Beberapa Dosa Yang Sering Dilakukan Anak Muda

Beberapa Dosa Yang Sering Dilakukan Anak Muda

Bismillâhi walhamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,  

Kalau kita mau bandingkan anak muda saat ini dengan masa silam, sungguh jauh berbeda. Anak muda pada masa Nabi ﷺ adalah mereka yang peduli pada agamanya, bahkan membela agama dan nabinya. Mereka juga punya akhlak yang mulia seperti berbakti kepada kedua orang tuanya. Coba bandingkan dengan pemuda saat ini (zaman now). Ada empat dosa yang akan kita temukan dan empat dosa ini dianggap biasa.

1. Durhaka kepada Orang Tua

Sebagaimana di dalam al-Qur’an surah al-Isra Ayat 23 yang memerintahkan untuk berbakti pada orang tua. Allah ﷻ berfirman, “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. al-Isra’ [17]: 23)

Kata Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah yang dimaksud dengan ayat di atas, “Janganlah berkata ah, jika kalian melihat sesuatu dari salah satu atau sebagian dari keduanya yang dapat menyakiti manusia. Akan tetapi bersabarlah dari mereka berdua. Lalu raihlah pahala dengan bersabar pada mereka sebagaimana mereka bersabar merawatmu kala kecil.”

Mengenai maksud berkata uff (ah) dalam ayat, dikatakan oleh Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah, “Segala bentuk perkataan keras dan perkataan jelek (pada orang tua, pen.)” Coba perhatikan bentuk kedurhakaan kepada orang tua yang dianggap jelek oleh ulama di masa silam.

Mujahid rahimahullah mengatakan, “Tidak sepantasnya seorang anak menahan tangan kedua orang tuanya yang ingin memukulnya. Begitu juga tidak termasuk sikap berbakti adalah seorang anak memandang kedua orang tuanya dengan pandangan yang tajam. Barangsiapa yang membuat kedua orang tuanya sedih, berarti dia telah mendurhakai keduanya.”

Ka’ab al-Ahbar pernah ditanyakan mengenai perkara yang termasuk bentuk durhaka pada orang tua, beliau mengatakan, “Apabila orang tuamu memerintahkanmu dalam suatu perkara (selama bukan dalam maksiat, pen) namun engkau tidak mentaatinya, berarti engkau telah melakukan berbagai macam kedurhakaan terhadap keduanya.”[1]

Coba perhatikan, banyak ataukah tidak kedurhakaan anak muda saat ini seperti yang ditunjukkan di atas? Betapa banyak anak muda saat ini dengan orang tua saja berbicara keras dan kasar.

2. Pacaran, Suka Nonton Video Porno, Hingga Onani dan Berzina

Padahal zina itu dilarang, dan segala jalan menuju zina pun dilarang. Di antara jalan menuju zina adalah melalui pacaran. Allah ﷻ berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. al-Isrâ’ [17]: 32)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan bahwa Allah ﷻ melarang zina dan mendekati zina, serta dilarang pula berbagai penyebab yang dapat mengantarkan kepada zina.[2]

Kita pun dilarang melihat aurat yang lainnya seperti yang terjadi pada video porno yang saat ini jadi kecanduan bagi anak muda. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita berada satu selimut dengan wanita lain.” (H.R. Muslim, no. 338)

Adapun melakukan onani berarti tidak bisa menjaga kemaluannya. Allah ﷻ berfirman, “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. al-Ma’ârij [70]: 29-31).

3. Shalat Masih Bolong-Bolong

Padahal shalat itu bagian dari rukun Islam. Dari Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah; menunaikan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji ke Baitullah; dan berpuasa Ramadhan.” (H.R. Bukhari, no. 8; Muslim, no. 16)

Meninggalkan satu shalat saja begitu berbahaya. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (H.R. Muslim, no. 82)

4. Sukanya Meniru-Niru Gaya Orang Kafir

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,  “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (H.R. Bukhari no. 7319).

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2:50 dan Abu Daud, no. 4031)[3]

Kenapa sampai kita dilarang meniru-niru orang kafir secara lahiriyah? Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir.”[4]

5. Sengsaranya Anak Muda adalah Kalau Jauh dari Agama

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah sangat membenci orang ja’dzari (orang sombong), jawwadz (rakus lagi pelit), suka teriak di pasar (bertengkar berebut hak), bangkai di malam hari (tidur sampai pagi), keledai di siang hari (karena yang dipikir hanya makan), pintar masalah dunia, namun bodoh masalah akhirat.” (H.R. Ibnu Hibban)[5]

Penyusun:

Ardimas

Prodi Teknik Elektro

NIM: 19524046

 

Marâji’

[1] Birr Al-Walidain, hal. 8 karya Ibnul Jauziy

[2] Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:71.

[3] Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269

[4] Majmu’ah Al-Fatawa, 22:154

[5] Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Shahih Ibnu Hibban menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih  sesuai syarat Muslim

Mutiara Hikmah

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,  Nabi ﷺ bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Senantiasa mendapat cobaan pada seorang mukmin dan mukminah, baik dari dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia berjumpa Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan tiada membawa dosa padanya.” (H.R. at-Tirmidzi, no.2399)

Download Buletin klik disini

Berkata Yang Baik Atau Diam

Berkata Yang Baik Atau Diam

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Pembaca budiman yang senantiasa dirahmati Allah ﷻ. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ, bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar menjelaskan, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna; semua perkataan bisa berupa kebaikkan, keburukan, atau salah satu di antara keduanya. Perkataan baik (boleh jadi) tergolong perkataan yang wajib atau sunnah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan itu boleh diungkapkan sesuai dengan isinya. Segala perkataan yang berorientasi kepadanya (kepada hal wajib atau sunnah) termasuk dalam kategori perkataan baik. (perkataan) yang tidak termasuk dalam kategori tersebut berarti tergolong perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan. Oleh karena itu, orang yang terseret masuk dalam lubangnya (perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan) hendaklah diam.”

Perkataan Sumber Masalah?

Perkataan memang kerap sekali menjadi sumber masalah. Pertengkaran dan perkelahian sering kali terjadi di sekitar kita. Penyebabnya? Hampir semua akar dari permasalahan itu dimulai dari lisan. Mulai dari kesalahpahaman dan adegan saling sindir yang keluar dari mulut. Hal itulah yang menyebabkan perkelahian dan pertengkaran itu terjadi.

Seseorang datang kepada seseorang yang lain dan berkata kepadanya, “Hai gendut, kemarilah! Aku punya sesuatu.” Orang yang dipanggil merasa dirinya dihina dan mengatakan, “Apa maksudmu kawan?” lalu dimulailah adegan perang antara kedua orang itu.

Apa yang bisa kita ambil dari contoh sederhana di atas? Apa hikmah yang dapat kita petik lalu kemudian kita olah sebagai bahan refleksi yang kemudian menelurkan sikap dan perilaku yang lebih baik? Contoh di atas mengajarkan kita untuk membedakan mana benar dan mana baik. Kapan kita harus mengucapkan benar dan kapan juga kita harus mengucapkan baik. Dan organ apakah yang bisa membedakan baik benar tersebut.

Orang yang memanggil tadi benar, karena memang secara fisik orang yang dipanggilnya itu adalah mempunyai lemak berlebih. Akan tetapi itu tidak baik. Kenapa? Ada etika pengucapan yang harus dipikirkan oleh si pemanggil. Pandangan orang kebanyakan, kondisi gendut, miskin, dan lain-lain adalah sebuah aib. Jika sebuah aib itu disebut maka yang muncul adalah rasa penghinaan.

Berpikir Sebelum Berkata

Dibutuhkan pertimbangan dalam mengungkapkan sesuatu, dan kabar baiknya Allahﷻ telah menitipkan sesuatu itu kepada kita yang berbentuk akal. Hal ini senada dengan yang disebutkan oleh Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i  mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).” Sebagian ulama lain berkata, “seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara.”

Seiring berkembangnya zaman yang super cepat ini maka berbicara tidak sebatas pada apa yang terucap dalam lisan. Bahkan kabarnya, jempolpun bisa berkata-kata. Bisa lewat media sosial dan bisa juga lewat media elektronik lainnya. Sehingga pengendalian dalam menyebar informasi makin tidak terbatas. Semua orang bisa mengomentari segala hal, semua orang, dan apapun yang ada di dunia ini. Hal ini cukup mengkhawatirkan mengingat akibat yang ditimbulkan juga tidak sedikit.

Belajar Solusinya

Kualitas bicara seseorang sangat bergantung kepada 3 hal; 1. Memori (ingatan), 2. Bagaimana ia belajar, dan 3. Apa yang ia pelajari. Belajar merupakan proses mendapatkan informasi yang memungkinkan suatu hal terjadi. Mengingat adalah mempertahankan dan menyimpan informasi tersebut. Apa yang dipelajari oleh seseorang melalui penglihatan dan pendengarannya membentuk tata nilai yang ia yakini. Tata nilai tersebut membentuk prosedur baku dalam otak yang berfungsi sebagai processor atas segala masukan informasi penglihatan, pendengaran dan perasaan hatinya. Keluaran dari processor tersebut berupa kata-kata yang diucapkan, ekspresi wajah, sikap dan tindakan.

Apabila seseorang banyak melihat, mendengar dan merasakan sesuatu yang negatif, maka yang masuk dalam memorinya adalah hal-hal negatif. Tata nilai yang terbnetuk dan diyakininya juga menjadi negatif. Akibatnya ia akan mudah bicara dan bertindak negatif.  Sebaliknya apabila banyak melihat, mendengar dan merasakan sesuatu yang positif, maka yang masuk dalam memorinya adalah hal positif pula.

Analogi mudahnya adalah seperti tersaji dua jenis makanan yang berbeda, satu berasal dari makanan yang sehat-sehat, dan satunya lagi berasal dari tumpukan sampah berbau busuk. Manakah yang akan anda pilih? Orang yang waras dan sehat akalnya akan memilih yang pertama. Sayangnya, banyak yang memberikan makanan kepada otaknya berupa informasi-informasi dari tumpukan sampah melalui penglihatan, pendengaran dan perasaan hatinya.

