berkata, Nabi ﷺ bersabda ketika memasuki waktu bulan Rajab, “Ya Allah, Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban. Ya Allah, Berkahilah kami di bulan Ramadhan” (H.R. Ahmad, no.23460). Hadits ini dinilai lemah oleh sebagian ulama seperti Syaikh Al-Albani, akan tetapi orang-orang shalih terdahulu berdoa kepada Allah ﷻ agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Doa yang mereka lakukan berdasarkan keumuman dalil dari al-Qur’an dan hadits-hadits shahih tentang meminta kebaikan, dan salah satu kebaikan adalah bertemu dengan bulan Ramadhan.[2]

Ibnu Rajab menyebutkan keterangan Mu’alla bin Al-Fadhl – ulama tabi’ tabiin – yang mengatakan, “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.”(Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)[3]

  1. Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Dari Aisyah beliau berkata, “Rasulullah ﷺ tidak pernah berpuasa di bulan lain (selain Ramadhan) melebihi banyaknya beliau berpuasa di bulan Sya’ban” (H. Muttafaqun alaihi, Bukhari, no.1969, Muslim, no.782). Rasulullah ﷺ memperbanyak puasa bulan Sya’ban sebagai persiapan untuk berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, karena bulan Sya’ban merupakan bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan.[4]
  2. Mempersiapkan ilmu seputar bulan Ramadhan seperti rukun fiqih puasa, fiqih shalat tarawih, dan fiqih zakat fitri. Karena suatu amal ibadah tidak akan diterima kecuali amal ibadah yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, maka agar amal ibadah kita diterima oleh Allah ﷻ, dibutuhkan ilmu. Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Mâidah [5]: 27).

Ibnul Qayyim berkata, “Tafsiran yang paling bagus mengenai ayat ini bahwasanya amalan yang diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Yang disebut bertakwa adalah bila beramal karena mengharap wajah Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi  ﷺ. Tentu saja ini perlu didasari dengan ilmu.” (Miftah Daris Sa’adah, 1: 299)[5]

Semoga kita dipertemukan dengan bulan Ramadhan, bisa memaksimalkan bulan Ramadhan dengan amalan shalih, melewati bulan Ramadhan dengan keadaan yang lebih bertakwa kepada Allah ﷻ, serta semoga Allah ﷻ menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan nanti. Aâmiîn.

Penyusun

Galih Enggartyasto

Teknik Mesin 2017

 

Marâji’:

[1] Muhammad Abduh Tuasikal, Ramadhan Bersama Nabi, Gunung Kidul: Rumaysho. 2018. Cet.2. hal. 1

[2] https://konsultasisyariah.com/36278-menyambut-bulan-ramadhan-jauh-jauh-hari.html

[3] https://konsultasisyariah.com/19029-doa-menyambut-ramadhan.html

[4] Ibid

[5] https://rumaysho.com/3452-sudahkan-anda-mempersiapkan-ilmu-sebelum-ramadhan.html

 

Mutiara Hikmah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ رَجُلٌ كَانَ يَصُوْمُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mendahului puasa ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari (sebelumnya), kecuali bia dia telah terbiasa berpuasa dengan suatu puasa, maka hendaklah ia berpuasa pada hari itu.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

 

Download Buletin klik disini

Balasan Bagi Seseorang Yang Berbakti Kepada Orang Tua

Bismillâh walhamdulillâh washalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh, wa ba’du.

Kedudukan Berbakti kepada Orang Tua

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah ﷻ ketahuilah bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban kita sebagai muslim dan muslimah. Berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan yang sangat mulia yang mana merupakan amalan paling utama setelah kita diperintahkan untuk menyembah kepada Allah ﷻ oleh karena itu begitu besarnya hak kedua orang tua.

Allah ﷻ berfirman, “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…” (Q.S. al-Isra [17]: 23). Di ayat yang Allah ﷻ juga berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak…” (Q.S. an-Nisa [4]: 36)

Bahkan berbakti kepada orang tua lebih didahulukan dari berjihad, dijelaskan pada suatu kisah dari ‘Abdullah bin ‘Amr ia berkata ketika seorang laki-laki mendatangi Rasulullah ﷺ lalu meminta izin untuk berjihad, kemudian beliau bersabda, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” orang itu menjawab, “Masih.” Beliau lalu bersabda, “Berjihadlah pada kedua orang tuamu.” (H.R. al-Bukhari dalam Kitab al-Adab 5972)

Karena begitu besar hak orang tua pada anak-anaknya bahkan menempati urutan kedua setelah hak Allah ﷻ. Dimana kebaikan yang diberikan seorang ibu yang telah mengalami kelelahan dalam mengandung dan melahirkan, lalu mengasuh, merawat, kemudian mendidik anak-anaknya hingga tumbuh besar dan berkembang. Serta jasa seorang ayah yang kelelahan dalam mengurusi anak-anaknya, ia selalu bekerja keras memberikan penghidupan yang terbaik untuk anak-anaknya agar mereka bahagia dan berharap anak-anaknya mendapat kehidupan yang lebih baik dari dirinya.

Maka dari itu kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada keduanya sebagaimana yang Allah ﷻ firmankan,“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S. Luqman [31]: 14)

Berbakti kepada orang tua merupakan perintah langsung yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an dan amalan yang paling dicintai oleh Allah ﷻ, sebagaimana hadits dari ‘Abdullah bin Mas’ud ia bercerita, Aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?  Rasulullah ﷺ menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku mengatakan “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Aku bertanya lagi “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (H.R. al-Bukhari II/9-Al-Fat-h dan Muslim 85)

Orang Tua adalah Pintu Surga Paling Tengah

Berbakti kepada orang tua berarti berbuat baik kepada mereka baik dengan ucapan, perbuatan, maupun harta sesuai yang ia mampui. Berbuat baik kepada orang tua merupakan cara yang paling mudah dan paling dekat yang menjadi sebab seseorang akan dimasukkan kedalam surga sebagaimana hadits dari Abu Darda radhiyallahu’anhu,  Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang tua adalah pintu surga paling tengah (paling baik). Jika engkau mau, sia-siakan saja pintu itu, atau engkau akan menjaganya.” (H.R. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Bakti Kepada Orang Tua yang Masih Hidup

Seseorang tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk berbakti kepada orang tua karena hal itu merupakan suatu perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Dan Rasulullah ﷺ menegaskan sungguh merugi bagi mereka yang menyia-nyiakan dari berbakti kepada orang tua, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh merugi, sungguh merugi dan sungguh merugi seseorang yang mendapati kedua orangtuanya, baik salah satu atau kedua-duanya pada saat usia lanjut, tetapi dia tidak masuk surga.” (H.R. Muslim 2551)

Berbakti dan berbuat baik kepada orang tua merupakan hal yang wajib bagaimanapun keadaan orang tua, baik ketika mereka masih muda atau ketika sudah lanjut usia. Namun ketika orang tua sudah lanjut usia dengan kondisi mereka yang pada saat itu semakin lemah fisik dan berkurangnya kemampuan mereka, bakti anak kepada orang tua lebih dibutuhkan pada saat itu.

Bentuk-bentuk berbakti kepada orang tua sangat banyak macam-macamnya terutama saat mereka masih hidup seperti meringankan beban mereka, meyelesaikan masalah mereka, mentaati mereka selama bukan dalam kemaksiatan, mendoakan kebaikan untuk mereka, menanyakan kabar, meminta izin kepada orang tua ketika hendak pergi atau dalam suatu urusan, memberikan nasihat yang baik kepada mereka dengan cara yang hikmah, dan mengajak mereka menghadiri majelis ilmu. Bentuk bakti kepada orang tua bisa juga berupa akhlak yang baik, berkata lemah lembut penuh kasih sayang, merendahkan diri dihadapan mereka, menunjukkan wajah berseri-seri, tidak membentak mereka, tidak membuat mereka marah atau menangis, dan segala hal yang dapat membuat mereka tenang.                          

Bakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal

Adapun ketika orang tua sudah meninggal baik salah satu atau keduanya, seseorang masih memiliki kesempatan untuk berbakti kepada orang tua dengan cara menjadi anak yang shalih dan selalu mendoakan mereka, dan menjaga hubungan kekerabatan pada orang-orang terdekat mereka dahulu serta menjaga persahabatan pada orang-orang yang menjadi sahabatnya orang tua.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Bentuk kebaktian kepada orang tua yang paling tinggi, menyambung hubungan dengan orang yang dicintai bapaknya, setelah ayahnya meninggal.” (H.R. Muslim no. 2552)

Durhaka Kepada Orang Tua

Kemudian kebalikan dari berbakti yaitu durhaka kepada orang tua ia merupakan salah satu dosa besar yang pelakunya akan diancam adzab yang pedih di dunia dan di akhirat, Rasulullah ﷺ bersabda, “Dosa-dosa besar yang paling besar adalah: Menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, dan ucapan palsu atau persaksian palsu.” (H.R. al-Bukhari 5976 dan Muslim 87)

Bentuk durhaka ada banyak macamnya, salah satu bentuk durhaka yang paling kecil yang bahkan tidak seorangpun diperbolehkan melakukannya seperti perkataan “Ah” kepada orang tua, Allah ﷻ berfirman, “…Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. al-Isra [17]: 23)

Durhaka dengan berkata “Ah” saja tidak diperbolehkan apalagi dengan perbuatan yang lebih besar dari itu seperti mencela, membuat orang tua menangis, menyakiti mereka, membentak dan sebagainya.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita orang yang berbakti kepada kedua orang tua dan semoga Allah ﷻ  membalas segala kebaikan bagi mereka yang berusaha untuk berbakti kepada orang tua dengan pahala yang sangat banyak, memberkahi segala urusan-urusannya dan menjadi sebab ia dimasukkan kedalam surgaNya yang paling tinggi. Âmîn yâ rabbal ‘âlamîn.

