CARA MUDAH MEMAHAMI TAUHID

Tauhid secara bahasa Arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal.39).

Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal.39). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja. (Sumber: https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html)

Pembagian tauhid ke dalam tiga bagian diambil dari penelitian terhadap nash-nash al-Qur’an. Dari ayat-ayat tersebut, disimpulkan bahwa tauhid itu terbagi menjadi tiga bagian. Oleh karena itu, pembagian ini merupakan hakikat syari’at yang diambil dari Kitabullah, bukan suatu istilah yang diada-adakan oleh sebagian ulama tanpa dalil.
Pembagian ini sangat memudahkan pemahaman kaum muslimin tentang tauhid. Dengan memahami tiga bagian tauhid ini, seorang muslim memiliki tolok ukur yang jelas dan mudah tentang tauhid, apakah ia sudah termasuk seorang muwahhid (yang mentauhidkan Allah l), atau belum. Seorang awam atau anak kecil yang belum baligh pun akan dengan mudah memahaminya. Dari berbagai dalil yang bertebaran dalam al-Qur’an, as-Sunnah, dan atsar Salafush Shalih, para ulama membagi tauhid ke dalam tiga bagian,

Tauhîd Rubûbiyyah
Pertama, tauhid rubûbiyyah (mengesakan Allah l dalam perbuatan-Nya) adalah i’tiqad (keyakinan) yang mantap bahwa hanya Allah yang mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan dan mengatur semua urusan semua makhluk. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam semua itu. Hanya Allah Ta’ala saja yang mampu melakukannya.
Lawan dari tauhid rubûbiyyah adalah meyakini ada selain Allah l yang ikut mencipta, mengatur makhluk, atau melakukan perbuatan-perbuatan lainnya yang hanya dapat dilakukan oleh Allah l.
Di antara dalil-dalil tauhid rubûbiyyah adalah firman Allah l yang artinya,

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (Q.S. al-A’râf [7]: 54)

Firman-Nya juga yang artinya,

“Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kalian tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka mengapa kalian tidak bertaqwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka mengapa kalian masih tertipu?’” (Q.S. al-Mu’minûn [23]: 84-89)

PETUNJUK AL-QUR’AN TENTANG DASAR-DASAR KEDOKTERAN

Segala puji bagi Allah  yang telah menunjukkan bagi manusia jalan keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Dengan hikmah-Nya, Allah menurunkan petunjuk yang membimbing manusia dalam segala aspek kehidupannya. Begitu sempurnanya agama Islam ini sehingga bukan hanya ibadah ritual saja yang diatur. Namun, interaksi antar makhluk, bahkan kehidupan individual makhluk pun dibimbing sedemikian rupa untuk kemaslahatan manusia.
Salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia ialah aspek kesehatan. Gangguan kesehatan amat menurunkan kualitas hidup manusia. Untuk itulah dibutuhkan panduan menjaga kesehatan bagi populasi manusia.
Al-Qur’anul karim sebagai kitab suci panduan hidup muslimin telah memuat panduan umum menjaga kesehatan. Seorang ulama pakar tafsir, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mencantumkan bab “Petunjuk al-Qur’an tentang Dasar-Dasar Kedokteran” dalam kitab Qawaidul Hisan.
Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan,

“Menjaga kesehatan dilakukan dengan tiga langkah: melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi kesehatan, menghindari aktivitas yang membahayakan kesehatan, dan menyingkirkan berbagai unsur yang dapat membahayakan kesehatan tubuh.”

Kemudian beliau menjelaskan beberapa dalil di dalam Al-Quran yang menunjukkan bimbingan dalam tiga langkah yang telah tercantum di atas.

Melakukan Aktivitas yang Bermanfaat Bagi Kesehatan
Allah berfirman (yang artinya),

“Makanlah dan minumlah oleh kalian, namun janganlah berlebih-lebihan,” (Q.S.al-A’râf [7]: 31). As-Sa’di menjelaskan bahwa Allah memberikan perintah bagi manusia untuk makan dan minum, dimana tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik tanpanya. Perintah yang umum ini menjelaskan bahwa mengkonsumsi makanan dan minuman -yang sesuai untuk manusia- bermanfaat dalam segala waktu dan keadaan.

Jika kita perluas pembahasan ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa salah satu cara penting menjaga kesehatan ialah melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi kesehatan. Selain makan dan minum, aktivitas penting lainnya misalnya olahraga dan istirahat sesuai kebutuhan.
Yang menarik, di akhir bab ini As-Sa’di menjelaskan,

“Demikianlah, segala amal yang Allah sebutkan di kitab-Nya, seperti jihad, shalat, puasa, haji, dan seluruh amalan termasuk berbuat baik kepada makhluk, meskipun tujuan terbesarnya ialah mencari ridha Allah mendekatkan diri kepada-Nya, mencari balasan-Nya, serta berbuat baik kepada hamba-Nya, sesungguhnya amal-amal tersebut dapat menyehatkan dan melatih tubuh, begitu pula melatih dan menenangkan jiwa, menyenangkan hati. Di dalam amal tersebut juga terdapat rahasia yang istimewa, yaitu menjaga dan meningkatkan kesehatan, serta menghilangkan sumber penyakit dari tubuh.”

Menghindari Aktivitas yang Membahayakan Kesehatan
Allah memperbolehkan orang yang sakit untuk bertayamum jika air wudhu membahayakan kesehatan. Allah juga melarang untuk “mencampakkan tangan kita ke dalam kebinasaan”. Termasuk di larangan ini ialah menggunakan segala zat yang membahayakan tubuh baik dari jenis makanan maupun obat-obatan tertentu. Di ayat ke 31 surat al-A’râf di atas terdapat larangan berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Bentuk berlebih-lebihan bisa dalam hal jumlahnya, dalam memilih makan-minum, waktu makan-minum, dan ini merupakan bentuk menghindari hal-hal yang membahayakan diri. Contoh penerapan lain dari pelajaran ini di antaranya menghindari rokok, minuman keras, serta narkoba, menghindari aktivitas yang berisiko tinggi seperti kebut-kebutan di jalan umum, perilaku seks bebas, dan lain-lain.

MENGGAPAI KETENANGAN HATI

Bismillâhi walhamdulillâh wash shalâtu was salâmu ‘ala rasûlillâh

Di era modern saat ini, sangat mudah bagi seseorang untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya dan apa yang menjadi keinginannya. Hampir semua hal pada zaman ini sangat mudah untuk diakses, sangat mudah untuk diraih, dan sangat mudah untuk dimiliki. Segala fasilitas untuk memuaskan hati dan nafsu tersebut telah terbentang luas di zaman teknologi seperti sekarang ini. Namun, apakah dengan tersedianya segala fasilitas tersebut mampu membawa seseorang untuk meraih ketenangan hati? Kelapangan hati? Dan kebahagiaan hati?, tidak selalu, jawabnya.