Allah ﷻ berfirman,Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Q.S. al-Isra [17]: 36)

Nasehat Imam Abu Hatim

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban al-Busti berkata dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala, hal. 45,Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara, karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan.”

Beliau menambahkan lagi di hal. 47, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi dua telinga, sedangkan diberi hanya satu mulut, supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sering kali orang menyesal pada kemudian hari karena pekataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan itu lebih mudah darpiada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mempu mengontrol perkataan-perkataanya.”

Tidak ada obat terbaik untuk masalah di atas kecuali tetap introspeksi dan terus belajar. Melatih diri untuk tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak berguna yang bisa berdampak buruk, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda,Barang siapa yang dapat menjamin untukku lisan dan kemaluannya, aku akan menjamin untuknya surga.” (H.R. Ahmad). Wallâhu a’lam bis shawâb.

 

Marâji’

https://umma.id/post/serial-kutipan-hadits-berkata-baik-atau-diam-304347?lang=id

http://m.muhammadiyah.or.id/id/artikel-berbicara-baik-atau-diam-detail-1391.html

https://tafsirweb.com/4640-quran-surat-al-isra-ayat-36.html

Fatkhur Rohman Khakiki

Mahasiswa Teknik Kimia

FTI UII

Mutiara Hikmah

Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat

(HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Download Buletin klik disini

Keseimbangan Antara Doa Dan Usaha

Keseimbangan Antara Doa Dan Usaha

Bismillahi walhamdulillahi wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah,

Tujuan utama manusia diciptakan adalah beribadah hanya kepada Allah ﷻ, meskipun ada tujuan lainnya yaitu duniawi. Allah ﷻ berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”(Q.S. adz-Dzariyat [51]: 56).

Tujuan yang bersifat duniawi dapat terhitung sebagai ibadah jika diniatkan untuk ibadah. Contohnya adalah ketika seseorang rutin melakukan aktivitas olahraga dengan niat mendapatkan jasmani yang sehat sehingga dapat beribadah kepada Allah ﷻ dengan maksimal, maka olahraga yang dilakukan dapat dihitung sebagai amal ibadah.

Berusaha dan berdoa merupakan dua hal yang penting ketika seseorang menginginkan sesuatu. Akan tetapi selain dua hal tersebut, terdapat beberapa hal penting yang harus dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh apa yang ia inginkan, yaitu:

  1. Diiringi dengan niat yang baik

Ketika seseorang menginginkan sesuatu, harus diiringi dengan niat yang baik. Ketika seseorang ingin kuliah di jurusan kedokteran, maka harus diniatkan untuk kebaikan dimana ketika lulus dan menjadi dokter, akan membantu orang lain. Niat merupakan suatu hal yang sangat penting, Rasulullah ﷺ bersabda, “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut menjelaskan bahwa perbuatan yang baik dan bermanfaat, jika diiringi dengan niat yang baik, ikhlas dan mengharap keridhaan Allah ﷻ, maka perbuatan tersebut merupakan ibadah.[1] Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan keridhaan Allah ﷻ, sehingga Allah ﷻ memudahkan seseorang untuk memperoleh apa yang diinginkannya.

  1. Berusaha dengan maksimal

Untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan, seseorang harus berusaha dengan semaksimal mungkin agar keinginannya tercapai. Jika seseorang berkeinginan untuk kuliah di jurusan kedokteran, maka ia harus belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa kuliah di jurusan kedokteran.

Berusaha untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan tidak boleh dengan cara yang haram, seperti suap-menyuap. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada zaman saat ini banyak orang yang menginginkan sesuatu tetapi tidak ingin berusaha atau dengan kata lain melalui jalan pintas yakni dengan cara suap. Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga laknat Allah ditimpakan kepada penyuap dan yang disuap” (H.R Ahmad, Ibnu Majah, dll).[2]

  1. Berdoa kepada Allah ﷻ 

Memperoleh sesuatu tidak bisa hanya dengan cara berusaha saja, tetapi harus melibatkan Allah ﷻ di dalamnya, salah satu caranya adalah dengan berdoa. Allah ﷻ berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 186).

Ibnu Qoyyim berkata, “Doa merupakan sebab terkuat bagi seseorang untuk selamat dari hal yang tidak disukai dan sebab utama meraih hal yang diinginan.[3] Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah selain doa” (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Dalam berdoa, harus diikuti dengan keyakinan bahwasannya Allah ﷻ akan mendengar doa kita, memberikan pertolongan kepada kita dan mengabulkan doa kita. Rasulullah ﷺ bersabda, “Berdoalah kepada Allah dengan keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai” (H.R. Tirmidzi).

  1. Tawakkal kepada Allah

Ibnu Rojab  dalam Jami’ul Ulum wal Hikam mengatakan, “Tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah l untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah ﷻ semata”.[4]

Tawakkal bukan berarti hanya pasrah dengan keputusan Allah ﷻ, tetapi harus diikuti dengan usaha beribadah kepada Allah ﷻ dengan ikhlas, karena jika seseorang selalu beribadah untuk urusan akhiratnya dan menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka urusan dunianya akan mudah untuk didapatkan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (H.R. Imam Ahmad, Ibnu Majah, Imam Ibnu Hibban, al-Baihaqi).[5]

Jika empat hal diatas dilakukan sebagai bentuk upaya seseorang dalam memperoleh sesuatu, maka keinginannya tersebut dapat terpenuhi tentunya dengan izin dan kehendak Allah ﷻ. Akan tetapi, sering ditemukan bahwasannya seseorang menginginkan sesuatu tetapi ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan walaupun sudah diiringi niat yang baik, berusaha dengan keras, berdoa kepada Allah ﷻ setiap saat hingga berserah diri kepada Allah ﷻ.

Dalam keadaan seperti itu, yang perlu diperhatikan adalah bahwasannya hanya Allah ﷻ yang mengetahui apa saja yang baik dan tidak baik bagi manusia. Sering terlintas di pikiran kita kalau apa yang ingin kita peroleh adalah sesuatu yang baik untuk dilakukan. Akan tetapi hanya Allah ﷻ yang mengetahui baik tidaknya sesuatu, Allah ﷻ berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui” (Q.S. al-Baqarah [2]: 216).

Selain itu, ketika kita sudah melakukan empat hal diatas tetapi tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, hal lain yang harus dilakukan adalah introspeksi diri, bisa jadi dalam usaha kita memperoleh sesuatu, ada sebab-sebab yang menjadi penghalang sehingga apa yang kita inginkan tidak kita dapatkan, contohnya adalah dalam berdoa. Ada beberapa sebab yang menjadi penghalang terkabulnya doa, diantaranya penghalang doa adalah selalu menggunakan barang yang haram, baik makanan, minuman dan pakaian yang kita pakai. Minuman, makanan dan pakaian yang kita pakai yang pada awalnya adalah halal, dapat menjadi haram apabia diperoleh dengan cara yang haram pula, seperti mendapatkannya dengan mencuri, berasal dari harta riba dan lainnya yang dilarang oleh syari’at. Semoga Allah ﷻ memberikan kemudahan kepada kita semua dalam melaksanakan urusan-rurusan yang ada.[]

Muhammad Romzi Wicaksono

Prodi Ahwal Syakhshiyyah, FIAI UII

 

Marâji’

[1] Musthafa Dieb al-Bugha Muhyiddin Mistu. Al-Wafi Syarah Kitab Arba’in An-Nawawiyah. Jakarta: Al-I’tishom. 1998 M. Cet.k-10. hal. 5

[2] https://muslim.or.id/19963-budaya-sogok-menyogok.html

[3] https://rumaysho.com/1734-allah-begitu-ekat-pada-orang-yang-berdoa.html

[4] https://rumaysho.com/68-tawakkal-yang-sebenarnya.html

[5]  https://almanhaj.or.id/12638-jadikanlah-akhirat-sebagai-niatmu-2.html

Mutiara Hikmah

Doa Agar Bisa Mencintai Orang yang Mencintai Allah ﷻ

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

“Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.”

(H.R. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243).

Download Buletin klik disini

Birrul Walidayin Dimasa Pandemi Covid 19

Birrul Walidayin Dimasa Pandemi Covid 19

Mujahid Bin Jabr  berkata,

لَا يَنْبَغِي لِلوَلَدِ أَنْ يَدْفَعَ يَدُ وَالِدِهِ عَنْهُ إِذَا ضَرْبَهُ. وَمَنْ شَدَّ النَّظَرُ إِلَى وَالِدَيْهِ لَمْ يَبِرَّهُمَا، وَمَنْ أَدْخَلَ عَلَيْهِمَا حُزْنًا فَقَدْ عقَّهُمَا

“Tidaklah pantas bagi seorang anak untuk menahan tangan orangtuanya ketika ia hendak memukulnya, barangsiapa yang memandang dengan garang kepada orangtuanya maka ia tidak dikatakan berbakti padanya dan barangsiapa yang menjadikan sedih orangtuanya maka ia telah durhaka kepadanya.” (Birru wa Shilah libni Jauzi: 145)

Dari perkataan Mujahid bin Jabr diatas menggambarkan bahwa bagaimana seorang anak tidak boleh sekali-kali untuk melawan orang tuanya. Karena bukan hanya membuatnya merasa kecewa, namun akan ada terbesit dalam hatinya sebuah kesedihan. Orang tua memukul seorang anak, bukan tanpa sebab. Melainkan untuk kebaikan anaknya kelak. Banyak sekali kita sebagai anak, sering merasa jika sudah berpendidikan tinggi, maka kita bisa melawan siapapun, temasuk orang tua. Padahal, kedudukan orang tua tidak ada tandingannya dengan siapapun. Karena pengorbanan orang tua dalam melahirkan, menyusui bahkan menyapih, tidak bisa kita gantikan dengan apapun.