 

Penyusun:

Much Diki Mualimin

Mahasiswa Ahwal Syakhshiyah

Universitas Islam Indonesia

 

Marâji’:

Imam Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad (Kumpulan Hadits Adab dan Akhlak Seorang Muslim), Jakarta Timur: Griya Ilmu, 2018

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Cinta, Pengorbanan, dan Air Mata, Yogyakarta: Maktabah Al-Hanif – 2007

Abu ‘Uyainah Muhammad Yusuf As-Sahaby, Ummi, Izinkan Aku Menangis, Bogor: Darul Ilmi Publishing, 2011

 

Mutiara Hikmah

Do’a Memohon Ampunan Untuk Kedua Orang Tua dan Kaum Mukminin

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku, dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat).” (Q.S. Ibrâhîm [14]: 41).

Download Buletin klik disini

Memaknai Nikmat Allah Subhanahu Wata’ala

Bismillâhi walhamdulillâhi wash-shalâtu wassalâmu ‘ala rasulillâh,

Pembaca yang semoga dirahmati Allah ﷻ. Dalam kehidupan sehari-hari, Allah telah mengaruniakan nikmat yang banyak kepada kita semua. Bahkan, kita sendiri tidak akan mampu menghitung nikmat tersebut karena saking banyaknya. Allah ﷻ berfirman,“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.S. Ibrahim [14]: 34)

 

Segala Nikmat Datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala

Segala kenikmatan yang yang mendatangkan kenyamanan dan kebahagiaan, pada asalnya bersumber dari Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman, “Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan” (Q.S.An-Nahl [16]: 53).

Tidak memandang nikmat itu seperti apa bentuknya dan dari manapun asalnya, Allah-lah yang memberikan kepada kita. Sekalipun nikmat itu datang kepada kita melalui tangan hamba Allah lainnya. Tiada yang mampu memberikan rezeki atau kenikmatan melainkan Allah. Allah ﷻ berfirman, “Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (Q.S. Fathir [35]: 3)

 

Macam-macam Nikmat Allah Subhanahu Wata’ala

Berbicara tentang macam-macam nikmat yang diberikan oleh Allah ﷻ, tentu sangatlah banyak. Nikmat Allah banyak macamnya, ada yang mampu kita sadari dan tidak sedikit juga yang tidak kita sadari. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam memaknai nikmat Allah ﷻ.

Nikmat Allah ﷻ bukan hanya sebatas uang, kendaraan, rumah mewah, dan harta benda lainnya. Memang itu kita akui sebagai bagian dari bentuk nikmat yang Allah ﷻ berikan. Namun jika kita mengartikan nikmat Allah adalah rezeki berupa harta, maka kita perlu memperluas cara pandang terkait hal ini.

Beberapa nikmat terbesar yang Allah ﷻ berikan kepada kita adalah nikmat hidayah Islam dan iman. Allah ﷻ berfirman “…sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 16)

Allah  ﷻ memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan nikmatnya islam dan iman, di saat sebagian manusia berbangga-bangga dengan kekufuran mereka. Allah ﷻ memberikan kita nikmat mengenali dua pedoman hidup  yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, yang jika kita berpegang teguh dengannya, maka tidak akan tersesat selamanya. Dengan nikmat ini pula-lah menjadi sebab keselamatan kita di akhirat nanti jika senantiasa berpegang teguh dengannya, biidznillah.

Allah ﷻ juga memberikan nikmat agung berupa kesehatan dan waktu luang. Meskipun keduanya banyak dilalaikan oleh kebanyakan manusia. Rasulullah ﷺ bersabda, “Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Di sisi lain, setiap nafas yang kita hirup dan hembuskan, juga merupakan bagian dari nikmat Allah ﷻ. Mata yang dapat melihat, membedakan bentuk benda, membedakan warna, sungguh termasuk nikmat yang besar. Telinga yang mampu mendengar, dan segala sesuatu yang ada pada diri kita adalah nikmat Allah yang sempurna.

 

Cara Memaknai Nikmat Allah Subhanahu Wata’ala

Setelah kita memahami bahwa Allah ﷻ telah memberikan nikmat yang banyak kepada kita, maka apa sikap yang seharusnya kita lakukan? Tentunya kita perlu menunjukkan sikap yang baik pula dalam hal ini. Nikmat yang telah Allah ﷻ berikan, sudah sepatutnya kita sikapi setidaknya dengan dua hal, yaitu mensyukuri nikmat tesebut dan memanfaatkannya dengan baik.

Mensyukuri nikmat Allah ﷻ, merupakan sebuah keharusan bagi seorang muslim. Rasa syukur merupakan bagian dari penghambaan kita kepada Allah ﷻ. Bahkan, Allah pun telah menjanjikan sesuatu yang lebih baik ketika kita bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya. Jika kita pandai bersyukur, Allah ﷻ akan menambah nikmat tersebut. Bisa saja dengan hal yang sama, atau dengan sesuatu yang lebih baik. Allah ﷻ berfirman “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab_Ku sangat berat” (Q.S.Ibrahim [14]: 7).

Saat kita mendapatkan nikmat dari Allah ﷻ, kita dianjurkan untuk mengucapkan kalimat yang baik atau berdo’a dengan maksud memuji sang pemberi nikmat sekaligus sebagai rasa syukur. Saat bagun tidur, kita dianjurkan membaca do’a karena Allah ﷻ telah menginzinkan kita bangun di pagi hari. Setelah makan, kita membaca do’a karena Allah ﷻ telah memberi nikmat makanan yang mengenyangkan. Serta dalam keadaan lainnya, kita memanjatkan doa sebagai bentuk syukur kita kepada Allah ﷻ. Salah satu kalimat yang diucapkan Rasulullah ﷺ  ketika mendapat hal yang disenangi adalah Alhamdulillahilladzii bini’matihi tatimmushshollihat (Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmatnya kebaikan menjadi sempurna).

Sejalan dengan rasa syukur, maka kita juga diharuskan untuk memanfaatkan nikmat Allah  ﷻ di jalan yang benar. Contohnya ketika kita diberikan kesehatan dan waktu luang, maka kita habiskan untuk menuntut ilmu dan banyak beramal shalih misalnya. Bukan dihabiskan untuk berfoya-foya dan melakukan sesuatu yang sia-sia. Saat diberi kenikatan harta, maka kita membelanjakannya pada hal yang bermanfaat, serta menyisihkannya untuk zakat, sedekah, dan lainnya. Bukan berbelanja secara boros, ataupun menggunakan untuk hal yang diharamkan oleh Allah ﷻ.

Penting bagi kita untuk memanfaatkan nikmat Allah ﷻ dengan sebaik-baiknya. Sebab, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Allah ﷻ berfirman “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (Q.S. At-Takatsur [102]: 8).

Apapun yang Allah ﷻ titipkan kepada kita, akan ditanya tentangnya. Baik itu harta, usia, kedudukan, ilmu, kelebihan fisik, dan segala hal tak akan luput. Jika kita pandai dalam memanfaatkan nikmat Allah, insyaAllah kita akan mampu melalui hari yang dahsyat tersebut. “Kedua kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: umurnya di manakah ia habiskan, ilmunya di manakah ia amalkan, hartanya bagaimana ia peroleh dan di mana ia infakkan, dan mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417)

Oleh karena itu, wajib bagi kita sebagai seorang hamba Allah, untuk senantiasan merenungi nikmat yang telah diberikan-Nya. Kemudian kita mensyukurinya dan mewujudkannya melalui amalan yang bermanfaat. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mulia, aamiin.

Penyusun:

Uswatun Chasanah

Psikologi UII

 

Mutiara Hikmah

Doa Syukur

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. (Q.S. An-Naml [27]: 19)

Download Buletin klik disini

Waktumu Engkau Habiskan Untuk Apa?

Bismillah washalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du.