Kita banyak melihat seseorang yang dapat dikatakan memilki segalanya, memiliki harta yang melimpah ruah, memiliki keluarga yang utuh, memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat, memiliki kendaraan yang mewah, tempat tinggal yang luas, tanah yang banyak, serta tabungan deposito di mana-mana, akan tetapi hatinya tidak tenang, dadanya sempit, jiwanya gusar, pikirannya terombang-ambing tak tentu arah. Seperti itulah hakekatnya dunia, ia akan terus membuat seseorang merasa cemas dan gelisah.

Ibnu Qoyyim dalam kitabnya yang berjudul “Liasbab syaroh Assodri” (sebab-sebab lapangnya hati) menyebutkan bahwa “siapa saja yang jatuh cinta kepada selain Allah swt, maka dia akan disiksa dengannya”.

Beliau menjelaskan bahwa siapa yang mencintai kepada selain Allah swt (boleh jadi berupa wanita/pria, harta, kendaraan, tempat tinggal, kedudukan, dan lain-lain), maka Allah swt akan menyiksanya sebanyak 3 kali di dunia ini. Adapun siksaan tersebut antara lain, 1. Seseorang akan disiksa dengan sesuatu yang dicintainya itu sebelum ia mendapatkannya. Semakin besar keinginannya untuk mendapatkannya maka hatinya akan semakin tersiksa. Semakin ia membayang-bayangkan dan semakin ia rindu dengan apa yang ia inginkan itu, maka akan semakin tersiksa hatinya, semakin sempit dadanya karena hatinya tengah dirundung kerinduan yang mendalam dengan sesuatu yang belum ia dapatkan dan belum ia miliki. Hal ini tentu saja menyiksa dan menyesakkan dada. 2. Seseorang akan disiksa dengan sesuatu yang dicintainya saat ia memilikinya, yakni seseorang itu akan merasa cemas, was-was, dan takut kehilangan sesuatu yang dicintainya tersebut. Semakin besar cintanya maka akan semakin besar cemas dan ketakutannya akan kehilangan atau ditinggalkan dengan sesuatu yang dicintainya tersebut. Bahkan tak sedikit seseorang yang tidak bisa tidur 24 jam lantaran memikirkan seuatu yang dimilikinya tersebut. Hal inipun sangatlah amat menyiksa. 3. Jika apa yang dicintainya tersebut telah dimilikinya dan kemudian benar-benar dihilangkan dari sisinya, maka inilah siksaan yang ketiga, siksaan yang teramat amat menyiksa. tidak sedikit seseorang yang menjadi depresi, stres, bahkan gila karena kehilangan sesuatu yang amat dicintainya itu. Bagaimana tidak tersiksa, jika sesuatu itu telah diimpi-impikan sejak lama, mendapatkannyapun perlu perjuangan yang sangat berat, lalu saat telah memilikinya dirawat dan dipelihara dengan baik, dan yang lebih dari itu sudah terlalu banyak kenangan indah dan manis yang telah dilewati bersama, namun kemudian ia hilang, maka sungguh inilah puncak kesedihan dan tersiksanya hati seseorang. Namun perlu diketahui oleh setiap mukmin, bahwa memiliki dunia bukanlah hal yang terlarang, bukanlah dosa, bukanlan aib di sisi Allah swt. Akan tetapi yang yang Allah benci adalah tatkala seseorang itu mencintai dunia, sehingga hatinya bahagia tatkala dunia itu mendatanginya dan bersedih tatkala dunia itu menjauh darinya. Jadikanlah dunia itu sebatas di tanganmu tapi tidak di hatimu. Sehingga apapun keadaan yang menimpamu, kamu tetap dalam keadaan bersyukur dan bersabar.

PRIBUMISASI EKONOMI ISLAM

Perkembangan ekonomi Islam melalui fase yang panjang. Dalam perkembangan mutakhir, terdapat beberapa tren dalam pemikiran ekonomi Islam. Di antara tren-tren yang paling menonjol yang membahas ekonomi Islam adalah “Iqtishâdunâ” oleh Baqir as-Sadr, “The Economic System of Islam: A Discussion of Its Goals and Nature” oleh M. Umer Chapra, “Islamic Economics, Theory and Practice” oleh M. Abdul Mannan serta “Ekonomi Islam Mazhab Hamfara” oleh Dwi Condro Triono. Salah satu kritik tajam yang biasanya ditujukan kepada kajian Islam pada umumnya serta khususnya studi ekonomi Islam adalah persoalan metodologi dan pendekatan filsafat ilmu. Oleh karena itu, salah satu kecendrungan dari metodologi kajian ekonomi Islam di Indonesia yang ditawarkan adalah perlunya penerapan dari pendekatan filsafat ilmu. Dalam kaitan lain, para sarjana Indonesia kontemporer lebih cenderung menerapkan pendekatan filsafat di dalam semua kajian Islam, termasuk di dalam bidang Ekonomi Islam. (Asmuni Mth, 2012)

Pendekatan filosofis memiliki sifat keilmuan, insklusif serta terbuka. Kelebihan pendekatan ini untuk kajian bidang ekonomi Islam terdapat tiga hal; pertama, pencarian dan perumusan ide atau gagasan yang bersifat mendasar dalam berbagai persoalan; kedua, pengenalan dan pendalaman persoalan serta isu-isu fundamental dapat membentuk cara berfikir yang bersifat kritis dan ketiga, proses ini akan membentuk mentalitas dan sistem pemikiran yang mengutamakan kebebasan intelektual, sekaligus mempunyai sifat toleran terhadap pelbagai pandangan yang berbeda. Penekanan utama dari pendekatan ini adalah lebih diberikan kepada aspek metodologi dan proses berfikir lebih kritis-analitis dalam menangani sesuatu persoalan keilmuan, termasuk dalam bidang ekonomi Islam. Dalam studi ekonomi konvensional selama ini lebih menekankan pada “normativitas melampui historisitas”, artinya realitas historis harus tunduk pada ketentuan normatif yang terdapat dalam teks al-Qur’an dan Hadits.

Pendidikan pada level sarjana, magister serta doktoral sudah ada yang mengkaji tentang ekonomi Islam. Faktanya, nalar ekonomi Islam belum sepenuhnya bersemayam dalam kesadaran umat Islam. Hal ini dapat ditelisik melalui aspek studi keagamaan yang berkembang di pesantren, majelis taklim, madrasah diniyah serta pengajian informal yang berkembang. Padahal di lembaga pendidikan yang bersifat formal dan non-formal itu lah sesungguhnya nalar dan wawasan keislaman dibentuk. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi siapapun untuk peduli terhadap ekonomi Islam agar memberikan fokus ikhtiarnya kepada pribumisasi ekonomi Islam. Istilah ini dalam beberapa hal berbeda makna dengan istilah Gus Dur “Pribumisasi Islam”. Pribumisasi ekonomi Islam lebih bermakna kepada ikhtiar masif untuk mengedukasikan ekonomi Islam kepada umat Islam. Pribumisasi juga bermakna menyusun padanan berbahasa Indonesia seluruh bentuk akad dalam transaksi keuangan syariah, sehingga lebih akrab dan mudah dipahami.