Apakah kita sudah tau berapa lama seorang ibu mengandung anaknya? Seberapa besar perjuangan seorang ayah dalam mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya? Mari kita simak firman Allah , “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembali.” (Q.S Luqman [34]: 14).

Sudah 3 bulan terakhir ini pandemi covid 19 telah melanda dunia, menggemparkan seluruh umat manusia dengan kehadirannya. Memberikan kesadaran kepada seluruh umat manusia, nikmat bersyukur dan memanfaatkan waktu yang ada. Karena pandemi banyak para keluarga di PHK, para mahasiswa/i memilih pulang ke kampung halaman karena diberlakukan kuliah daring. Hal ini membuat banyak manusia lebih sering dirumah. Dimana mahasiswa yang biasa pulang sekali setahun atau tidak pernah pulang ke rumah, memilih untuk pulang dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun apakah kita menyadari bahwa ini adalah takdir  Allah ﷻ  yang terbaik? Maka bisa kita maksimalkan waktu di rumah bersama orang tua maupun keluarga.

Sisi positif dari pandemi covid 19 ini membuat lingkaran baru, yaitu lingkaran pemersatu antara manusia dengan alam, orang tua dengan anak, ataupun teman SMA menjadi teman hidup. Namun, jika kesempatan ini tidak kita manfaatkan sebaik mungkin, akankah menjadi lebih berhikmah? Sungguh, masa ini adalah kesempatan terbesar bagi seorang anak untuk berbakti kepada orang tua. Sekadar berbagi cerita kisah kuliah, ataupun berbagi cerita tentang  bagaimana aslinya kehidupan ditanah rantau. Jangan sampai kita sudah berlama-lama di rumah, namun lupa memaksimalkan berbakti kepada orang tua karena terlalu sibuk dengan kuliah online. Bagi yang masih lengkap dengan keluarga, akankah melewatkan kesempatan ini? bagi yang sudah tiada, ia bisa memaksimalkan dengan sering berziarah dengan niat bisa selalu bersyukur dengan keadaan yang ada dan memaknai bahwa kematian itu sangat dekat.

Ingat birrul walidayyin, ingat kisah Uwais al-Qarni. Kisah yang bermula dari awal pertemuan dengan Umar bin al-Khattab a dan beliau disebut sebagai tabi’in yang terbaik sesuai dalam hadits yang berbunyi “Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang pria yang bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu dan dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah padanya untuk meminta ampun untuk kalian.” (H.R. Muslim no. 2542) (Rumasyo.com).

Bersyukurlah bagi kita yang bisa berkumpul dengan keluarga, dan masih lengkap tanpa ada yang pergi meninggalkan dunia. Masih ada orang yang diluar sana yang tidak memiliki uang untuk pulang kampung, dan tidak memiliki seorang ayah yang senantiasa menjadi tulang punggung selama ini.

Maka tetaplah bersyukur bagi yang masih memiliki keluarga yang lengkap, dan tetaplah bersabar bagi yang sudah kehilangan salah satu diantara mereka. Namun tidak ada yang lebih utama, selain tetap berbakti kepada mereka, mendo’akan mereka selalu. Setiap engkau selesai mengerjakan tugas-tugas mu, sebelum tidur cobalah untuk melihat mereka dan menatap mereka lebih dalam. Dan mintalah permohonan maaf, karena selama ini belum bisa berbakti sebaik mungkin. Entah karena keadaan atau karena kita yang sering lupa bahwa dibelakang kita ada do’a orang tua yang senantiasa mngiringi jalan kita.

Do’a ibu terutama yang harus engkau minta, mohonlah ridhonya terhadap setiap pekerjaanmu. Karena akan ada kelapangan dan jalan yang indah disetiap langkah yang selalu diiringi oleh do’a ibu. Tahukah kamu, bahwa berkata “ah” saja kepada mereka itu tidak boleh? Pernah dengar ayatnya tidak? Mari kita simak, Allah  berfirman, Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “ah”. Apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. Lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”. (Q.S. al-Ahqaf [46]: 17). Sudah jelas bahwa satu kata saja bisa mempengaruhi semuanya, terutama kedaan hati orang tau. Jangan sekali-kali membuat mereka sedih dan marah, karena ketika kita ingin melakukan apapun di rumah akan serba dirasa tidak enak.

Selalu buatlah mereka tersenyum dan bahagia dengan kehadiran kita, masaklah makanan kesukaan mereka. Ikutlah membantu ayahmu di kebun jika engkau memiliki waktu luang; diluangkan jika bisa. Kehidupan dalam sebuah keluarga akan sangat terlihat tentram dan adem, jika seorang anak bisa memahami kedudukannya sebagai anak. Menjalani perintah orang tua, tidak menunda jika disuruh untuk mengambil barang ibu yang ketinggalan.

Jika orang tuamu sudah berumur lebih dari 40 tahun, maka beliau akan berdo’a untuk kebaikan dirinya di akhirat dan untuk anak-anaknya. Allah berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.” (Q.S al-Ahqaf [46]: 15).

Cinta orang tua, tidak akan bisa kita dapatkan dari siapapun, dan kapanpun. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kita tidak perlu menunggu kehilangan baru tersadar akan kenikmatan kehadirannya? Semoga kita senantiasa selalu Allah berikan hidayah untuk tetap berbakti kepada orang tua dan diberikan hati yang selalu beryukur serta bersabar terhadap sesuatu yang ada dalam diri kita. Semoga pandemi ini juga segera selesai, agar kita bisa merasakan bersilaturrahim dari rumah ke rumah.[]

Ainun Mardiah

Teknik Lingkungan UII

Mutiara Hikmah

Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrahman As-Sa’di berkata,

اْلعِلْمُ شَجَرَةٌ تُثَمِّرُ كُلَّ قَوْلٍ حَسَنٍ وَ عَمَلٍ صَالِحٍ، وَاْلجَهْلُ شَجَرَةٌ تُثَمِّرُ كُلَّ قَوْلٍ وَ عَمَلٍ خَبِيْثٍ

“Ilmu agama ialah pohon yang buahnya adalah perkataan yang baik dan amal shalih, dan kejahilan ialah pohon yang buahnya adalah setiap perkataan dan perbuatan menjijikkan.” (Majmu’ Muallafatuh: 7/132)

Download Buletin klik disini

Karena Sesama Muslim Adalah Bersaudara

Karena Sesama Muslim Adalah Bersaudara

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Persaudaraan Sesama Muslim

Pembaca  yang semoga dirahmati Allah ﷻ, pernahkah kita melihat seseorang mencaci maki saudara sesamuslim? Atau pernahkah kita mendengar berita seseorang yang menipu rekan atau client bisnisnya hingga rugi dalam jumlah besar padahal mereka sama-sama beragama Islam? Tidakkah kita mengetahui bahwa semua perbuatan itu dan perbuatan-perbuatan semisalnya melanggar larangan-larangan yang telah ditetapkan oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya?

Dikarenakan seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Persaudaraan ini adalah persaudaraan karena iman/agama. Allah ﷻ berfirman dalam surat al-Hujurat ayat ke-10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. al-Hujurat [49]: 10).

Dalam Kitab Tafsir “Al-Mukhtashar fii At-Tafsîr” dijelaskan tentang ayat ini, “Yaitu orang-orang beriman adalah saudara dalam Islam. Persaudaraan dalam Islam ini berkonsekuensi agar mendamaikan diantara 2 muslim yang sedang berselisih. Kemudian, bertakwalah kepada Allah ﷻ dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dengan berharap agar mendapat rahmat-Nya”[1]

Perkara ini juga dijelaskan oleh Rasulullah ﷻ, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian (wahai muslim) saling hasad (dengki), saling najsy, saling membenci, saling membelakangi, dan janganlah kalian melakukan transaksi harta yang berdampak pada gagalnya transaksi orang lain. Jadilah kalian wahai hamba-hamba Allah orang-orang yang bersaudara. Orang Muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Tidak menzhaliminya, tidak membiarkannya dizhalimi, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini –beliau menunjuk ke arah dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang itu jahat ketika ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram mengganggu muslim yang lain, baik mengganggu darah, harta ataupun kehormatan dan nama baiknya.” (H.R.Muslim).

Hak-Hak Antar Sesama Muslim

Syaikh Dr. Shalih al-‘Ushaimi hafizhahullahu Ta’ala menjelaskan dalam, “Dalam hadits ini terdapat 5 buah larangan:

Pertama, dalam perkataan Nabi ﷺ, “Janganlah saling hasad (dengki)”. Ini merupakan larangan berbuat hasad. Hakikat hasad adalah seseorang tidak menyukai tersampaikannya nikmat kepada orang lain, meskipun  ia tidak menginginkan hilangnya nikmat tersebut. Sehingga semata-mata ada rasa tidak suka saja sudah termasuk ke dalam hasad. Demikianlah kajian mendalam tentang hasad dari Ibnu Taimiyyah al-hafîdz.

Kedua, dalam perkataan Nabi ﷺ, “Jangan saling najsy”. Ini adalah larangan tindakan najsy. Najsy yaitu meninggikan sesuatu dengan trik dan tipu daya. Sehingga yang dimaksudkan dari hadis adalah larangan untuk mendapatkan sesuatu dengan makar, akal-akalan dan tipu daya. Kemudian bagian dari najsy adalah jual beli yang telah dikenal dengan nama ini (jual beli najsy). Yaitu menambah harga bukan karena menginginkan barang yang dijual, namun karena ingin menaikkan harganya, agar dengannya penjual mendapatkan manfaat berupa naiknya harga barang tersebut.

