UTAMAKAN KEWAJIBAN, PENGHARGAAN DATANG KEMUDIAN

وَلَوْ قَامَ النَّاسُ بِمَا وَجَبَ عَلَيْهِمْ # لَكَانُوْا—وَهُمْ فِى الْأَرْضِ—فِى جَنَّةِ الْخُلْدِ
(اَلشَّيْخُ مُصْطَفَى الْغَلَايَيْنِي فِى عِظَةِ النَّاشِئِيْنَ)


“Dan seandainya manusia melakukan apa yang menjadi kewajibannya maka niscaya mereka—di dunia ini—berada dalam surga yang abadi.”(Syeikh Mushthafa al-Ghalāyainiy dalam Kitab ‘Idhati an-Nāsyi-īn
 

Tamu undangan sudah ramai berdatangan. Disambut gerimis hujan saya—bersama seorang teman—sampai lokasi tujuan. Acara sudah dimulai meskipun baru “pembukaan”. Saat itu, Surat al-Wāqi’ah bagian akhir sedang bersama-sama dilantunkan. Saya saksikan calon pengantin pria duduk manis penuh kegembiraan. Iya, tidak lama lagi dia dan “si dia” akan sah menjadi suami-isteri. Sepasang kekasih yang memadu rindu dan cinta dalam ridha-Nya.

Akad nikah berjalan dengan lancar. Ijab qabul dilafalkan dalam bahasa Arab. Pengantin pria menjawab ijab dengan fasih dan lantang. Sejurus dengan itu hadirin mengucapkan kata “sah”. Saya yang ditugasi menjadi juru foto tepat berada di samping kanan pengantin pria. Bersyukur, saya menjadi orang pertama yang mengucapkan “selamat”. Pengantin pria, selain kakak tingkat juga sahabat dekat saya. “Barakallahu laka, Mas…”

Bagi saya, menghadiri pernikahan ibarat sedang bernostalgia. Sebab, sebelumnya saya pernah melewati momen indah sebagaimana yang dirasakan sahabat saya itu. Momen indah tersebut semestinya tidak terhenti ketika resepsi usai. Momen indah itu harus senantiasa dijaga, dipupuk, dan dilestarikan sampai ajal memisahkan. Dalam rangka menuju arah tersebut, sang pengantin harus memiliki resep khusus.

 

Wajib Dulu, “Harga” Belakangan

Apa yang disampaikan sang kiayi dalam acara tersebut adalah resep dimaksud. Berumah tangga itu pasti tujuannya untuk meraih kebahagiaan, katanya mengawali taushiah. Resep bahagia berumah tangga sebenarnya sama dengan resep bahagia dalam hidup secara universal. Ringkasnya, bagaimana masing-masing mengupayakan pemenuhan kewajiban. Bukan sebaliknya, selalu menuntut hak sementara kewajiban tiada ditunaikan.

Andai saja,” kata Syeikh Mushthafa al-Ghalayainiy, “semua manusia melakukan apa yang menjadi kewajibannya.” Lalu apa konsekuensinya? “Niscaya mereka—di dunia ini—seolah-olah berada dalam keabadian surga,” lanjutnya. Ungkapan “pengandaian” tersebut menunjukkan bahwa kenyataannya tidaklah demikian. Banyak yang tidak mengerti apa yang menjadi kewajibannya. Ada pula yang sudah mengerti namun berpura-pura tidak paham.

Tidak kalah sedikit yang belum apa-apa sudah bertanya, “Bagian saya berapa persennya?” Itu memang tidak salah bila diikuti dengan kerja yang sungguh-sungguh. Masalahnya, andai hak diminta seluruhnya namun kewajiban ditunaikan seadanya? Bila demikian kondisinya berarti dia telah mengambil sesuatu yang sebenarnya bukan benar-benar haknya. Kalau begitu, bukan “keabadian surga” yang didapatkan di dunia ini. Namun api neraka yang mulai dinyalakan.

Rumah tangga bahagia selaiknya mengikuti pola atau resep dari untaian hikmah di atas. Logikanya begini, suami melakukan kewajibannya tanpa menuntut hak. Kewajiban suami adalah hak isteri dan hak suami adalah kewajiban isteri. Di saat yang sama, isteri fokus pada kewajiban dan sama sekali tidak meminta hak. Kewajiban isteri adalah hak suami dan hak isteri adalah kewajiban suami. Bila demikian maka akan nyambung bukan?

Uraiannya adalah sebagai berikut. Katakanlah kewajiban suami mencari nafkah. Kewajiban isteri yaitu melayani suami dengan baik. Keduanya—sekali lagi—konsentrasi pada kewajiban masing-masing. Dengan begitu, otomatis keduanya mendapatkan haknya masing-masing pula. Suami mendapatkan haknya, dilayani dengan baik oleh isterinya. Isteri pun mendapatkan haknya, dicukupi kebutuhannya oleh sang suami.

Ilustrasi lainnya. Hubungan antara pekerja dengan bos. Pekerja fokus pada pemenuhan kewajibannya dengan bekerja sebaik mungkin tanpa menuntut haknya. Si bos menunaikan kewajibannya, dengan memberikan upah yang layak. Lebih baik lagi bila upah diberikan qabla keringnya keringat pekerja. Masing-masing komitmen dengan kewajiban, akhirnya masing-masing mendapatkan haknya. Pekerja mendapatkan bayaran yang pantas, bos puas dengan pekerjaan yang total.

Pola yang demikian ini juga sama ketika ditarik dalam konteks hubungan hamba dengan Sang Pencipta. Ketika hamba konsisten menjalankan kewajiban maka tidak perlu lagi khawatir dan cemas. Pasalnya, Allah l akan menunaikan “kewajiban”-Nya dengan memberikan perlindungan dan ganjaran kepada hamba tersebut. Ibadah seorang hamba memang bukan hak Allah namun dengan beribadah menjadi alasan bagi hamba untuk lebih akrab dengan-Nya.

Tatkala pola tersebut dilakukan dengan baik maka kehidupan dunia ini ibarat surga keabadian. Namun sekali lagi hal tersebut belum menjadi kesadaran bersama. Dalam rumah tangga misalnya, suami selalu menuntut ini dan itu padahal dia belum menunaikan kewajiban secara penuh. Isteri meminta dibelikan ini dan itu sementara pekerjaan rumah tidak pernah beres. Ini karena masing-masing terus memikirkan hak tetapi melupakan kewajiban.

Dalam masalah penyebutan, biasanya “hak” disebut dahulu baru kemudian “kewajiban”. “Antara hak dan kewajiban,” biasa kita membaca dan menuliskannya. Sementara kalau dipahami dengan seksama yang ideal adalah “kewajiban” baru “hak”. Jadi, bukan “hak dan kewajiban” namun “kewajiban dan hak”. Memang aneh dan rancu namun perlu terus disosialisasikan. Ending-nya, kita menjadi tersadarkan untuk lebih dahulu fokus pada kewajiban dan bukan sebaliknya.

Itulah mengapa, kata dosen saya yang turut memberi taushiah dalam akad nikah sahabat saya tadi. Sepatu atau sendal hak tinggi itu haknya selalu di belakang. Bayangkan kalau ada wanita pakai sepatu hak tinggi dan haknya di depan. Tentu akan kerepotan dan bisa-bisa terjatuh tidak bisa jalan. Itulah filosofi bahwa hak (“harga”) itu adanya belakangan atau di belakang. Di depan itu ada kewajiban dan bila sudah ditunaikan maka yang belakang (hak) akan turut serta.

“Pengertian”

Kesadaran untuk lebih mendahulukan kewajiban pada purnanya akan sampai pada sikap saling pengertian. Dalam konteks rumah tangga, ketika ada yang kurang pas tidak lantas buru-buru menyalahkan pasangan. Ketika pelayanan isteri tidak maksimal suami paham bahwa isteri sedang belajar dan terus memperbaiki diri. Saat nafkah lahir tidak stabil, isteri sadar bahwa rejeki tidak selalu berwujud materi. Hal ini karena isteri juga tahu suaminya telah berupaya keras.

Masih melanjutkan nasihat sang kiayi. Ketika suami isteri sudah komitmen dengan kewajibannya masing-masing. Keduanya sudah saling memahami dan memaklumi. Ketika—misalnya—masakan isteri keasinan harus bersyukur karena sayurnya awet. Bila nasinya agak keras, bersyukur, sebab rasa kenyang akan tahan lama. Kalau nasinya lembek, bersyukur, mudah untuk mengunyahnya. Jadi, berumah tangga isinya ialah kebahagiaan karena dibangun di atas “pengertian”.

Sungguh indah bila berkaca pada pribadi Rasulullah `. Dia tidak pernah mencela makanan sama sekali. Kalau dia senang (arāda, isytaha) dengan makanan tersebut dia akan memakannya. Bila tidak suka (kariha) dia akan meninggalkannya, tanpa mencelanya. Bahkan suatu hari Rasulullah ` pernah disuguhi cuka, hanya cuka. Dahsyatnya, Rasulullah ` justru mengatakan sebaik-baik teman bersantap adalah cuka. Itulah Rasulullah. Kalau kita?

Sikap Rasulullah ` tersebut sepantasnya menjadi teladan kita. Ketika makanan yang disuguhkan tidak sesuai selera boleh jadi kita kecewa. Namun perlu diingat, membuat makanan itu kewajiban isteri. Isteri berhak mendapat apresiasi atas kewajibannya. Tidak terbayangkan ketika ternyata bukan apresiasi yang didapatkan namun justru umpatan. Rasulullah ` mengajarkan akhlak yang luar biasa. Kalau tidak suka tinggalkan tapi jangan sekali-kali mencela.

Suatu pagi saya mendapatkan kiriman hikmah via BBM. “Berteman dengan kawan yang berilmu pengertian lebih enak daripada yang berilmu pengetahuan…” Ilmu pengetahuan itu penting namun ilmu pengertian tidak kalah penting. Bahkan dalam situasi tertentu boleh jadi yang terpenting adalah ilmu pengertian. Ilmu pengetahuan mudah dicari dan dipelajari. Sementara ilmu pengertian itu praktik di lapangan, prosesnya panjang, tanpa batasan SKS yang pasti.