Dalam pribumisasi ekonomi Islam, tergambar Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Allahl diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Dalam hal ini, pribumisasi bukan upaya untuk menghindari timbulnya perlawanan dari kekuatan-kekuatan budaya setempat, akan tetapi untuk mempertahankan budaya agar tidak hilang. Inti pribumisasi ekonomi Islam bukan upaya menghindari polarisasi antara agama dan budaya, sebab polarisasi memang tidak terhindarkan. Ekonomi Islam secara umum belum dipraktikkan dan belum banyak yang menjadikan adat-istiadat umat Islam. Hukum ekonomi Islam secara kelembagaan hanya dipraktikkan di lembaga perekonomian, secara hukum memang harus ada yang mengatur karena menyangkut hak-hak dan kepentingan banyak pihak dan dalam skala lebih besar. Sehingga positifisasi berangkat dari gejala institusionalisasi hukum ekonomi Islam yang secara adat belum banyak dipraktikkan oleh seluruh umat Islam.

POLIGAMI: Dalam Islam dan Kehidupan Modern

Akhir-akhir ini generasi muda seringkali mendengar bahkan berdebat mengenai problematika pernikahan. Mulai dari pembahasan mencari pendamping hidup, kreteria pendamping idaman, dan tidak kalah penting mengenai status rumah tangga poligami. Para lelaki mendengar kata-kata poligami, mereka ada yang setuju, namun ada juga yang kurang sepakat. Dalam kalangan perempuan, ada yang menolak keras poligami dengan alasan mereka tidak siap dimadu, ada juga yang mengatakan setuju poligami asalkan yang poligami bukan suaminya namun suami orang lain, dan ada juga yang benar-benar setuju jika suaminya poligami.

Sebenarnya masalah ini sudah dikaji oleh ulama kita terdahulu, hukum-hukum poligami sudah disepakati oleh para mujtahid, dalam masa sekarang ini kita seharusnya memilih sikap hukum saja dari apa yang telah tertera. Namun sikap keras kita mengatakan, dasar dari poligami bukanlah suatu yang hina, namun ialah sunnah bagi mereka yang mampu dan memiliki sayarat untuk melakukan itu, tetapi juga akan menjadi haram jika dilakukan untuk memenuhi hawa nafsu saja dan membuat istri terlantar dan anak jadi korban.


Bagi kita semua terutama bagi ikhwan fillah, sebelum kita punya angan-angan untuk melakukan poligami, maka harus dan wajib mengetahui pengertian dan syarat-syarat dari paligami itu sendiri. Bagi saudari akhwat fillah, jika memang suami anda memiliki syarat untuk melakukan poligami, dan mampu menghindarnya dari fitnah dunia dan wanita, maka tidak ada salahnya memberikan izin untuk poligami. Tapi jika memang dengan satu istri surga terasa lebih dekat, mengapa harus mencari yang lain?


Pada hakikatnya yang perlu kita ketahui bersama, poligami itu kata umum yang bisa dilakukan oleh perempuan dan laki-laki (memiliki istri atau suami lebih dari satu). Sehingga istilah poligami dibagi dalam dua bagian yaitu poligini dan poliandri.
Poligini ialah lelaki-yang menikahi lebih dari satu perempuan, dan ini umum terjadi dan juga boleh dilakukan namun dengan syarat-syarat tertentu. Sedangkan poliandri ialah perempuan menikah dengan lebih dari satu laki-laki, dan ini secara mutlak (Islam) melarangnya.


Islam pada dasarnya berkonsep monogami (satu istri) dalam aturan pernikahan, tetapi memperbolehkan seorang pria beristri lebih dari satu (poligini). Islam memperbolehkan seorang pria beristri hingga empat orang istri dengan syarat sang suami harus dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya.
Sebagai pedoman hidup umat Islam, Al-Qur’an satu-satunya kitab yang menyatakan:

“Nikahlah Satu Saja”. Tidak ada kitab lain yang menyatakan kepada laki-laki untuk memiliki satu istri saja. Dalam kitab-kitab lain, seperti weda, mahabarata, injil dan talmud tidak ada yang memberikan batasan untuk jumlah istri. (Dr. Zakir Naik, 2016, Debat Islam VS non Islam: 45).

Namun walaupun ada kebolehan untuk melakukan poligami, catatan menarik dalam buku Dr. Zakir Naik yang membuktikan bahwa pada tahun 1975 orang-orang hindu di India lebih banyak melakukan poligami daripada orang Islam, 5,06% di kalangan Hindu dan 4,31% di kalangan Islam.
Dengan menganalisis serta mengamalkan ajaran kitab suci Al-Qur’an, maka bisa diatasi tindakan-tindakan poligami nafsu. Melalui surat An-Nisa: 3, maka inilah patokan poligami.

ESENSI DAN REFLEKSI PRINGATAN HARI KELAHIRAN NABI MUHAMMAD

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“.
(QS. al. Ahzab [33]: 21).

Hakikat Memperingati Maulid Nabi SAW
Memperingati hari kelahiran nabi merupakan hal pokok mendasar yang dapat di ambil iktibar dari proses sejarah kehidupannya yang penuh dinamika. Diperingati sebagai bentuk mengenang atau mengingat kembali sejarah di utusnya nabi muhammad kemuka bumi ini yang mengembang visi dan misi bahwa Nabi Muhammad  sebagai Rohmatan Lilalamin (rahmat seluruh alam), selain itu juga terpenting dari Risalah kehidupan beliau yang harus di teladani, mengingat suatu pribadi yang agung untuk di jadikan contoh oleh para umatnya. Bagaimana kita meniru akhlak beliau dalam bertauhid, berumah tangga, bermasyarakat sesama muslim dan sesama manusia yang beda aqidah dan lain sebagainya.

Bentuk meneladani Nabi Muhammad  dalam berumah tangga adalah akhlak nabi dalam mengasihi, memuji, dan tidak pernah meyakiti isterinya. Sementara itu, meneladani Nabi Muhammad SAW dalam bermasyarakat. Pencerahan itu dilakukan dengan perilaku santun, seperti suka menolong, suka melayani, tak mau membicarakan kejelekan, menghormati musuh, suka memaafkan, sabar, suka beramal, tidak menyakiti orang, tidak emosi, dan begitu seterusnya.

Maulid Nabi ini merupakan momen Spiritual untuk mentahbiskan beliau sebagai figur teladan yang mengisi pikiran, hati dan pandangan hidup kita, untuk di aktualisasikan dalam kehidupan peribadi serta sosial bermasyarakat. Bukan sekedar serimonial, melainkan penuh isyarat dipetik hikma pengetahuan terutama dibidang akhlakul karimah beliau. Mengingat tidak lama lagi akan memperingati maulid nabi tepat 12 rabiul awal tahun Hijriyah bertepatan 24 Desember 2015.