Pembaca yang dirahmati Allah ﷻ, waktu merupakan bagian dari kehidupan dan nikmat terbesar yang Allah ﷻ  berikan kepada manusia. Waktu inilah yang menjadi tempat manusia menjalankan segala aktivitas dan keperluan hidupnya. Namun Allah ﷻ memberikan manusia nikmat waktu ini bukan untuk mencari kenikmatan dunia semata, tetapi untuk menjadi bekal manusia dalam mempersiapkan dirinya ketika di akhirat nanti. Orang yang cerdas akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin dengan banyak beramal dan beribadah, dan orang yang merugi adalah mereka yang menyia-nyiakan waktunya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Allah ﷻ berfirman, “Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu. Dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.S. Ibrahim [14]: 32-34)

Dalam ayat tersebut Allah ﷻ telah mengindikasikan nikmat-nikmatnya yang Dia berikan kepada manusia salah satunya adalah nikmat siang dan malam yaitu nikmat waktu.

Karena begitu agungnya nikmat waktu ini Allah ﷻ bahkan bersumpah pada firman-Nya dibeberapa ayat al-Qur’an dengan bersumpah pada waktu, Allah ﷻ tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung, hal inilah yang menjadi isyarat bahwa betapa pentingnya waktu itu untuk digunakan dan dimanfatkan dengan sebaik-baiknya.

Allah ﷻ berfirman, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran” (Q.S. al-‘Ashr [103]: 1-3). Begitupula Allah ﷻ bersumpah dengan waktu Dhuha (Q.S. adh-Dhuha [93]: 1-2), waktu malam (Q.S. al-Lail [92]: 1-2) dan beberapa ayat lainnya. Maka dari itulah sepatut seorang muslim tidak menyia-nyikan waktu mereka.

Zaman sekarang dengan penuh perkembangan di berbagai hal, manusia terkadang terlena oleh banyaknya fasilitas dan sarana yang membuat diri mereka membuang-buang waktu, seperti menghabiskan waktu dengan bermain gadget, bermain game, banyak tidur,menghabiskan waktu di sosial media, membaca berita-berita yang tidak ada kepentingan bagi dirinya, hangout, nongkrong, kongko dan sebagainya. Hal ini sangatlah tidak bermanfaat sama sekali, karena tidak memberikan imbas yang baik bagi dirinya, orang lain, agamanya dan tidak memberikan bekal apapun untuk dirinya di masa depan nanti atau bahkan akhirat.

Perhatikanlah perkataan emas yang dinukilkan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah.[1]

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil.” (Al-Jawabul Kaafi hal. 156)

Apalagi dimasa muda dimana pemuda pemudi yang pada saat itu sedang masa-masanya semangat dan produktif untuk mengembangkan diri, namun banyak dari mereka yang tidak mempergunakan waktunya pada hal-hal yang bisa mengembangkan dirinya dan mempersiapkan bekal untuknya di akhirat.Seorang tabi’in wanita yaitu Hafshah binti Sirin pernah menuturkan, “Wahai para pemuda, kerahkanlah potensi kalian selagi kalian masih muda. Karena, saya tidak melihat adanya kemungkian beramal, kecuali di masa muda.” (Shifatush Shafwah, IV: 24, karya Ibnul Jauzi)

Oleh karenanya banyak manusia yang tertipu pada kenikmatan yang diberikan oleh Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ bersabda,

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (H.R. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “Seseorang bisa saja ia sehat tapi ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan pekerjaannya. Atau ia memiliki waktu luang tapi tidak sehat. Jika keduanya berkumpul (sehat dan waktu luang), lalu ia bermalas-malasan untuk melakukan ketaatan, maka dialah orang yang tertipu. Dunia adalah ladang akhirat, di dalamnya ada perniagaan yang jelas keuntungannya di akhirat, siapa yang menggunakan waktu luang dan sehatnya untuk taat kepada Allah, maka ia adalah orang yang sukses. Tapi, siapa yang menggunakannya dalam maksiat kepada Allah, maka ia adalah orang yang tertipu. Karena setelah waktu luang akan datang kesibukan dan setelah sehat akan datang sakit.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 18/219, Mawqi’ al-Islam)

Oleh karena itulah seseorang hendaknya tidak boleh ia sekali-kali menunda-nunda kebaikan dan ketaatan, bermal shalih dan menuntut ilmu. Bila berada pada waktu pagi jangan menunggu waktu sore, jika berada pada waktu sore jangan menunggu waktu pagi, pergunakanlah umur dengan sebaik-baiknya karena seseorang tidak tahu tentang umurnya dan apa yang akan terjadi esok hari [2].

Rasulullah ﷺ bersabda,“Manfaatkan lima hal sebelum datangnya lima hal; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa cukupmu sebelum datang masa fakirmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.” (H.R. al-Hakim (IV/306), dari Ibnu ‘Abbas)

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, “Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawaid hal. 44)

Ketika seorang membuang-buang waktu berarti dia telah menyia-nyiakan kesempatannya untuk beramal, karena dengan amal tersebutlah yang dapat menjadi bekal dirinya untuk kehidupan yang nyata yaitu akhirat yang kekal abadi. Sedangkan kematian hanya sebatas pemutus dirinya dari kehidupan dunia dan seisinya.

Imam Hasan al-Bashri pernah berkata, “Hai anak adam! Engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika satu hari berlalu, maka berlalulah sebagian dari dirimu.” [3]

Bahkan Ibnu Mas’ud a beliau pernah mengatakan tidak ada yang lebih disesalinya selain hari telah berlalu tetapi amalannya tidak bertambah, dia berkata, “Aku belum pernah menyesali sesuatu seperti halnya aku menyesali tenggelamnya matahari, dimana usiaku berkurang, namun amal perbuatanku tidak juga bertambah.” [4]

Seseorang hendaknya sadar betapa pentingnya waktu itu, waktu akan berlalu begitu cepat dan tidak akan pernah kembali lagi. Orang yang lalai akan menyesali hidupnya, semua penyesalan itu akan dirasakan ketika manusia telah di bangkitkan lagi lalu dikumpulkan di padang mahsyar untuk menunggu pengadilan Allah ﷻ di akhirat kelak. Wallâhu ta’ala a’lam.[]

Penyusun:

Much Diki Mualimin

Mahasiswa Ahwal Syakhshiyah

Universitas Islam Indonesia

 

[1] https://muslim.or.id/42113-menyia-nyiakan-waktu-lebih-berbahaya-dari-kematian.html

[2] Yazid bin Abdul Qadir Jawas – Waktumu, Dihabiskan Untuk Apa? – Bogor – Pustaka At-Taqwa – 2015 – Cet. Ketiga – Hal. 92

[3] Syaikh Abdul Fattah – Manajemen Waktu Para Ulama –Sukoharjo – Pustaka Zam-Zam – 2019 – Cet. Keempat – Hal. 55

[4] Ibid; 54

 

Mutiara Hikmah

Sayyidul Istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (H.R. Bukhari no. 6306)

Download Buletin klik disini

 

Malu Dalam Islam

Bismillāhi walhamdulillāhi wash shalātu was salāmu ‘alā rasūlillāhi,

Pembaca setia buletin al rasikh yang semoga dirahmati Allah ﷻ, apa yang pertama kali muncul di dalam benak kita ketika mendengar kata malu? Kebanyakan orang mungkin akan mengatakan malu itu kuper (kurang pergaulan), malu itu gak keren, malu itu minderan, malu itu akan merugikan, malu itu akan membuat pelakunya mudah terkucilkan. Hmmm apalagi ya? Nah itu adalah beberapa pendapat yang mungkin sering kita dengar di kalangan masyarakat terkait adanya rasa malu dalam diri seorang muslim. Seolah-olah malu adalah keburukan yang akan mengantarkan pelakunya kepada kesengsaraan. Benarkah demikian? Lalu bagaimana sebenarnya Islam memandang rasa malu dalam diri seorang muslim?

Pengertian Malu

Dari segi bahasa, malu (al-hayâ’) dalam At-taufiq ‘ala Muhimmat at-Ta’arif disebutkan bahwa malu adalah menahan diri dari melakukan sesuatu dengan alasan takut akan celaan dari orang lain. Sedangkan dari segi istilah disebutkan, malu adalah salah satu akhlak terpuji yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan yang jelek dan menahan dirinya dari merampas hak orang lain[1].

Ar-Raghib juga menyebutkan dalam kitab Fath al-Bari berkata, “Malu adalah menahan diri dari berbuat hal-hal yang tidak baik (buruk). Malu adalah sebuah karakter khusus bagi manusia berupa naluri untuk menahan dirinya dari hal-hal yang diiinginkan oleh nafsunya sehingga ia berbeda dengan binatang” [2].

 Pembagian Sifat Malu

Sifat malu terbagi menjadi 2 macam, yaitu malu yang terbentuk secara alami (bawaan) dan malu yang terbentuk karena usaha.

Pertama, malu yang terbentuk secara alami, merupakan malu yang sudah menjadi bawaan dari seseorang, ia tidak memerlukan usaha untuk membentuk rasa malu itu. Malu secara alami (naluri) sebenarnya dimiliki oleh setiap orang dan merupakan anugerah dari Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda, “Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan” (H.R.Bukhari).