Kondisi tersebut tetap harus dibangun di atas kesadaran bahwa kewajiban itu utama. Saat kita tahu orang lain melakukan kewajibannya secara maksimal, kita mudah memakluminya saat hasilnya tidak maksimal. Kala kita menunaikan kewajiban secara total, orang lain juga gampang menyadari bila hasilnya tidaklah total. Kuncinya, pertama-tama tetap mengupayakan pemenuhan kewajiban sebaik mungkin. “Pengertian” dari orang lain itu adalah bagian dari hak setelah kewajiban.

Nasihat yang mengawali tulisan ini menggunakan kata andai (lau…). Sebagai menusia yang dianugerahi kesempatan belajar tidak sepantasnya kita ikut berandai-andai pula. “Andai saya dapat mendahulukan kewajiban… Andai saya dapat lebih menghargai dan mengerti keadaan orang lain… Andai saya tidak terlalu menuntut balasan… Dan seterusnya…” Tidak, bukan itu yang diharapkan. Kita mesti memulai langkah nyata untuk fokus pada kewajiban. Semoga Allah merahmati kita. Wallāhu a’lamu bi ash-shawāb. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Staf Prodi Hukum Islam (Syari’ah) UII,
Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Mutiara Hikmah
Dari Abu Hurairah a berkata, Rasulullah ` bersabda: “Janganlah seorang suami mukmin membenci seorang istri yang beriman, jika ia tidak menyukai satu perangai istrinya maka ia akan suka dengan perangainya yang lain” (HR Muslim)

JANGAN MENCELA HUJAN!

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنَّكَ تَرَى ٱلۡأَرۡضَ خَٰشِعَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡۚ إِنَّ ٱلَّذِيٓ أَحۡيَاهَا لَمُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰٓۚ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ٣٩

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Fushshilat [41]: 39).

Hujan merupakan nikmat yang sangat besar yang diturunkan Allah l dan merupakan salah satu tanda kebesaran-Nya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah l, surah Fushshilat ayat 39. Hujan itu nikmat, hujan itu menyenangkan, hujan itu asyik.  

Mari kita simak firman Allah l  pada ayat yang lain dalam al-Qur’an yang artinya, “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS al-Waqi’ah [56]: 68-69). Tanpa nikmat Allah ini (hujan), bumi akan menjadi kering dan tandus. Tanpa air, tidak akan ada kehidupan di muka bumi. Maka janganlah kita mencela nikmat yang sangat luar biasa dari Allah l, hanya orang-orang yang tidak sempurna keimanannya keluar dari lisannya celaan terhadap air hujan.

Bersamaan dengan turunnya hujan, Allah juga memberikan beberapa keutamaan padanya. Diantaranya adalah waktu turunnya hujan adalah salah satu waktu mustajabnya do’a. Nabi ` bersabda, “Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan: [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.” (Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam al-Umm dan al-Baihaqi dalam al-Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, lihat hadits no. 1026 pada Shahihul Jami’).

Selain itu, Rasulullah ` mengajarkan kita untuk mengambil berkah dari hujan. Dalam suatu hadits disebutkan bahwa Anas a berkata, “Kami bersama Rasulullah ` pernah kehujanan. Lalu Rasulullah ` menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?’ Kemudian Rasulullah ` bersabda, “Karena dia baru saja Allah ciptakan.” (HR Muslim no. 2120). Imam al-Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan makna hadits ini adalah bahwasanya hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah l, maka Nabi ` bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut.

Akan tetapi, sebagian besar manusia hanya mensyukuri nikmat hujan ini pada awal turunnya saja (yakni pada awal musim hujan). Selanjutnya akan kita dengar banyak sekali celaan yang dilontarkan sebagian besar manusia kepada hujan. “Aduuh! Lagi-lagi hujan, lagi-lagi hujan…” atau perkataan mereka “gara-gara hujan saya jadi gak berangkat kerja” dan sebagainya. Bahkan bukan hanya itu, manusia juga sering mengumpat dan mencaci maki hujan.

Agama kita yang mulia melarang kita mencela hujan karena hujan merupakan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah. Maka mencaci maki hujan sama saja mencaci maki Dzat yang menciptakan dan mengatur hujan.

Ingat! Hujan diturunkan bukan hanya untuk kita melainkan untuk semua makhluk. Jangan sampai karena keegoisan kita dan memikirkan diri kita sendiri lantas kita mencela rahmat Allah ini. Boleh jadi hujan menyebabkan kita tidak bias beraktivitas akan tetapi bagi makhluk lain justru menjadi berkah tak terkira.

Bahaya Mencela Hujan
Tidakkah kita menyadari bahaya dari mencela air hujan? Perhatikanlah hadits qudsi berikut ini, Nabi ` bersabda, “Allah l berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), pdahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti’.” (HR Bukhari dan Muslim). Dalam kesempatan lain, Nabi ` bersabda, “Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shahih).

Dari dalil-dalil ini terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak bisa berbuat apa-apa (termasuk hujan) adalah terlarang. Hal ini bahkan bisa mencapai derajat syirik akbar jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi.

Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan adanya pencipta selain Allah l. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah  sedangkan makhluk makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya menjadi sebab saja, maka seperti ini termasuk keharaman akan tetapi tidak sampai kepada derajat syirik. Maka dari itu wahai saudaraku, janganlah engkau mencela nikmat hujan yang Allah l berikan kepada kita.

Sikap Kita, Ketika Hujan?
Sungguh Nabi ` kita yang mulia telah mengajarkan kita untuk menyikapi hujan mulai ketika berkumpulnya awan (mendung) hingga selesai hujan.

  1. Ketika berkumpulnya awan
  2. Dari Aisyah x, beliau berkata, “Rasulullah ` apabila melihat awan (yang belum berkumpul sempurna, penj.) di salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya  kemudian beliau kembali melakukannya lagi (jika hujan sudah selesai, penj.). Ketika awan tadi telah hilang, beliau memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan, “Allahumma shayyiban nafi’an” (Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang bermanfaat).”

  3. Ketika hujan lebat
  4. Ketika hujan turun dengan lebat, Nabi ` berdo’a “Allahumma hâwalaina wa lâ ’alaina. Allahumma ’alal âkami wal jibâli, wazh zhirâbi, wa buthunil awdiyati, wa manâbitisy syajari (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan).”

  5. Ketika selesai hujan
  6. Nabi ` mengajarkan kita untuk mengucapkan ‘Muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah).

Inilah beberapa hal penting yang diajarkan Nabi ` kita ketika hujan turun yang dapat saya sebutkan pada kesempatan kali ini. Semoga kita menjadi orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat hujan dan semoga kita dijauhkan dari sifat orang-orang yang suka mencela hujan dan semoga Allah jadikan untuk kita hujan yang bermanfaat dan bukan hujan yang menimbulkan bencana. âmîn

Ibnu Adi
Farmasi Angkatan 2012

Mutiara Hikmah
Doa Apabila Melihat Permulaan Buah: “Ya Allah! Berilah berkah buah-buahan kami, berilah berkah kota kami, berilah berkah gantangan kami (sehingga di antara kami tidak sering mengurangi timbangan) dan berilah berkah mud kami.” (HR Muslim, No. 2/1000)

BERCERMINLAH!

Wahai tubuh,
seperti apakah isi gerangan hatimu?
Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu,
atau sebagus daki yang melekat ditubuhmu?
Apakah hatimu seindah penampilanmu
atau sebusuk kotoranmu?
(catatan seorang sahabat)

Benda yang satu ini sangat familiar, sering dijual di toko bangunan, bahkan di pinggir jalan. Tetapi sadar atau pun tidak, benda ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan, bagaimana rasanya jika hidup ini tidak ada cermin, tentu kita tidak akan pernah tahu akan rupa diri kita sendiri. Bahkan bagi sebagian perempuan, keberadaan cermin itu tidak bisa lepas dalam aktivitas keseharian, kemana-mana biasanya cermin itu selalu dibawa.

Misalnya saja, untuk membetulkan kerudung yang kurang pas, mereka (perempuan) tak segan untuk izin ke kamar kecil. Padahal tujuannya cukup simple, ya hanya untuk membetulkan kerudungnya. Tanpa ada bantuan cermin rasanya terkesan ribet. Bagi sebagian wanita yang senang dandan tentu cermin kecil selalu menemani kemana pun mereka pergi.

Ketika make-upnya dirasa sudah luntur, alisnya mulai tipis, lurus dan lain-lain, tak segan mereka mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas mungilnya. Sebetulnya, tak jauh berbeda juga dengan laki-laki yang senang dengan fashion. Hanya saja laki-laki biasanya cukup bercermin di rumah, atau malah lebih berani, apapun yang bisa memantul bisa dijadikan cermin.

Inilah fenomena kecil yang sering kita jumpai, yang begitu penting dalam kehidupan sehari-hari dan tak bisa dipisahkan dari hidup kita. Apa jadinya jika hidup ini tidak ada cermin, tentu rasanya ada sesuatu yang hilang. Penulis sempat merasakan pengalaman yang luar biasa dan tidak mengenakkan.

Salah seorang teman pernah mengalami hal ini. Kala itu selama sepuluh hari Ia ditugaskan untuk menjalankan salah satu program dari kantornya. Ia ditempatkan di desa terpencil dan di puncak sebuah bukit yang diapit oleh dua gunung menjulang ke langit. Karena berada di atas ketinggian, rasa dingin adalah santapan setiap hari, tak peduli siang maupun malam hari.