Maka subtansi mendasar yang dapat dicontoh, diamalkan dalam kehidupan secara universal atau menyeluruh, Pertama yang harus dipahami tidak dari perspektif keislaman saja, melainkan harus dipahami dari berbagai perspektif yang menyangkut segala persoalan, misal, politik, budaya, ekonomi, maupun agama, karena nabi sukses mengatasi berbagai problema yang terjadi pada masanya salah satunya keluhuran budinya. Kedua, wadah untuk mengkaji kehidupan beliau untuk memperkenalkan beliau kepada generasi muda lebih jauh, serta sarana untuk lebih mencintai dan meneladani beliau. Pepatah mengatakan: “tak kenal maka tak sayang”. Sangat mungkin seorang muslim tidak banyak tahu tentang sejarah kehidupan Nabinya, lantas bagaimana mungkin ia akan meneladani nabinya, jika ia sendiri tidak mengenalnya.
Ketiga, keberhasilan Rasulullah  itu sejatinya tidak dapat dilepaskan dari keimanan Rasulullah yang bersifat implementatif. Agama diyakini olehnya sebagai sumber nilai etik yang harus diterjemahkan ke dalam realitas. Kesaksiannya tentang Tauhid (Monoteisme) mengantarkan beliau kepada penyikapan terhadap seluruh umat manusia sebagai mahluk Tuhan yang esensinya setara yang harus diperlakukan berdasar nilai-nilai kesetaraan itu. Oleh karena itu, pokok mendasar dari peringatan maulid nabi Muhammad yang agung tidak di lepas dari ketika faktor tersebut, untuk dijaikan rujukan teladan di kehidupan sosial, individu masyarakat guna mewujudkan masyarakat madani, (Civil Society) serta “Gemah Ripah Lo Jinawi” atau kata lainnya ”Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur” (tenteram dan makmur)

MENGENAL HIJAMAH: Sehat dengan Bekam

Rasulullah  bersabda:

“Sesungguhnya cara pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah alhijamah (bekam) dan fashdu (venesection).” (HR. Bukhari & Muslim)

 

“Barang siapa melakukan bekam padatanggal 17, 19 atau 21, akan sembuh dari setiap penyakitnya.” (HR. Abu Dawud)

 

Bekam adalah metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah statis yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia. Berbekam dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah darinya. Pengertian ini mencakup dua mekanisme pokok dari bekam, yaitu proses pemvakuman kulit dan dilanjutkan dengan pengeluaran darah dari kulit yang telah divakum sebelumnya. Dalam bahasa Jawa disebut cantuk atau kop. Di Sumbawa dan sekitarnya disebut tangkik atau batangkik. Dalam bahasa Arab disebut hijamah. Dalam bahasa Inggris disebut blood cupping atau blood letting atau cupping therapy atau blood cupping therapy atau cupping therapeutic. Dalam bahasa Mandarin disebut pa hou kuan. Di Asia tenggara (Malaysia dan Indonesia) dikenal dengan sebutan bekam. Terapi ini mengeluarkan toksin (racun) suhu dan angin serta bibit penyakit yang mengendap dan bersenyawa dalam darah melalui organ belakang tubuh atau organ lainnya. Kata al-Hijamah berasal dari istilah bahasa Arab hijâmah yang berarti pelepasan darah kotor.

Pengobatan dengan bekam sudah digunakan semenjak zaman Rasulullah . Nabi Muhammad  adalah manusia pertama yang dibekam oleh para Malaikat dengan perintah Allah  sebelum Isra dan Mi’raj. Penjelasan ini terdapat dalam hadits riwayat Ibnu Majah. Bekam atau hijamah memiliki banyak manfaat, diantaranya: mengamalkan sunnah Rasul dalam pengobatan, meningkatkan daya tahan tubuh (promotif), mencegah penyakit (preventif), menyembuhkan penyakit (kuratif), dan perawaan pasca sakit (rehabilitatif).

Hingga saat ini, penelitian medis telah dilakukan untuk mengetahui manfaat dari metode bekam. Salah satunya adalah yang dilakukan terhadap 60 orang gemuk yang rutin melakukan bekam. Ternyata bekam bisa menurunkan tekanan darah dan kolesterol jahat, serta meningkatkan kadar kolesterol baik. Hasil studi tersebut dimuat dalam BMC Medicine. Studi lain yang dimuat dalam Journal of the American Medical Association juga menyebutkan orang yang mendonasikan darahnya setiap 6 bulan sekali lebih jarang terkena serangan jantung dan stroke.

Dr. Wadda’ A. Umar mengungkapkan teori kedokteran bahwa saat pembekaman pada titik bekam, maka akan terjadi kerusakan mast cell dan lain-lain pada kulit, jaringan bawah kulit (sub kutis), fascia dan ototnya. Akibat kerusakan ini akan dilepaskan beberapa mediator seperti serotonin, histamine, bradikinin, slow reacting substance (SRS), serta zat-zat lain yang belum diketahui. Zat-zat ini menyebabkan terjadinya dilatasi (pelebaran atau peregangan) kapiler dan arteriol, serta flare reaction pada daerah yang dibekam. Dilatasi kapiler juga dapat terjadi di tempat yang jauh dari tempat pembekaman. Ini menyebabkan terjadinya perbaikan mikro-sirkulasi pembuluh darah. Akibatnya timbul efek relaksasi (pelemasan) otot-otot yang kaku serta akibat vasodilatasi (pelebaran diameter pembuluh darah) umum akan menurunkan tekanan darah secara stabil. Yang terpenting adalah dilepaskannya corticotrophin releasing factor (CRF), serta releasing factors lainnya. CRF adalah sinyal yang merespon tekanan-tekanan/ stress dalam otak yang bertugas mengatur dan melepaskan stress. CRF selanjutnya akan menyebabkan terbentuknya adrenocorticotropic releasing hormone (ACTH), corticotrophin dan corticosteroid yang mempunyai efek menyembuhkan peradangan serta menstabilkan sel.

Rekayasa Sosial Rasulullah di Era Kontemporer

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah semua pahala amalnya kecuali 3 perkara: Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan orangtuanya dengan doa yang baik.” (HR Muslim dan Abu Hurairah)

Hadis ini sangat popular dikalangan masyarakat yang membawa banyak gerakan perubahan, motivasi berbuat baik dan sandaran yang religius. Namun yang banyak kita saksikan hadis ini cenderung dimaknai secara tekstual terutama pada generasi belakangan ini. Misalnya, poin pertama, “Amal Jariyah” pesan Rasulullah ini masih sering berputar pada pemaknaan yang sempit, yaitu sekedar pembangunan masjid, panti asuhan dan sebagainya. Poin kedua ilmu yang bermanfaat, hanya sering dimaknai sekedar mengajarkan ilmu yang kita punya. Poin ketiga anak shaleh yang mendo’akan orangtunya, sering dimaknai sungguh sangat sempit hanya seputar mengangkat tangan berdo’a untuk keselamatan orangtua di akhirat yang sering dilakukan secara formalitas setelah menunaikan shalat. Banyakan Da’I, Muballig maupun akademisi memang menyampaikannya hanya sebatas itu, sehingga perlombaan hanya gencar membangun masjid, membangun lembaga keagamaan, membagi ilmunya dan mengangkat tangan untuk berdo’a.
1. Amal Jariyah (Gerakan  Sosial)
Amal jariyah sering disempitkan pembahasannya hanya sampai berbuat baik berupa materi, yang biasanya untuk memotivasi membangun masjid, membangun panti asuhan, dan semacamnya. Maka muncul berbagai interpretasi yang bias dalam memaknai teks pesan Rasulullah tersebut. Banyak kita jumpai ahli maksiat kemudian membantu atau membangun masjid, panti asuhan, lembaga keagamaan lainnya dengan harapan ketika meninggal maka pahala amalnya bisa menolongnya. Sebenarnya tindakan demikian mulia, ketika disertai dengan iman, yang dibuktikan berhenti pada kemaksiatannya untuk mensucikan dirinya. Justru yang banyak kita saksikan, baik secara  langsung di sekitar kita, maupun di media, sikapnya berperan ganda. Di sisi lain dia maksiat, di sisi lain berbuat baik.