Ketiga, dalam sabda Nabi ﷺ, “Jangan saling membenci”. Yaitu larangan dari saling membenci. Penempatan larangan ini yaitu apabila tidak dijumpai alasan syariat padanya. Ketika dijumpai alasan syariat (alasan pembenar) untuk membenci salah seorang dari kaum muslimin, maka maksiat salah seorang muslim tersebut yang dibenci namun bukan orangnya. Sehingga terkumpul dalam diri seorang muslim 2 hal, yaitu rasa cinta dan benci. Rasa cinta pada pokok agamanya (Islam) dan rasa benci pada jeleknya perbuatannya (maksiatnya).

Keempat, dalam sabda Nabi ﷺ, “Jangan saling membelakangi”. Yaitu larangan untuk saling membelakangi. Dengan bentuk saling boikot dan saling putus hubungan. Dinamakan ‘tadaabur’ karena antar kedua orang tersebut saling membelakangi/memboikot.  Hal ini terlarang apabila saling membelakangi ini terjadi karena perkaran dunia. Apabila terjadi karena perkara agama maka hukumnya boleh, namun dengan syarat yaitu seukur terwujudnya maslahat dari saling boikot tersebut. Ketika seseorang mengetahui atau mempunyai sangkaan kuat dengan boikot tersebut akan terwujud masalahat yang diinginkan, maka boleh memboikot. Namun apabila ia mengetahui atau mempunyai sangkaan kuat tidak akan terwujud maslahat/perbaikan dengan boikotnya, maka tidak boleh lakukan boikot tersebut.

Kelima, dalam perkataan Nabi ﷺ, “Jangan diantara kalian melakukan transaksi harta yang membatalkan transaksi orang lain”. Yang dimaksudkan adalah larangan transaksi harta/finansial seluruhnya dengan berbagai macam bentuk transaksinya (tidak hanya dalam jual beli, dapat dalam transaksi sewa menyewa, memperkerjakan orang lain dan transaksi-transaksi finansial lainnya, baik profit oriented seperti contoh-contoh sebelumnya ataupun tidak seperti pemberian hadiah), bahwa seorang muslim tidaklah dapat mengalahkan saudaranya setelah berlangsungnya akad dari saudaranya.”.

Karena Setiap Muslim adalah Bersaudara

Syaikh Dr. Shalih Al-‘Ushami hafizhahullahu ta’ala melanjutkan penjelasannya, “Kemudian Nabi ﷺ mengiringi 5 larangan yang telah disebutkan dengan 1 hal, beliau bersabda, ‘Jadilah kalian wahai hamba-hamba Allah orang-orang yang bersaudara’. Sabda beliau ini dimungkinkan dimaknai kepada 2 makna:

Pertama, kalimat tersebut adalah kalimat perintah, yang tidak diinginkan dengannya makna hakikinya, namun yang diinginkan dengannya adalah kalimat berita. Yaitu artinya, apabila kalian menjauhi saling hasad, saling najsy, saling membenci, saling membelakangi, dan tidak melakukan transaksi harta yang membatalkan transaksi orang lain, maka kalian akan menjadi hamba-hamba Allah ﷻ yang bersaudara.

Kedua, kalimat tersebut adalah kalimat perintah yang diinginkan dengannya adalah makna hakikinya, yaitu perintah. Yaitu artinya, jadilah wahai hamba-hamba Allah ﷻ orang-orang yang bersaudara. Ini adalah perintah untuk mewujudkan semua sebab yang mewujudkan persaudaraan karena agama (sebab-sebab yang disebutkan sebelumnya) dan menguatkannya.

Nabi ﷺ bersabda, “Muslim adalah saudara muslim lainnya” adalah persaudaraan yang diikat karena agama. Lalu beliau melanjutkan sabdanya dengan penyebutan hak-hak yang termasuk hak-hak persaudaraan muslim yang paling penting, beliau bersabda, ‘Tidak menzaliminya, tidak membiarkannya dizalimi, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya’.

Lalu Nabi ﷺ berkata, ‘Takwa itu letaknya di sini –beliau mengisyaratkan ke arah dadanya sebanyak tiga kali-‘. Artinya, pondasi takwa letaknya ada di dalam hati. Sehingga dari sana Nabi ﷺ mengisyaratkan ke arah dadanya, untuk menunjukkan tempat tinggal asli dari takwa berada di dalam hati seorang hamba, yang mana letak dari hati (jantung) itu berada di dalam dada.

Penyebutan faktor yang dengannya seseorang dapat tercegah dari jiwa merendahkan orang lain, dengan memberi tahu jiwa bahwa yang menjadi penilaian adalah yang menjadi substansi/inti, bukanlah pada apa yang tampak. Sehingga boleh jadi orang itu rambutnya acak-acakan, pakaiannya berdebu dan diusir di berbagai pintu, namun seandainya apabila ia meminta sesuatu kepada Allah ﷻ, niscaya Allah ﷻ akan langsung mengabulkannya. Oleh karena itu, siapa yang memandang seseorang dengan tampilan rupanya yang lahiriah, maka ia tidak akan menganggap orang itu memiliki nilai apapun. Sehingga dengan disebutkan pada sabda Nabi ﷺ, ‘Takwa itu letaknya di sini –beliau menunjuk ke arah dadanya tiga kali-‘ terdapat peringatan dari merendahkan orang lain dikarenakan tampilan lahiriahnya.”.

Buruknya Sikap Merendahkan Sesama Muslim

Di akhir penjelasannya, Syaikh Dr. Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullahu ta’ala menjelaskan, “Sabda Nabi ﷺ sebagai penjelasan tentang sangat berbahanya tindakan merendahkan seorang muslim dengan sabda beliau, ‘Cukuplah seseorang itu jahat dengan merendahkan saudaranya sesama muslim’. Ketahuilah betapa kerasnya kalimat ini bagi siapa yang memikirkannya. Yaitu seseorang menjadi wadah kejelekan dan kejahatan akibat merendahkan muslim lainnya.

Lalu Nabi ﷺ  tutup sabda beliau ini dengan kalimat yang menghentikan orang yang berbuat jahat dengan menjelekkan sesama muslim, beliau bersabda, ‘Setiap muslim itu haram mengganggu muslim lainnya, baik mengganggu darah, harta, kehormatan dan nama baiknya.[2]. (Faidah transkrip kajian online Syarah Al-Arbain An-Nawawi bersama Ustadz Aris Munandar, S.S., M.PI. hafizhahullahu ta’ala)

 

[1]  Markaz Tafsir li Ad-Dirasati Al-Qur’an. Saudi: “Al-Mukhtashar fii At-Tafsiir”. 1436/2015. Hal. 516

[2] Syaikh Dr. Shalih bin ‘Abdullah bin Hamad Al-‘Ushaimi. Madinah: ”Syarh Al-Arba’in An-Nawawi”. 1436 H. Hal. 100-103

*Abdurrahman Triadi Putro

S1 Teknik Pertanian dan Biosistem UGM

Mutiara Hikmah

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri.” (H.R. Bukhâri dan Muslim)

Download Buletin klik disini

Mencari Keadilan Yang Sempurna Di Dunia?

Mencari Keadilan Yang Sempurna Di Dunia?

Bismillâhi walhamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alârasûlillâh,

Pembaca yang di rahmati Allah ﷻ, beberapa hari ini kita dihebohkan dengan pemberitaan kasus kekerasan dimana butuh waktu yang lama untuk menangkap pelakunya. Akan tetapi, tuntutan hukuman untuk pelaku tersebut dianggap tidak adil dan tidak memuaskan. Banyak kita temukan di kolom komentar berbagai sosial media perkataan seperti “Nyari pelakunya lebih lama daripada hukumannya”, “Wah karena dianggap gak sengaja hukumannya singkat, enak banget”, “Semakin terlihat hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas”, dan sejenisnya yang pada intinya menganggap hukuman untuk kasus tersebut tidak adil dan tidak setimpal karena telah mengakibatkan korban mengalami cacat pada fisiknya seumur hidup.

Disini penulis tidak akan berkomentar apapun tentang kasus tersebut. Akan tetapi perlu kita ingat dan ketahui bahwa tidak akan pernah kita temukan keadilan yang sempurna di dunia ini. Ketidaksempurnaan itulah ciri khas dunia ini dan setiap apa yang ada di dunia ini ada masanya.

Keadilan yang Sempurna Hanya Milik Allah ﷻ

Allah ﷻ adalah Rabb yang Maha Adil, dimana keadilan tersebut berdasarkan ilmu yang sempurna. Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya tidak ada sedikitpun urusan langit ataupun bumi yang tersembunyi bagi Allah” (Q.S. ali-’Imran [3]: 5). Maka keadilan Allah ﷻ adalah keadilan yang sempurna yang tidak ada yang tersembunyi di atas-Nya. Sehingga Allah ﷻ tidak akan menghukum kecuali dengan alasan yang benar. Dan Allah ﷻ tidak akan menghukum kecuali telah menerangkan, mana yang benar dan mana yang salah. [1]

Adapun di dunia kita tidak akan pernah mendapatkan keadilan yang sempurna sebagaimana keadilan Allah ﷻ, karena terkadang manusia bisa berbuat adil dan bisa saja berbuat zhalim. Maka hendaknya kita tidak perlu terlalu pusing memikirkan ketidakadilan yang kita temui di dunia ini karena Allah ﷻ yang akan membalas setiap perbuatan dengan balasan yang setimpal di hari akhir nanti.

Tidak Ada yang Tersembunyi di Hadapan Allah ﷻ

Di akhirat nanti, Allah ﷻ akan membalas seluruh perbuatan yang kita lakukan di dunia, termasuk perbuatan zhalim dan perbuatan ketidakadilan. Walaupun perbuatan tersebut amat kecil dan amat tersembunyi pasti akan terlihat dan dibalas oleh Allah ﷻ. Hal ini sesuai dengan kaidah dalam agama kita yaitu al-jaza min jinsil amal yang artinya “Balasan akan didapat sesuai dengan amal perbuatan”. Orang yang berbuat baik, akan mendapat balasan kebaikan. Dan orang yang berbuat jahat, akan mendapat balasan yang buruk. [2]

Allah ﷻ berfirman, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Q.S. ar-Rahman [55]: 60). Allah ﷻ juga berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (Q.S. an-Nisâ’[4]: 123).