Karena mengalami kondisi alam yang berbeda, banyak sekali perjuangan yang harus dihadapi. Harus terbiasa dengan cuaca dingin, jarang mandi (sehari cukup satu kali, itu pun mandinya dilakukan pada siang hari). Perjuangan yang lain yaitu tidak menemukan cermin, hanya ingin sekedar melihat wajah atau melihat keadaan rambut. Maklum karena akses ke kota lumayan jauh dan jalannya yang rawan.

Ada rasa rindu dan kangen dengan wajah. Bagaimana bentuk dan perubahan, apa saja yang sudah terjadi selama ini. Rasa keingintahuan itu luar biasa muncul. Alangkah kaget bukan kepalang ketika ia bercermin, ternyata wajahnya mengelupas seperti kulit ular, ada sisik-sisiknya juga. Setelah dicek, ternyata hanya faktor air dan iklim saja, sehingga menyebabkan wajahnya demikian.

Cermin Diri
Itulah pentingnya cermin. Selain untuk mengetahui perubahan dan perkembangan yang ada pada manusia. Cermin juga sering digunakan untuk aktivitas lain, dan pekerjaan itu sangat simple. Merias wajah misalnya, dan ini kebiasaan perempuan. Kalau laki-laki paling mencukur kumis, dan janggut. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw agar selalu merawat diri, salah satunya ilah mencukur rambut, kumis dan lain-lain.
Jika pekerjaan yang satu ini tidak dibantu dengan cermin, tentu harus menggunakan jasa orang lain. Bayangkan jika pengerjaan yang sederhana ini harus dilakukan oleh dua orang saja, terkesan ribet bukan? Dengan adanya cermin, pengerjaannya bisa lebih mudah dan ringan, karena tidak perlu dilakukan dengan banyak orang.

Makna bercermin yang dimaksud adalah cermin yang bermakna hakiki (hakikat), yaitu cermin yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun bercermin yang bermakna majazi (majas) adalah cermin diri. Cermin ini sering diartikan sebagai introspeksi diri (bercermin ke diri sendiri, setelah melihat/membandingkan ke orang lain yang lebih baik).

Tujuannya ialah membandingkan diri dengan orang lain, apakah yang kita lakukan itu sudah seperti mereka ataukah belum (dalam hal ini terkait kebaikan). Sehingga dengan adanya cermin diri ini, memacu seseorang untuk menjadi lebih baik lagi. Sebagaimana perintah Rasulullah untuk memiliki prinsip, “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin…”
Cermin adalah benda yang paling jujur sedunia. Apa yang ada didepannya ditampilkan secara utuh. Tidak ada manipulasi, atau disembunyikan darinya. Dan yang paling penting adalah, cermin tidak pernah sekalipun memberikan komentar tentang apa yang didepannya. Keistimewaan inilah yang dimiliki oleh sebuah cermin. Apa jadinya jika cermin itu bisa berbicara dan mampu memberikan penilaian bagi siapapun yang ada di depannya?.

Bercerminlah !
Nu’man bin Muqrin berkata: “Bahwasannya ada seorang laki-laki mencaci orang lain disisi Nabi, kemudian orang yang dicaci mengatakan: “Mudah-mudahan keselamatan tercurah atasmu.” Lalu Nabi bersabda:

“Ketahuilah bahwasannya ada malaikat di antara kamu berdua yang membelamu; setiap kali orang ini mencacimu. Malaikat itu berkata kepadanya: “Tetapi engkau, engkaulah yang lebih berhak terhadap cacian itu; dan jika engkau mengatakan: “Mudah-mudahan keselamatan tercurah atasmu”, maka malaikat itu berkata: “Tidak, tetapi engkau, engkaulah yang berhak terhadapnya.” (HR Ahmad)

Sebelum mengeluarkan ucapan kepada orang lain, apalgi mencaci, silakan bercermin kepada diri sendiri. Sudah betul-betul baik atu masih belajar baik? Untuk itu menjaga lisan dari seuatu yang dapat mengotorinya adalah tugas kita besama masing-masing. Jika ada yang salah, silakan ingatkan dengan cara dan ucapan yang baik.

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu; Siapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal siapa tuhannya. Ini adalah salah satu cermin diri yang baik. Mengetahui dirinya sendiri dalam rangka mengetahui siapa sang penciptanya. Dengan mengetahui kekurangn diri, maka akan semangkin merasa lemah dan tidak berdayannya diri.

Mengenal Diri, itulah suluk. Suluk adalah fase-fase perjalanan hidup untuk pada akhirnya mengalami realitas sejati. Hanya dengan mengenal jatidiri, maka makhluq mengenal Khaliq. Hanya dengan menyadari ia hina, maka ia mengerti Allah Maha Tinggi.
Hanya dengan mengenal jati diri, maka makhluq mengenal Khaliq. Dengan menyadari ia najis, maka ia mengerti Allah Maha Suci. Hanya dengan mengaku telah berbuat salah dan dosa, serta bertobat, maka manusia akan mengerti bahwa Allah Maha Pengampun. Luasnya rahmat Allah membentang tak terhingga. Oleh karena itu, sungguh sangat merugi bagi kita yang tidak menyadari atas karunia yang telah Allah anugerahkan pada kita semua. Allâhul Musta’an.

Ihtitām
Orang yang bahagia yaitu orang yang ‘ngaca’ terhadap dirinya. Dai sejuta umat, KH Zainudin MZ rahimahullâh pernah menyampaikan tausiah tentang ciri-ciri orang yang bahagia.

  1. Pertama, ingat akan kesalahan yang pernah diperbuat. Mengingat kesalahan dan dosa untuk menjadi lebih baik, baru kemarin berbuat dosa, ini nambah lagi.
  2. Kedua, melupakan kebaikan yang pernah dilakukan (merasa kebaikannya belum cukup). Ia merasa belum pernah berbuat baik, sehingga merasa rugi kalau tidak berbuat baik
  3. Ketiga, dalam urusan dunia melihat kebawah. Artinya timbul rasa syukur. Masih banyak yang sengsara dari dirinya, ketika menemui kesulitan, ia berpikir masih banyak yang merasakan kesulitan dibandingkan dengannya.
  4. Keempat, dalam urusan akhirat ia melihat ke atas. Si Pulan bisa puasa sunah, kenapa saya tidak. Dia bisa ngaji, kok saya enggak. Iri terhadap dunia dilarang, iri dalam kebaikan sangat dianjurkan.

Untuk itu mari bersama-sama kita bercermin, tentunya dengan menggunakan cermin yang baik. Jika selama ini cermin yang kita gunakan itu belum baik, mari mulai detik ini juga diubah dan perlahan untuk meninggalkannya. Semoga kita diberikan kemudahan dan kekuatan oleh Allah  untuk selalu berada di jalan yang lurus, wa ihdinsshiratha al-mustaqîm.[]

Hamzah
Ngaji di UII

Mutiara Hikmah
Dosa tersebut dilakukan oleh seorang alim yang dia menjadi panutan bagi yang lain. Nabi bersabda,

وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR Muslim, No. 1017)

MENDIDIK BUAH HATI SECARA BIJAK

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(QS. al-Nisâ [4]: 9)

Setiap anak muslim adalah aset dakwah bagi tegaknya kalimat Allah di muka bumi di masa mendatang, sekaligus penopang bagi maju atau mundurnya peradaban suatu bangsa. Dari itulah, orangtua harus mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam rangka mewujudkan generasi yang kuat agar mendatangkan kebaikan dan barakah di zamannya. Minimnya informasi untuk menjadi orangtua yang baik kerapkali dialami oleh sebagian besar orangtua. Menjadi orangtua juga tidak ada sekolah formalnya. Berangkat dari hal di atas penulis, berusaha untuk memberikan sedikit informasi yang semoga bermanfaat bagi para orangtua maupun para calon orangtua.

Pada dasarnya setiap anak terlahir dengan dua dimensi yang ada pada dirinya. Kedua dimensi tersebut adalah jasmani dan ruhani. Kedua dimensi tersebut memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi secara seimbang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan sang anak. Namun, sebagian orangtua lebih lebih mengutamakan kebutuhan jasmani daripada kebutuhan ruhani. Banyak dari orangtua yang cenderung mengabaikan pemenuhan kebutuhan ruhani yang sifatnya abstrak. Padahal Rasululah sudah mengajarkan cara-cara mendidik anak agar pemenuhan kebutuhan dua dimensi tersebut dapat seimbang.

Dalam beberapa riwayat, Rasulullah menganjurkan kepada para orangtua untuk mengajari anaknya berenang, memanah, dan berkuda. Ditilik dari sudut pandang jasmani, ketiga aktivitas olahraga tersebut yang jika dilakukan secara rutin tentu akan berimbas kepada kekuatan dan kesehatan anak. Apabila kesehatan dan kekuatan fisik anak tidak diperhatikan sejak dini, maka mereka akan tumbuh menjadi pemuda yang lemah. Jika sebuah generasi adalah generasi yang lemah, maka suatu bangsa akan sulit untuk menjadi bangsa yang kuat dan tangguh. Pun dalam hal kesehatan, apabila kesehatan generasi kecil tidak diperhatikan, maka bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang lemah.

Selain bermanfaat bagi kesehatan dan kekuatan fisik, manfaat dibiasakannya ketiga olahraga di atas juga sangat baik untuk mengembangkan mental dan ruhani yang kuat, seperti kepercayaan diri, keberanian dan kemampuan konsentrasi. Adapun manfaat lebih detail dari ketiga olahraga tersebut, terutama pembentukan psikis dan mental, adalah sebagai berikut:

  1. Berenang

    Olahraga ini melatih kekuatan bernafas anak, dengan demikian asupan oksigen di dalamnya otaknya senantiasa tercukupi yang mana akan memacu kecerdasan bagi anak. Dia akan tumbuh menjadi pembelajar ulung, memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar terhadap segala sesuatu yang dianggapnya baru dan belum pernah diketahui oleh anak sebelumnya.