Dalam al-Qur’an selalu kita jumpai ayat iman dan amal selalu bergandengan, karena kunci keselamatan dunia-akhirat adalah keterpaduan iman dan amal. Misalnya QS. An-Nahl [16]: 97.

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”

Dalam ayat ini, Allah secara tegas membedakan antara amal dan iman kemudian merangkaikannya sebagai keterpaduan. Kenapa demikian? Karena manfaat iman itu ada pada amal, begitupun sebaliknya, amal (kebaikan sosial) yang dilakukan tanpa iman kepada Allah (mengikuti petunjuk-Nya), berpotensi membuat seseorang melakukan kesewenang-wenangan. Dalam negara kita, baik lembaga kenegaraan, keagamaan, maupun lembaga lainnya, sering kita jumpai pejabat yang memiskinkan ratusan bahkan ribuan orang yang dibunuh secara perlahan melalui tindakan korupsinya tanpa peduli, kemudian seolah-olah ingin mensucikan diri secara pintas melalui amal jariyah dengan cukup berpartisipasi maupun membangun lembaga keagamaan dengan materi. Tindakan demikian bertentangan dengan ajaran Islam yang memerintahkan kebaikan sosial yang didasari iman.

Pesan Rasulullah pada poin pertama ini yaitu amal jariyah, penulis lebih sepakat menekankan maknanya di era kontemporer ini yaitu “gerakan sosial”. Gerakan sosial ini contohnya membangun dan membentuk lembaga yang bergerak pada sosial masyarakat demi perubahan lebih baik, misalnya membentuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), lembaga pengawas untuk berbagai sektor, semua itu demi mengontrol, mencegah  dan mengatasi kemungkinan problem yang muncul demi kemaslahatan manusia. Tetapi ahir-ahir ini, jutru kita jumpai banyaknya pihak yang berusaha bahkan sudah menghancurkan lembaga-lembaga sosial ini dengan berbagai cara karena merasa terancam dan tidak bebas melakukan kejahatannya. Misalnya adanya usaha penghapusan KPK, merusak citra KPK, dan lembaga sosial lainnya yang bersifat mengontrol. Akhirnya, justru masjid berjamuran bahkan saling berdekatan dan megah, namun tidak mampu memberi efek positif pada masyarakat, dibuktikan semakin bertambahnya daftar kriminal dalam negeri ini. Pertanyaannya adalah, kenapa bisa demikian? Itu karena antusias iman yang tinggi, namun mengabaikan perhatian pada syarat utama yang membuktikan iman adalah kebaikan sosial, yang disebut amal.
2. Ilmu yang Bermanfaat (Gagasan)
Ilmu merupakan penopang terwujudnya amal yang merupakan buah dari iman. Sehingga kata Prof.Nurcholish Madjid,  bahwa hidup seorang muslim sejati itu, cukup iman, ilmu dan amal (Islam Doktrin dan Peradaban). Rekayasa Sosial Rasulullah pada langkah kedua ini mendorong umat manusia apalagi umat muslim untuk banyak berusaha belajar demi keluasan ilmunya. Memaksimalkan keseharian untuk banyak belajar dan membaca berbagai literature, buku serta berbagai sumber informasi pengetahuan lainnya. Begitupun juga memperbanyak dialektika pengalaman. Ilmu yang bermanfaat ini bukan sekedar mengajarkan seadanya yang kita miliki, namun lebih pada memberikan gagasan perubahan. Dorongan berilmu ini juga banyak kita jumpai dalam ayat al-Qur’an di antaranya QS. Al-Isra’ [17]: 36

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”

Setidaknya dalam ayat ini bisa dimaknai larangan Allah untuk bertaqlid tanpa dasar dan ilmu.  Apalagi terhadap orang yang berpendidikan, maka ditekankan adanya pengetahuan dalam melakukan sesuatu supaya lebih bermanfaat. Memunculkan gagasan-gagasan baru yang segar dan mengalir merupakan hal yang dianjurkan dalam Islam. Gagasan baru dan inovatif bisa keluar dari pikiran-pikiran seseorang yang berilmu. Tanpa ilmu yang matang akan melahirkan gagasan-gagasan yang kopy paste, taqlid buta. Hidup apa kata orang, berpikir apa kata orang, dan mengajarkan ilmu juga apa kata orang. Takut dianggap melenceng dari pendapat yang umum, inilah yang menjadi penyakit parah umat muslim kontemporer ini. Padahal produk pemikiran tokoh masa lampau yang merupakan contoh awal dealektika mereka terhadap zamannya tentu mereka berharap ada pengembangan dilakukan generasi setelahnya karena juga berbeda zaman dan situasinya. Keberanian memberikan gagasan perubahan yang baru dan inovatif, akan menyumbang tumbuh pesatnya ilmu pengetahuan, yang mewujudkan perubahan dan peradaban.
3. Anak Shaleh yang mendo’akan orangtuanya (Tokoh Besar)

Tahap ketiga perubahan sosial yang diajarkan Nabi Muhammad SAW., ini yaitu lahirnya anak shaleh. Anak shaleh yang penulis maksud bukanlah yang sekedar mengangkat tangan berdo’a untuk keselamatan orang tuanya. Dalam era kontemporer ini, redaksi hadis tersebut harus dimaknai lebih dinamis demi hadirnya Islam yang segar dengan mewujudkan duta-duta pembaharu yaitu “Tokoh Besar”. Ketika Langkah pertama dan kedua di atas sudah ditempuh, maka langkah ketiga ini yang dianjurkan Rasulullah akan memunculkan tokoh besar. Tokoh besar yang diharapkan di sini yaitu yang peka terhadap situasi kemanusiaan, terus berupaya melakukan  amal jariyah (kebaikan sosial), karena itu buah dari iman. Kemudian berilmu, berwawasan luas, jadi ahli, professional, memperhatikan kebaikan lingkungan, mejaga harga diri. Maka kebaikan yang kita lakukan, manusia di sekeliling kita bertanya itu anak siapa? Siapa orangtuanya?. Orangtua kita yang disanjung, dikenang, diingat kebaikannnya, diperbincangkan serta diteladani oleh orang lain meskipun sudah tiada, merupakan do’a untuk orangtua kita. Itulah makna, “Anak shaleh yang mendo’akan orangtuanya”. Demikianlah tahap strategi dan  rekayasa sosial yang diajarkan Rasulullah, semoga bisa dimaknai lebih dari yang penulis uraikan.
B