Kedua, malu yang terbentuk karena usaha merupakan malu yang diusahakan dan direalisasikan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Malu ini diperoleh dari proses mengenal Allah ﷻ, mengenal Rasulullah ﷺ dan mengenal Islam. Malu ini juga diperoleh dari kedekatan seorang muslim kepada Allah ﷻ. Kedekatan dengan Allah ﷻ akan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah ﷻ, kepada Rasulullah ﷺ dan kepada Islam. Rasa cinta akan mengantarkan seseorang kepada sikap patuh dan taat terhadap ajaran-ajaran islam, salah satunya adalah terdorong untuk berakhlak islam yaitu memiliki rasa malu.

Tiga Bentuk Malu

  1. Malu kepada Allah ﷻ

Seseorang yang memiliki rasa malu kepada Allah ﷻ, maka ia akan berusaha untuk meninggalkan segala yang Allah ﷻ benci dan mengerjakan segala yang Allah ﷻ sukai. Sifat malu kepada Allah ﷻ akan mengantarkan pemiliknya malu untuk berbuat dosa, karena ia memiliki sifat muraqabatullah yaitu sifat merasa selalu diawasi oleh Allah ﷻ dalam setiap kondisi kapanpun dan dimanapun.

  1. Malu kepada diri sendiri

Seseorang harus mempunya rasa malu kepada dirinya sendiri. Malu kepada diri sendiri berarti malu ketika ingin melakukan kesalahan tatkala sendiri. Sehingga ketika memiliki niat untuk berbuat dosa tatkala sendiri, malu itulah yang menghalangi untuk melakukannya.

  1. Malu kepada orang lain

Tidak hanya malu kepada Allah dan diri sendiri, kita harus mempunyai malu kepada orang lain. Orang yang memiliki rasa malu kepada orang lain, maka ia tidak akan berani melakukan kesalahan ataupun dosa di hadapan orang lain.

 

Keutamaan Rasa Malu

  1. Malu adalah akhlak Allah dan akhlak yang dicintai-Nya

Nabi pernah Rasulullah ﷺ bersabda kepada Asyaj bin Abdul Qais, “ Sungguh dalam dirimu ada dua karakter yang Allah sukai yaitu sifat malu dan murah hati.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi).

Rasulullah ﷺ juga bersabda,“ Sungguh, Allah itu pemalu. Allah malu apabila seseorang mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, tetapi Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.” (HR. Tirmidzi).

  1. Malu adalah kebaikan dan cabang keimanan

Rasulullah ﷺ bersabda, “Rasa malu tidak akan mendatangkan sesuatu, kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari)

dalam hadist lain Rasulullah ﷺ  juga bersabda, “Malu adalah salah stau cabang dari keimanan”

  1. Malu adalah perhiasan dan keindahan bagi manusia

Rasulullah ﷺ  bersabda, “Tidaklah kekejian ada pada suatu perbuatan melainkan akan merusak nilai perbuatan itu, dan tidaklah rasa malu ada pada suatu perbuatan melainkan akan memperindah perbuatan itu.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)

  1. Malu adalah akhlaknya malaikat dan akhlak Islam

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh, aku merasa malu terhadap seorang lelaki yang para malaikat pun merasa malu terhadapnya.” (HR. Muslim)

Nabi juga bersabda,

“Setiap agama pasti memiliki ajaran moral (akhlak) dan akhlaknya islam adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Malu adalah akhlaknya para Nabi

Rasulullah ﷺ  pernah menceritakan terkait Nabi Musa, beliau mengatakan bahwa Nabi Musa adalah “Sosok yang pemalu lagi tertutup. Kulitnya tidak terlihat sedikitpun saking pemalunya.” (HR. Bukhari)

  1. Malu akan mengantarkan ke surga

Rasulullah ﷺ bersabda, “ Malu merupakan bagian dari iman dan iman tempatnya di surga. Bertingkah sembarangan berasal dari tabiat yang kasar. Sifat kasar tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi)

  1. Malu adalah tanda hidupnya hati

Dalam Al-mausu’ah al-Fiqhiyah seorang ulama berkata: “Malu adalah bagian dari hidup. Karena hati yang hidup dapat menghadirkan sifat malu. Sebaliknya, sedikitnya rasa malu akibat dari hati dan jiwa yang sekarat.” [3]

  1. Malu dan Iman saling berkaitan

Rasulullah ﷺ bersabda, “Iman dan malu adalah sesuatu yang saling terkait, apabila salah satunya lenyap, maka lenyaplah yang lainnya.” (H.R.al-Hâkim (I/22), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/223), al-Mundziri dalam at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3827), Abû Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (IV/328, no. 5741), dan selainnya. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3200).

Begitulah malu dalam Islam dan keutamannya. Keberadaan malu dalam diri seseorang tidak mengantarkannya pada keburukan, justru akan membawa kepada kebaikan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.[]

Marâji’

[1] Muhammad bin Musa asy-Syarif. Malu: Sebuah Refleksi Keindahan dan Kewibawaan Seorang Wanita. Solo:Tinta Medina. 2016 M. Cet.k-1. hal. 1-2.

[2] Ibid. hal. 2-3.

[3] Ibid. hal. 4-5.

https://almanhaj.or.id/12190-malu-adalah-akhlak-islam-2.html

https://wahdah.or.id/hilangnya-rasa-malu/

https://www.alirsyad.or.id/malu-dalam-islam/

 

Penyusun:

Indayana Ratna Sari, S.Si.

S2 Pendidikan Kimia UNY

 

Mutiara Hikmah

Rasulullah  ﷺ  bersabda,

كُلُّ أُمَّـتِيْ مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ

“Setiap umatku pasti dimaafkan, kecuali orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan”. (H.R.al-Bukhâri no. 6096 dan Muslim no. 2990)

 

Download Buletin klik disini

Keutamaan Sabar

Bismillāhi walhamdulillāhi wash shalātu was salāmu ‘alā rasūlillāhi

Pembaca yang budiman, dalam mengarungi kehidupan, Allah ﷻ sejatinya telah menyediakan bagi kita seperangkat instrumen dan petunjuk guna memperoleh keselamatan dan kebaikan, baik ketika di dunia maupun di akhirat. Seperangkat instrumen dan petunjuk sebagai sebuah “peralatan hidup” tersebut sengaja diberikan oleh Allah ﷻ kepada kita untuk kita pergunakan dan ikuti, sebab hidup sungguh teramat rumit untuk dipahami dan sukar untuk dijalani dengan hanya mengandalkan daya dan intelegensia manusia semata, tanpa melibatkan petunjuk dari Allah ﷻ.

Apalagi dalam kondisi saat dunia dilanda pandemi seperti saat ini, satu-satunya tempat kita bergantung yang paling tepat, tidak mungkin ingkar janji dan maha benar atas segala firman-Nya adalah Allah ﷻ. Dalam situasi apapun, Allah ﷻ secara lugas mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

 

Kondisi Sabar

Salah satu dari petunjuk dan alat yang disediakan oleh Allah ﷻ untuk kehidupan kita adalah sabar. Menurut Dzun nun al-Misri ada 3 kondisi yang dapat mendefinisikan sabar.

Pertama, kesabaran adalah ketika kita menghindarkan diri dari hal-hal yang menyimpang, kedua berusaha untuk selalu tenang ketika ditimpa ujian, dan ketiga ketika kita tetap marasa diri kita cukup meski ditimpa kefakiran hidup. [1]

Sedangkan al-Jurjani dalam kitab at-Ta’rifat-nya menyebut sabar sebagai upaya untuk meninggalkan keluh kesa kepada selain Allah ﷻ saat sedang mendapatkan cobaan. Menurutnya, satu-satunya keluh kesah yang tidak bertentangan dengan konsep sabar adalah berkeluh-kesah kepada Allah subhanahu wata’ala.[2]

Lantas mengapa sabar itu penting bagi kehidupan kita dan apa keutamaan di balik penerapannya?

Keutamaan Sabar

Semua petunjuk dan perintah agama tentu tidak hadir begitu saja tanpa ada maksud di baliknya. Begitu juga dengan sabar sebagai salah satunya, yang kehadirannya tidak sekadar bertujuan melatih mental dan ketahanan diri menghadapi kesulitan saja, tetapi tentu lebih dari itu. Banyak alasan mengapa kita bukan hanya perlu untuk bersabar, tetapi bahkan harus menerapkannya di kehidupan kita. Salah satunya karena ia bisa menjadi sarana untuk menghapus dosa-dosa kita yang telah lampau.

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda, “Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun duka cita sampai-sampai pada tertusuk duri. Niscaya Allah akan menebus dosanya dengan apa yang menimpanya itu.”(H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas inheren dengan salah satu ayat di dalam al-Quran yaitu, “Sungguh kami akan berikan kepada kamu sekalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 155)

Al-Maraghi menjelaskan, ayat di atas menggambarkan tentang bagaimana kualitas keimanan seseorang tidak ditentukan dari harta maupun keberaniannya, melainkan dari kesabaran ketika menghadapi kesulitan.[3] Menurut para mufasir, ayat 155 di atas memiliki korelasi dengan 2 ayat selanjutnya, yakni ayat 156 dan 157 yang menjelaskan tentang siapa yang dimaksud dengan orang sabar pada ayat 155 dan juga berkenaan dengan balasan dari Allah ﷻ terhadap mereka yang bersabar berupa ampunan dan rahmat-Nya, serta dikategorikan ke dalam orang-orang yang mendapat petunjuk.