  2. Memanah

    Kepercayaan diri akan tumbuh dalam jiwa anak, sosok pemimpin juga akan terbentuk pada pribadi anak. Latihan memanah juga mendidik anak untuk memiliki pandangan jauh ke depan dan tetap fokus pada tujuan yang hendak dicapai. Dalam pengambilan suatu keputusan, kejernihan pikiran akan mampu mereka hadirkan meskipun berhadapan dengan permasalahan yang genting sekalipun.

  3. Berkuda

    Banyak sekali sikap yang dapat dibentuk dari olahraga ini. Berkuda mengajarkan kepada anak akan kepercayaan diri, ketangkasan, keberanian, pengendalian diri, dan jiwa kepemimpinan. Meskipun orang yang dipimpinnya nanti adalah orang yang lebih mahir, lebih kuat, serta memiliki banyak kelebihan dibandingkan dirinya, ia tidak akan gentar dan ragu, karena ia tidak takut terhadap suatu apapun kecuali hanya kepada Rabb-Nya.

Setiap anak terlahir dengan fitrah yang melekat padanya berupa dorongan untuk senantiasa berbuat kebaikan dan cenderung memiliki kekuatan untuk dekat dengan Rabb-Nya. Ia mencintai kebaikan dan nalurinya menolak untuk melakukan suatu keburukan. Namun, ketika mereka terlahir di dunia, sejak kelahiran hingga masa kanak-kanak (sebelum baligh) kemampuan kognitif mereka masih sangat terbatas, sehingga mereka belum memiliki cukup bekal untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Maka peran orangtua sangatlah besar dalam upaya mengarahkannya untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa masih banyak ditemukan anak yang cenderung menimbulkan kerusakan, berbuat onar, dan membuat masalah bagi lingkungannya? Pihak pertama yang perlu untuk diperiksa adalah orangtua. Bisa jadi orangtua merekalah yang menjadi penyebab rusaknya fitrah anak. Namun seringkali, kebanyakan orangtua menganggap sumber dari semua permasalahan adalah berasal dari anak itu sendiri. Ketika anak berbuat salah, selalu yang disalahkan dan dijatuhkan harga dirinya adalah si anak, baik saat di rumah maupun di luar rumah.

Bahkan ada orangtua yang tidak segan menggunakan kekerasan fisik terhadap anak. Tamparan keras sering didaratkan ke pipinya yang lembut. Pukulan demi pukulan sering dihujamkan pada tubuhnya yang mungil. Rintih kesakitan kerapkali terdengar karena cubitan orangtua. Bentakan keras menggelegar diseruakkan ketika anak tak mau mengikuti titah orangtua. Inilah penyebab dari rusaknya fitrah anak yang selalu cenderung pada kebaikan. Alih-alih kenyamanan yang mereka dapatkan di rumah, justru kebencian yang akan didapatkan keluarga. Akhirnya anak akan mencari kenyamanan dari orang dan tempat lain. Itu artinya bukan orang tuanya dan bukan pula rumah yang akan ditujunya.

Maka, pola asuh orangtua yang salah menjadi salah satu penyebab dari rusaknya fitrah anak. Pendapat bahwa mendidik anak harus disesuaikan dengan zamannya memang benar adanya. Ketika zaman dahulu orangtua mengajarkan kakak untuk selalu mengalah demi kebaikan adiknya, maka saat ini pola asuh tersebut sudah tak tepat dan tak layak untuk diterapkan. Karena anak akan menemukan ketidakadilan di dalam rumah. Kebenaran hanya ditentukan oleh faktor usia sehingga tiap kemauan dan keinginan adik dianggap sebagai kebenaran mutlak dan harus dituruti.

Maka, ada tiga karunia, yang harus diamalkan dan diterapkan oleh orangtua ketika menghadapi perilaku anak yang buruk dan menyimpang, yaitu:

  1. Karunia Belajar
  2. Orangtua harus belajar sebagaimana anaknya belajar. Kebanyakan orangtua zaman sekarang beranggapan bahwa belajar selalu erat dengan unsur tenang menghadap ke meja belajar dengan buku pelajaran di depan mata. Belajar dibatasi dengan ruang. Dinamakan belajar apabila anak berada di kelas atau di meja belajar. Sedang di alam bebas, orangtua mengatakan bahwa mereka tidak sedang belajar. Anak dikatakan belajar apabila mereka belajar membaca, menulis, dan berhitung. Lain dari aktivitas tersebut, orangtua mengatakan bahwa anak tidak sedang belajar.

    Padahal banyak pembelajaran yang didapatkan anak ketika melakukan aktivitas selain “belajar” tersebut. Ketika anak sedang bermain kelereng, di situlah anak belajar untuk memimpin dan dipimpin. Disitulah anak belajar tentang pentingnya menaati suatu peraturan. Sebab, apabila dia berbuat seenaknya dan mau menang sendiri, tentu tak ada satupun anak yang ingin bermain kelereng dengannya. Ketika anak bermain sepak bola, maka disitulah anak belajar tentang strategi  dan bekerjasama dalam tim. Pemahaman makna belajar inilah yang harus direvisi oleh para orangtua.

  3. Karunia Konsistensi
  4. Konsistensi dalam mengikuti aturan dalam rumah harus ditegakkan. Apabila orangtua berkata “tidak” maka seluruh anggota keluarga, termasuk orangtua sendiri harus konsisten untuk “tidak”. Konsistensi akan mengajarkan kepada anak adanya batasan dalam berperilaku. Mengajarkan adanya sebab-akibat dalam setiap tindakan yang diperbuat. Konsistensi pula yang akan membuat anak menjadi lebih bijak dalam mengambil setiap keputusan.

    Kesalahan yang sering terjadi adalah, saat orangtua telah membuat sebuah peraturan, orangtua merasa iba dan membolehkan permintaan sang anak saat anak merengek-rengek. Kadangkala pula, tidak ada kesepahaman antara ayah dan ibu dalam menghadapai permintaan anak, ayah mengatakan “iya”, dan ibu mengatakan “tidak”. Kesalahan yang amat besar pula, apabila orangtua menganggap aturan ini hanya berlaku untuk anaknya saja, tidak untuk orangtua .

    Apabila orangtua memelihara ketidakkonsistenan hingga anak menjadi dewasa, maka anak akan belajar bahwa aturan hanyalah sebatas aturan dan tak perlu untuk ditaati. Anak akan belajar bahwa perkataan tak harus selaras dengan perbuatan. Mereka akan belajar dari sikap orangtua yang kerapkali tak sesuai antara apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat. Dalam hal ini, kesabaran dan ketahanan orangtua harus dijaga demi pembentukan karakter anaknya yang lebih baik.

  5. Karunia Kiblat
  6. Allah menganugerahi kita karunia kiblat. Dengan karunia ini, kita dapat fokus terhadap arah ataupun tujuan yang hendak dituju dan dicapai. Arah dan tujuan tersebut tentunya adalah yang sifatnya baik. Meninggalkan hal-hal buruk dengan terus melakukan introspeksi demi memperbaiki apa yang kurang dan mempertahankan atau meningkatkan apa yang baik. Menjadikan masa lalu yang buruk sebagai suatu pelajaran supaya lebih berhati-hati dalam bertindak.

Orangtua, ayah atau ibu, yang baik adalah yang belajar dari kesalahan anaknya kemudian memberusaha merangkul dan menuntun anaknya supaya tak melakukan kesalahan yang sama. Dengan memberikan dorongan dan motivasi untuk memperbaiki kesalahan yang sudah dilakukan, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang gigih. Dia berani mengakui setiap kesalahan yang dilakukannya dan bangkit untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Ringkasnya, orangtua harus membiasakan diri untuk fokus terhadap perilaku baik anak, bukan pada perilaku buruknya. Fokus pada kelebihan anak bukan pada kekurangannya. Fokus pada solusi penyelesaian kesalahan yang diperbuat anak. Bukan fokus pada masalah yang muncul akibat kesalahannya.

Akhīran, anak merupakan suatu anugerah yang telah diberikan oleh Allah . Anugerah yang merupakan bukti bahwa Allah mempercayai kita, bahwa kita mampu mendidik anak sesuai dengan fitrah yang melekat padanya. Bagi pasangan yang sudah dikarunia anak, semoga dapat menjalankan tugas  sebagai orangtua dengan baik, sehingga anak-anak yang dikaruniakan oleh Allah menjadi anak yang shalih-shalihah. Karena anak yang shalih-shalihah adalah investasi dunia-akhirat yang layak untuk dijaga dan diperjuangkan. Wallāhu a’lamu bi ash-shawāb. []

Zeda Shaliha
Mahasiswi PAI FIAI UII

 

Mutiara Hikmah
Rasulullah bersabda,
Barangsiapa yang mampu menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) aku akan menjamin baginya surga.”
(HR. Bukhari)

CARA ALLAH MEMBERI REZEKI

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”
(QS al-‘Imran [3]:27)

Saudaraku, bicara soal rezeki, sebenarnya mencakup banyak sisi yang sangat luas. Rezeki tidak melulu bicara tentang harta saja, melainkan apapun jenis ni’mat yang Allah l berikan adalah rezeki. Ilmu pengetahuan, kesehatan, kebahagian dan lain sebagainya adalah bagian dari rezeki yang Allah l berikan.
Ingatlah bahwa rezeki tidaklah sebatas harta dunia. Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki, kemudahan untuk beramal shalih adalah rezeki, istri yang shalihah adalah rezeki, anak-anak juga termasuk rezeki. Kewajiban kita untuk senantiasa bersyukur atas rezeki yang Allah berikan. Bahkan rezeki yang hakiki adalah rezeki yang dapat menegakkan agama kita sehingga mengantarkan kita selamat di akherat. Inilah rezeki yang sesungguhnya. Rezeki yang hanya Allah l berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.
Sebenarnya Allah l telah menentukan cara memperoleh rezeki dan telah mengkategorikan rezeki berdasarkan tingkatannya, mulai dari yang terendah dalam arti rezeki yang telah (dijamin) oleh Allah l kepada semua makhluk-Nya hingga rezeki paling tinggi tingkatannya (rezeki untuk orang beriman dan bertaqwa).