Luqman menasihati anaknya bahwa setiap perbuatan baik maupun perbuatan buruk akan ada balasannya kelak di hadapan Allah ﷻ, sesuai dengan firman-Nya, “(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Luqman [31]: 16).

Ibnu Katsir rahimahullâh berkata, “Ini adalah wasiat yang amat berharga yang Allah ceritakan tentang Lukman Al Hakim supaya setiap orang bisa mencontohnya. Kezhaliman dan dosa apa pun walau seberat biji sawi, pasti Allah akan mendatangkan balasannya pada hari kiamat ketika setiap amalan ditimbang. Jika amalan tersebut baik, maka balasan yang diperoleh pun baik. Jika jelek, maka balasan yang diperoleh pun jelek” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 55)[3]

Asy Syaukani rahimahullâh menerangkan, “Meskipun kejelekan dan kebaikan sebesar biji (artinya: amat kecil), kemudian ditambah lagi dengan keterangan berikutnya yang menunjukkan sangat samarnya biji tersebut, baik biji tersebut berada di dalam batu yang jelas sangat tersembunyi dan sulit dijangkau, atau di salah satu bagian langit atau bumi, maka pasti Allah akan menghadirkannya (artinya: membalasnya)” (FathulQodir, 5: 489)[3]

Allah ﷻ juga berfirman, “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan” (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 47)

Juga serupa dengan firman Allah ﷻ yang lain, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (Q.S. al-Zalzalah [99]: 7-8)

Walaupun kezhaliman tersebut sangat tersembunyi, Allah ﷻ akan tetap membalasnya. Karena Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Luqman [32]: 16)

Pada hari ketika nanti manusia dihisab di akhirat, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah ﷻ sesuai dengan firman-Nya, “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (Q.S. al-Haqqah [69]: 18)

Tetaplah Berusaha untuk Berbuat Adil

Walaupun tidak akan pernah kita temukan keadilan yang sempurna di dunia ini, hendaknya kita tetap berusaha untuk berbuat adil setiap saat karena yang demikian itu merupakan perintah dari Allah ﷻ sesuai dalam firman-Nya, “Dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S. al-Hujurât [49]: 9].

Bila dua kelompok dari orang-orang yang beriman bertikai, maka kalian (wahai orang-orang beriman) harus mendamaikan mereka, dengan menyeru mereka agar berhakim kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ dan rela menerima hukum keduanya. Bila salah satu dari kedua kelompok melanggar dan menolak seruan kepada Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ, maka perangilah mereka hingga mereka kembali kepada hukum Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ. Bila mereka telah kembali, maka damaikanlah mereka dengan adil. Berlaku adillah dalam hukum kalian, jangan melampaui hukum Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ dalam mengambil keputusan. Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai orang-orang yang berlaku adil dalam hukum mereka yang memutuskan dengan keadilan diantara makhlukNya. Dalam ayat ini terdapat penetapan sifat “mahabbah” bagi Allah ﷻ secara hakiki sesuai dengan keagungan Allah subhanahu wata’ala. [4]

Di ayat lain Allah ﷻ berfirman, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Maidah [5]: 8).

Ibnu Qayyim rahimahullah menukil ucapan seorang ulama salaf yang menafsirkan sikap adil dalam ayat ini, beliau berkata, “Orang yang adil adalah orang yang ketika dia marah maka kemarahannya tidak menjerumuskannya ke dalam kesalahan, dan ketika dia senang maka kesenangannya tidak membuat dia menyimpang dari kebenaran.” (Ar-Risalatut tabuukiyyah, hal.33) [5]

Sekali lagi, keadilan yang sempurna di dunia adalah mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan karena keadilan yang sempurna hanya milik Allah ﷻ yang Maha Adil. Semoga kita dimudahkan untuk berbuat keadilan dalam segala sesuatu dan dalam setiap waktu, serta dimudahkan dalam beramal kebaikan kepada Allah ﷻ dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah ﷻ.

Galih Enggartyasto

Teknik Mesin 2017

FTI UII

Marâji’

[1] https://bimbinganislam.com/apa-perbedaan-keadilan-allah-dan-keadilan-manusia/

[2] https://firanda.com/724-balasan-sesuai-perbuatan.html

[3] https://rumaysho.com/2373-nasehat-lukman-pada-anaknya-5-setiap-perbuatan-akan-dibalas.html

[4] https://tafsirweb.com/9779-quran-surat-al-hujurat-ayat-9.html

[5] https://muslim.or.id/6169-atasi-marahmu-gapai-ridho-rabbmu.html#_ftn12

Mutiara Hikmah

Rasulullah ﷺ bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (H.R. al-Bukhari no. 5763 dan Muslim no. 2609).

Download Buletin klik disini

Sabar Di Era New Normal

Sabar Di Era New Normal

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

New normal sebuah kata baru yang kita dengar setelah melewati masa pandemi Covid-19 yang sudah melanda bumi kurang lebih selama empat bulan ini. Definisi new normal yang dikemukakan Pemerintah Indonesia adalah sebuah tatanan baru untuk beradaptasi dengan Covid-19. Beradaptasi yang dimaksud  melestarikan kebiasaan hidup yang baik selama pandemi ini dalam menyongsong kehidupan layaknya normal kembali, namun penuh ekstra hati-hati.

Untuk di Indonesia sendiri melirik dari updatetan informasi yang dirilis oleh gugus tugas percepatan penanganan Covid-19  per hari ini 7 Juni 2020  dapat diperoleh data kasus komulatif korban yang positif adalah sebanyak 31.186 jiwa yang tersebar dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Dilihat dari grafik penyebarannya, masih ada terjadi penambahan kasus namun tidak melambung tinggi. Ini menandakan  Covid-19 nya masih ada dan tetap diwaspasai penyebarannya dalam menjalani kehidupan new normal saat ini.

Sebuah keniscayaan yang tidak pernah sama sekali kita duga untuk terjadi, Covid-19 menyerang dalam kemasifan yang mengakibatkan interaksi satu dan lainnya sangat dibatasi di seantero jagad bumi. Begitu banyak himbauan dalam gerak memutus rantai penyebaran virus ini. Begitu banyak kebijakan demi kebijakan yang muncul dalam menghadapi perkara ini. Sungguh ditekankan untuk melakukan social distancing dan stay at home dengan sangat ketat menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Di era new normal ini banyak hal yang membuat rasa sabar dan syukur  kita harus di lejitkan. Selama pandemi ini keluar ungkapan bahwa “rasa sabar mana lagi yang harus ku pendam dalam mengagumi dirimu wahai Covid-19” bukan nyayi ya, tapi realita kehidupan yang kita hadapi bersama. Betapa tidak, bisa kita rasakan begitu kagetnya kita yang tiba-tiba bebas bergerak dalam beraktifitas sekarang begitu banyak petatah-petitihnya. Semua memang harus dijalankan dengan penuh rasa sabar agar hidup tidak terasa hambar.

Kata sabar sendiri berasal dari bahasa arab yaitu as-Shabru, merupakan masdar dari fi’il madhi yang berarti menahan diri dari keluh kesah. Ada juga yang mengatakan as-Shibru dengan mengkasrahkan shad-nya yang berarti obat yang sangat pahit dan tidak enak. Imam Jauhari memahami kata sabar yang bentuk jamaknya berupa lafad (صُبُرٌ) dengan menahan diri ketika dalam keadaaan sedih atau susah. Dari kata sabar ini dapat disarikan bahwa dalam kondisi apapun, berjuanglah untuk  menahan diri  hal yang dapat merusak keteguhan diri yang mendekatkan pada keputusasaan.

Salah satu penyebab munculnya kondisi new normal adalah jika sudah melewati masa-masa sulit dari wabah yang menglobal. Untuk abad ke-21 ini, wabah yang melanda bernama Covid-19. Perlu kita ketahui bahwa wabah juga pernah terjadi  di zaman Rasulullah ﷺ, yakni ketika Nabi ﷺ melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Diceritakan saat itu di Madinah dalam keadaan buruk dengan air keruh dan penuh wabah penyakit. Nabi ﷺ pun meminta para sahabat agar menghadapi wabah itu dengan sabar dengan tetap berharap pertolongan dari Allah ﷻ.

Seperti diceritakan Aisyah, mereka yang bersabar dijanjikan syahid. “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)”. (HR Bukhori). Jika umat muslim menghadapi hal ini, seperti yang kita hadapi sekarang, dalam sebuah hadis disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit.

Wabah lainnya yang juga pernah terjadi di zaman Rasulullah ﷺ yaitu wabah penyakit Thaun,  Rasulullah ﷺ bersabda: “Tha’un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum Mukminin.” (HR. Bukhari). Dalam menghadapi wabah ini lagi dan lagi solusi jitu dari Rasulullah ﷺ adalah sabar mengahapi ini. Masih dalam hadits yang sama, Nabi ﷺ melanjutkan: “Tidaklah seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan bersabar, meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid.” Luar biasa balasan dari sabar ini, tidak tanggung-tanggung balasanya dari illahi Rabbi.

Ditengah keadaan yang serba terbatas untuk beraktifitas, sabar ialah sebuah pilihan sikap yang tepat dalam kondisi yang kita hadapi sekarang dalam menyongsong kehidupan new normal ini dan ketahuilah bahwa Allah ﷻ telah menjanjikan pahala berlimpah bagi hamba-Nya yang bisa bersabar. Allah ﷻ berfirman “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas..” (Q.S az-Zumar [39]: 10). Apalagi yang kita cari di dunia ini dalam beribadah kepada-Nya, ialah curahan pahala yang dapat menentramkan kehidupan yang sedang direnda di dunia menuju keabadian akhirat yang kelak semoga Allah ﷻ memberikan balasan syurga-Nya.