Sabar seharusnya dapat menjadi karakter dari diri kita. Meskipun bersabar kadang tidak mudah dilakukan, tetapi ia perlu untuk terus dilatih. Salah satu caranya dengan senantiasa melihat sisi lain dari kesulitan yang tengah kita alami. Di balik ketidaknyamanan kondisi yang kita hadapi serta musibah dan ujian yang kita terima, sesungguhnya terdapat banyak hal lain di kehidupan kita yang sangat layak untuk kita syukuri. Selain melalui cara itu, memiliki keyakinan bahwa Allah ﷻ menitipkan cobaan kepada kita satu paket dengan solusinya serta cobaan hanya diberikan sesuai dengan kadar kemampuan kita juga akan membuat kita terlatih untuk menjadi pribadi yang selalu sabar dan tidak menyangsikan kasih sayang serta rahmat dari Allah ﷻ.

Sebagaimana Nabi ﷺ, figur yang paling dan akan terus relevan untuk kita jadikan teladan memberi contoh melalui sepanjang kisah hidup dan riwayat kenabiannya. Kita tentu ingat, bahkan sejak lahir Nabi ﷺ telah mendapatkan ujian dari Allah ﷻ melalui kematian ayahanya, yang kemudian disusul ibunda beliau pada usia 6 tahun. Ujian Nabi ﷺ terus berlanjut bahkan sampai sepanjang hidupnya, terutama ketika berada di fase dakwah yang bahkan beberapa kali nyaris dibunuh oleh musuh Islam kala itu. Belum lagi berbagai cacian, hinaan, fitnah, teror dan tugas-tugas kenabian yang sulit yang rasa-rasanya tak terbayang lagi betapa beratnya ujian yang dialami oleh beliau. Tetapi, Nabi ﷺ tidak pernah dendam, marah, menyerah apalagi murka dengan ketetapan Allah ﷻ dalam hidup beliau. Sebagai umatnya, sudah seharusnya kita senantiasa berusaha untuk meneladaninya.

Apalagi musibah dan cobaan sejatinya merupakan pertanda jika Allah ﷻ menginginkan kita untuk naik kelas dan sinyal bahwa Allah ﷻ menghendaki kebaikan bagi kita. Nabi ﷺ pernah bersabda dari Abu Hurairah,“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang baik, maka ditimpakan musibah (ujian) kepadanya.”(H.R. Bukhari)

Ujian dari Allah ﷻ juga merupakan cara Allah ﷻ dalam memberikan pahala kepada kita, sebagaimana disampaikan Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah Ta’ala mencintai suatu bangsa maka Allah menguji mereka; barangsiapa yang ridha maka Allah akan meridhainya dan barangsiapa yang murka maka Allah akan memurkainya.”(H.R. Turmudzy)

Lebih jauh lagi, sabar kita perlukan, sebab persangkaan kita terhadap sesuatu yang terjadi kepada kita pun juga terbatas. Allah ﷻ berfirman, “…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”(Q.S. al-Baqarah [2]: 216)

Oleh karena itu, terhadap kondisi yang saat ini kita hadapi, ujian dan kesulitan yang datang bertubi-tubi dan dari berbagai hal di kehidupan kita seyogianya kita berusaha untuk menyikapinya dengan bijaksana, yaitu bersikap sabar, tenang, berpikir jernih dan menggali hikmah di baliknya, sehingga selalu bisa menemukan alasan untuk tetap bersyukur. Meyakini bahwa Allah ﷻ lah sebaik-baik pembuat rencana dan selalu berprasangka baik kepadaNya.[4]

Melatih kesabaran dapat dimulai dari hal-hal yang kecil sehingga membuat kita jauh lebih tangguh untuk menghadapi ujian pada tingkatan berikutnya, sebagaimana ujian-ujian di sekolah atau kuliah. Al-Ghazali bahkan mengatakan bahwa sabar adalah bagian dari agama, ia merupakan ciri khas manusia yang membedakannya dengan hewan dan malaikat.[5] Sabar ialah simbol dari kontrol diri.

Semoga kita semua senantiasa diberikan keteguhan hati dan kekuatan jiwa dan raga dalam menghadapi segala kondisi serta dijauhkan dari keinginan sekecil apapun untuk berputus asa dari rahmat Allah ﷻ. Wallāhul muwāffiq ilā aqwāmit-thāriq. Wallahu a’lam.

 

Penyusun:

Ghazian Luthfi Zulhaqqi

Alumni Program Studi Ahwal al-Syakhsiyah

FIAI UII tahun 2018

 

Marâji’:

[1] Amirulloh Syarbini dan Jumari Haryadi, Sabar,Syukur dan Ikhlas Muhammad, (Jakarta: Ruang Kata, 2010), hlm. 2-4

[2] Ahmad Hadi Yasin, Dahsyatnya Sabar, (Jakarta: Qultum Media. 2009), hlm. 11.

[3] Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsīr al-Maraghi, Juz II, (Mesir: Maktabah Mushtafa al-Bab al-Halabi, 1946), Cet I, hlm. 25.

[4] Ibn Taimiyyah, Gerak-Gerik Qalb, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2005), hlm.64.

[5] Media Zainul Bahri, Menembus Tirai Kesendiriannya, (Jakarta: Prenada Media, 2005), Cet.1, hlm. 69.

 

Mutiara Hikmah

Allah ﷻ berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S. Az-Zumar [39]: 10).

Download Buletin klik disini

Untukmu Yang Sedang Terjatuh Dalam Kubangan Dosa!

Bertobatlah Wahai Jiwa

Saudaraku, yang saat ini tergelincir oleh penyesata setan. Bertobatlah. Taubat haruslah dilakukan, tanpa menunda-nunda. Allah sungguh Maha Pengampun dan Maha Penerima taubat.

Dari Anas bin Mâlik radiallahu anha ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh ﷺ bersabda, ‘Allâh ﷻ berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.”  (H.R. at-Tirmidzi)

Saudaraku, bertaubatlah dengan kesungguhan dan penuh pengharapan. Berbaik sangkalah pada Allah ﷻ jika dosa dosamu akan diampuni . Jangan pernah ragu, maupun takut dosa kita tidak diampuni selama kita melakukanya dengan cara yang tepat. Jangan pernah berburuk sangka terhadap luasnya ampunan Allah ﷻ. sungguh, jika seandainya Fir’aun yang mengaku Tuhan sampai bertobat, maka Allah pasti akan mengampuni.

Nabi ﷺ melarang seseorang berdo’a dengan pesimis dan keraguan pada Allah dengan lafadz, “Ya Allâh, ampunilah aku jika Engkau berkehendak,” namun hendaklah ia serius dalam meminta karena Allâh tidak bisa dipaksa oleh apapun.(H.R. Bukhari)

Kita Punya Allah, yang Maha Penyayang

Kasih sayang terbesar di alam semesta adalah kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Terlebih lagi sebagaimana kondisi wanita yang disebutkan dalam hadits, dimana ia baru saja kehilangan anaknya lantas iapun mencari-cari sang anak. Akhirnya iapun bertemu dengan anaknya yang hilang tersebut, lalu iapun mendekapnya dan menyusuinya. Inilah kondisi kasih sayang terbesar dari seorang ibu terhadap anaknya.

Namun Rasulullah ﷺ, pernah bersabda jika ternyata kasih sayang Allah terhadap hambanya itu jauh lebih besar dibandingkan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.

Dari ‘Umar bin Al-Khattab ia berkata, “Tawanan perang didatangkan kepada Nabi ﷺ, tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang yang sedang mencari. Tatkala ia mendapatkan seorang anak di kalangan para tawanan maka iapun mengambil anak kecil tersebut lalu ia peluk dan menyusuinya. Maka Rasulullah ﷺ  kepada kami, “Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya di api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah, tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah ﷺ berkata, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada wanita ini terhadap anaknya” (H.R Al-Bukhari, no. 5999 )

Saudaraku, Jika ada seorang anak nakal, yang selalu menjadikan ibunya marah dengan kenakalanya lalu sang anak pergi dari rumah dengan waktu yang lama maka justru sang ibu akan sangat bersedih atas kepergian anaknya, ibunya akan menunggu-nunggu kepulangan buah hatinya dan melupakan semua kenakalan yang pernah ia lakukan. Sang ibu akan tetap menyayangi anaknya bagaimanapun kesalahannya. Apalagi sang anak, jika sesudah bersalah dia meminta maaf dengan bercucuran air mata. Maka pasti akan luluh hati sang ibunda untuk memafkannya.

Sungguh saudaraku, perumpamaan kasih sayang Allah itu jauh lebih tinggi dari pada kasih sayang ibu terhadap anaknya. Allah akan mencintai seorang hamba yang melakukan kesalahan lantas meminta maaf dan  memohon ampun pada Allah.