Rezeki Tingkat Pertama (yang dijamin oleh Allah).
Allah l berfirman,

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS Hûd [11]: 6).

Inilah tingkatan rezeki yang pertama yaitu rezeki yang sudah dijamin oleh Allah untuk semua makhluk-Nya. Artinya Allah akan memberi kesehatan, makan, minum untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Dari manusia bahkan hingga makhluk terkecil yang tak tampak oleh mata sekalipun. Pada tingkatan ini adalah tingkatan rezeki yang paling rendah.
Allah menegaskan tingkatan rezeki yang pertama ini dalam ayat yang lain Allah l berfirman,

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Ankabût [29] : 60)

Rezeki Tingkat Kedua
Allah l berfirman,

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” (QS al-Najm [53]: 39)

Allah l akan memberi rezeki sesuai dengan apa yang dikerjakannya, jika ia bekerja dua jam, dapatlah hasil yang dua jam. Jika lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh-sungguh, ia akan mendapat lebih banyak. Tidak memandang apakah dia itu muslim atau kafir.
Banyak orang yang bertanya kenapa Allah l menjadikan orang-orang non muslim itu kaya?. coba kita lihat kembali pada diri kita masing-masing sudah usaha kita melebihi mereka, sudah kita bekerja lebih keras dua kali lipat dari mereka. Jika belum, rubahlah karena untuk urusan riziqi Allah l berikan sesuai apa yang diusahakannya. Namun ada catatan penting dalam firman Allah l yang harus kita pahami,

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.(QS al-Baqarah [2] : 212)

Allah l mengetahui apa yang kita kerjakan, Allah l melihat bagaiman hamba-Nya bekerja dan berusaha. Jika kita hanya duduk santai, tak berusaha lebih keras maka jangan harap Allah l akan memberi hasil yang lebih pula. Memang, urusan rezeki itu ditangan Allah l, tapi apabila kita tak meraihnya maka rezeki itu tak akan sampai pada kita.

Rezeki Tingkat Ketiga
Allah l berfirman,

“….. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat-ku), jika kamu mengingkari(nikmat-ku), maka sesungguhnya azab-ku sangat pedih” (QS Ibrahîm [14]: 7)

Di kategori tingkatan rezeki yang ketiga, inilah rezeki yang disayang Allah l. Orang-orang yang pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah l dan mendapat rezeki yang lebih banyak. Itulah janji Allah l, orang yang pandai bersyukurlah yang dapat hidup bahagia sejahtera dan tentram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah l tambhakan selalu.
Sebesar apapun rezeki yang Allah l berikan, jika kita terima dengan penuh rasa syukur maka akan Allah l tambah. Permasalahannya adalah banyak orang yang kufur akan nikmat tersbut. Selalu mengeluh padahal Allah l sudah berikan rezeki kepadanya. Maka selalu memohon dan berdoalah agar kita digolongkan sebagai hamba yang penuh syukur, karena hidup tidak melulu bicara soal seberapa harta yang kita punya, tapi bagaimana kita merasa bahagia (bersyukur) atas apa yang kita miliki.
Prihal bersyukur pun disinggung dalam ayat lain,

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah”.(QS al-Baqarah [2]: 172).

Rezeki Tingkat Keempat (untuk orang-orang beriman dan bertaqwa)
Allah l berfirman, “…Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS al-Thalaq [65]: 2-3)
Peringatan rezeki yang keempat ini adalah yang paling istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Orang-orang istimewa itu adalah orang-orang yang bertaqwa kepada Allah l (Muttaqun). Allah l sudah menjamin dalam firmannya dalam urusan rezeki untuk orang yang taat kepada perintah-Nya.
Maka sebagai Muslim, tentu kita harus sadari betul hal ini. Meski pun Allah telah menjamin rezeki kepada semua makhluknya, namun porsi seberapa besar yang akan kita terima adalah sesuai apa yang kita usahakan. Jika kita berusaha lebih, berdoa lebih, maka hasilnya pun akan lebih pula.
Jangan mau hidup miskin, padahal Tuhan kita (Allah) Maha Kaya. Jangan pernah mau hidup kekurangan rezeki padahal rezeki Allah begitu luas. Jika ada tingkatan rezeki yang paling tinggi (rezeki untuk orang-orang bertaqwa), kenapa kita harus memilih tingkatan yang paling rendah.

Rezeki telah Ditentukan
Dalam tulisannya Ustadz Adika Mianoki menyebutkan (http://muslim.or.id/ aqidah/memahami-dua-jenis-rezeki.html), bahwa seluruh rezeki bagi makhluk telah Allah tentukan. Kaya dan miskin, sakit dan sehat, senang dan susah, termasuk juga ilmu dan amal shalih seseorang pun telah ditentukan.
Rasulullah ` bersabda,

“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqah (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghah (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata: Rezeki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Allah yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.”(HR Bukhari, No. 3208 dan HR Muslim No. 2643)

Dengan mengetahui hal ini, bukan berrati kita pasarah dan tidak berusaha mencari rezeki. Sebagian orang memiliki anggapan yang salah dalam memahami hal ini. Mereka hanya pasrah terhadap takdir tanpa melakukan usaha sama sekali. Sunngguh, ini adalah kesalah yang nyata. Bukankah Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas? Apabila kita sudah mengambil sebab dan mendapatkan hasil yang tidak kita inginkan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa, termasuk dalam mencari rezeki, karena semuanya sudah merupakan ketetapan Allah. Oleh karena itu Nabi ` bersabda,

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan jangalah kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan:’Seaindainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qaddarullahu wa mâ sya’a fa’ala” (HR Muslim, No. 2664). Wallahu a’lam.[]

 

Muhammad Mukhlas
Pendidikan Bahasa Inggris 2013

Mutiara Hikmah
Ucapan apabila tertimpa sesuatu yang tidak disenangi

قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ.

“Allah sudah mentakdirkan sesuatu yang dikehendaki dan dilakukan.” (HR Muslim, No. 4/2052)

GELAR

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”
(QS al-Furqan [25]: 74)

Ketika mengikuti perkuliahan di kampus, banyak karakter dosen pemberi mata kuliah yang berbeda-beda. Dosen A seperti ini, dosen B beda dari A, bahkan dosen C berbeda dari A dan B. Banyak sekali karakater perbedaanya, terutama cara mengajar dan menyampaikan materi yang diajarkan dan ketika ngobrol di luar kelas.
Dari sekian banyak dosen yang mengajar di kelas, tidak sedikit yang sudah sampai menempuh gelar doktor, dengan kata lain sudah dan sedang menempuh strata tiga (S3). Kenapa harus ada gelar yang dijadikan acuan dan tolak ukur seorang dosen. Sebab gelar itu merupakan pencapaian tertinggi yang pernah ditempuh ketika menjalani studinya.
Tak heran jika suatu ketika ada dosen yang jelas-jelas mengatakan bahwa penulisan, peletakan, gelar untuk dirinya tidak boleh salah. Sebab kalau salah maka nilai Ujian Tengah Semester (UTS) maupun Ujian Akhir Semester (UAS) tidak akan keluar. Tentu saja, sebagian mahasiswa merasa takut dan manut saja, toh gelar itu memang buah kerja keras, tidak salahnya kita menghargai kerja keras tersebut.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan orang (mesti tidak semuanya) ketika memilih melanjutkan ke jenjang perkuliahan yang pertama kali dicari yaitu untuk mendapatkan gelar. Perjuangan untuk mendapatkan gelar itu tidak mudah, butuh waktu, perjuangan dan konsentrasi tingkat tinggi.
Oleh karenanya, maka gelar tersebut adalah reward atau hadiah dari kerja keras yang sudah ditempuh selama bertahun-tahun. Tidak salah memang ketika ada dosen yang meminta dan begitu mempersoalkan gelar yang sudah diraihnya tersebut. Kerja keras yang sudah dijalaninya harus dihargai dan diapresiasi.
Dalam kisah lain, tapi masih seputar tentang dosen juga. Cerita singkatanya kurang lebih seperti ini. Kala itu salah seorang sahabat (boleh disebut teman dekatlah) yang meminta bantuan untuk dibuatkan desain sertifikat acara pelatihan. Kebetulan sahabat ini juga sebagai panitia inti dalam acara tersebut.
Setelah desain dibuat dan dikirim, sahabat tadi mengirimkan balasan. Inti tulisannya adalah meminta supaya gelar dosen yang menjadi pimpinan di kantornya tersebut meminta dihapus. Padahal gelar yang sudah dituliskan tidak bermasalah dan sesuai dengan semestinya. Ketika dikonfirmasi langsung, “katanya buat apa sih pake gelar-gelar segala, tidak terlalu penting”. Demikian jawaban yang saya terima dari salah seorang sahabat.