Biodata Penulis
Nama:Muhammad Hamsah, S.Pd.I
Jurusan: Konsentrasi Pendidikan Islam, FIAI MSI UII Yogyakarta 2015

No Hp: 085299222096
Email: muhammadhamsah27@yahoo.com
No. Rek BNI: 0354666794

Sukses

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal shalih), untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS al-Kahfi [18]: 107)

Hampir dapat dipastikan bahwa semua manusia ingin sukses. Ada yang begitu kuat menginginkannya, ada yang biasa-biasa saja. Diantara yang kuat inginnya tersebut ada yang gigih upayanya, ada pula yang biasa-biasa saja. Dari yang gigih upayanya itu, ada yang terus istiqāmah berjuang dan bangkit ketika jatuh, ada juga yang tersungkur tidak ma(mp)u bangun lagi. Intinya, semua orang ingin sukses namun masing-masing berbeda dalam menyikapi dan mengupayakan kesuksesan.

Ibarat sebuah bangunan, sukses berawal dari fondasi yang kokoh. Di atas fondasi itu, berdirilah tiang-tiang yang kemudian dikonstruksi sedemikian rupa menjadi bangunan. Bangunan tanpa fondasi akan segera runtuh. Sementara fondasi tanpa bangunan di atasnya tidak bermakna apa-apa. Keduanya saling melengkapi dan mengenapi, saling menopang dan menguatkan. Kebersatuan yang solid itulah yang selanjutnya menghadirkan kesuksesan. Sukses dalam arti yang sesungguhnya bukan yang ala kadarnya.

Setiap manusia telah memiliki modal untuk menjadi sukses. Masalahnya adalah bagaimana dia menggunakan modalitasnya untuk menjemput kesuksesan tersebut. Laksana jodoh, sukses itu ada di tangan Tuhan. Namun kalau tidak diambil, tidak dijemput, maka akan tetap di tangan Tuhan. Jadi, untuk sukses perlu usaha keras, tidak cukup hanya berpangku tangan. Kehidupan ini adalah modal yang tidak ternilai dari Allah. Kita diminta memaksimalkannya untuk meraih sukses.

Konon, seorang pemuda mengeluh tidak punya modal untuk usaha. Seorang pengusaha sukses yang dicurhatinya kemudian bertanya padanya. “Satu dengkulmu (baca: lutut), boleh saya beli setengah milyar?” tanya pengusaha sukses itu. “Tentu tidak boleh, Tuan,” jawab pemuda. “Kalau begitu, berusalah! Dengan dua dengkulmu berarti Engkau punya modal 1 milyar!” perintahnya menyemangati. Sungguh, sejak lahir kita telah memiliki modal yang tiada ternilai dari Allah. Dua lutut saja 1 milyar, belum yang lain-lain.

Untuk menjadi sukses pertama-tama berangkat dari keyakinan. Mereka yang meyakini dirinya akan sukses maka sukses itu akan lebih dekat dengannya. Sementara mereka yang membayangkan sukses saja takut maka sukses pun akan takut mendekatinya. Benar bahwa banyak yang tidak menyangka akan sukses namun ternyata benar-benar sukses. Namun yang ideal adalah menjadi pribadi yang optimistis dan yakin sejak dalam hati. Allah telah memberi kita amanah hidup, itu artinya Allah percaya kita siap menjadi sukses.

Lalu apakah cukup hanya dengan keyakinan? Tentu saja tidak. Setelah yakin ada step-step penting yang harus dilalui. Kalau sekadar yakin maka manusia tidak ubahnya hanya menjadi “generasi wacana”. Generasi wacana, seperti diutarakan Prof. Rhenald Kasali, hanya sibuk berwacana namun tidak melakukan aksi nyata dan takut mengambil keputusan. Karenanya, keyakinan harus dibarengi dengan kegigihan dalam berbuat. Keyakinan juga menghantarkan kita pada pilihan-pilihan hidup yang tepat.

Bagi mereka yang sudah “nyaman” dengan prestasi di kampung halamannya mungkin takut bersaing di level yang lebih menantang. Namun pribadi sukses harus berani mengambil langkah yang visioner. Dunia tak selabar daun kelor, harus berani bersaing dan semangat tidak boleh kendor. Para alim telah mengajarkan kita. “Sāfir tajid ‘iwadhan ‘amman tufāriquhu!” Pergilah! Engkau akan mendapatkan ganti dari apa yang kau tinggalkan. Berani sukses berarti berani mencoba hal yang baru.

Dalam menuju sukses tersebut seringkali manusia harus jatuh-bangun. Namun yang harus disadari bahwa gagal karena bertindak jauh lebih baik daripada tidak pernah gagal karena enggan berbuat. Tidak penting seberapa sering Engkau terjatuh. Terpenting adalah seberapa mampu Engkau bangkit dari jatuhmu. Kaum bijak pandai menasihatkan, “Berhasil menyikapi kegagalan lebih baik daripaya gagal dalam menyikapi keberhasilan.” Orang sering bilang, hakikat kegagalan adalah sukses yang masih tertunda.

Sukses itu parameternya berbeda-beda. Kalau kita bertanya arti sukses (ma huwa sukses?) kepada banyak orang, pasti jawabannya bermacam-macam. Harus diingat bahwa sebagai seorang muslim terminal kehidupan ini bukan sebatas kematian. Namun ada “alam” yang lebih meneduhkan dan menjanjikan. Oleh karena itu, sudahkah (harapan) sukses kita itu berorientasi pada kebahagiaan di alam tersebut? Sementara doa yang kita panjatkan sangat jelas dan lugas. Bukan hanya hasanah di dunia tetapi juga hasanah di akhirat.

Kita ingat betul bagaimana Rasulullah mengakhiri hayatnya. Apa yang terucap terakhir kali dari lisannya yang begitu mulia? Dia tidak mengkhawatirkan putrinya. Juga tidak sedang merisaukan isteri-isterinya. Dia terus memikirkan umatnya dan itu adalah termasuk kita. “Ummatiy, ummatiy, ummatiy…,” ucapnya lirih. Rasulullah mengajarkan bahwa sukses itu kalau kita juga mampu menyukseskan orang lain, meng-hasanah-kan banyak pihak. Khairun an-nāsi anfa’uhum li an-nāsi

 

Sukses=Surga

Mulai awal Oktober 2015 ini, Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) meluncurkan Training Islamic Character Building (ICB) untuk mahasiswa baru. Training ini didesain untuk membentuk karakter mahasiswa baru UII. Materi training dirancang supaya lebih mudah dimengerti dan dipraktikkan oleh mahasiswa. Mulai dari Komitmen Tauhid, Komitmen Ibadah, Komitmen Akhlak, dan terakhir Komitmen Sukses.