Ada seorang pemuda sahabat Dzun Nuun yang berkeliling dan menyeru, “Aduuuh…dimana hatiku?, siapakah yang menemukan hatiku?

Maka suatu hari ia melewati sebuah lorong lalu ia mendapati seorang anak kecil yang sedang menangis sementara ibunya memukulinya. Lalu ibunya mengeluarkan anak tersebut dari rumah dan mengunci pintu rumah. Jadilah sang anak melihat ke kanan dan ke kiri, ia tidak tahu harus kemana pergi, kemana ia harus menuju. Lalu iapun kembali ke pintu rumah, lalu ia menangis seraya berkata,

“Wahai ibu, siapakah yang akan membukakan pintu jika engkau telah menguncinya?”

“Siapa yang mendekatiku jika engkau telah mengusirku?”

“Siapakah yang mendekatiku jika engkau telah marah kepadaku?”

Maka ibunya pun menjadi iba kepadanya. Lalu sang ibu melihat dari celah-celah pintu, maka ia mendapati anaknya sedang mengalirkan derasnya air mata hingga membasahi pipinya sambil menghamparkannya ke tanah. Maka sang ibupun membukakan pintu lalu mengambil sang anak dan meletakannya di pangkuannya lalu menciumnya dan berkata,

“Wahai buah hatiku, wahai sayangku, engkaulah yang menjadikan ibu melakukan ini semua, engkau yang menyebabkan ini menimpamu. Kalau engkau taat kepadaku tentu engkau tidak mendapati dariku apa yang kau benci.”

Maka pemuda ini pun seperti mendapatkan sesuatu, lalu ia berdiri dan berteriak, “Sungguh aku telah menemukan hatiku, sungguh aku telah menemukan hatiku”

Allah Bergembira dengan Dosa yang Kita Taubati

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwasanya firman Allah ﷻ, ”Dan Dialah Yang MahaPengampunlagiMahaPengasih” (Q.S al-Buruuj [2]: 14) adalah bantahan kepada orang-orang yang menganggap kalau seorang hamba yang bermaksiat kemudian bertaubat maka dia tidak akan dicintai oleh Allah ﷻ. Tetapi barangsiapa yang berdosa kemudian bertaubat kepada Allah l maka taubatnya akan diterima oleh Allah lalu Allah akan kembali mencintainya. Itulah rahasia digandengkannya antara al-ghafûr (Yang Maha Pengampun) dan al-wadûd (Yang Maha Mencintai)

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (H.R. Muslim no. 2747).

Mengenai hadits ini, Dr Firanda berkata, “Orang ini sangat gembira karena dia menyangka bahwasanya dirinya akan meninggal tetapi ternyata selamat. Namun Allah lebih gembira dengan taubatnya seorang hamba daripada gembiranya orang ini. Oleh karena itu, jika seseorang berdosa maka hendaknya segera bertaubat kepada Allah. Bahkan ketika dia kembali melakukan dosa yang dahulu juga pernah dilakukannya. Hendaknya dia tidak suudzan kepada Allah, ketika dia mulai ragu dan suudzan kepada Allah maka dia telah dimasuki oleh setan. Setan ingin agar dia meninggal dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah.”

 

Penyusun:

Yonatan Yolius Anggara

Santri Pondok Pesantren Mahasiswa

Nur Baiturrahman Yogyakarta

 

Marâji’

Abdurrahman, asy Syaikh bin Nashir as-Sa’di, 2006, Taisir al-Karimir Rahman Fi Tafsiri Kalamil Mannan, (Beirut: Mu’asasah ar-Risalah). hal. 918.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Muassasah Ar-Risalah. Cet.k-10.hal 44-45

Firanda Andiraja.Luasnya Rahmat Allah Bahkan Kepada Pelaku Maksiat.2018. https://firanda.com/1830-luasnya-rahmat-allah-bahkan-kepada-pelaku-maksiat.html

 

Mutiara Hikmah

Dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ beliau bersabda:
لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (H.R. Muslim no. 2590)

 

Download Buletin klik disini

 

 

Bahaya Dusta

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Pembaca yang semoga dirahmati Allah ﷻ, Islam adalah agama yang sempurna. Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ, “…Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu…” (Q.S. al-Maidah [5]: 3). Syari’at Islam begitu rapi dalam mengatur kehidupan manusia mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Termasuk di dalam syari’at Islam adalah kita diwajibkan menjaga lisan dari hal-hal yang diharamkan. Allah ﷻ berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (Q.S. al-Isra’ [17]: 36). Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman, “Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (Q.S. al-Hajj [22]: 30).

Kedua ayat ini menunjukkan bahwa kita sebagai manusia diharamkan untuk mengatakan hal-hal yang dusta. Begitu banyak sekarang ini kita melihat di berbagai media orang-orang yang berbicara tanpa disertai ilmu. Bahkan di media sosial kita bisa melihat sendiri bahwa banyak orang berkomentar tentang agama tetapi tidak disertai ilmu yang mapan apalagi berkaitan dengan hukum-hukum di dalam agama.

Syari’at Islam sangat sempurna dalam mengatur kehidupan sehingga ada pengharaman yang berkaitan dengan berkata dusta. Baik itu dusta dalam hal agama maupun dusta dalam hal dunia. Oleh karena itu, ingatlah firman Allah ﷻ, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Q.S. Qaf [50]: 18). Segala hal yang kita ucapkan selalu diawasi dan dicatat oleh malaikat yang Allah ﷻ tugaskan untuk mencatat amal perbuatan kita.

Perkataan dusta itu mengarah kepada tindak kejahatan dan masuk dalam kategori pembohong. Hal ini sebagaimana hadis dari Ibnu Umar k, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda,  “Sejahat-jahat dusta adalah apabila seseorang mengaku kedua matanya melihat apa yang tidak dilihatnya.” (H.R. Bukhari).

Juga terdapat dalam hadits dari Ibnu Mas’ud a, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya berkata benar itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan bisa menyampaikan ke surga. Sungguh, orang yang benar itu dapat dicatat di sisi Allah sebagai shiddiq (pembenar) dan dusta itu mengarah kepada tindak kejahatan, dan tindak kejahatan bisa membawa ke neraka. Sesungguhnya orang yang berdusta pada akhirnya akan dicatat di sisi Allah sebagai pembohong.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Perkataan dusta juga bisa menjerumuskan ke dalam kategori munafik. Hal ini sebagaimana hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash k bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Ada empat sifat yang barangsiapa jatuh ke dalamnya berarti ia orang munafik sejati. Dan barangsiapa terjerumus pada salah satu dari empat sifat itu, berarti dalam dirinya terdapat salah satu sifat kemunafikan, sampai ia mau meninggalkan sifat tersebut. Empat sifat itu adalah apabila ia dipercaya, ia khianat, apabila berbicara, ia dusta, apabila berjanji, ia ingkar. Dan apabila bermusuhan, ia berbuat keji.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Tentu hadits ini menjadi pedoman bagi kita untuk selalu menjaga lisan kita dari perkataan-perkataan yang diharamkan oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya.

Perkataan dusta tidak dilihat dari besar atau kecilnya dusta yang diucapkan. Hal ini sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas k dari Nabi ﷺ beliau bersabda, “Barangsiapa mengaku bermimpi dengan sesuatu impian padahal yang sebenarnya ia tidak memimpikannya, maka ia nanti akan dituntut untuk menyambung dua biji gandum, padahal tidak mungkin ia akan dapat melakukannya. Barangsiapa mendengarkan pembicaraan sekelompok orang dimana sebenarnya yang bersangkutan tidak senang apabila pembicaraannya itu didengar, maka nanti pada hari kiamat akan dituangkan ke dalam telinganya cor-coran timah. Dan barangsiapa menggambar suatu benda hidup, maka nanti ia akan disiksa dan dituntut untuk meniupkan roh ke dalam gambar itu padahal ia tidak akan mampu untuk meniupkannya.” (H.R. Bukhari). Padahal dalam hadits tadi hanya dusta yang berkaitan dengan mimpi, namun hal tersebut tetap diharamkan dalam Islam karena efek dari dusta amat sangat berbahaya sebagaimana hadits-hadits yang telah disebutkan di atas.

Jika dusta yang berkaitan dengan mimpi saja diharamkan, apalagi berdusta yang berkaitan dengan Nabi ﷺ. Hal ini sebagaimana hadits dari Samurah a, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa menceritakan dariku suatu hadis yang ia ketahui hadis itu bohong, maka ia adalah salah seorang pembohong.” (H.R. Muslim). Bahkan akan dibangunkan rumah di neraka jahannam bagi yang berdusta atas nama Nabi ﷺ. Hal ini sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, “Barangsiapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di (neraka) jahannam.” (H.R. Thabrani).