Gelar Sesungguhnya
Komarudin Hidayat (mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) pernah menyampaikan dalam tausiahnya, bahwa sebuah kesuksesan itu sebetulnya bukan terletak pada sesuatu yang dimiliki. Sebab sesuatu yang dimiliki itu menyangkut kepada sesuatu yang melekat. Sesuatu yang melekat itu tidak selamanya bisa kita bawa, dalam artian suatu saat akan kita lepaskan.
Pada hakikatnya sesuatu yang saat ini kita miliki bukanlah sebuah kesuksesan. Jabatan, gelar, dan apapun itu hanyalah tempelan semata. Kelak itu akan kita tinggalkan kala jasad dengan ruh telah berpisah. Gelar keduniaan tidak lagi menjadi berarti, tetapi gelar akhiratlah yang paling dicari.
Husnul khatimah (meninggal dalam keadaan baik) adalah harapan kita, terutama bagi seluruh umat Islam (Muslimin). Hanya saja, ketika mengikuti peroses penjelajahan menapaki husnul kahtimah, banyak sekali duri, naik turun, tikungan tajam dan lain sebagainya. Sehingga banyak yang akhirnya tersesat bahkan salah jalan.
Perangkap yang ada di dalamnya begitu sulit untuk dibedakan. Jalan kebaikan terasa begitu berat dan susah untuk dijalani ketimbang jalan keburukan yang terkesan lebih mudah dan terbuka lebar. Akhirnya banyak yang memilih jalan keburukan, karena terasa lebih nyaman, enak, dan ada juga karena sudah terlajur jatuh di dalamnya.
Ketika sudah di batas penghujung jatah kehidupan, banyak yang menyesal dan ingin mengubah jalan hidupnya. Kata-kata penyesalan tak lagi berarti, sebab maut sudah datang di depan mata, waktu tak bisa bergulir lagi mengulang masa lalu. Semua keluarga sudah berkumpul dan tak sedikit menangisi. Tetangga berkumpul untuk berta’ziah dan siap mengantakan ke liang lahat. Saat itulah gelar almarhum/ah telah sah kita dapatkan –gelar tradisi Indonesia-
Tetapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah gelar almarum/ah itu mendapatkan indeks prestasi cumlaude atau tidak? Ketika semasa hidupnya banyak melaksanakan amal shalih maka predikat cumlaude bisa diterimanya. Tetapi jika sebaliknya, banyak bolosnya, indeks prestasinya hanya 2,0 predikat itupun belum bisa diraihnya.

Taqwa
Suatu ketika dalam sebuah kelas, seorang sahabat bertanya dengan lantang di depan teman-teman yang lainnya. Siapa yang tau gelar paling tinggi di atas orang yang bertaqwa? Semua teman-teman terdiam dan tak ada yang memberikan jawaban. Salah seorang teman yang duduk di belakang menjawab tidak ada gelar yang paling tertinggi di atas ketaqwaan.
Karena hanya satu orang yang merespon, akhirnya sahabat ini pun menjelaskan kepada teman-teman yang lainnya. Sebetulnya gelar yang paling tinggi di atas orang yang bertaqwa adalah imamnya orang yang bertaqwa. Sebagaimana dalam bait doa yang sering kita memohon kepada Allah l.

Rabbanā hablanā min azwajinā wa durriyatinā qurrata’ayun waj;alnā lil muttaqina imamā “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan hidup dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS al-Furqan [25] : 74)

Taqwa itu menjalankan segala perintah Allah l dan menjauhi segala larangan-Nya. Inilah makna taqwa yang sudah sangat kita dengar ketika khutbah jum’at. Tapi secara aplikasinya belum tentu bisa dengan mudah. Butuh perjuangan dan tantangan, untuk bisa mencapai tingkatan taqwa yang sebenarnya. Ketaqwaan seseorang terhadap tuhannya tidak bisa ditawar-tawar. Tapi bagi siapa yang betul-betul bertaqwa maka ia balasannya adalah pahala surga dan rizqinya tidak akan pernah putus.
Makna taqwa yang menurut Sayyidina ‘Ali a lebih spesifik. Takut akan Allah, Menjalankan isi al-Qur’an. Qana’ah dengan rizqi meskipun sedikit, dan yang terakhir adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan masa depan yang lebih kekal (akhirat). Dari keempatnya ini manakah yang sudah betul-betul kita amalakan?

Ihtitam
Banyak yang dibuai oleh gemerlap dunia. Matanya silau dan tak mampu membedakan mana yang betul-betul baik untuk dirinya hingga jangka panjang atau hanya sesaat saja. Dunia ini membuatnya menjadi terbalik dan orientasinya sudah berubah 180 derajat dibandingkan ketika ia masih duduk di bangku pesantren.
Status seseorang bukan jaminan untuk menjadikannya baik atau malah sebaliknya. Banyak yang awalnya baik, taat dan begitu haus dengan keagamaan, tetapi ketika sudah jatuh kedalam masalah keduniaan semuanya lepas begitu saja. Seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Tak sedikit pula yang awalnya menentang, menolak bahkan terang-terangan menghina agama, nyatanya kini ia menjadi seorang muslim yang taat.
Gelar manusia yang diberikan oleh Allah l adalah khalifah/pemimpin yang dipasrahi alam dunia untuk dijaga dan dirawat sebaik mungkin. Tapi dengan gelar itu pula ternyata mansuia merusak dan mengeksploitasi anamat yang sudah Allah l berikan. Gelar khalifah yang sudah Allah l berikan jelas-jelas disalahgunakan, apalagi gelar yang hanya disematkan oleh manusia. Makhluk tempatnya salah dan lupa.
Oleh karena itu, gelar yang disematkan oleh manusia jika dioptimalkan dengan baik dan digunakan untuk menjalankan, mentaati dan mengimani gelar yang sudah Allah l berikan maka bukan tidak mungkin predikat cumlaude itu akan didapatkan. Allahu’alam.

Hamzah
Santri PPUII

Mutiara Hikmah

عن أَبَي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ.

Dari Abu Hurairah a, bahwasanya Rasulullah ` bersabda, “Apabila kamu pada hari Jum’at berkata kepada temanmu, ‘Diamlah,’ padahal imam sedang berkhutbah, maka sungguh sia-sia (shalat Jum’at) mu.” (HR al-Bukhari pada Kitabul Jum’ah Bab Diam Pada Hari Jum’at Saat Imam Sedang Berkhutbah, no. 934)

MANUSIA DAN PEKERJAAN

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (7) Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (8). (QS al-Insyirah [94]: 7-8)

Berdeburnya ombak di lautan tidak lain merupakan gema puji syukur kepada sang pencipta alam, menggelegarnya petir tak lain adalah gema takbir yang senantiasa mengakui keagungan Allah l, bertiupnya angin menyejukkan raga merasuk memberikan nikmat di kehidupan manusia tidak lain merupakan alunan tasbih dari alam untuk sang Maha Kaya, tiada kata yang pantas selain Lâ ilâha Illallâh, yang dikumandangkan ke telinga-telinga manusia jika bukan karena keesaan dan keperkasaan-Nya. Dia-lah Rabb yang ber-istiwa’ di Arsy tertinggi dan tak mampu dicapai makhluk-Nya kecuali atas kehendak-Nya, Tuhan alam semesta yang memegang kekuasaan tertinggi di jagad raya.
Shalawat serta salam selalu tersanjung agungkan kepada baginda Rasulullah `. Nabi akhir zaman, nabi dengan predikat rahmat bagi semesta alam, nabi yang menghiasi perjauangan menegakkan Islam dengan penuh keistimewaan, Rasul yang unggul dan dicintai umatnya meskipun umatnya tak pernah bersua dengannya, nabi yang mempunyai kharisma sejuta keindahan dan teladan bagi alam semesta. Nabi terakhir yang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia dalam setiap yang dikerjakan manusia.

Manusia dan Pekerjaan
Kehidupan membuat manusia masuk dalam berbagai urusan dan permasalahan yang kompleks. Banyaknya urusan melahirkan tuntutan yang semakin mendesak untuk dikerjakan. Sebagai makhluk yang paling sempurna penciptaannya, manusia selalu merasa bahwa terkadang ia mampu mengerjakan semua urusan demi mendapatkan apa yang ia harapkan, yaitu kepuasan. Oleh karena itu, semakin banyak hal yang dilakukan manusia selalu berbanding lurus dengan tuntutan yang harus ia jalani.
Allah l telah melimpahkan kekuatan berupa psikis dan fisik untuk menyelesaikan berbagai urusan. Meskipun Allah l menjadikan manusia kuat dengan kedua kekuatan tersebut, Allah l juga mengetahui batas dan kemampuan manusia sehingga tersurat dalam firmannya “Allah Swt tidak membebani manusia kecuali sesuai dengan batas kemampuan manusia tersebut”.
Urusan yang ditimpakan kepada manusia terkadang merupakan cobaan dari-Nya sebagai batu loncatan perjalanan spiritual seseorang. Maksudnya, ketika orang seseorang dapat bersabar dan menemukan makna dibalik cobaan tersebut maka ia termasuk orang yang sukses dalam ujian keimanan. Akan tetapi ketika seseorang sejak pertama kali mendapatkan cobaan selalu menghujat dan meratap maka ia gagal dalam tes keimanan dari Allah l.
Kesabaran adalah modal utama dalam menyelesaikan urusan terlebih cobaan. Dalam hal ini kesabaran tidak berarti berdiam diri tanpa kata dan usaha, namun ikhtiar dan optimisme diri adalah inti dari kesabaran. Seseorang tidak dikatakan bersabar jika ia langsung menghujat dan mengeluh terhadap cobaan karena hadits Rasulullah ` riwayat Bukhari a“Al-shabru ‘inda shadmatil ula” yang artinya kesabaran itu pada hentakan pertama kali. Hentakan yang dimaksudkan adalah tekanan batin ketika mendapatkan cobaan.
Berbagai macam tipe orang diantaranya adalah tipe orang yang obsessif terhadap pekerjaan . Orang yang obsessif dalam pekerjaan selalu menuntut dirinya untuk mengerjakan semua pekerjaan yang ada dengan waktu yang ia punya. Bukan berarti hal ini buruk namun, mempunyai sisi negatif yaitu terjadinya pekerjaan yang terbengkalai karena tidak ada prioritas utama pekerjaan atau bahkan terlalu banyak pekerjaan yang dijadikan prioritas.