Tiada habisnya jika diperturutkan kemauan untuk berkeluh kesah dan berlama-lama larut di dalamnya, kenyataan bahwa dengan hadirnya Covid-19 menghampiri kehidupan banyak hal yang luput. Ada yang kehilangan pekerjaan sampai diberhentikan bekerja, ada yang usahanya harus ditutup, ada yang kehilangan sosok yang dicintai, ada yang harus terpisah oleh alasan yang menyayat hati dan lainnya, tapi dibalik itu semua banyak hal positif juga yang dapat kita ambil dan  perlu disibak firman Allah ﷻ lainnya yang mendamaikan jiwa yaitu “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“. (Q.S al-Baqarah [2]: 286).

Ayat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa Allah ﷻ tidak akan membebani seorang hamba dimana hamba tersebut tidak sanggup memikul bebannya.  Ini menandakan bahwa ujian pandemi ini dalam kesanggupan kita dan kita beriktiar maksimal dalam mengahadapinya.

Sabar memang mudah untuk diucapkan, tetapi belum tentu mudah juga dalam kita mempraktekannya. Dalam menjalani kehidupan ini, banyak hal yang membuat kita harus sabar dan menjauhi kemarahan. Harus ada azam yang kuat di hati dalam menyadarkan diri agar tidak mudah berkeluh kesah. Menghadapi itu semua kita butuh pertolongan dari Allah ﷻ bukan?. Sesungguhnya kita tidak dibiarkan sendirian dan tanpa bantuan oleh Allah ﷻ dalam mengupayakan sabar yang sulit ini.  Allah ﷻ berfirman “Mintalah pertolongan dengan sabar dan mengerjakan shalat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Q.S al-Baqarah [2]: 153).

Selain sabar ada amalan sholat yang harus juga dijaga bagi seorang muslim, sholat bisa menjadi pelancar dari kesempitan menuju kelapangan, dari  kesusahan menjadi kemudahan. Allah ﷻ kuasa atas semua itu.

Sabar bukan amalan biasa bagi seorang muslim. Begitu beratnya melakukan ini tapi bukan berarti tidak bisa juga untuk dilakoni. Seseorang yang selalu berupaya untuk sabar dalam hidupnya, sejatinya ia sedang merangkai kemenangan dalam menjalani fase pembentukan pribadi yang lebih baik lagi dan akan menemukan kemudahan-kemudahan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Allah ﷻ mengatakan bahwa orang yang bersabar itulah orang yang menang. Allah ﷻ berfirman “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (Q.S. al- Mu’minun [23]: 111).

Semoga kita semua dapat memetik hikmah dari situasi new normal ini dengan sikap sabar yang kita pilih dan dapat mengecap manisnya pahala sabar dari apa yang telah dijanjikan Allah ﷻ dalam berbagai firman-Nya di kondisi yang sekarang ini. Tidak akan rugi dan akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki untuk dunia dan akhirat nanti insyaallah.[]

Marâji’

  1. https://islami.co/sabar-itu-apa-sih-ini-lima-makna-sabar-dalam-al-quran/
  2. https://www.tagar.id/pandemi-corona-dan-kisah-wabah-penyakit-zaman-nabi
  3. https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/VNx4QWDN-lima-cara-rasulullah-menghadapi-wabah-dan-penderita-penyakit-menular

Darnela Putri

Magister Ekonomi Islam

Universitas Islam Indonesia

Mutiara Hikmah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Download Buletin klik disini

Jagalah Ketulusan Hati

Jagalah Ketulusan Hati

Bismillâhi walhamdulillâhi wash shalâtu wassalâmu ‘alâ rasûlillâh.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah ﷻ. Hati merupakan organ yang memiliki fungsi yang agung bagi manusia. Hati merupakan bagian penting dari tubuh manusia, dalam membedakan nilai sebuah amalan seseorang. Hati diibaratkan sebagai raja, sedangkan anggota tubuh lainnya diibaratkan sebagai prajuritnya. Jika rajanya baik dalam memimpin, maka prajuritnya akan baik pula dalam menjalankan tugasnya. Begitupun sebaliknya, jika rajanya buruk dalam memimpin, maka prajuritnya pun akan kacau dan buruk dalam melaksanakan tugasnya.

Standar Baik dan Buruknya Amalan

Standar baik buruknya amalan seseorang, ditentukan oleh keadaan hatinya. Jika hatinya baik, maka akan baik pula amalan anggota tubuh lainnya. Namun, jika hatinya buruk, akan buruk pula amalan anggota tubuh lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati..”            (H.R. Muslim).[1]

Bagaimana hati bisa mempengaruhi amalan seseorang? Amalan hati yang dimaksud disini, yang dengannya menentukan seberapa bernilainya amalan anggota badan adalah niat. Niat juga merupakan pembeda antara ibadah dan mu’amalat, antara ibadah dengan rutinitas (aktifitas duniawi) seseorang serta antara ibadah sunnah dan wajib. Niat yang ikhlas karena Allah ﷻ merupakan komponen yang penting dalam suatu amalan dan sebagai salah satu syarat diterimanya ibadah seseorang disisi Allah ﷻ  disamping ittiba’ pada Rasulullah ﷺ.

Semua perbuatan baik yang diiringi dengan niat ikhlas karena Allah ﷻ, maka in sya Allah perbuatan tersebut bernilai ibadah disisi Allah ﷻ. Pahala yang akan diterima seseorang pun tergantung dengan seberapa kadar keikhlasan dalam niatnya.

Nilai Sebuah Amalan Tergantung Niatnya

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya semua perbuatan tentu didasari oleh niat, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya (bernilai) sesuai dengan yang diniatkannya.’” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits tersebut menunjukkan pentingnya ikhlas dalam melakukan setiap amalan, dan tidak ada orang lain yang mengetahui keikhlasan seseorang, karena sejatinya niat yang ikhlas itu terletak di dalam hati. Namun, seseorang yang menanamkan keikhlasan di hatinya dalam melaksanakan amalannya, maka otomatis akan terlihat baik pula secara dzohirnya, sebagaimana perkataan ulama salaf, “Siapa yang memperbagus sarirohnya (amalan hati/batinnya), maka Allah ﷻ akan memperbagus alaniyyahnya (amalan anggota badannya)” [2][2].

Apa-apa yang diniatkan ikhlas karena Allah ﷻ akan mendatangkan juga keridhoan dan pahala dari Allah ﷻ. Selain itu, ketika ia memperoleh sesuatu yang ia niatkan, maka ia tidak akan berbangga diri serta mensyukurinya, dan apabila ia tidak mendapatkannya, ia tak pula bersedih hati dan merasa lapang dengan hal itu karena ia memahami bahwa segala sesuatu sudah Allah ﷻ tentukan kebaikan di dalamnya. Begitulah agungnya jika sesuatu diniatkan karena Allah ﷻ.

Sebaliknya, jika sesuatu yang dilakukan hanya diniatkan untuk perkara dunia, dalam arti tidak ikhlas karena Allah ﷻ, maka ia akan memperoleh sebatas apa yang dia niatkan. Bahkan, amalan yang ia kerjakan tidak memberikan manfaat baginya di akhirat dan akan menimbulkan kesia-siaan belaka.  Allah ﷻ berfirman, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S. Hud [11]: 15-16).

Hati yang Ternodai

Dalam melakukan suatu amalan, ada kalanya di awal kita sudah meniatkan ikhlas karena Allah ﷻ. Namun, tanpa disadari di tengah-tengah kita melakukan amalan, muncul penyakit hati berupa riya’. Riya’ adalah seseorang melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji dirinya, termasuk di dalamnya sum’ah yaitu melakukan suatu amalan agar orang lain mendengar apa yang ia lakukan.

Penyakit ini amatlah berbahaya bagi seseorang, yang mana dapat merusak sebuah niat sekaligus menghapuskan amalan yang disertai riya’ didalamnya. Riya’ tergolong ke dalam syirik kecil, bahkan bisa masuk ke dalam kategori syirik besar apabila dalam niatknya tidak ada sedikitpun kerena Allah ﷻ, hanya karena pujian dan sanjungan semata.

Ulama memberikan klasifikasi terkait amalan yang disertai riya’. Seseorang yang beribadah dengan maksud pamer kepada orang lain, maka ibadahnya batal dan tidak sah. Namun jika riya’ atau sum’ah muncul si tengah ibadah, maka ada dua keadaan. Jika amalan ibadah tersebut berkesinambungan dari awal hingga akhir, misalnya sholat, maka riya’ akan membatalkan ibadah tersebut jika seseorang tidak berusaha menghilangkannya dan tetap ada dalam ibadah tersebut. Keadaan yang kedua adalah amalan yang tidak berhubungan antara bagian awal dan akhir, shodaqoh misalnya. Apabila di sebagian shodaqohnya ada unsur riya’, maka shodaqoh yang tercampuri riya’ tersebut batal, sedangkan yang lain tidak [3].

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu menjaga kesucian hati dari noda-noda riya’ dan sum’ah yang dapat menodai amalan disebabkan rusaknya niat dalam hati. Rasulullah ﷺ  telah mengajarkan kepada kita sebuah doa untuk melindungi diri kita dari syirik besar maupun syirik kecil, “….Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam (‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui)”  (H.R. Ahmad (4/403), dishahihkan oleh Syaikh al Albani)[4] .

Menyembunyikan Amalan

Menyembunyikan amalan dari manusia merupakan cara terbaik untuk menjaga agar niat selalu ikhlas. Seperti yang kita ketahui, riya’ muncul karena hati ternodai dengan keinginan agar dipuji, disanjung, dihormati, maupun dianggap baik. Sangat kecil kemungkinan atau bahkan tidak mungkin, seseorang merasa riya’ sedangkan ia sedang sendiri ketika beramal, karena adanya perasaan seperti itu disebabkan kehadiran orang lain.