Berdusta atas nama Nabi ﷺ jauh lebih berbahaya daripada berdusta atas nama orang-orang yang lainnya. Hal ini sebagaimana hadits dari al-Mughirah, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Mengapa berdusta atas nama Nabi ﷺ jauh lebih berbahaya daripada berdusta atas nama orang-orang yang lainnya? Karena jika yang disampaikan itu adalah kedustaan atas nama Nabi ﷺ, maka orang yang tidak mengetahui akan mengira bahwa itu merupakan bagian dari agama. Oleh karena itu, ada ancaman yang berat jika berdusta atas nama Nabi ﷺ sebagaimana hadits-hadits yang telah disebutkan di atas.

Dusta adalah perkataan yang diharamkan. Meskipun demikian, ada dusta yang diperbolehkan di dalam Islam. Perkataan adalah sarana untuk menyampaikan maksud. Apabila maksud tujuannya itu baik dan dapat dicapai dengan tanpa berdusta, maka menyampaikan dengan berdusta itu hukumnya haram. tetapi apabila tidak bisa disampaikan kecuali harus berdusta, maka berdusta dalam hal ini diperbolehkan. Bahkan dalam hal ini ada dusta yang diwajibkan, misalnya ada orang Islam bersembunyi dari orang yang menganiayanya dimana ia akan membunuhnya atau akan merampas hartanya, maka bagi orang yang ditanya tentang orang Islam tersebut wajib ia berdusta, misalnya dengan mengatakan “tidak tahu” walaupun sebenarnya ia mengetahuinya. Begitu pula apabila seseorang dititipi sesuatu kemudian ada seseorang yang bermaksud merampoknya, maka ia wajib berdusta.

Dari Ummu Kultsum i bahwasanya ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah dinamakan berbohong , orang yang mendamaikan sengketa diantara manusia. Ia menyampaikan kebaikan atau mengucapkan perkataan yang mendatangkan kebaikan.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, bahwasanya Ummu Kultsum i berkata, “Saya tidak pernah mendengar Rasulullah ﷺ memberikan kemurahan dalam masalah ucapan manusia (kaum muslimin), kecuali dalam tiga hal, yaitu dalam keadaan perang, mendamaikan sengketa manusia serta omongan lelaki kepada isterinya, dan omongan perempuan kepada suaminya.”

Kita sebagai orang Islam wajib menjaga lisan kita dari berkata dusta, baik itu berdusta dalam perkara besar maupun kecil kecuali pada perkara-perkara yang diperbolehkan seperti yang disebutkan dalam hadis di atas.

Penyusun:

Hendi Oktohiba

Alumni FIAI UII

Mutiara Hikmah

Al-Hasan al-Bashri mengatakan,

مِنَ النِّفَاقِ اِخْتِلاَفُ القَلْبِ وَاللِّسَانِ ، وَاخْتِلاَفُ السِّرِّ وَالعَلاَنِيَّةِ ، وَاخْتِلاَفُ الدُّخُوْلِ وَالخُرُوْجِ

Di antara tanda kemunafikan adalah berbeda antara hati dan lisan, berbeda antara sesuatu yang tersembunyi dan sesuatu yang nampak, berbeda antara yang masuk dan yang keluar.”

(Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, 2: 490)

Download Buletin klik disini

Bahagia Dengan Bersyukur

Bahagia Dengan Bersyukur

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Pembaca yang dirahmati Allah ﷻ, setiap manusia tentunya menghendaki kehidupan yang bahagia. Tidak ada satupun dari kita yang menginginkan hidup penuh dengan kesedihan, kesulitan, gelisah, dan merasa tidak tentram. Standar dalam mengukur kebahagiaan dalam tiap individu pun beragam. Tidak jarang, sebagai manusia kita belum begitu faham akan ukuran kebahagiaan. Apalagi, kita hidup di dunia yang menyerukan ketidakpuasan.

Kerap kali, ada saja rasa kurang atau tidak ideal yang kita rasakan dalam kehidupan. Kita selalu membandingkan hidup kita dengan orang lain. Misal dari segi harta, keturunan, fisik, penampilan, pencapaian atau prestasi dan masih banyak lagi. Ya, memang tidak masalah jika dijadikan motivasi untuk bisa meraih lebih. Akan tetapi, jika kita membandingkan hanya dapat merusak kesehatan mental dan menghalangi kita untuk bersyukur atas nikmat-Nya, apakah baik?[1]

Padahal, jika kita mau merenungkan, banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat Islam, iman, sehat, keluarga dan lingkungan yang baik, dan masih banyak nikmat-nikmat lain yang tidak dapat kita hitung. Biasanya, awal dari ketidakbahagiaan hidup ialah karena kurangnya rasa syukur atas apa yang kita miliki, dan hal ini karena kita membandingkan hidup kita dengan orang lain.

Apakah dengan memiliki harta yang melimpah, keturunan yang banyak, pencapaian dan karir yang melejit merupakan standar kebahagiaan? Tentunya tidak menjamin, tidak sedikit orang yang bergelimang harta akan tetapi hidup masih diselimuti dengan kesedihan dan rasa kurang. Tidak sedikit orang yang karirnya melejit tetap merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Lantas, sebenarnya dari mana bahagia itu didapatkan?[2]

Sejatinya, kebahagiaan bukanlah didapatkan, melainkan diciptakan. Bahagia diciptakan oleh hati dan fikiran yang terus bersyukur akan nikmat yang diberikan oleh-Nya. Allah ﷻ berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S. Ibrahim [14]: 7).

Dibalik perintah bersyukur kepada Allah ﷻ, tentu mengindikasikan nilai-nilai yang juga memberi dampak baik kepada hamba-Nya. Jika kita sadari, hikmah dibalik perintah Allah ﷻ untuk senantiasa bersyukur, selain akan Allah tambahkan nikmat-Nya, ternyata hal ini juga berpengaruh kepada kesehatan mental kita. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan bersyukur?

Makna Syukur

Secara bahasa, syukur berasal dari kata “syakara” yang memiliki arti pujian atas kebaikan dan penuhnya sesuatu. syukur juga berarti menampakkan sesuatu ke permukaan, yakni menampakkan nikmat Allah. Sedangkan menurut istilah syariat syukur merupakan pengakuan nikmat yang telah dikaruniai oleh Allah ﷻ sesuai dengan kehendak Allah ﷻ. Dalam studi Al-Qur’an syukur merupakan lawan dari kufur. Kufur dimaknai menutup diri, sedangkan syukur diartikan membuka atau mengakui diri.[3]

Menurut Ibnu Qoyyim, syukur berarti menunjukkan adanya nikmat yang Allah ﷻ berikan pada dirinya, dengan lisan berupa pujian kepada Allah, dengan hati melalui saksi dan cinta kepada Allah ﷻ, dan dengan anggota badan berupa ketaatan dan kepatuhan kepada Allah ﷻ.

Upaya untuk Bersyukur

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara bersyukur kepada Allah ﷻ terdiri dari empat komponen, yakni:

  1. Syukur dengan hati

Menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh baik besar maupun kecil, banyak ataupun dikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah ﷻ merupakan upaya wujud bersyukur kepada Allah dengan hati. Allah berfirman dalam al-Qur’an surah an-Nahl ayat 53, “Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah” (Q.S. an-Nahl [16]: 53)

  1. Syukur dengan lisan

Setiap nikmat yang dirasakan oleh manusia bersumber dari Allah ﷻ, serta dengan spontan kita mengucapkan Alhamdulillâh merupakan salah satu bentuk wujud syukur dengan lisan. Karena meskipun kita memperoleh nikmat dari seseorang, lisan kita tetap memuji Allah ﷻ. Sebab kita perlu yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang Allah ﷻ kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya.

  1. Syukur dengan perbuatan

Syukur dengan perbuatan berarti bahwa seluruh nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhai-Nya. Misalnya, untuk beribadah kepada Allah ﷻ, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya.

  1. Menjaga nikmat dari kerusakan

Ketika kita mendapatkan nikmat dan karunia, sebaiknya kita menggunakan nikmat dengan sebaik-baiknya. Kemudian berusaha untuk menjaga nikmat tersebut dari kerusakan. Misalnya, ketika kita dianugerahi kesehatan, selayaknya kita menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit. Begitu pula nikmat iman dan Islam, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam diantaranya dengan sholat, membaca al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdo’a.[4]

Selain itu, terdapat upaya agar menjadi hamba-Nya yang terus bersyukur salah satunya ialah dengan berdo’a memohon kepada Allah ﷻ seperti yang telah dilakukan oleh Nabi Sulaiman ketikan melihat pasukan semut yang menyambut pasukannya. Dikisahkan dalam al-Qur’an surat an-Naml ayat 6,  “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh”. (Q.S. an-Naml [27]: 19)

Dengan berdo’a agar dimudahkan untuk bersyukur, kita bisa melihat apa yang sebelumnya belum tampak. Kita bisa menghargai apa yang ada dan bisa menemukan kenikmatan bahkan dari hal-hal yang selama ini terlihat begitu sederhana. Begitu banyak waktu yang kita habiskan untuk memikirkan apa yang kurang dan belum kita miliki, hingga kita lupa bagaimana untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki selama ini.[5] “Bukan bahagia yang membuat kita bersyukur, tetapi rasa syukurlah yang membuat kita bahagia”. Semoga kita selalu menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur dan bahagia di dunia maupun di akhirat. Âmîn.[]