Realita dan Idealita
Kita sebagai seorang muslim dituntut untuk imbang dalam urusan dunia dan akhirat. Ketidakseimbangan dari salah satunya tidak dianjurkan oleh Allah l. Allah l tidak menganjurkan untuk fokus terhadap dunia karena dunia akan menggelapkan pandangan manusia terhadap akhirat. Namun, Allah l juga tidak menganjurkan manusia untuk melulu memikirkan akhirat sementara kehidupan sosial di dunia menjadi kacau balau. Oleh karena itu, beramal di dunia untuk kepentingan dunia akhirat adalah solusinya.
Manusia tidak dapat terlepas dari realitas (kenyataan) serta idealita (harapan). Semakin manusia masuk dalam sebuah kenyataan maka selalu ada harapan yang mengikutinya. Bagikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, dalam kenyataan yang dihadapi manusia sudah barang tentu ada harapan di balik semua itu meskipun sedikit. Inilah yang sering mengakibatkan kesenjangan yang sering kita sebut dengan masalah.
Tidak dapat dipungkiri lagi, manusia pasti mempunyai urusan atau permasalahan. Dalam konteks nyata manusia menemukan kenyataan yang terkadang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan yang pada akhirnya membuat sebagian orang merasa kecewa dan putus asa. Keadaan tersebut sangat berpengaruh terhadap sudut pandangnya terhadap urusan lain yang serupa. Sebagaimana disebutkan dalam teori behavioristik bahwa manusia selalu mempelajari dari apa yang terjadi. Kekecewaan, putus asa, kesedihan juga dipelajari oleh manusia.
Selalu ada proses sebelum harapan tercapai atau tidak. Contohnya, seorang karyawan selalu gigih dan giat untuk bekerja di instansi dimana ia bekerja dengan harapan ia akan mendapatkan penghargaan prestasi kerja, akan tetapi dikarenakan banyaknya karyawan yang juga bekerja dengan gigih maka ia belum masuk dalam salah satu karyawan yang termsuk calon pendapat nominasi prestasi kerja. Harapan mendapatkan nominasi prestasi kerja, realitanya ia gagal dan belum masuk dalam nominasi penghargaan prestasi kerja karyawan.
Walâ taqnutu min rahmatillâh” jangan putus asa mendapatkan rahmat Allah l. Selalu ada rencana di balik kegagalan yang diberikan Allah l. Penulis masih teringat salah satu kata mutiara yang intinya bukan tingginya gunung yang susah untuk ditakhlukkan tapi bagaimana dirimu menakhlukkan dirimu sendiri. Introspeksi diri untuk apa bekerja jika hanya untuk mendapatkan penghargaan tapi bukan untuk mendapat ridha dan rahmat Allah l.

Prokrastinasi
Prokrastinasi berasal dari bahasa inggris procrastination yang berarti “penangguhan atau menunda”. Urusan dan pekerjaan yang banyak bisa saja dilakukan secara terjadwal dan mungkin beberapa pekerjaan sudah rutin dilakukan. Sedangkan yang menjadi masalah adalah apakah urusan yang seharusnya dikerjakan sesuai dengan jadwal dan waktu yang telah ditentukan. Beberapa pekerjaan kadang terbengkalai karena pekerjaan lain.
Allah l berfirman dalam al-Qur’an “jika engkau telah selesai pada suatu urusan, maka bergegaslah untuk mengerjakan urusan lain dengan sungguh-sungguh”. Tidak membiarkan pekerjaan lain terbengkalai adalah poin yang dapat kita ambil dari makna ayat di atas. Menyegerakan menyelesaikan pekerjaan dengan serius segenap kesungguhan hati. Ketika telah menyelesaikan tugas tersebut kita dianjurkan untuk berharap hanya kepada Allah “dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”.
Menunda pekerjaan karena tidak adanya prioritas. Pekerjaan yang banyak dan harus diselesaikan tidak jarang membuat orang stres dan tertekan. Tidak adanya prioritas utama dalam menentukan mana pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah penyebabnya. Oleh karena itu, dengan cara menimbang secara matang pekerjaan mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu sampai dampak penting yang diakibatkan jika pekerjaan tersebut terselesaikan adalah penting.
Menunda pekerjaan untuk mendapatkan hal yang sempurna. Tidak jarang seseorang menunda pekerjaan karena ia mempunyai ekspektasi yang berlebihan terhadap hasil pekerjaannya. Pekerjaan ditunda karena ia beranggapan bahwa pada saat itu ia belum dapat menyelesaikan pekerjaan karena belum tepat untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Dalam hal ini penulis teringat sebuah slogan motivasi “just do it, you’ll get it” yang berarti lakukan saja, kau akan mendapatkan (selesaikan).
Menunda pekerjaan karena merasa tidak mampu mengerjakannya. Hal tersebut malah semakin memperkeruh keadaan diri sendiri. Pekerjaan yang menunggu untuk dikerjan menjadi momok tersendiri bagi yang mendapatkan pekerjaan tersebut. Mau tidak mau, sedikit atau banyak seseorang akan rentan terserang tekanan jiwa yang diakibatkan pekerjaan yang belum dikerjakan itu. Pesimisme yang bersarang dalam diri orang tersebut lama-lama akan mempengaruhi pola kepribadiannya karena sering merasa tidak mampu untuk menyelesaikan pekerjaan. Meminta bantuan atau saran dari orang lain setidaknya akan menurunkan level pesimis yang ia miliki.

Hikmah
Segala hal yang baik memang selalu menjadi prioritas utama dalam kehidupan. Terlebih hal yang berhubungan dengan ibadah yang kita persembahkan untuk Allah l. Oleh karena itu, perjuangan untuk menggapai ridha Allah l sudah sepatutnya kita curahkan dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Meniatkan segalanya untuk beribadah semata karena Allah l adalah hal yang patut kita biasakan.
Dalam halnya bekerja, manusia diperbolehkan untuk terus menerus termotivasi. Karena motivasi diri yang akan menjadikan seseorang tidak merugi karena ia termasuk orang yang semakin hari semakin baik dari hari-hari yang telah ia lewati. Namun, jika pekerjaan itu menjadikan ia tidak mengutamakan hubungan dengan Allah l maka pekerjaan tersebut akan menjadi “isapan jempol” belaka. Hanya untuk kepentingan dan kepuasan dunia saja.
Menunda pekerjaan terkadang kita lakukan dengan berbagai alasan. Alasan kesibukan bekerja adalah hal sering kita temukan dari kita sendiri ataupun sebagian orang. Menunda pekerjaan bisa saja mempengaruhi kita untuk menunaikan shalat. Hal ini sangat disayangkan apalagi untuk shalat berjamaah yang sangat dianjurkan. Melihat begitu besarnya pahala shalat berjamaah, semoga setelah membaca tulisan ini kita dapat membiasakan diri untuk tidak menunda ketika akan melaksanakan shalat berjamaah. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.[]

Muhammad Lathief Syaifussalam
Mahasiswa FPSB UII, 2011

Mutiara Hikmah
Dari Abu Ya’la, Syaddad bin Aus a, dari Rasulullah `,,,, beliau telah bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik pada segala hal, maka jika kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan hewan yang disembelihnya”.(HR Muslim, No. 1955)

MENIKAH

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.”
(QS al-Nûr [24]: 32)

Suatu malam di ruang tengah rusunawa. Beberapa mahasiswa senior—yang bertugas memandu mahasiswa baru—sedang berkumpul. Salah seorang mereka sudah lebih dahulu membangun mahligai rumah tangga. Saya tertarik untuk bertanya lebih jauh. Apa alasan teman saya tersebut memilih menyegerakan pernikahan. Sederhana saja jawabnya. “Kita tidak tahu umur kita sampai kapan. Bagaimana bila maut menjemput sementara kita belum menyempurnakan separuh agama?” tuturnya.

Dialog singkat tersebut disadari atau tidak menjadi inspirasi bagi saya. Sebelumnya, saya telah banyak membaca tulisan tentang pernikahan. Selain itu, dalam banyak kesempatan saya sering menyambung-kaitkan diskusi dan obrolan dengan pernikahan. Hal itulah yang membuat seorang adik tingkat menjuluki saya “lelaki janur kuning”. Pada akhirnya, saat itu saya tetaplah laki-laki lajang yang paham pernikahan sebatas teori. Masalah praktik tentu kalah telak dengan mereka yang sudah menikah.

Di kesempatan lain, saya sharing dengan seorang sahabat yang juga sudah menikah. Dia menikah di semester akhir, sebelum lulus kuliah. Isterinya juga masih kuliah. Pilihannya untuk menikah meskipun masih kuliah ternyata banyak membawa berkah. Allah, katanya, banyak memberikan kemudahan. Akhirnya, dia mendorong saya untuk mengikuti jejaknya: menikah. Intinya, kalau tekad sudah bulat maka jalan kebaikan akan terbuka lapang. Dari situ, saya memutuskan untuk menikah segera.

Saya paham betul konsekuensi dari pilihan saya. Ayah menghendaki saya menikah bila sudah selesai S2. Suatu ketika—bahkan—ayah saya bilang yang kurang lebih begini: “Kalau mau lanjut sampai S3, bapak sanggup membiayai asal kamu tidak nikah dulu…” Hal itulah yang menjadi tantangan saya ketika memutuskan untuk menikah segera. Bagi saya, tidak ada yang sukar kalau komunikasi saya jalankan dengan strategi yang benar. Solusinya, saya menikah tetapi berjanji melanjutkan studi.

Benar bahwa menikah bukan urusan yang sederhana. Apalagi dihadapkan dengan persepsi orang tua bahwa menikah harus bermula dari kemapanan hidup. Anak baru boleh menikah bila sudah jelas kerjanya, sudah pasti penghasilannya, sudah punya ini dan itu, dan seterusnya. Hal tersebut tentu tidak salah. Masalahnya, dalam suasana yang demikian orang tua justru membolehkan anaknya menjalin hubungan dengan lawan jenis. “Kalau pacaran dulu boleh tetapi kalau nikah nanti…”

Menurut saya ini adalah logika yang tidak tepat selain bertentangan dengan syariat. Seorang anak sebaiknya sejak dini dididik mental dan karakternya. Ketika anak meminta izin untuk menikah maka orang tua tidak perlu khawatir. Orang tua percaya bahwa pilihan itu sudah berdasarkan pertimbangan anaknya. Sang anak mungkin masih belum punya banyak bekal. Tetapi orang tua yakin anaknya akan berusaha keras mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

Orang tua semestinya mendukung anaknya untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab. Sebaliknya, orang tua harus berusaha membatasi buah hatinya untuk menjalin “hubungan” dengan lawan jenis sebelum menikah. Pasalnya, pergaulan muda-mudi saat ini sudah teramat memprihatinkan. Dimana komunikasi antar sesama sangat mudah dilakukan. Sementara orang tua tidak selamanya mampu mendampingi anaknya. Oleh karena itu, orang tua harus memberikan “kepastian” kepada anaknya.