Saya sendiri sepakat dengan penambahan “komitmen” di setiap materi. Komitmen itu juga berarti istiqāmah (kontinuitas). Mahasiswa UII diharapkan mampu mempertahankan tauhidnya, menjaga ibadah dan akhlaknya, serta terus mengobarkan semangat suksesnya. Selama 2 kali mendampingi Trainer “Komitmen Sukses”, Drs. H. Imam Mudjiono, M.Ag., saya merasa perlu berbagi inti materi tersebut lewat tulisan ini. Sebab, materi tersebut sangat relevan bagi setiap umat muslim.

Sukses dalam konteks religiusitas kita dapat dimaknai sebagai surga atau al-jannah. Pribadi yang sukses pada akhirnya adalah yang berhasil memasuki pintu surga. Sehebat apapun seseorang di dunia kalau tidak “sukses” di akhirat maka merugilah dia. Walaupun tetap untung masih bisa bahagia di dunia. Repotnya adalah kalau di dunia sengsara di akhirat menderita. Oleh karena itu, supaya “sukses”nya ganda alias double harus dipelajari bagaimana tips untuk meraihnya.

Beberapa ayat al-Qur’an, contohnya QS. al-Kahfi ayat 107 di atas, menggambarkan bahwa syarat sukses itu 2 (dua). Pertama adalah iman; percaya dan yakin. Dalam bahasa yang biasa dipopulerkan Pak Imam—begitu dia biasa disapa—, iman itu semisal dengan belief. Keimanan yang kuat mendasari kesuksesan manusia di akhirat nanti dan tentu saja di dunia. Kalau iman ini tidak dijaga maka umpama pergi naik pesawat, yang bersangkutan tidak memiliki tiketnya.

Kedua adalah amal shalih (berbuat baik). Amal shalih ini adalah buah dari keimanan. Sebagaimana uraian di atas bahwa iman (keyakinan) adalah fondasi dan amal shalih adalah bangunan di atasnya. Iman dan amal shalih saling mengisi dan menyempurnakan. Iman yang tidak diwujudkan dalam amal shalih ibarat pohon yang tidak berbuah. Sementara amal shalih yag tidak dilandasi iman akan sia-sia dan tertolak. Kedua hal ini yang harus menjadi pedoman dan pegangan hidup umat muslim.

Amal shalih dalam bahasa Pak Imam disebut dengan positive energy (energi positif). Amal shalih atau positive energy tersebut dengan dilandasi iman yang kuat harus ditujukan semata-mata untuk meraih keridhaan Allah. Kalau sudah demikian maka keduanya akan menghantarkan kita menuju surga-Nya Allah di akhirat sana. Keduanya harus dipelihara secara konsisten dan penuh komitmen. Sebab iman dan amal shalih tidak dinilai secara periodik dan parsial namun terus menerus sampai datangnya ajal.

Dalam firman-Nya Allah telah menegaskan. “Sungguh,” serunya, “orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal shalih), untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” Indah sekali janji Allah bagi hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih. Dengan iman, belief, keyakinan yang kuat dan amal shalih yang nyata serta berkesinambungan kita dapat “sukses” di hadapan Allah. Mereka yang iman dan amalnya baik pun sejatinya sudah sukses sejak di dunia.

 

Hasanah fi ad-Dārain

Sukses ialah dambaan setiap manusia. Lazimnya, yang mendamba mengupayakan apa yang didamba(kan)nya. Sukses dunia memang tidak salah namun sukses hakiki bukan semata duniawi kacamatanya. Sukses dunia itu mulia kalau mampu menghantarkan pada kesuksesan di akhirat nantinya. Dunia tempat menanam, di akhirat kita mengetam. Apapun bentuk sukses dunia harus dibenamkan, ditanam dalam-dalam, supaya yang hadir adalah katawadhuan. Hatta di akhirat kita raih sebenar-benar kesuksesan. Wallāhu a’lamu.

Samsul Zakaria, S.Sy.,

Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga,

Positioning Diri Dihadapan Allah SWT

“Barangsiapa yang menginfakkan dua pasang hartanya dijalan Allah maka dia akan dipanggil disurga, ‘wahai hamba Allah, ini adalah yang baik’. Barang siapa yan tergolong ahli sholat maka dia akan dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yang tergolong ahli sedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sebagian dari kita mungkin belum familiar dengan kata Positioning. Dalam ilmu manajemen Positioning adalah bagaimana produk/barang yang diciptakan memberikan kesan atau persepsi tertentu dibenak konsumen. Sebagai contoh jika kita menyebutkan suatu produk dengan merek A, maka kesan/persepsi kita terhadap produk tersebut adalah bagus, mahal, berkualitas baik dan lain sebagainya. Dengan kata lain produk tersebut dikenal sebagai apa. Lalu apa hubunganya positioning diri dihadapan Allah . Sebagai hamba Allah yang menjalankan segala bentuk aktivitas dan ibadah dimuka bumi ini, tentu saja tujuan akhir dari semua akivitas itu adalah ridho Allah . Selain itu setiap muslim juga ingin dikenali oleh Allah sebagai hambanya yang bertaqwa, karena dengan ketaqwaan itulah yang akan mengantarkan seorang hamba ke surgaNya Allah . Sebagaimana hadist yang telah disebutkan diatas bahwa setiap dari kita akan dipanggil dari pintu – pintu surga yang bermacam-macam sesuai dengan amal ibadah yang kita lakukan selama hidup di dunia ini. Jika selama hidup ini kita rajin berpuasa maka Allah akan panggil hambanya dari pintu surga Ar-Rayyun. Dimana surga ini dikhususkan bagi hambaNya yang rajin dan sungguh-sungguh berpuasa selama hidup dunia. Bagi mereka yang gemar bersedakah semata-mata karena Allah , maka Allah akan panggil hamba tesebut dari pintu sedekah.

Perlukah melakukan positioning diri dihadapan Allah?