Penyusun:

Ikke Pradima Sari

NIM: 17422171

Pendidikan Agama Islam FIAI UII

Marâji’

[1] https://republika.co.id/berita/mx5g4h/belajar-qanaah

[2] https://greatmind.id/article/bersyukur-dengan-merasa-cukup

[3] Choirul Mahfud/the Power of Syukur/Surabaya/LKAS/Jurnal Episteme Vo. 9 No.2 Desemner2013

[4] https://www.islampos.com/4-cara-bersyukur-pada-allah-swt-86327/

[5] https://muslim.or.id/30031-jadilah-hamba-allah-yang-bersyukur.html

Mutiara Hikmah

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh”. (Q.S. an-Naml [27]: 19)

Download Buletin klik disini

Belajar Dari Pohon Pisang

Bismillâhi walhamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Pembaca buletin al-Rasikh yang dirahmati Allah ﷻ, Pohon pisang bukanlah suatu jenis pohon yang asing dan langka bagi kita. Tanaman yang tumbuh subur di iklim tropis ini dapat menghasilkan buah yang kaya gizi, daun dan pelepah yang multifungsi, serta batang dan akarnya yang juga memiliki segudang manfaat bagi kita. Pohon berbatang lunak dan berdaun lebar ini masih dapat kita temui di sekeliling kita. Mungkin untuk keberadaannya saat ini  mulai tersaingi dengan keberadaan “pohon” lain yang berbatang beton. Tapi, pohon ini selalu bisa tumbuh dimanapun berada, dalam musim dan cuaca yang berbeda sekalipun.

Hampir seluruh anggota tubuh pohon pisang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Mulai dari akarnya digunakan untuk obat sakit perut, penawar racun, pereda demam. Batangnya yang dipercaya ampuh dalam mengontrol tekanan darah tinggi maupun kadar kolesterol, sampai-sampai batangnya ini telah diperjual belikan di luar negeri dengan harga yang cukup fantastis. Serta daunnya digunakan sebagai pembungkus makanan yang bisa membuat makanan tersebut memiliki cita rasa tersendiri. Adapun buahnya yang lezat dimakan itu ternyata ia termasuk dalam kategori buah surga, lho. Simaklah ayat berikut,

“Pisang” Buah Surga

Allah ﷻ berfirman, “Dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. (Mereka) berada diantara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang mengalir terus menerus, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya.” (Q.S. al-Waqi’ah [56]: 27-33)

Ayat diatas menyebutkan bahwa pisang adalah salah satu buah-buahan surga. Setiap orang setidaknya pernah mengkonsumsi buah yang bernama latin Musa ini. Walaupun sudah sedemikian akrab dengan buah pisang, bisa jadi sebagian masyarakat banyak yang belum mengetahui multimanfaat dari tanaman ini. Gedang (bahasa Jawa), buah yang paling banyak dikonsumsi di dunia merupakan buah yang memiliki gizi sangat tinggi. Satu buah pisang ukuran sedang (sekitar 126 gram) mengandung 110 kalori, 30 gram karbohidrat, 1 gram protein, serta menyediakan berbagai vitamin dan mineral: Vitamin B6 (0.5 mg), Mangan (0.3 mg), Vitamin C (9 mg), Kalium (450 mg), Serat (3 g), Protein (1 g), Folat (25.0 mcg), Niacin (0.8 mg), Magnesium (34 mg), Riboflavin (0.1 mg), Besi (0.3 mg), dan Vitamin A (81 IU).[1] Yuk, jangan lupa konsumsi buah pisang!

Tak Mengenal Masa dalam Beramal Shalih

Begitulah seharusnya setiap kita, dapat memberikan manfaat bagi orang lain dengan segenap apa yang kita miliki. Beramal dan terus beramal dengan segala kemampuan dan talenta yang kita punya sekecil apapun itu. Sebagaimana pohon pisang senantiasa dapat berbuah tanpa mengenal musim. Karena memang ia tak kenal musim dalam beramal. Tak mengenal masa dalam berbuat kebaikan. Memang seharusnya kontribusi tidak hanya dapat kita berikan hanya pada saat-saat tertentu di kala kita menginginkannya. Karena komunitas dalam suatu kebermanfaatan akan senantiasa dapat menjaga stabilitas iman. Sehingga kita tidak mudah tumbang diterpa “hama” yang selalu menggerogoti keikhlasan.

Untuk itu, pohon pisang menyimpan cadangan airnya pada musim hujan dan menggunakannya pada musim kemarau. Kita pun demikian, harus menyiapkan bekal iman dan amal shalih untuk menghadapi dunia yang semakin tak tentu arahnya agar kelak kita bisa selamat mengarungi bahtera kehidupan didalamnya hingga ke akhirat pula.

Pohon pisang dalam habitat aslinya selalu hidup berkelompok. Jika kita menemukan pohon pisang yang tumbuh menyendiri, tentulah karena itu merupakan ulah manusia. Karena apabila pohon pisang itu dibiarkan terus tumbuh, ia akan membentuk suatu komunitas pohon pisang juga. Begitupun kita, untuk dapat bermanfaat dan berkontribusi bagi umat dan diri kita sendiri, kita membutuhkan teman sebagai penguat, teman sebagai pengingat. Kita perlu orang lain untuk memacu dan memicu optimalisasi potensi kebermanfaatan kita. Hal itu juga membuktikan bahwa kita adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan bantuan orang lain dan tidak bisa hidup secara individual.

Pohon pisang pada umumnya takkan mati sebelum ia berbuah. Jika belum menghasilkan bunga atau buah, pohon pisang akan tetap hidup. Jika kita memotong pohon pisang sebelum pohon ini berbunga, pucuk baru akan tumbuh dari bagian yang terpotong dan melanjutkan pertumbuhan pohon pisang itu. Berapa kalipun dipotong, pohon pisang itu akan tetap bertahan hidup, lho. Tapi, bila sudah berbunga dan berbuah, pohon pisang itu akan mati dengan sendirinya. Dan dalam reproduksinya, ia akan menghasilkan tunas (anak pohon pisang) yang tumbuh dari bonggol induknya. Ketika induknya mati, tunas inilah yang nantinya akan menggantikan posisinya.

Sebelum ajal menjemput kita, sebelum akhirnya kita harus pergi meninggalkan dunia ini, sudahkah kita menyiapkan generasi berkualitas yang dapat meneruskan keberlangsungan kontribusi kita dalam menegakkan kalimat Allah ﷻ? Sudahkah kita tinggalkan kader-kader unggul yang siap berjibaku dan terus beramal dan memberikan kebermanfaatan? Tanyakan pada diri kita sendiri? Jika belum, siapkanlah!

Hidup terlalu sempit kalau hanya memikirkan diri kita sendiri. Hidup ini terlalu singkat jika tanpa kebermanfaatan kita terhadap orang lain. Untuk itu, sebenarnya kita tidak perlu menjadi sebesar pohon durian, sekuat pohon jati, ataupun setinggi pohon pinang untuk memberikan manfaat. Yang terpenting adalah kontribusi nyata. Biarlah Allah ﷻ yang menilai dan memberi balasan.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, Khairu an-nâsi anfa’uhum li an-nâsiSebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (H.R. Ahmad, athThabrani, ad-Daruqutni)[2]

Kamukah Sebaik-Baik Manusia Itu? Mari Kita Buktikan!

Saudaraku, menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Setiap muslim diperintahkan untuk bermanfaat bagi orang lain. Adapun dalam memberikan manfaat kepada orang lain sejatinya manfaat itu akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman, In ahsantum ahsantum li-anfusikumJika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat kebaikan untuk diri kalian sendiri” (Q.S. al-Isrâ’ [17]: 77)

Dari pohon pisang inilah kita tau bahwa tidaklah Allah ﷺ itu menciptakan segala sesuatu sia-sia. Bahkan hewan sekecil lalat pun mampu membuat manusia terkeji berbadan kekar pada zamannya, yakni raja Namrud, meronta-ronta kesakitan hingga ia menjemput ajalnya. Dengan begitu, setiap apa yang Allah ﷻ ciptakan itu pasti ada hikmah yang dapat kita jadikan ibrah dalam kehidupan sehari-hari. Tugas kita sebagai insan ulil albab hendaknya kita mentadabburi dari setiap ciptaan-Nya dengan harapan agar semakinbertambahpula keimanan sertailmu kita.

Ûshîkum wa nafsi bitaqwâ Allâhi ‘azza wa jalla.[]

Penyusun:

Ulfa Indriani­­­­­

PAI UII 2016

Marâji’

[1] Dayat Suryana. Manfaat Buah. Bandung: Dayat Suryana Independen. 2018. hal.556

[2] Hadits ini dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3289

Mutiara Hikmah

Allah ﷻ berfirman,

وَلاَ تَنسَوُاْ الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ

Jangan lupakan untuk saling memberi kemudahan di antara kalian.

(Q.S. al-Baqarah [2]: 237)

Download Buletin klik disini