Pilihan anak untuk menikah kalau begitu tidak lepas dari bagaimana sikap orang tua. Anak juga tidak boleh berputus asa ketika orang tua—awalnya—tidak membolehkan. Boleh jadi orang tua sedang menguji seberapa kuat keinginan anak. Menikah hanya sebagai percobaan, pelarian, atau benar-benar untuk membangun kehidupan yang lebih jelas dan menenangkan. Jadi, untuk menjembataninya komunikasi yang intensif menjadi penting. Selain terus berdoa supaya Allah memberikan kelancaran.

Pengalaman saya, orang tua memang berat untuk memberikan izin menikah. Namun saya terus berkomunikasi/mendekati orang tua dengan cara dan strategi khusus. Setelah melalui proses nan panjang, orang tua mengizinkan saya menikah. Bahkan saya sempat terharu ketika ditelfon oleh ayah. Sikap ayah yang awalnya keras sekeras batu (melarang saya menikah) berubah menjadi lembut selembut sutra. “Kalau memang kamu mantap nikah, pulang nanti beli perhiasan sama ibumu untuk lamaran,” tuturnya.

Saya yakin banyak teman-teman yang ingin menyegerakan pernikahannya. Secara umur mungkin masih cukup muda. Kuliahnya juga masih di semester akhir. Kalau tidak, baru saja lulus namun belum jelas lapangan kerjanya. Problem lainnya, orang tua masih belum memberikan lampu hijau. Lebih penting lagi, belum tahu mau menikah dengan siapa. Itu semua adalah lika-liku untuk menuju kemuliaan hidup. Hal tersebut harus dimaknai sebagai dinamika yang nantinya menjadi kenangan manis.

Perlu saya tegaskan pula bahwa menikah bukan semata urusan pemenuhan kebutuhan biologis. Meskipun banyak yang berujar: “Menikah itu enaknya hanya 5 persen. Selelebihnya, yang 95 persen, enak banget…” Ingat, ada tujuan lain yang lebih penting. Disamping menikah adalah bentuk ketaatan kepada syariat, khususnya sunnah Rasulullah `. Dengan menikah, kesempatan untuk meraih kemuliaan menjadi semakin besar. Pintu dosa semakin tertutup rapat, pintu kebaikan terbuka lebar.

Saya sering membuat perumpamaan. Kalau memegang wanita bukan mahram (bukan isteri) itu jelas berdosa. Tetapi kalau yang dipegang dengan mesra adalah isteri justru menjadikan Allah ridha. Memandang wanita lain lebih dari batas wajar jelas tidak boleh. Sementara memandang isteri dengan kasih sayang menjadikan Allah menyayangi kita. Artinya, wujud aktivitas yang bernilai baik dan tidak itu sama. Pembeda yang menjadikannya berpahala atau berdosa adalah status; dia isteri kita atau bukan.

Kaya?
Saya senang sekali dengan kata-kata berikut. “Jangan menunggu bahagia hingga engkau tersenyum. Tetapi tersenyumlah untuk menjemput kebahagiaan. Tak perlu menunggu kaya hingga engkau bersedekah. Tetapi bersedekahlah supaya engkau kaya. Jangan menunggu kaya hingga engkau menikah. Tetapi menikahlah supaya engkau kaya.” Kalau begitu, bahagia dan kaya itu adalah proses aktif bukan menunggu, berpangku tangan, alias pasif.
Sesuai dengan firman Allah di atas, bahwa yang miskin akan dikayakan oleh-Nya. Karunia Allah sungguh teramat luas yang artinya sangat mudah bagi-Nya untuk memberikan kecukupan. Pilihan menikah kalau begitu harus disertai keyakinan akan ke-MahaBesaran-Nya. Tidak perlu khawatir akan kekurangan dengan menikah. Sebab, sekali lagi Allah sudah menjanjikan bagi mereka yang memilih jalan yang benar. Tentu kecukupan itu tidak datang begitu saja, perlu diusahakan dengan gigih.

Pertanyaannya selanjutnya; apakah kaya selalu berwujud materi? Benar bahwa kaya selama ini sering dimaknai sebagai kecukupan harta (materi). Sementara kaya yang sejati justru kekayaan hati (ghina an-nafs). Meskipun untuk mendapatkan kekayaan hati itu boleh jadi karena adanya dukungan materi (ghina al-māl). Sebaliknya, tanpa materi boleh jadi ketenangan atau kekayaan jiwa akan didapat. Mereka yang menikah harus paham betul dengan konsepsi kekayaan yang sejati tersebut.

Ketika menikah sudah pasti kaya karena telah memiliki pasangan hidup yang sah, legal, resmi, dan menjadi sarana untuk meraih barakah. Bersama isteri tercinta, kemanapun pergi hati terasa tenang, batin terasa aman, tidak ada yang perlu dicemaskan. Mengeluarkan uang—meskipun jumlahnya banyak—untuk kebutuhan isteri adalah sedekah dan kebaikan. Ketika raga begitu lelah beraktivitas ada isteri yang setia menanti di rumah. Itulah kekayaan hati.
Kekayaan lain adalah bahwa dengan menikah kita memiliki kekuatan yang lebih. Karena suami dan isteri ibarat dua sayap dari seekor burung. Sayap yang terpisah, kemana dia mampu mengudara? Tentu tidak mampu kemana-mana. Sementara dua sayap yang bersatu mampu mengudara ke angkasa. Artinya, suami dan isteri harus mampu bersinergi, berjuang seiring-sejalan, saling menguatkan dan meyakinkan. Begitu nasihat salah seorang guru saya.

Menikah tentu saja terkait pilihan masing-masing insan. Namun yang jelas dengan menikah, meminjam bahasa Salim A. Fillah, kita mendapatkan “Lapis-lapis Keberkahan”. Tergantung kapan kita mau mendapatkan keberkahan yang berlapis tersebut. Kalau keinginan sudah mengebu, persiapan sudah mulai ditata, ada kekhawatiran berbuat zina maka wajib hukumnya menikah. Namun kalau masih mampu menahan dan mashlahat tidak menikah lebih besar, menunda tidak menjadi persoalan.

Akhīran, menikah adalah fitrah manusia. Dengan menikah, kita mendapatkan keturunan. Keturunan tersebut yang akan memperpanjang kebaikan kita di dunia. Sebab, umur kita terbatas; cepat atau lambat kita akan menghadap. Dengan menikah, kita berupaya melahirkan generasi terbaik yang kelak menjadi tabungan kita. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk menemukan sayap yang masih terpisah. Bagi yang sudah menemukan, semoga langgeng dan barakah. Wallāhu a’lamu bi ash-shawāb. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Staf Prodi Hukum Islam

Mutiara Hikmah
DOA KEPADA PENGANTIN

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْكَمُاَ فِيْ خَيْرٍ.

Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua (pengantin laki-laki dan perempuan) dalam kebaikan.” (HR Penyusun-penyusun kitab Sunan, kecuali al-Nasai dan lihat Shahih al- Tirmidzi 1/316).

HAK DAN ADAB-ADAB SESAMA MUSLIM

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (Q.S. Al-Hujurat: 10)

Keindahan Islam selalu terpancarkan di dalam perjalanan kehidupan manusia, dia tidak usang diterpa zaman dan tidak runtuh dimakan waktu. Sejarah penciptaan manusia memberikan sebuah bukti atas keindahan tersebut, misalnya dalam penciptaan manusia itu sendiri. Awal mula Allah hanya menciptakan seorang manusia, yaitu Adam Alaihissalam. Dengan ilmu-Nya Allah mengetahui bahwa segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan, ada siang ada malam, ada hujan ada panas, maka jika ada lelaki maka ada juga perempuan, dengan itu Allah ciptakan Siti Hawa Alaihassalam. Setelah banyak dan berkembangbiaknya manusia, terpisah oleh jarak dan terbagi-bagi dalam berbagai suku, dan berbangsa-bangsa, namun Allah tetap mengatakan untuk selalu saling mengenal satu sama lainnya, dan tidak untuk saling membangga-banggakan diri. Sesuai dengan apa yang telah Allah katakan dalam Firman-Nya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. al-Hujarat: 13).

Dalam pertemuan dan perkenalan manusia sesama saudaranya, seorang Muslim percaya bahwa semua saudaranya memiliki hak-hak dan kewajiban yang harus dipenuhi dan ditunaikan. Hak-hak tersebut terciptakan di dalam pergaulan sehari-hari melalui norma, aturan, etika, ataupun sopan santun. Di dalam Islam, dari semua kata-kata tersebut terkombinasi menjadi satu, itulah yang di sebut dengan adab.
Adab ini merupakan turunan dari hasil sebuah pendidikan (ta’dib) yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena dengan adab inilah sebuah prilaku melahirkan suatu sikap sopan santun yang didasarkan atas aturan Agama, terutama Agama Islam. Nilai-nilai Islam yang terbentuk dalam adab terimplementasi langsung dalam pergaulan antar manusia, antar tetangga, dan antar kaum, hingga antar bangsa.
Lalu apa sajakah hak dan adab-adab yang harus dipenuhi oleh seorang Muslim terhadap Muslim lainya, agar pergaulan dan persaudaran selalu harmonis dan penuh dengan nilai-nilai ibadah kepada Allah ﷻ ?
Tentu banyak sekali adab-adab tersebut, namun dalam bahasan ini kita coba menjelaskan beberapa saja yang sekiranya mampu untuk kita terapkan di dalam kehidupan sehari-hari.