Para ulama ada yang menjelaskan bahwa untuk amalan Sunnah seperti sedekah sunnah dan shalat sunnah, maka lebih utama dilakukan sembunyi-sembunyi. Melakukan seperti inilah yang lebih mendekatkan pada ikhlas dan menjauhkan dari riya’[5] . Adapun ibadah yang di dalamnya ada potensi dilihat oleh orang lain, contohnya saja sholat berjamaah ke masjid, sholat jum’at, dan sebagainya, maka tidaklah mengapa. Maka agar amalan tersebut tidak sia-sia, hendaknya seseorang bersungguh-sungguh dalam menjaga keikhlasan baik sebelum, ketika, dan sesuadah melakukan amalan tersebut.

Menyembunyikan amalan tidak hanya di dunia nyata saja, namun penting juga dilakukan di dunia maya. Kemudahan dalam berbagi informasi kepada semua orang hendaknya menjadikan kita cerdas dalam membagikan informasi yang bermanfaat. Lebih utama jika seseorang tidak memposting ibadahnya seperti bersedekah dan lainnya, tanpa tujuan maslahat yang dibenarkan syari’at. Dengan menyembunyikan amalan, insyaAllah lebih selamat dari noda-noda hati yang siap menghampiri, Wallahu Ta’ala a’lam.[]

Uswatun Chasanah

Psikologi UII

Marâji’:

[1] https://muslim.or.id/26163-agungnya-kedudukan-amalan-hati-dalam-islam.html

[2] Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim. Awaa’iqu ath Thalab: halaman 13.

[3] https://muslim.or.id/5470-riya-penghapus-amal.html

[4] https://muslim.or.id/5470-riya-penghapus-amal.html

[5] https://rumaysho.com/656-tanda-ikhlas-berusaha-menyembunyikan-amalan.html

Mutiara Hikmah

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi ﷺ bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (H.R. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Profesiku Ibadahku

Profesiku Ibadahku

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

“Jadikan hidup sebagai ibadah!” Sebuah kalimat sederhana namun penuh makna dan nampak sulit untuk diimplementasikan. Hal tersebut selaras dengan tujuan Allah ﷻ menciptakan manusia di muka bumi ini sebagaimana yang telah difirmankan Allah ﷻ dalam surat adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya, “Dan aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. adz-Dzariyat [51]: 56)

Dalam Zubdatut Tafsir, Mujahid berkata: maknanya adalah melainkan Aku akan memerintahkan dan melarang mereka. Pendapat lain mengatakan yakni melainkan agar mereka tunduk dan patuh kepada-Ku. Sebab makna ‘ibadah’ secara bahasa adalah tunduk dan patuh.[1]

Bekerja untuk mendapatkan penghidupan (baca: rezeki) adalah ibadah. Karena bekerja itu ibadah, maka dalam bekerja harus tunduk dan patuh dengan aturan Allah ﷻ. Allah ﷻ telah memberi jatah rezeki setiap makhluk-Nya bahkan rezeki seekor lalat sekalipun telah diatur-Nya. Tidak ada satu makhluk (bernyawa) pun di muka bumi ini melainkan telah Allah ﷻ jamin rezekinya. Seperti halnya jodoh, rezeki setiap mahkluk tidak akan tertukar. Jatah dan porsinya sama, hanya cara menjemputnya yang berbeda-beda setiap makhluk. Manusia, sebagai makhluk yang dikaruniai akal oleh Allah ﷻ, seyogyanya memiliki berbagai macam cara dalam menjemput rezeki tersebut, tentunya dengan cara-cara yang halal dan dibolehkan oleh syari’at Islam, salah satunya dengan bekerja.

Allah ﷻ menciptakan dunia dan seisinya, dengan segala kecanggihan teknologinya, dengan segala kekayaan alamnya, dengan tujuan untuk memberi penghidupan kepada manusia. Contohnya saja Indonesia, sebagai negara kaya akan sumber daya alam namun karena ketidakmampuan sumber daya manusianya dalam mengelola kekayaan alam tersebut sehingga menyebabkan ketimpangan sosial dan kemiskinan semakin merajalela.

Sumber daya alam yang melimpah dan kecanggihan teknologi yang ada seharusnya mampu menciptakan berbagai macam lapangan pekerjaan, berbagai macam profesi, dan berbagai macam posisi sebagai bentuk ikhtiar kita sebagai “hamba”. Namun perlu diingat, segala pencapaian yang sudah kita raih, profesi dan posisi yang bagus di kantor bahkan harta yang berlebih adalah pemberian dari Allah ﷻ. Seperti yang disabdakan Nabi ﷺ dalam hadits riwayat Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash yang artinya: “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (H.R. Muslim no. 2653)

Ambillah Pelajaran dari Kisah Qarun!  

Janganlah seperti Qarun! Profesi, tahta, dan harta merupakan hal-hal yang sangat menggiurkan, semua konflik keluarga dan sosial bisa terjadi hanya karena ketiga hal di atas. Bahkan zaman Rasulullah ﷺ, telah banyak kaum yang dibutakan oleh harta dan tahta, salah satunya seperti kisah Qarun yang sangat masyhur.

Pada masanya, Qarun orang yang kaya raya dan bergelimang harta. Namun, ia telah dibutakan oleh hartanya. Kesombongan Qarun benar-benar telah mengundang murka Allah ﷻ. Allah menurunkan adzab kepada Qarun berupa gempa bumi dan longsor yang dahsyat. Qarun tenggelam bersama seluruh harta kekayaannya ke dalam perut bumi. Tidak ada sedikitpun harta yang tersisa, seluruhnya rata dengan tanah. Tidak ada satupun golongan yang mampu menyelamatkannya, baik keluarga, kerabat maupun temannya. Harta yang selama ini dibanggakannya justru menjadi malapetaka baginya dan tidak sedikitpun mampu menolongnya. Maka binasalah Qarun beserta harta kekayaannya dikarenakan kedurhakaan dan kekufurannya.[2]

Kisah tersebut bisa menjadi i’tibar (pelajaran), sehingga Allah ﷻ mengabadikan kisahnya dalam al-Qur’an ayat 78 yang artinya, “Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (Q.S. al-Qashas [28]: 78)[3]

Bekerja adalah Ibadah

Harapannya, janganlah kita hanya disibukkan dengan urusan duniawi saja sehingga melupakan kewajiban-kewajiban ukhrawi. Paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan menjadikan profesi kita saat ini sebagai ibadah. Apapun profesi dan jabatan kita, jadikan sebagai ibadah dan proses penghambaan kita kepada Allah ﷻ. Jika kita telah berhasil menjadikan tujuan kita bekerja adalah untuk ibadah, in sya Allah rezeki yang kita dapatkan akan membawa berkah tidak hanya di dunia melainkan juga di akhirat.

Kita mampu meminimalisir hal-hal tercela dan tidak diinginkan lainnya yang mungkin terjadi di tempat kita bekerja, misalkan kecurangan, kemalasan, ketidakadilan, ketidakjujuran, dan perbuatan tercela lainnya. Tidak mudah diimplementasikan, namun kita bisa mulai dari diri kita sendiri, terlebih jika kita bisa menularkan energi positif tersebut kepada rekan-rekan di kantor sehingga tercipta budaya kerja yang Islami, karena bermanfaat bagi orang lain juga merupakan ibadah.

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi ﷺ dan berkata: ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah? dan amal apakah yang paling dicintai Allah?” Rasulullah ﷺ menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barang siapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barang siapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (H.R. Thabrani)[4]

Janganlah kita bekerja hanya untuk mencari rezeki, tapi niatkan juga untuk beribadah kepada Allah dengan niat yang ikhlas. Keihklasan adalah perkara yang amat menentukan. Dengan niat yang ikhlas, segala bentuk pekerjaan yang berbentuk kebiasaan bisa bernilai ibadah. Dengan kata lain, aktivitas usaha yang kita lakukan bukan semata-mata urusan harta dan perut tapi berkaitan erat dengan urusan akhirat.

Allah ﷻ telah memerintahkan kita untuk berbuat kebaikan. Memberi makan orang miskin dan anak yatim, saling membantu yang membutuhkan, mengeluarkan zakat, bersedekah, dan menyampaikan ilmu. Semua itu tidak dapat kita lakukan kalau kita tidak memiliki uang. Untuk bisa mendapatkan uang, jalannya dengan bekerja.[5] Oleh karena itu bekerjalah karena Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman: Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. At-Taubah [9]: 105)

Allah ﷻ dalam al-Qur’an menjamin rezeki setiap makhluk-Nya, namun al-Qur’an tidak memberi peluang bagi seorang Muslim untuk berleha-leha dalam hidup. Semakin kita bekerja keras, insya Allah semakin besar pahala yang akan diberikan Allah ﷻ. Jika nafkah yang didapat merupakan bekal untuk beribadah, maka semakin banyak nafkah yang didapat, semakin banyak ibadah yang bisa dilakukan. Pendapatan kita sudah tertulis, begitupun pasangan, pekerjaan, makanan yang kita makan, bahkan kematian kita sudah tertulis.

Lantas, mengapa masih didapati orang frustasi, banyak pikiran, banyak penyakit bersarang di tubuhnya, jika semua urusan telah ada yang mengatur? Oleh karena itu, serahkan semua urusan kita kepada yang mengatur, mari kita fokus pada agama kita, perbaiki ketakwaan kita, perbaiki hubungan kita dengan-Nya, marilah mulai saat ini, kita jadikan profesi kita sebagai ibadah dan bernilai pahala, maka hidup kita akan bahagia dan dunia akan menghampiri kita tanpa perlu kita bersusah payah mengejarnya.

Maraji’:

[1] Zubdatut Tafsir,” https://tafsirweb.com/37749-quran-surat-adz-dzariyat-ayat-56-58.html.

[2] Fera Rahmatun Nazila, “Qarun, Si Kaya Raya Yang Ditelan Bumi Karena Harta.”