Ya, tentu saja perlu. Sejenak coba kita kita renungkan, ingin dipanggil dari pintu manakah kita disurga kelak. Jangan sampai pintu neraka jahanam yang memanggil kita, Naudzubillah. Manusia adalah makhluk yang tak pernah luput dari dosa dan lupa, yang tak pernah lepas dari perbuatan dosa dan nista. Manusia juga terkadang tidak sempurna amal dan ibadahnya. Bahkan dari beberapa ibadah yang dilakukan masih terdapat kesalahan dan ketidaksempurnaan dalam menjalankannya. Kita sadar bahwa tidak semua ibadah dan amalan yang diperintakan Allah dan RasulNya dapat dilakukan dengan baik, terlebih lagi dilakukan dengan sempurna. Karena kita bukanlah nabi yang sempurna amal dan ibadahnya, bukan pula para sahabat yang begitu dekat kesempurnaan iman serta ibadah dan amalnya dimata Allah SWT. Tapi setidaknya dari amal dan ibadah yang kita lakukan ada satu yang benar-benar dan sungguh – sungguh dilakukan. Mungkin diantara kita masih tidak tepat waktu sholat 5 waktunya, masih suka riya ketika sedekah, masih jarang sekali tadarus Al-Quran dan lain sebagainya. Tapi minimal ada satu ibadah atau amalan yang kita coba persembahkan untuk Allah SWT dengan sebaik – baiknya. Bukan berarti menyepelekan ibadah – ibadah yang lain. Ibadah yang lain terutama yang wajib tetap harus dilaksanakan, karena jika tidak dikerjakan maka dosa yang akan kita diterima. Selain itu juga terus berupaya menjalankan segala bentuk perintah Allah dengan sebaik-baiknya.
Kembali lagi kepada positioning diri di hadapan Allah . Kembali lagi kita ingin dikenal oleh Allah sebagai hamba yang seperti apa. Apakah hamba yang ahli sedekah, hamba yang sholatnya terjaga, hamba yang tadarus Al- Qurannya sangat baik, atau hamba yang dikenal Allah sebagai hamba yang rajin Qiyamul lail nya. Jangan sampai kita dikenal oleh Allah sebagai hambanya yang gemar berbuat maksiat, yang gemar berdusta, yang suka membicarakan aib orang lain dan lain sebagainya. Jika diantara kita ingin dikenal oleh Allah sebagai orang yang sholatnya terjaga, maka mulai dari sekarang jaga sholat dengan tepat waktu dan berjamaah dimasjid. Jika diantara kita ingin dikenal oleh Allah sebagai hambanya yang ahli sedekah, maka mulai sekarang sedekahlah dengan rutin dan dengan sedekah yang terbaik yang semata-mata hanya mengharap ridho Allah Jika diantara kita ingin dikenal oleh sebagai ahli qiyamul lail, maka mulai sekarang bangunlah setiap hari disepertiga malam kemudian dirikanlah sholat semata-mata hanya kepada Allah . Sebagaimana hadist Nabi `

“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus disurga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi syaibah)

Pada jaman Rasulullah ada sahabat nabi yang selalu menjaga wudhu dan sholat 2 rokaat setelah berwudhu. Sahabat nabi tersebut adalah Bilal bin Rabbah. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah

“Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau amalkan dalam islam, karena aku sungguh telah mendengar gemerincing sandalmu ditengah-tengahku dalam surga.” Bilal berkata “ Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling kuharapkan disisiku, hanya aku tidaklah bersuci diwaktu malam atau siang, kecuali aku shalat bersama wudhu itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku.” (HR Bukhari).

Kisah yang kedua yaitu pada suatu ketika nabi sedang berkumpul dengan sahabatnya, nabi mengabarkan bahwa akan datang calon penghuni surga. Para sahabat terpukau melihat seorang sahabat yang beruntung tersebut. Kemudian ketika ditanyakan amalan apa yang membuatnya masuk kedalam surga. Sahabat tersebut menjawab bahwa dia memafkan kesalahan orang lain sebelum tidur.
Untuk dikenali oleh Allah sebagai hambaNya yang memiliki nilai lebih terhadap amal/ibadah yang dilakukan, maka amal dan ibadah yang dilakukan juga harus dengan sebenar – benarnya, harus rutin dilakukan terus menerus meskipun ibadah atau amal tersebut terlihat kecil, sebagaimana hadist Nabi

“ Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit” (HR. Muslim) dan yang paling penting ketika melakukan amalan/ibadah apapun ikhlas semata – mata karena Allah.

Amalan yang Paling Dicintai Allah

Membangun penilaian diri dihadapan Allah sebagai hambaNya yang bertaqwa, maka alangkah lebih baiknya setiap ibadah atau amalan yang dilakukan merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah . Karena dengan hal itu maka Allah yang Maha Mencintai akan lebih mencintai hamba tersebut. Lalu amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah . Sebagaimana hadist Nabi Muhammad `,

“ Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit”.

Hadist ini menjelaskan bahwa bukan amalan apa yang paling dicintai oleh Allah, tapi frekuensi dalam mengerjakan amalan tersebut. Sejatinya Allah menyukai semua amalan yang dilakukan hambanya, hanya saja Allah lebih menyukai amalan yang sering dilakukan meskipun kecil. Sebagai contoh ibadah sholat. Akan lebih baik dan sudah seharusnya dilakukan setiap hari pada waktunya, lebih baik lagi dengan berjamaah. Jika tidak dilakukan terus menerus maka akan terhitung dosa karena meninggalkan kewajiban dari Allah .
Hadist serta penjelasan diatas berkaitan dengan topik bagaimana membangun positioning diri dihadapan Allah . Salah satu cara membangun positioning/image diri dihadapan Allah adalah dengan menjalankan perintahnya. Tapi bukan hanya menjalankan sesekali melainkan terus menerus. Jika kita ingin dikenal oleh Allah sebagai hambanya yang ahli sedekah, maka bersedakahlah dengan sedekah terbaik. Jika tidak bisa dengan jumlah besar maka bisa dengan jumlah kecil yang rutin selama periode waktu tertentu. Jika kita ingin dikenal oleh Allah sebagai ahli qiyamul lail maka rutinkan untuk selalu mendirikan sholat disepertiga malam. Begitupun ibadah dan amalan yang lainnya.

Kesimpulan

Sebagai muslim yang taat kepada Allah sudah semestinya menjadikan Allah sebagai tujuan hidup ini. Salah satu strategi atau cara mencapai tujuan tersebut adalah dengan menempatkan diri (positioning) kita sebagaimana yang Allah sudah perintahkan didalam Al-quran. Menempatkan diri dengan cara menjalankan segala bentuk perintahnya dan menjauhi larangannya. Karena sejatinya kita tidak pernah mengetahui dari pintu amalan mana kita akan masuk kedalam surga. Dan sebaliknya dari pintu dosa mana kita akan dimasukan kedalam neraka. Oleh sebab itu persembahkan ibadah dan bentuk ketaqwaan lainnya kepada Allah dengan sebaik-baikinya. Hal ini juga mengajarkan kita untuk tidak meremehkan suatu bentuk ibadah atau amalan yang terlihat seolah-olah kecil tetapi ternyata mempunyai nilai yang besar di mata Allah . Begitupun sebaliknya jangan sampai kita meremahkan satu dosa kecil, karena boleh jadi dosa itu yang membawa kita masuk ke nerakanya Allah . Semua bentuk ibadah dan amalan itu bukan untuk Allah, bukan karena Allah SWT butuh dengan ibadah-ibadah yang hambanya lakukan, karena sejatinya Allah tidak membutuhkan apapun dari hambanya. Melainkan semua ibadah, amalan serta ketaqwaan yang selama hidup ini dilakukan maka akan kembali kepada orang yang mengerjakannya, baik itu berupa balasan di surga kelak ataupun balasan di dunia berupa rejeki, kesehatan, kemudahan dalam mengerjakan urusan dan lain sebaginya.

Ramadhan Achmad F
Fakultas Teknologi Industri