[3] Quran Surat Al-Qashash Ayat 78,” https://tafsirweb.com/7128-quran-surat-al-qashash-ayat-78.html.

[4] Hadits Ini Dihasankan Oleh Syeikh Al-Albani Didalam Kitab ‘at Targhib Wa at Tarhib’ (2623)” (n.d.).

[5] Hadits Manusia Paling Bermanfaat,” Era Muslim: Media Islam Rujukan, last modified 2020, https://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hadits-manusia-paling-bermanfaat.htm#.Xmm4kjIzbIV.

 

*Camelia Rizka Maulida Syukur

Mahasiswa Program Magister Studi Islam

Universitas Islam Indonesia

 

Mutiara Hikmah

Allah ﷻ berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.” (Q.S. al-Kahfi [18]: 110)

Menjaga Kedamaian Dengan Keadilan

Menjaga Kedamaian Dengan Keadilan

Bismillâhi wal hamdulillâhi wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh,

Pembaca budiman yang senantiasa dirahmati Allah ﷻ. Pada hakikatnya manusia hidup berdampingan, saling tolong-menolong, kasih-mengasihi antar sesama dan dengan alam sekitarnya. Maka tidak heran jika manusia kemudian diberi julukan sebagai makhluk sosial. Tumbuh-tumbuhan, bebatuan, air, dan segala hal yang tersedia di alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pemberian itu bersifat sebagai amanah dari Allah yang oleh-Nya manusia diberi mandat untuk menjaga, merawat, dan mengatur alam ini.

Allah ﷻ firman yang artinya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S. al-Baqarah [2]: 30)

Berdasarkan pada ayat di atas, manusia mempunyai kewajiban untuk menjaga, merawat dan mengatur alam ini sesuai dengan posisinya sebagai khalifah di muka bumi ini. Proses penjagaan terhadap alam ternyata bersinggungan dengan konsep adil. Kata adil diambil dari bahasa arab al-‘adl  yang berarti menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Lawan dari kata ‘adl adalah zhalim yang berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Banyak kasus di sekitar kita yang tanpa kita sadari merupakan pembahasan dari adl-zhalim itu sendiri.  Sebagai contoh seseorang yang membuang sampah di jalan atau di sungai. Tindakan itu termasuk dalam kategori zhalim, karena menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Begitu juga dengan kasus seorang murid yang masuk kelas tidak pada waktunya. Perbuatan seperti ini patut untuk kita koreksi untuk perbaikan agar bisa lebih baik lagi.

Penempatan waktu yang tidak tepat juga merupakan implementasi dari sikap anti adil. Terkadang pemuda-pemuda malah asyik  meneruskan bermain bola sedangkan lantunan adzan sudah berkumandang. Sikap yang seharusnya mereka ambil adalah  menghentikan permainan dan mendengarkan adzan sebagai penghormatan. Ada baiknya dalam melakukan kegiatan seperti itu mempertimbangkan terlebih dahulu apakah waktu itu akan mengganggu yang wajib-wajib atau tidak, sehingga ketika kita sudah mempertimbangkan itu semua tidak ada was-was yang muncul dalam hati bahkan mungkin kedamaian akan menghinggapi yang menjadikan hati merasa tenang dan tenteram.

Dalam bernegara keadilan merupakan salah satu pembahasan pokok di masyarakat. Keadilan secara umum didefinisikan sebagai “Perlakuan yang sama tanpa melalui kompleksitas pribadi-pribadi yang bersangkutan”. Secara ideal keadilan memperhatikan perbedaan-perbedaan kebutuhan setiap individu, kesamaan, dan kesetaraan bukan pada terletak pada pembagian secara sama rata.

Sebagai contoh ada seorang ibu mempunyai dua anak. Anak yang pertama sekolah di SMA dan anak yang ke dua masih mengenyam pendidikan di kelas dua SD. Kemudian anak yang pertama dan kedua sama-sama mendapatkan uang jajan Rp. 5000. Secara pembagian sama ratanya ibu itu benar, tapi jika ditinjau dari tingkat kebutuhan dan kompleksitasnya perbuatan itu tidak belum mencerminkan sikap adil. Karena memang dalam kasus ini bukanlah nilai sama yang harus dijunjung akan tetapi karena pertimbangan kebutuhan dari kedua anak yang berbeda.

Kadang kala nilai adil adalah kesamaan. Semisal ada orang Jawa dan orang Papua. Negara harus berdiri di tengah-tengah mereka dengan memberikan kewajiban dan hak yang sama sebagai rakyat Indonesia. Tidak boleh ada keistimewaan terhadap salah satu golongan saja walaupun ada yang minoritas dan mayoritas. Semua harus mendapatkan jatah yang sama. Oleh sebab itu dengan ditegakkannya keadilan maka akan timbullah kedamaian. Sama halnya dengan kasus seorang ibu dengan kedua anaknya. Setiap dari mereka juga mempunyai hak yang sama dalam kasih sayang.

Hal ini sesuai dengan ungkapan dari seorang sosiolog muslim yang masyhur pada zamannya, Ibnu Khaldun. Beliau memegang prinsip bahwa keadilan merupakan konsep yang abstrak dan idealis,  diungkapkan dalam istilah-istilah yang unggul dan sempurna, dan tidak berdasarkan kepada realitas sosial. Sistem keadilan yang dibentuk berdasarkan pada solidaritas sosial yang berada di atas pondasi solidaritas individu yang menimbulkan rasa kasih-sayang dan saling membantu satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain nafas keadilan menurut Ibnu Khaldun adalah solidaritas.

Karena sikap adil itu sangat penting sehingga Allah ﷻ memperingatkan hamba-Nya dalam surat al-Anfâl ayat 25, yang artinya, “Dan peliharalah diri kalia dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang –orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Q.S al-Anfâl [8]: 25)

Ayat di atas menjelaskan bahwa siksaan Allah ﷻ tidak sebatas hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berbuat zhalim saja, tetapi orang yang melihat kezhaliman tersebut di depan mata dan tidak berbuat apa-apa juga mendapatkan siksaan. Seseorang yang melihat temannya melakukan suatu kezaliman seperti membuang sampah sembarangan dan membiarkannya terbuai dengan tindakan itu merupakan contoh dari ayat di atas. Perbuatan itu mencerminkan perilaku yang acuh tak acuh dan tidak melaksanakan konsep amal ma’ruf nahi munkar .

Konsep adil di tegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya di surat an-Nisâ’ ayat 135 yang artinya, Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (Q.S an-Nisâ’ [4]: 135)

Sikap adil sering dipraktekkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Salah satunya kisah sahabat nabi yang bernama Ukasyah bin Mihsan. Ketika itu Nabi bertanya siapa saja yang pernah dizhalimi oleh Rasullullah ﷺ mengingat kematian sudah semakin dekat. Ukasyah menegaskan bahwa Ia pernah terkena tongkat komando Rasulullah ﷺ dalam perang dan  rasanya sakit. Rasullullah ﷺ kemudian memberikan tongkat itu kepada Ukasyah untuk melakukan qishas. Ukasyah lalu menjelaskan bahwa waktu itu Ia tidak mengenakan baju yang menutupi badannya. Dengan mempertimbangkan aspek keadilan dan sebagai contoh yang kelak menjadi rujukan kaumnya maka Rasulullah ﷺ dengan sukarela melepas baju yang melekat di badannya dan mempersilahkan Ukasyah untuk memukulnya. Sungguh teladan mulia apa yang dicontohkan oleh beliau yang kita sendiri belum tentu mampu untuk mengikutinya.

Contoh di atas memberikan gambaran untuk berbuat adil, baik itu yang berakibat pada diri kita sendiri, maupun terhadap orang lain. Untuk yang berakibat pada diri sendiri ini biasanya sangat berat untuk kita laksanakan, karena kadang seringkali kita melihat diri kita ini sebagai korban dari ketidak adilan. Kita membela diri bahwa kita tidak melakukan ini itu dan sebagainya yang bisa mengakibatkan permasalahan yang semakin panjang.

Para pemimpin kita dan kita sendiri seharusnya meneladani sikap Rasulullah ﷺ yang adil terhadap siapa saja. Bahkan beliau rela dirinya sendiri menerima perlakuan semacam itu untuk menegakkan keadilan di muka bumi ini.

Hukum seharusnya ditegakkan dengan penuh keadilan, tidak tumpul ke atas tetapi tajam  ke bawah. Seorang pemimpin sejatinya berani  menegakkan keadilan kepada semua pihak tanpa memandang pangkat, jabatan, keka­yaan, ras, suku, agama, baik dari partai­nya sendiri maupun orang-orang yang di luar partainya. Bahkan ketika anaknya berbuat kejahatan semestinya mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah dilakukannya. Bukan malah membuat kesepakatan mengatasnamakan jabatan dan bersembunyi di bawak ketek kekuasaan. Begitulah pemimpin harus tegas untuk menegakkan keadilan mengingat kedamaian tercipta karena keadilan.

Keadilan menjadi substansi dari hukum, hukum diterapkan untuk menciptakan kedamaian, melindungi manusia dan tidak dijadikan alat untuk menindas dan menghabisi musuh. Wallâhu a’lam.

Marâji:

https://islami.co/ibnu-khaldun-bicara-keadilan-sosial/

https://jagad.id/pengertian-adil-menurut-para-ahli-dan-dalam-islam/

https://tafsirweb.com/1667-quran-surat-an-nisa-ayat-135.html

https://tafsirweb.com/290-quran-surat-al-baqarah-ayat-30.html

https://tafsirweb.com/2891-quran-surat-al-anfal-ayat-25.html

https://analisadaily.com/berita/arsip/2019/2/22/697558/rasulullah-saw-mempraktekkan-keadilan/

 

*Fatkhur Rohman Khakiki

Prodi Teknik Kimia FTI UII

 

Mutiara Hikmah

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Siapa yang membunuh kafir mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari no. 3166)